Saturday, November 21, 2009

1998 (7)


BAB SEPULUH


Fajar sadar ketika pertamakali naik panggung untuk pidato, itulah saatnya ia siap merubah jalan hidupnya. Baginya itu sangat berat, tapi ia akan lebih merasa tidak bermartabat kalau hanya berdiam diri melihat perubahan yang diharapkan banyak orang itu. Kalau boleh memilih, ia memang lebih suka bekerja dan bisa terus menghidupi ibu dan dua adiknya. Tapi hidup tidak cukup hanya itu. Hidup membutuhkan banyak suara. Termasuk barangkali Nyonya Hartawan yang sangat amat menyakitkan. Ia ingin menghilangkan ingatannya dari suara bekas majikannya itu dengan berjemur matahari diatap gedung kampusnya.
Jarot datang melihat wajah sahabatnya yang sedih. “Aku takut kamu benar-benar lompat ke bawah, padahal perjuangan kita baru mulai.”
Fajar tidak bereaksi.
“Aku tahu kita sekarang sedang berusaha menyamakan hak, tapi soal jodoh, agaknya tidak masuk hitungan perjuangan kita.”
“Ini bukan soal perjuangan, Bung. Ini soal warna darah.”
“Kalau soal warna darah, darah kambing juga merah.”
“Aku tidak pernah percaya ada darah berwarna biru, kecuali kalau kelunturan blau.”
Jarot tertawa terbahak-bahak. “Makanya berhentilah bicara soal warna darah. Persoalannya mungkin lebih dari itu.”
“Tidak ada persoalan yang lebih penting sekarang daripada soal warna darah. Ini soal kehormatan keluarga!”
“Boleh saja, tapi kamu lupa soal timing, soal waktu. Buatlah dirimu jadi pahlawan dulu, baru melamar Inaya. Orangtua kita kan suka dengan orang yang dapat gelar? Apalagi bangsawan.” Jarot berdiri. “Sudah, cari dah gelar dulu.”
“Dimana?”
“Demonstrasinya?”
“Cari gelarnya.”
“Ah, sinting.” Jarot mulai beranjak. “Oya, dibawah sudah menunggu Rosita.”
“Menunggu siapa?”
“Yang pasti bukan menunggu Godot.”
***
Rangkaian petasan menyalak ramai. Asap dan serpihan kertas berhamburan di udara. Ada restoran Cina baru dibuka. Pemiliknya keturunan Tionghoa. Ini kawasan Pecenongan, salah satu daerah Pecinan Ibukota yang cukup elit. Pertumbuhan ekonomi kawasan ini tergolong tinggi karena salah satu kawasan perdagangan, terutama untuk bisnis orang keturunan Tionghoa jet set, selain Glodok dan Mangga Dua.
Fajar dan Rosita sedang berada disana dan ikut melihat kemeriahan yang jarang ada. Harry mengambil gambar tarian barongsai. Tarian yang sebenarnya tidak bebas dipentaskan karena ada larangannya. Mereka hanya lewat untuk terus menyusuri trotoar pertokoan yang berderet-deret.
“Bapak saya meninggal dalam perampokan di mobil Pak Hartawan.” Fajar bersedia bercerita karena permintaan Rosita sulit ditolaknya. “Ada tiga versi cerita. Versi Polisi, bapak saya yang merencanakan perampokan. Versi saksi, bapak saya melindungi Pak Hartawan dari bacokan perampok. Versi keluarga Pak Hartawan, bapak pantas mati sebagai sopir yang melindungi majikannya.”
“Kamu punya pendapat sendiri?”
“Saya tidak mau bapak saya diadili versi mereka. Saya hanya ingin bapak saya meninggal sebagai orang baik.”
Rosita melihat wajah Fajar menahan amarah. Laki-laki yang menarik latar belakang hidupnya. Ia telah begitu beruntung mendapatkan orang yang begitu kompleks kisah hidupnya, dan ia siap menunggu kejutan lain dari pemuda disampingnya itu.  Fajar tidak tampan, tapi pemuda itu mempunyai pesona. Rosita paham kenapa Inaya tertarik dengan Fajar. Pesona tidak akan pernah hilang, tapi ketampanan lenyap seiring dengan bertambahnya umur. Rosita pernah pacaran tapi karena tidak ada kecocokan, tidak bisa dipertahankan. Padahal ia telah siap menikah. Ia bukan perempuan yang suka mengoleksi laki-laki dalam daftar berpacaran karena ia tidak bisa menghabiskan sisa umurnya hanya untuk berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain. Memilih jodoh bukan seperti memilih barang. Barang terlihat jelek bukan berarti kualitasnya juga jelek. Kebaikan hati seseorang tidak bisa hanya dilihat dari baju yang di pakainya atau mobil yang di bawanya. 
Sudah lebih dari tiga tahun ia mengisi hidupnya sendirian. Ia tahu banyak rekan sekantornya yang berusaha mendekatinya. Tapi ia berhasil menghindarinya dengan bekerja keras sebagai reporter lapangan. Dan tiba-tiba bertemu Fajar. Ia tidak tahu persis kenapa bisa memilih Fajar sebagai bahan reportasenya. Ia merasa beruntung saja. Sekarang pun ia tidak perlu tahu sebabnya.
Mereka masuk ke sebuah toko roti besar yang didepan pintu masuknya bertuliskan TAN. Fajar bekerja sebagai sopir disitu. Toko cukup ramai. Fajar kebetulan bisa bekerja di toko Pak Tan. Seperti kisah dalam film Indonesia, ia menolong Pak Tan yang mobilnya mogok di pingir jalan. Setelah itu ia ditawari bekerja. Hanya itu, selebihnya ia telah menjalin hubungan baik dengan Pak Tan dan keluarganya.
Fajar menyapa seorang gadis dibelakang meja kasir. “Hallo, Kristin.”
“Hai, orang penting, kemana saja?” Gadis bernama Kristin bermata sipit, tersenyum lebar. Pramuniaga lain juga menoleh dan menyapa Fajar.
“Sombong ya, sudah masuk TV, jadi nggak kenal kita lagi.”
“Keren nggak saya masuk TV?”
Ruangan tertawa. Pak Tan keluar dari dalam dan senyumnya mengembang melihat Fajar.
“Tiga hari yang lalu saya ke rumah.”
Fajar menyalami Pak Tan. “Saya sibuk di kampus, Pak. Oya, kenalkan ini Rosita, Pak.”
“Ooo yang reporter TV itu ya.”
Rosita mengangguk. Semua pramuniaga menoleh ke Rosita.
“Mungkin saya akan bekerja lagi dalam dua tiga hari ini, Pak.”
“Atur saja. Kapan kamu ada waktu. Bapak senang lihat kamu teriak-teriak di TV. Begitu mestinya anak muda. Ayo ambil kursi, ajak duduk temanmu.”
Ini kejutan lain dari Fajar. Belum pernah Rosita melihat keakraban dua generasi berbeda dan dari ras yang berbeda. Di negeri ini, sangat sulit membangun hubungan seperti yang dilihatnya, kecuali bukti lain yang ia lihat pada kakeknya dan Pak Ong. Kakeknya bilang kepadanya bahwa ia berteman dengan Pak Ong bukan karena ras atau rasa kasihan dengan perlakuan diskriminasi sebagian orang di negeri ini. Kakeknya merasa Pak Ong adalah manusia, seperti juga dirinya.




BAB SEBELAS


Fajar tidak bisa menolak permintaan Rosita yang terus menerus mengikuti kegiatannya sehari-hari. Kekakuan diantara mereka sudah mulai hilang. Fajar mulai merasakan kehadiran seorang perempuan lain, setelah tidak bertemu dengan Inaya. Rosita tidak cantik tapi mempunyai daya tarik yang sanggup membuat setiap laki-laki setabah apapun akan terpacu jantungnya. Pintar, bersikap dewasa dan bisa menebak keinginan seseorang.
Pada akhirnya Fajar tidak bisa menolak keinginan Rosita yang memaksa ikut ke rumahnya di pinggiran kota. Kampung yang bagi kebanyakan orang disebut kampung pinggiran dan layak disebut kampung kumuh. Tapi Fajar merasa ia tinggal di kampung terbaik di dunia. Jalan kampung selalu semarak oleh anak-anak bermain. Ia berani bertaruh tidak ada pemandangan sesemarak ini di kampung lain di Ibukota ini. Barangkali tidak ada keindahan karena semua kelihatan kotor dan semrawut, tapi disana ada kehangatan. Ada teriakan tawa dan canda. Berbeda dengan di jalanan kompleks real estat yang menjamur di Ibukota. Seperti jalan di sepanjang rumah Inaya. Ia hanya melihat petugas keamanan yang mondar-mandir dalam jeda waktu yang ketat. Selebihnya adalah kesunyian yang panjang mirip kuburan. Ibukota telah terbagi menjadi hutan yang siap menegangkan jantung penghuninya.
Negeri ini sebenarnya tidak cocok dengan pengelompokan seperti itu. Sebutan negeri Timur yang terkenal dengan keramah tamahan penduduknya, agaknya siap tumbuh menjadi wild west. Rumah-rumah berpagar besi tinggi, bahkan diatasnya dipasangi pagar kawat berduri.  Kenyamanan seperti apakah yang didapat penghuninya. Bahkan, siapa tahu, dibelakang pintu telah disiapkan berbagai jebakan dan senjata api jenis AK-47.
“Saya lebih yakin orang seperti saya hanya akan jadi tumbal ketimbang jadi pahlawan,” kata Fajar tersenyum kecut.  Ia menggandeng Rosita yang kelihatan tidak siap berada diatas jembatan gantung yang membelah sungai kotor dari jalan raya menuju kampungnya.
Harry masih mengambil gambar di seberang sungai ke arah Fajar dan Rosita. Mungkin seperti adegan dalam film Rano Karno dengan Yessy Gusman tahun 80-an. Fajar tertawa dalam hati. Ia tidak tahu siapa Rosita dan kisah apa dibalik dirinya yang seorang reporter. Tapi ia tak punya waktu untuk mencari jawaban itu.
“Siapa tahu kamu orang pertama yang bisa jadi pahlawan.”
“Teman saya juga menyuruh saya mencari gelar pahlawan. Tapi saya malah khawatir saya orang pertama yang akan jadi tumbal.”
“Tidak selalu kita harus kalah.”
“Mungkin, tapi saya sudah kalah dalam segala hal.”
“Mungkin kamu hanya mengalah.”
“Saya orang yang tidak pernah dihibur.”
“Sama sekali saya tidak berusaha menghibur kamu. Kamu memang enggak pantas cuma dijadikan tumbal.” Nada suara Rosita terdenga gemetar. Kakinya terpeleset dan begitu saja ia meraih tubuh Fajar untuk dijadikan pegangan. 
Mereka berhenti di ujung jembatan dan berpelukan.
Harry mengambil gambar mereka. Hanya beberapa menit tapi itu adalah gambar yang paling menyegarkan setelah begitu lama ia hanya mendapatkan gambar kekerasan bentrokan mahasiswa dengan aparat keamanan.
Mereka berjalan kembali dan tidak lagi berbicara. Dada mereka saling terguncang dan tidak perlu mereka ungkapkan dengan kata-kata.  Sampai di halaman rumah, Fatimah, adik Fajar yang sedang  sibuk mengangkat jemuran, menghampiri kakaknya dan memberitahu, “Ada mbak Inaya.”
Fajar terkejut dan kelihatan menjadi bingung.
“Mungkin saya harus pergi.” Rosita sebenarnya mengharapkan sebaliknya.
"Kenapa harus pergi?"
"Kalian perlu privacy."
"Lalu kenapa kamu repot-repot ikut kemari?" Fajar menginginkan Rosita tetap tinggal. “Terserah kalau mau ketinggalan kisah sedih lainnya.”
Fajar terus saja masuk ke dalam rumah dengan wajah bingung. Rosita menoleh ke Harry, dan tampaknya Harry tidak mau pergi. Rosita mulai mengagumi Fajar dan segenap kisah hidupnya yang menurutnya heroik. Yang paling menarik perhatiannya adalah hubungan cinta Fajar dan Inaya. Tapi ia sekarang melihat hubungan itu terancam putus, dan sebaiknya bukan karena kehadirannya.

Di dalam kamar Fajar, Inaya sudah lama menangis. Matanya merah dan masih ada sisa air mata. Fajar berdiri di ambang pintu. Ingin sekali rasanya memeluk Inaya, tapi  mengingat wajah Nyonya Hartawan, keinginan itu diurungkannya. Ia tidak tega melihat perempuan menangis. Apalagi itu terjadi pada orang yang sangat disayanginya.
“Kalau masih ada gunanya menangis, menangislah.”
“Kamu mungkin tidak perlu menangis, karena kamu laki-laki.”
“Kalau aku harus menangis, itu adalah untuk nasibku.”
“Saya minta maaf soal Ibu.”
“Saya sedang berusaha melupakan saya ini orang hina, tapi ternyata tidak bisa. Mungkin tidak akan pernah bisa.”
“Kamu juga akan meninggalkan saya?”
Fajar terdiam.
“Oh, mungkin karena reporter wanita itu.”
Fajar menatap Inaya. “Kalau kamu masih ingat janjiku padamu, itulah yang akan aku pegang selamanya, meskipun kedengarannya seperti rayuan gombal.”
Inaya menunduk.  “Aku akan tinggal disini.”
“Aku yang tidak bisa tinggal di rumah kamu, Aya.”
“Kita tidak perlu kesana.”
“Kalau saja boleh begitu.”
“Kamu kira aku tidak berani meninggalkan orangtuaku?” Suaranya melengking. Mungkin sampai ke teras rumah dan Rosita bisa mendengarnya.
“Aku takut kamu kehilangan warna darahmu.”
Inaya berdiri dengan muka merah. Marah. “Kamu naif bicara soal warna darah!” Kelihatan sangat marah, lalu menyambar tas dan keluar kamar.
Fajar duduk di kursi karena merasa limbung. Ia bisa berdiri berjam-jam dibawah matahari pukul satu untuk berpidato didepan para demonstran. Tapi ia merasa nyaris pingsan di kamarnya sendiri. Kepalanya berputar. Entah berapa lama ia duduk dan melihat keluar jendela.
“Mas, tamunya sudah pamit pulang.” Fatimah sudah berdiri diambang pintu.
“Ibu sudah pulang?”
“Belum.”  
“Bikinkan kopi ya?” 

(bersambung)

Thursday, November 12, 2009

1998 (6)


BAB DELAPAN

Anyer,   Banten. 
Matahari sore terapung diatas laut. Musim penghujan mulai surut. Langit cerah diatas sebuah pondok terpencil agak menjorok diatas bukit tepi laut. Pondok itu jauh dari manapun. Tampak sudah tidak terawat dengan baik. Disekelilingnya hanya hutan belukar bekas taman yang sudah tidak pernah dirawat. Angin bertiup kencang dari Teluk. Tak ada tanda-tanda kehidupan.

Tapi di dalam pondok, telah berkumpul sebelas orang yang datang dari semua cabang. Mereka kelihatan lebih santai. Begitu juga Sam yang terus merokok seperti cerobong pabrik. Yang kelihatan selalu serius adalah Sang Ketua. Wajahnya kelihatan tegang, padahal pondok itu telah diperiksa dengan monitor frekuensi radio dan peralatan tambahan untuk mendeteksi alat penyadap dan kamera rahasia serta telah diamankan jalur komunikasinya.
Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Kita akan segera bergerak. Sandi yang akan kita gunakan adalah Gerakan 12 Mei, karena tanggal itu kita akan mulai operasi kita.” Sang Ketua mulai mencairkan suasana. “Berdasarkan analisa tim, maka kita akan memanfaatkan demonstrasi mahasiswa. Dan sebagai pembuka jalan, kita akan memakai wilayah barat Ibukota.”
Laki-laki bule  itu angkat tangan. “Bagaimana penggalangannya, Sir.” Bahasa Indonesianya cukup fasih.
“Berita terakhir yang saya terima, pasukan kita sudah siap untuk diterjunkan. Ada pertanyaan?”
Tak ada pertanyaan.
“Ini pertemuan terakhir sebelum gerakan di mulai. Untuk menjaga  situasi yang genting, diharapkan melakukan prosedur keselamatan yang telah ditetapkan. Saya jelaskan sekali lagi, kita akan meninggalkan tempat ini selang waktu tigapuluh menit. Terimakasih, Tuan-tuan.”
Pertemuan itu selesai.
***
Ada jalan kecil beraspal yang menuju pondok itu ke atas. Di tepi pantai, dibalik ilalang pinggir jalan aspal itu, duduk menghadap laut Sersan Sarman dengan mendekap teman wanitanya. Di samping mereka ada motor tua dan disetangnya tergantung tas bertuliskan POLISI serta peralatan memancing.
Sersan Sarman memang tidak berniat memancing lagi setelah teman wanitanya lebih menarik dari sekedar menunggu ikan masuk kailnya.  Ia harus pintar mencari waktu untuk mencari kesenangan setelah tugas berat selalu dijalankannya. Patroli di kota kecil tidak begitu menegangkan, tapi harus dalam jadwal yang ketat.  Dan ia bersyukur bisa mencuri waktu di sore yang cerah itu.
“Jarang-jarang saya bisa berlibur seperti turis begini,“ ujar Sarman tertawa sambil mendekap teman wanitanya dengan penuh birahi.
“Ah, kamu kan kerjanya enak. Patroli di jalan, cegat mobil, dapat duit.”
Sarman tersenyum kecut. Ia tidak menyalahkan teman wanitanya. Tapi ia harus berdalih bahwa gajinya tidak seberapa untuk bisa menghidupi dirinya dan dua adiknya yang masih sekolah.  Kalau pegawai negeri lainnya bisa mencari tambahan penghasilan, ia juga merasa harus melakukan hal yang sama. Semua orang mempunyai tanggungan hidup, dan negeri ini tidak memberi gaji bulanan yang cukup.
Sarman kaget dan menajamkan pendengarannya. Dalam hitungan detik, ia sudah berlari  ke arah semak ilalang dan mengintip ke arah jalan aspal. Ini bukan kebiasaan, bahkan tidak pernah ada mobil mengunjungi pondok santai diatas sana. Tapi ia melihat sebuah sedan mewah berwarna hitam dan berpelat nomer Jakarta.
“Ada apa?” tanya teman wanitanya.
“Pondok diatas sana itu sudah di segel, kenapa masih dipakai?”
“Mungkin akan dibuka lagi.”
Ya, mungkin akan dibuka lagi dan tempat itu akan ramai lagi. Sarman bisa kehilangan tempat santainya yang tersembunyi itu. Sarman merangkul teman wanitanya untuk rebahan. Kalau ia harus pindah dari tempat santainya ini, biarlah ini terakhir kali ia menikmatinya dan akan ia puaskan gairahnya. Tapi agaknya ia tak pernah bisa punya kesempatan, ketika ia harus berlari lagi ke arah semak dan mengintip lagi.
Sebuah jeep Mercy berkaca gelap berlalu dari arah pondok. Sarman tak beranjak lagi karena ia yakin masih ada mobil dari pondok itu yang turun. Dan ia benar-benar kerepotan mencatat pelat nomer mobil-mobil itu.                                                                
Catatan pelat nomer mobil itu sudah ditangan Letnan Deny, atasan Sarman. “Apa yang membuatmu curiga dengan mobil-mobil itu, Sersan?”
“Mobil-mobil itu pergi dengan jeda waktu tigapuluh menit, Let,” Sersan Sarman menjawab dengan antusias. Seolah ia akan mendapat promosi jabatan setelah itu.
Letnan Deny melihat catatan pelat nomer mobil itu. Ia kelihatan ragu. Perasaannya sudah tak enak. Ia menatap Sersan Sarman yang juga menatapnya tajam. Seolah memintanya untuk meneruskan temuan itu.
“Letnan akan meneruskan laporan saya?”          
Letnan Deny masih saja ragu. Tapi ia segera menjawab, “Pelat nomer mobil ini bisa milik siapa saja. Terimakasih, sersan.”
Dua jam kemudian, Letnan Deny sudah berdiri didepan Kapten Sasongko dan menyodorkan kertas catatan pelat nomer.
“Maaf kalau saya menganggu dengan laporan ini, Komandan.”
“Tidak apa-apa, saya mengerti. Saya akan mengurusnya.” Wajahnya masih kelihatan ragu. "Darimana kau dapatkan nomer ini?"
"Anak buah saya, Ndan."
"Bicaralah padanya. Katakan padanya agar jangan berbicara pada siapapun tentang hal ini."
"Siap, Ndan."                                  
Satu jam kemudian Kapten Sasongko sudah mengirimkan laporan itu. 
Kertas laporan dan catatan pelat nomer itu sudah berada di sebuah ruangan ber-AC. Sam duduk membaca kertas laporan itu dengan serius, sambil merokok. Tangannya menyambar telpon.
“Saya ingin diatur tiga mutasi dalam minggu ini. Sersan Sarman, Letnan Deny dan Kapten Sasongko. Pisahkan mereka sejauh mungkin dari Jakarta.”
Ia menutup telponnya, menoleh ke arah sudut ruangan. Dilihatnya  di televisi mahasiswa sedang konvoi di jalan raya, berdemonstrasi. Berbagai spanduk dibentangkan, berbagai poster di bawa para mahasiswa yang sedang demonstrasi.



BAB SEMBILAN

Negeri ini memang membutuhkan angin segar, pikir Fajar yang sedang berada diantara para demonstran lainnya. Inaya dan Jarot mengiringinya juga.  Negeri ini telah tidur panjang dan kehilangan semangat untuk bangun. Telah banyak orang pintar berpendikikan luar negeri yakin, negeri ini mempunyai dasar ekonomi yang kuat, telah berjalan di jalan yang lurus. Analisa mereka tidak ada yang menyangsikan. Mereka bilang negeri ini subur dan rakyatnya makmur, semua harus mengamini.
Siapa yang berani membantah analisa itu. Begitu memang kenyataannya. Tapi yang terjadi sekarang, hari ini, harus tetap dijawab. Kenapa ia dan kawan-kawannya harus keluar dari kelas dan turun ke jalan dan berteriak-teriak? Apakah mereka telah salah menerima ilmu di sekolah.  Ataukah mereka telah menjadi penghianat negeri ini.
Fajar yakin ia masih waras dan sepanjang pengetahuannya tidak ada anggota keluarganya yang mempunyai penyakit gila.  Ia yakin dirinya tidak, begitu juga kawan-kawannya. Fajar merasa ada yang dimanipulasi di negeri ini, sehingga ia dan kawan-kawannya harus turun ke jalan.
Diantara deretan para demonstran, Rosita dan Harry kelihatan sibuk meliput. Rosita meminta Harry untuk mengambil gambar Fajar. Diantara deretan mobil-mobil yang berhenti karena macet, Noni dan Jason, pacar Amerika-nya duduk diatas Roadster-nya. Jason tampak serius sekali merekam demonstrasi itu dengan handycam digital miliknya. Dan gambar terakhir yang diambilnya adalah Fajar dan disampingnya Inaya.
Berdasarkan gambar itu, Nyonya Hartawan mengadakan pertemuan keluarga. Kali ini Hartawan dipaksa untuk menyelesaikannya. Hartawan berdiri dan berjalan mondar-mandir di tengah ruangan itu. Wajahnya yang tenang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.  Kedua tangannya disembunyikannya dalam kantong celana. Ia merasa telah lengkap hidupnya dengan mempunyai istri dan dua orang anak. Hidupnya nyaman dan tercukupi kebutuhannya dengan sangat melimpah. Karirnya ia selesaikan tanpa catatan buruk dan ia mempunyai teman-teman purnawirawan yang baik. Tapi ia mulai merasa hidupnya berubah. Ketika ia mulai nyaman merasakan semua hasil yang ia peroleh, keluarganya terancam berantakan.
Nyonya Hartawan berdiri dengan keangkuhan yang sudah disiapkannya.  Noni duduk dengan wajah berseri-seri. Inaya menjauhi mereka sambil menyimpan bibit air matanya. Ruangan diselimuti ketegangan, penuh curiga dan hawa yang jahat.  Inaya sedang  menjadi terdakwa. Nyonya Hartawan dan Noni menjadi jaksa dan Hartawan di paksa menjadi hakim. Inaya tampak lebih tenang dan siap menghadapi semua hal yang akan terjadi, meskipun telah siap menangis. Ia telah mempersiapkan dirinya. Ia melirik kakaknya dengan sinis. Orang yang disayanginya sejak kecil itu telah begitu dibencinya.
“Tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan,” Hartawan mulai membuka ketegangan. “Kita harus bisa memilih persoalan mana yang perlu dibicarakan dan persoalan mana yang bisa kita lupakan.” Pandangannya kemudian menuju pada istrinya dan Noni. “Tidak pantas rasanya membicarakan masalah Fajar dan Inaya disaat semua orang sedang mengurusi masalah yang lebih besar?”
“Masalah kita juga persoalan besar, Kangmas,” Nyonya Hartawan nampak sangat siap berdebat. “Ini soal derajat dan kehormatan keluarga kita.”
“Jadi sudah sangat serius rupanya.”
“Bapak saja yang selalu menganggap ini main-main.” Noni menimpali.
“Jaman sudah berubah.”
“Jaman boleh bernama apasaja,  tapi jangan biarkan keluarga kita ikut berubah.”
“Jadi menurut Ibu keluarga kita sudah berubah? Menjadi baik atau buruk?”
“Apa bapak mau melihat rekaman kameranya Jason?” Noni menyela dengan antusias.
“Memalukan,” dengus Nyonya Hartawan.
“Rupanya Ibu sama Noni sudah sangat tergila-gila sama telenovela di televisi.”
“Ini bukan di televisi, kangmas. Ini nyata. Asli.”
“Apa yang Ibu katakan fakta dan asli itu karena keyakinan Ibu sendiri. Lihatlah kenyataan di luar. Kebenaran ada diluar sana. Jangan percaya gambar.”    
Inaya seperti mendapat dukungan. Maka ia segera berkata, “Kalau sedang demonstrasi kami disebut pacaran, apa namanya siang bolong sama bule di jalan? Kawin?.”
“Aya, jaga ucapanmu!” Nyonya Hartawan menghardik dengan melengking.
“Ibu yang harus jaga ucapan Noni!”
Noni berdiri. “Aku berhak bicara apa saja!”
“Aku juga bisa melakukan apa saja!”
“Aya! Lancang sekali kamu!” Nyonya Hartawan menuding.
 Hartawan berdiri dengan kemarahan di ubun-ubun kepalanya. Dilihatnya semua wajah di ruangan itu dengan tajam, dan ingin sekali ditamparnya satu persatu. Tapi hanya itu yang bisa dilakukannya, selebihnya ia memijit keningnya. Tiba-tiba ia merasa hidupnya akan hancur. Ia melihat kekacauan di luar sana, tapi ternyata ia juga melihat kekacauan di rumahnya. Ia terlalu tua untuk urusan anak remaja. Sempat ia menyesali kenapa harus menikah terlambat. Ia terlalu ambisius mengejar karir militernya. Teman-teman seangkatannya memang belum mendapat bintang tiga seperti dirinya. Tapi dengan bintang tiga di bahunya, ia bahkan menyesalinya saat ini. Pada persoalan keluarga yang dihadapinya yang tidak bisa dihadapinya dengan baik. Kalau di suruh memilih, ia akan memilih berperang melawan musuh tiga ratus orang daripada menghadapi persoalan keluarganya.
“Jadi itu yang dianggap masalah?”
“Fajar itu sopir, pembantu!” Nyonya Hartawan meninggikan nada suaranya. “Sejak bapaknya yang meninggal itu juga sopir di keluarga kita.”
“Kata Ibu kita ini masih keturunan darah biru,” Noni kembali unjuk gigi. “Mana bisa disamakan dengan darah Fajar.”
Hartawan melotot kepada Noni. “Jadi darah anak Amerika itu juga biru ya rupanya.”
“Bapak jangan mengalihkan pokok persoalan.”
“Hati-hati Ibu bicara. Segala sesuatu sekarang ini sedang mulai diperbaiki.  Jaman sedang berubah dan kita juga diminta untuk berubah.”
Ruangan sepi. Hartawan menata nafasnya. Ia paham betul istrinya  orang yang tidak mudah menyerah dalam soal apapun.  Orang yang tidak mudah kompromi untuk hal yang baginya sangat prinsip. Istrinya memang keras kepala. Tapi ia tidak pernah menyesal menikah dengan wanita yang sebenarnya hanya kerabat keraton, bukan keturunan langsung orang yang mendapat sebutan berdarah biru.
Ia orang militer dan keluarganya bukan dari kalangan darah biru. Ia tidak pernah percaya, orang berdarah biru lebih baik dari orang berdarah merah. Lebih dari itu, pengertian darah biru menjadi sangat tidak masuk akal, karena ketika kulit orang terkelupas, darah yang mengalir semua berwarna merah. Bahkan warna darah kambing dan ayam tidak ada yang biru, meskipun binatang itu hidup di dalam sebuah keraton dan berada dalam kandang yang terbuat dari emas sekalipun.
“Aya, kalau ada telpon buat bapak, katakan bapak ada pertemuan di gedung Joang Menteng.”
“Baik, Pak.”
Inaya segera saja naik ke lantai atas, begitu Hartawan pergi keluar ruangan. Ia tidak mau di jadikan sasaran kemarahan Ibunya kalau tetap berada di ruangan.
***
Fajar membuka telapak tangannya yang melepuh. Ia tidak sadar telah meremas batang rokoknya. Dadanya sesak menahan kemarahan yang tersumbat mendengar itu semua. Harga dirinya telah habis dimata keluarga Hartawan. Ia hanya seorang pembantu! Sebutan itu telah menjadi lebih kasar daripada sebutan bandit sekalipun. Apa yang selama ini dilakukan ibu dan almarhum bapaknya, hanya sebuah pekerjaan yang nyaris mirip kriminal. Buruk dan tidak layak disentuh.
Telah begitu susah payah ia membangun nama baik dirinya dan keluarganya dengan kuliah di Universitas. Ia yakin itu bisa membuat suatu penilaian tersendiri bagi para tetangganya yang miskin. Tapi dimata keluarga Hartawan, ia gagal mempertahankan nama baik itu. Sangat mungkin ia gagal juga di mata keluarga lain yang merasa sederajat dengan keluarga Hartawan. Hidup ternyata perlu bandingan-bandingan, dan ia berada di urutan paling bawah.
“Sudah dapat mukjijat?” Hartawan sudah berdiri di samping Fajar.
Fajar buru-buru berdiri. “Ternyata kami lebih butuh semangat, Pak.”
"Makanya jangan pernah kehilangan semangatlah."            Hartawan menuju mobilnya, kelihatan sengaja menghindar untuk berbicara panjang dengan Fajar.
Begitu mobil Hartawan lenyap, ibunya menggandengnya ke dalam rumah, karena Nyonya Hartawan memanggilnya. Dari cara Ibunya menggandengnya masuk, ia tahu  akan terjadi sesuatu yang lebih besar dari yang sudah pernah ia alami. Dengan masih menahan amarahnya di dada, Fajar melihat wajah sinis majikannya itu. Wajah yang sangat angkuh dan sangat tidak ramah. Noni masih duduk di ruangan itu.
Nyonya Hartawan berdiri, lalu berkata dengan nada tinggi, “Mulai besok, kamu tidak perlu bekerja disini lagi. Kamu di pecat!"
Kalimat itu menggelegar, seperti sengaja diucapkan dengan kemarahan yang tidak bisa ditahan lagi. Tapi bagi Fajar sangat melegakan meskipun ia merasa dirinya adalah makhluk yang perlu disingkirkan jauh.
"Tapi yang paling penting, jangan dekati lagi Inaya di kampus. Aku tidak rela sedetikpun kulit Inaya bersentuhan denganmu.”
Fajar tidak akan menangis, meski dadanya sudah siap meledak.  Ia hanya memikirkan Ibunya yang sudah menangis terguncang-guncang di punggungnya. Ia tidak rela Ibunya menangis dengan terguncang-guncang karena begitu sakit hatinya. Tapi ia lebih tidak rela tidak mau Ibunya meratap kepada majikannya itu.
“Saya minta maaf kalau ada kesalahan.”
“Banyak sekali kesalahanmu. Tapi aku akan memaafkanmu kalau kamu patuhi kata-kataku ini.”
Fajar menelan ludahnya.
Diatas sana, Inaya menangis dengan memeluk kedua lututnya, seolah sedang meratapi hidupnya yang paling malang. Ia tidak rela kekasihnya di hina dan di usir begitu rupa, walaupun oleh Ibunya sendiri. Sepertinya Fajar adalah orang paling berdosa dan layak di hukum dengan cara dipermalukan harga dirinya. Ia percaya Fajar bisa tabah, tapi pasti akan sakit hatinya. Ia siap dimusuhi Ibu dan Noni, tapi ia tidak siap dimusuhi Fajar. 
***
Fajar membawa Ibunya pulang.  Ia telah begitu gegabah menentang nasehat Ibunya. Naluri seorang Ibu selalu benar. Kalau ia sudah berkata tidak, sebaiknya memang jangan berkata ‘ya’. Ia tidak menuruti nasehat Ibunya untuk tidak mendekati Inaya. Jangankan pacaran, mendekati saja sudah tidak boleh. Ia tidak tahu apakah ia keras kepala. Ia hanya tahu ia harus menjadi sopir dan harus kenal dengan Inaya yang selalu diantarnya.  Ia merasa tidak mempunyai wajah setampan Tom Cruise, tapi ia tidak pernah tahu kenapa Inaya harus jatuh cinta kepadanya.  Dimatanya Inaya memang tidak secantik Michelle Pfeifer, tapi ia  tidak tahu kenapa bisa jatuh cinta padanya. Kalau ada orang yang bisa memberinya jawaban paling masuk akal, ia akan berguru kepadanya.
Fajar membalut tangannya yang melepuh. Ibunya masih duduk menemaninya di teras rumah, menggenggam sapu tangan untuk persiapan kalau air matanya tumpah lagi. Ia marah dan sakit hati kepada Nyonya Hartawan, tapi tidak bisa dilampiaskannya. Ia lebih takut kehilangan pekerjaannya daripada kehilangan muka. Tapi ia simpan perasaan itu, karena Fajar tidak boleh mengetahuinya. Malam terasa begitu sepi. Seperti malam-malam yang selalu mereka lalui bersama untuk mengeluarkan keluh kesah mereka.
“Kamu tidak kerja disana, masih bisa kerja di toko Pak Tan.”
“Saya bisa bekerja dimana saja. Saya hanya tidak bisa menerima perbedaan itu. ”
“Suatu saat mereka akan mengerti.”
“Saya tidak yakin mereka akan mengerti. Tuhan telah menciptakan hati mereka terbuat dari batu.”
Betapa pengertian sangat sulit didapatkannya di negeri ini. Ia yakin mereka tahu, dan hanya sebatas itu. Tapi ia tidak membutuhkan pengertian keluarga Hartawan lagi. Ia telah melepaskan segala hubungan baik dengan keluarga itu. Ada pengertian yang ia tuntut sekarang dan itu jauh lebih besar daripada sekadar urusan cinta dan tetek bengeknya. Ia punya alasan untuk lebih berani berteriak di panggung demonstrasi. Ia telah kalah segala-galanya dan ia melihat peluang untuk membangun kembali nama baiknya sebagai manusia bermartabat. Telah ia persiapkan dirinya menghadapi akibat apapun. 
(bersambung)