Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Monday, December 24, 2012

MAS KAREBET 16

BAB 16



NYAI Ageng Tingkir memeluk Karebet lama sambil menangis. Airmatanya membanjiri kulit pipinya yang mulai keriput. Tidak biasanya wanita itu menangis seperti itu. Memeluk anaknya seperti baru berpisah puluhan tahun. Karebet membiarkan Ibunya menangis dan memeluknya. Padahal mereka baru berpisah tidak lebih dari limapuluh hari. Ia biasa pulang dari menyepi dan bertapa dan sambutan Ibunya biasa saja. Tapi kali ini lain. Air mata Ibunya seperti tidak bisa berhenti. Tapi Karebet berusaha memahami bahwa Ibunya sangat menyayangi dirinya. Hanya mereka berdua yang masih saling memiliki. 
Nyai Ageng Tingkir duduk dan setelah bisa mengendalikan tangisnya,  ditatapnya wajah Karebet dengan lama, seolah Karebet akan hilang dari hadapannya.
“Aku takut tidak bisa melihatmu lagi,” kata Nyai Ageng Tingkir terbata. “Sudah hampir tujuh hari terakhir ini aku bermimpi kalau kamu kesulitan mendaki sebuah gunung, Karebet. ”
“Saya toh kembali dalam keadaan sehat wal afiat, Kanjeng Ibu.”
“Umur manusia bukan kita yang menentukan, tapi kamu satu-satunya yang aku miliki, Karebet.”
Tangis Nyai Ageng kembali pecah.
Karebet  diam.
     “Ibu tidak melarangmu mencari ilmu dengan meniru orang menyepi di gunung, hutan dan goa-goa, Karebet,” kata Nyai Ageng Tingkir lagi dengan pelan. “Tapi orang-orang itu belum menganut agamanya Kanjeng Nabi. Lebih baik kamu berguru kepada orang mukmin.”
     “Maafkan kalau yang saya lakukan, membuat Kanjeng Ibu tidak berkenan,” jawab Karebet sopan. “Tapi apa yang saya lakukan selama ini, karena saya ingin mendapatkan pegangan hidup saya.”
     “Berpeganganlah kamu dengan agama Allah.” Nada Nyai Ageng Tingkir meninggi. “Ibu banyak kenal guru agama yang sudah dalam ilmunya. Kamu tinggal pilih dimana kamu akan belajar kepada mereka.”
     “Saat ini, keinginan saya ingin bertemu Sunan Kudus.”
     Nyai Ageng Tingkir menatap Karebet dengan rasa kaget yang besar. “Apa maksudmu, Karebet?”
     “Saya ingin meminta keadilan kepada Sunan Kudus.”
     “Ya Allah, keadilan apa?” Begitu tinggi nada Nyai Ageng Tingkir sampai harus berdiri.
“Saya ingin meminta keadilan atas kematian ayahanda Kebo Kenongo.”
     Kekagetan Nyai Ageng Tingkir berubah mejadi kemarahan. “Siapa yang menghasutmu untuk berbuat kurangajar seperti itu? Kamu tahu siapa Kanjeng Sunan Kudus?” Nyai Ageng Tingkir bertanya tapi kemudian menjawabnya sendiri, “Beliau itu  orang suci. Kanjeng Sultan Demak saja sangat menghormatinya.”
     “Kalau memang beliau orang suci, kenapa harus membunuh?”
     Nyai Ageng Tingkir terdiam. Lama. Jelas sekali ia menahan kemarahannya yang tiba-tiba memuncak di kepalanya. Ia tahu anaknya tidak akan memulai sesuatu kalau tidak karena disebabkab sesuatu.
     “Aku marah mendengarmu mengatakan soal ini.”
     “Kenapa kanjeng Ibu harus marah?” Karebet tidak paham dengan sikap Ibunya. “Saya hanya ingin mendapatkan jawaban yang tidak saya ketahui soal kematian ayahnda Kebo Kenongo. Apakah salah mencari kebenaran?”
     “Carilah kebenaran, tapi jangan soal kematian ayahandamu.”
     “Kenapa saya tidak boleh mendapatkan kebenaran?” Karebet semakin tidak paham jalan pikiran Ibunya. “Kalau saya tidak bisa mendapatkan jawaban dari Sunan Kudus, dari siapa lagi saya mesti tahu masa lalu saya?”
     “Dari Kanjeng Sunan Kalijaga,” jawab Nyai Ageng Tingkir tenang.
     “Ah kenapa segala hal yang menyangkut saya harus bertanya kepada Kanjeng Sunan Kalijaga?”
     “Apa maksudmu?”
     “Sewaktu saya di gunung Telomoyo, saya mendapatkan mimpi aneh dan oleh Mbah Marjo saya disuruh menemui Kanjeng Sunan Kalijaga untuk mendapatkan tafsir mimpi itu.”
     “Jadi kamu sudah bertemu Kanjeng Sunan Kalijaga?”
     “Belum. Beliau sudah pergi saat saya datang.” Karebet kembali meneruskan, “Sewaktu saya di desa Pingit, saya bertemu Ki Buyut Jayadi yang mengaku dulu bekerja kepada ayahanda kebo kenongo di Pengging dan mengatakan didatangi kanjeng Sunan Kalijaga dan berpesan agar saya menemui beliau.”
     “Memang sudah waktunya kamu menemui Kanjeng Sunan Kalijaga, Karebet.” Nyai Ageng Tingkir nampak jadi cerah mukanya. “Ya,inilah waktunya kamu bertemu beliau seperti pesan beliau beberapa tahun yang lalu.”
     “Beberapa tahun yang lalu?”
     “Saat kamu berumur limabelas tahun, Kanjeng Sunan Kalijaga datang menemuiku dan mengatakan, kalau suatu waktu kamu sudah mendapatkan isyarat dari langit kamu harus menemui beliau.”
     “Isyarat dari langit?”
     “Ya.  Isyarat itu bisa berupa mimpi, bisa berupa tanda yang lain.” Nyai Ageng Tingkir menatap Karebet. “Mimpimu yang kau dapatkan di bukit Telomoyo aku yakin isyarat dari langit.”
     “Saya belum paham, kanjeng Ibu.”
     “Temuilah Kanjeng Sunan Kalijaga. Kamu akan mendapatkan semua jawaban atas semua pertanyaan yang ada dibenakmu. Beliau ingin kamu menjadi muridnya.”
      “Tapi saat ini saya hanya ingin mendapatkan penjelasan tentang kematian Ayahanda Kebo Kenongo kepada Sunan Kudus.”
     “Demi Allah, Karebet, temuilah Kanjeng Sunan Kalijaga dan lupakan bertemu kanjeng Sunan Kudus.”
     Nyai Ageng Tingkir sama sekali tidak menyangka. Setelah sekian lama ia biarkan anaknya mengembara, bertapa di berbagai daerah, tapi setelah pulang menginginkan sesuatu yang diluar jangkauan pemikirannya. Sunan Kudus adalah panglima perang Kerajaan Demak, seorang ulama besar. Tidak bisa bertemu setiap waktu dan tentu saja mustahil untuk bisa bertemu begitu saja membuat janji. Tapi Karebet mengatakan keinginannya seperti ia menginginkan bertemu dengan kepala desa.
     Yang lebih tidak dimengerti Nyai Ageng Tingkir, darimana Karebet mengetahui bahwa Sunan Kudus yang bertanggung jawab atas kematian Ki Ageng Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging. Mungkin ia bertemu seseorang, batinnya.
     “Sebaiknya kamu istirahat, Karebet.”
     Karebet melihat sikap Ibunya yang tiba-tiba berubah. Ia tahu Ibunya marah tapi kelihatan ada sesuatu yang sangat mengganggunya. Ia yakin Ibunya tidak menyangka ia mempunyai permintaan bertemu Sunan Kudus. Ia sendiri merasa bahawa rasa penasarannya harus terjawab. Barangkali Aryabajageni bermusuhan dengan kerajaan Demak, tapi keterangan tentang keluarganya membuatnya terus menerus terganggu. Ia tidak mau menyakiti hati Ibunya dengan bertanya masa lalunya. Tapi rasa penasarannya harus terjawab.
     Kalau masih bertemu Mbah Marjo, mungkin akan menyuruhnya minta petunjuk Sunan Kalijaga. Tapi ia sekarang harus menjawab teka-teki ini dengan caranya sendiri. Ia tidak peduli dengan Sunan Kalijaga. Ia mempunyai tanggung jawab atas hidupnya sendiri. Ia tidak tahu akan menjadi apa kelak, tapi sekarang ia hanya ingin mendapatkan jawaban atas segenap pertanyaan di kepalanya.
     Dadung Awuk masuk ke kamar Karebet begitu saja.
     “Bet, aku banyak ditanya sama Nyai Ageng.”
     “Soal apa?”
     “Dikira aku yang menghasut kamu meminta bertemu kanjeng Sunan Kudus. Memangnya kamu kepingin bertemu kanjeng Sunan Kudus?”
     “Ya.”
     “Tapi saya ikut kalau bener kamu mau bertemu Kanjeng Sunan Kudus, Bet.”
     “Kanjeng Ibu tanya apalagi?”
     “Ya tanya kamu bertemu siapa memangnya?”
     “Kamu jawab apa?”
     “Bertemu Aryabajageni.”
     “Terus?”
     “Nyai Ageng tanya siapa Aryabajageni.”
     “Terus?”
     “Aku jawab, orang gila.”
     “Sok tahu.”
     “Lha kan memang orang itu gila. Pembunuh guru ngaji. Masa saya bilang orang suci.” 
     Karebet tidak menginginkan Ibunya terlibat dalam masalahnya. Tapi ia tahu, tidak mungkin Ibunya tinggal diam. Ibunya sangat menyayanginya. Apapun masalah yang terjadi dengan Karebet, Ibunya selalu terlibat. Barangkali merepotkan, tapi Nyai Ageng terlalu banyak berharap kepada Karebet.
(bersambung)

Sunday, December 23, 2012

MAS KAREBET 15

BAB 15



KAREBET jongkok di depan kuburan Ki Buyut Jayadi. Banyak sekali yang sebenarnya ingin ia tanyakan kepada lelaki tua bekas abdi dalem almarhum ayahnya itu. Tapi rupanya ia harus mencari jawaban atas pertanyaanya entah dimana. Ia mulai disadarkan bahwa masa lalunya ternyata masih mengandung banyak teka-teki. Akan ia cari jawaban, supaya ia bisa lebih tahu siapa dirinya. Akan ia tanyakan kepada siapa saja yang bisa memberinya jawaban.
     Salah satunya adalah Ibunya. Ia yakin Ibunya tahu semua masa lalunya. Tahu semua leluhurnya. Ia sudah harus menyusun daftar pertanyaan di kepalanya sebelum tiba di padukuhan Tingkir. Tapi darimanakah ia harus mulai bertanya? Aryabajageni memberinya banyak rahasia yang masih harus dibuktikan kebenarannya. Mimpinya di bukit Telomoyo masih terus menggangu tidurnya, meskipun telah ditafsirkan oleh Sunan Kalijaga. Tapi bagaimana ia harus mempercayai jawaban itu?
Tiba-tiba kepalanya penuh.
Ia harus buru-buru meninggalkan padukuhan Pingit ini.
     Tapi di mulut kuburan, Dadung Awuk dan Roro Sendang sudah menunggunya. Dadung Awuk membawa buntalan kain di bahunya.  Seperti hendak bepergian.
     “Kau mau pergi jauh, Dadung Awuk?” tanya Karebet.
     “Seperti kata raden, saya akan mencari ilmu.”
     Karebet senyum dan berjalan melewati Dadung Awuk.
     “Tapi saya putuskan untuk ikut raden.”
     Karebet berhenti. “Saya akan pulang ke Tingkir.”
     “Sama saja bagi saya.” Dadung Awuk berkata tegas. “Yang penting buat saya, saya akan mendapatkan ilmu kanuragan yang saya inginkan.”
     “Kau masih dibutuhkan disini untuk menggantikan Ki Buyut Jayadi.”
     “Saya tidak tahu bagaimana  memimpin rakyat dan saya tidak kepingin jadi pemimpin. Kalau saya memaksakan diri, saya takut bukan menjadi baik, malah hancur tidak karuan nanti padukuhan ini.”
     Karebet melihat Roro Sendang yang diam saja. “Bagaimana dengan Roro Sendang?”
     Dadung Awuk menatap dalam Roro Sendang, seperti menembus ke dalam matanya. “Saya memang mencintainya. Tapi seperti kata raden, saya mulai ragu akan kesetiaannya.”
     Roro Sendang kaget bukan main. “Apa?!” Matanya seperti mau loncat keluar. “Jadi kakang mau mencampakkan aku seperti sampah?!”
     Dadung Awuk menjadi gugup. “Bukan begitu, Sendang. Maksud kakang….”
     Mata Roro Sendang jadi liar menatap Dadung Awuk dan Karebet. “Kalian laki-laki, sama-sama bajingan!!”
     Roro Sendang pergi berlari sambil menumpahkan air matanya. Kelihatan sangat marah dan kecewa. Dadung Awuk tidak jadi berteriak memanggil. Ia kelihatan serba salah, tapi sikapnya sudah jelas. Ia akan mengikuti Karebet. Ia ingin menjadi teman perjalanan, bahkan ia siap untuk di jadikan pembantu.
     “Aku terbiasa berjalan sendiri,” gumam Karebet.
     “Saya tidak akan merepotkan Raden. Saya juga rela di jadikan pembantu Raden.”
     “Memangnya siapa aku membutuhkan pembantu?” Karebet melihat ketulusan niat Dadung Awuk lewat matanya.
     “Saya memaksa ikut, Raden.”
     Karebet menatap Dadung Awuk.
“Kau akan berubah pikiran di perjalanan.”
“Mungkin. Tapi setelah saya banyak menimba pengalaman bersama Raden.”
Karebet berpikir lagi tapi kemudian dia berkata, “Baiklah, kau boleh ikut.”
     “Terimakasih, Raden.” Betapa gembiranya Dadung Awuk.
     “Sayang caramu tadi sama saja membunuhku,” kata Karebet sengit.
     Dadung Awuk nyengir. “Hanya itu cara saya bisa pergi, Raden.” Matanya masih melihat menghilangnya Roro Sendang di tikungan jalan. “Cita-cita saya lebih besar dari cinta saya kepada Roro Sendang.”
     “Tapi aku jadi jelek dimata Roro Sendang.”
     “Yang penting tidak jelek di mata saya.”
     Lalu mereka dikagetkan suara gemuruh dari bukit Siaul. Mereka menoleh. Tampak langit menghitam oleh asap yang membumbung ke langit. Asap dari pembakaran. Terdengar juga suara banyak orang beteriak ramai.
     “Para penduduk sudah membakar pesantren itu.”
     “Mungkin itu lebih baik.” Karebet lantas jalan.
     “Sebenarnya bagaimana Raden bisa mengusir Aryabajageni itu?”
     “Aku juga tidak tahu.”
     “Raden mengalahkan Aryabajageni, kan?”
     “Tidak.”
     “Buktinya pesantren itu sudah kosong waktu didatangi penduduk Padukuhan.”
     “Tidak penting lagi dibahas.” Karebet berbalik menghadapi Dadung Awuk. “Jadi Kau serius mau ikut aku?”
     “Duarius.”
     “Ada syaratnya.”
     “Apapun syaratnya saya sanggup.”
     “Pertama, jangan panggil aku raden.”
     “Beres.”
     “Kedua, panggil aku Karebet.”
     “Karebet?”
     “Itu nama asliku.”
     “Ooo. Pantesan waktu diatas bukit saya mendengar nama Karebet. Tapi bukankah bangga memakai nama Jaka Tingkir?”
     “Kalau kau mau, ambil saja.”
     “Memangnya barang diambil.”
     “Karena kau dari Pingit, ganti saja namamu jadi Jaka Pingit.”
     Dadung Awuk tertawa. “Jaka Pingit? Gila, keren juga. Raden…eh maaf, kau ternyata baik hati.”
     Karebet sudah berjalan.
     “Ngomong-ngomong, habis dari Tingkir, kita pergi kemana?”
     “Syarat ketiga, jangan cerewet.”
     Dadung Awuk nyengir. “Maaf. Tapi satu lagi. Bener ini yang terakhir. Bagaimana saya memanggilmu. Bet, Kar atau Rebet?”
     “Tidak mutu blas pertanyaanmu.”
     Dadung Awuk tertawa terbahak-bahak.  
(bersambung) 

Friday, December 21, 2012

MAS KAREBET 14

BAB 14



Di depan Karebet sudah menghadang lebih dari duapuluh lelaki berseragam merah. Lengkap bersenjata dan siap untuk membunuhnya. Karebet menatap mata mereka yang buas. Ia tahu persis, mereka orang yang siap mati dalam keadaan apapun. Karebet justru lebih takut menghadapi orang semacam ini daripada orang yang sudah jelas tinggi ilmu kanuragaannya. Mereka siap melakukan cara apasaja untuk membunuh lawannya, sepanjang nyawa mereka masih ada di raga mereka. Jenis perlawanan yang dimiliki oleh ketaatan kepada pemimpinnya dan kepada ajarannya.
 “Aku hanya berurusan dengan guru kalian.”  Karebet berusaha untuk basa-basi, siapa tahu mereka masih mau mendengarnya. Tapi memang sia-sia. Mereka sudah bergerak setelah Karebet selesai bicara. Karena sudah memperkirakan serangan itu, Karebet sudah lebih dulu mengeluarkan ikat kepalanya dan dia bergerak berputar badannya menyamping.
     Para Lelaki berseragam merah itu tidak ada yang sempat melawan. Mereka jatuh dan kesakitan dalam waktu hampir bersamaan. Hampir semua tidak bisa berdiri lagi dengan cepat. Yang berdiri lagi segera akan menyerang, tapi bengong. Karebet sudah melesat lari seperti kijang. Tubuhynya bergerak menembus pepohonan lebat.
Tidak lama ia sampai di halaman rumah besar itu.
Sepi.
Angin menerbangkan dedaunan kering.       
     Karebet berdiri tegang. Ia yakin Aryabajageni tahu kedatangannya. Tanpa perlu diteriaki untuk keluar, ia yakin orang itu akan keluar sendiri. Tapi caranya keluar, Karebet tidak menduga sama sekali.
     Tanah didepannya bergetar seperti gempa bumi. Dari dalam tanah seperti ada yang sesuatu mendorong. Sesuatu yang besar sekali. Sesuatu yang hidup. Karebet mundur. Dari dalam tanah muncul seekor cacing tanah. Besar dan mengerikan wajahnya. Cacing sebesar manusia itu berguling dan berubah menjadi tubuh Aryabajageni. Duduk bersila di tanah dan tertawa.
     “Kau mampu melakukan itu?” tanya Aryabajageni meledek.
     Tenggorkan Karebet kering. Pertamakali dalam hidupnya, lawannya adalah jenis manusia yang mungkin langka. Dari kemampuannya ia tidak terlalu kagum, tapi cara hidup dan apa yang ditempuhnya adalah sesuatu yang sama sekali baru baginya. Soal kemampuannya, ia yakin masih dibawah Arybajageni. Tapi ia tidak takut. Itulah satu-satunya modalnya berdiri didepan Aryabajageni tanpa harus lari melihat cara munculnya.
“Itu hanya permainan murahan,” katanya lirih.
Aryabajageni belum sempat tertawa ketika tubuh Karebet sudah melesat dengan sangat cepat. Cara melesatnya juga bukan kebiasaan orang bertarung dari depan lawannya. Ia tahu lawannya lebih hebat. Dengan memberikan sedikit pancingan gerakan menyamping, Aryabajageni langsung serius menghadapinya. Karebet langsung mengerahkan semua kemampuannya menyerang Aryabajageni. Ia sedang melawan orang yang mungkin paling hebat sepanjang ia mengembara. Jadi ia tidak mau kesempatannya terbuang dengan sia-sia. Kalau ia tidak memulainya, ia tidak pernah tahu kapan masalahnya bisa selesai.
     Aryabajageni dipaksa melawan Karebet. Lelaki berwajah tirus itu melihat gerakan Karebet yang berbeda dari pendekar pada umumnya. Untuk itu ia kemudian memaksa Karebet bertarung dengan jurus-jurus yang tidak biasa. Jurus-jurus yang ia yakin tidak bisa diimbangi Karebet. Tapi dugaaannya meleset. Karebet bisa mengimbangi seluruh serangan balik yang datang darinya. Bahkan kemudian bisa mematahkan jurus-jurusnya.
     Karebet tidak pernah belajar silat di sebuah perguruan. Ia tidak pernah tahu dimana ia bisa mendapatkan sebuah perguruan silat yang bagus. Ia orang yang tidak pernah mau setengah-setengah. Kalau perguruan itu tidak bagus dan terkenal, lebih baik ia tidak berguru sekalian. Ia lebih banyak belajar dari pendekar yang dikenalnya di tempat bertapa, selebihnya berlatih sendiri. Jadi kalau dipaksa bertarung dengan jurus yang aneh, ia bisa jauh lebih aneh. 
     Aryabajageni mundur dan mendengus, “Ternyata kau memang mempunyai ilmu kanuragan lumayan,” katanya sengit tanpa sadar bahwa ia mengakui kehebatan Karebet. “Tapi aku tidak mau bermusuhan denganmu. Aku ingin menjadikanmu muridku.”
     “Aku akan berguru padamu kalau kau bisa mengalahkanku,” jawab Karebet tegas. Ia tahu persis ia tidak akan bisa mengalahkan lelaki didepannya itu tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membebaskan warga padukuhan Pingit. Satu-satunya cara ia harus kelihatan jauh lebih berani untuk menutupi kelemahannya.
     “Kau tidak akan mampu mengalahkanku, Karebet. Aku juga tidak akan melukaimu. Jadi percuma saja pertarungan ini.”
     “Selama kau tidak pergi dari padukuhan ini, aku tetap akan melawanmu.” Karebet tidak bergeming. “Soal aku tidak bisa mengalahkanmu, itu bukan urusanku. Tapi aku tidak akan pergi meskipun aku kalah olehmu.”
     Aryabajageni tidak menyangka akan mendapatkan lawan Karebet. Seorang pemuda yang kelihatan tidak istimewa dan tidak hebat ilmu kanuragannya. Tapi betapa Karebet ternyata seorang pemuda yang ksatria. Pemuda itu sama sekali tidak takut menghadapinya saat semua orang menakutinya. Apa yang dibela Karebet juga orang-orang padukuhan yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Sikap ksatria Karebet membuat Aryabajageni harus mengakui ada kehebatan tersembunyi didalam diri Karebet. Dengan ilmu pamungkasnya, ia bisa saja meremukkan tubuh Karebet. Tapi ia tidak yakin pemuda itu akan binasa. Pemuda didepannya itu menyimpan suatu yang besar. Aryabajageni tidak tahu apa itu, tapi ia tiba-tiba merasakan bahwa Karebet adalah orang yang sulit ditaklukan.
     Karebet menduga Aryabajageni sedang mempersiapkan ilmu pamungkasnya untuk menutup pertarungan dengannya. Makanya kemudian ia diam-diam merapal ilmu yang dikuasainya paling tinggi. Ia menamakan ilmunya Ajian Serat Jiwa. Ilmu yang dipelajarinya dari seorang pendekar bernama Arya Kumbara yang berasal dari Madangkara. Ia tidak tahu persis dimana Madangkara tapi ilmu yang dilihatnya adalah sejenis ilmu yang sangat mematikan dan sulit dicari tandingannya. Pada mulanya ia merasa bahwa Ajian Serat Jiwa terlalu sadis dalam membunuh musuhnya. Ilmu  itu jahat seklii.
Tapi Arya Kumbara pernah berkata, “Hitam atau putih ilmu itu tergantung dari yang memakainya. Kalau ia dipakai untuk kejahatan, hitam ilmu itu. Tapi kalau dipakai untuk kebaikan, jadi putih ilmu itu.”
Sejak itu ia mulai mempelajarinya setelah diajari dasar ilmu itu oleh Arya Kumbara. Karena ada beberapa jurus yang tidak ia sukai, maka kemudian ia menciptakan sendiri ajian itu. Setelah beberapa waktu mempelajari ajian serat jiwa, ia mencobanya pada sebuah pohon trembesi. Dan pohon trembesi luluh lantak setelah dihajar ajiannya.
     “Aku ingin masalah ini cepat selesai, jadi mari kita selesaikan pertarungan ini.” Berkata begitu Karebet menyerbu.
     Aryabajageni tidak menyangka Karebet akan menyerangnya begitu deras,  serbuan tenaga yang terlalu besar. Mau tidak mau ia harus mengerahhkan ilmunya untuk membentengi dirinya. Ia merasakan hawa panas pada serangan Karebet dan ia merasakan bahwa pemuda itu tidak main-main lagi untuk menyerangnya.   Lama kelamaan ia mulai merasakan tubuh dan tenaganya tersedot oleh serangan Karebet. Ia merasakannya jelas sekali. Sendi-sendi tulangnya mulai terasa kaku dan kulitnya mulai mengeras.
     Hanya dengan merubah tata letak tangan dan kakinya, Aryabajageni sudah membendung serangan Karebet. Ia mulai tersenyum melihat pemuda itu mulai meningkatkan serangannya tapi jelas sekali seperti membentur tembok. Karebet memang merasakan serangannya mulai tidak berhasil. Baginya luar biasa sekali Aryabajageni. Dalam waktu yang sangat singkat bisa membuat ilmunya nyaris tidak bisa menembusnya.
     Karebet meningkatkan serangan Ajian Serat Jiwanya. Tapi semakin kuat juga Aryabajageni membendungnya. Ternyata semakin kuat dibendung, semakin kuat Ilmu Serat Jiwa menembus pertahanan Aryabajageni. Hal itu membuat Aryabajageni kerepotan dan tidak ada jalan lain baginya kecuali mengahiri perlawanan Karebet dengan caranya.
     Aryabajageni sangat menghormati Ki Ageng Kenongo, ayah Karebet, sebagaimana ia menghormati gurunya Syekh Siti Jenar. Ketika bertemu Karebet ia menemukan banyak harapan. Terlebih soal ajaran gurunya yang harus disebarluaskan. Selama ini ia terus diburu pihak kerajaan Demak karena menyebarkan ajaran Syekh Siti Jenar. Ia tidak tahu dimana letak kesalahan ajarannya karena berbeda pendapat menurutnya tidak ada yang bisa melarang. Sewaktu masih hidup,  Ayah Karebet sangat mendukungnya dalam soal penyebaran ajaran Syekh Siti Jenar. Dan setelah Ki Ageng Kenongo juga dihukum pihak keerajaan Demak sebagaimana Syekh Siti Jenar, ia merasa seperti sendirian dalam menyebarluaskan ajarannya.
     Ketika bertemu dengan Karebet harapannya muncul. Paling tidak ia mempunyai banyak tawaran yang bisa diterima Karebet. Perlawanan Karebet terhadap dirinya bukan dalam soal ajarannya tapi lebih kepada pembelaan kepada warga desa Pingit. Aryabajageni masih berharap banyak Karebet adalah penerus dari ajaran Syekh Siti Jenar. Makanya ketika serangan Karebet semakin gencar, ia segera berteriak mengguntur dan mengibaskan tangannya.
     Bukan sembarang kibasan tangan. Tapi kibasan tangan yang mengandung ilmu pukulan yang sangat besar. Buktinya Karebet yang sedang mengerahkan Ajian Serat Jiwanya dalam kondisi tertinggi, langsung terdorong mundur dan dadanya seperti jebol. Hanya dalam kedipan mata, Karebet mengaum keras seperti harimau lapar. Meskipun ia merasakan dadanya jebol dan badannya luluh lantak, ia masih dapat menguasai pikirannya. Sebenarnya ia ingin pura-pura terluka parah dan tidak bisa bangun, agar Aryabajageni terpuaskan tinggal menunggu serangan terakhir. Tapi nyatanya Aryabajageni tidak menyerang, jadi Karebet berubah pikiran dengan mengaum keras.
     Dengan segenap pengerahan ilmu yang pernah dipelajarinya, ia menyerbu dengan pekikan yang dahsyat, “Kau akan tahu aku tidak akan bersahabat denganmu.”
     Terjangan Karebet kali ini membuat Aryabajageni terkesiap. Ia melihat Karebet berubah dari aslinya. Pemuda itu sudah dikuasai sesuatu dan ia tahu ada sesuatu di badan pemuda itu. Auman itu menandakan ada kekuatan tersembunyi pada diri Karebet. Tapi ia belum tahu apa karena serangan Karebet benar-benar merepotkan. Hawa serangannya sangat berbeda dengan serangan awalnya.
     Karebet sendiri sesungguhnya sudah menyadari akan bahaya yang sedang mengancam dirinya. Ia sudah telanjur terbakar hangus oleh nafsu amarah. Dan ia begitu saja mengaum, merasakan ada dorongan kekuatan lain dari dalam dirinya.  Ia tidak peduli lagi dengan kesaktian Aryabajageni. Ia orang yang sedang berusaha mempertahankan kebenaran.
     Terjadi benturan hebat di udara.
     Tubuh Karebet dan Aryabajageni bertumbukan seperti dua ekor kambing saling seruduk kepala. Karebet memang terlempar lebih dulu dan lebih kencang ke belakang tapi ia bisa mendarat tanpa terjatuh. Sedangkan Aryabajageni terdorong pelan ke belakang tapi langsung jatuh telentang dan sepertinya terluka.
     Karebet melihat itu tidak percaya.
     Arayabajageni berdiri susah payah.
     Karebet bisa saja menyerang saat lelaki bermuka aneh itu berdiri, tapi ia sedang bingung apa yang terjadi dengan dirinya. Ia menjatuhkan lelaki sakti itu dengan mudah, sedangkan dirinya tidak terluka sedikitpun.
     “Apa yang ada dibalik ikat pinggangmu, Karebet?” teriak Aryabajageni bertanya.
     Karebet bingung dan meraba ikat pinggangnya.
“Aku tahu kemampuanmu tidak bisa mengatasi ilmuku. Tapi barang yang ada dibalik ikat pinggangmu itu, yang membuatmu kuat.”
     Karebet mengeluarkan barang dari ikat pinggangnya. Surat dari kulit binatang yang berasal dari Sunan Kalijaga. Dengan entengnya ia memperlihatkan barang itu.
“Hanya ini. Kulit.”
     “Darimana kau dapatkan kulit binatang itu?”
     “Itu bukan urusanmu. Sekarang apa kau masih mau bertahan didesa ini?”
     “Aku akan pergi dari desa ini setelah kau sebutkan darimana kau dapatkan kulit binatang itu.”
     “Aku tidak percaya omonganmu.”
     “Kau memegang janjiku, Karebet.”
     Karebet menatap lelaki bermua aneh itu. Lama. Lalu ia berkata, “Kulit ini sebenarnya sebuah surat. Yang memberikan Sunan Kalijaga.”
     “Aku sudah menduganya.” Aryabajageni teriak. “Tidak ada kekuatan ilmu apapun yang mampu menembus barang yang sudah disentuh Sunan Kalijaga.” 
Lalu begitu saja tubuh Aryabajageni lenyap.
     Karebet menoleh kanan kiri.
     Lalu terdengar suara Aryabajageni menggema, “Jangan kau kira aku kalah, Karebet. Aku akan terus hidup untuk menumbuhkan dendam di hatimu kepada para wali Demak. Hanya kau orang terakhir yang di takdirkan untuk menyebarluaskan ajaran guru besar Syekh Siti Jenar. Dan akulah penuntun hidupmu.”
     Lalu sepi.
     Suara angin jelas terdengar berdesir.
     Karebet tidak bereaksi apapun. Ia yakin Aryabajageni telah pergi jauh. Orang yang ilmunya menakjubkan, batinnya. Tapi ia masih saja di hinggapi keheranan dengan surat dari kulit binatang ditangannya. Benarkah sesuatu yang pernah disentuh Sunan Kalijaga memiliki kekuatan yang sangat hebat? Dengan cara apapun ia tidak percaya, karena ia tidak pernah bertemu Sunan Kalijaga. Tapi bukti didepannya, telah dikatakan oleh orang lain. Oleh orang yang ilmu kanuragannya sangat tinggi. 
     Karebet melangkah gontai dengan segenap pertanyaan yang semakin banyak memenuhi kepalanya. 
 (bersambung)

Tuesday, December 18, 2012

MAS KAREBET 11

BAB 11  

    

KI Buyut Jayadi menghela nafas berat, menatap Karebet yang duduk didepannya, lalu berkata, “Berat rasanya saya harus mengatakan kalau penduduk desa Pingit sekarang sangat membutuhkan bantuan, Raden.”
     “Saya paham, Paman.”
“Tapi kalau raden tidak bersedia membantu kami, terpaksa kami akan mengirim utusan lagi ke Demak, untuk meminta bantuan yang lebih besar.”
     Dadung Awuk menjawab lebih dahulu, “Berapapun prajurit yang dikirimkan, sia-sia saja, Ki Buyut,” katanya berapi-api. “Yang dibutuhkan adalah orang yang mampu mengalahkan Aryabajageni alias Syekh Siti Jenar palsu itu.” Dadung Awuk menoleh ke Karebet. “Bukan begitu, Raden?”
     “Ini memang urusan kerajaan Demak,” sahut Karebet menatap Ki Buyut Jayadi. “Tapi saya akan tetap berusaha membantu.”
     “Alhamduillah.” Suara Ki Buyut Jayadi gemetar.
     “Tapi tidak ada jaminan, saya mampu melawannya.”
     “Jaminan itu ada ditangan Allah, Raden.”
     “Raden pasti sanggup.” Dadung Awuk memberikan dukungan
     “Aku mau kau ikut.”
     Dadung Awuk melotot. “Ikut kemana?”
     “Ke bukit Siaul.”
     “Saya belum mau mati.”
     “Kalau belum waktunya mati, kau pasti hidup.”
     “Apa salahnya Dadung Awuk,” kata Jagabaya yang dari tadi diam. “Katanya kau ingin jadi prajurit Demak.”
     “Ini setor nyawa namanya, Jagabaya,” sahut Dadung Awuk panik. “Lagipula saya kan belum kawin.”
     “Tapi aku tetap ingin kamu ikut,” kata Karebet lagi.
     “Oalah Gusti, mimpi apa aku semalam.”
     Ruangan tertawa melihat Dadung Awuk seperti mau menangis.
     Beberapa saat kemudian, Karebet dan Dadung Awuk sudah berjalan menyusuri jalan setapak diantara rimbunan pohon menuju bukit Siaul. Karebet lebih banyak diam. Tapi rupanya Dadung Awuk orang yang tidak betah keadaannya kaku.
     “Maaf raden, boleh bertanya?”
     “Mulai kapan bertanya dilarang.”
     “Jadi benar kabar para pedagang kalau raden benar-benar mengalahkan buaya raksasa di sungai padukuhan Karangsaga?”
     “Kalau kamu percaya.”
     “Tentu saja percaya, Raden.”
     “Itu perbuatan bodoh.”
     “Tapi kan jadi terkenal.”
     “Kalau hanya mau terkenal, banyak cara yang lebih enak.”
     “Misalnya?”
     “Rampok saja pejabat kerajaan kalau lewat.”
     “Itu namanya cari mati dengan cara cepet.”
     Jalan setapak di hutan itu mulai menanjak. Dadung Awuk mulai kepayahan. Beban perutnya yang besar membuatnya  lambat. Karebet seperti tidak merasakan beban apapun. Jangankan melambat, keringatnya pun belum ada yang keluar. Dadung Awuk berhenti.
     “Berhenti sebentar, Raden.”
     “Baru juga separuh jalan.”
     “Perasaan jalannya bukan ini.”
     “Ini jalan pintas. Kita bisa lebih cepat sampai ke atas.”
     “Darimana Raden tahu?”
     “Aku pernah lewat jalan ini.”
     “Kapan Raden pergi dari rumah Ki Buyut?”
     “Malam sewaktu Senopati Ringkin memotong tangan maling murid pesantren Aryabajageni.”
     “Jadi Raden tidak pergi kencing kan?”
     “Tidak.”
     “Sialan.”
     Dadung Awuk harus akui, Karebet lain dari pemuda yang pernah di jumpainya. Apalagi dibandingkan pemuda desa Pingit, Karebet jauh diatasnya. Diam-diam ia bangga bisa akrab dengan Karebet. Bahkan lebih dari itu, ia ingin mengenal pemuda itu lebih jauh. Ia ingin mempunyai kehebatan ilmu kanuragan seperti Karebet. Lebih dari itu lagi, ia ingin terkenal. Tapi ia bingung darimana harus mulai. Ia hanya anak desa yang tidak juga mempunyai ilmu kanuragan yang cukup.
     Karebet berhenti. Memberi isyarat diam. Ia mendengar gerakan halus di sekelilingnya. Dadung Awuk tak sempat berkomentar ketika tiba-tiba beberapa panah mengarah kepada mereka. Panah-panah itu datang cepat sekali dari pepohonan. Karebet sudah bisa mengetahuinya lebih dahulu. Ia bergerak ke samping dan menyapu semua panah-panah yang datang kepadanya itu. Dadung Awuk berlindung di belakang tubuh Karebet sambil melotot.
     Dadung Awuk jelas takut tapi ia sedang tidak percaya bagaimana Karebet dengan mudahnya menghindari panah-panah yang meluncur kencang ke arahnya itu. Seperti menghalau burung layaknya. Bagi dirinya itu mustahil. Melihat kecepatan panahnya saja ia panik, selebihnya pasrah karena pasti ia habis terkena panah itu kalau kena di badannya. Tapi betapa Karebet menyambut panah-panah itu dengan semangatnya.
     “Berlindung ke balik pohon, Dadung!” bentak Karebet.
     Dadung Awuk  lari ke sebuah pohon dan sebuah panah meluncur lurus ke arahnya. Begitu Dadung Awuk tiba di sebuah pohon dan belum sempat bersembunyi, panah itu terus mengincarnya seperti punya mata. Begitu berbalik, panah itu nyaris menembus mukanya. Hanya beberapa jari jaraknya sebelum panah itu menembus pipinya yang tembem. Tangan Karebet sudah menangkap panah itu.
     Benar-benar ditangkap seolah panah itu barang tidak bergerak.
     Dadung Awuk tak bernafas sejenak.
     Karebet tidak punya waktu lagi untuk bernafas lega karena beberapa lelaki berseragam merah sudah turun dari pohon dan keluar dari semak. Mereka mengepung rapat tempat yang sempit itu. Mereka bersenjata tajam lengkap. Karebet jalan ke tengah tanah datar dan membiarkan Dadung Awuk. Ia melihat beberapa lelaki berseragam itu siap untuk membunuhnya. Dengan cara apapun. Rupanya  mereka dilatih untuk patuh kepada perintah pimpinannya.
     “Rupanya kalian tidak belajar agama di pesantren, tapi belajar jadi pembunuh.”
     Mereka menjawab dengan tatapan tajam. Karebet tahu tidak butuh jawaban mereka karena mereka hanya tahu membunuh. Gerakan mereka rapi saat menyerang Karebet. Jurus-jurusnya lumayan bagus. Mereka memang dipersiapkan untuk jadi mesin pembunuh. Dari semua serangan mereka, Karebet bisa mengimbanginya. Bahkan bisa menebak serangan-serangan mereka selanjutnya.
     Sebelum Karebet mengerahkan semua kemampuannya, beberapa lelaki berseragam merah itu mulai lemah pertahanannya. Dan sebelum mereka benar-benar jatuh oleh serangan Karebet, mereka mundur dengan rapi dan membuat barisan layaknya menyambut tamu.
     Karebet tegang.
     Dadung Awuk menahan nafas.
     Beberapa lelaki berseragam merah itu membungkuk ke arah Karebet. Memberi hormat.
     “Raden sudah ditunggu guru kami.” Salah satu lelaki itu berkata.
     Dadung Awuk memanjangkan kepala dan berteriak, “Awas jebakan, Raden!”
     “Raden memang sudah ditunggu guru kami, Kanjeng Pangeran Aryabajageni.” Lelaki itu berbalik dan memberi kode ke teman-temannya dan kemudian mereka pergi begitu saja. Lari ke dalam semak dan menuju atas bukit.
     Dadung Awuk keluar dari balik pohon. Ia tidak percaya yang baru saja dilihatnya. “Aneh sekali mereka, Raden.”
     “Sepertinya kedatanganku memang sudah ditunggu.”
     “Kalau jebakan bagaimana?”
     “Kalau ini jebakan, kita mungkin sudah diserbu mereka habis-habisan. Bukan hanya dengan beberapa orang.”
     Karebet mulai jalan.
     “Jadi Raden mau ke pesantren itu?”
     “Bukankah tujuan kita kesana?”
     “Bukan kita, tapi Raden sendiri. Saya kepingin pulang saja.”
     “Kalau kamu pulang sendiri, malah bisa di bunuh mereka.”
     Dadung Awuk ketakutan dan jalan lebih cepat dari Karebet. “Edan. Saya bisa gila beneran ini.”
     Karebet ingin sekali cepat sampai diatas bukit. Rasa penasarannya makin menjadi. Ia sudah ditunggu. Berarti semua gerak geriknya telah diketahui. Aryabajageni sudah mengetahui kalau ia hendak mendatanginya. Betapa hebatnya. Ia sudah kalah satu langkah di depan orang yang belum pernah di jumpainya ini. 
      Lebih cepat bertemu lebih baik.
     Ia memang menginginkannya.
(bersambung)
         

Monday, December 17, 2012

MAS KAREBET 10

 BAB 10



“SEWAKTU saya bertapa di bukit Telomoyo, saya bermimpi aneh,” kata Karebet didepan Ki Buyut Jayadi. “Saya kejatuhan rembulan.”
     Mendadak tubuh Ki Buyut Jayadi gemetar.
“Oh Gusti Allah…”
Beberapa saat Ki Buyut Jayadi tidak bisa bicara.
“Kenapa Paman?”
Lelaki tua itu menatap Karebet dengan lekat-lekat dan bola matanya kemudian perlahan berair. “Saya orang bodoh, Raden. Kalau boleh saya menafsirkan, Raden telah mendapatkan wahyu keprabon.”
     Wahyu keprabon?”
     “Raden akan jadi pemimpin.” Suara Ki Buyut Jayadi sekarang benar-benar gemetar.
     Karebet jadi teringat sesuatu. “Berarti benar…”
     “Apa maksud Raden?”
     “Sunan Kalijaga juga berkata begitu.”
     “Ya Allah…..” Kali ini suara Ki Buyut serak seperti mau menangis. Lalu memeluk Karebet. Lalu benar-benar menangis. Badan rentanya terguncang-guncang di pelukan Karebet.
“Mati sekarang pun rasanya ikhlas mendengar anugerah agung ini, Raden.”
     Karebet tidak bisa berkata.
     Dadung Awuk sudah muncul di depan mereka. Mulutnya masih mengunyah kinang. “Aduh, kenapa main peluk-pelukan begitu? Ki Buyut, kenapa pakai nangis segala? Cengeng banget sih?”
     Karebet duduk tidak peduli.
     Ki Buyut Jayadi mengambil air minum.
     Dadung Awuk semakin penasaran. “Ayolah saya diberi bocoran cerita ada apa tadi?”
     “Aku mau pulang….”
     “Raden kan sudah janji sama Senopati Ringkin,” teriak Dadung Awuk. “Keadaan desa Pingit sedang siaga satu. Sebelum Senopati Ringkin kembali, raden tidak boleh pergi.”
     Lalu terdengar suara kentongan.
     “Nah lho, tanda kematian!” teriak Dadung Awuk kepalanya menoleh keluar rumah.
     Di sudut hutan pinggir desa, sudah banyak penduduk berkumpul. Jagabaya sudah berada di sana dan memerintahkan penduduk untuk menjauh dari tubuh Senopati Ringkin yang terbujur kaku. Roro Sendang berdiri diantar penduduk dengan gemetar. Dia yang pertama kali melihat tubuh Senopati Ringkin melayang dari atas dan jatuh begitu saja di pinggiran jalan. Teriakan Roro Sendang membuat para penduduk berdatangan. Termasuk Jagabaya.
     Ki Buyut Jayadi dengan Karebet dan Dadung Awuk, akhirnya sampai di kerumunan itu. Roro Sendang langsung menubruk Dadung Awuk dengan sisa ketakutannya.
     “Kakang….”
     “Lho, kok main tubruk begini, Sendang. Malu dilihat banyak tetangga.”
     Karebet menatap tubuh Senopati Ringkin yang kaku dan bagian dadanya gosong. Bajunya mencetak dua telapak tangan di bagian dadanya. Sebuah pukulan ilmu yang sangat tinggi. Seperti apakah lawan yang membuat pukulan seperti itu, tanya batinnya. Ia mencoba membayangkan seorang lelaki kurus dan bermuka dingin. Bahkan mungkin bisa terbang seperti kelelawar. Rasa penasarannya terhadap orang yang ada di bukit Siaul makin besar.
Ki Buyut Jayadi tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. “Sepertinya Senopati Ringkin meninggal dengan sangat kesakitan,” katanya lirih melihat luka di dada Senopati Ringkin.
“Apakah luka di tubuh guru ngaji yang terbunuh seperti ini juga, Paman?” tanya Karebet.
“Berbeda, Raden. Ini lebih mengerikan.”
Dadung Awuk mendekati Karebet dengan Roro Sendang. “Raden, yang melihat pertama kali Roro Sendang.”
     “Tubuhnya jatuh dari atas,” kata Roro Sendang masih gemetar.
“Seperti kelapa jatuh dari pohon?” tanya Karebet.
     “Iya begitu.”
     Karebet melihat ke arah bukit Siaul. Dari jaraknya, terbilang jauh dari tempat dimana tubuh Senopati Ringkin ditemukan. Dihitung dengan cara apapun, tidak masuk akal tubuh Senopati Ringkin bisa terlempar begitu jauhnya. Tapi ini terjadi. Dengan cara apa tubuh Senopati Ringkin sampai di pinggiran desa? Bukan saja hebat musuh Senopati Ringkin, tapi juga sadis. Jenis manusia macam apa dia, tanya Karebet dalam hati makin penasaran.
     “Jagabaya, suruh anak buahmu membawa jenazah Senopati Ringkin ke kelurahan,” perintah Ki Buyut Jayadi.
     Beberapa pemuda mengangkat tubuh Senopati Ringkin. Wajah para penduduk diliputi ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. Mereka sudah tidak punya orang yang diandalkan untuk menghadapi musuh di bukit Siaul. Ki Buyut Jayadi bisa menangkap kekhawatiran mereka. Tapi ia belum bisa memberikan jalan keluar lain. Didalam lubuk hatinya, ia masih berharap dengan Karebet. Tapi ia tidak akan memaksa orang yang dihormatinya itu. Ia jauh lebih menyayangi nyawa Karebet. Bukan berarti ia akan mengorbankan nyawa penduduknya, tapi saat ini hanya Karebet yang menjadi harapan terakhirnya.
     Karebet tahu penduduk desa Pingit menghadapi hantu pencabut nyawa yang tidak bisa mereka lawan. Mereka dicekam ketakutan karena musuh mereka tidak bisa ditebak kapan datang. Ronda yang diadakan setiap malam sampai pagi tidak juga membuahkan hasil apapun. Ada saja sudut desa yang menjadi celah untuk masuknya musuh mereka. Sedangkan mereka tidak bisa menjaga setiap sudut desa sepanjang waktu.
     Untuk kesekian kalinya Karebet memandang ke arah bukit Siaul dari kejauhan. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak tahu apakah akan mampu melawan orang yang sudah membuat Senopati Ringkin terbunuh. Tapi niatnya bulat. Gagal atau berhasil bukan urusan dia. Ada seseorang dibelakangnya dan ia menebak kalau Dadung Awuk orangnya. Tapi ia kaget.
     Di depannya sudah berdiri Roro Sendang. “Raden mau ke bukit Siaul?” tanyanya seolah tahu pikiran Karebet.
     “Untuk apa aku harus ke bukit Siaul?”
     “Raden akan membiarkan kami ketakutan?”
     “Yang saya tahu ini sudah jadi urusan kerajaan Demak Bintoro.”
     “Demak Bintoro jauh, Raden. Sedangkan desa ini jauh dari manapun.” Suara Roro Sendang seperti meminta.
     Karebet diam. Gadis ini cerdas. Tapi ia tidak habis mengerti kenapa gadis ini bisa tahu ia ada disini. Kalau hendak ke sungai, jalannya bukan jalan ini. Tapi ia tidak peduli. Saat ini pikirannya sedang memikirkan orang di atas bukit Siaul itu.
     “Raden toh harus membuktikan bahwa raden lebih hebat dari senopati Demak Bintoro itu,” kata Roro Sendang lagi ngotot.
     “Aku tidak perlu membuktikan apa-apa.” Karebet menatap gadis itu. “Tapi aku akan tetap kesana.”
     Karebet terus saja pergi. Tanpa pamit.
     “Raden selalu dingin terhadap wanita?”
     Karebet berhenti. Berbalik. Mata gadis itu menatap tajam ke arah Karebet. Pertanyaan itu membuatnya sadar bahwa gadis itu memang sengaja mengikutinya untuk bisa berbicara berdua.
     “Aku biasa ngobrol dengan wanita.”
     “Tapi sikap raden menunjukkan kalau raden tidak pernah dekat dengan seorang wanita.”
     “Aku dekat dengan ibuku.”
     “Maksud saya seorang kekasih.”
     Akhirnya gadis ini semakin memperjelas tujuannya bicara dengannya. Sayang ia sama sekali tidak tertarik dengan Roro Sendang. Ia tidak pernah berpikir untuk menyukai wanita sebelum dirinya menjadi seseorang yang bisa berarti bagi orang lain.  Perkara Roro Sendang tertarik kepadanya itu bukan urusannya.
“Bagaimana hubunganmu dengan Dadung Awuk?”
     “Saya belum menjadi milik siapapun,” jawab Roro Sendang cepat. “Sebelum ada janur kuning di depan rumah saya.”
     Gadis ini memang sedang berusaha menggodanya.
     “Maaf Roro Sendang, aku harus pergi.”
     Karebet tidak menoleh lagi.
     Roro Sendang menahan diri dan menatap lelaki yang membuatnya tertarik begitu pertama kali melihatnya. Ia merasa berhak menyukai siapapun, meskipun ia mempunyai hubungan khusus dengan Dadung Awuk.(bersambung)