Showing posts with label reformasi. Show all posts
Showing posts with label reformasi. Show all posts

Thursday, October 28, 2010

1998 (SELESAI)


EPILOG


Desa Somerset, Inggris.
Beberapa minggu kemudian.
Di sebuah ruangan pondok wisata, yang dibangun untuk menahan gempuran salju yang turun sepanjang musim dingin, sedang terjadi pertemuan. Tungku perapian menyala menghangatkan seluruh ruangan. Tapi semua yang hadir dan duduk mengelilingi meja persegi itu, tetap memakai baju hangat yang mahal. Sepertinya mereka tidak terbiasa dengan hawa bermusim empat.
Sang Ketua, duduk diujung meja. Seorang laki-laki gagah berumur empat puluh tahun, tapi nampak lebih muda dari usianya. Ia sedang bicara dengan gaya khas orang Jawa, “Gerakan utama telah berhasil, tapi kita akan membuat gerakan yang lebih diperhitungkan. Saya telah mendapat rekomendasi  untuk menjadi Ketua dan organisasi gerakan ini telah dirombak secara keseluruhan.”
Semua yang hadir mendengarkan dengan wajah serius. Mereka tidak saling mengenal satu sama lainnya dan datang dari seluruh penjuru dunia. Mereka adalah laki-laki dengan empat wanita berwajah cantik dan bersih, berumur tidak lebih dari empat puluh tahun. Menampakkan diri sebagai orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berkelas.
“Rencana gerakan kita tetap menjadikan Indonesia sebagai sasaran gerakan kita, karena beberapa agenda kita belum tercapai, terutama untuk daerah di luar Jawa yang ingin melepaskan diri dari Jakarta. Saya jelaskan satu aturan permainan, kita akan menggunakan nama samaran untuk berhubungan. Dan setiap pertemuan sesuai dengan prosedur, tidak ada rekaman, dan tidak akan pernah didiskusikan. Terimakasih, ladies and gentlemen.

SELESAI

Tuesday, September 28, 2010

1998 (21)


BAB DUAPULUHTUJUH



Credentials Room, Istana Merdeka,
21 Mei 1998 ; 08:50 WIB
Ruangan itu terasa sangat hening.
Biasanya ruangan itu nampak sangat ceria, karena selalu digunakan Presiden untuk melantik pejabat tinggi negara dan menerima duta besar asing baru. Biasanya ruangan itu dipenuhi para pembesar negara beserta keluarganya, yang kemudian akan diikuti dengan resepsi kenegaraan. Biasanya ruangan itu akan diisi dengan sendau gurau dan bayangan masa depan yang gilang gemilang.
Tapi tidak pagi itu.
Ruangan itu terasa sangat hening.
Kalau ada sebuah jarum jatuh ke lantai, barangkali akan terdengar nyaring suaranya. Deretan puluhan kamera televisi, kamera foto dan berpuluh pasang mata, berdiri berjajar menunggu dengan isi kepala penuh. Mata mereka lebih banyak bekerja daripada mulut mereka yang terkunci rapat.
Para wartawan yang datang mewakili seluruh penjuru dunia, datang untuk meliput suatu peristiwa terbesar dalam sejarah Indonesia.  Pergolakan yang terjadi, telah mengguncang perhatian masyarakat di seluruh pelosok negeri dan penjuru dunia. Inilah puncak pergolakan itu.
09:02:45 WIB
Presiden berambut putih yang telah berkuasa lebih dari tigapuluh tahun itu telah berdiri diatas mimbar. Tampak sangat tenang sambil memakai kacamatanya. Dengan suara lembutnya, ia membacakan naskah pidato yang telah di susun sebuah tim pakar. Sampai akhirnya ia berkata, “….saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden….”
Tidak ada reaksi apapun di ruangan megah itu.
Tapi di gedung wakil rakyat, massa mahasiswa bersorak. Gemuruh membahana mengisi langit Ibukota. Lagu kebangsaan segera terdengar bergema. Bendera merah putih yang selama beberapa hari dikibarkan setengah tiang, segera dinaikkan menjadi satu tiang penuh. Massa mahasiswa bergerak, berlari, berjoget. Gedung wakil rakyat itu telah menjadi panggung pertunjukan paling spektakuler.
***
Pada suatu ruangan di gedung tua, para Purnawirawan Jenderal yang duduk menghadapi pesawat televisi, sedang   menyunggingkan senyum. Hartawan duduk terdiam, dengan bibit airmata muncul di sudut matanya. Ia tidak tahu untuk siapa harus menangis. Untuk perjuangan mahasiswa, untuk Inaya atau untuk istrinya.
***
Didalam rumah besar itu, Nyonya Hartawan duduk di kursi goyang sendirian. Memakai baju hangat dan syal di lehernya. Ia tidak menangis, karena telah kering airmatanya. Pandangan matanya kosong, sekosong ruangan itu.
***
Kuburan tempat Fajar di makamkan masih seperti semula. Tanah itu masih merah dan penuh taburan bunga. Semarak warna-warni. Ibu Fajar dan dua adik Fajar bersimpuh menangis menggenggam tanah. Mereka tidak tahu untuk siapa menangis. Untuk perjuangan Fajar, kehilangan kepala keluarga atau kesialan hidup mereka. Mereka hanya bisa menangis karena sumber airmata belum kering.
***
Hadi yang duduk di depan pesawat televisi, telah menghilangkan semua suka dan duka. Ia tertawa terbahak-bahak, seperti orang yang baru memenangkan lotre. Rosita duduk di tepi jendela dan sedang menulis di Notebook-nya. Tangannya bergerak cepat memainkan tombol keyboard. Di layar tertulis, “Sejarah akan terus terulang. Ia seperti pusingan waktu dan peristiwa. Tidak ada keabadian didunia yang fana ini, tidak juga untuk sebuah kekuasaan. Dunia adalah tragedi dalam sebuah siklus tertutup.”
Handphone didekat notebook berdering. Rosita meliriknya dan melihat layar siapa yang menelpon. Melihat nama ROY, ia berpikir untuk tidak mengangkatnya. Tapi sebelum dering terakhir, ia sudah mengangkatnya tanpa mengucapkan apa-apa. Hanya suara Roy yang terdengar di telinganya, “Kita dipanggil chief untuk siaran.”
Klik.
(bersambung)

Saturday, September 4, 2010

1998 (20)

BAB DUAPULUHENAM



20 Mei 1998
Ibukota mencekam seperti dalam suasana perang. Sejumlah barikade penghalang sudah menutup semua jalan menuju jalan Merdeka Utara yang merupakan wilayah Istana Kepresidenan. Pada semua sudut dijaga ketat oleh tentara yang menyandang senapan mesin. Bertaburan kendaraan lapis baja dengan moncong siap memuntahkan peluru.
Jalan-jalan utama Ibukota mengalami kelumpuhan. Aktivitas di seluruh kota berhenti total. Warga masyarakat lebih suka tinggal di dalam rumah, menunggu ketegangan selanjutnya. Ada desas-desus yang beredar bahwa akan ada pengerahan massa di sekitar Tugu Monumen Nasional untuk memperingati hari bersejarah, yaitu Hari Kebangkitan Nasional. Tapi sepanjang pagi itu,  televisi dan radio telah menyiarkan pembatalan acara pengerahan massa dengan satu alasan jelas: aparat keamanan telah menunggu dengan komando yang tidak bisa ditawar.
Siapa yang berani melawan kekuatan senjata kalau tidak benar-benar siap untuk mati. Persoalannya juga tidak hanya sebatas hilangnya nyawa, tapi sebuah keputusan yang selalu berpihak. Bukan lagi siapa yang berkuasa berhak mengeluarkan perintah, tapi siapa yang kuat dialah yang menggenggam kemenangan.
Dari pagi hingga malam televisi dan radio terus memberitakan perkembangan-perkembangan yang sedang terjadi didalam Istana Merdeka. Tuntutan mahasiswa agar Presiden mengundurkan diri dan diadakannya Sidang Istimewa, menjadi perdebatan yang terus menerus terjadi.  Sebuah jabatan tertinggi sedang dipertaruhkan diatas papan hitam dan putih.
Menjelang pukul dua belas malam, di sekitar Lapangan Tugu Monumen Nasional, moncong-moncong kendaraan lapis baja bergerak berputar dan mengarah lurus ke gedung Istana Merdeka.  Radio-radio aparat keamanan terus menerus memberikan perintah komando yang setiap detik bisa berubah.  
Tinggal menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. 
(bersambung)

Monday, July 12, 2010

1998 (17)

BAB DUAPULUHTIGA
 

Pagi itu langit berwarna kelam, seperti sengaja mengiringi suasana duka di bumi. Iring-iringan pelayat itu begitu panjang. Sebuah karnaval kematian menuju pemakaman yang telah penuh sesak. Seperti pemakaman seorang pahlawan besar dan disesali kematiannya.
Rosita tampak pucat karena kurang tidur, tapi ia memaksakan diri berdiri diantara ratusan orang pelayat yang mengantarkan keranda jenazah Fajar Sidik. Ia memaksa Roy Ambyah untuk siaran live, dengan risiko apapun. Ia rela kalau siarannya kali ini adalah siaran terakhirnya. Ia telah mempertaruhkan segalanya untuk karirnya. Bahkan nyawanya yang selembar telah ia siapkan untuk dicabut. Ia sangat siap untuk mati. Ia bergidik. Emosinya benar-benar menguasai seluruh kesadarannya. Sejauh itu ia benar-benar tidak tahu untuk apa dan siapa serta kenapa ia bersedia berkorban demikian jauh.
“Hari ini adalah saksi betapa sebuah kematian adalah sebuah kehilangan besar,” Rosita memulai siarannya setelah kamerawannya memberi kode mulai. “Fajar yang gugur sebagai pahlawan, sepantasnya sebutan itu ditujukan kepadanya, adalah bukti bahwa rezim penguasa yang mengandalkan pendekatan keamanan harus dilawan!!”

Massa mahasiswa yang bercampur dengan masyarakat, berebut keranda jenazah Fajar. Ikat kepala mereka bertuliskan REFORMASI. Inaya berjalan memapah Ibu Fajar dibantu dua adik Fajar yang terus menerus menangis. Inaya tidak peduli melihat ayahnya berada diantara para purnawirawan yang datang melayat. Bahkan andai ada Ibunya, ia tidak perlu menangis di bahunya.
Orangtuanya tidak pernah mengerti apa yang sedang di lakukannya. Mereka hanya merasa memiliki dan menguasai, tapi tidak pernah memberi penawaran.  Orangtua seringkali menginginkan anak-anaknya menjadi kebanggaannya. Tapi baginya justru itu kesalahan terbesar orangtua.
Puluhan lampu kilat, sorotan lampu kamera, taburan bunga, teriakan tangis dan kumandang doa, mengiringi kain kafan putih masuk ke dalam liang kubur. Jutaan mata di lain tempat sedang melihat hal yang sama di televisi. Barangkali di sebuah warung nasi pinggir jalan. Barangkali di terminal bis yang berisi preman dan pencuri. Barangkali di sebuah kamar sumpek Pelacur. Barangkali di sudut desa terpencil di kaki bukit.
Langit di atas mengandung badai.
***
Di sebuah ruangan, di  dalam gedung tua, wajah-wajah tua tampak murung. Hartawan duduk diantara para Purnawirawan yang telah berusia diatas tujuhpuluh tahun. Seorang laki-laki berkacamata yang rambutnya telah memutih semua  berdiri dengan wajah tegang.
“Kita harus menentukan sikap.” Suaranya gemetar. “Tidak bisa kita terus menerus diam tanpa membuat keputusan yang diperhitungkan pihak penguasa.”
“Apakah kita masih punya suara?” Seorang Purnawirawan tampak putus asa, dengan sisa kesedihan yang dalam.
“Hanya ada dua pilihan,” Hartawan berdiri dengan sigap. “Kita yang hancur atau mereka memilih berhadapan dengan kita.”
Wajah-wajah tua itu menjadi tegang.
Seorang Purnawirawan angkatan Laut menggosok-gosokkan telapak tangannya. “Berapa kekuatan yang kita miliki?”
“Siapa bilang kita akan melawan dengan senjata.”
“Ya, kita tidak akan melawan dengan senjata,” Laki-laki berambut putih itu menegaskan. 
Keputusan pun telah dibuat. Mereka yang dulu mempunyai kekuasaan untuk memberi perintah perang kepada anak buahnya, sekarang harus membuat komando perang untuk diri mereka sendiri. Dan musuh yang mereka hadapi tidak lain adalah generasi penerus mereka. Dunia militer adalah dunia yang tidak mengenal kata tidak. Putih harus putih, hitam harus hitam. Siapa yang melawan dan merubahnya, bukan termasuk dunia militer.
Akan tetapi usia ternyata bisa merubah kata tidak. Perang tetap menjadi perang, tapi otak waras masih dipergunakan untuk membuat pertimbangan bahwa hitam itu buruk dan putih itu baik. Dan berapa banyak otak waras seperti itu yang bersemayam di kepala para Purnawirawan.
 (bersambung)

Sunday, July 4, 2010

1998 (15)

BAB DUAPULUHSATU


Suara gemuruh memantul ke langit. Teriakan-teriakan massa menggetarkan jalan raya di luar halaman Universitas Trisakti. Di sana sudah berkumpul masyarakat dalam jumlah yang sangat banyak. Tidak ada sudut jalan yang tidak terisi orang. Termasuk jalan layang yang terletak di sebelah selatan Universitas. Orang-orang itu seperti muncul dari dalam bumi. Mereka kelihatan diliputi dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun kepala dan siap melakukan apasaja. Termasuk mengajak  para mahasiswa didalam kampus untuk keluar dan menghadapi aparat keamanan yang telah berjajar kembali dalam jumlah yang lebih besar dari hari sebelumnya, dalam kesiagaan yang lebih tinggi dari hari sebelumnya.
Di halaman kampus terpampang spanduk besar bertuliskan BERDUKA CITA, dan bendera merah putih di kibarkan setengah tiang. Para mahasiswa di halaman kampus yang ditaburi bunga-bunga bertuliskan duka cita itu, tidak banyak menjawab ajakan massa masyarakat yang bersimpati. Mereka tahu, kematian rekan mereka menjadi duka orang banyak. Tapi mereka dibatasi oleh perbedaan, bahwa mereka orang yang dididik dengan perhitungan, yang harus menggunakan otak lebih dulu daripada menuruti emosi, walaupun ubun-ubun kepala mereka sendiri sudah menguap menahan amarah. Bahkan sehari sebelumnya.
Gemuruh suara massa semakin memantul ke langit menjelang pukul duabelas siang, saat matahari diatas kepala. Di suatu sudut jalan raya, seorang laki-laki berwajah kasar mengambil botol bersumbu kain dari dalam tasnya. Dengan korek api yang telah dipersiapkannya, api segera membakar sumbu botol. Dalam dua detik, laki-laki berwajah kasar itu melemparkan bom molotov itu ke sebuah kios oli yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Kios itu terbakar dan laki-laki berwajah kasar itu telah menghilang dibalik kerumunan massa yang semakin bersorak.
***
Gemuruh suara massa terjadi di depan pusat perbelanjaan Mall Ciputra, sebuah tempat orang bersuka ria memanjakan dirinya dan menjajakan dirinya, yang letaknya di seberang selatan Universitas Trisakti. Mereka bergerombol dan kelihatan siap sekali untuk melakukan kerusuhan dengan menyerbu ke dalam pusat perbelanjaan itu.
Orang-orang yang berada di dalam pusat perbelanjaan berlarian keluar. Kepanikan terjadi dimana-mana dan semua orang berlari menyelamatkan dirinya. Meninggalkan kesenangannya karena nyawa mereka sedang terancam. Mendekap harta bendanya yang bisa di bawa. Kehadiran aparat keamanan yang sudah membentuk pagar betis di halaman gedung itu, tidak juga memberi rasa aman bagi mereka. Bagi mereka keadaan sedang dalam bahaya dan pasti akan sangat mengerikan.
Massa yang bergerombol akan menyerbu ke dalam pusat perbelanjaan, gagal melangkah. Mereka tidak berani untuk beradu kekuatan dengan aparat keamanan yang bersenjatakan lengkap.
***
Diatas jembatan layang, massa yang memenuhi jalan raya menghadang sebuah mobil tangki minyak. Laki-laki dengan lengan bertato, membawa tas, merangsek maju dan mencopot selang sehingga minyak segera tumpah diatas aspal. Laki-laki dengan lengan bertato itu mengeluarkan bom molotov dan korek api yang telah dipersiapkan dari dalam tasnya. Lima detik kemudian api menjilati aspal hitam. Massa bersorak kegirangan dan laki-laki dengan lengan bertato hilang entah kemana.
***
Dua buah helikopter militer menurunkan beberapa tentara pasukan khusus berbaju hitam-hitam dengan senapan dibadan, diatas jalan raya yang kosong. Mereka kemudian menyebar, dalam formasi perang. Rupanya telah diberlakukan keadaan kota dalam siaga satu. Bukan hanya polisi yang turun ke lapangan, tapi tentara telah juga ikut serta.
Kendaraan lapis baja dalam jumlah yang banyak bergerak dengan pasukan darat yang mengiringinya. Pengerahan tentara dalam jumlah banyak itu telah membuat jalan raya lengang dan menyingkirkan semua kesibukan yang biasanya menumpuk di sekitar jalan raya. Tidak ada mobil, tidak ada kemacetan dan tidak ada polusi kendaraan yang menyesakkan dada. Orang-orang tidak lagi berjalan dengan santai. Mereka berlarian sambil berharap nyawa mereka tidak melayang dengan sia-sia. Sebagian lagi berdiri menonton karena tidak pernah ada pemandangan menarik dan sehebat itu selama ini.
***
Di daerah Pecenongan, Rosita sedang berlarian bersama Harry yang terus menerus melakukan perekaman gambar. Untuk beberapa saat ia berdiri kaku melihat pemandangan di depannya. Ia dipaksa untuk mempercayai apa yang sedang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang-orang sedang menjarah toko dengan gagah berani dan menenteng barang jarahannya seolah-olah itu barang miliknya sendiri.
Para pemiliknya yang kebanyakan warga keturunan Tionghoa entah sudah pergi kemana. Mereka pasti sudah ketakutan karena pergaulan mereka masih dibeda-bedakan antara pribumi dan non pribumi. Istilah yang  bagi mereka sangat menakutkan sementara mereka telah hidup beratus-ratus tahun sejak dari nenek moyang mereka di negeri ini. Mereka punya hak hidup sama dengan orang yang disebutnya pribumi.
Api sudah membakar gedung dimana-mana. Seperti muncul begitu saja api itu, seperti orang-orang yang berlarian tidak beraturan. Teriakan-teriakan orang  tidak bisa dibedakan lagi antara yang ketakutan dan yang senang karena habis menjarah. Rosita sampai didepan restoran yang dulu sempat dilihatnya bersama Fajar sewaktu pembukaan. Restoran itu tidak berumur panjang. Api sedang menjilatinya dengan buas, seperti habis diterjang rudal.
Harry menyeret Rosita yang bengong. “Jangan sentimentil!” Teriaknya.
Rosita tidak sedang berpikir tentang hubungan emosional. Ia tidak pernah mengenal pemiliknya yang kebetulan keturunan Tionghoa. Tapi ia sedang mencari jawaban, bagaimana orang-orang mampu merobohkan peradaban mereka sendiri. Dan ia tahu persis ia tidak bisa menjawabanya saat itu juga.
“Harry, ke arah sana!!” Rosita menunjuk ke arah dimana letak toko roti Pak Tan.
“Disana toko sudah dibakar semua!”
Rosita juga yakin hal itu, bahkan mungkin seluruh kota telah di bakar. Tapi ia tetap bersekiras, paling tidak ia mempunyai harapan bahwa ia saksi terakhir yang melihat toko itu masih berdiri. Harapan itu ternyata telah hancur menjadi puing. Kemarahan telah membuat toko roti itu menjadi abu. Rosita yakin ia tidak sedang berada di suatu negeri dimana orang-orang begitu murah menghargai peradaban.
Sejak kecil, ia telah bersekolah dengan salah satu mata pelajaran tentang budi pekerti dan menghormati makhluk hidup lain. Bahkan sampai ia masuk Universitas, mata pelajaran itu masih diajarkan. Betapa bagusnya sistem pendidikan yang telah diterimanya, tapi apa yang dilihatnya sekarang menjadi mata pelajaran baru baginya. Ia tidak pernah tahu ada mata pelajaran budi pekerti buruk dan tidak perlu menghormati makhluk hidup lain.  Ia telah dibohongi sepanjang pendidikannya dan betapa hebat pembuat sistem pendidikan itu. Pasti orang itu bergelar guru besar dan mungkin bersekolah di luar negeri, atau malah tidak pernah sekolah sama sekali.
“Kita harus ke Glodok!!” Harry berteriak.
Setengah jam kemudian, Rosita merasa tenggorokannya benar-benar macet untuk mengeluarkan suara. Sepasang matanya dipaksa untuk melihat begitu banyak kejadian yang baru pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Ia harus menangis tapi airmatanya seperti telah habis. Matanya jadi begitu liar. Seperti kamera Harry yang tidak pernah berpaling dari detik ke detik merekam kejadian yang barangkali akan disaksikan anak cucunya bertahun-tahun kemudian dan berbad-abad kemudian.
Suatu kabar duka bahwa di negeri yang mendapat julukan gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, subur makmur dan aman tentram, pernah terjadi peristiwa dimana manusia sedang kehilangan kemanusiannya dan tidak perlu menanyakan alasannya kenapa. Malu bertanya akan sesat di jalan, tapi terlalu banyak bertanya akan tidak pernah punya jalan untuk pulang. Maka carilah jawabannya didalam diri sendiri.   
Rosita tidak mempunyai kesempatan untuk masuk ke lorong-lorong pasar Glodok, dimana sedang terjadi adegan brutal. Seorang Gadis Tionghoa tiba-tiba sudah terjebak di suatu lorong sepi. Mestinya ia bisa segera keluar dari sana, karena setiap hari ia melewatinya. Tapi kepanikan membuatnya tidak bisa berpikir. Ia berteriak histeris ketika tiba-tiba seorang laki-laki menerjangnya.
Ia masih sempat melihat beberapa laki-laki lain yang menenteng barang jarahan. Dengan sisa tenaga yang tidak seberapa, ia menyingkirkan laki-laki itu. Bersamaan dengan itu ia merasa celananya dirobek paksa, dan ia tak mempunyai sisa tenaga lagi ketika badan besar itu menindihnya dan merobek celana dalamnya. Gadis itu menjerit.   
(bersambung)

Sunday, March 28, 2010

1998 (12)

BAB DELAPANBELAS




Universitas Trisakti,
 12 Mei 1998
Di halaman utama kampus, bendera merah putih dikibarkan setengah tiang. Lagu kebangsaan Indonesia Raya sedang dikumandangkan oleh para mahasiswa yang memenuhi halaman yang luas itu. Mereka tumpah ruah memenuhi sudut-sudut halaman. Di pintu masuk, masih saja terus berdatangan para mahasiswa Universitas itu dan juga dari Universitas lain  yang ikut bergabung.
            Pada hari itu, telah ditetapkan untuk berdemonstrasi besar-besaran dan akan dilanjutkan untuk berjalan jauh menuju gedung wakil rakyat. Pasti akan menimbulkan keramaian yang tidak biasanya. Jalanan yang biasanya macet oleh mobil-mobil, sekarang akan lebih macet dengan perjalanan mahasiswa ke gedung wakil rakyat. Demonstrasi di Universitas dan di jalanan telah selesai jadwalnya. Mereka ingin menuju gedung dimana mereka katanya di wakili untuk bersuara membela kepentingan mereka. Pada kenyataannya selama ini mereka tidak pernah mendengar mereka bersuara untuk mereka. Para wakil rakyat hanya bersuara untuk kepentingan mereka sendiri. Apa yang diperjuangkan para wakil rakyat tidak ada hubungannya dengan rakyat.
            Maka para mahasiswa menuju gedung wakil rakyat.
            Fajar Sidik dan Inaya beserta teman-temannya yang lain telah datang dan bergabung menjadi satu barisan. Tidak lagi ada perbedaan mereka datang dari mana. Mereka hanya mempunyai satu tekad untuk berubah.
Jumlah mahasiswa yang begitu banyak telah memaksa aparat keamanan mengerahkan pasukan dalam jumlah besar. Armada Brigade Mobil telah berderet-deret membentuk pagar di jalan raya di luar kampus, seolah akan menghadapi perusuh brutal dan bersenjata. Pasukan bertuliskan PHH membentuk pagar pertahanan memanjang di tepi jalan raya. Para komandan berjalan kesana kemari sambil berteriak-teriak lewat radio komunikasinya untuk mengalihkan jalur lalu lintas yang mengalami kemacetan panjang. Semua ruas jalan telah penuh, juga di atas jembatan layang Grogol.
Kawasan itu adalah kawasan padat. Perkantoran, pusat perbelanjaan, terminal dan kampus serta jalan-jalan pintas menuju kawasan lain.  Universitas yang letaknya bersebelahan dengan terminal bis itu telah menjadi pusat perhatian masyarakat luas. Orang-orang sudah berdiri di tepi jalan, menonton. Menonton mahasiswa demonstrasi dan menonton para polisi yang begitu banyak jumlahnya dan bersenjatakan lengkap.
Rosita dan Harry berada di suatu sudut untuk pengambilan gambar. Para wartawan dan reporter sesibuk Komandan aparat keamanan yang mengatur koordinasi anak buahnya. Semua tiba-tiba begitu sibuk, hiruk pikuk dan ketegangan menjalar di setiap kepala mereka. Matahari yang beranjak siang segera menghujam ubun-ubun kepala. Dalam keadaan seperti itu, kemarahan mudah sekali keluar dan dilampiaskan.
Fajar berdiri diatas mimbar, dengan kepalan tangan sambil berteriak. “Saya membuktikan sendiri bahwa rezim ini biadab. Dan jalan satu-satunya harus ditumbangkan!!!” Teriakan Fajar segera disambut dengan gemuruh yang memenuhi seluruh halaman kampus.
Suaranya memantul ke langit.
“Hari ini kita akan berjalan jauh, ke rumah kita yang sesungguhnya, gedung wakil rakyat. Disana kita harus membuat perubahan!!!!”
Gemuruh dimana-mana.
Sorak dimana-mana.
*****
Di jalan raya, diluar pagar aparat keamanan, orang-orang yang menonton semakin banyak. Seperti sedang terjadi sebuah perhelatan akbar, mereka datang dari semua arah. Kebanyakan dari mereka hanya ingin menonton, karena bagi mereka demonstrasi mahasiswa menyenangkan. Apalagi dalam jumlah yang sangat banyak. Tapi Hadi berada disana tidak hanya menjadi penonton. Nalurinya sebagai wartawan memaksanya keluar untuk melihat perubahan seperti yang pernah dilihatnya sewaktu muda dulu. Ia mengajak Pak Ong ikut serta. Jadilah mereka seperti dua orang manusia lanjut usia yang sedang tersesat jalan.
Hadi tahu betul dalam suasana seperti itu banyak berkeliaran mata-mata yang bisa bekerja untuk siapa saja. Perhatiannya lebih tertuju kepada orang-orang di sekitarnya. Mengamati setiap orang yang dilewatinya. Ia hafal diluar kepala untuk membedakan mana orang biasa dan mana mata-mata.Walaupun penampilan mereka sama dengan kebanyakan orang, tapi ada ciri-ciri tertentu mereka. Sampai kemudian matanya menangkap temannya, si doyan rokok. Kali ini lelaki seusianya itu memakai jaket hitam dan memakai baret prancis. Hadi mendekatinya. Memandangnya lama untuk menarik perhatian Sam.
"Apa kabar?"
Sam menoleh. "Baik." Air mukanya tidak berubah menjadi ramah. Tapi ia lalu melanjutkan,  "Apa kau sedang melakukan perburuan lagi?"
"Saya sudah pensiun. Sudah bau tanah. Tapi aku tahu semua sudah berubah. Kecuali barangkali dunia spionase."
Sam melihat sekeliling, dan berkata, "Sebaiknya carilah jalan keluar dari sini, Hadi."
"Oh, ada sesuatu yang akan terjadi ya?"
"Pergi saja." Ia bersiap pergi.
"Sebentar, Sam.  Benar itu namamu?"
Sam menatap Hadi dengan serius. "Apa aku pernah menyebutkan namaku?"
"Tidak pernah. Apa kau merasa kaget aku tahu namamu sementara kamu hanya dikenal dengan sebutan si doyan rokok?"
"Tidak."      
"Kalau begitu terimakasih atas peringatannya."
Sam pergi tanpa menoleh lagi, menghilang dibalik kerumunan orang banyak.
"Menurutmu dia bisa dipercaya?"
"Saat seperti sekarang, informasinya pasti benar. Tapi bagiku dia hanya seorang penghianat." Hadi mencari jalan keluar dari kerumunan. "Ayo kita pergi dari sini, Ong. Langit sebentar lagi akan mendung."
Apa yang menarik dari dunia mata-mata adalah kerahasiaannya. Sebuah dunia yang gelap dan terdiri dari manusia-manusia penuh dengan beban rahasia busuk yang mungkin akan dibawanya sampai ke liang kubur. Walaupun tidak mengenal dengan baik, mengatahui nama dan latar belakang hidupnya, dan cenderung merugikan dirinya, karena keselamatannya selalu terancam, Hadi telah mendapatkan suatu rahasia besar dibalik peristiwa besar yang menimpa negerinya. Selain karena Tuhan belum berkenan mencabut nyawanya, ia masih hidup dengan bebas dan tenang, karena ia telah berjanji secara tidak resmi kepada kenalannya itu untuk tidak mempublikasikan rahasia besar itu lewat media atau kepada orang lain. Dan Hadi memegang teguh janji itu, sampai hari dimana ia bertemu kembali dengan laki-laki yang selalu merokok itu. Tapi laki-laki itu tidak mengetahuinya bahwa ia telah menuliskan semua rahasia itu dalam bukunya yang ia berikan kepada Rosita. 
(bersambung)

1998 (11)

BAB TUJUHBELAS




Alice Springs, Australia.
Dalam sebuah bangunan kolonial yang megah, telah berkumpul semua anggota dari seluruh cabang. Mereka nampak santai dan duduk dengan cara yang menunjukkan bahwa mereka berada di rumah sendiri.
            Sang Ketua duduk lebih santai. Ia sudah memberikan wewenangnya kepada Sam. Seperti biasa, Sam menyalakan rokok filter-nya terlebih dahulu, sebelum akhirnya berkata, "Saya ingin menyampaikan kabar gembira dari Jakarta. Semua berjalan sesuai rencana. Tahap terakhir rencana kita akan segera dilaksanakan dan pasti sukses. Rencana itu akan dilaksanakan di bagian Barat dari Jakarta, tanggal 12 Mei dan akan dilanjutkan dua hari kemudian dengan aksi massa untuk menciptakan chaos di Jakarta dan kota besar lainnya."
            Uncle Sam (nama sandi), bicara, "Bagaimana kemungkinan militer bertindak."
            "Kita akan memotong jalur komunikasi pada hari H untuk mengacaukan jalur komando. Dan kita telah menempatkan orang-orang kita didalamnya untuk memperlancar rencana. Ada pertanyaan?"
            Tak ada pertanyaan.
***     

            Ruangan Senat Universitas sibuk luar biasa. Jadwal demonstrasi yang padat membuat semua harus bergerak. Mereka mulai membiasakan diri bahwa kuliah bukan hanya belajar di kelas. Kampus tidak sebatas memberikan mereka masa depan dan selanjutnya terserah mau menjadi apa. Musim demonstrasi ini memberikan pilihan lain bahwa masa depan itu bisa mereka rintis menjadi seperti apa. Mereka mulai mempunyai posisi tawar menawar yang menguntungkan. Paling tidak pada saat musim demonstrasi sedang marak-maraknya.
Inaya duduk di meja rapat dengan beberapa teman aktivis. Membuka kertas-kertas undangan yang datang dari Universitas lain. Agaknya semua sedang berlomba membuat jadwal demonstrasi dan bagaimana bisa menonjol dengan didukung massa dalam jumlah banyak.
“Kita menerima undangan dari Trisakti. Mereka akan mengadakan longmarch ke gedung wakil rakyat.” Inaya memberikan pidato sambil membacakan sebuah surat.
Seorang mahasiswa berkulit gelap angkat tangan. "Maaf, Inaya."
"Saya belum selesai, Luther. Interupsi nanti saja kalau sudah selesai."
"Sama sekali bukan mau interupsi, tapi saya mau minta ijin kencing."
Ruangan tertawa.                  
Belum sampai Luther keluar, pintu didepannya terbuka dan mata Luther seperti mau keluar sambil berteriak kegirangan. "Hei, hei, lihat, siapa yang datang!! Si anak hilang!”
Semua kegiatan ruangan itu terhenti seketika. Melihat hantu pun mereka tidak akan setegang itu. Padahal yang berdiri kaku di pintu itu adalah Fajar Sidik, teman mereka yang telah hilang.  Ruangan mendadak sepi. Inaya juga berdiri kaku. Semenit kemudian ruangan berubah menjadi penuh sorak. Fajar dikerubuti seperti seorang pahlawan yang baru kembali dari medan perang.
Inaya masih berdiri kaku dan menangis. Ia mulai menyadari bahwa Fajar ternyata bukan hanya miliknya sekarang. Ia menunggu sampai teman-temannya berhenti sendiri, tapi penantiannya sia-sia karena semua orang ingin mendengar kisahnya.
Fajar menolak usul teman-temannya untuk mengadakan konferensi pers. Ia memilih pulang ke rumah dan menolak pengawalan teman-temannya yang menghawatirkan keselamatannya. Ia memilih mengajak Inaya yang telah lama menunggunya untuk berbicara. Tapi dalam perjalanan dalam taksi, mereka tidak berbicara. Seperti orang yang belum lama berkenalan dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan.
"Saya sekarang tinggal di rumahmu." Inaya tidak tahan untuk tidak berbicara.
"Kalau itu menurutmu baik, lakukan saja."
Inaya tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Biasanya yang keluar adalah pertanyaan dan bukan pilihan jawaban. Inaya melihat Fajar telah berubah. Tenang dan dingin. Ya, dingin. Inaya bisa merasakan perubahan itu.
"Apakah mereka menyakitimu?"
Fajar diam dan segera terbayang di kepalanya sebuah ruangan sempit dan gelap, orang-orang di balik terali besi, pistol menyalak dan kepala pecah dengan darah muncrat kemana-mana. Fajar tiba-tiba menggigil tubuhnya. Pandangan matanya liar dan gelisah.
Inaya memeluknya.  Dilihatnya Fajar begitu ketakutan. Menghadapi perlakuan  Ibunya yang sangat kasar saja tidak sampai begitu menderitanya. Fajar yang dikenalnya adalah orang yang tegar, paling sabar dan penuh pengertian. Tapi yang dihadapinya sekarang Fajar lain. Yang pernah hilang entah kemana dan tiba-tiba muncul begitu saja. Seperti hantu.  Ia yakin  telah terjadi sesuatu yang sangat menakutkan yang menimpa Fajar.
Sesampainya di rumah, Fajar langsung berbaring diatas tempat tidur yang telah membesarkan tubuhnya. Ia menangis bertemu kembali dengan Ibu dan dua orang adiknya. Ia ingin terus bersama mereka. Telah ia janjikan bahwa ia adalah kepala keluarga. Ia biarkan kedua adiknya terus menangis. Ia biarkan Ibunya memberikan perhatiannya yang berlebihan, seperti ketika ia masih kecil. Membelai rambut dan mengusap airmatanya. Ia tidak marah Inaya menempati kamarnya. Tiba-tiba ia merelakan semua apa yang dimilikinya dan apa yang ia tidak suka sebelumnya.
Berita kemunculan Fajar didengar banyak orang, termasuk Rosita. Ia datang sendiri dan melepas atribut reporternya. Begitu bertemu, langsung memeluk Fajar dan menangis. "Kamu orang terakhir di dunia yang saya tunggu hari ini," katanya membuat Fajar tersenyum.
Inaya melihatnya dengan perasaan yang ditekannya sedemikian rupa. Ia tahu harus cemburu pada Rosita karena wanita itu juga menangis. Dan air mata itu jelas untuk Fajar. Apalagi ketika Rosita bicara sambil menggenggam tangan Fajar.
“Kakek saya mengatakan nyawanya sedang terancam sekarang.” Rosita sudah tidak menangis. “Kakek dianggap sebagai musuh oleh penguasa negeri ini. Dua hari yang lalu saya juga baru menerima ancaman karena membuat berita penculikan kamu. Saya siap dipecat dari karir saya tapi saya tidak bisa dipisahkan oleh tekad saya.”
Inaya kalah dewasa daripada Rosita. Ia masih bisa menangis dan wanita didepannya itu begitu tegar, walaupun airmatanya sudah tumpah. Semakin tertekan perasaannya ketika Fajar menatap Rosita lama. Seperti memendam perasaan cinta yang menggelora dan segera ingin dilampiaskannya.
"Bicaralah kepada saya dan Inaya, supaya kita juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan." Rosita memohon.
"Kita sudah terlalu banyak bicara."
"Tapi kita tidak bisa menolak duduk meskipun kita tahu kursi itu berduri."
"Kita tidak perlu duduk kalau kita masih bisa berdiri."
Rosita tersenyum. "Saya memang selalu yakin kamu tidak pernah kehilangan semangat."
Inaya semakin kehilangan tempat di ruangan itu.
 (bersambung)

1998 (10)


BAB ENAMBELAS

Ruangan itu gelap, lembab dan dipenuhi oleh asap rokok yang menyesakkan paru-paru dan mengaburkan pandangan mata. Seperti sebuah ruangan yang jarang digunakan. Sinar matahari menembus di kisi jendela yang letaknya di tembok dan dua meter tingginya dari lantai ruangan. Di tengah ruangan terdapat satu kursi kayu, seperti sengaja diletakkan disana sebagai satu-satnya pengisi ruangan. Fajar duduk disana dengan kepala tertunduk dan kedua tangan terborgol ke belakang. Kedua matanya ditutup menggunakan kain hitam. Bajunya telah bercampur keringat dan darah yang mengering. Wajahnya bersih, tidak mengalami cacat luka atau kulit yang terkelupas walaupun satu inci.  Tapi cara duduknya menampakkan bahwa ia sangat tegang dan tertekan. Posisinya siap untuk menunggu apalagi yang akan terjadi dengan tubuhnya. Hanya sedikit sisa kesadaran yang dimilikinya bahwa nyawanya belum tercabut dari raganya. Hal itu ia yakinkan sendiri lewat kedua telinganya yang dipasangnya sebagai ganti penglihatannya yang tertutup.
Kolonel berbaret hitam dan memegang tongkat itu berdiri di depan Fajar. Ia diapit dua serdadu berbaret hitam juga. Wajahnya sedikit menunjukkan keramahan dan ia bicara dengan sangat tenang.
“Kami akan membebaskanmu…”
Tiba-tiba kesadaran Fajar kembali sepenuhnya. Ia merasa dirinya terlempar jauh ke langit menemukan cahaya kehidupan.
“Tapi ingat, kami sudah tahu siapa kamu. Kamu tinggal dengan ibu dan dua adikmu. Ayahmu sudah meninggal dan kamu bekerja sebagai sopir pengantar roti di toko Tan, dan juga sebagai sopir di rumah seorang purnawirawan Angkatan Darat.” Kalimat itu meluncur seperti dibacanya dari sebuah tulisan. “Tapi bukan karena kamu dekat purnawirawan itu dibebaskan. Meskipun kamu akan melapor kepada Panglima Kodam atau Panglima Tinggi sekalipun, kami tetap bisa melampauinya. Atau Kontras? Tidak, mereka tidak bisa menjagamu terus menerus. Satu hari kamu mungkin bisa lolos, satu minggu atau satu bulan,  bahkan satu tahun. Tapi dalam satu hari, satu minggu, satu bulan dan satu tahun itu, pasti ada waktu dimana kamu lengah, dan saat itulah kami selesaikan tugas kami!” 
Kesadarannya yang telah kembali tetap tidak bisa mencegah bulu kuduk Fajar berdiri. Baginya itu sebuah ancaman yang sangat amat serius. Bayangan kematian sangat jelas pada setiap kalimat yang didengarnya itu. Ia memang telah siap menghadapi kematiannya ketika pertama kali menyadari bahwa ia diculik. Sebuah kematian yang pasti tidak wajar. Mungkin ia akan dipotong tujuh belas dan mayatnya dibuang ke laut sebagai santapan ikan yang kelaparan.
Ia telah melihat kematian bapaknya sebagai akibat dari sebuah kejahatan manusia. Dalam perkelahian yang adil, ia yakin bapaknya akan menang. Tapi menghadapi beberapa orang dengan clurit dan golok setajam pisau daging, nyalinya melayang juga. Dan tubuh ayahnya terkoyak-koyak seperti tercabik cakar serigala. Manusia lebih tinggi kedudukannya daripada malaikat, tapi celakanya manusia diberi nafsu yang lebih kejam daripada binatang.
            Ruangan itu senyap.
            Tapi halaman Universitas itu sedang bergemuruh. Ratusan mahasiswa berkumpul untuk berteriak. Tulisan terbentang, bendera dikibarkan dan tangan terkepal. Semua menyimpan kemarahan yang meledak-ledak. Berdiri diatas mimbar, Inaya berikat kepala putih. Ia  berteriak lantang dibawah matahari pukul duabelas.
            “Kita harus terus maju. Penculikan teman-teman kita adalah bukti, rezim ini harus dilawan!!!”
            "Lawaaan!!!
Gemuruh memenuhi halaman Universitas.
Kali ini gemuruh itu disertai dengan kemarahan di ubun-ubun kepala mereka. Keadaan menjadi semakin tidak pasti. Perubahan harus terjadi.   Termasuk Inaya yang juga berubah dan telah terjun ke gelanggang tampil sebagai pengganti Fajar. Gadis itu menarik perhatian lebih banyak dari sebelumnya dari massa. Masih lebih kepada kekaguman mereka karena Inaya seorang perempuan yang cantik dan menarik, selebihnya boleh apasaja. Termasuk alasan Inaya sebagai pengganti Fajar, orang yang dicintainya.
Disudut lapangan, Rosita terharu melihatnya. Ia terpaksa harus mengakui kalau ia cemburu pada gadis itu. Diluar soal Fajar, ia lebih cemburu kepada keberanian Inaya dan kesempatan yang dimilikinya. Kalau saja ia dulu mempunyai kehidupan seperti saat dimana pergerakan mahasiswa terjadi secara besar-besaran seperti sekarang. Ia mengharapkan sepenuhnya kalau tampilnya Inaya sebagai penerus Fajar. Ia telah kehilangan tokoh, ia yakin hanya untuk sementara, dan sekarang ia menemukan kelanjutan kisahnya. Harry disampingnya sudah mengambil posisinya.
 “Kita mengambil pengantar dulu,” kata Harry memberi tahu Rosita. 
            Rosita segera mengambil posisi dengan latar belakang Inaya berpidato. Harry segera menghitung mundur. “Lima, empat, tiga, dua, satu….!”
“Saudara, patah tumbuh hilang berganti. Gerakan mahasiswa tampaknya tidak bisa dihentikan oleh hilangnya kawan mereka yang diduga kuat diculik…..”
Siaran itu mengudara ke seluruh negeri. Mengetuk setiap pintu rumah dan mengabarkan bahwa perubahan sedang terjadi dan semua orang diminta untuk bereaksi. Telah begitu lama orang tidak bisa memperoleh kabar yang jujur soal negeri ini, karena berita yang akan disampaikan oleh para pewarta telah dimanipulasi. Kebenaran telah disimpan dalam sebuah tempat yang gelap dan dijaga ketat seolah-olah merupakan benda pusaka yang harus selalu di rawat.  Selama bertahun-tahun orang hanya mengetahui negeri mereka memang aman dan nyaman untuk ditinggali. Para turis berdatangan sampai ke pelosok desa di kaki bukit, di tepi laut, dan mereka selalu kembali datang karena terkagum-kagum dengan keramahtamahan penduduknya, bahkan mereka menganggap sebagai  masyarakat paling sopan di dunia.  
Tapi kejadian di Ibukota yang disiarkan lewat televisi telah membuka seluruh kesadaran bahwa sesuatu telah terjadi dengan sangat serius.
***
Rosita dipanggil Roy Ambyah dengan mendadak. Ia segera bisa mencium bau tidak enak. Dengan suasana hati yang masih tidak menentu, ia menuju ruangan Roy. Baru saja ia melangkah masuk, Roy sudah menunggunya dengan berdiri dan menyodorkan selembar surat berkop Departemen Penerangan, dan berkata, "Saya merasa ada sesuatu yang harus kita pertimbangkan."
"Baik, Pak. Saya akan membacanya setelah saya selesai meliput nanti malam."
Roy dengan tegas mendesak, "Sita, bacalah sekarang."
Rosita merasa suasana sedang menegangkan di ruangan itu. Tanpa duduk, ia segera membacanya. Pesannya sangat jelas dan ia tidak perlu dua kali untuk membacanya, tapi ia masih tidak mempercayainya. Dengan sinis dia berkata, “Saya kira semua telah berubah."
"Siapa yang mengira belum."
"Saya tidak habis mengerti, ada persoalan besar yang mengancam keutuhan bangsa ini, tapi betapa reporter kecil seperti saya masih sempat mereka urusi?”
            “Semua orang sedang diurusi sekarang.”
            “Kali ini saya akan menggunakan hak jawab saya, meski perusahaan tidak mendukung saya.”
            “Ini bukan perkara tanya jawab, tapi peringatan keras bahwa kamu harus menghindari apa yang mereka sebutkan sebagai tuduhan yang memojokkan.”
            “Saya melaporkan kasus penculikan itu berdasarkan data Kontras.” Nada Rosita meninggi.
            “Saya sudah menjelaskannya kepada Chief Eksekutif kita.”
“Dan saya yakin beliau tidak mau tahu.” Rosita menyambung kalimat itu dengan geram. “Terimakasih, saya harus meliput demonstrasi mahasiswa.”
Rosita segera menghilang dan satu jam kemudian ia sudah kembali ditengah-tengah massa mahasiswa berdemonstrasi. Ia akan terus meliput dan menyiarkan apa yang dilihat dan dirasakannya. Ia sadar betul surat yang ditujukan kepadanya itu serius. Tapi ia harus tetap merekam seluruh kejadian yang boleh dan tidak boleh direkam. Ia akan bicara apa yang didengar dan dilihatnya, karena ia masih punya nyali untuk berkata jujur. Kebenaran tidak bisa dikalahkan kecuali oleh kebenaran itu sendiri.
(bersambung)