Showing posts with label 1965. Show all posts
Showing posts with label 1965. Show all posts

Wednesday, June 8, 2011

SAM (10)


BAB 10

 

Jun Maher memasukan Abusono ke dalam kamar yang sudah disiapkan. Masih dengan penutup mata. Abusono di dudukkan. Masuk ke ruangan itu Mustajab dan Syahrial Anwar. Parwata masuk dan membisikan sesuatu ke Jun Maher. Parwata dan Syahrial Anwar diberi kode untuk tetap di ruangan itu. Jun Maher mengajak Mustajab keluar kamar itu.
     Warsito sudah menungu dan berkata, “Beny dan Tigor dibawa ke Polres.”
     “Operasi kita bocor,” Kata Jun Maher yakin. “Mustajab, kau bebaskan Beny dan Tigor. Warsito, hubungi Pusat, aku mau malam ini juga ke Jakarta.”
     “Pangkalan Udara Wirasaba sudah dikuasai mereka, Pak.”
     “Gila.” Jun Maher menoleh ke arah Mustajab yang bersiap keluar rumah. “Mustajab, tunggu dulu.”
     Mustajab kembali lagi.
     Ruangan itu senyap.
     Jun Maher duduk terpaku.
     Otaknya bekerja.
     Lalu menoleh ke Mustajab,  “Tolong panggilkan Parwata.”
     Mustajab bergegas ke arah kamar dimana Abusono berada. Sesat kemudian datang dengan Parwata.
     “Pak Parwata, pergilah dengan Mustajab,” kata Jun Maher memberi perintah. “Gunakan koneksi di Polres untuk bebaskan Tigor dan Beny malam ini juga.”
     “Saya tidak yakin, Pak,” ujar Parwata dengan nada dingin. “Sedikit sekali informasi yang bisa kita percayai disini.”
     “Lakukan saja.”
     Parwata nampak bimbang. “Biar saya lakukan ini sendiri.
“   
     “Bapak pergi dengan Mustajab.”
     “Baiklah.” Parwata langsung keluar rumah itu tanpa berkata lagi.
     Mustajab menatap Jun Maher seolah ada yang hendak dikatakannya. Seolah mengantar Mustajab keluar, Jun Maher membisikan sesuatu kepada Mustajab.
     “Jangan percayai siapapun.”
     Mustajab disergap ketakutan. Jangan percayai siapapun. Kalimat itu sangat serius dan atasannya sendiri yang mengatakannya. Diam-diam ia berdoa agar Tuhan melindunginya.
     Saat Parwata dan Mustajab sudah pergi, Jun Maher berkata kepada Warsito, “Kita pindahkan tawanan.”
     “Saya tidak yakin jalan kita aman, Pak.”
     “Lakukan tugasmu. Aku tidak mau ada satu informasi sekecil apapun yang kau lewatkan di radio. Siapkan mobil.”
     “Baik, Pak.”
        Warsito bergegas keluar.
     Jun Maher masuk kedalam kamar itu dan segera menarik Abusono. Syahrial Anwar segera mengerti begitu ada kode dari Jun Maher untuk meninggalkan tempat itu. Syahrial Anwar bergegas keluar kamar itu. Satu-satunya pekerjaan yang harus dilakukannya adalah melakukan pembersihan tempat itu. Ia sudah sering mengikuti operasi rahasia seperti itu. Jadi kondisi darurat seperti itu sudah sangat biasa baginya. Lima menit kemudian tempat itu telah kosong dan meninggalkan kesunyian malam yang masih panjang.
     Warsito membawa mobil dengan hati-hati. Jalur yang dilaluinya adalah jalur yang belum beraspal. Jun Mahher sudah mendapatkan semua rute jalan kecil didaerah itu dari Mustajab. Tidak ada yang tahu ia mengetahui jalur tersebut dari Mustajab. Tidak ada percakapan didalam mobil itu. Abusono sepertinya mengerti ia harus diam. Ia diapit Jun Maher dan Syahrial Anwar.
     Saat mereka keluar dari base camp, Jun Maher sudah mengirimkan pesan rahasia kepada seseorang yang akan membantunya saat keadaan tidak berjalan seperti rencana utama. Umar Yusuf sendiri yang memberikan nama dan alamat seseorang itu. Saat ada jawaban bahwa orang itu akan menunggunya dalam waktu setengah jam, Jun Maher menjadi bernafas lega.
     Mobil yang dibawa Warsito muncul di jalan yang sama ketika mereka menjalankan rencana B, persis sebelum jembatan yang menyeberangi sungai Serayu. Saat sampai di mulut jalan tembus itu, Warsito mengambil jalan ke kanan sesuai kode Jun Maher. Mereka sebelumnya mengambil jalan ke kiri, untuk menuju base camp. Begitu mengambil jalur ke kanan, kembali masuk ke jalan perkampungan, bukan jalan aspal. Meskipun kemudian juga harus mengambil jalan aspal kembali, saat ada jalan ke arah kampung Jun Maher memberi perintah masuk melewati jalan kampung. Meskipun itu memakan waktu lebih lama, Jun Maher harus melakukannya.
     Sampai kemudian mobil itu melewati sebuah tugu desa bertuliskan Lengkong, Jun Maher teringat bahwa desa itu tempat kelahiran Mustajab. Tapi lagi-lagi mereka harus masuk ke jalan yang lebih kecil, bertanah dan berliku-liku. Tapi Jun Maher lega karena semua jalur yang diberikan Mustajab sangat persis dan tidak ada yang salah satu jengkalpun. Saaat keluar, mobil sudah memasuki desa Tapen. Didepannya adalah sebuah perempatan yang luas. Dan Jun Maher menghentikan mobilnya sebelum perempatan itu.
     Jun Maher tegang.
     Tidak ada jalan lain selain harus melewati perempatan itu untuk menuju tempat yang harus ditujunya. Warsito menatap Jun Maher yang jelas sekali tegang mukanya. Tapi Jun Maher tidak bisa menunggu lagi. Ia memberi kode Syahrial Anwar untuk turun. Sebelum turun, Jun Maher memberi kode sepuluh kepada Warsito, lalu menarik Abusono dan segera masuk ke lorong gelap rumah penduduk. Warsito tahu apa yang harus dilakukannya. Jun Maher mengambil jalan aman dengan jalan kaki melewati rumah-rumah penduduk dan akan muncul di seberang perempatan.
     Warsito dihinggapi ketegangan. Perempatan itu adalah jalan maut baginya. Paling tidak setelah dipastikan bahwa operasi mereka diketahui pihak lain. Dan pihak lain itu pasti bukan teman mereka.  Tapi ia tidak punya pilihan lain. Setelah menunggu sepuluh menit, Warsito menjalankan mobilnya. Ia meraba pistol dipinggangnya. Saat operasi mereka dalam bahaya, standar operasi harus dijalankan. Salah satu dengan mempersenjati diri sebagai bentuk perlindungan. Satu-satunya hal yang sering ia dengar adalah jangan sampai tertangkap.   
     Ia juga tidak mau tertangkap.
     Mobil tinggal melewati tiga rumah tapi didepanya muncul dari arah kanan sebuah mobil patroli polisi dengan lampu rotator menyala berkilauan. Tapi hanya sekali. Setelah itu lima petugas polisi berseragam menuju tengah jalan dan mencegat mobil Warsito. Mereka sudah mengambil senjata masing-masing dari pinggangnya. Warsito tahu ia tidak bisa lari. Dan ia memang tidak berniat lari. Ia berhenti.
     Kelima polisi itu mengepung mobil dan menodongkan senjata mereka.
     “Keluar dari mobil. Cepat.”
     Warsito keluar dari mobil.
     Kelima polisi itu saling pandang.
     “Mana yang lain?”
     Mereka memang sudah tahu.
     “Saya sendiri, Pak.”
     Warsito ditendang kaki belakangnya dan ditelungkupkan dan di ambil pistolnya.
     “Maaf Pak Polisi, boleh tahu apa salah saya?”
     “Mana ada teroris mengaku.”
     Sempurna sudah  tuduhan itu.
     Salah satu polisi menghidupkan radio. “Hanya satu orang, Ndan.”
     “Bawa saja dan lanjutkan penyisiran ke arah timur.”
     “Siap, laksanakan.”
     Warsito di gelandang masuk ke dalam mobil patroli. Salah seorang polisi membawa mobil Warsito. Dua mobil itu melaju ke arah timur, jalan dimana seharusnya Jun Maher lewati. Belum lima menit, Jun Maher keluar dari salah satu pinggiran rumah penduduk, di arah timur perempatan itu. Ia berhasil lolos dan ia tahu Warsito sudah ditangkap Polisi. Ia tahu sekarang sendirian. Seharusnya ia tidak menyuruh Mustajab dan Parwata pergi. Ditangkapnya Warsito memperjelas bahwa ada pihak lain yang lebih kuat untuk ikut bermain. Dan cara bermain mereka sangat pintar dengan memperalat Polisi.
Siapa yang mampu menggerakan Polisi?           
     Ia tahu jarak yang harus ditempuhnya untuk sampai ditempat orang yang ditujunya masih cukup lama. Dengan mobil saja butuh waktu tidak lebih tigapuluh menit. Dengan jalan kaki, bisa fajar baru sampai. Tapi sebuah senter menyala di pinggir jalan diarah depan, sekitar limabelas meter didepannya. Senter itu terus dinyalan beberapa kali. Seperti kode. Dan Jun Maher tahu kode apa itu. Bergegas ia membawa Abusono diikuti Syahrial Anwar ke arah lampu senter itu berada.
     Seorang lelaki tua muncul dari kegelapan.
     Jun Maher menatap lelaki tua itu dan memperlihatkan catatan nama dikertasnya. Ahmad Najib Burhani membaca namanya ditulis dikertas itu dengan alamat rumahnya. Lelaki tua itu mengangguk tanpa bersuara. Ia kenal Abusono dan tidak mungkin harus mengeluarkan suaranya. Ia memberi kode mengikutinya. Mereka terus berjalan kaki menyusuri jalan setepak disamping stadion sepak bola itu sampai kemudian terdengar suara air seperti di laut. Angin kencang menerpa mereka. Jun Maher melihat didepannya ada tembok tinggi dan di balik tembok itu adalah sebuah waduk. Waduk PLTA Mrica.
     Mereka menuju sebuah rumah yang letaknya paling pinggir disamping bendungan itu. Beberapa rumah lain berjarak agak jauh. Ahmad Najib Burhani masuk ke dalam rumah itu. Terus menuju sebuah kamar yang kelihatan sudah dipersiapkan. Jun Maher memasukkan Abusono ke dalam kamar itu. Syahrial Anwar terus mengikutinya. Ahmad Najib Burhani menutup pintu kamar itu dari luar dan tidak ikut berada dalam kamar itu.
     Jun Maher mendudukan Abusono diranjang tua terbuat dari kayu yang terdapat sebuah kasur kapuk yang sudah kempes karena sudah sangat lama.
     “Apakah sudah aman?” Tanya Abusono tiba-tiba.
     “Sudah.” Jun Maher membuka tutup mata Abusono, lalu menoleh kepada Syahrial Anwar. “Tolong periksa.”
     Syahrial Anwar membuka tas perbekalannya dan mengambil stetoskop. Abusono nampak kaget berada diruangan yang tidak terang itu. Wajahnya dihinggapi kepanikan sesaat. Lalu memicingkan matanya menatap Jun Maher dan Syahrial Anwar yang sedang memeriksanya.
     “Sediakan air minum,” kata Syahrial Anwar kepada Jun Maher.
     “Ya, aku haus sekali,” ujar Abusono
     Jun Maher langsung keluar kamar itu dan tidak berapa lama masuk lagi membawa sebuah teko terbuat dari tanah dan sebuah gelas. Menuangkan air ke dalam gelas itu dan berikan kepada Abusono. Syahrial Anwar selesai memeriksa dan menoleh kepada Jun Maher.
     “Jantungnya lemah.”
     “Ya, jantungku memang lemah. Aku dulu perokok,” kata Abusono terus bicara. “Oya namaku Abusono.”
     “Saya tahu nama bapak bukan Abusono tapi Sam,” kata Jun Maher mantap dan menatap kedua mata Abusono dengan dalam.
     “Sam?”
     “Bapak mempunyai lima nama samaran. Dimin, Jiman, Karman, Ali Muchtar dan Ali Sastra,” kata Jun Maher dengan lancar.
     “Kurang dua.”
     “Apa?” Jun Maher hampir berteriak.
     “Syamsudin dan Kamarul Saman.”
      Ya Tuhan, lelaki ini benar-benar Sam
“Kau lahir di Tuban?” Syahrial Anwar tiba-tiba bertanya.
“Tentu saja.” Abusono menjawab dengan senang. Lalu menatap Jun Maher. “Persisnya dimana kau tahu?”
“Randublatung.”
Abusono tertawa.
Hanya sebentar. Lalu dia minum air putih itu lagi. “Boleh aku memakai kacamataku? Kau tahu aku harus memakai kaca mata.”
“Silahkan.” Jun Maher terus menatap lelaki itu. Tapi sesaat kemudian dia mengambil perbekalan didalam tasnya. Sebuah borgol dan tali. Dia lalu mengambil kedua tangan Abusono setelah lelaki itu memakai kacamatanya.
“Saya harus melakukan ini. Maaf.” Kata Jun Maher sambil memborgol kedua tangan Abusono dan mengikat kedua kaki dengan tali dan diikatkan ke dua ujung bawah tempat tidur. “Saya ingin bapak istirahat. Dan sebaiknya bapak jangan berpikir untuk lari.”
“Aku juga tidak mau orang lain yang menangkapku.”
“Jadi bapak tahu ada pihak lain yang sedang mengincar bapak?”
“Tentu saja. Kalau boleh aku mau tidur. Aku capek dari pagi buta sudah pergi dari rumah. Boleh aku tidur?”
Jun Maher menatap kepada Syahrial Anwar.
“Biar saya menjaganya,” kata Syahrial Anwar.
Jun Maher terus keluar ruangan itu dan Ahmad Najib Burhani sudah menunggunya.
“Saat ini saya nyaris tidak percaya siapapun.”
“Memang kau harus melakukan itu.” Ahmad Najib Burhani menatap Jun Maher. “Anggotamu pasti tertangkap.”
“Ya. Menurut bapak siapa dibelakang penangkapan mereka?”
“CIA.”
“Bapak benar sudah pensiun?”
“Menurutmu?”
“Menurut saya belum.”
Ahmad Najib Burhani tersenyum. “Sebelum jam enam, kita harus meninggalkan rumah ini.”
“Bagamana caranya kita mendapatkan mobil?”
“Aku sudah siapkan.” Ahmad Najib Burhani beranjak. “Aku akan lihat keadaan diluar. Jagalah tawananmu.”
“Terimakasih.”
Terimakasih Ya Tuhan.    

(bersambung) 

Wednesday, April 27, 2011

SAM (9)


BAB 9

JUN Maher berdiri dengan tegang. Semuanya telah bersiap. Waktu buat mereka bergerak sudah ditentukan. Tidak bisa lagi ditawar.
     “Beny Reza menempatkan mobil utama menghadap timur di selatan jalan raya, di sudut lapangan, disebelah barat jalan masuk ke rumah target,” kata Jun Maher memberi pengarahan. “Saat target menyebrang jalan, mobil maju persis dimana target menyebrang dan Tigor menyergapnya lalu memasukan ke dalam mobil. Dan mobil Parwata di sebelah utara jalan, duapuluhmeter dibelakang mobil utama, menghadap timur. Kita akan berhenti di terminal Mandiraja dan berganti mobil. Kalau semua berjalan lancar, kita akan kembali ke base camp melewati jalan yang sama. Kalau ada masalah, kita jalankan rencana B lewat daerah Rakit.”
     “Dimana posisi Mustajab?” Tanya Warsito.
     “Mustajab dari Purwokerto akan turun di terminal Mandiraja dan menunggu kita. Ada pertanyaan?”
     “Saya lebih suka mobil utama masuk ke jalan arah rumah target,” ujar Tigor memberi pendapat. “Lalu lintas masih belum aman seratus persen.”
     “Posisi itu memang lebih aman karena tidak terlihat dari arah barat, tapi akan makan waktu lebih lama. Waktu maksimal kita adalah limabelas detik.”
     “Pastikan saja kau tidak salah menginjak rem, Beny.”
     “Oke.”     
     “Warsito, kau beri tanda kami situasi sekitarnya,” kata Jun Maher yakin. “Kami tidak mau ada orang mengganggu kami sebelum target diambil.”
     “Siap, Bos.”
     “Tidak ada kata gagal. Kita harus berhasil.” Kata Jun Maher memastikan. “Semoga Tuhan melindungi kita semua.”
     Lalu semua keluar.
     Hanya dokter Syahrial Anwar yang tinggal didalam rumah itu. Beny Reza membawa satu mobil dan Jun Maher serta Tigor Naipospos. Parwata dan Warsito Abdul Khamid berada di satu mobil lainnya dan didalam mobil mereka tersimpan semua senjata. Warsito yang membawa mobilnya. Dua mobil itu melintasi jalan aspal yang dingin.
     Hanya beberapa menit kemudian mobil sudah berada dalam posisi masing-masing. Beny Reza membuka kap mobilnya dan harus sibuk mengotak-atik seolah mogok. Jun Maher dan Tigor Naipospos diam didalam mobil. Berjarak duapuluh meter di arah baratnya, disebelah utara jalan, mobil Parwata berhenti dengan mesin mati. Warsito tegang mendengarkan suasana sekitar lewat radio dan dia mendengarkan lewat headphone.
     Jun Maher mengangkat telpon pribadinya. Seperti biasa ia berkata, “Aku sudah dalam posisi.”
     “Tiga menit lagi sampai di Serayu.” Terdengar suara Mustajab dan langsung terputus hubungan telpon itu.
     Tigor mengetuk kaca depan mobilnya untuk memberi tanda kepada Beny Reza diluar. Tapi Beny sendiri sedang menenangkan diri karena seorang lelaki separuh baya memakai kain sarung dan membawa lampu senter berjalan ke arahnya. Sudah pasti lelaki paruh baya itu akan bertanya kepada Beny dan memperhatikan mobil yang dikiranya mogok.
     “Mobilnya kenapa, Mas?” Tanya lelaki separuh baya itu.
     “Oh, hanya kehabisan air radiator Pak. Sudah selesai,” Jawab Beny sambil menutup kap mobilnya buru-buru.
     “Tidak perlu bantuan?”
     Sudah pergi saja. “Tidak, Pak. Terimakasih.”  
     Beny sudah masuk ke dalam mobilnya dan membunyikan mobilnya. Lelaki separuh baya itu dengan sendirianya pergi begitu saja. Beny mengelap keringat yang muncul di mukanya.
     “Bisnya datang,” kata Jun Maher melihat ke belakang.
     “Saya siap,Bos,” kata Beny begitu saja.
     Warsito dan Parwata bukan tidak tahu apa yang terjadi dengan Beny saat lelaki paruh baya itu datang. Parwata jauh lebih tenang. Warsito yang gelisah karena ia yakin lelaki paruh baya itu akan tetap berada didekat Beny sebelum Beny menutup kap mobilnya. Saat bis itu melewati mobil mereka, ketegangan jauh lebih merambat di kepala mereka.
     “Itu bisnya,”ujar Parwata.
     “Ya. Itu mobilnya.” Suara Warsito gemetar.
     Bis jurusan Purwokerto Semarang itu berjalan melambat dan benar-benar berhenti di seberang lapangan itu. Tidak berapa lama Abusono turun seorang diri. Lalu menunggu bis itu pergi agak jauh dan lelaki tua itu menoleh kanan kiri. Dia sempat memperhatikan mobil Jun Maher di ujung jalan. Tapi ia lebih serius melihat kanan kiri dan menyebrang jalan dengan langkah pendek. Saat jarak aspal dan tanah tinggal tiga langkah, mobil Beny Reza maju dan berhenti persis didepan Abusono. Pintu belakang terbuka dan turun Tigor dan tangan kekarnya mencengkeram Abusono dan menariknya seperti karung beras. Tidak sampai delapan detik, Abusono sudah dalam mobil Jun Maher.
     Beny Reza sudah menjalankan mobilnya dengan senormal mungkin begitu pintu tertutup. Mobil Parwata mengatur jarak sudah berjalan juga. Tidak sampai setengah menit, nampak Noor Amini keluar dari rumahnya dan berjalan ke depan rumahnya dan melihat ke arah jalan raya. Wanita itu terus berdiri disana dan kemudian berjalan ke arah jalan raya.
     Wanita itu tahu seharusnya suaminya sudah sampai di rumah. Tapi kesunyian di tempat itu tidak bisa menjawab pertanyaannya.

JUN Maher sudah memasang penutup mata ke muka Abusono. Tanpa ada omongan satu kata pun keluar dari mulut mereka. Tigor Naipospos duduk melihat ke belakang dengan tegang. Beny Reza menambah laju mobilnya. Setelah selesai mengikat tangan Abusono dengan kain, Jun Maher baru bisa bernafas lega. Sengaja dia tidak memakai borgol.
     Senyap dalam mobil itu.
     “Siapa kalian?” Abusono berkata tiba-tiba.
     Jun Maher tidak menjawabnya.
     Tigor terus melihat ke belakang dan melihat ke jam tangannya. Lalu memberi kode aman kepada Jun Maher. Setelah itu Jun Maher menepuk bahu Beny Reza sekali sebagai tanda aman. Delapan menit kemudian Beny Reza menghentikan mobil persis di samping mobil yang sudah disiapkan di terminal Mandiraja. Mustajab sudah dibelakang setir. Posisi mobil sama-sama menghadapkan pintu mobil. Jadi saat Tigor membuka pintu dan Mustajab membuka pintu dari dalam, tidak akan terlihat saat  Tigor menarik Abusono. Jun Maher mengikuti dan menutup pintunya. Tigor juga sudah menutup pintu mobil pertamanya dan kembali berada dibelakang Beny dan langsung pergi. Mustajab melihat Abusono dibelakangnya dan Jun Maher memberi kode supaya jalan. Mustajab menjalankan mobilnya.
     Mobil Parwata di luar terminal dan diam menunggu. Warsito mendengarkan pantauan udaranya dengan serius, dan dia mendadak memutuskan lain.
     “Jalankan rencana B,” kata Warsito di radio kepada Jun Maher.
     Jun Maher mendengarkan ditelinganya dengan tegang. Lalu dia menepuk bahu Mustajab dua kali. Tanpa berpikir dua kali Mustajab mengarahkan mobil keluar dari terminal dan menyebrang jalan dan masuk ke jalan kecil ke arah utara terminal.
     “Beny, tetap dengan rencana A ke base camp,” terdengar kata Warsito mengingatkan.
     “Roger,” Tigor Naipospos menjawab singkat dan menatap ke depan. “Aku tidak melihat ada gerakan lain.”
     “Mungkin bukan lawan,” jawab Beny membawa mobilnya melewati jalur semula.
      Mustajab tahu jalan yang harus dilewati. Ia lahir di kota itu dan jalan yang dilewatinya adalah jalan saat dari kecil ia lewati dengan ayahnya dengan motor. Dibelakangnya mengikuti mobil Parwata. 
     Apa yang di khawatirkan Tigor terbukti. Didepan sana, nampak berhenti mobil Polisi dan sedang mengadakan razia.
     “Warsito hebat,” bisik Tigor melihat ke arah polisi yang menghentikan mobilnya. Beny menurunkan kaca mobilnya.
     “Selamat malam, bisa lihat SIM dan STNK?”
     Beny mengeluarkannya.
     “Pak Ahmad Turmudi?” Tanya Polisi itu melihat SIM Beny Reza.
     “Ya.”
     “Anda tinggal di Jakarta Timur ya?”
     “Sesuai tertera di SIM, Pak.” Beny terus tersenyum
     “Sebentar ya.”
     Polisi itu membawa STNK dan SIM Beny ke arah mobil patrolinya. Lalu dia menjulurunkan tangannya ke dalam mobil. Tampak ada bayangan seseorang didalam mobil polisi itu.
     “Ada yang tidak beres,” Tigor berkata lirih.
     “Kita ikuti saja.”
     Polisi itu sudah kembali.
     “Maaf Pak Ahmad Turmudi, silahkan keluar. Juga teman bapak.”
     “Ada apa, Pak?”
     “Mobil yang bapak bawa adalah mobil curian.”
     Ada yang tahu operasi ini, batin Tigor keluar mobil.
     “Silahkan masuk ke bagian belakang,” kata Polisi itu masuk mobil ke belakang setir.
     Beny dan Tigor masuk mobil kembali ke belakang.
     “Kita mau dibawa kemana?” Tanya Tigor Naipospos penasaran.
     “Polres, Pak.”
     Lalu kembali ke arah timur. Juga mobil patroli polisi itu. Tidak ada lagi patroli jalan raya. Polisi hanya menghentikan mereka.
     (bersambung)

Monday, April 25, 2011

SAM (8)


BAB 8


JAM menunjukkan pukul tiga dinihari. Jun Maher berdiri disamping whiteboard dan memegang spidol dan menggambar denah lokasi penyergapan dan dua mobil yang harus berada di posisinya. Semuanya mendengarkan dan melihat dengan serius. Termasuk Dokter Syahrial Anwar.
     “Saat target turun dari bis, biarkan sampai menyebrang jalan. Sebelum dia turun dari aspal, kita sergap dan masukkan ke dalam mobil. Beny, mobil kau hadapkan ke arah timur, pinggir jalan, persis di mulut jalan masuk ke arah rumah target. “
     “Kenapa ke arah timur? Bukankah itu menjauhi base camp dan pangkalan udara?” Tigor bertanya dengan yakin.
     “Kita bawa dulu target jalan untuk mengaburkan lokasi base camp.”
     “Buang-buang waktu.”
     “Kau lupa kalau teman-teman kita sudah berada disini?” Jun Maher memberikan alasan. “Mereka pasti melacak kita dan aku tidak mau saat kita kembali ke base camp, mereka sudah menunggu kita dengan senjata Magnum ditangan mereka.”
     “Lalu mobil saya di terminal Mandiraja?” Tanya Mustajab belum paham.
     “Jika terjadi sesuatu dengan rencana A, kita jalankan rencana B. Kita pindahkan target dan langsung menuju pangkalan udara. Ada sebuah jalan di sebelah utara terminal Mandiraja menuju daerah bernama Rakit. Dari daerah Rakit ini kita ke arah barat dan langsung menuju pangkalan udara Wirasaba. Akses jalan cukup bagus tapi sempit. Jarak tempuh ke pangkalan udara enam kilometer melewati tiga desa.”
     “Kita harus mempunyai rencana C.” Parwata memberikan pendapat. “Saya yakin teman-teman kita mempunyai rencana A dan B seperti rencana kita. Rencana C adalah membiarkan target masuk ke dalam rumahnya dan kita ambil paksa dari sana.”
     “Sejak pertama kita sudah putuskan tidak melibatkan keluarga.” Warsito mengingatkan.
     “Saya setuju rencana C.”
     “Kalau rencana C juga gagal?” Tanya Beny Reza.
     “Kita gunakan rencana D,” jawab Tigor mantap.
     “Apa itu rencana D?” Mustajab penasaran.
     “Kita gunakan jalan senjata dengan perbekalan yang baru dikirim. Buat apa Pak Umar jauh-jauh hanya mengantarkan Pak Syahrial Anwar seorang diri?”
     “Kau pikir aku tidak penting?” Syahrial Anwar berkata dingin.
     “Bukan begitu, dokter,” Tigor berkata sopan. “Saya hanya mengingatkan soal pentingnya operasi ini.”
     “Baiklah,” Jun Maher mengambil alih pembicaraan. “Dari semua rencana kita, yang paling besar risiko buat kita adalah rencana C. Tingkat kegagalan dan kebocoran terlalu tinggi. Kita tetap dengan rencana pertama kita.”
     “Saya ingin target diikuti saat pergi ke Purwokerto,” kata Parwata memberikan usul. “Terlebih lagi saat pulang naik bis. Saya tidak mau ada teman kita mengambilnya lebih dulu.”
     “Rencana yang bagus. Siapa yang akan ke Purwokerto?”
     “Kau Mustajab.” Tigor berkata tegas seolah memberi perintah.
     Mustajab menoleh ke Jun Maher.
     “Ya. Itu tugasmu.”
     Mustajab mengangguk.
     “Ada usul, saran, pertanyaan atau yang lain? Dokter?”
     “Tidak ada,” jawab Syahrial Anwar santai.
     “Satu jam sebelum jam H, kita akan terus berada di tempat masing-masing pengintaian.” Jun Maher menghapus semua tulisan dalam whiteboard. “Kita punya waktu untuk istirahat beberapa jam.”
     Lalu semua buar.
     Ruangan itu lalu sepi.
     Tapi Jun Maher tidak bisa memejamkan matanya. Ia sedang mempertaruhkan karirnya. Bukan hanya terhadap karirnya tetapi karir Umar Yusuf. Sejujurnya ia ingin operasi kali ini dipersembahkan untuk atasannya itu, agar memasuki masa pensiunnya dicatat dengan tinta emas. Umar Yusuf menjadikannya seorang yang  banyak belajar menjadi benar. Dunianya adalah dunia gelap. Umar Yusuf membuatnya selalu bisa mencari ketenangan batinnya. Tidak ikut masuk ke dalam dunia pekerjaanya.
     Jun Maher berjalan ke arah pintu keluar. Ia harus keluar untuk melihat keadaan. Ia tidak bisa memejamkan mata sebelum targetnya benar-benar sudah berada di tangannya. Saat pintu hendak terbuka, dibelakangnya muncul Mustajab.
     “Boleh saya temani, Pak?”
     Jun Maher melihat Mustajab yang serius.
     “Tentu saja.”
     Tak berapa lama mereka sudah berjalan pelan dipinggir jalan, ditengah rel kereta api peninggalan Belanda. Sama-sama merokok dan di pagi subuh itu, belum terlihat lalu lintas yang berarti kecuali sepeda ontel dan sepeda motor yang membawa sayuran menuju pasar.
     “Apa yang terjadi selanjutnya setelah target ditangan kita?” Tanya Mustajab memulai pembicaraan.
     “Apapun bisa terjadi.”
     “Saya tidak yakin sejarah kita bisa selesai hanya dengan keterangan Sam.”
     “Tidak akan pernah bisa selesai.” Jun Maher menghisap rokoknya dalam-dalam. “Aku tidak mengharapkan Sam meluruskan sejarah negeri ini. Kalaupun dia nanti bicara peristiwa Gerakan 30 September 1965, tidak lebih sebagai salah satu catatan pelengkap.”
     “Lalu untuk apa kita melakukan operasi ini?”
     “Kau tahu kenapa Amerika menjadi besar? Mereka menciptakan musuh-musuhnya sendiri. Mereka menciptakan ketakutan yang mereka bangun sendiri agar musuh-musuh mereka jauh lebih takut.”
     “Seperti peristiwa 11 september?”
     “Seperti peristiwa yang jauh lebih besar yang terjadi.”
     “Saya takut kita gagal.”
     “CIA pernah gagal. BIN juga sering gagal. Tapi kita jangan sampai gagal.”
     Lalu mereka menyebrang jalan dan duduk di jembatan kecil di sudut lapangan, di jalan menuju rumah Abusono alias Sam. Mereka terus merokok untuk mengusir kantuk dan udara dingin.
     “Kau lahir disini?”
     “Betul, Pak. Desa kelahiran saya bernama Lengkong.”
     “Apa artinya?”
     “Tidak jelas benar sejarah desa saya kenapa diberi nama Lengkong. Ada yang berkelakar itu singkatan leng dan kong. Leng itu lobang, kong adalah kependekan dari bangkong atau katak. Jadi kalau ada bencana apapun, kita katanya bisa selamat karena berada dalam lobang.”
     Jun Maher tertawa.
     “Bapak lahir di Solo?”
     “Ya. Desa Bekonang.”
     “Desa yang terkenal.”
     “Tapi tidak seterkenal Desa Pathuk atau Desa Kemusuk di Yogyakarta.”
     Mereka tertawa bersama.
     Tapi langsung berhenti saat itu juga.
     Abusono keluar dari dalam rumah.
     Jun Maher berdiri dan berkata. “Sebaiknya aku pulang.”
     “Saya langsung berangkat ke Purwokerto.”
     “Kita akan terus berhubungan.”
     Jun Maher langsung pergi begitu saja dan menyebrang jalan.
     Mustajab berdiri di pinggir jalan, bersikap seolah menunggu bis yang akan datang dari arah timur. Dia melihat ke arah timur yang masih diselimuti kabut. Ia tidak bisa pergi lagi dari tempatnya. Jalan satu-satunya ia harus tetap berada ditempatnya. Abusono benar-benar berjalan ke arahnya dan ditemani Istrinya. Abusono memakai jaket dan topi dan membawa tas kulit yang dipegangnya seperti membawa buku.
     Abusono dan istrinya nampak mengobrol sesuatu tapi lantas berhenti begitu mendekati Mustajab. Istri Abusono seorang wanita berusia enampuluh enam tahun bernama Noor Amini, seorang wanita yang nampak pendiam dan memperlihatkan sikap yang sangat sopan. Melihat Mustajab mereka nampak berusaha untuk bersikap tenang.
     “Saya sedang menunggu bis ke Purwokerto,” Mustajab memulai pembicaraan lebih dulu. “Bapak mau ke arah Purwokerto atau ke arah Wonosobo?”     
     “Ke arah barat, Purwokterto ya…”Abusono menjawab seolah meyakinkan tujuannya benar. “Tinggal dimana?” 
     “Di sebrang, di belakang kantor Pos.”
     “Ooo…”
     “Ibu pulang saja,” pinta Abusono ke Istrinya. “Aku sudah ada teman perjalanan. Jangan khawatir.”
     “Hati-hati, Pak.”
     “Ya, pasti.”
     Noor Amini lalu mencium pipi kanan kiri Abusono lantas berjalan ke arah rumahnya lagi.
     “Bilang Dodo jangan lupa kasih makan ayam jago dibelakang.”
     “Iya. Bapak juga jangan sampai terlambat makan, obat dan vitamin ada di saku tas.” Wanita itu sepertinya berat melepaskan kepergian Abusono sendirian. Sampai beberapa lama terus melihat ke arah suaminya. 
     “Bapak biasa berangkat pagi-pagi begini?” Mustajab berusaha akrab.
     “Tidak juga. Menghindari bis penuh saja sama anak sekolah sama orang bekerja. Apalagi harus berdiri dan berdesak-desakan.” Abusono tergelak. “Kau tahu, umurku…”
     Lalu mereka diam.
     Tidak berapa lama bis yang mereka tunggu datang dan berhenti. Mustajab memberikan kesempatan lebih dulu Abusono naik bis. Didalam bis, Abusono berjalan ke arah depan. Mustajab duduk di kursi paling belakang dan paling pojok. Baru juga duduk, Abusono menoleh kepadanya dan memberinya tanda untuk duduk disebelahnya yang kosong. Mustajab menurutinya.
     “Temani aku saja,” ujar Abusono. “Aku takut ketiduran dan lupa turun.”
     Aku juga ngantuk, batin Mustajab. “Saya akan bangunkan bapak kalau sampai.”
     “Terimakasih.”
Belum sampai tiga menit, Abusono tertidur. Mustajab sendiri mengatupkan mata, dan menunggu, merasakan ketegangan di otot leher dan punggung serta linu di kaki yang baru dirasakannya. Tidur akan sangat nikmat, apalagi waktu tigapuluh menit sangat cukup baginya sebelum sampai di tempat tujuan. Tapi ia tidak berani melakukannya. Lelaki disampingnya adalah Sam.

(bersambung)

Wednesday, March 23, 2011

SAM (6)

BAB 6


 

Tigor Naipospos  duduk diatas motor yang diparkirnya di halaman kantor pos sambil merokok. Matanya terus menerus tertuju ke seberang jalan, dimana tampak deretan rumah kolonial dipinggiran lapangan. Kantor pos itu juga menempati bangunan kolonial persis dipinggir jalan propinsi. Rumah tinggal Abusono alias Sam terlihat jelas dari tempatnya berada. Tempat yang sangat terbuka, pikir Tigor. Bagaimana mungkin lelaki tua itu bisa hidup di tempat ini sejak empat puluh tahun terakhir tanpa ketahuan jati dirinya yang sebenarnya. Kalau di luar Pulau Jawa hal itu barangkali tidak menjadi aneh.
     Warsito Abdul Kahmid keluar dari dalam kantor pos dan begitu saja berkata, “Abusono bertempat tinggal disini belum genap dua tahun.”
     “Aku pikir sudah empat puluh tahun.”
     “Anak lelakinya dipindahkan tugasnya ke daerah ini dan Abusono menginginkan tempat nyaman untuk pensiun.”
     “Siapa yang mengatakannya pada kau?”
     “Seorang lelaki limapuluhlima tahun yang sedang mengambil uang wesel dari anaknya di Malaysia.” Warsito menyalakan rokoknya dengan santai dan dia berkata lagi, “Katanya mereka berasal dari Semarang.”
     “Apalagi?”
     “Apa yang kau dapat?”
     “Tidak ada.”
     Warsito menatap Tigor Naipospos yang sikapnya begitu cuek dan seenaknya. “Bagaimana kau bisa masuk DIK?”
     “Pertanyaan macam apa pula itu.”
     “Aku hanya ingin lebih akrab denganmu.”
     “Bah. Aku tidak mau tidur sekamar denganmu kalau begitu.” 
     “Kita kembali sekarang.” Warsito menahan diri dan dia membanting rokoknya yang masih panjang.
     “Aku lapar.” Tigor Naipospos juga membanting rokoknya.
     “Ada rumah makan pinggir sawah tiga kilometer lagi, setelah pasar Mandiraja” jawab Warsito naik ke boncengan.
     “Aku ingin makan tempe mendoan di pasar Mandiraja saja,” kata Tigor Naipospos menyebutkan tempat ramai sekitar tiga kilometer lagi dari tempat mereka berada.
     “Yeah, lebih baik kita memang membaur.”
     Motor mereka melaju dengan kecepatan sedang. Mereka tahu mereka melawati mobil yang dibawa Parwata yang sedang parkir di pinggir jalan, di depan sebuah rumah bergaya kolonial.
     Parwata sudah bersama seorang lelaki berkacamata berumur enampuluh lima tahun bernama Purnomo. Lelaki itu hendak menjual rumah kolonial yang telah lama dimilikinya karena jarang ditempatinya. Purnomo mempunyai rumah pribadinya di perkampungan padat tidak jauh dari tempat itu. Rumah kolonial itu dibeli anak lelakinya yang bekerja di Payakumbuh, Sumatra Barat. Tetapi karena sudah dipastikan tidak bisa bertugas di Banjarnegara, anak lelakinya menyuruh Purnomo menjualnya saja.
     “Boleh tahu untuk apa Pak Parwata membeli rumah ini?”
     “Kantor cabang, Pak.”
     “Bergerak di bidang apa?”
     “Pertambangan.”
     “Yeah, Banjarnegara memang perlu digali potensi tambangnya. Saya yakin tidak kalah dengan daerah lain.” Purnomo nampak antusias sekali. “Dan rumah ini memang sangat cocok untuk di jadikan kantor daripada untuk bertempat tinggal. Seperti kantor pos yang tidak jauh dari sini. Tapi kalau untuk showroom kerajinan keramik, kurang lapang rumah ini. Siapa tahu nanti perusahaan bapak juga tertarik untuk berbisnis keramik.”
     Cerewet sekali lelaki ini, batin Parwata.
     “Jadi berapa pasnya harga rumah ini, Pak?”
     “Sudahlah, balik modal saja, seratus limabelas juta.”
     Murah sekali, pikir Parwata sambil mengeluarkan buku cek. “Bapak menerima cek?”
     “Cek?”
     “Oh lebih baik uang cash saja ya.” Parwata menyadari kesalahannya. “Sebentar, saya ambilkan di dalam mobil.”
     “Sebentar, Pak Parwata.”
     “Ya.”
     “Tapi benar rumah ini untuk dijadikan kantor kan?”
     “Maksud Bapak?”
     “Maaf sebelumnya, bukan bermaksud buruk sangka. Tapi akhir-akhir ini kita disarankan pihak berwenang untuk hati-hati menerima kedatangan orang asing. Takutnya mereka teroris yang sedang dicari Polisi, seperti yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Tengah.”
     Lelaki yang sangat behati-hati, pikir Parwata. “Saya pastikan, bukan untuk sarang teroris Pak.”
     Purnomo tertawa dan kembali berkata, “Kalau begitu, bagaimana kalau pembayarannya dilakukan dirumah saya saja, dibelakang rumah ini kok, hanya memutar saja. Sekalian Pak Parwata mencicipi masakan khas Banjarnegara.”
     “Apakah masakan khas Banjarnegara?”
     “Sayur lodeh.”
     Di Jakarta juga ada.
      
JAM duabelas lewat duapuluh menit, mereka sudah berkumpul dan sedang menikmati makan siang di sebuah rumah makan di sebelah selatan alun-alun kota. Yang paling rakus makan Tigor Naipospos. Tidak ada yang peduli dengan cara makan Tigor kecuali Warsito.
     “Apakah hawa sejuk kota ini membuat perutmu selalu kelaparan, Tigor?”
     “Lagi tidak enak badan aku.”
     “Buset, tidak enak badan saja rakus begitu, bagaimana kalau sehat,” kata Beny Reza menimpali. “Satu kuali kali habis.”
     “Kalian kalau masih kurang, tinggal panggil pelayan. Tidak usah usillah dengan cara makan orang lain.”
     Jun Maher tertawa.
     “Minuman ini yang disebut dawet ayu?” Tanya Parwata menoleh kepada Mustajab sambil memegang gelasnya dan meminumnya.
     “Dawet ayu adalah minuman khas Banjarnegara.”
     “Kenapa di gerobaknya gambarnya Semar, bukan seorang gadis ayu?” Saat mengeja Semar, lidah Batak Tigor sangat medok lafal e-nya, sehingga terdengar lucu.
     “Se-mar, Tigor. Bukan Semar,” ujar Warsito berusaha memberitahu tanpa merasa berdosa.
     “Lama-lama aku gantung kau di alun-alun sana, Warsito.”
     Semua tertawa. 
     “Siang ini kita lakukan latihan pengambilan target,” kata Jun Maher. “Nanti malam kita pindah di base camp. Mustajab, tugasmu memesan isi rumah.”
     “Sebelum jam delapanbelas, base camp sudah siap, Pak,” kata Mustajab yakin
     “Dimana kita akan melakukan latihan, Bos?” Tanya Warsito.
     “Di daerah PLTA Mrica. Berharap saja semoga turun hujan,” kata Jun Maher berharap sambil menoleh keluar.
     “Langit saja tidak ada tanda-tanda mendung.” Tigor Naipospos melihat juga ke arah luar. “Kalau hujan tidak turun, buat saja sesajen, Bos?”
“Kau terlalu sering nonton sinetron rupanya,” kata Beny Reza.
     “Tapi usul kau bagus juga,” sahut Jun Maher dan melihat jam tangannya. “Pak Parwata, tugasmu membayar tagihan.”
     Jun Maher langsung berdiri dan meninggalkan tempat itu diikuti yang lain.
     Saat mereka bergerak pindah dari hotel menuju base camp, hujan benar-benar turun. Di dalam mobil menuju lokasi latihan, Tigor Naipospos menatap Jun Maher dengan pandangan lain.
     “Kenapa kau menatapku begitu?” Jun Maher tahu yang dilakukan Tigor tanpa menoleh.
     “Darimana bos tahu akan turun hujan?”
     “Aku tidak tahu.”
     Dalam limabelas menit, mereka sudah melakukan simulasi latihan penyergapan di sebuah tanah lapang yang dijadikan tempat parkir oleh pengelola wisata dermaga PLTA Mrica. Selain sebagai pembangikit listrik, Bendungan  Panglima Besar Sudirman atau PLTA Mrica, di jadikan sebagai tempat rekreasi danau yang disukai pengunjung. Ada sebuah jalan aspal yang dijadikan jalan pintas oleh beberapa orang. Tapi saat hujan, tidak banyak yang memperhatikan apa yang mereka lakukan.
     Parwata yang usianya hampir sama dengan Abusono atau Sam, dijadikan peran pengganti. Sementara yang melakukan penyergapan adalah Tigor dibantu Warsito. Jun Maher didalam mobil menghitung waktu. Beny Reza dibelakang setirnya. Saat Tigor menyergap Parwata dengan membekap mulutnya dari belakang dan diseret ke arah mobil, kelihatan tidak lancar. Begitu sampai masuk ke dalam mobil, Jun Maher melihat penghitungan waktunya.
     “Masih terlalu lama. Kita harus melakukannya dalam duapuluh detik,” kata Jun Maher.
     “Saat tidak hujan, limabelas detik mudah sekali, Pak.”
     “Lakukan sekali lagi.”
     Ketiga lelaki itu kembali ke tengah lapangan.
       (bersambung)