Showing posts with label sinetron. Show all posts
Showing posts with label sinetron. Show all posts

Saturday, December 1, 2012

MAS KAREBET 4

 BAB 4



SUNGAI Karangsaga kelihatan seperti sungai pada umumnya. Tidak terlalu lebar tapi dalam. Warga pedukuhan harus membuat semacam jembatan dari bambu di pinggiran sungai untuk melakukan aktifitasnya. Sungai itu tenang dan tidak menjadi sesuatu yang menakutkan. Begitu juga bagi Karebet. Perjalanannya pulang masih jauh dan karena lelah, ia membasuh mukanya di sungai itu dan merendam kedua kakinya.
     Ia sudah lama termenung di pinggiran sungai itu. Sejak meninggalkan kaki gunung Andong di perbatasan pedukuhan Mangli, ia masih dihinggapi pertanyaan yang mendesak untuk segera di jawab. Ia tidak tahu sudah berapa lama berjalan. Ia bahkan tidak merasakan lapar. Ia hanya ingin cepat pulang sampai di rumah dan bertemu Ibunya. Surat yang diterimanya dari Sunan Kalijaga membuatnya semakin gelisah. Apalagi isi surat itu. Apakah benar begitu arti mimpinya. Bagaimana caranya Sunan Kalijaga mengetahui ia bermimpi apa. Bagaimana Sunan Kalijaga mengetahui ia akan bertanya soal arti mimpinya?
     Rasanya mau meledak isi kepalanya. Ia bisa membelah batu hanya dengan kepalan tangannya. Ia bisa melompati sungai didepannya ini meskipun jaraknya dua kali pohon kelapa panjangnya. Tapi untuk bisa mengerti dan memahami apa yang baru terjadi dengan dirinya, ia tidak bisa. Ia harus cepat pulang dan mengadukan semua itu kepada Ibunya.      
     “Hei, jangan main-main di pinggir sungai. Bahaya!”
     Terdengar bentakan keras dari arah belakang.
Karebet menoleh ke arah sumber suara. Di lihatnya seorang lelaki yang lebih tua lima tahun darinya dengan tombak panjang di tangannya berderi dengan sikap mau bertarung.
Karena Karebet belum juga beranjak, Tunggul berteriak sekali lagi dengan lebih galak. “Kamu mau mati di makan buaya?! Pergi dari situ!”
     Cepat sekali Karebet mengangkat kedua kakinya dan segera berdiri dan menjauh. Ternyata ia melihat banyak penduduk di belakang Tunggul. Rupanya akan ada suatu kejadian di sungai itu, dan berhubungan dengan buaya. Karebet lalu pergi menyelinap ke arah penduduk desa yang berkumpul di belakang Tunggul. Ia tidak mau terlibat dalam masalah yang tidak di mengertinya. Ia hanya ingin cepat pulang dan bertemu Ibunya. Tapi rasa penasarannya tetap saja membuatnya harus bertanya.
     “Ada kejadian apa, Pak?” Karebet bertanya kepada seorang lelaki setengah tua.
     “Buaya.”
     “Buaya?”
     “Sudah lima penduduk mati di makan buaya.” Laki-laki itu menoleh ke Karebet. “Kau bukan penduduk Karangsaga?”
     “Saya kebetulan lewat, mau pulang ke desa Tingkir.”
     “Kau tidak ingin ikut sayembara seperti pemuda itu?”
     “Sayembara?”
     “Siapa yang bisa membunuh buaya pemangsa itu, akan dikawinkan sama Roro Anteng, anak Ki Lurah Warno.”
     Seringkali dalam perjalanannya ke suatu tempat untuk bertapa, ia melalui  banyak sungai. Tidak pernah terjadi sesuatu. Tapi di pedukuhan Karangsaga ini ternyata menjadi lain. Ada buaya pemangsa dan ada sayembara dengan hadiah kawin. Kalaupun ia mengikuti sayembara itu, ia tidak pernah tahu wajah Roro Anteng. Dan melawan buaya? Ia pernah melihat buaya di sungai yang pernah dijumpainya. Sepertinya ganas sekali dan ia tidak pernah berpikir untuk membunuh buaya demi sebuah sayembara.
     Dari arah belakang penduduk berkerumun, muncul seorang lelaki menenteng seekor ayam yang masih hidup. Lalu diberikannya kepada Tunggul. Begitu ditangannya, Tunggul menggigit leher ayam itu sampai darah mengucur dari leher ayam. Dalam sekejab ayam itu dia lemparkan ke tengah sungai yang airnya tenang. Semua mata menatap tegang ke arah ayam yang sekarat diatas sungai. Air sungai menjadi merah tergenang darah ayam. Tidak lama airnya bergolak, lama kelamaan membesar sampai muncul kepala buaya yang sangat besar itu.
Tunggul langsung meloncat dengan tombak ditangan kananya ke tengah sungai. Gerakannya mirip orang terbang sehingga orang-orang yang melihatnya berdecak kagum.  Buat penduduk pedukuhan, itu sesuatu yang langka dan hampir tidak pernah mereka lihat. Mereka hanya terbiasa melihat prajurit Demak yang sering singgah di pedukuhan. Itu pun tidak pernah mereka melihat para prajurit itu bertarung atau memperlihatkan ilmu kanuragannya. Tapi melihat Tunggul adalah hiburan yang menakjubkan.
Tunggul langsung menghajar kepala buaya dengan tombaknya. Tapi kepala buaya sungai itu seperti batu. Tombak Tunggul tidak mampu menembus kulit buaya. Pemuda itu terlempar ke belakang karena benturan tombak dan kepala buaya yang keras. Saat masih mengatur gerakannya agar tidak kecebur ke air, buaya itu sudah balik menyerang Tunggul.
     Yang diharapkan Tunggul memang suatu perkelahian. Sebagai orang yang berasal dari lembah Serayu ia adalah orang yang mempunyai kehidupan yang keras. Sungai Serayu adalah sungai besar di kaki gunung Slamet. Daerah yang masih sangat perawan dan rawan. Kekuatan adalah hal paling utama yang harus di miliki supaya mampu menjadi orang yang di tindas. Tapi rupanya berkelahi di atas air sangat berbeda dengan di darat. Padahal Tunggul akrab dengan sungai Serayu yang jelas lebih bear dari sekadar sungai pedukuhan Karangsaga ini. Sudah banyak lawan tanding yang di kalahkannya. Sudah banyak musuh bertekuk lutut di bawah keperkasaannya. Apalagi dengan tombaknya yang tajam itu, ia menjadi lawan yang layak ditakuti. Tapi menghadapi buaya pemangsa dan besarnya lima kali lipat besar tubuhnya, membuat Tunggul tegang. Ia pikir buayanya tidak lebih besar dari tubuhnya.
     Untuk mundur, jelas tidak mungkin. Ia sudah terlanjur berjanji didepan Ki Lurah Warno dan didepan banyak penduduk. Harga dirinya jauh lebih dibelanya daripada ketakutannya menghadapi buaya sungai itu. Ia punya nama besar sebagai pendekar dan akan ia pertahankan meskipun ia merasa sedang melakukan bunuh diri menghadapi buaya itu.
     Karebet juga tidak menyangka buayanya begitu besar. Tapi perhatiannya lebih tertuju pada Tunggul yang sedang bertarung dengan buaya itu. Ia pernah bertarung, bahkan sering, meskipun ia bertarung untuk membantu orang lain. Sayangnya ia belum pernah bertarung dengan binatang, begitu juga melawan buaya. Apalagi buaya sebesar yang dilihatnya sekarang.
     Pada suatu kesempatan, tombak Tunggul berhasil melukai kulit buaya itu. Hanya kulit luar dan tidak bisa menembus ke dalam dagingnya. Tapi itu cukup membuat buaya itu semakin ganas menyerang Tunggul. Tidak lama buaya itu sudah berhasil membuat terluka bagian lengan kanan Tunggul. Darah membanjiri lengannya. Pemuda itu segera mengeluarkan ilmu kesaktiannya. Tubuhnya naik ke udara dan ia berteriak mengguntur sambil merentangkan kedua tangannya, menyerang ke arah buaya itu. Seperti serangan pertama dengan tombaknya, lagi-lagi pukulan itu seperti menghantam tembok tebal. Bahkan berbalik menghantam Tunggul. Pemuda itu jatuh ke dalam air dan buaya itu segera membuka mulutnya yang lebar dan bersiap memakannya.
     Pada saat yang sama, Karebet seperti didorong tubuhnya untuk melesat menuju tengah sungai. Karebet sadar sekali bahwa ia tidak mempunyai keberanian untuk melawan buaya sebesar itu. Di hitung dengan cara apapun, sulit mengalahkan buaya sungai itu. Ia hanya punya pengalaman bertarung melawan manusia. Tapi melihat Tunggul menjadi sasaran empuk buaya itu, ia tidak bisa terima. Pertamakali di hardik Tunggul, ia sempat menangkap sikap Tunggul yang angkuh. Untuk ukuran seorang pendekar tangguhpun, sikap itu pasti ada. Angkuh dan juga sikap sok jago diperlihatkan Tunggul karena ia sedang mempertahankan nama baiknya sebagai pendekar yang mengikuti sayembara.
     Karebet memutuskan untuk maju dan meluncur ke tengah sungai bukan untuk mempertahankan nama baik Tunggul, tapi nyawa lelaki yang tidak dikenalnya itu yang akan tercabut sia-sia oleh kebuasan seekor buaya sungai. Tetap saja gerakan Karebet jauh lebih lambat dari caplokan mulut buaya menghajar tengkorak kepala Tunggul. Karebet menggunakan kepalan tangannya untuk menghajar kepala buaya itu. Ia pikir pukulannya tidak berarti apa-apa untuk batok kepala buaya yang tebal itu. Tapi ternyata buaya itu menggelepar dan mulutnya terbuka lebar seperti menahan sakit yang luar biasa.
     Buaya itu benar-benar kesakitan.
     Ia memang mengerahkan seluruh tenaga di kepalan tangannya. Tapi ia tidak mendasarinya dengan tenaga dalam. Pikirannya hanya memukul dan menyelamatkan Tunggul. Ia sempat tidak yakin pukulan tangannya akan mampu membuat mulut buaya itu terbuka karena merasakan kesakitan. Dengan tombak dan pukulan jarak jauh Tunggul saja buaya itu tak bergeming. Ia yakin tombal Tunggul sebuah tombak yang ampuh dan ia yakin pukulan jarak jauh Tunggul sebuah ilmu pukulan yang hebat. Ia tahu lembah Serayu menyimpan segudang pendekar tangguh karena ia pernah mengembara ke wilayah barat di kaki gunung Slamet itu.       
     Buaya itu mengeluarkan suara lengkingan kesakitan.
Saat buaya itu membuka mulutnya itulah Karebet menarik tubuh Tunggul. Sebelum buaya itu menyerang kembali dengan kemarahan dua kali lipat, Karebet meluncur ke darat membawa tubuh Tunggul dengan gerakan yang sulit diikuti mata biasa. Ia mengerahkan kekuatan di kakinya supaya bisa berlari cepat. Ia ingin segera sampai di pinggiran sungai. 
Penduduk bengong karena tahu-tahu Karebet membopong Tunggul dan sudah berdiri didepan mereka. Para penduduk sedang tegang melihat pertarungan ditengah sungai dan melihat saat terakhir kematian Tunggul. Saat sadar Karebet didepan mereka membawa Tunggul yang terluka, mereka begitu kaget.
Gerakan Karebet seperti angin.
Mereka baru pernah melihatnya.
Saat masih belum percaya dengan kehebatan Karebet, mereka dikagetkan oleh sebagain penduduk yang mendadak berlarian menjauhi sungai dengan ketakutan. Karebet menoleh ke arah belakang. Hanya satu kedipan mata buaya itu sudah dibelakangnya dan menyerangnya. Karebet mengumpat dalam hati karena buaya itu begitu cepatnya mengejarnya ke darat. Nyaris tidak bisa dipercayainya.
Buaya itu berhenti, menatapnya dengan buas.
Penduduk sudah tunggang langgang bersembunyi.
Karebet masih membopong Tunggul yang bobot tubuhnya dua kali lipat bobot tubuhnya. Jelas ia akan kesulitan melawan buaya itu. Kalau ia geletakkan tubuh Tunggul, bisa jadi akan disantap buaya itu lagi. Tunggul pingsan karena luka dikepalanya sangat serius. Belum juga ia memutuskan, buaya itu sudah menyerangnya. Mau tidak mau Karebet harus melayani serangan buaya itu. Hanya saja gerakannya jadi lebih lambat karena terbebani Tunggul.
“Jauhkan buaya dari air!!” sebuah suara berteriak.
Entah siapa.
Mungkin penduduk.
Karebet menjadi sadar. Buaya adalah binatang air dan seperti ikan, untuk waktu yang cukup lama tidak menyentuh air, maka akan kehabisan tenaga dan akhirnya lemas dan mudah dikalahkan. Tapi perhitungan itu meleset. Buaya ini lain. Sepertinya tidak ada bedanya berada dalam air dan di darat. Serangannya tetap buas meskipun waktunya sudah cukup lama di darat. Bahkan Karebet yang mulai kehabisan tenaga sementara buaya itu semakin buas. Ia tidak bisa membiarkan pertarungan dengan buaya menguras tenaganya. Binatang bukan manusia yang punya akal. Naluri binatang hanya membunuh kalau berhadapan dengan lawannya. Jadi mau tidak mau Karebet harus mengambil keputusan.
Karebet mengikat tubuh Tunggul dengan selendang yang melilit di pingganya dan menggendongnya. Meskipun cukup berat tapi ia tidak bisa membiarkan tubuh Tunggul tergelatak dan disambar ekor buaya. Ia lalu menyalurkan semua tenaga ke dalam kepalan tangannya sambil membaca mantra yang dipelajarinya saat bertapa. Ia telah mempelajari pukulan Bajrageni, ilmu pukulan paling dasar yang pelajari para pendekar. Selama ini ia hanya mencobanya pada pohon asem atau mahoni.
Sesuai namanya, ilmu pukulan Bajrageni sifatnya membakar. Dalam arti mampu membakar seperti api, tapi juga membakar dari dalam. Ia tidak tahu apakah akan mampu menembus kekerasan batok kepala buaya sungai itu.
Begitu kepalan tangannya menghajar kepala buaya itu, akibatnya diluar dugaan. Buaya itu menggelepar kesakitan dan lari ke dalam air. Melihat musuhnya lari, Karebet tidak membiarkannya. Cepat sekali Tunggul di turunkannya dari gendongannya, ia memburu buaya ke tengah sungai dan segera menyergapnya dari belakang dan menghajarnya kembali dengan pukulan tangan kanannya bertubi-tubi. Buaya itu masih sempat melawan dan melemparkan Karebet, tapi pukulan Karebet yang terus menerus itu membuat buaya itu akhirnya menggelepar.
Buaya itu meregang nyawanya.
Tak berapa lama mengapung mati.
     Karebet masih menunggu dengan waspada takut buaya itu masih menyerangnya. Tapi beberapa lama, buaya itu tetap diam seperti onggokan kayu kering. Penduduk yang tadinya mengintip di balik pohon dan semak, perlahan maju melihat dan mendekat ke sungai. Mereka baru bereaksi saat Karebet menuju ke pinggir sungai sambil menarik bangkai buaya besar itu.
Penduduk bersorak sorai.
Mereke menyerbu Karebet.
Sebagian penduduk ke buaya, sebagian ke arah Karebet. Sebagian menggotong buaya ke darat, sebagian menggotong Karebet. Tapi Karebet meminta turun dan lebih memperhatikan Tunggul yang masih tergeletak tidak ada yang menolongnya.
     “Bawa saja buayanya ke kelurahan,” teriak Karebet ke beberapa penduduk. Mereka menurut saja dan mengarak bangkai buaya itu menjauhi sungai. Karebet menuju Tunggul. Pemuda itu masih pingsan. Kepalanya terluka, terutama di bagian leher. Luka itu diakibatkan taring buaya yang tajam. Menembus ke dalam daging. Karebet pernah terluka dalam banyak pertarungan dan ia bisa tahu seberat apa luka Tunggul.
     “Tolong bawa laki-laki ini,” Karebet meminta beberapa penduduk yang masih tertinggal. “Lukanya masih bisa disembuhkan.”
     “Tapi kisanak juga harus ikut ke kelurahan.” Seorang penduduk memberitahu. “Kisanak yang memenangkan sayembara ini.”
     “Kisanak akan dikawinkan sama Roro Anteng!” kata yang lain.
     “Saya akan membersihkan diri dulu…”
“Kisanak, namanya siapa?” Tanya lelaki lainnya.
Karebet kaget.
“Biar saya bilang dulu ke Ki Lurah Warno.”
“Jaka Tingkir…”
Lelaki itu bengong.
“Kenapa, Pak?”
“Ah tidak, namamu bagus.”
Ia tidak tahu bagus tidaknya karena ia ingin sampai di rumah secepatnya dan ia tidak suka di ganggu di jalan. Ia terus menuju ke sungai. Beberapa penduduk pergi lebih dulu sambil meneriakkan nama Jaka Tingkir. Tubuh Tunggul digotong ramai-ramai. Beberapa saat kemudian pinggiran sungai itu sepi. Setelah membersihkan diri, Karebet beranjak pergi. Menjauhi pedukuhan Karangsaga.
     Ia memang tidak mau ke pedukuhan. Ia tidak mau perjalanan pulangnya terhambat oleh suatu hal yang tidak sepenting urusannya. Ia hanya berniat menolong Tunggul. Segala akibat karena sayembara itu ia tidak peduli. Ia tidak ingin ikut sayembara itu dan terlebih lagi ia tidak mau dikawinkan dengan seorang gadis yang tidak pernah dilihatnya. Ia hanya ingin pulang dan bertemu ibunya.

(bersambung)


Friday, November 30, 2012

MAS KAREBET 3

 BAB 3



DI pinggiran pedukuhan Karangsaga, hari sudah gelap dan mendekati tengah malam. Tapi Karta dan Istrinya sedang menuju sungai yang ada di pedukuhan itu. Sungai pedukuhan yang lebar dan airnya tenang. Pada siang hari saja sungai itu akan menyeramkan, apalagi saat malam hari. Itu sebabnya, istri Karta terus mengeluh. Meskipun Karta membawa obor sambil menggandengnya.
     "Apa sih maksudnya harus mencuci kain malam-malam begini, Kang?"
     "Jangan mengeluh begitu, ini kan syarat yang diberi mbah dukun," Karta meyakinkan istrinya. " Yang penting kita bisa punya anak."
     "Iya tapi kalau syaratnya aneh-aneh begini, masa juga kita jalani." Istri Karta tetap ngotot. "Bukannya dapat anak, kita malah bisa dianggap gila sama tetangga."
     "Jangan ngomel terus, kamu cuci saja kainnya."
     Dengan rasa takut yang ditahankan, Istri Karta jongkok diatas bambu-bambu yang menjorok ke tengah sungai untuk mencuci kain-kainnya. Ia sering ke sungai itu dan mencuci, tapi itu dilakukannya siang hari dan banyak temannya. Tapi yang ia lakukan sekarang adalah syarat dari dukun yang membantunya untuk bisa mempunyai anak. Mereka sudah menikah lebih dari lima tahun tapi belum juga dikarunia seorang anak pun. Mereka sudah berobat ke dukun mana saja dan menuruti semua syarat-syarat anehnya. Tapi hasilnya masih tidak ada. Sampai kepada dukun yang terakhir ini, yang menyarankannya untuk mencuci semua kain yang dipakainya saat tengah malam menjelang.
     Istri Karta menjerit tertahan.
Karta sigap memeganginya. "Ada apa, Nyai?"
     "Sepertinya ada sesuatu di air, kang," kata Istri Karta menunjuk ke arah tengah air.
     Karta melihat ke arah air yang nampak tenang. "Tidak ada apa-apa."
     "Aku takut, Kang."
     "Tidak ada apa-apa."
     Istri Karta jongkok lagi. Tapi belum juga sempurna duduknya, dari dalam air muncul kepala seekor buaya besar dengan mulutnya yang menganga lebar dan bergigi runcing. Istri Karta menjerit di kerongkongan. Dalam kedipan mata, buaya besar itu sudah mencaplok kepala istri Karta dan menariknya ke dalam air sungai yang gelap. Karta bukannya tidak tahu ada seekor buaya muncul, tapi ia terlambat melakukan sesuatu untuk menolong istrinya. Kekagetannya membuat refleknya tidak muncul seketika. Ia baru bergerak ketika istrinya telah lenyap didepan mata kepalanya sendiri. Lenyap ditelan buaya sungai.
Karta menjerit dan menangis.
Ia seorang laki-laki, tapi apa yang dilihat didepan matanya adalah kejadian yang memilukan hatinya. Segarang apapun laki-laki, tapi melihat besarnya buaya itu, pasti akan ketakutan juga. Karta harus menangis. Menangis ketakutan dan ketidakberdayaannya untuk menolong istrinya. Dan kata yang terakhir ia ucapkan adalah, " Ya Allah….!"
***
Penduduk pedukuhan Karangsaga berdatangan ke halaman kelurahan.
Bahkan bukan hanya penduduk Karangsaga, tapi dari beberapa pedukuhan tetangga. Nampak juga beberapa pendekar yang entah datang dari mana asalnya. Ki Lurah Warno sebagai pemimpin tertinggi pedukuhan mempunyai tanggung jawab atas keselamatan warganya. Memang ada Jagabaya sebagai kepala keamanan pedukuhan. Tapi yang terjadi di Karangsaga sekarang bukan kejadian biasa. Menghadapi buaya yang begitu besar bukanlah pekerjaan para penduduk yang kebanyakan sebagai petani. Ini sudah harus melibatkan orang yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi. Itulah sebabnya, setelah Ki Lurah Warno bermusyawarah dengan para tetua pedukuhan, akhirnya diambil keputusan untuk mengadakan sayembara.
     Biasanya sebuah sayembara akan memberikan hadiah yang begitu menggiurkan. Hadiah terbesar dari sayembara adalah seorang gadis yang akan dikawinkan apabila seorang peserta sayembara memenangkannya. Hal itu yang menyebabkan kebanyakan peserta adalah laki-laki dan hampir tidak pernah ada peserta sayembara perempuan.
     “Saudara-saudara, pedukuhan Karangsaga sekarang berada dalam keadaan bahaya karena ulah buaya sungai yang terus membuat kita tidak bisa tidur,” Ki Lurah Warno memulai pidatonya dihadapan ratusan orang yang memadati halaman kelurahan. “Saya sebagai pemimpin disini mengumumkan sayembara. Barangsiapa yang mampu membunuh buaya sungai itu, kalau perempuan akan saya angkat sebagai anak, dan kalau laki-laki saya akan jadikan menantu saya, menikah dengan Roro Anteng.”
     Setelah itu muncul seorang gadis yang belum genap berusia duapuluh tahun, berkulit bersih dan berwajah manis dengan rambut panjang. Nampak lebih dewasa daripada umurnya. Ki Lurah Warno merangkul gadis itu.
     “Inilah Roro Anteng anak saya.”
     Untuk warga pedukuhan Karangsaga, Roro Anteng adalah gadis yang istimewa. Bukan hanya karena memang cantik secara fisik, akan tetapi juga karena ia anak lurah. Sebuah jabatan paling tinggi di pedukuhan. Menjadi menantu ki lurah berarti menaikkan derajat kehidupannya. Baik moril maupun materiil. Bagi pendatang menjadi kebanggaan bukan main. Bahkan ibarat mimpi menjadi kenyataan.
     Seorang pemuda yang membawa sebuah tombak maju ke depan. Bajunya menunjukkan sebagai seorang pendekar. “Saya akan bawa buaya itu sore ini juga, Ki Lurah!”
     Semua orang menoleh kepada pemuda itu.
     “Nama saya Tunggul, dari lembah Serayu.”
     “Kau datang dari jauh, anak muda. Apa tidak lebih baik istirahat lebih dulu?”
     “Saya tidak sabar menjadi menantumu, Ki Lurah!” Mata Tunggul menatap kepada Roro Anteng dengan penuh birahi.
     “Baiklah kalau kau memaksa.”
     Tunggul kemudian berbalik pergi meninggalkan kerumunan penduduk itu. Seperti mempunyai daya tarik, hampir semua penduduk mengikuti pemuda itu pergi. Tujuannya pasti hanya menuju sungai dimana terdapat buaya pemangsa manusia itu. Dari semua orang-orang yang berkumpul di halaman itu, hanya Tunggul yang bicara lantang. Masih ada beberapa pendekar yang lain, tapi mereka lebih banyak berdiam diri.
     Bagi warga pedukuhan Karangsaga, sungai yang mengalir di pedukuhan mereka adalah sumber kehidupan. Disamping untuk mengairi sawah-sawah, sungai juga diambil pasirnya, diambil batunya dan diambil ikannya. Semua bermanfaat. Tapi sejak munculnya buaya pemangsa, semua kegiatan warga di sungai itu berhenti sendiri. Setiap anak dicegah bermain oangtuanya di sungai. Setiap perempuan tidak berani lagi mencuci dan mandi di sungai. Setiap laki-laki tidak lagi berani mengambil pasir di sungai. Sampai kepada kejadian yang menggembarkan warga saat istri Karta menjadi korban terakhir keganasan buaya sungai itu.
(bersambung)

MAS KAREBET 2

 BAB 2


SEBELUM benar-benar meninggalkan bukit Telomoyo, Karebet hendak berpamitan kepada Mbah Marjo. Lelaki tua yang selalu berada di warung makannya yang sederhana. Letaknya di pojok jalan yang menghubungkan daerah-daerah perdagangan di sekitar wilayah gunung Tidar. Hampir semua pedagang yang melewati jalan itu, tahu kelezatan makanan racikan Mbah Marjo. Langganan warungnya bukan saja para pedagang yang lewat, tapi juga para pengembara. Karebet bukan orang yang suka menonjolkan diri, tapi pertamakali datang ke warung itu, ia disambut Mbah Marjo seperti orang yang lama ditunggunya.
     Karebet baru mengerti setelah Mbah Marjo bercerita bahwa selama tiga malam berturut-turut bermimpi bertemu dengannya. Sebuah cara bertemu yang aneh. Ia dan Mbah Marjo tidak mempunyai hubungan persaudaraan. Ia bahagia bisa akrab dengan lelaki tua itu, tapi tidak mau karena keakraban itu, setiap makan jadi gratis. Justru Mbah Marjo yang menolak habis-habisan. Lelaki tua itu mengatakan bahwa bertemu dengan Karebet adalah suatu anugerah dari Yang Maha Kuasa yang tidak dimilikinya saat berhubungan dengan orang lain.
     “Saya harus pulang, Mbah.”
     “Sudah selesai tapamu, Ngger?”
     “Saya bermimpi aneh, Mbah.”
     “Apakah mimpi itu mengharuskan Angger pulang?”
     “Sejak mimpi itu, saya tidak pernah bisa tidur.”
     Angger ingin tahu arti mimpi Angger?”      
     “Mbah Marjo tidak ingin tahu mimpi saya?”
     “Mimpi yang sangat mengganggu, pastilah bukan mimpi biasa. Seperti dulu aku bermimpi tiga malam bertemu Angger,” Mbah Marjo menata nafasnya, lalu melanjutkan, “Ada seseorang yang mungkin bisa membantumu, Ngger.”
     “Siapa mbah??
     “Di pedukuhan Mangli, Kanjeng Sunan Kalijaga sedang memberikan wejangan agama. Datanglah kesana dan temuilah beliau, mimpi Angger akan ditafsirkan beliau dengan gamblang.”
     Karebet pernah mendengar nama Sunan Kalijaga disebut beberapa orang penduduk desa yang ia singgahi dalam mengembara, juga pedagang keliling dan pengembara yang ditemuinya. Sepertinya Sunan kalijaga berada dimana-mana. Dan sekarang Mbah Marjo menyuruhnya menemui orang yang sering didengarnya sebagai juru dakwah agama islam itu. Apakah benar orang itu bisa menafsirkan mimpinya? 
     “Saya sering mendengar nama Sunan Kalijaga.”
     “Yah, temuilah beliau, Ngger. Temuilah.”
     “Bagaimana saya bisa tahu, Sunan Kalijaga masih di pedukuhan Mangli saat saya datang?”
     Ngger, Sunan Kalijaga memang manusia, tapi beliau itu Waliullah. Beliau itu  weruh sak sedurunge winarah.”
     Karebet sering juga mendengar kalau Sunan Kalijaga mampu menaklukan jawara-jawara di tempat-tempat yang baru di datanginya, yang menantangnya karena ia berdakwah islam. Itu saja sudah membuktikan bahwa orang itu mempunyai ilmu kanuragan tinggi. Tapi weruh sak durunge winarah adalah sesuatu yang sangat langka yang bisa dimiliki seseorang. Hanya orang-orang dengan tingkat keilmuan batin yang tinggi yang mampu melihat sesuatu sebelum kejadian. Tapi bagaimana Mbah Marjo bisa memastikan saat sekarang Sunan Kalijaga masih berada di pedukuhan Mangli yang letaknya di lereng gunung Andong. Padahal jaraknya cukup jauh dari tempatnya?
     Ia tidak pernah bertanya kepada siapapun perihal Mbah Marjo. Karena baginya Mbah Marjo hanya lelaki tua yang memilik sebuah warung makan pinggir jalan di sebuah persimpangan yang ramai di lalui orang. Ia hanya mengagumi kecerdasan Mbah Marjo memilih lokasi yang tepat untuk berdagang. Tapi Mbah Marjo seperti kenal baik dengan Sunan Kalijaga, bahkan bisa mengetahui kalau Sunan Kalijaga mampu mengetahui sesuatu sebelum terjadi. Karebet ingin sekali bertanya, tapi melihat ketulusan Mbah Marjo selama ini memberinya semangat, sering memberinya makan gratis, ia tidak tega melukai hati seandainya pertanyaannya akan membuatnya tersinggung.  
     Karebet memeluk Mbah Marjo. Erat dan mulai merasakan dadanya bergemuruh. Lelaki tua ini telah memberinya ketenangan batin saat ia membutuhkan semangat. Ia langsung berbalik pergi. Ia tahu bibit air mata sudah menggenang di sudut mata tua Mbah Marjo. Seperti peprisahan seorang kakek dengan cucu kesayangannya.
     Lengkap sudah pengalaman yang didapatnya selama di bukit Telomoyo. Sebuah mimpi yang aneh dan sebuah persahabatan yang aneh pula. Sekarang ia harus ke pedukuhan Mangli. Letak pedukuhan itu ia tahu jauh. Bahkan mungkin malam hari ia baru sampai di pedukuhan itu. Tapi petunjuk Mbah Marjo seperti sebuah perintah gaib.
     Dan keanehan itu terbukti lagi. Belum seperempat hari perjalanan, Karebet melihat sebuah tugu batu pedukuhan bertuliskan Mangli. Ia benar-benar tidak percaya. Tidak mungkin jarak kaki bukit Telomoyo begitu dekat dengan pedukuhan Mangli yang berada di lereng gunung Andong. Ia tahu persis jalan yang akan dilaluinya menembus hutan belantara dan berliku. Pedukuhan Mangli berada di atas ketinggian. Ia harus memutari punggung bukit Telomoyo terlebih dahulu sebelum melewati jalan yang menuju gunung Andong. Jalur yang dilewatinya juga bukan jalur perdagangan. Bahkan untuk seorang pengembara, jalan yang ditempuhnya sering di hindari.
     Tapi sekarang ia sudah di depan tugu pedukuhan Mangli. 
Saat Karebet masih dihinggapi segenap keheranan, beberapa pedagang sambil memikul sisa dagangannya, berjalan keluar pedukuhan dan terdengar terlibat berbincang.
     “Semakin enak ya wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga.”
     “Iya. Hati ini jadi adem.”
     “Aku makin mantap masuk agama islam.”
     “Tapi aku masih belum mengerti soal sembahyang lima waktu. Gunanya apa ya?”
     “Sampeyan baru dua kali ikut wejangan, nanti juga ketemu jawabannya.”
     Karebet memberanikan diri mencegat mereka.
     Nuwun sewu….”
     Mereka berhenti. Seorang pemuda berbaju lusuh dan gagah menghentikan langkah mereka dengan bahasa yang halus. Sikap sopan Karebet membuat mereka juga jadi sopan.
     “Dimana Sunan Kalijaga memberi wejangan?”
     “Sudah selesai dari tadi.”
     “Sudah selesai?”
     “Kanjeng Sunan Kalijaga juga sudah pergi.”  
     “Pergi kemana?”
     “Tidak tahu. Beliau itu datang dan pergi tidak ada yang tahu. Seperti hantu.”
     Kaki Karebet jadi lemas dan terduduk dekat tugu pedukuhan. Perjalanannya yang jauh bisa dilewatinya dengan cukup singkat, bahkan masih memberikannya tanda tanya. Tapi tetap saja ia terlambat. Ia tidak bisa mengerti dengan waktu yang sedang terjadi dengan dirinya. Waktu yang seharusnya ditempuh masih lebih lama sampai di pedukuhan Mangli, tapi ia seperti melakukan perjalanan gaib. Ia juga yakin Mbah Marjo tidak akan memberikan petunjuk yang salah.
     Nuwun sewu, Kisanak yang bernama Karebet?”
     Seperti disambar petir di siang bolong, Karebet menatap seseorang yang mendadak sudah mendatanginya. Orang itu berdiri sambil membawa pikulan dagangannya. Siapa lelaki ini?
     Nuwun sewu, benar Kisanak bernama Karebet?” Lelaki itu mengulangi lagi pertanyaanya dengan pandangan yang tidak yakin.
     “Ya-saya Karebet…..”
     “Ini saya dapat amanat menyerahkan layang…”
     Karebet menerima surat berupa gulungan kulit kerbau. Lelaki itu terus pergi begitu saja. Karebet masih dihinggapi bingung, tapi ia harus bertanya.
     “Kisanak, dari siapa surat ini?”
     Lelaki itu berhenti dan berbalik. “Dari kanjeng Sunan Kalijaga.” Lalu pergi tergesa tanpa menoleh, sepertinya takut akan ditanya lagi.
     Kali ini kepala Karebet benar-benar penuh pertanyaan. Terlalu banyak keanehan, terlalu banyak kebetulan, dan terlalu banyak petunjuk-petunjuk aneh. Siapa yang harus menjawabnya? Ia diam beberapa saat untuk memulihkan kesadarannya. Sepanjang ia mengembara untuk bertapa dan menyepi, baru kali ia mengalami kejadian yang luar biasa tidak masuk akal. Ia sering melihat kemunculan makhluk menyeramkan dan mengerikan saat bertapa, dan ia merasa masih menganggap hal yang wajar. Ia juga pernah bertemu berbagai macam pendekar dengan ilmu yang mengagumkan.
     Tapi yang dialaminya sekarang luar biasa.
Ia tidak tahu berapa lama sampai keberaniannya muncul untuk membuka surat yang terbuat dari kulit kerbau itu. Tulisannya jelas dan mudah dibaca.
     “Pulanglah ke Ibumu. Turutilah nasehatnya. Adapun soal mimpi yang kau dapatkan di bukit Telomoyo itu membawa suatu pesan gaib dari Allah Subhanahuwata’ala. Kelak, suatu saat yang akan sampai waktunya, kau akan menjadi seorang Khalifah, seorang pemimpin.”     
     Tidak ada nama Sunan Kalijaga dibawahnya.
Karebet tidak peduli itu.
Tapi isi surat itu.
Haruskah ia mempercayainya?
Ia merasa mau pingsan.

(Bersambung)

Thursday, November 29, 2012

MAS KAREBET 1

Pengantar 
Mulai hari ini saya akan menghadirkan cerita silat berjudul Mas Karebet. Cerita ini berdasarkan skenario sinetron serial Jaka Tingkir yang pernah di tayangkan televisi RCTI selama beberapa tahun. Tentu saja ini ditulis berdasarkan buku sejarah seperti Babad Tanah Jawa, selebihnya adalah hasil khayalan sendiri. Jaka Tingkir atau Mas Karebet adalah sejarah. Menafsirkan sebuah sejarah masa lalu dengan data yang terbatas dan masih bisa di perdebatkan kebenaranya, menjadi subyektif sekali. Jadi kalau ada pihak yang tidak berkenan atas tafsiran saya, mohon di beri maaf. Terimakasih.

 
Thole, kamu jangan suka ke gunung.
Ketahuilah, orang yang bertapa di gunung itu kafir,
tidak mengikuti agama kanjeng Nabi.
Lebih baik kamu berguru kepada orang mukmin.

- Nyai Ageng Tingkir
 
 
 
BAB 1


HANTAMAN udara dingin mendera bukit Telomoyo, menyelimuti pepohonan yang lebat dan diam seperti batu purba. Hembusan angin pagi yang lembut menggoyangkan  pucuk-pucuk pepohonan, menjatuhkan embun sisa dini hari menuju bumi. Beberapa burung beterbangan kesana kemari seperti ingin mengusir dinginnya udara pagi. Sudah sejak subuh Karebet bangun dari tidurnya dan terus terjaga sampai matahari muncul di timur jauh sana.
     Ia bermimpi.
     Ia yakin semua orang penah bermimpi dalam tidurnya. Orang bermimpi dalam tidur bukan sesuatu yang aneh, karena bisa terjadi setiap hari dan terjadi pada siapa saja. Ia juga sering bermimpi. Tapi mimpinya kali ini berbeda. Ia sudah tiga kali bermimpi dan mimpinya sama. Ia tidak bisa menebak apa arti mimpinya. Diluar mimpi sebagai bunga tidur, mimpi mempunyai arti buat ahli tafsir. Sayangnya ia tidak kenal dengan seseorang yang pekerjaannya sebagai ahli tafsir mimpi.
     Mimpi itu melekat di kepalanya.
     Sudah lebih dari empat puluh malam ia menyepi dan bertapa di bukit Telomoyo. Ini waktu yang cukup lama ia bisa berada di satu tempat untuk bertapa. Biasanya tidak lebih dari duapuluh lima hari ia berada di suatu tempat untuk menyepi. Kadang tergantung tempatnya untuk menyepi. Ada tempat dimana ia bisa merasakan ketenangan batin luar biasa. Itu akan membuatnya lama bertapa di tempat itu. Tapi pernah baru tiga hari berada di suatu tempat, ia memutuskan pergi karena di dalam hatinya tidak cocok, meskipun tempat itu banyak orang bertapa dan dianggap keramat.
Kebiasaannya bertapa dan menyepi sudah dijalaninya sejak ia berumur limabelas tahun. Itu saja ia merasa terlambat karena Ibunya sudah tidak bisa mencegah keinginannya untuk menyepi dan bertapa. Ia tidak tahu kenapa ia lebih suka menyepi dan bertapa daripada berada di rumah dan ikut mengurus perdagangan Ibunya. Ia hanya mengikuti panggilan hatinya. Barangkali aneh karena ia hidup dengan lebih berkecukupan. Ibunya adalah orang terkaya di desa Tingkir dan itu membuatnya bisa mewujudkan keinginannya dalam bentuk apapun. Menjadi anak seorang saudagar jauh lebih terkenal daripada menjadi anak seorang Lurah. Bahkan dengan kebesaran nama Ibunya, nama desa Tingkir telah disandangnya. Nama yang juga akhirnya dipakainya sejak ia tiba di desa itu. Ia tidak pernah tahu persisnya, tapi nama aslinya telah disembunyikan dan digantikan dengan nama Jaka Tingkir.
Karebet tidak pernah mempersoalkan namanya. Hanya Ibunya yang memanggilnya dengan nama aslinya, meskipun Ibunya sendiri yang memberikan nama Jaka Tingkir kepadanya. Ia tidak tahu kenapa dan ia tidak peduli benar sebabnya. Dengan kegiatan dagang Ibunya yang sibuk, ia sama sekali tidak tertarik. Ia jauh lebih tertarik pergi ke sawah dan duduk di dalam gubuk ditengah sawah. Melihat hamparan padi seperti melihat hamparan nyawa manusia yang bergantung pada padi-padi itu.
Diantara itu semua ia jauh lebih suka mengembara dan mencari tempat sepi untuk bertapa dan memperdalam ilmu batinnya. 
     Pada malam ke empat puluh itu, Karebet bermimpi untuk ketiga kalinya. Sebuah rembulan jatuh ke atas dirinya diikuti bunyi halilintar bersahut-sahutan dan memenuhi bukit Telomoyo. Beberapa saat ia harus berdiam diri untuk menenangkan dirinya dari kejadian yang baru saja dialaminya. Ia tahu persis itu sebuah mimpi. Tapi ia  merasakannya sebagai kejadian nyata.
     Berpuluh bahkan mungkin ratusan tempat sudah pernah ia datangi untuk menyepi dan bertapa. Tapi hanya di bukit Telomoyo ini ia mengalami kejadian luar biasa. Karena terus menerus mimpi itu melekat di kepalanya, ia tidak bisa lagi tidur. Akhirnya ia putuskan tidak bisa bertahan lebih lama lagi di tempat itu.
     Ia harus pulang.
     Ia ingin mencari jawab atas pertanyaan mimpinya itu. Kalaupun Ibunya tidak mengerti akan arti mimpinya, pasti akan dicarikan seorang pintar ahli tafsir mimpi untuk mengutarakannya. Disamping itu rasa kangen dengan ibunya yang sangat ia hormati dan sayangi. Meskipun ia tahu Nyai Ageng Tingkir hanyalah Ibu angkatnya.
     Ia hanya ingat Nyai Ageng Tingkir adalah ibunya yang memberikan kasih sayang penuh. Meskipun di hari kemudian ia mengetahui bahwa Nyai Ageng Tingkir hanya seorang Ibu angkat, tapi rasa hormat dan sayangnya tidak berubah. Ia merasa menjadi anak paling beruntung karena mendapatkan kasih sayang dari orang yang tepat. Lebih dari itu, ia mendapat kelimpahan materi, meskipun ia tidak pernah menggunakannya untuk kesenangan pribadinya. Ia merasa dunianya adalah dunia mengembara untuk mencari ilmu kanuragan dan ilmu kesaktian. Dan ibunya tidak pernah memaksanya untuk mengikuti kemauannya dalam hal berdagang. Karebet merasa begitu bahagia karena diberi kebebasan memilih. 
     Sampai di kaki bukit Telomoyo, Karebet berhenti. Menoleh kembali ke puncak bukit yang sepi itu. Sering ia tidak mengerti bisa betah di tempat sepi dan jauh dari keramaian seperti ini. Tapi panggilan hatinya membuatnya harus selalu berjalan mencari tempat dimana ia bisa menyepi dan menemukan dirinya yang sebenarnya. Dalam keheningan, ia menemukan kedamaian. 
(Bersambung)

Sunday, September 11, 2011

SENO GUMIRA AJIDARMA DAN NAGABUMI

Sore itu, Mas Seno—begitu saya memanggilnya—tampil santai dengan kaus, jeans, dan sepatu kanvas hitam. Ia duduk di belakang meja dengan dua buku bertumpuk. Yang teratas berjudul The Real Tripitaka karya Arthur Waley. Ia telah siap untuk wawancara.
Apakah buku itu untuk riset Nagabumi?
Ha-ha-ha. Ya, salah satunya.
Mas Seno, bisa ceritakan awal penulisan novel ini?
Dulu, saya pernah punya impian untuk menulis cerita silat bersambung. Ambisinya, ingin membuat cerita silat yang memenuhi kriteria estetik. Lalu, saya dapat tawaran untuk menulis cerita silat Jawa di koran. Saya bilang, saya tidak tertarik dengan cerita silat seperti itu. Saya tidak bisa. Tapi, kalau silat Indonesia bisa. Akhirnya, saya menulis sebuah cerita silat Indonesia tanpa latar belakang tempat. Namun, lama-lama, saya merasa cerita ini butuh itu. Saya pun memilih setting yang jarang dipakai orang, yaitu Jawa abad 8–9 M. Sejak itu, saya mulai riset sambil menulis Nagabumi.
Apa yang membedakan Nagabumi dari cerita silat lain?
Ya, itu tadi. Saya tidak mau membuat cerita silat yang hanya asal gebuk. Tapi, silat sebagai sastra. Dan, awalnya ini dibuat 'bernyali' oleh adanya film-film silat yang artistik, seperti Crouching Tiger Hidden Dragon atau Hero. Wah, itu kan bukan action, itu puisi. Itulah ideal saya.
Tokoh Anda, si pendekar tanpa nama, berusia 100 tahun dan pernah membantai seratus lawan dalam semalam. Saya melihat pengaruh cerita silat China yang kental di sini. Tanggapan Anda?
Iya, dong. Dulu, kan, tidak ada DVD segala. Dan, film-film masih jelek. Dunia remaja jadul itu, ya, cerita atau komik silat seperti karya Kho Ping Hoo atau R.A. Kosasih. Silat itu bagian dari tradisi anak laki-laki zaman dulu.
Mengapa tokohnya tidak murni protagonis layaknya cerita silat kebanyakan?
Nah, itu salah satu pengaruh sastra modern. Sastra klasik, kan, tentang orang-orang hebat. Kalau modern justru orang-orang yang kalah. Menurut saya, ini menarik. Kita bisa 'bermain' di situ.
Banyak isu dalam Nagabumi yang merefleksikan keadaan negara ini, seperti konflik agama dan politik. Apa memang ada maksud ke arah sana?
Itu tergantung pembaca saja. Pembaca kan tidak pasif dan konsumtif, tapi aktif dan produktif. Jadi, tergantung mereka memaknai cerita itu sebagai apa. Entah sekadar cerita, sejarah, atau apa saja. Mereka harus diberi kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas.
Tantangan apa yang muncul saat mengerjakan buku ini?
Saya ingin memunculkan apa yang selama ini tidak pernah ada dalam cerita silat Indonesia, yaitu sisi intelektual manusianya. Sesungguhnya, selain pesilat, banyak sekali karakter yang menarik, seperti pengarang buku, pengajar, politikus, hingga pemberontak. Cerita silat ini mengadung esai yang meliputi banyak aspek kehidupan.
Perspektif orang pertama yang Anda gunakan dalam bertutur tidak lazim dalam cerita silat. Ada alasan khusus?
Karena itu belum dilakukan orang. Biasanya, cerita silat kan yang bercerita Tuhan (perspektif orang ketiga). Nah, kalau ini yang bercerita manusia. Dengan begitu, tokoh bisa bercerita lebih banyak dan personal. Kita pun bisa lebih mengerti pergolakan batin yang terjadi dalam dirinya. Di situlah sastra modernnya; bermain dengan sudut pandang.
Bicara tentang Tuhan, apa tanggapan Anda mengenai anggapan bahwa sastra merupakan jalan spiritual?
Ya, boleh-boleh saja. Kalau mau dijadikan hiburan boleh, mau dipakai buat gaya omongan saja juga boleh. Tapi, serius juga boleh. Mereka, kan, mencari makna dalam bacaan. Bisa juga.
Pertanyaan terakhir. Mengapa nama Seno Gumira Ajidarma lekat dengan kata 'perlawanan'?
Bukannya hidup seperti itu? Kita tidak bisa mengingkari bahwa sebetulnya kebudayaan itu isinya hanya perlawanan kelompok bawahan melawan kelompok yang dominan. Ini seperti menangkap ayam. Mana ada, sih, ayam yang mau ditangkap untuk disembelih? Nah, saya melakukannya dengan cara tidak menjadi seperti yang lain.

Sumber AREAMAGZ