Showing posts with label kerusuhan. Show all posts
Showing posts with label kerusuhan. Show all posts

Sunday, December 5, 2010

SAM (1)


Pengantar
Cerita panjang yang akan hadir ini mengambil latar belakang seorang tokoh misterius dan tokoh penting pada peristiwa yang di sebut dengan G30S/PKI. Lelaki itu bernama Syam Kamaruzzaman. Banyak sekali rahasia yang menyelimuti hidupnya sampai kepada kematiannya, bahkan ada yang meyakininya masih hidup. Jadi cerita yang akan di sajikan ini bermain di wilayah teka teki ini. Tentang sosok lelaki misterius itu.

Ini jelas fiksi, jelas khayalan. Bahkan sebuah khayalan ngawur. Tapi di dalamnya ada data2 bagian dari catatan sejarah yang tersedia di berbagai arsip dan berita. Benar tidaknya sebuah data tetaplah akan menjadi perdebatan. Jadi benar dan tidaknya cerita dalam kisah ini, tetap menjadi kebenaran fiksi, tidak pernah menjadi kebenaran fakta. Jadi nikmati saja sebagai sebuah bacaan ringan. (Lihat posting sebelumnya untuk membaca riwayat Syam Kamaruzzaman)




BAB 1
 


WARUNG Dawet Ayu ‘Mbah Dolah’ terletak di sudut alun-alun kota. Warung itu terbuka dan kebanyakan meja dan kursi di letakkan di halaman. Pemiliknya seorang lelaki berumur tujuhpulah dua tahun yang dipanggil dengan sebutan Mbah Dolah. Dawet ayu adalah sebuah minuman khas kota Banjarnegara yang terbuat dari   Cendol tepung beras, gula aren, gula kelapa dan santan, yang kadang di kombinasi dengan rasa nangka atau durian . Keadaan cuaca sedang cukup panas sehingga akan menyegarkan menikmati segelas es dawet. Apalagi hari minggu seperti ini. Beberapa keluarga sedang menikmati liburan dan hidangan es dawet adalah hal paling menyenangkan. Banjarnegara adalah sebuah kota kabupaten dengan penduduk sekitar 890 ribu jiwa. Secara geografis, Kabupaten seluas 1.064,52 kilometer persegi ini adalah daerah peruntukan untuk pertanian. Sebagian besar daerahnya berupa pegunungan dan perbukitan. Itu sebabnya dinamakan Banjarnegara yang berarti kota sawah.
     Fatimah mengajak ayahnya yang bernama Ahmad Najib Burhani jalan-jalan menikmati hari libur. Ia sendiri sibuk mengajar pada hari kerja. Maka waktu luang itu ia gunakan untuk menyenangkan ayahnya untuk sekadar menikmati segelas es dawet kesukaan Ayahnya. Hanya dirinya yang masih berusaha membahagiakan ayahnya. Dua saudaranya bekerja di Jakarta dan jarang sekali pulang. Ia dan ayahnya yang telah lama pensiun tinggal berdua. Ibunya telah lama meninggal karena sakit. Membahagiakan ayahnya adalah hal terakhir yang selalu  ingin dilakukannya. Bukan karena ayahnya sekarang sudah tua dan membutuhkan teman setelah Ibunya meninggal, tapi lebih kepada pengabdiannya kepada orangtua.
     Ayahnya dulu bekerja di Jakarta. Ia tidak pernah tahu Ayahnya bekerja di bidang apa. Ayahnya hanya mengatakan bekerja di Departemen Luar Negeri. Setelah peristiwa kerusahan di Jakarta tahun 1998 dan pergantian Presiden, Ayahnya meminta pensiun. Dengan pesangon yang cukup lumayan, apalagi untuk seorang pegawai negeri dan ia sempat heran ketika itu, Ayahnya memboyong keluarga pindah ke tanah kelahirannya di Banjarnegara. Ketika didesak kenapa harus pindah, sedangkan mereka merasa tidak bermasalah dengan Jakarta, Ayahnya menjawab, “Ayah ingin tenang.”
      Seseorang ingin ketenangan biasanya karena sakit. Ia tahu persis ayahnya sangat sehat, bahkan sakit flu atau masuk angin sangat jarang dideritanya. Ayahnya disiplin berolahraga dan makan dengan teratur. Kalau hanya karena semakin bertambahnya umur menjadi alasan, banyak orang yang tetap bertahan di Jakarta.  Ayahnya adalah orang yang tegar dalam menghadapi setiap masalah yang menimpa dirinya. Pembawaan dirinya sangat tenang dan selalu menyelesaikan masalah dengan penuh perhitungan. Jadi buat Fatimah, kepindahan mereka sekeluarga ke tanah kelahiran Ayahnya masih merupakan teka-teki sampai sekarang.
     Kedua kakaknya tetap berada di Jakarta untuk bekerja karena mereka merasa di Ibukotalah tanah kelahiran mereka. Tapi ia tidak memaksakan diri seperti mereka karena menyadari hanya dirinyalah yang menjadi teman terakhir ayahnya saat Ibunya telah meninggal. Fatimah merasa bahwa ia melakukan hal yang benar. Dan ia bahagia.
     “Sudah lama aku tidak menikmati dawet ayu,” kata Ahmad Najib Burhani sambil duduk, “Entah seperti apa rasanya sekarang.”
     “Masih sama seperti terakhir ayah meminumnya,” jawab Fatimah sambil menoleh ke arah pelayan yang datang kepadanya, lalu berkata, “Minta dua es dawetnya, Mbak.”
     “Mau pesen makanan juga, Bu?”
     “Ayah mau makan juga?”
     “Ayah hanya ingin menikmati es dawet. Tidak yang lain.”
     Pelayan lantas pergi.
     Fatimah melihat Ayahnya tersenyum. “Kenapa Ayah tersenyum?”
     “Kau dengar tadi pelayan itu menyebut apa sama kamu?”
     “Tampang saya sudah seperti Ibu-ibu rupanya.”
     “Makanya cepatlah mencari jodohmu.”
     “Jodoh ditangan Tuhan.”
     “Bukan Tuhan yang mencarikanmu suami, tapi kamu sendiri.”
     Dari meja disamping Fatimah, seseorang memanggil namanya. Fatimah menoleh. Di meja sebelah duduk seorang pemuda yang sedang berdua dengan Ayahnya menikmati makanan. Fatimah mengenalnya.
     “Hai Dodo? Maaf ya, tidak tahu kamu duduk disitu.” Fatimah berdiri dan mengajak Ayahnya berdiri. “Ayah, kenalkan Dodo Sudirjo teman Fatimah.”
     Ahmad Najib Burhani menyodorkan tangannya sambil tersenyum. Teman Fatimah bernama Dodo itu menyalami dan menyebut namanya. Lalu dia juga meminta Ayahnya berdiri, “Oya, kenalkan juga Ayahku. Ayah ini Fatimah teman saya dan Ayahnya.”
     Fatimah menyalami Ayah Dodo sambil menyebutkan nama dan memberi jalan Ayahnya untuk berkenalan dan bersalaman dengan Ayah Dodo. Ayah Dodo senyum dan menyodorkan tangannya ke Ayah Fatimah.
     “Abusono….” Kata lelaki berkacamata tebal itu singkat.
     “Ahmad Najib Burhani. Tinggal dimana?” Tanya Ahmad Najib Burhani dengan tangan masih salaman, seperti sedang memahami orang yang sedang dikenalkannya. Karena ia merasa tiba-tiba mengenal wajah Abusono meski memakai kacamata tebal. Ingatan tuanya seperti memutar rekaman di kepalanya tentang wajah Abusono di masa lalunya. Dan ia meyakini apa yang dilihatnya tidak berbeda dengan ingatannya. Mengenal wajah seseorang adalah pekerjaannya, maka melihat wajah Abusono menjadi sangat mudah, meskipun wajah itu sudah berkeriput, berkacamata tebal dan kepala sedikit botak.        
     “Di Klampok….”
     “Purworejo Klampok?”
     “Ya...”
“Asli dari Banjarnegara?” Ahmad Najib Burhani berusaha terus meyakinkan dirinya agar tidak salah dengan terus bertanya untuk mendukung keyakinannya siapa orang yang berada didepannya.
     “Tidak. Saya dari Randublatung.” Jawab Abusono mulai tidak nyaman dengan cara menatap Ahmad Najib Burhani.
     “Randublatung? Pemalang?”
     “Bukan. Tuban.”
     “Oh Tuban ya? Tentu saja Randublatung di Tuban.” Ahmad Najib Burhani berusaha menutupi kekagetannya yang besar.  “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
     “Saya yakin tidak.” Abusono menjawab cepat dengan senyum ramah.
     “Saya dulu punya banyak teman dari Jawa Timur, termasuk dari Tuban, sewaktu masih di Pejambon.” Kata Ahmad Najib Burhani seperti membuka diri lebih jauh.
     “Pejambon?” Abusono mengernyitkan dahinya. “Oh Jakarta…,” lalu mukanya berubah menjadi kaget sendiri seperti tersadar dari sesuatu, dan tiba-tiba ia berkata gugup, “Ehm maaf, kami masih ada keperluan lain. Kami permisi dulu.” Wajah Abusono sangat cepat berubah menjadi tegang dan tangannya menggaet lengan anak lelakinya untuk segera pergi dari tempat itu.
     “Sampai ketemu Fatimah,” kata Dodo buru-buru berpamitan.
     Bagi Fatimah tidak ada yang aneh dan ganjil. Tapi tidak bagi Ahmad Najib Burhani. Tangannya kemudian meraba mangkok bakso di meja Abusono dan ia langsung mendapatkan kesimpulan.
“Temanmu pergi buru-buru, Fatimah.”
     “Maksud Ayah?”
     “Makanan mereka masih panas.”
     Fatimah melihat bakso dalam mangkok itu memang masih penuh dan panas. Mungkin baru dua tiga suap dimakan Abusono.
     “Kau sudah lama kenal temanmu itu?” Ahmad Najib Burhani terus melihat kepergian mereka. Rasa penasarannya semakin tinggi dan keyakinannya akan siapa Abusono semakin mantap.
     “Baru sekitar enam bulan. Dodo bekerja di Dinas Kesehatan.”
     “Dia juga bilang bukan berasal dari daerah sini?”
     “Saya tidak pernah bertanya soal itu. Jarang saya bertemu dengan dia, apalagi ngobrol sama dia. “ Fatimah merasa ada yang aneh dengan sikap Ayahnya. “Memangnya kenapa? Ayah mengenal Ayahnya Dodo?”
     “Mungkin.” Ahmad Najib mencium tangannya. “Wajahnya mengingatkan kepada seseorang yang dulu sangat aku kenal. Dulu sekali, sekitar empat puluh tahun yang lalu.”
     “Saat masih di Jakarta?”
     “Saat masih di Jakarta.”
     “Rasanya mustahil, Ayah.”
     “Menurutmu begitu?”
     “Dodo bilang, sebelum dia pindah tugas kemari, mereka tinggal di Aceh.”
     “Di Aceh? Bisa jadi begitu, tapi bisa jadi sebelum mereka berada di Aceh, mereka tinggal di Jakarta. “ Ahmad Najib Burhani terus membuat teori sendiri. “Tapi kau lihat tadi, saat Ayah menyebut Pejambon, dia langsung tahu bahwa itu nama tempat di Jakarta. Apakah itu  suatu kebetulan?”
     “Mungkin Pak Abusono dulu pernah tinggal atau bekerja di sekitar daerah Pejambon.”
     “Itu maksudku. Lelaki itu pernah tinggal di Jakarta. Empat puluh tahun yang lalu dia memang ada di Jakarta. Dan namanya juga mungkin bukan Abusono.”
     Fatimah semakin tidak mengerti pembicaraan Ayahnya. Ia sudah mulai menikmati hidangan didepannya. Tidak peduli dengan ketegangan yang menyergap Ayahnya tiba-tiba.
“Suaranya sangat aku hafal. Masih sama seperti dulu.” Ahmad Najib Burhani masih berkata lagi untuk meyakinkan dirinya. “Bau badannya bahkan sepertinya tidak aneh bagiku. Juga parfum yang dia pakai. Masih sama.”
     “Saya semakin tidak mengerti dengan maksud Ayah.”
     “Ayo habiskan minumanmu. Setelah ini Ayah harus menelpon ke Jakarta.” Ahmad Najib Burhani lantas duduk kembali untuk menghabiskan es dawet ayu. Ia tidak akan bisa lagi menikmati segarnya es dawet ayu yang sudah lama tidak dinikmatinya. Tapi seseorang yang baru saja ditemuinya, membuatnya harus segera melakukan hubungan rahasia dengan Jakarta. Meskipun ia tidak seratus persen yakin bahwa lelaki itu adalah orang yang sangat penting, yang keberadaannya sangat misterius. Bukan hanya buat dirinya sendiri. Tapi buat teman-temannya di Jakarta.
(bersambung) 

Thursday, October 28, 2010

1998 (SELESAI)


EPILOG


Desa Somerset, Inggris.
Beberapa minggu kemudian.
Di sebuah ruangan pondok wisata, yang dibangun untuk menahan gempuran salju yang turun sepanjang musim dingin, sedang terjadi pertemuan. Tungku perapian menyala menghangatkan seluruh ruangan. Tapi semua yang hadir dan duduk mengelilingi meja persegi itu, tetap memakai baju hangat yang mahal. Sepertinya mereka tidak terbiasa dengan hawa bermusim empat.
Sang Ketua, duduk diujung meja. Seorang laki-laki gagah berumur empat puluh tahun, tapi nampak lebih muda dari usianya. Ia sedang bicara dengan gaya khas orang Jawa, “Gerakan utama telah berhasil, tapi kita akan membuat gerakan yang lebih diperhitungkan. Saya telah mendapat rekomendasi  untuk menjadi Ketua dan organisasi gerakan ini telah dirombak secara keseluruhan.”
Semua yang hadir mendengarkan dengan wajah serius. Mereka tidak saling mengenal satu sama lainnya dan datang dari seluruh penjuru dunia. Mereka adalah laki-laki dengan empat wanita berwajah cantik dan bersih, berumur tidak lebih dari empat puluh tahun. Menampakkan diri sebagai orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berkelas.
“Rencana gerakan kita tetap menjadikan Indonesia sebagai sasaran gerakan kita, karena beberapa agenda kita belum tercapai, terutama untuk daerah di luar Jawa yang ingin melepaskan diri dari Jakarta. Saya jelaskan satu aturan permainan, kita akan menggunakan nama samaran untuk berhubungan. Dan setiap pertemuan sesuai dengan prosedur, tidak ada rekaman, dan tidak akan pernah didiskusikan. Terimakasih, ladies and gentlemen.

SELESAI

Tuesday, September 28, 2010

1998 (21)


BAB DUAPULUHTUJUH



Credentials Room, Istana Merdeka,
21 Mei 1998 ; 08:50 WIB
Ruangan itu terasa sangat hening.
Biasanya ruangan itu nampak sangat ceria, karena selalu digunakan Presiden untuk melantik pejabat tinggi negara dan menerima duta besar asing baru. Biasanya ruangan itu dipenuhi para pembesar negara beserta keluarganya, yang kemudian akan diikuti dengan resepsi kenegaraan. Biasanya ruangan itu akan diisi dengan sendau gurau dan bayangan masa depan yang gilang gemilang.
Tapi tidak pagi itu.
Ruangan itu terasa sangat hening.
Kalau ada sebuah jarum jatuh ke lantai, barangkali akan terdengar nyaring suaranya. Deretan puluhan kamera televisi, kamera foto dan berpuluh pasang mata, berdiri berjajar menunggu dengan isi kepala penuh. Mata mereka lebih banyak bekerja daripada mulut mereka yang terkunci rapat.
Para wartawan yang datang mewakili seluruh penjuru dunia, datang untuk meliput suatu peristiwa terbesar dalam sejarah Indonesia.  Pergolakan yang terjadi, telah mengguncang perhatian masyarakat di seluruh pelosok negeri dan penjuru dunia. Inilah puncak pergolakan itu.
09:02:45 WIB
Presiden berambut putih yang telah berkuasa lebih dari tigapuluh tahun itu telah berdiri diatas mimbar. Tampak sangat tenang sambil memakai kacamatanya. Dengan suara lembutnya, ia membacakan naskah pidato yang telah di susun sebuah tim pakar. Sampai akhirnya ia berkata, “….saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden….”
Tidak ada reaksi apapun di ruangan megah itu.
Tapi di gedung wakil rakyat, massa mahasiswa bersorak. Gemuruh membahana mengisi langit Ibukota. Lagu kebangsaan segera terdengar bergema. Bendera merah putih yang selama beberapa hari dikibarkan setengah tiang, segera dinaikkan menjadi satu tiang penuh. Massa mahasiswa bergerak, berlari, berjoget. Gedung wakil rakyat itu telah menjadi panggung pertunjukan paling spektakuler.
***
Pada suatu ruangan di gedung tua, para Purnawirawan Jenderal yang duduk menghadapi pesawat televisi, sedang   menyunggingkan senyum. Hartawan duduk terdiam, dengan bibit airmata muncul di sudut matanya. Ia tidak tahu untuk siapa harus menangis. Untuk perjuangan mahasiswa, untuk Inaya atau untuk istrinya.
***
Didalam rumah besar itu, Nyonya Hartawan duduk di kursi goyang sendirian. Memakai baju hangat dan syal di lehernya. Ia tidak menangis, karena telah kering airmatanya. Pandangan matanya kosong, sekosong ruangan itu.
***
Kuburan tempat Fajar di makamkan masih seperti semula. Tanah itu masih merah dan penuh taburan bunga. Semarak warna-warni. Ibu Fajar dan dua adik Fajar bersimpuh menangis menggenggam tanah. Mereka tidak tahu untuk siapa menangis. Untuk perjuangan Fajar, kehilangan kepala keluarga atau kesialan hidup mereka. Mereka hanya bisa menangis karena sumber airmata belum kering.
***
Hadi yang duduk di depan pesawat televisi, telah menghilangkan semua suka dan duka. Ia tertawa terbahak-bahak, seperti orang yang baru memenangkan lotre. Rosita duduk di tepi jendela dan sedang menulis di Notebook-nya. Tangannya bergerak cepat memainkan tombol keyboard. Di layar tertulis, “Sejarah akan terus terulang. Ia seperti pusingan waktu dan peristiwa. Tidak ada keabadian didunia yang fana ini, tidak juga untuk sebuah kekuasaan. Dunia adalah tragedi dalam sebuah siklus tertutup.”
Handphone didekat notebook berdering. Rosita meliriknya dan melihat layar siapa yang menelpon. Melihat nama ROY, ia berpikir untuk tidak mengangkatnya. Tapi sebelum dering terakhir, ia sudah mengangkatnya tanpa mengucapkan apa-apa. Hanya suara Roy yang terdengar di telinganya, “Kita dipanggil chief untuk siaran.”
Klik.
(bersambung)

Saturday, September 4, 2010

1998 (20)

BAB DUAPULUHENAM



20 Mei 1998
Ibukota mencekam seperti dalam suasana perang. Sejumlah barikade penghalang sudah menutup semua jalan menuju jalan Merdeka Utara yang merupakan wilayah Istana Kepresidenan. Pada semua sudut dijaga ketat oleh tentara yang menyandang senapan mesin. Bertaburan kendaraan lapis baja dengan moncong siap memuntahkan peluru.
Jalan-jalan utama Ibukota mengalami kelumpuhan. Aktivitas di seluruh kota berhenti total. Warga masyarakat lebih suka tinggal di dalam rumah, menunggu ketegangan selanjutnya. Ada desas-desus yang beredar bahwa akan ada pengerahan massa di sekitar Tugu Monumen Nasional untuk memperingati hari bersejarah, yaitu Hari Kebangkitan Nasional. Tapi sepanjang pagi itu,  televisi dan radio telah menyiarkan pembatalan acara pengerahan massa dengan satu alasan jelas: aparat keamanan telah menunggu dengan komando yang tidak bisa ditawar.
Siapa yang berani melawan kekuatan senjata kalau tidak benar-benar siap untuk mati. Persoalannya juga tidak hanya sebatas hilangnya nyawa, tapi sebuah keputusan yang selalu berpihak. Bukan lagi siapa yang berkuasa berhak mengeluarkan perintah, tapi siapa yang kuat dialah yang menggenggam kemenangan.
Dari pagi hingga malam televisi dan radio terus memberitakan perkembangan-perkembangan yang sedang terjadi didalam Istana Merdeka. Tuntutan mahasiswa agar Presiden mengundurkan diri dan diadakannya Sidang Istimewa, menjadi perdebatan yang terus menerus terjadi.  Sebuah jabatan tertinggi sedang dipertaruhkan diatas papan hitam dan putih.
Menjelang pukul dua belas malam, di sekitar Lapangan Tugu Monumen Nasional, moncong-moncong kendaraan lapis baja bergerak berputar dan mengarah lurus ke gedung Istana Merdeka.  Radio-radio aparat keamanan terus menerus memberikan perintah komando yang setiap detik bisa berubah.  
Tinggal menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. 
(bersambung)

Tuesday, August 24, 2010

1998 (19)


BAB DUAPULUHLIMA



18 Mei 1998
Telah datang utusan dari berbagai Universitas di Ibukota. Kejadian yang menimpa teman-teman mereka di Universitas Trisakti menumbuhkan semangat untuk merapatkan barisan. Di ruangan itu sudah penuh dengan aneka warna jaket almamater para mahasiswa. Pada dinding ruangan terbentang spanduk besar bertuliskan FORUM MAHASISWA BERSATU. Mereka duduk membentuk formasi rapat akbar. Kilatan lampu blitz dan sorotan lampu kamera, ikut mewarnai ruangan besar itu. Seperti sedang terjadi suatu rapat penting yang ditunggu oleh setiap orang keputusannya. Inaya duduk disamping Jarot yang sedang berdiri memberikan pengalamannya.
“Saya harus tegaskan satu hal, perjuangan kita sangat mengandung bahaya, seperti  yang pernah saya alami.” Jarot bicara berapi-api. “Tapi justru untuk hal yang berbahaya itu, kita harus terus maju. Saya pikir sudah saatnya kita membuat gerakan yang lebih diperhitungkan.”
Semua setuju untuk melakukan gerakan menuju satu sasaran yang paling diperhitungkan, yaitu gedung wakil rakyat, gedung DPR/MPR. Gerakan yang sebenarnya sudah dimulai ketika terjadi penembakan terhadap Fajar. Kegagalan ketika itu telah membuka mata bahwa gerakan menuju gedung wakil rakyat harus terus dilakukan. Gedung yang nyaris tidak tersentuh oleh siapapun, kecuali oleh orang-orang sakti.

Siang harinya, saat matahati berada di ubun-ubun kepala, suara gemuruh dan sorak mahasiswa membelah jalan utama Ibukota. Mobil-mobil mewah yang sedang berlari, menyingkir oleh serbuan bis-bis kota yang dipenuhi mahasiswa dan spanduk-spanduk. Jalan utama yang setiap hari menjadi simbol kesibukan Ibukota, telah berubah menjadi konvoi panjang massa mahasiswa. Dari segala penjuru Ibukota, bis-bis kota datang dan bertemu di depan gerbang gedung wakil rakyat. Dan mereka telah disambut dengan barisan aparat keamanan yang berlapis-lapis.
Mahasiswa tahu betul mereka akan berhadapan dengan aparat keamanan. Semenjak mereka turun ke jalan, mereka sudah akrab untuk saling berhadapan.  Saling pasang badan. Siapakah yang menghendaki itu, kecuali sebuah komando yang entah dari mana datangnya. Karena seringkali tiba-tiba, massa mahasiswa dan aparat keamanan sudah saling berjibaku. Dan selalu pihak mahasiswa yang mengalami kekalahan total, karena tidak bersenjata.
Matahari yang terik diatas kepala membuat ketegangan memuncak. Masing-masing pihak bersikeras dengan tuntutannya. Tapi semangat mahasiswa yang sudah memuncak, akhirnya berhasil merobohkan pagar aparat keamanan. Benteng aparat keamanan jebol dan massa mahasiswa bersorak berlarian seperti ayam yang dibukakan pintu kandangnya. Menghirup udara kebebasan setelah di kurung dan hanya diberi makan.
Setelah menjebol barisan aparat keamanan, mahasiswa melanjutkannya dengan menjebol pagar gedung wakil rakyat itu hingga roboh. Benteng yang tidak pernah tersentuh itu akhirnya bisa ditembus juga. Para mahasiswa bersorak berlarian memasuki halaman yang begitu luas.  Seperti memasuki arena bermain yang baru pernah mereka rasakan. Mereka segera menguasai segenap sudut dari gedung itu. Beberapa jam kemudian, para mahasiswa memanjat ke kubah gedung megah itu dan mengibarkan bendera merah putih. Seperti seorang pendaki gunung yang berhasil mencapai puncak.
Tiga jam kemudian, jalan-jalan utama Ibukota telah di blokir oleh kendaraan-kendaraan lapis baja militer. Para tentara memasang pagar kawat berduri di persimpangan jalan-jalan utama Ibukota. Mereka menyandang senapan mesin, siap untuk ditembakkan karena wewenang untuk itu telah diberikan.
Ketika malam hari tiba, para mahasiswa masih datang berbondong-bondong ke gedung wakil rakyat itu. Suasananya mirip pasar malam. Aksi pidato, pembacaan puisi dan atraksi mahasiswa lainnya digelar. Spanduk dan bendera dibentangkan. Gedung wakil rakyat itu sedang menuntut menjadi pusat perhatian.
***
Rosita mengutuk atasannya yang membuatnya tidak bisa berada diantara massa mahasiswa. Baginya kejadian yang sedang berlangsung didepan matanya adalah keberhasilan besar gerakan mahasiswa. Ia yakin tuntutan mahasiswa yang lebih besar sedang berlangsung, dan ia siap menunggunya dengan kejengkelan yang luar biasa.
 Hadi sedang mengenang peristiwa tahun 66 di kepalanya. Ia melihat layar televisi dengan massa mahasiswa berdemonstrasi, seperti kembali pada masa ketika ia dulu juga ikut dalam barisan mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang dimulai ketika itu menunjukkan bahwa, kampus bukanlah menara gading. Kampus lahir bukan hanya sebagai bengkel pemikiran ilmiah, tapi untuk dan berada ditengah-tengah masyarakat.
(bersambung)

Tuesday, July 27, 2010

1998 (18)


BAB DUAPULUHEMPAT


Seperti yang telah diperkirakan jauh sebelumnya, Rosita Ibrahim akhirnya menerima surat pemecatannya. Roy Ambyah menyodorkan surat itu dengan wajah sedih seolah kehilangan kekasih yang sangat di cintainya. Rosita membacanya tanpa satu katapun tertinggal. Ia pernah membaca surat semacam itu, tapi yang ini isinya membuat batok kepalanya langsung menguap. Atasannya itu tampak berjalan kesana kemari sambil menyembunyikan kesedihan wajahnya.
“Saya terima keputusan ini.” Rosita bersiap keluar ruangan.
“Kita perlu bicara.”
“Saya pikir surat ini sudah jelas. Datang dari mabes agar saya dipecat!”
“Kamu juga tahu disitu termasuk saya.”
“Apalagi yang bapak tunggu disini. Chief toh tak bakal bisa menolong kita.”
“Masalahnya tidak sesederhana itu.”
“Bagi saya justru terlalu sepele. Kalau berpikir untuk menuntut, betapa gobloknya pikiran itu.”
“Kita akan diam saja?”
“Kakek saya pernah bilang, yang waras yang harus mengalah.” Rosita meraih pintu keluar, tapi ia masih melanjutkan bicara, “Saya merasa saya masih waras.”
Roy tampak sangat marah.
Rosita tahu gerak-geriknya telah lama di awasi. Bukan oleh atasannya yang berwenang apakah kinerjanya baik atau mengecewakan, tapi oleh suatu instansi pemerintah yang sama sekali tidak ada hubungannya. Keputusan yang justru tidak datang dari penilaian atasannya sendiri, tapi penilaian aparat keamanan. Kemerdekaan di negeri ini ternyata hanya dimiliki sebagian kecil golongan. Dan ia bukan termasuk yang beruntung memperoleh kemerdekaan yang diagung-agungkan itu, yang katanya datangnya dari kekuasaan Tuhan.
Siapakah yang ber Tuhan dan siapakah yang menghianati adanya peran Tuhan. Isi kepala Rosita bertambah satu pengetahuan. Ia perlu segera ke tempat kakeknya untuk menyimpan pengetahuan itu. Tapi kakeknya tampak sekali sedang berduka. Ia duduk ditengah ruangan yang gelap. Ketika Rosita hendak menyalakan saklar lampu, dihardiknya dengan keras.
“Biarkan lampu itu mati. Negeri ini sedang gelap.”
“Hari ini saya dipecat.”
“Kamu hanya kehilangan pekerjaan, tapi aku telah kehilangan segala-galanya.” Hadi seperti mau menangis. “Sekarang aku juga kehilangan Ong.”
“Apa yang terjadi dengan Pak Ong?”
“Dia mati kena serangan jantung mendengar cucunya di perkosa di Glodok.” Sekarang Hadi benar-benar menangis.
Baru kali ini Rosita melihat kakeknya menangis dan ia tidak bisa menahan bibit airmatanya sendiri untuk keluar. Tangis terakhir kakeknya ia lihat ketika neneknya meninggal. Pada saat-saat tertentu, kakeknya adalah laki-laki rapuh.
“Tidak perlu kau tangisi,” Hadi sudah bisa menghentikan tangisnya seketika. “Negeri ini masih butuh banyak darah lagi sebagai tumbal.”
“Saya akan meneruskan menulis buku kakek.”
“Itu mungkin lebih baik. Di negeri ini perintah dilaksanakan. Orang mati."
"Tapi kenapa?"
"Seringkali alasan tidak diperlukan."
"Apa itu berarti ada alasan lain dibelakang ini?"
"Kamu masih punya kesempatan mencari jawaban itu sendiri." 
Apa yang selama ini Rosita lakukan, itulah yang harus dia lakukan. Soal kejujuran tergantung seberapa banyak kebohongan yang ia sembunyikan. Kecuali untuk soal pribadi, Rosita merasa telah jujur sepanjang karirnya.  Mungkin kejujuran itu juga yang membuatnya dipecat dari pekerjaannya. Mungkin juga kejujuran yang membuat Fajar harus mati diujung senapan.
***
Inaya telah memutuskan untuk meneruskan apa yang selama ini Fajar lakukan. Ia dipaksa untuk memulai hidup baru. Apa yang akan dihadapinya kelak ia tidak pernah tahu. Baginya yang penting ia harus melakukan sesuatu yang berarti. Satu-satunya yang berarti sekarang adalah menggalang semangat sesama teman seperjuangan.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya harus lebih berarti dan diperhitungkan,” Inaya bicara didepan teman-temannya. Ia telah mendapat simpati untuk tampil sebagai penerus Fajar.
Seorang mahasiswa datang dengan tergesa-gesa dan nampaknya membawa berita, “Ada berita bahwa Jarot sudah ada di rumah orangtuanya.”
Ruangan itu langsung disergap kegaduhan.
“Dia baik-baik saja?” Inaya nampak sangat antusias.
“Yang jelas dia sehat.”
“Ada berita kapan dia akan kembali kesini?”
“Mungkin kita harus membicarakan bagaimana Jarot bisa sampai disini dengan selamat,” Seorang mahasiswa lain memberikan usulan.
“Untuk itu kita ke Kontras.” Inaya memberikan jawaban yang disetujui oleh semua yang hadir.
Jarot menjadi satu-satunya benang merah perjuangan mereka, setelah Fajar meninggal. Paling tidak Inaya merasa Jarot bisa membuka tabir apa yang telah terjadi dengan  Fajar. Ia telah banyak mendengar cerita Fajar tapi tidak pernah selesai. Jarot akan bisa melanjutkan sisa cerita Fajar yang dibawanya ke liang kubur.    
Seorang teman mahasiswa memberitahu Inaya bahwa ia ditunggu ayahnya di luar. Inilah yang tidak sedang diinginkannya. Ia sudah memutuskan untuk tidak pulang ke rumah untuk jangka waktu yang tidak bisa diperhitungkannya. Ia selalu pulang ke rumah Fajar, karena disana ia ingin berbagi kesedihan.
Inaya melihat sosok ayahnya sudah berbeda. Ia merasa pernah mengenal pada suatu masa yang lama, yang memberinya kesempatan menyebutnya bapak. Yang tidak berbeda adalah tatapan itu. Tenang. Itu yang paling disukai Inaya dari ayahnya.
“Bapak tahu kamu harus meneruskan perjuangan Fajar. Tapi pulanglah.” Nadanya meminta pengertian.
“Saya akan pulang setelah semua ini selesai.”
“Percayalah, ini tidak akan selesai secepat apa yang kalian inginkan.” Kali ini nadanya tegas. “Ibumu sakit.”
Inaya merasakan dadanya sakit seperti ditusuk.
“Kamu terus disebutnya.”
“Masih ada Mbak Noni.”
“Noni juga sakit. Jason meninggalkannya begitu saja setelah pecah kerusuhan.”
Dada Inaya semakin sakit. Bibit airmata muncul begitu saja. Ibu dan Noni telah begitu membuatnya kecewa. Sampai ia harus berpikir untuk memutuskan hubungan dengan mereka. Tapi ternyata ia tidak bisa. Ibu dan Noni telah menjadi pemicu semangat bahwa ia harus seperti sekarang. Hartawan menekan bahu Inaya, lalu pergi. Inaya menangis sendirian
(bersambung) 

Monday, July 12, 2010

1998 (17)

BAB DUAPULUHTIGA
 

Pagi itu langit berwarna kelam, seperti sengaja mengiringi suasana duka di bumi. Iring-iringan pelayat itu begitu panjang. Sebuah karnaval kematian menuju pemakaman yang telah penuh sesak. Seperti pemakaman seorang pahlawan besar dan disesali kematiannya.
Rosita tampak pucat karena kurang tidur, tapi ia memaksakan diri berdiri diantara ratusan orang pelayat yang mengantarkan keranda jenazah Fajar Sidik. Ia memaksa Roy Ambyah untuk siaran live, dengan risiko apapun. Ia rela kalau siarannya kali ini adalah siaran terakhirnya. Ia telah mempertaruhkan segalanya untuk karirnya. Bahkan nyawanya yang selembar telah ia siapkan untuk dicabut. Ia sangat siap untuk mati. Ia bergidik. Emosinya benar-benar menguasai seluruh kesadarannya. Sejauh itu ia benar-benar tidak tahu untuk apa dan siapa serta kenapa ia bersedia berkorban demikian jauh.
“Hari ini adalah saksi betapa sebuah kematian adalah sebuah kehilangan besar,” Rosita memulai siarannya setelah kamerawannya memberi kode mulai. “Fajar yang gugur sebagai pahlawan, sepantasnya sebutan itu ditujukan kepadanya, adalah bukti bahwa rezim penguasa yang mengandalkan pendekatan keamanan harus dilawan!!”

Massa mahasiswa yang bercampur dengan masyarakat, berebut keranda jenazah Fajar. Ikat kepala mereka bertuliskan REFORMASI. Inaya berjalan memapah Ibu Fajar dibantu dua adik Fajar yang terus menerus menangis. Inaya tidak peduli melihat ayahnya berada diantara para purnawirawan yang datang melayat. Bahkan andai ada Ibunya, ia tidak perlu menangis di bahunya.
Orangtuanya tidak pernah mengerti apa yang sedang di lakukannya. Mereka hanya merasa memiliki dan menguasai, tapi tidak pernah memberi penawaran.  Orangtua seringkali menginginkan anak-anaknya menjadi kebanggaannya. Tapi baginya justru itu kesalahan terbesar orangtua.
Puluhan lampu kilat, sorotan lampu kamera, taburan bunga, teriakan tangis dan kumandang doa, mengiringi kain kafan putih masuk ke dalam liang kubur. Jutaan mata di lain tempat sedang melihat hal yang sama di televisi. Barangkali di sebuah warung nasi pinggir jalan. Barangkali di terminal bis yang berisi preman dan pencuri. Barangkali di sebuah kamar sumpek Pelacur. Barangkali di sudut desa terpencil di kaki bukit.
Langit di atas mengandung badai.
***
Di sebuah ruangan, di  dalam gedung tua, wajah-wajah tua tampak murung. Hartawan duduk diantara para Purnawirawan yang telah berusia diatas tujuhpuluh tahun. Seorang laki-laki berkacamata yang rambutnya telah memutih semua  berdiri dengan wajah tegang.
“Kita harus menentukan sikap.” Suaranya gemetar. “Tidak bisa kita terus menerus diam tanpa membuat keputusan yang diperhitungkan pihak penguasa.”
“Apakah kita masih punya suara?” Seorang Purnawirawan tampak putus asa, dengan sisa kesedihan yang dalam.
“Hanya ada dua pilihan,” Hartawan berdiri dengan sigap. “Kita yang hancur atau mereka memilih berhadapan dengan kita.”
Wajah-wajah tua itu menjadi tegang.
Seorang Purnawirawan angkatan Laut menggosok-gosokkan telapak tangannya. “Berapa kekuatan yang kita miliki?”
“Siapa bilang kita akan melawan dengan senjata.”
“Ya, kita tidak akan melawan dengan senjata,” Laki-laki berambut putih itu menegaskan. 
Keputusan pun telah dibuat. Mereka yang dulu mempunyai kekuasaan untuk memberi perintah perang kepada anak buahnya, sekarang harus membuat komando perang untuk diri mereka sendiri. Dan musuh yang mereka hadapi tidak lain adalah generasi penerus mereka. Dunia militer adalah dunia yang tidak mengenal kata tidak. Putih harus putih, hitam harus hitam. Siapa yang melawan dan merubahnya, bukan termasuk dunia militer.
Akan tetapi usia ternyata bisa merubah kata tidak. Perang tetap menjadi perang, tapi otak waras masih dipergunakan untuk membuat pertimbangan bahwa hitam itu buruk dan putih itu baik. Dan berapa banyak otak waras seperti itu yang bersemayam di kepala para Purnawirawan.
 (bersambung)

1998 (16)


BAB DUAPULUHDUA


Televisi dan radio terus menerus memberitakan bahwa Ibukota telah mengalami bumi hangus secara terjadwal. Ribuan massa yang tidak jelas darimana datangnya, sepanjang hari telah turun ke jalan-jalan di wilayah pusat perdagangan dan perkantoran. Mereka mengamuk, membakar mobil,  mengajak massa masyarakat untuk menjarah toko dan kemudian membakarnya. Jalan-jalan raya penuh dengan bongkahan api dari bangkai mobil dan barang mewah lainnya. Tidak ada penjelasan di televisi dan radio alasan kejadian itu semua. Mereka hanya memberitahu. Tidak ada yang tahu tentang alasan itu.
Tapi Hartawan tahu kenapa Inaya mengeluarkan airmata untuk Fajar yang terbujur kaku di ruang operasi. Ia tidak tahu apakah istrinya dulu pernah mengeluarkan airmata kecuali saat upacara perkawinan mereka. Untuk masalah keluarga ia yakin istrinya pernah menangis, tapi untuk dirinya sendiri ia telah lupa apakah pernah menangisinya.
“Fajar mengaku diculik oleh sekelompok orang yang diyakininya sebagai tentara. Dia bilang dia disiksa seperti binatang, bahkan ada orang yang diculik ditembak kepalanya sampai pecah….” Inaya bicara dengan lancar meski airmatanya terus keluar.
Hartawan diam, menyimpan duka dan marah.
“Saya tidak tahu kita sebenarnya hidup di negeri apa.” Suara Inaya semakin tegas. “Saya yakin teman-teman saya sedang mempertimbangkan apakah mereka harus menghormati mereka yang katanya pelindung rakyat.”
Hartawan merasa harus pergi. Ubun-ubunnya sudah menguap.
“Kalau mereka yakin bahwa tindakan biadab mereka akan berlalu tanpa adanya tindakan hukum, kita boleh mengharapkan lebih banyak mahasiswa yang mati tertembak!" Inaya merasakan lega didadanya.
Inaya tidak mencegah ayahnya pergi. Ia sudah puas.

Tapi Rosita belum puas. Ia masih berkeliaran di jalan raya seperti binatang malam mencari mangsa berikutnya. Walaupun berkali-kali ditelepon lewat handphone untuk kembali ke kantor, Rosita tidak mengindahkannya. Ia merasa harus selalu di lapangan untuk meliput. Malam sudah mencekam. Lampu kota telah berubah menjadi bola api-bola api yang bertaburan dimana-mana. Kondisinya masih lebih baik dari Harry yang benar-benar kacau. Tangan dan matanya bukan mesin seperti kamera yang ditentengnya.
Rosita tahu rekannya itu sudah kepayahan. Dering handphone untuk yang kesekian puluh kalinya, akhirnya membuatnya berteriak kesal, “Ya, kami segera datang!” Ia menuju Harry, “Kita harus cepat menyingkir. Tentara mau datang!”
“Apa?!”
“Aku harus siaran!”
"Tapi sayang sekali....."
"Kita dipanggil pulang!!" Rosita sudah bergegas berlari. Harry mau tidak mau mengikutinya sambil masih terus merekam gambar apasaja yang bisa diambilnya. 
***
Beberapa jam kemudian, jalan-jalan utama Ibukota sudah dipenuhi tentara dan mobil-mobil lapis baja. Pagar kawat berduri melintang di mana-mana, menutup ruas jalan dan semakin menegaskan kepada setiap orang bahwa Ibukota sedang dalam bahaya. Mobil-mobil pribadi entah bersembunyi di benteng mana atau bahkan telah melarikan diri ke lapangan udara dan segera terbang ke negeri impian. Ketegangan menjalar di setiap sudut kota. Setiap detik berlalu dengan kecemasan. Televisi dan radio terus memberitakan ibukota dilanda kerusuhan dan aparat keamanan belum bisa mengatasinya.  
***
Rosita tidak pernah kembali ke kantornya. Tapi ke rumah sakit. Ia nyaris tidak bisa menguasai dirinya ketika mengetahui bahwa Fajar meninggal. Ia menangis sejadi-jadinya melihat laki-laki muda itu terbujur kaku. Ia tidak tahu menangis untuk Fajar atau untuk kemalangan hidupnya. Ketika memutuskan menjadikan Fajar tokoh reportasenya, ia tidak pernah menginginkan kisah tragis seperti itu. Pemuda itu mempunyai naluri yang peka, tapi nasib hidupnya terlalu buruk. Ia nyaris jatuh cinta kalau saja ia tidak tahu Inaya sudah menjadi pilihan hati pemuda itu.
 Beberapa mahasiswa sedang membacakan ayat Al Qur’an.
Inaya menangis dengan mata sudah bengkak. Badannya menggigil. Entah dimana pikirannya sekarang. Orang yang dicintainya dan pelabuhan terakhir dimana hatinya tertambat, telah mati dengan cara yang sangat menyedihkan. Hilang sudah bunga cinta yang sedang mekar di dadanya. Suara tangisnya tidak lagi bisa keluar karena tenggorokannya telah kering. Airmatanya nyaris habis dan tenaga di tubuhnya lenyap. 
Ibu Fajar telah pingsan berkali-kali sampai tubuhnya sangat lemas. Anak kebanggaannya telah pergi menyusul ayahnya ke alam kubur. Berakhir sudah babak kehidupan yang membanggakannya. Ia menyesali kenapa sempat menghalangi hubungannya dengan Inaya. Kalau boleh memilih sekarang, ia rela kehilangan pekerjaannya asal anak lelakinya bisa bahagia dengan Inaya. Bahkan seandainya ia harus di penjara karena kemiskinannya akibat tuntutan majikannya sebagai ganti Fajar menikah dengan Inaya, akan ia terima dengan senang hati. Ia rela melakukan apasaja untuk kebahagiaan Fajar. Walaupun nyawanya sebagai gantinya.
 Hawa kematian sedang memenuhi sudut-sudut rumah sakit.
***
Rosita mengajak Inaya menyingkir karena tidak bisa bertahan lama di ruang kematian itu. “Kita sama-sama menyayangi Fajar, “ Rosita membuka kebisuan.
“Atau jangan-jangan kita hanya simpati pada kesialan hidupnya.”
Rosita kaget mendengar jawaban Inaya. “Yang saya tahu kamu sangat mencintainya.”
“Fajar membuka mata saya bahwa cinta kami hanya keniscayaan jaman. Sebuah sejarah yang akan terus terulang.”
Negeri ini mempunyai banyak kisah cinta seperti Fajar dan Inaya. Perbedaan kelas sosial telah mengoyak-oyak dua manusia yang saling mencintai. Padahal perkara cinta adalah persoalan hati seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kaya dan miskin menjadi dua hal yang selalu dipertentangkan. Kemiskinan bagi si kaya adalah ikhtiar yang selalu di jauhkan, sedang bagi si miskin kekayaan bukan hanya ikhtiar yang selalu diusahakan, melainkan seberapa banyak kekayaan harus diukur karena manusia selalu merasa tidak cukup.
Rosita melihat Inaya mencintai Fajar tanpa harus mengelak bahwa ia majikannya. Tapi berapa banyak kisah seperti itu yang harus berakhir dengan kebahagiaan? Kematian adalah jalan keluar yang sering dipilih untuk memisahkan keduanya. Rosita tidak tahu apakah Fajar sengaja disingkirkan untuk memutuskan hubungan cinta dengan Inaya. Alasan itu jelas ada, tapi betapa hebatnya rencana pekerjaan itu, karena  Fajar telah menjadi tokoh yang amat diperhitungkan.
“Dia menceritakan soal penculikannya?”
“Banyak, bahkan kalau saja boleh saya akan tunjuk hidung siapa pelakunya.”
Rosita benar-benar yakin sedang berada ditengah-tengah peristiwa besar. Celakanya ia tidak pernah bisa sampai kepada kesimpulan yang mendekati kenyataan. Selalu jalan buntu yang ditemuinya. Benar kata kakeknya, negeri ini mempunyai sejarah yang gelap, sejarah yang dimanipulasi dan ditutupi. Tidak untuk masa lalu, juga untuk masa sekarang dan mungkin juga masa depan.
Ia tidak bisa membayangkan generasi masa depan negeri ini tidak pernah benar-benar tahu sejarahnya sendiri. Mereka hanya akan jadi generasi yang hilang, yang tidak pernah tahu siapa pahlawan dan penghianat negeri mereka.      
(bersambung)