Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Wednesday, October 31, 2012

Aswendo dan kedaulatan penulis cerita silat

Penulis cerita silat dan sejarah Nusantara memiliki kedaulatan cerita. Sehingga karyanya tetap asli didukung dengan berbagai fakta sejarah, demikian budayawan Arswendo Atmowiloto mengemukakan.
 
“Dalam skala luas mereka memiliki kedaulatan cerita yang memberikan pengaruh besar terhadap pembacanya, pembacanya mencapai kesadaran sejarah,” katanya setelah pembukaan ‘Borobudur Writers and Cultural Festival’ di halaman Pendopo Manohara kompleks Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di Borobudur, Senin. ‘Borobudur Writers and Cultural Festival’ pada 28–29 Oktober 2012 berupa pertemuan para penulis cerita silat dan sejarah Nusantara. Sebagian besar agenda digelar di kawasan Candi Borobudur, sedangkan lainnya di Yogyakarta.

Peserta kegiatan yang dinamai Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara itu berjumlah sekitar 300 orang baik sebagai peserta aktif, pasif, maupun pembicara dengan berbagai latar belakang seperti penulis, sejarawan, akademisi, rohaniwan, budayawan, dan arkeolog. Ia menyebut karya cerita silat sebagai ajaib dengan turut membentuk nilai-nilai moral dan budi pekerti yang berguna untuk pembentukan karakter generasi muda bangsa.

“Penyampaiannya dengan menyenangkan dan membawa kepada suatu kesadaran,” katanya. Pada kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa setiap generasi dibesarkan oleh generasi pendahulunya melalui berbagai cerita yang kental dengan sastra. “Dulu kita dibesarkan oleh generasi mbah-mbah kita, dibesarkan dengan dongeng sastra,” katanya. Ia mengaku popularitas karya cerita silat dan sejarah Nusantara tidak secepat karya-karya lainnya seperti bersegmen remaja.

“Cerita silat tidak terlalu cepat, apalagi generasi muda masih minim menulis cerita silat,” katanya. Materi cerita silat, katanya, masih banyak berlatar belakang fakta sejarah pada zaman yang cukup lampau, yang relatif minim konflik. Saat menjadi pembicara pada diskusi sesi pertama kegiatan itu, Arswendo mengatakan bahwa basis kreatifitas cerita silat di tangan penulisnya.

“Kebenaran ceritanya selalu didukung dengan fakta sejarah sehingga dongengnya menjadi hidup,” katanya. Direktur BWCF yang juga salah satu pengelola Samana Foundation (penyelenggara festival, red.) Yoke Darmawan mengatakan para penulis silat memiliki banyak referensi tentang fakta sejarah. Mereka, katanya, antusias mengumpulkan berbagai fakta sejarah, data, sumber formal dan nonformal, referensi legenda, naskah, serta prasasti.

“Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk berbagi referensi antara generasi muda dan generasi tua, mengaktifkan komunitas untuk mengetahui sejarah dan cerita sejarah. Banyak ruang kosong dalam perjalanan sejarah Indonesia, penulis mengisi dengan imajinasi, memori, dan perspektif, sehingga hasilnya kaya referensi untuk generasi muda,” katanya.

Pembukaan BWCF 2012 itu ditandai dengan pementasan performa tari, musik, dan tembang oleh seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang serta pidato oleh budayawan Sutanto Mendut. Agenda kegiatan itu antara lain diskusi, peluncuran buku, dan pemutaran film berlatar belakang sejarah Nusantara.

Sumber IPOSNEWS

Sunday, September 11, 2011

SENO GUMIRA AJIDARMA DAN NAGABUMI

Sore itu, Mas Seno—begitu saya memanggilnya—tampil santai dengan kaus, jeans, dan sepatu kanvas hitam. Ia duduk di belakang meja dengan dua buku bertumpuk. Yang teratas berjudul The Real Tripitaka karya Arthur Waley. Ia telah siap untuk wawancara.
Apakah buku itu untuk riset Nagabumi?
Ha-ha-ha. Ya, salah satunya.
Mas Seno, bisa ceritakan awal penulisan novel ini?
Dulu, saya pernah punya impian untuk menulis cerita silat bersambung. Ambisinya, ingin membuat cerita silat yang memenuhi kriteria estetik. Lalu, saya dapat tawaran untuk menulis cerita silat Jawa di koran. Saya bilang, saya tidak tertarik dengan cerita silat seperti itu. Saya tidak bisa. Tapi, kalau silat Indonesia bisa. Akhirnya, saya menulis sebuah cerita silat Indonesia tanpa latar belakang tempat. Namun, lama-lama, saya merasa cerita ini butuh itu. Saya pun memilih setting yang jarang dipakai orang, yaitu Jawa abad 8–9 M. Sejak itu, saya mulai riset sambil menulis Nagabumi.
Apa yang membedakan Nagabumi dari cerita silat lain?
Ya, itu tadi. Saya tidak mau membuat cerita silat yang hanya asal gebuk. Tapi, silat sebagai sastra. Dan, awalnya ini dibuat 'bernyali' oleh adanya film-film silat yang artistik, seperti Crouching Tiger Hidden Dragon atau Hero. Wah, itu kan bukan action, itu puisi. Itulah ideal saya.
Tokoh Anda, si pendekar tanpa nama, berusia 100 tahun dan pernah membantai seratus lawan dalam semalam. Saya melihat pengaruh cerita silat China yang kental di sini. Tanggapan Anda?
Iya, dong. Dulu, kan, tidak ada DVD segala. Dan, film-film masih jelek. Dunia remaja jadul itu, ya, cerita atau komik silat seperti karya Kho Ping Hoo atau R.A. Kosasih. Silat itu bagian dari tradisi anak laki-laki zaman dulu.
Mengapa tokohnya tidak murni protagonis layaknya cerita silat kebanyakan?
Nah, itu salah satu pengaruh sastra modern. Sastra klasik, kan, tentang orang-orang hebat. Kalau modern justru orang-orang yang kalah. Menurut saya, ini menarik. Kita bisa 'bermain' di situ.
Banyak isu dalam Nagabumi yang merefleksikan keadaan negara ini, seperti konflik agama dan politik. Apa memang ada maksud ke arah sana?
Itu tergantung pembaca saja. Pembaca kan tidak pasif dan konsumtif, tapi aktif dan produktif. Jadi, tergantung mereka memaknai cerita itu sebagai apa. Entah sekadar cerita, sejarah, atau apa saja. Mereka harus diberi kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas.
Tantangan apa yang muncul saat mengerjakan buku ini?
Saya ingin memunculkan apa yang selama ini tidak pernah ada dalam cerita silat Indonesia, yaitu sisi intelektual manusianya. Sesungguhnya, selain pesilat, banyak sekali karakter yang menarik, seperti pengarang buku, pengajar, politikus, hingga pemberontak. Cerita silat ini mengadung esai yang meliputi banyak aspek kehidupan.
Perspektif orang pertama yang Anda gunakan dalam bertutur tidak lazim dalam cerita silat. Ada alasan khusus?
Karena itu belum dilakukan orang. Biasanya, cerita silat kan yang bercerita Tuhan (perspektif orang ketiga). Nah, kalau ini yang bercerita manusia. Dengan begitu, tokoh bisa bercerita lebih banyak dan personal. Kita pun bisa lebih mengerti pergolakan batin yang terjadi dalam dirinya. Di situlah sastra modernnya; bermain dengan sudut pandang.
Bicara tentang Tuhan, apa tanggapan Anda mengenai anggapan bahwa sastra merupakan jalan spiritual?
Ya, boleh-boleh saja. Kalau mau dijadikan hiburan boleh, mau dipakai buat gaya omongan saja juga boleh. Tapi, serius juga boleh. Mereka, kan, mencari makna dalam bacaan. Bisa juga.
Pertanyaan terakhir. Mengapa nama Seno Gumira Ajidarma lekat dengan kata 'perlawanan'?
Bukannya hidup seperti itu? Kita tidak bisa mengingkari bahwa sebetulnya kebudayaan itu isinya hanya perlawanan kelompok bawahan melawan kelompok yang dominan. Ini seperti menangkap ayam. Mana ada, sih, ayam yang mau ditangkap untuk disembelih? Nah, saya melakukannya dengan cara tidak menjadi seperti yang lain.

Sumber AREAMAGZ



Wednesday, March 23, 2011

SAM (6)

BAB 6


 

Tigor Naipospos  duduk diatas motor yang diparkirnya di halaman kantor pos sambil merokok. Matanya terus menerus tertuju ke seberang jalan, dimana tampak deretan rumah kolonial dipinggiran lapangan. Kantor pos itu juga menempati bangunan kolonial persis dipinggir jalan propinsi. Rumah tinggal Abusono alias Sam terlihat jelas dari tempatnya berada. Tempat yang sangat terbuka, pikir Tigor. Bagaimana mungkin lelaki tua itu bisa hidup di tempat ini sejak empat puluh tahun terakhir tanpa ketahuan jati dirinya yang sebenarnya. Kalau di luar Pulau Jawa hal itu barangkali tidak menjadi aneh.
     Warsito Abdul Kahmid keluar dari dalam kantor pos dan begitu saja berkata, “Abusono bertempat tinggal disini belum genap dua tahun.”
     “Aku pikir sudah empat puluh tahun.”
     “Anak lelakinya dipindahkan tugasnya ke daerah ini dan Abusono menginginkan tempat nyaman untuk pensiun.”
     “Siapa yang mengatakannya pada kau?”
     “Seorang lelaki limapuluhlima tahun yang sedang mengambil uang wesel dari anaknya di Malaysia.” Warsito menyalakan rokoknya dengan santai dan dia berkata lagi, “Katanya mereka berasal dari Semarang.”
     “Apalagi?”
     “Apa yang kau dapat?”
     “Tidak ada.”
     Warsito menatap Tigor Naipospos yang sikapnya begitu cuek dan seenaknya. “Bagaimana kau bisa masuk DIK?”
     “Pertanyaan macam apa pula itu.”
     “Aku hanya ingin lebih akrab denganmu.”
     “Bah. Aku tidak mau tidur sekamar denganmu kalau begitu.” 
     “Kita kembali sekarang.” Warsito menahan diri dan dia membanting rokoknya yang masih panjang.
     “Aku lapar.” Tigor Naipospos juga membanting rokoknya.
     “Ada rumah makan pinggir sawah tiga kilometer lagi, setelah pasar Mandiraja” jawab Warsito naik ke boncengan.
     “Aku ingin makan tempe mendoan di pasar Mandiraja saja,” kata Tigor Naipospos menyebutkan tempat ramai sekitar tiga kilometer lagi dari tempat mereka berada.
     “Yeah, lebih baik kita memang membaur.”
     Motor mereka melaju dengan kecepatan sedang. Mereka tahu mereka melawati mobil yang dibawa Parwata yang sedang parkir di pinggir jalan, di depan sebuah rumah bergaya kolonial.
     Parwata sudah bersama seorang lelaki berkacamata berumur enampuluh lima tahun bernama Purnomo. Lelaki itu hendak menjual rumah kolonial yang telah lama dimilikinya karena jarang ditempatinya. Purnomo mempunyai rumah pribadinya di perkampungan padat tidak jauh dari tempat itu. Rumah kolonial itu dibeli anak lelakinya yang bekerja di Payakumbuh, Sumatra Barat. Tetapi karena sudah dipastikan tidak bisa bertugas di Banjarnegara, anak lelakinya menyuruh Purnomo menjualnya saja.
     “Boleh tahu untuk apa Pak Parwata membeli rumah ini?”
     “Kantor cabang, Pak.”
     “Bergerak di bidang apa?”
     “Pertambangan.”
     “Yeah, Banjarnegara memang perlu digali potensi tambangnya. Saya yakin tidak kalah dengan daerah lain.” Purnomo nampak antusias sekali. “Dan rumah ini memang sangat cocok untuk di jadikan kantor daripada untuk bertempat tinggal. Seperti kantor pos yang tidak jauh dari sini. Tapi kalau untuk showroom kerajinan keramik, kurang lapang rumah ini. Siapa tahu nanti perusahaan bapak juga tertarik untuk berbisnis keramik.”
     Cerewet sekali lelaki ini, batin Parwata.
     “Jadi berapa pasnya harga rumah ini, Pak?”
     “Sudahlah, balik modal saja, seratus limabelas juta.”
     Murah sekali, pikir Parwata sambil mengeluarkan buku cek. “Bapak menerima cek?”
     “Cek?”
     “Oh lebih baik uang cash saja ya.” Parwata menyadari kesalahannya. “Sebentar, saya ambilkan di dalam mobil.”
     “Sebentar, Pak Parwata.”
     “Ya.”
     “Tapi benar rumah ini untuk dijadikan kantor kan?”
     “Maksud Bapak?”
     “Maaf sebelumnya, bukan bermaksud buruk sangka. Tapi akhir-akhir ini kita disarankan pihak berwenang untuk hati-hati menerima kedatangan orang asing. Takutnya mereka teroris yang sedang dicari Polisi, seperti yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Tengah.”
     Lelaki yang sangat behati-hati, pikir Parwata. “Saya pastikan, bukan untuk sarang teroris Pak.”
     Purnomo tertawa dan kembali berkata, “Kalau begitu, bagaimana kalau pembayarannya dilakukan dirumah saya saja, dibelakang rumah ini kok, hanya memutar saja. Sekalian Pak Parwata mencicipi masakan khas Banjarnegara.”
     “Apakah masakan khas Banjarnegara?”
     “Sayur lodeh.”
     Di Jakarta juga ada.
      
JAM duabelas lewat duapuluh menit, mereka sudah berkumpul dan sedang menikmati makan siang di sebuah rumah makan di sebelah selatan alun-alun kota. Yang paling rakus makan Tigor Naipospos. Tidak ada yang peduli dengan cara makan Tigor kecuali Warsito.
     “Apakah hawa sejuk kota ini membuat perutmu selalu kelaparan, Tigor?”
     “Lagi tidak enak badan aku.”
     “Buset, tidak enak badan saja rakus begitu, bagaimana kalau sehat,” kata Beny Reza menimpali. “Satu kuali kali habis.”
     “Kalian kalau masih kurang, tinggal panggil pelayan. Tidak usah usillah dengan cara makan orang lain.”
     Jun Maher tertawa.
     “Minuman ini yang disebut dawet ayu?” Tanya Parwata menoleh kepada Mustajab sambil memegang gelasnya dan meminumnya.
     “Dawet ayu adalah minuman khas Banjarnegara.”
     “Kenapa di gerobaknya gambarnya Semar, bukan seorang gadis ayu?” Saat mengeja Semar, lidah Batak Tigor sangat medok lafal e-nya, sehingga terdengar lucu.
     “Se-mar, Tigor. Bukan Semar,” ujar Warsito berusaha memberitahu tanpa merasa berdosa.
     “Lama-lama aku gantung kau di alun-alun sana, Warsito.”
     Semua tertawa. 
     “Siang ini kita lakukan latihan pengambilan target,” kata Jun Maher. “Nanti malam kita pindah di base camp. Mustajab, tugasmu memesan isi rumah.”
     “Sebelum jam delapanbelas, base camp sudah siap, Pak,” kata Mustajab yakin
     “Dimana kita akan melakukan latihan, Bos?” Tanya Warsito.
     “Di daerah PLTA Mrica. Berharap saja semoga turun hujan,” kata Jun Maher berharap sambil menoleh keluar.
     “Langit saja tidak ada tanda-tanda mendung.” Tigor Naipospos melihat juga ke arah luar. “Kalau hujan tidak turun, buat saja sesajen, Bos?”
“Kau terlalu sering nonton sinetron rupanya,” kata Beny Reza.
     “Tapi usul kau bagus juga,” sahut Jun Maher dan melihat jam tangannya. “Pak Parwata, tugasmu membayar tagihan.”
     Jun Maher langsung berdiri dan meninggalkan tempat itu diikuti yang lain.
     Saat mereka bergerak pindah dari hotel menuju base camp, hujan benar-benar turun. Di dalam mobil menuju lokasi latihan, Tigor Naipospos menatap Jun Maher dengan pandangan lain.
     “Kenapa kau menatapku begitu?” Jun Maher tahu yang dilakukan Tigor tanpa menoleh.
     “Darimana bos tahu akan turun hujan?”
     “Aku tidak tahu.”
     Dalam limabelas menit, mereka sudah melakukan simulasi latihan penyergapan di sebuah tanah lapang yang dijadikan tempat parkir oleh pengelola wisata dermaga PLTA Mrica. Selain sebagai pembangikit listrik, Bendungan  Panglima Besar Sudirman atau PLTA Mrica, di jadikan sebagai tempat rekreasi danau yang disukai pengunjung. Ada sebuah jalan aspal yang dijadikan jalan pintas oleh beberapa orang. Tapi saat hujan, tidak banyak yang memperhatikan apa yang mereka lakukan.
     Parwata yang usianya hampir sama dengan Abusono atau Sam, dijadikan peran pengganti. Sementara yang melakukan penyergapan adalah Tigor dibantu Warsito. Jun Maher didalam mobil menghitung waktu. Beny Reza dibelakang setirnya. Saat Tigor menyergap Parwata dengan membekap mulutnya dari belakang dan diseret ke arah mobil, kelihatan tidak lancar. Begitu sampai masuk ke dalam mobil, Jun Maher melihat penghitungan waktunya.
     “Masih terlalu lama. Kita harus melakukannya dalam duapuluh detik,” kata Jun Maher.
     “Saat tidak hujan, limabelas detik mudah sekali, Pak.”
     “Lakukan sekali lagi.”
     Ketiga lelaki itu kembali ke tengah lapangan.
       (bersambung)

Monday, February 28, 2011

SAM (5)


BAB 5

PANGKALAN udara Wirasaba adalah sebuah pangkalan kecil. Terletak di Kabupaten Purbalingga, persis berbatasan dengan Banjarnegara di sebelah barat. Tidak banyak aktifitas di pangkalan udara itu karena jarang sekali di gunakan.  Pada sekitar tahun 1988 Presiden Soeharto menggunakan lapangan udara itu saat meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Air Mrica yang dinamakan Bendungan Panglima Besar Soedirman. Setelah itu, tidak banyak pendaratan yang menyita perhatian masyarakat.
     Mustajab sudah melakukan standar operasi yang biasa ia lakukan. Dua mobil telah ia sewa dan telah di siapkan di pangkalan udara Wirasaba sejak sore hari. Ia juga sudah menyiapkan kamar hotel di pusat kota. Ia sengaja menyewa hotel di pusat kota untuk menghindari kecurigaan dari siapapun. Di daerah Abusono bertempat tinggal adalah daerah perkampungan, tidak ada penginapan, apalagi sebuah hotel. 
     Entah kenapa ia merasa kali ini tegang. Mungkin karena ia melakukan operasi di tanah kelahirannya. Bukan soal takut akan ada orang yang mengenalinya, tapi ia harus melakukan pekerjaannya sekarang dengan sempurna. Ia sedang menghadapi orang yang paling dicari dalam sejarah negeri ini. Kalau boleh memilih, ia lebih suka melakukan operasi menghadapi teroris seperti kelompok Jamaah Islamiyah. Mustajab tersentak ketika radio-nya berbunyi.
     “Serayu masuk-Serayu masuk, disini  Ciliwung.” terdengar suara Jun Maher di seberang sana dengan suara setengah berteriak karena berebut dengan kebisingan suara helkopter.
     “Disini Serayu-disini Serayu,” jawab Mustajab.
     “Apakah fajar siap muncul di ufuk dalam sepuluh menit?
     “Serayu siap menjemput, Pak,” jawab Mustajab singkat dan langsung menutup radio-nya.    
     Mustajab sudah didalam mobil di pangkalan udara Wirasaba sejak enam jam terakhir dan ia tidak pernah keluar dari sana. Ia terus membuka saluran radio agar mengetahui lalu lintas pembicaraan dari manapun. Setiap percakapan didengarnya dan ia ia akan mengetahui informasi apapun yang disekitar wilayahnya meskipun ada yang menggunakan kata sandi. Sejak siang hari ia juga sudah melakukan pembersihan di wilayah di sekitar pangkalan udara Wirasaba. Ia harus memastikan wilayah pangkalan udara itu terbebas dari unsur sabotase.
     Sepuluh menit kemudian sebuah helicopter Dinas Intelijen Khusus mendarat. Lima menit kemudian terbang kembali dan menghilang di kegelapan pagi yang menjelang. Lima lelaki berbadan besar dan masing-masing menggendong ransel menuju dua mobil yang sudah di parkir. Mustajab menatap Jun Maher dan memberi kode tertentu bahwa semuanya sudah disiapkannya. Tanpa bicara sepatah katapun, mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Mustajab membawa satu mobil yang dinaiki Parwata dan Warsito Abdul Khamid. Beny Reza membawa satu mobil lagi dengan Jun Maher dan Tigor Naipospos. Tidak sampai lima menit, kedua mobil itu menginggalkan pangkalan udara Wirasaba.
     Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Banjarnegara, Mustajab juga tidak membuka suara. Parwata langsung memejamkan matanya. Warsito Abdul Khamid menghitung jarak perjalanan yang ditempuhnya. Beny Reza membawa mobilnya sesantai mungkin dan merekam semua rambu lalu lintas didepannya. Jun Maher mempelajari jalur yang mereka lalui, menghitung setiap jalan simpang, jembatan dan belokan, serta menghafal setiap letak rumah, warung rokok, warung makan, pos polisi. Sementara Tigor Naipospos menikmati suasana.
     “Tempat sembunyi yang menyenangkan,” cetus Tigor Naipospos.
     Tak ada yang menimpali.
     Sunyi.
     Memasuki pusat kota Banjarnegara, Tigor Naipospos berseru kembali, “Aku hanya butuh limabelas menit sampai disini.”
     “Aku sanggup sepuluh menit dengan kecepatan seratus lima puluh kilometer perjam,” jawab Beny santai. 
     “Memangnya kita sedang mengikuti rally Paris Dakar,” kata Jun Maher menatap kedua orang itu tersenyum. Lalu turun dari mobil.
     Tanpa suara mereka juga langsung masuk ke dalam kamar hotel yang sudah disiapkan. Hanya Mustajab yang melakukan pembicaraan dengan pegawai hotel. Pegawai hotel mengantarkan sampai didepan kamar dan Mustajab memberikan uang tip supaya lekas pergi. Mustajab menyewakan tiga kamar. Seperti pengaturan masuk mobil, mereka masuk kamar hotel begitu saja. Jun Maher satu kamar dengan Mustajab. Lima menit kemudian, Beny Reza, Tigor Naipospos, Parwata dan Warsito Abdul Khamid menuju kamar Jun Maher tanpa menimbulkan suara langkah kaki.
     Mustajab sudah membentangkan kertas blue print lokasi rumah Abusono alias Sam. Catatan jarak yang ditempuh dan waktu yang dibutuhkan. Jun Maher sudah mempelajarinya begitu masuk kamar. Begitu semua agent berkumpul didepannya, ia segera melakukan tugasnya.
     “Target kita bertempat tinggal di sebuah desa bernama Purworejo Klampok. Kita sudah melewatinya tadi.” Jun Maher mulai sangat serius. “Daerah sekitar target tinggal adalah daerah terbuka. Jadi kita butuh base camp disekitar tempat tinggal target untuk memudahkan kita bergerak. Pak Parwata, jam duabelas siang sudah harus mendapatkan base camp berupa rumah kolonial di daerah sekitar target.”
     “Sebelum jam sebelas sudah saya dapatkan.” Parwata yakin sekali.
      “Warsito dan Tigor, lakukan pengintaian target dan sudah harus mendapatkan detail lingkungan tempat tinggal target.” Jun Maher lalu menoleh kepada Mustajab. “Selanjutnya, kita akan mendengarkan paparan Mustajab.”
     “Target kita tidak pernah keluar rumah. Tetangga pasif dan kondisi lingkungan aman diatas jam duapuluh satu. Dua hari lagi target pergi ke Purwokerto dan di jadwalkan pulang dengan bis jurusan Semarang jam duapuluh  dan sampai di pinggir jalan sekitar jam duapuluh satu lewat sepuluh menit Waktu Indonesia bagian Barat. Jarak pinggir jalan raya ke rumah target lima menit lebih lima detik.” Mustajab menjelaskan dengan lancar. “Saat kepulangan target, saat paling baik buat kita bergerak dan mengambilnya.”
     “Kita matangkan rencana hari ini. Target kita ambil seperti petunjuk Mustajab.” Jun Maher melihat ke semua anak buahnya.  “Ada pertanyaan?”
     “Bagaimana dengan keluarganya?” Tanya Warsito
     “Kita ambil target tanpa diketahui mereka.”
     “Mereka akan lapor polisi.” Beny Reza berpendapat.
     “Kalau benar itu Sam, tidak mungkin mereka berani lapor Polisi,” sahut Tigor Naipospos.
     “Semua kemungkinan itu kita singkirkan,” kata Jun Maher. “Kita fokuskan kepada pengambilan target. Ada pertanyaan lagi?”
     Tidak ada pertanyaan lagi.
     “Motor sudah siap?”  Jun Maher menoleh kepada Mustajab.
     “Sudah siap, Pak,” jawab Mustajab memberikan kunci motor.
     “Tigor dan Warsito, ini waktunya kalian jalan-jalan.” Jun Maher memberi perintah dan menyodorkan kunci motor kepada Tigor Naipospos.
     Tanpa menjawab kedua lelaki itu keluar ruangan tanpa menimbulkan keributan.
     “Pak Parwata, silahkan ambil kunci mobil Mustajab untuk mengunjungi tetangga.”
     Tanpa menjawab, Parwata menerima kunci mobil dari Mustajab dan keluar ruangan juga.
     “Kita lihat keadaan kota, apa yang bisa kita lakukan.” kata Jun Maher kepada Mustajab dan Beny Reza sambil keluar kamar.
Keadaan kamar kembali sepi.    
     (bersambung)

Tuesday, February 22, 2011

SAM (4)

BAB 4



WAJAH Abusono dalam foto close up itu sudah didepan Jun Maher yang duduk diam menatap wajah tuanya. Wajah yang berkeriput dan air muka tua yang menyimpan banyak beban rahasia. Sinar matanya menyisakan harapan ingin hidup lebih lama.
Benarkah laki-laki ini Sam?
Kenapa ia muncul?
     Jun Maher membangun karir intelijennya dengan mempertaruhkan dirinya sendiri. Diatas usia kepala empat, ia belum juga beristri. Bukan karena begitu banyak kasus yang harus dikerjakannya tapi ia ingin total. Barangkali teman-temannya bisa bekerja sambil mendengar rengekan anak dan istrinya, ia tidak bisa. Hidup di dunia intelijen adalah hidup di dunia yang gelap, penuh prasangka buruk dan  penuh dengan beban rahasia yang seringkali busuk. Sesuatu yang harus selalu di pegangannya adalah ”jangan percaya pada siapa pun”.
     Sam adalah sebuah sejarah gelap masa lalu. Selama lebih dari empat puluh tahun, Gerakan 30 September 1965 tetap menjadi misteri bagi banyak sejarawan, justru karena sumber-sumber primernya sangat tidak bisa diandalkan. Sejarawan yang menulis tentang peristiwa gelap itu masih saling berdebat sendiri dengan banyak teori. Diluar sejarawan, banyak ilmuwan, wartawan, penulis lepas, bahkan ahli filsafat menuliskan peristiwa itu dalam tulisan di surat kabar dan bentuk buku. Lebih dari duapuluh judul buku sudah Jun Maher baca dan semua berkesimpulan dengan teori lebih dari satu. Tidak ada yang pasti dan semuanya saling berdebat sengit mempertahankan keyakinan teorinya. 
     Barangkali semua teori yang beredar benar. Terlalu banyak yang bermain pada saat terjadinya peristiwa Gerakan 30 September. Negeri ini terlalu sayang hanya diurus oleh orang-orang lokal yang tidak tahu bagaimana mengurus negeri dengan benar. Indonesia adalah kue raksasa yang setiap orang ingin mencicipi kelezatan rasanya sejak negeri ini belum menemukan namanya sendiri. Bahkan remah-remahnya banyak yang menginginkannya.
Suatu tim cerdas-cermat yang tangguh barangkali mampu menyingkap tabir gelap Gerakan 30 September tanpa dibebani pesan sponsor manapun. Karena menulis sejarah adalah urusan para professional, bukan urusan amatir. Di zaman apapun selalu bisa ditemukan hal-hal baik, lumayan, biasa, buruk ataupun biadab. Dan selalu ada pihak yang menarik keuntungan, berpesta di atas penderitaan orang. Di setiap penggalan sejarah selalu ada pengkhianat, pahlawan, oportunis dan penonton. Dalam setiap zaman berbagai sifat itu ada dalam semua sisi yang bertengkar. Sejarah tidak kenal ampun dan catatan sejarah tidak mungkin dihapus oleh siapapun dan oleh apapun.
     Jun Maher tidak peduli dengan teori sejarah manapun. Sekarang ia hanya menginginkan Sam. Orang itu sudah terlalu lama bersembunyi. Lelaki itu harus bicara, batinnya dengan berapi-api. Ia bukan untuk hendak membuat teori sendiri tapi untuk sebuah nilai yang barangkali masih berguna untuk bangsanya. Tiba-tiba Jun Maher merasa menjadi seseorang yang sok idealis, tapi ia sedang bekerja di tempat yang mempunyai tanggung jawab meluruskan sesuatu yang bengkok.  
     Telponnya berdering dan dengan cara seperti biasa, ia mengangkatnya, “Ya…”
     “Aku tunggu sekarang di kantor,” terdengar suara Umar Yusuf di seberang sana.
     “Baik, Pak.”
     Empat puluh menit kemudian, Jun Maher sudah disebuah ruangan khusus di kantornya. Ada enam orang laki-laki lain termasuk Umar Yusuf. Ia tahu mereka semua adalah agent seperti dirinya. Tidak satu orangpun yang dikenalnya.
     “Bapak-bapak, kenalkan Jun Maher, yang akan memimpin tim ini,” kata Umar Yusuf memperkenalkan. “Jun, yang duduk di sudut itu adalah Beny Reza, ahli navigasi.”
     Jun Maher mengangguk tanpa senyum kepada lelaki berumur tigapuluha lima tahun berkulit gelap itu. Badannya gempal dan raut mukanya persis orang Ambon. Beny Reza seperti sudah tahu pertanyaan di kepala Jun Maher saat menatapnya tajam.
     “Ayah saya Jawa dan Ibu saya Padang, tapi kakek asli Maluku,” Beny Reza berkata dengan nada tinggi. “Saya kira itu yang anda pikirkan.”
     Jun Maher terpaksa tersenyum.       
     “Itu Tigor Naipospos,” tunjuk Umar Yusuf ke arah lelaki Batak berbadan besar dengan wajah keras dan mata yang liar. 
     “Nama macam apa itu Jun Maher?” Tanya Tigor Naipospos tiba-tiba.
     “Yang jelas bukan nama orang Batak,” jawab Jun Maher.
     “Yang duduk pendiam itu Pak Parwata. Kebutuhan lapangan macam apa, dia sanggup menyediakannya dengan sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari broker rumah di Jakarta kalau kita membutuhkan base camp.”
     “Apa keahlianmu?” Tanya Jun Maher kepada Tigor Naipospos.
     “Apa saja yang kau minta,” jawabnya enteng. “Bahkan tengah malam kau butuh pentil pesawat, aku bisa bawakan sebelum matahari muncul.”
     Umar Yusuf tertawa terpingkal-pingkal.
     Seorang lelaki seumuran dirinya berdiri dan menyodorkan tangan minta bersalaman dengan Jun Maher sambil berkata, “Saya Warsito Abdul Khamid, lahir di Selo, Purwodadi, Jawa Tengah.”
     “Tempat asal Ki Ageng Selo?”
     “Beliau di namakan Ki Selo bukan karena lahir di Selo tapi bertempat tinggal di Selo sampai meninggalnya. Saya mengidolakan beliau yang lebih suka bertani daripada menerima tawaran Sultan Demak menjadi Panglima Perang. Bayangkan, jabatan sepenting itu ditolak. ”
     “Bah, seperti sedang belajar pelajaran sejarah saja,” sela Tigor Naipospos.
     “Kita berkumpul disini juga karena ada sejarah yang gelap,” Beny Reza berkata sengit.
     “Seperti muka kau itu.”
     Beny Reza malah tertawa.
     Umar Yusuf meraih remote dan sesaat kemudian muncul gambar wajah Abusono di layar. Kemudian dia berkata lantang, “Ini adalah Abusono. Tapi kita meyakini dia adalah Sam, kepala Biro Khusus Partai Komunis Indonesia yang menghilang setelah peristiwa Gerakan 30 September…”
     Semua menyimak dengan serius, tapi Tigor Naipospos menyela dengan cepat, “Sam Kamaruzzaman?”
     “Kita hanya menyebutnya Sam.”
     “Kenapa hanya Sam?” Beny Reza juga bertanya. “Kenapa tidak Samsul atau Samsir. Yang jelas tidak hanya Sam.” 
     “Karena hanya Sam.” Umar Yusuf lalu membcakan kertas yang dibawanya. “Sam alias Abusono lahir di Tuban, Jawa Timur. Tahun 1957 dia menjadi pembantu pribadi Dipa Nusantara Aidit dan tahun 1960 dia ditetapkan sebagai anggota Departemen Organisasi PKI. Empat tahun kemudian dia memperkenalkan bentuk pengoraganiasian yang berasal dari ABRI. Lahirlah kemudian yang disebut Biro Khusus Sentral.”
     Semua mendengarkan dengan serius.
     “Sam ibarat hantu yang menyusup kemana saja dia mau. Sehingga diyakini bahwa dia adalah agen ganda untuk PKI, CIA, MI6, KGB dan ABRI.”
     “Saya kira dia adalah spionase nomer satu di dunia.” Tigor Naipospos berkata dengan serius. “Bahkan saya yakin, Zulkifli Lubis yang dikatakan sebagai bapak intelijen kita saja sampai kalah.”
     “Sam ditangkap tanggal 9 Maret 1967 dan di adili di Mahmakah Militer Luar Biasa di Bandung setahun kemudian. Sam di vonis mati, tapi eksekusinya diragukan. Karena informasi yang diyakini, Sam dilepaskan dan berganti identitas. Meskipun pernah ada yang meyakini dia hidup di Perancis dan Belanda, tapi  kenyataan sekarang kita mendapatkan Sam berada di Banjarnegara, sebuah kota Kabupaten di wilayah Jawa Tengah.“
     Semua masih mendengarkan. 
“Dalam waktu Sembilanpuluh enam jam kalian akan menjemput orang ini dan di bawa ke Jakarta. Operasi ini dinamakan operasi Serayu.”
     “Maaf Bapak Direktur,” Tigor Naipospos memotong lagi. “Siapa yang meyakini kalau orang ini Sam?”
     “Dia memang diyakini Sam.”
     “Tidak mungkin selama ini tidak ada ada agent lapangan disana yang mengetahuinya,” sela Parwata yang dari tadi diam.
     “Dia dikenali oleh teman lama kita yang telah pensiun.” Umar Yusuf menoleh ke Tigor Naispospos. “Kenapa Tigor, kau takut?”
     “Tentu saja. Kalau benar orang ini Sam, CIA pasti juga menginginkannya,” kata Tigor sengit. “Mungkin KGB, MI6 juga akan turun.”
     “Saya tidak yakin CIA akan tertarik.” Kata Parwata. “Kasus ini sudah basi buat mereka dan kalaupun ada akibat yang akan ditimbulkan oleh munculnya Sam, mereka tidak bakal ambil pusing.”
     “Apa yang tidak diurusi CIA di dunia ini.”
     “Saya kira tidak perlu jadi paranoid.” Beny Reza berpendapat.
     “Kita taruhan saja kalau begitu,” tantang Tigor Naipospos.
     “Ini tugas negara Bung, bukan main lotere,” kata Warsito Abdul Khamid.
     “Sama saja bagiku. Negeri kita selama ini juga sedang dijadikan lotere oleh negara-negara yang merasa kaya dan kuat di seberang sana itu,” jawab Tigor sewot.  
     “Cukup, bapak-bapak,” Umar Yusuf berkata lagi, dengan nada yang sama. “Pukul duapuluhtiga nanti malam, kalian berangkat dari Halim.”
     “Memangnya Banjarnegara itu mempunyai lapangan udara?” Tanya Tigor lagi dengan nada mengejek.
     “Ada pangkalan udara bernama Wirasaba, tigapuluh kilometer barat kota Banjarnegara dan dua kilometer dari lokasi target,” jawab Jun Maher.
     “Kenapa tidak mendarat di Tunggul Wulung Cilacap, Pak?” Beny Reza menyela, “Saya kira itu jauh tidak menyita perhatian.”
     “Terlalu jauh dari lokasi target. Lagipula sebelum fajar, kalian sudah sampai. Semoga Tuhan melindungi kita semua. Selamat siang.” Umar Yusuf segera keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.
     Jun Maher berdiri dan berkata setelah melihat jam tangannya, “Kita masih punya waktu tujuh jam untuk persiapan. Beny Reza, kau sudah boleh ke Halim mempersiapkan diri.”
     “Baik, Bos.”
     Lalu mereka bubar.
 (bersambung)

Sunday, December 12, 2010

Sapardi Mempertanyakan Kebenaran


Sapardi Djoko Damono adalah sosok sastrawan Indonesia yang lengkap. Dia seorang penyair, pengamat sastra, dan pendidik yang tekun—bahkan sempat menjadi birokrat kampus. Lebih menarik lagi, hingga usianya yang ke-70 tahun, lelaki ini tetap aktif berkarya. Sebagai penyair, Sapardi lebih dikenal lewat puisi-puisi yang bercorak liris. Puisinya dianggap mewakili pengelolaan pikiran dan perasaan yang mendalam. Diksinya sederhana, tetapi tajam; rumit sekaligus halus. Hingga kini, karya-karya semacam itu terus lahir darinya. ”Saya terus menulis. Kalau tidak menulis, sepertinya ada sesuatu yang hilang. Praktis tiap hari saya di depan komputer, pokoknya tak-tuk, tak-tuk...,” katanya seraya memeragakan orang mengetik.

Kami ngobrol santai di rumahnya yang bersahaja di Kompleks Perumahan Dosen Universitas Indonesia (UI) di Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, pertengahan November lalu. Malam itu gerimis. Udara lembab dari Setu Gintung di belakang rumahnya sesekali menyelinap masuk lewat jendela. Seniman itu tampak segar dan bersemangat. Maklum saja, tak banyak sastrawan yang dikaruniai umur panjang dan tetap punya energi besar untuk berkarya. Dia sempat menjalani operasi katarak di matanya beberapa waktu lalu, tetapi kini sudah sembuh.

Setiap hari lelaki ini biasa bangun subuh. Setelah sarapan, kerap kali dengan masak sendiri, dia minum kopi. Kalau ada jadwal mengajar, seperti di UI atau Institut Kesenian Jakarta, dia segera berangkat ke kampus. Kalau tidak, dia kerap memilih tinggal di rumah. ”Saya membuat puisi, kadang menulis cerita, atau menerjemahkan teks sastra Inggris,” katanya. Sapardi menunjukkan puisi terakhirnya, Sajak dalam Sembilan Bagian, yang terbit di Kompas, pekan sebelumnya. Baginya, menulis adalah pekerjaan yang tak kenal pensiun.

Kapan pertama kali menulis puisi?

Saya pertama kali membuat puisi tahun 1957 saat umur saya 17 tahun. Tapi, puisi saya baru diterbitkan tahun 1958 di Majalah Mimbar Indonesia. Setelah itu sampai sekarang saya terus menulis puisi. Saat kuliah di Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta (tahun 1958-1964), saya berlatih sandiwara, menjadi sutradara, dan bergabung dengan kelompok WS Rendra. Kadang, saya juga menerjemahkan drama dari sastra Inggris.

Bagaimana proses kreatif selanjutnya?

Saya hijrah ke Jakarta tahun 1973 untuk menjadi redaktur Majalah Horison dan mengajar sastra di UI. Bagi saya, masa itu paling kreatif. Sastra Indonesia bangkit dengan banyak inovasi atau eksperimen. Buku kumpulan puisi saya pertama, duka-Mu Abadi, terbit tahun 1969. Sejak awal, bahasa saya memang sudah liris, penuh penghayatan perasaan.

Tahun 1974, terbit dua buku lagi, yaitu Mata Pisau dan Akuarium. Saya mengambil bentuk, yang oleh pengamat sastra asal Belanda, Prof A Teeuw, disebut ”belum ada namanya”. Puisi, tetapi mirip dongeng. Benda-benda menjadi hidup, seperti manusia. Sepuluh tahun kemudian, tahun 1984, baru terbit lagi Perahu Kertas. Karakter puisinya lebih dikendalikan, lebih halus, selain masuk juga hal-hal baru. Banyak imaji masa kanak-kanak. Tahun 1989, terbit buku Hujan Bulan Juni. Puisinya lebih rapi, menggunakan perlambangan, imaji, seperti hujan. Suasananya sendu, tenang.

Bagaimana kemudian puisi Anda dikenal sebagai puisi liris?

Banyak orang lebih menyukai puisi saya yang liris, seperti tentang hujan dan cinta. Beberapa puisi semacam itu kemudian terkenal, seperti Hujan Bulan Juni atau Aku Ingin. Puisi itu populer karena ada musikalisasi puisi. Banyak anak muda yang hanya kenal lagu itu. Bahkan, ada orang bikin undangan pernikahan yang memuat sajak itu dengan keterangan karya Kahlil Gibran. Puisi ini juga pernah dibaca artis sinetron di televisi, tanpa tahu siapa pengarangnya.

Sapardi menambahkan, sebenarnya puisinya beragam. Tahun 1998, misalnya, dia mengeluarkan buku puisi Arloji, kemudian Ayat-ayat Api (tahun 2000), Mata Jendela (2002), dan Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002). Sebagian puisi di dalamnya bernada protes sebagai respons terhadap suasana pergolakan sosial-politik saat itu, termasuk tentang pembunuhan buruh Marsinah atau pendudukan kantor PDI-P. Namun, yang lebih dikenal orang memang puisi-puisi cinta.

Pendidik

Sosok Sapardi juga lekat dengan dunia pendidikan. Begitu selesai kuliah di UGM tahun 1964, dia bekerja sebagai guru. Lelaki ini pernah menjadi guru Bahasa Inggris di Kursus B1 Saraswati, Solo, mengajar Bahasa Inggris di IKIP Madiun, kemudian di Jurusan Inggris Universitas Diponegoro, Semarang. Pindah ke Jakarta, dia lantas mengajar sastra di UI sejak tahun 1973. Ia kemudian dipercaya sebagai Dekan Fakultas Sastra UI tahun 1995-1999.

Bagaimana pengalaman Anda selama menjadi dekan?

Itu, kan, seperti arisan dan kebetulan saya yang dapat giliran. Begitu terpilih sebagai dekan, saya tak bisa menolak. Saya belajar manajemen agar bisa masuk dengan pas. Dengan sistem yang sudah jadi, saya fokus membuat gagasan. Kan, nanti ada pegawai-pegawai yang melaksanakannya. Saya pernah memimpin lembaga dari tingkat lebih rendah. Sebelumnya, saya menjadi pembantu dekan III dan pembantu dekan I. Pekerjaan sastrawan itu, kan, tidak setiap hari dan bisa dikerjakan secara sambilan. Beberapa sastrawan lain pernah menduduki jabatan, seperti Umar Khayam atau Budi Darma.

Sastra pop

Sapardi juga dikenal sebagai pengamat sastra. Beberapa esainya kemudian terbit, seperti Sosiologi Sastra; Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Novel Sastra Indonesia sebelum Perang (1979), Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1983), dan Bilang Begini, Maksudnya Begitu (1990). Sebagai pengamat, seniman ini bisa memetakan perkembangan sastra Indonesia secara lebih jernih karena dia sendiri menjadi bagian dan saksi sejarah sastra selama lebih dari 50 tahun. Teori sastra ditekuni lewat pendidikan akademis hingga tingkat doktoral dan kemudian menjadi guru besar bidang sastra di UI tahun 1994.

Bagaimana Anda melihat perkembangan sastra zaman sekarang?

Sastra berkembang cepat. Buku sastra diterbitkan di mana-mana. Ada kumpulan puisi, cerpen, atau novel. Apalagi sekarang ada media dunia maya di internet yang memungkinkan siapa saja menulis sastra, entah lewat blog, Facebook, Twitter, atau e-mail. Media ini luar biasa karena membuat sastra mudah tersebar ke mana-mana. Semua itu berpengaruh besar terhadap tumbuhnya minat baca dan menulis serta pengembangan bahasa.

Kualitasnya bagaimana?

Jumlah karya sastra banyak dan di antaranya ada yang bagus. Sebagian anak muda serius menguasai bahasa. Yang menarik, para pengarang itu tak terpaut hanya pada bahasa baku, tetapi bahasa sehari-hari, seperti bahasa gaul yang sangat luwes.

Bagaimana dengan sukses pasar novel Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi, misalnya?

Sastra itu bukan barang sakral. Semua orang bisa ambil bagian karena sastra milik kita semua. Dua novel itu termasuk sastra populer. Dalam arti, keduanya mengandung sesuatu yang disukai, pesannya jelas, mencoba untuk luruskan keadaan, dan mengusung kesimpulan jelas: yang benar harus diberi hadiah dan yang salah dihukum. Mungkin ada misi dakwah yang disampaikan secara gamblang. Di luar negeri, sastra populer juga diminati, seperti novel The Da Vinci Code karangan Dan Brown, Twilight karya Stephenie Meyer, atau Harry Potter karya JK Rowling. Karya-karya sastra pop belum tentu jelek dan karya sastra eksperimental juga belum tentu bagus. Itu perkara selera. Biarkan pembaca menilai. Iklimnya sekarang jauh lebih demokratis.

Bagaimana perkembangan sastra yang tidak populer?

Marak juga, tetapi tak banyak yang mengeroyok. Ada perkembangan baru, seperti dari karya Nukila Amal, Djoko Pinurbo, Linda Christanty, dan Ayu Utami. Namun, jangkauannya terbatas. Mungkin Saman karya Ayu Utami bisa jadi contoh sastra inovatif yang laku. Saya menyebutnya sebagai sastra inovatif karena berniat mempertanyakan norma umum, kebenaran. Penulis menyajikan masalah secara baru, mengungkapkan kompleksitasnya, dan mencoba mempertanyakan segala sesuatu, termasuk nilai yang disepakati bersama. Itu pula yang dilakukan Armijn Pane lewat novel Belenggu tahun 1940-an, Mochtar Lubis (Jalan Tak Ada Ujung, 1950-an), dan NH Dini (Pada Sebuah Kapal, tahun 1970-an). Mereka mempertanyakan nilai-nilai yang berkembang saat itu, entah soal rumah tangga, perjuangan, atau hubungan antarmanusia.

Nah, pada tahun 2000-an sekarang, beberapa pengarang berusaha mempertanyakan soal seksualitas, agama, hubungan perempuan-perempuan, dan atau membongkar nilai-nilai lain. Di sini, pembaca seperti diajak untuk ikut menulis, menciptakan dunia sendiri yang baru. Teks sastra hanya semacam godaan yang merangsang pemikiran.

Apa relevansi sastra bagi kehidupan sekarang?

Kebutuhan akan sastra itu naluriah. Tak mungkin orang hidup tanpa sastra. Orang tak bisa hidup tanpa dongeng, cerita, atau gosip. Manusia membutuhkan semua itu agar menjadi manusia. Sastra itu, kan, teks cerita yang tercetak dalam buku. Namun, sebenarnya dongeng itu juga bisa berbentuk audio visual, seperti film atau sinetron. Itu bentuk lain sastra. Bahkan, kitab suci agama juga diturunkan dalam bentuk dongeng, seperti kisah Adam dan Hawa. Dari dongeng itu, kita memperoleh nilai, mempertanyakan kebenaran, dan menolong kita untuk menemukan diri sendiri.

Kompas Cetak 12 desember 2010
Oleh Ilham Khoiri

Monday, December 6, 2010

Wiro dan Sindrom Kolonial




Kwik Ing Hoo meninggalkan dunia ini pada Minggu 28 November setelah mencapai usia 89 tahun. Para pelayat di rumah duka Dharma Agung, Teluk Buyung, Bekasi, pada hari itu kemungkinan besar hanya mengenalnya sebagai seorang Rahmat Junus, ayahanda Toni Junus, dan bukan ilustrator komik Wiro, Anak Rimba Indonesia, yang digubahnya bersama Lie Djoen Liem sebagai penulis teks, yang telah pindah ke Amerika Serikat. Padahal, Wiro adalah komik Indonesia yang monumental. Ada selapis generasi di Indonesia, yang pada masa kecilnya di tahun ’50-’60-an begitu bangga berkalung katapel sembari berayun dari dahan ke dahan, tiada lain karena membaca Wiro.

Komik seri Wiro yang terbit dalam sepuluh jilid sejak tahun 1956 adalah komik Indonesia yang paling unik, paling terkenal, dan paling penting di antara para ”Tarzan lokal” karena keberhasilannya membumikan karakter Tarzan ke dalam sebuah konteks Indonesia. Dengan pengakuan terbuka di dalam naratif atas sumber inspirasinya, yakni komik dan film-film tentang Tarzan dari Amerika Serikat, Wiro bahkan seperti membalikkan sudut pandang ”meniru” itu dengan pembukaan: berbagai surat kabar ”di seluruh dunia”, seperti Herald, World Gazette, Saturday Post, dan Morning Post, memberitakan ditemukannya Wiro, yang film tentang dirinya itu, Wiro, The Jungle Boy, diputar di bioskop Rex, Luxor, ataupun Capitol.

Bioskop itu tentulah maksudnya berada di Amerika Serikat, dan film itu tentulah sebuah film dokumenter produksi The American Motion Picture Coy, hasil pekerjaan Dr Watson, yang bersama Miss Lana, seorang ahli serangga, melakukan perjalanan keluar-masuk rimba raya Indonesia. Mereka nyaris terbunuh ketika ditawan ”gerombolan orang-orang liar” di dalam hutan Sumatera Utara jika tidak diselamatkan Wiro, yang kemudian bergabung untuk menjelajahi rimba seperti cita-citanya. Ya, Wiro adalah seorang murid sekolah dasar yang kurang bagus prestasinya di kelas, tetapi akrab dengan binatang, hebat dalam olahraga, dan selalu membaca komik-komik Tarzan di bawah sinar lampu tempel sampai jauh malam.

”Mungkinkah aku berhadapan dengan Tarzan? Siapakah dikau adanya,” tanya Dr Watson ketika ikatan tangannya dibuka Wiro.

”Aku bukan Tarzan, tetapi …. Wiro anak Indonesia,” jawab Wiro dengan tenang.

Prasangka rasis dan eksotisisme

Berbeda dengan pendahulunya, Tarzan of the Apes karya Edgar-Rice Burroughs pada 1912 yang tidak luput dari prasangka rasis, bahwa orang kulit putih lebih superior dibandingkan dengan orang kulit hitam, maka keberadaan Wiro sebagai anak Indonesia yang menggantikan posisi Tarzan jelas mengubah oposisi tersebut, karena dalam perubahan dari wacana kolonial menuju wacana pascakolonial memang tampak berlangsung politik identitasnya sendiri dalam proses pelepasan ikatan dari sindrom kolonial.

Dalam proses, prasangka tidak langsung menghilang. Jika Tarzan adalah bayi manusia yang dirawat kera, maka Wiro meninggalkan rumah dan masuk hutan setelah mengalami tindak kekerasan dari ayah tirinya. Melalui pengembaraannya di dalam hutan, para penggubah komik ini berpeluang menampilkan segenap fauna dengan semangat majalah National Geographic (meski terdapatnya badak di Papua tentu menimbulkan tanda tanya), yakni memperkenalkannya sebagai bagian dari keindahan alam ataupun hukum rimba, yang terpaksa dicampuri Wiro ketika mendapatkan sahabat-sahabatnya: Tesar, harimau yang terjebak akar; Kongga, induk orangutan yang anaknya diselamatkan Wiro dari sambaran ular; dan Sambo, gajah sumatera yang ditolongnya setelah tertimpa batu besar. Adapun monyet kecil Kala, didapatkan Wiro pertama kali sebelum masuk hutan, karena memang dijual di pasar. Demikianlah Wiro menjadi komik Tarzan yang Indonesia sentris.

Dalam jenis ilustrasi naratif alias komik tanpa balon, teks dan gambar tampak cocok, seperti ada kerja sama yang saling menanggapi, sehingga bagaikan tiada bagian gambar yang tidak dijelaskan. Segala kewajaran yang membuat pembacaan tidak terganggu, menunjukkan keterampilan tinggi yang tidak begitu mudah ditandingi, yang tentu juga menunjuk kepada tingkat keahlian Kwik Ing Hoo sebagai ilustrator yang tidak dapat pula diingkari. Namun, justru terhadap ”kewajaran” sebagai wacana, pendekatan realisme yang meyakinkan sebagai ”kenyataan” ini, harus dilakukan sikap kritis.

Posisi Dr Watson dan Miss Lana, misalnya, jelas tetap teracu kepada wacana kolonial, dalam oposisi biner klasik bahwa kulit putih superior dan dalam Wiro ini ”pribumi” tetap inferior; seperti ditunjukkan dalam berbagai bentuk: teknologi kamera, buku-buku ilmu pengetahuan, arsenal senapan dan tank, para portir yang mirip ”jongos” (selalu berpeci), dan apalagi penggambaran suku-suku di pedalaman ataupun di pantai, yang lebih teracu kepada eksotisisme dalam komik dan film Tarzan dari Hollywood daripada suku-suku di pedalaman Indonesia itu sendiri.

Apabila kemudian rombongan ini lantas ”membasmi” sisa serdadu Jepang di Papua, semakin jelas dalam wacana pascakolonial ini pun posisi superior kulit putih tidak tergoyahkan. Masalahnya, bagaimana dengan posisi Wiro sebagai protagonis? Tidakkah Wiro bisa dianggap berada dalam posisi yang tidak lagi inferior berhadapan Dr Watson dan Miss Lana? Sejumlah kajian di lingkungan akademik tentang komik Wiro, berdasarkan penanda bahwa Wiro makan daging babi hutan, membagikan dan menjualnya kepada penduduk kampung yang tidak menolaknya, dan ketika melewati kota selalu terlihat pula arsitektur bangunan kelompok etnik Tionghoa, menyatakan bahwa Wiro berasal dari kelompok etnik tersebut.

Namun, pembuktian semacam itu belum cukup karena rumah dan kampung halaman Wiro sendiri tidak memperlihatkan penanda yang terarah ke sana. Betapa pun, karena Wiro pasti juga bukan bagian dari suku-suku pedalaman atau pantai, mungkinkah karena itu sahih sebagai representasi karakter Indonesia? Pada tahun 1956, baru 11 tahun dari proklamasi 1945, dari para penggubah berlatar etnik Tionghoa, sebuah proyek identitas setelah runtuhnya bentuk tradisional atas identitas akibat modernitas, setidaknya telah menyumbangkan salah satu sumber alternatif bagi konstruksi identitas kebangsaan Indonesia.

SENO GUMIRA AJIDARMA,Wartawan
KOMPAS, MInggu 5 Desember 2010