Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Sunday, April 10, 2011

KISAH 13 PEMBUNUH


inilah film yang merupakan karya penyutradaraan terbaru Takashi Miike; sineas Jepang yang tingkat kepopulerannya di kalangan insan perfilman sudah sangat mendunia. Sineas asal negeri matahari terbit ini sangat terkenal dengan karya penyutradaraannya yang kontroversial karena kecenderungannya untuk menyajikan adegan kekerasan maupun muatan seksual yang ekstrim dan mengejutkan, meski ia juga sudah terbukti piawai menggarapfilm-film yang ‘ramah dan aman dikonsumsi’. Kali ini Miike mengadaptasi ulang film lawas berjudul sama yang dulu diproduksi di tahun 1963.

Pada masa menjelang akhir periode Edo di Jepang, seorang pejabat dari wilayah Akashi; Tosho Mamiya (Uchino) melakukan aksi bunuh diri di depan gerbang Roju bernama Lord Doi (Hira). Seraya melakukan aksinya, Mamiya sempat menuduh penguasa wilayah Akashi; Naritsugu Matsudaira (Inagaki) melakukan tindak kejahatan seperti pembunuhan dan pemerkosaan.

Adapun, Matsudaira sendiri; yang berstatus sebagai adik kandung Shogun bernama Ieyoshi, akan bergelar Roju pada tahun berikutnya. Klan Shogun yang mendengar peristiwa itu merasa terusik dengan kasus itu dan yakin bahwa pemimpin Akashi itu merupakan ancaman serius bagi stabilitas dan kedamaian negeri. Lord Doi kemudian memutuskan untuk melakukan aksi pembunuhan terhadap Matsudaira dengan mengutus seorang samurai; Shinzaemon Shimada (Yakusho) sebagai pengemban mandatnya.

Untuk mensukseskan misinya, Shimada mengumpulkan 11 orang pria, termasuk di antaranya keponakannya sendiri; Shinrokuro Shimada (Yamada) yang sangat menggemari berjudi, alkoholik, dan main perempuan.Rencana pembunuhan itu sampai juga ke telinga kepala samurai kubu Matsudaira; Hanbei Onigashira (Ichimura), yang bertahun-tahun lalu berguru ilmu pedang bersama-sama dengan Shinrokuro, namun perbedaan ideologi antara keduanya, memutus tali pertemanan mereka.

Shinzaemon percaya bahwa peluang terbaik untuk menghabisi Matsudaira ada dengan melakukan serangan mendadak di kota Ochlai, kala sang target kembali dari Edo. Dalam proses menjalankan rencana ini ke-12 samurai ini berjumpa dengan Koyata Saga (Iseya) yang kemudian bergabung menjadi anggota ke-13 mereka.

Saat datangnya melancarkan misi, di luar dugaan mereka, pihak lawan ternyata sudah menyiapkan pasukan samurai beranggotakan lebih dari 200 orang Pertempuran berdarah tak lagi bisa dihindarkan. Karya penyutradaraan Miike ini jalinan kisahnya agaknya bisa membuat para insan perfilman maupun publik sedikit banyak akan teringat pada salah satu karya masterpiece Akira Kurosawa yang berjudul THE SEVENTH SAMURAI. Sebagai informasi di film yang disarati nama-nama kondang dunia perfilman Jepang masa kini ini berhasil menuai sambutan yang menggembirakan dari kalangan kritikus, ketika diputar dalam berbagai festival film internasional.

Starring : Mikijiro Hira, Goro Inagaki, Koji Yakusho, Tsuyoshi Ihara, Takayuki Yamada, Masachika Ichimura, Yusuke Iseya, Ikki Sawamura, Kazue Fukushi, Mitsuki Tanimura, Sousuke Takaoka, Arata Furuta
Directed by : Takashi Muke


TRAILER:

http://www.youtube.com/watch?v=e0xbHPE79kQ

Monday, February 28, 2011

Tema Penyakit dalam Film, Fakta atau Hiperbolik?


Kisah kepedihan, perjuangan, bahkan kematian dalam melawan penyakit menjadi salah satu tema yang banyak diangkat ke layar lebar. Sebut saja Tom Hanks dalam film Philadelphia yang melawan HIV/AIDS, Jack Nicholson's yang menderita obsessive-compulsive dalam As Good as It Gets, atau cerita tentang obesitas dalam Super Size Me. Akan tetapi, meski cerita tersebut berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya, bukan berarti film tersebut akurat, dari sisi medis. Itu sebabnya berkaitan dengan pemberian piala Oscar, kami sajikan uraian dari pakar kesehatan mengenai film-film yang bercerita tentang penyakit.

Diabetes tipe 1

Judul film: Steel Magnolias (1989) Film ini bercerita mengenai penderita diabetes tipe 1 yang diperankan Julia Roberts, yang hamil di luar rencana. Meski tim dokter menyarankan untuk mengakhiri kehamilannya, ia kekeuh mempertahankan bayinya dan harus membayarnya dengan nyawa karena ginjalnya gagal berfungsi.

Dari sisi medis, film ini dinilai "sangat, sangat jauh dari kenyataan," kata Richard Hellman, MD, ahli endokrin. "Banyak wanita yang menderita diabetes jadi takut untuk hamil setelah menyaksikan film ini karena mereka takut mati. Kenyataannya, meski perlu pengawasan ketat dari dokter, tapi penderita diabetes tetap boleh hamil dan melahirkan.

Serangan jantung

Judul film: Something's Gotta Give (2003) Seorang pria paruh baya yang punya selusin pacar, Harry Saborn (Jack Nicholson) diceritakan terkena serangan jantung saat sedang melakukan foreplay dengan pacarnya yang berusia 20-an. Di rumah sakit, dokter (Keanu Reeves) memberikan ia obat IV nitroglycerin. Si dokter lalu mengatakan bahwa obat tersebut akan berakibat fatal jika pasien sedang mengonsumsi viagra.

"Ada sedikit kebenaran dalam cerita tersebut. Kebanyakan kasus serangan jantung terjadi karena aktivitas fisik yang berat, termasuk hubungan seks," kata Matthew Sorrentino, ahli kardiologis dari University of Chicago Medical Center.

Gangguan tidur

Judul film: Insomnia (2002) Al Pacino berperan sebagai seorang detektif yang datang ke Alaska untuk menyelidiki kasus pembunuhan. Perasaan bersalah yang menderanya dan cuaca yang aneh, matahari bersinar terang di tengah malam, menghasilkan insomnia parah. "Cara Pacino menggambarkan penderitaan seorang penderita insomnia berat hampir mendekati akurat," kata David M.Rapoport, direktur program gangguan tidur dari NYU School of Medicine. Kombinasi antara tekanan di tempat kerja dengan lingkungan yang bisa mengganggu tidur disebutkan memang menyebabkan gejala-gejala seperti yang dialami Al Pacino.

Kanker

Judul film: Terms of Endearment Pada tahun 1983 film ini membawa pulang lima Piala Oscar, termasuk untuk kategori film terbaik, aktris terbaik dan aktor pendukung terbaik. Film yang menguras air mata ini berkisah tentang hubungan ibu dan anak perempuannya yang menderita kanker. Film ini dinilai mendekati kenyataan, terutama ketika menggambarkan pentingnya manajemen rasa sakit untuk pasien kanker di stadium akhir.

Diabetes

Judul film: Chocolat (2000) Di sebuah perkampungan di Perancis, hadir sebuah toko kecil yang menjual cokelat yang memiliki rasa ajaib. Hal yang menggiurkan namun berbahaya bagi penderita diabetes karena Judi Dench yang memerankan diabetesi meninggal setelah mengonsumsi terlalu banyak cokelat.

Menurut dr.Hellman, film ini memberi pesan bagi para diabetesi untuk tidak sembarangan mengonsumsi makanan seperti halnya orang sehat. "Tapi dampaknya sebenarnya berbeda dari kenyataan. Menderita diabetes bukan berarti Anda harus jadi pertapa yang pantang semua hal. Yang penting adalah menjaga asupan makanan agar gula darah terkendali," katanya.

Kelebihan berat badan

Judul film: Super Size Me (2004) Bila adegan penambahan berat badan di dalam film ini tampak begitu nyata, itu karena memang demikianlah faktanya. Menggunakan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan, pembuat film dokumenter Morgan Spurlock mencoba mengetahui apa yang terjadi jika seseorang makan di restoran cepat saji tiga kali sehari selama sebulan penuh. Perubahan fisik yang dialaminya sangat dramatis. Asupan kalori, karbohidrat dan lemak jenuh telah menaikkan kadar kolesterol dari 160 menjadi 230, dan berat badannya naik 11 kg dalam kurun waktu sebulan. Ia juga menderita gangguan liver dan gangguan mood.


Sumber :  KOMPAS

Sunday, August 9, 2009

ANTARA MERANTAU, ONG BAK dan TOM YUM GOONG


Hari-hari belakangan ini, yang di mulai tanggal 6 Agustus 2009, film MERANTAU di tayangkan di jaringan bioskop Cineplex 21. Ini film Indonesia asli, dengan latar belakang budaya Indonesia, pemain juga orang Indonesia, Produsernya orang Indonesia, tapi penulis dan sutradara asal Inggris. Film ini bukan cuma soal Indonesia tapi mengangkat hal yang lebih spesifik, yaitu Pencak Silat, beladiri asli Indonesia. Dari sejak film ini mulai di produksi, saya menunggu untuk menontonnya.

Di antara film-film Indonesia yang nyaris semua mengambil setting horror, MERANTAU mampu sebagai film yang layak di apresiasi. Hilangkan dulu factor penulis dan sutradaranya yang bukan orang Indonesia. Tapi bahwa film ini merupakan film dengan laga Pencak Silat pertama saat ini yang menjadi lain. Mungkin tidak ada pembuat film Indonesia saat ini yang memikirkan tema ini. Ini menyangkut soal selera dan juga gengsi. Sineas kita masih lebih bangga bikin film horror daripada membuat film Pencak Silat. Di samping karena selera penonton ‘menurut’ sineas kita masih membutuhkan film horror dan bukan film Pencak Silat.

Hal lain adalah biasanya film laga Indonesia tidak menggunakan tekhnik beladiri Pencak Silat tapi Kung Fu, Karate dan Tae Kwon Do. Hal ini lebih banyak karena factor instrukturnya adalah orang-orang dari Hongkong dan Cina. Faktor lainnya karena Produser Indonesia belum percaya dengan instruktur laga asli Indonesia, apalagi yang menguasai Pencak Silat. Jadilah film laga indonesia dengan cita rasa Jacki Chen. Hal ini bahkan sampai kepada sinema elektronik (sinetron) laga seperti Angling Darma dan jaka Tingkir.

Jauh Sebelum MERANTAU muncul, di Thailand muncul Film Ong Bak : The Thai Warrior tahun 2003 dan kemudian Tom Yum Goong tahun 2005. Ada kesamaan ketiga film ini, yaitu sama-sama film laga. Kalau Ong Bak dan Tom Yum Goong kental sekali dengan beladiri Thailand dan cerita yang sangat local Thailand. Saya tidak tahu apakah penulis dan sutradara film MERANTAU begitu terinspirasi kedua film Thailand tersebut. Tapi ada beberapa kesamaan elemen cerita MERANTAU dengan kedua film thailand yang lebih dulu muncul.

Di mulai dari karakter tokoh-tokohnya. Tokoh utama adalah seorang jago beladiri dan berasal dari ‘kampung’. Musuh Utama orang asing atau setidaknya ada hubungannya dengan bisnis orang asing. Tokoh Utama perempuannya adalah wanita dengan profesi dalam dunia hiburan.

Dalam Ong Bak, tokoh utama perempuannya tidak begitu ditonjolkan karena ada dua wanita kakak beradik dan salah satunya terlibat dalam jaringan narkotika. Sedangkan dalam Tom Yum Goong, tokoh utama wanitanya juga tidak begitu di tonjolkan perannya kecuali sebagai seorang penghibur orang-orang penting dan kaya dan menjadi saksi pembunuhan. Kedua wanita dalam film Thailand tersebut tidak mempunyai hubungan spesial dengan tokoh utama laki-lakinya. Dalam film MERANTAU, tokoh Astri adalah penari klub yang kemudian dijadikan wanita yang akan di perdagangkan keluar Indonesia. Tokoh Utama, Yudha, memang tidak terlibat begitu dalam dengan Astri dan menjalin hubungan serius, tapi keduanya kelihatan mempunyai ikatan emosional. Cerita di bangun keduanya harus selalu bertemu dalam keadaan yang berbahaya terus menerus. Tapi begitulah sifat film laga, tokoh wanitanya, secantik apapun, hanya menjadi pemanis. Karena yang utama adalah berantemnya.

Yang berbeda dari MERANTAU dengan dua film Thailand diatas adalah endingnya. Sebagaimana film-film Hollywood yang selalu happy ending, begitulah dua film Thailand, sang tokoh utama mampu mengatasi halangannya dan pulang kampung dengan membawa kemenangan mutlak. Tapi akhir/ending MERANTAU memilih unhappy ending. Meskipun Yudha berhasil menyelematkan Astri tapi Yudha harus mati. Sebagai sebuah pilihan, barangkali ending seperti ini jauh lebih berkesan di hati penonton daripada misalnya Astri berhasil diselamatkan Yudha dan pulang ke Padang terus kawin dan memetik buah tomat bersama. Happy sekali. Ideal dan impian setiap orang dan Hollywood sekali.

Tapi MERANTAU memilih unhappy ending. Apakah ini sebuah pilihan bisnis atau idealis para pembuat MERANTAU? Ataukah memang realitas orang Indonesia di mata Penulis dan Sutradara Inggris tersebut?

Tuesday, July 28, 2009

1998 (3)

BAB EMPAT



Ruangan senat Unversitas itu penuh kesibukan. Seperti sebuah kantor surat kabar yang sedang  dikejar tenggat waktu. Di sudut ruangan mesin foto copy terus berjalan menyalin tulisan-tulisan yang harus disebarkan. Pesawat televisi di sudut lain terus menerus memberitakan tentang insiden yang terjadi di halaman Universitas. Mesin pembuat kopi terus bekerja karena setiap orang merasa harus terus terjaga. Makanan instant digunakan untuk mengganjal perut karena merasa sedang dalam keadaan darurat. Nasi telah menjadi makanan paling berharga bagi mereka. Bukan soal harga atau kesulitan mendapatkan nasi yang bagus, tapi lebih karena tidak mempunyai waktu. Mereka harus terus bergerak dan hal itu tidak bisa dilakukannya sambil menggenggam nasi.
Bentrokan aparat keamanan dengan para mahasiswa telah memunculkan hubungan yang menegangkan. Para mahasiswa dan aparat keamanan telah berhadapan sebagai musuh dalam arti yang sesungguhnya. Gerakan demonstrasi mahasiswa baru dimulai, dan tinggal menunggu berapa banyak lagi insiden bentrokan akan terjadi kembali. Sejak kelahirannya, demonstrasi mahasiswa selalu berujung dengan kekerasan sebelum kemudian mendapatkan kemenangan. Seolah menjadi syarat mutlak bahwa korban harus selalu ada setiap kali mahasiswa melakukan demonstrasi. Jer basuki mawa bea. Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Toh itu tidak membuat semangat mahasiswa patah di jalan. Mahasiswa selalu berdarah muda. Tabiat orang muda adalah selalu dirangsang oleh keinginan yang meledak-ledak dan akan berhenti kalau berhasil mendapatkannya.   
Fajar Sidik dan Jarot, temannya, duduk di belakang meja persegi panjang, dengan wajah yang masih diliputi ketegangan. Jarot adalah pemuda yang lebih pantas disebut pemikir dengan kacamata tebal menempel didepan matanya. Tapi seperti halnya teman-temannya, ia lebih suka berteriak untuk menuntut perubahan. Mungkin lebih tepat untuk perubahan dirinya menjadi orang yang bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik. Ia anak rantau yang tidak beruntung dengan kondisi keuangan keluarga. Maka bekerja paruh waktu menjadi pilihannya.
Inaya Prabandari datang membawa air mineral buat keduanya. Sejak  terjadi keributan di pintu gerbang Universitas, semua menjadi panik. Mereka diliputi ketakutan dan bayangan kekerasan yang ditunjukkan aparat keamanan. 
“Besok mungkin dua kali lipat jumlah aparat keamanannya.” Jarot berkata dengan geram.
“Biarkan saja. Itu kan memang tugas mereka,” sahut Fajar tidak peduli.
“Awal kejadiannya, ada intel yang ketahuan, terus digebukin.” Suara Inaya terdengar gemetar.
“Baguslah.”
“Mereka tidak pernah main-main!” bentak Inaya sengit. Fajar hanya tersenyum sambil mengelap lehernya yang berkeringat dingin.
”Kita juga serius, kadang malah harus overacting biar aparat yang menjagai kita itu tidak kecewa.”
“Sinting.”
“Sudah dari kemarin.”
“Aku tidak habis mengerti dengan negeri ini.” Jarot seperti sedang berduka sekali.
“Buat apa berusaha mengerti, karena begitu kamu mengerti akan sangat sakit hati.”
"Tapi rakyat harus diberitahu."
"Mereka sudah lebih tahu daripada kita."
Fajar keluar ruangan. Inaya mengikuti. Jarot hanya memandangi mereka. Jarot sempat iri dengan pasangan yang saling mengerti, seperti Fajar dan Inaya. Sayang sekali orangtua Inaya membuat hubungan mereka terancam berantakan. Jarot menyimpan belas kasihannya pada Fajar sejak ia tahu bahwa Nyonya Hartawan, melarang hubungan mereka berdua karena perbedaan kelas sosial. Jaman telah berubah,  tapi warisan feodal tidak pernah mati di kepala para orangtua.
Fajar sendiri bukan tidak merasakan perbedaan yang ditunjukkan Nyonya Hartawan, ibu Inaya sekaligus majikannya. Masalah terakhir inilah yang menjadi beban yang menyesakkan dadanya.  Ia bekerja sebagai sopir pada keluarga Hartawan, hanya meneruskan pekerjaan ayahnya yang meninggal dalam perampokan keluarga itu. Ayah dan Ibunya telah bekerja sejak ia masih kecil, bahkan mungkin sebelum ia lahir. Ia tidak pernah menganggap pekerjaan yang ia jalani bersama kedua orangtuanya  merendahkan martabat mereka sebagai manusia.  Kecuali pekerjaan yang dikategorikan tindakan kriminal, ia yakin semua pekerjaan sama. Perbedaan ada karena ada sebutan bagi masing-masing pekerjaan. Bagi sebagian orang, seorang direktur itu tinggi kedudukannya dan seorang pembantu rumah tangga itu rendah pekerjaannya. Dalam bekerja orang juga masih membutuhkan bandingan-bandingan. Dan Fajar merasa ia sedang melakukan pekerjaan yang ingin ditinggalkan semua orang.
Fajar mulai merasa bahwa ia menyukai Inaya ketika anak majikannya itu sering memintanya menjadi sopir pribadinya. Bukan hanya ke Universitas, tapi untuk semua tujuan yang dikehendaki Inaya. Ia tidak pernah berpikir sedang diperalat karena ia tetap menganggapnya sebagai pekerjaan. Tapi kemudian pandangannya mulai berubah ketika Inaya mulai mengajaknya makan berdua. Inaya juga mulai meminta menyetir mobil dan ia duduk menemaninya. Walaupun hal itu hanya terjadi di luar rumah, Fajar belum berani bicara bebas seperti layaknya dua orang teman akrab. Dalam kegiatan kampus, Inaya sering meminta bantuannya dan secara menyolok membawa Fajar kepada teman-temannya dan mengenalkannya sebagai teman istimewa. Cara kampanye Inaya itu membuat Fajar sadar bahwa ia tidak bisa berdiam diri. Ia juga tidak mau berpendapat bahwa Inaya lebih dulu yang menyukainya, karena sebagai laki-laki sebagaimana tradisi, ia yang harus pertamakali menyatakan perasaannya.
***
Di puncak gedung Universitas, malam hari semua terlihat jelas. Pemandangan kota yang bermandikan cahaya lampu seperti lukisan yang tidak ternilai harganya. Semuanya kelihatan indah dan menyenangkan. Halaman Universitas sudah sepi. Padahal siang hari tempat itu telah menjadi suatu tempat  ramai, yang membuat semangatnya menyala-nyala. Walaupun harus disertai ketegangan yang tidak diharapkan. Sesuatu yang besar akan segera terjadi, pikir Fajar. Ia harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi semua hal yang akan terjadi. Niatnya bulat bahwa ia akan mengikuti  demonstrasi. Ia tidak pernah melakukan pekerjaan besar, yang menuntut semua tenaga dan pikirannya. Kesempatan untuk itu telah datang dan ia suka melakukannya.
“Suka sekali duduk disini.” Inaya sudah duduk disampingnya.
“Jam berapa ini.”
“Itu tidak penting.” Inaya menyandarkan badannya dengan manja, sepertinya ingin sekali mendapat dekapan.
Ketegangan di kepala Fajar mencair melihat wajah Inaya yang begitu putih seperti wajah bidadari dalam lukisan. Cantik dan nampak menggodanya. Ia meraih tangan Inaya dan melihat jam tangannya, lalu merengkuhnya ke dalam dekapan. “Tanggal 14 Februari 1998, pukul duapuluh lewat duapuluh menit, hanya ada kau dan aku. Lima, empat, tiga, dua, satu…… sejak lima detik terakhir kau sepenuhnya milikku. Takkan ada yang bisa mengubah itu.”
“Selamat hari valentine.”
“Valentine?"
"Hari kasih sayang."
"Oh."
"Norak. Pura-pura nggak tahu."
"Apa bedanya sama hari-hari lain?."
"Udah norak, bego pula."
Mereka tertawa.
Lalu mereka berciuman.
Hanya itu, lalu mereka duduk merapatkan diri sambil melihat pemandangan kota.
“Kalau saja hidup terus seperti ini.” Inaya seperti putus asa.
“Makanya kita harus saling memberi.”
“Apa maksudmu?”
“Tidak ada yang tahu masa depan seperti apa. Kalau kita tidak memberi selagi bisa, maka kita tidak bisa lagi memberi. Jadi pertahankan itu.”
“Sepertinya aku pernah dengar kata-kata itu.”
“Tidak pernah.”
“Ya, aku pernah.” Inaya tertawa. ”Itu kata-kata iklan.”
“Iklan sabun? Itu kata-kataku sendiri.” Fajar berdiri untuk menghindari kejaran Inaya.
Inaya tahu persis, Fajar tidak mempunyai sensasi mengagumkan di kampus. Tidak istimewa betul di mata teman-temannya. Hanya dimatanya Fajar menjadi bintang. Soal laki-laki ganteng dan semua syarat laki-laki idaman, Universitas menyediakkannya dengan melimpah. Semua dapat hak sama kalau ia memilih. Tapi ia mesti berhitung dengan hatinya. Omong kosong perempuan memilih laki-laki tanpa pertimbangan tertentu. Di luar perhitungan wajah ganteng, ia jatuh cinta pada Fajar karena Fajar menyimpan daya tarik tersendiri. Ia bukan perempuan yang mudah menaruh perhatian kepada seorang laki-laki.
Fajar adalah laki-laki sejati, yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk kebahagiaan orang lain. Setelah ayahnya meninggal, ia telah menjadi kepala keluarga menggantikannya. Bukan hanya soal mencari kebutuhan materi, tapi mempertahankan sebuah keluarga agar tidak menjadi putus asa. Hidup tanpa seorang ayah terlalu berat di jalani. Dan Fajar mengambil alih tanggung jawab itu dengan keberanian yang mengagumkan.
“Jangan pandangi saya terus begitu. Saya tidak akan lari.” Fajar jengah melihat Inaya yang terus menatapnya tajam ditengah suasana kantin yang hiruk pikuk.
“Saya benar-benar takut kamu meninggalkan saya.”
“Kita sama-sama harus belajar tahu dirilah. Kita memang berbeda, Aya.”
“Kita harus menyatukan perbedaan itu.”
“Kita mungkin bisa, tapi tidak dengan orangtuamu, kan. Agaknya kita harus mulai berpikir kapan kita berpisah.”
Bukan hanya Inaya yang terkejut dengan pernyataan itu. Fajar sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba hal itu yang terpikir olehnya. Ia telah begitu toleransi untuk menerima ejekan dari Nyonya Hartawan. Tapi ia bukan orang yang bisa memberikan pipi kirinya setelah pipi kanannya ditampar. Pada saat-saat tertentu, ia bukan orang penyabar. Ia tidak menyalahkan siapa pun, termasuk dirinya yang mencintai Inaya. Ia hanya menyalurkan bakat alam laki-laki normal. Selebihnya adalah aturan manusia yang sama sekali tidak adil.  
“Kita selalu terjebak untuk bicara soal beginian.”
Inaya mengernyitkan dahi. “Kamu anggap persoalan ini sepele?”
“Bagi saya malah terlalu berat. Tapi maksud saya, biarlah itu menjadi persoalan yang harus kita bicarakan secara khusus. Bukan dalam kesempatan yang tidak menguntungkan kita berdua seperti saat ini. Saya hanya takut kita hanya akan menjadi kisah sedih.”
“Apa saya juga salah mencintai kamu?”
“Orangtua juga tidak salah memilihkan jodoh yang baik buat anaknya.”
“Kamu membela siapa sih sebenarnya?”
“Aku juga tidak tahu, Aya.”
Dalam hal tertentu, Fajar sering tidak tahu keputusan yang harus diambilnya, terutama kalau sudah berhadapan dengan Nyonya Hartawan. Pendapat dan hak pembelaannya tidak berlaku oleh karena dibatasi dengan pekerjaannya yang hanya seorang sopir. Bagi Nyonya Hartawan, seorang sopir tidak boleh membantah apa yang diperintahkan kepadanya.  Tapi bagi Inaya, Fajar bebas menentukan tujuan yang dikehendakinya ketika sedang berada di belakang kemudi. Seperti malam itu setelah semua urusan di kampus bisa ditinggalkan. Mereka berada dalam mobil di tengah kota. Inaya belum mau pulang walaupun jam menunjukkan pukul sepuluh. Tapi Fajar membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai di rumah Nyonya Hartawan.
Ia juga suka berlama-lama dengan Inaya, tapi ia sedang bekerja dan batas waktu pulang telah dilanggarnya. Inaya jelas akan membelanya tapi Fajar tidak bisa berdalih apapun kecuali menerima makian dan kata-kata kotor lainnya dari Nyonya Hartawan. Fajar membayangkan dirinya hidup pada jaman Belanda menjajah, dimana orang harus bekerja seperti binatang. Kalau baik akan dipuji dan kalau buruk akan dicaci maki dan dihukum cambuk. Tapi Fajar telah siap menerima segala akibatnya. Telinganya biasa memerah dan   dadanya biasa menahan amarah.
Kecepatan mobilnya ternyata belum seberapa ketika tiba-tiba sebuah mobil menabraknya dari belakang. Mereka tersentak ke depan dan Inaya berteriak panik. Fajar akan mengerem mobilnya ketika tabrakan kedua kali terjadi. Kalau mobil rem blong tidak akan seperti itu kejadiannya. Lagipula jalanan sepi dan mobil itu bisa mendahului dengan mudah. Tapi mobil itu menempel di belakang. Naluri Fajar sebagai sopir mencium sesuatu yang tidak beres. Maka kemudian ia melarikannya dengan lebih kencang.
"Mobil kita ditabrak, kenapa malah lari?" Inaya masih belum mengerti.
"Hardtop dibelakang sengaja menabrak kita."
Inaya menoleh ke belakang. Mobil tinggi itu memang sebuah jeep hardtop dan sedang mengikuti dengan garang dan berusaha menabrak kembali.
"Apa salah kita?" Inaya mulai histeris
"Pakai sabuk pengaman!" Fajar berteriak,sambil melirik kaca spion. Lalu berkata sendiri, "Kita lihat siapa yang punya jalan ini."
Sebagai sopir, Fajar sudah seharusnya hafal semua jalan di Jakarta. Bahkan untuk jalan pintas yang biasanya melewati perkampungan padat. Dengan caranya sendiri, ia melarikan mobilnya melewati jalan-jalan kecil yang berbelok dan sulit untuk diikuti kalau tidak dari jarak dekat. Mobil yang dibawanya adalah jenis mobil dalam kota yang mudah diajak rally dengan stabil. Sementara jeep hardtop adalah jenis mobil luar kota yang walaupun tenaganya lebih besar, tapi diatas aspal bagus justru besar risikonya untuk terguling.
Beberapa saat kemudian, Fajar berhasil membawa mobilnya lepas dari kejaran hardtop itu, lalu bersembunyi di kegelapan malam, menunggu ketegangannya berlalu. Inaya kelihatan ketakutan sekali.           
"Siapa mereka?"
"Orang yang menginginkan nyawa saya."
"Sok tahu."
"Kalau kamu yang diincar, tidak saat kita bersama."
"Apa ada hubungannya sama pidato-pidato kamu?"
"Bisa jadi." 
"Kita lapor polisi?"
"Kamu percaya polisi dalam saat-saat begini?" Fajar menjadi sinis. "Lebih baik cepat pulang. Kita sudah sangat terlambat. Lagipula saya belum tahu seberapa besar kerusakan mobil ini."
"Saya akan menyelesaikannya. Saya akan bilang sama Ibu, saya yang membawa mobil ini."
"Kamu akan ketahuan berbohong, Aya."
"Itu urusan nanti, kita harus cepat pergi dari disini."   
Fajar kemudian membawa mobil itu melewati jalan-jalan pintas yang melewati perkampungan penduduk. Dan itu memakan waktu lebih lama.
(bersambung)

Saturday, January 3, 2009

TEORI PENULISAN SKENARIO 1


Sebelum membahas lanjutan artikel sebelumnya, saya mesti beralih lebih dulu untuk membahas urutan penulisan scenario biar kelihatan lebih sistematis dan kelihatan serius. Biar dianggap lebih serius lagi maka disebut saja ini semacam teori penulisan scenario. Paling tidak ini pemahaman yang saya dapat. Dalam hal ini saya akan mengambil rujukan hasil kuliah penulisan scenario dengan pandungan diktat yang disusun oleh Misbah Yusa Biran yang menjadi acuan mata kuliah Penulisan Skenario dasar.

Dalam penulisan scenario ada tahapan yang harus dilakukan. Tahapan itu adalah:

1.Merumuskan Ide pokok dan tema
2.Membuat Basic story
3.Mengembangkan lewat Synopsis
4.Membuat Treatment
5.Membuat Skenario.

IDE POKOK
Merumuskan ide pokok merupakan pekerjaan utama untuk menyusun sebuah cerita yang utuh. Maka seperti pondasi, ide pokok benar-benar harus kuat untuk menopang cerita. Jadi apakah rapuhnya sebuah ide pokok berarti rapuhnya sebuah cerita?

Ide pokok muncul sebagai suatu gerakan personal dari keinginan intelektual seseorang untuk bicara. Pengalaman, pendidikan dan lingkungan adalah perangsang sebuah ide keluar. Tidak selalu sebuah cerita berangkat dari ide, tapi justru dari tema atau bahkan dari sebuah cerita global. Padaha secara structural atau urutannya, ide harus muncul lebih dulu sebelum tema. Ide dikemukakan untuk mengetahui apa yang hendak diketengahkan dari sebuah cerita. Sedangkan tema tinggal mengikuti ide pokoknya tentang subyeknya. Sebuah ide memang mempunyai kesulitan tersendiri untuk digali, karena ide mengandung suatu perenungan.

Ide pokok menjadi penting karena bobot film ditentukan bobot ide pokok dan bobot penyajiannya. Bobot ide pokok ditentukan oleh kedalaman pemikiran dan keluasan jangkauannya.Makin dalam pemikiran dan makin luas jangkaunnya,makin berbobot ide pokoknya. Ide pokok menjawab pertanyaan,film ini mau bicara apa. Ide pokok adalah pernyataan bahan renungan yang ingin disampaikan penulis skenario kepada penontonnya.Ide pokok dirumuskan dalam satu kalimat, misalnya: cinta tidak mengenal perbedaan kelas sosial.

Sedangkan tema harus mewujudkan ide pokok yang hendak disampaikan. Tema harus menjelaskan cerita yang ditulis tentang siapa dan bagaimana. Tema dijelaskan dalam satu kalimat, tentang siapa yang bagaimana. Misalnya,tentang seorang milyader yang jatuh cinta pada seorang pelacur (Pretty Woman)

Mempertanyakan sebuah tema berarti mempertanyakan makna sebuah karya. Jadi tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Teman merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan (dari buku Teori Pengkajian Fiksi-Burhan Nurgiyantoro)

Tema harus berkaitan erat dengan ide pokok, karena sebelum menetapkan tema, terlebih dulu harus merumuskan ide pokok cerita. Tema harus mewujudkan ide pokok yang mau disampaikan. Dalam satu kalimat, tema menjelaskan film tentang siapa (tokoh) yang bagaimana. Pada rumusan tema tersebut dimasukkan unsur karakter dan action.

Sebagai factor dasar pemersatu sebuah film, di atas segala-galanya harus diingat bahwa penentuan tema tidaklah sama dengan dampak penuh film itu sendiri. Tema hanya menjernihkan pandangan tentang sebuah karya menunggal, karena penilaian tema, sebagaian besar, merupakan penilaian yang sangat subyektif.

Menurut Joseph M. Boggs dalam bukunya Cara Menilai Sebuah Film, salah satu alat pengukur yang biasa diterapkan dalam penilaian tema adalah keuniversalannya. Yang menarik dari tema universal adalah karena ia berlaku sepanjang jaman. Jadi kesimpulannya buatlah tema yang paling diminati orang untuk menontonnya. Tidak harus yang factual karena kehidupan ini toh punya masa lalu yang menarik juga untuk diangkat sebagai sebuah tema cerita film. Tidak harus sebuah tema yang berat dan butuh mikir njelimet, tapi tema sederhana pun kalau kita mampu menemukannya, bakal menyita perhatian.

Tuesday, December 30, 2008

AYO BELAJAR FILM

 Resensi buku: DASAR-DASAR APRESIASI FILM
karya Marselli Sumarno -- Penerbit Grasindo 1996 –
Kompas 16 Maret 1997
Oleh Joko Supriyono

Kita harus menerima suatu asumsi yang agak sinis, bahwa penonton film kita masih  rendah tngkat apresiasinya. Film masih berhenti pada pemahaman sebagai entertainment, bukan sebagai sebuah karya seni. Kita masih memberi batasan, film itu bagus selama kita masih berada dalam gedung bioskop, tapi duapuluh empat jam kemudian kita sudah lupa sama sekali.

Padahal sebagai bentuk kesenian, media film sama dengan media artistic lainnya, karena film mempunyai sifat-sifat dasar dari media lain tersebut. Seperti halnya seni lukis atau seni pahat, film juga mempergunakan garis, warna,bentuk, volume, susunan dan massa. Jadi dilm sama berharganya dan sama tidak berharganya seperti drama,tari, pantomim atau puisi atau bentuk kesenian lain yang terlebih dahulu dianggap orang sebagai bentuk kesenian yang patut dihargai.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah kesanggupan megapresiasi film suatu kepandaian yang erlu dipelajari? Tanpa harus melewati pendidikan terlebih dahulu, seorang anak berumur tak lebih dari lima tahun dengan sedikit kepandaiannya, dapat ‘menangkap’ isi dasar sebuah film. Kesanggupan untuk dapat ‘menangkap’ dengan lebih mudah dibandingkan dengan ‘memahaminya’ dikarenakan media film begitu dekat dengan kenyataan.

Film mempunyai kesanggupan untuk memainkan waktu dan ruang, mengembangkan dan mempersingkatnya, menggerak majukan atau memundurkannya secara bebas. Dengan demikian sesungguhnya film adalah sebuah seni yang tinggi sekaligus menjadi seni yang paling penting di abad ini. Tapi ironisnya, kita tidak pernah mempertanyakan bagaimana sebuah film melewati prosesnya untuk menjadi produk film yang siap memberikan kepada kita segenap informasi, hiburan sekaligus pelajaran.

Buku Dasar-Dasar Apresiasi Film ini siap menjawab pertanyaan tersebut. Penulis buku tersebut –pengamat film dan dosen institut kesenian Jakarta—mengemukakan keprihatinannya (untuk menyebut alas an) bahwa kenyataan di negeri kita apresiasi film paling tertinggal dibandingkan apresiasi cabang-cabang kesenian lain. Kalimat itu juga yang dijadikan premis penting yang diajukan buku ini.

Ketika seni sastra, seni musik dan seni rupa diperkenalkan sejak bangku sekolah dasar, maka aparesiasi film menjadi pengecualian. Padahal apresiasi film –yang mengadung seni sastra, seni musik, dan seni rupa—paling baik ditanamkan sejak dini. Hal ini berangkat dari suatu kenyataan, anak-anak zaman sekarang yang belum mampu membaca menulis,, telah berhadapan dengan televisi yang menyajikan berbagai tayangan film (hal.IX).

Dengan dasar visi tersebut, maka buku ini boleh dibilang sebagai buku pertama yang memberikan pengetahuan kepada kita bagaimana membaca sebuah film. Sangat langka (untuk mengatakan tidak ada) buku yang secara khusus membicarakan apresiasi film. Maka Dasar-dasar Apresiasi Film menjadi buku perintis.

Untuk membedah pengetahunan tentang film beserta unsure-unsur didalamnya yang sangat ama kompleks, buku setebal 127 halaman ini kurang ideal (mengacu kepada juamlah halaman). Tapi untuk mengenal media yang bernama film yang ternyata sudah sangat kita akrabi ini, buku tepat sebagai pegangan. Kita diajak untuk mengetahui proses produksi film sebelum menjadi menjadi sebuah prototype kehidupan keseharian yang kita tonton di layar. Bagaimana film itu dibuat untuk bisa berbicara dengan kita, sekaligus bagaimana kita membaca film itu.

Untuk mengataka sempurna barangkali tidak, tapi bahwa buku ini bisa dibilang lengkap. Tidak saja karena sistematis, memuat daftar istilah, indeks, akan tetapi juga buku ini memberikan cara memakai buku ini. Dalam kata Pengantarnya, penulis memberikan sasaran pembaca buku ini terutama kepada para pelajar, guru dan mahasiswa. Dan buku ini agaknya telah berhasil merangkul segmen pembaca tersebut.

Sedikit sayang, layout buku ini terkesan ‘berdesak-desakan’.Selain itu gambar-gambar yang dimaksudkan sebagai shot (missal di hal. 61 dan 62) mestinya berbentuk persegi panjang dan bukan persegi empat. Hal ini sesuai dengan hasil proyeksi di layar putih yang berbentuk persegi panjang.

Adalah sebuah sumbangan besar, ketika dunia perfilman kita sedang mengalami ‘koma’, buku ini justru hadir sebagai pencerahan. Kita sudah terlalu sering mendengar adanya seminar, diskusi, forum, yang membicarakan perflman Indonesia yang sedang berada di titik nadir ini. Bicara memang penting, tapi yang lebih penting adalah berbuat sesuatu.

Membiarakan masalah perfilman tidak akan selesai dengan tuntas begitu saja. Film mempunyai bentuk mekanisme yang konstelasinya begitu rumit. Untuk mencapai bentuk deal, penangannya harus disertai dengan luasnya cakrawala tentang berbagai ujud kehidupan yang sangat beragam.

Kita boleh saja menunggu fajar perfilman besok pagi, tapi siapa tahu fajar itu tak pernah benar-benar terbit. Dan sekali lagi, buku ini barangkali bisa menjadi pencerahan, walaupun masih sangat awal.

(Joko Supriyono, mahasiswa tingkat akhir Institut Kesenian Jakarta)


Monday, December 29, 2008

mengkhayal-sampai-mati


Apalah arti sebuah nama. Jadi tidak penting benar untuk dicari jawabannya kenapa blog ini bernama seperti ini dan kenapa tidak bernama yang lain. Tapi tentu saja saya tidak bisa memberi nama blog ini dengan bidang pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan saya. Karena saya penulis (scenario), yang urusannya membuat cerita –baik berdasarkan kisah nyata atau benar-benar rekaan, otomatis saya butuh dan harus sering mengkhayal –sambil berpikir tentunya. Karena bidang pekerjaan ini sudah saya anggap serius, maka saya ingin melakukan pekerjaan ini sampai mati. Begitu kira-kira jawaban apa adanya.

Kadang masih ada keraguan juga, apakah menjadi penulis (scenario) di Indonesia bisa hidup layak? Standart hidup layak itu kata orang bisa punya rumah, bisa punya mobil –kalau bisa punya kebon yang luas sama empang buat pembibitan gurame. Tapi kita –terutama saya, sudah dilatih hidup prihatin sejak kecil. Bisa puasa senin kamis –kalau lagi mau. Perkara hidup susah sudah bukan barang baru. Saya kira setiap orang pernah merasakan hidup susah –meskipun mereka juga orang kaya yang duitnya sekarung-karung. Yang beda adalah tingkat kesusahannya itu dan jenis kesusahannya.

Orang biasa seperti saya jenis kesusahannya kadang tidak punya duit, otomatis tidak bisa makan. Jalan keluarnya ngutang. Orang kaya jenis kesusahannya buang duitnya buat beli apalagi. Rumah sudah punya dimana-dimana, dari pondok Indah sampai ujung berung, Mobil sudah penuh di garasi yang didisain seperti museum mobil, Apartement yang baru selalu beli. Apasaja bisa dibeli. Jadi betul juga kata Rhoma Irama, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Orangtua kita masih menganggap bahwa pekerjaan yang layak itu pegawai kantoran –kalau bisa pegawai negeri sipil karena bisa dapat pensiun. Tapi industri film Indonesia memang belum aman sekali untuk dijadikan lahan mencari nafkah. Sebentar mati sebentar hidup, Sebentar ilang sebentar muncul persis Kayak bisul. Padahal ini urusan perut. Anehnya lagi urusan perut masih terus bergantung pada pemerintah. Industri Hollywood maju bukan karena campur tangan pemerintah, tapi pemerintah memberikan kebebasan sehingga industrinya bisa mandiri. Kita negerinya lain. Soal tempe bongkrek saja diurusin pemerintah, apalagi urusan yang lebih gede.

Dalam buku Proses Kreatif II (Pamusuk Eneste) Pengarang Hamsad Rangkuti mengatakan bahwa ia adalah seorang pengelamun yang parah sejak kecil. Dia suka duduk berjam-jam di atas pohon membiarkan pikirannya terbang ke mana dia suka tanpa dia mengontrolnya dan dia merasa nikmat. Hamsad Rangkuti kecil juga suka menonton Ketoprak dan ludruk dan diapun mengenal cerita Jaka Tarub. Maka dalam khayalannya dia selanjutnya, dia naik ke puncak pohon dan mengintip gadis-gadis mandi di sungai.

Mengkhayal kadang kita butuhkan supaya kita mempunyai motivasi, supaya kita punya cita-cita. Soal kita tidak menjadi apa yang kita khayalkan, toh kita masih isa terus mengkhayal –sampai mati bahkan. Jadi urusan saya menulis ini cuma mengenalkan kenapa blog ini bernama ini dan bukan yang lain. Buat saya yang penting mudah diingat dan sedikit mengharu biru. Jadi mulailah mengkhayal dari sekarang. Merdeka!