Showing posts with label novel. Show all posts
Showing posts with label novel. Show all posts

Wednesday, February 9, 2011

SAM (2)


BAB 2


KABAR Abusono berada di Banjarnegara, sudah sampai di meja Umar Yusuf, kepala Dinas Intelijen Khusus (DIK). Gedung DIK terletak agak jauh dan menyendiri dari pusat kegiatan pemerintahan Ibukota Jakarta . Sebuah gedung yang diselimuti oleh kesan misterius dan penuh rahasia. Dikelilingi tembok tinggi dengan kawat berduri yang dialiri listrik berkekuatan tinggi, kamera rahasia dan jenis peralatan canggih lainnya yang mampu mematikan arus komunikasi di sekitarnya. Dari luar, gedung itu kelihatan tenang. Selalu tenang. Tapi didalam ruangan gedung itu, berbagai aktifitas sedang berlangsung terus menerus. Tiada waktu berhenti. Semua harus bergerak dan selalu bergerak.
     Penjagaan di setiap pintu masuk dilakukan selama duapuluhempat jam penuh oleh polisi militer berseragam sipil. Setiap orang yang masuk, harus diperiksa dengan sangat ketat melalui ruangan khusus yang telah dipasang sinar infra merah. Pada setiap sudut terdapat kamera rahasia dan alat deteksi. Tidak ada satu penyusup yang akan berhasil masuk. Bahkan untuk seekor tikus.
Umar Yusuf, Kepala DIK, masih berada didalam ruang kerjanya. Berusia enampuluh sembilan tahun, seorang laki-laki yang dingin dengan wajah penuh kerut ketuaan dan sorot mata menikam serta sarat dengan beban rahasia yang busuk. Ia seorang purnawirawan Angkatan Laut berbintang tiga. Masih nampak gagah dan menampakkan diri sebagai laki-laki yang mempunyai kharisma. Pekerjaannya membuatnya harus selalu berada dalam suatu keadaan segar bugar, penuh selidik dan mencurigai siapapun, termasuk keluarganya. Ia hanya percaya kepada dirinya sendiri. Bahkan tidak termasuk kepada Jun Maher, anak buahnya yang paling ia andalkan, yang tengah duduk didepannya.
Ia sudah memegang sebuah foto ukuran 10R dengan gambar berwarna dan disodorkan kepada Jun Maher untuk melihatnya.
     “Siapa ini?” Tanya Jun Maher manatap foto lelaki tua berkacamata tebal dengan kepala hampir botak dan bentuk wajah yang keras.
     “Kau tidak tahu dia?” Umar Yusuf mengambil foto-foto yang lain dan menyodorkannya. “Coba lihat foto-foto yang ini.”
     Jun Maher melihat satu persatu foto hitam putih itu. Gambar lain dari Abusono sewaktu masih muda dan satu foto saat berdiri di depan sidang Mahmilub di Bandung. Meskipun belum jelas benar baginya, tapi ia tahu wajah dingin dalam foto itu. Dan ia begitu saja berkata,
“Sam?”
     “Ya.”
     “Maksudnya?”
     “Dia sudah ditemukan.”
     “Sudah ditemukan?”
     “Di sebuah kota bernama Banjarnegara.”
     “Orang ini?”
     “Ya, Sam, Kepala Biro Khusus Sentral Partai Komunis Indonesia tahun 1965.” Umar Yusuf dengan lancar berkata. “Orang yang sampai detik ini tidak ada yang tahu keberadaannya sejak tanggal 30 sepetember 1986.”
“Bukankah tanggal itu dia dieksekusi di salah satu pulau di Kepualauan Seribu?”
“Ya. Tapi saat terjadi pergantian kekuasaan tahun 1998, sumber intelijen mengatakan Sam masih hidup.”  
     Jun Maher masih tidak percaya melihat foto Abusono tua, yang di foto beberapa hari sebelumnya oleh agen yang sudah berada di lapangan.
“Ini hanya kebetulan mirip, Pak.”
     “Memang butuh kepastian untuk meyakinkan bahwa lelaki tua ini adalah Sam. Tapi tim kita di laboratorium sudah meyakinkan bahwa foto terbaru itu adalah foto Sam.”
     “Siapa sumber kita?”
     “Teman lama yang telah pensiun.”
     Jun Maher tertawa. 
     “Kau tidak percaya?”
     “Tentu saja tidak,” Jawab Jun Maher mantap. “Sam itu hanya Tuhan yang tahu berada dimana sekarang setelah eksekusi yang kita tidak pernah tahu dilakukan atau tidak.”
     “Untuk itu kau harus turun sendiri meyakinkan berita penemuan ini,” kata Umar Yusuf yakin. Ia sudah mengalami banyak bahaya bersama Jun Maher dan sudah berkali-kali mempercayakan nyawa kepadanya. Jika Umar Yusuf punya anak asuh, Jun Maher-lah anak asuhnya. Tapi sedekat apa hubungannya dengan Jun Maher, Umar Yusur tak bisa sepenuhnya mengenal lelaki itu. Seperti semua agen yang baik, Jun Maher tidak membagi hidupnya dengan orang lain, hanya memperlihatkan apa yang diperlukan pada saat dibutuhkan. Persis seperti Umar Yusuf.
     “Jadi Bapak percaya orang ini sudah ditemukan?”
     “Demi Tuhan, Jun, ini penemuan paling menakjubkan setelah orang bisa mendarat di bulan,” kata Umar Yusuf berapi-api. “Kau tahu, ini juga berita pertama setelah empatpuluh tahun lebih kita tidak pernah bisa mengendus keberadaannya. Lagipula sangat sedikit yang tahu wajah orang ini sebenarnya. “
     “Menurut saya ini omong kosong.”
     “Setiap informasi sekecil apapun, sangat berharga buat kita. Apalagi untuk orang yang paling dicari keberadannya seperti Sam.”
     “Kalau pun benar, ini akan menjadi bola api liar.”
     “Dan akan memancing keluar ikan yang besar.”
     “Tetap saja saya belum percaya,” kata Jun Maher lagi.
     “Untuk itu aku akan siapkan tim untuk kau pimpin ke Banjarnegara,” katanya tegas tanpa menghiraukan ketidakpercayaan Jun Maher. Ia mengambil telpon. “Kita bicara lagi setelah ini.”
     Jun Maher tidak bisa berkata lagi. Atasannya itu sudah berbicara di telpon. Artinya ia tidak bisa membantah atau mengemukakan pendapatnya. Makanya kemudian ia memilih keluar ruangan.  Tapi saat ia hendak keluar, atasannya itu memanggil lagi.
     “Jun, kita bicara sekarang, tapi diluar.”
     Karir Jun Maher dimulai di Departemen Luar Negeri sebagai wakil Kepala Intelijen urusan Dalam Negeri. Dengan umur empatpuluh dua tahun, sebenarnya ia terlalu muda untuk menempati posisi strategis sebagai salah seorang ahli intelijen yang diperhitungkan di Dinas Intelijen Khusus, sebuah instansi baru yang sangat dirahasiakan keberadannya. Penampilannya selalu rapi dan bersih, dengan potongan rambut pendek agar bentuk wajahnya terlihat jelas. Agaknya ia orang yang mempunyai cukup waktu untuk bersolek. Tapi satu-satunya alasan ia melakukan hal itu karena belum beristri. Kebutuhan hidupnya telah tercukupi dengan sangat layak. Sebuah rumah bagus di salah satu kawasan real estat yang banyak di huni kalangan eksekutif muda, sebuah mobil jip warna hitam, dan setiap ada waktu libur ia menonton film di Planet Hollywood yang dilanjutkan dengan nongkrong di Hard Rock Cafe. Hampir semua kenikmatan bisa didapatnya dengan mudah dan ia kelihatan menikmati sekali statusnya sebagai bujangan. 
Gelar sarjana ia peroleh dari Institut Teknologi Bandung, gelar master di Universitas Indonesia, mendapatkan pelatihan dari BIN, pelatihan Kopassus,  Pelatihan pasukan khusus polisi, pelatihan bahasa dan elektronik canggih. Ia merasa bangga karena dari beberapa teman kantornya, hampir semua lulusan luar negeri. Ia bukan jenis orang yang ngotot mempertentangkan sekolah luar negeri dan dalam negeri, sepanjang apa yang dilakukannya tidak dipandang dengan perbedaan. Seperti Umar Yusuf atasannya yang sedang berjalan di sampingnya.
Umar Yusuf, purnawirawan Angkatan Laut berpangkat terakhir Letnan Jenderal Marinir, pernah memegang jabatan strategis pada masa setelah pemberontakan Partai Komunis Indonesia tahun 1965. Dengan karir cemerlang pada masanya, ia menjadi tokoh yang banyak dibicarakan dan mempunyai pengaruh cukup besar di kalangan purnawirawan, saat dominasi Angkatan Darat sangat besar pada waktu itu.
Dibalik sifatnya yang tanpa tedeng aling-aling, ia adalah seorang pemberani. Sebagai seorang anak nelayan, ia telah menikmati kehidupan yang berat di masa-masa kecilnya di Labuhan, Banten, karena penjajahan Jepang. Ia sebenarnya bisa menikmati pendidikan yang layak karena ayahnya adalah salah satu saudagar kapal. Tapi ketika ia berusia duabelas tahun, ia melihat kakak tertuanya yang suka melaut melawan serdadu Jepang tanpa memikirkan dirinya sendiri di pantai. Semenjak saat itu, ia tahu apa yang diinginkannya: menjadi pejuang dan bergabung dengan tentara yang melawan serdadu Jepang di laut. Pada usia tujuh belas tahun, ia telah pergi jauh dari tanah kelahirannya dan berjuang di Jakarta. Dari salah satu komandannya, ia disarankan bersekolah di Semarang. Ia kemudian pulang menemui ayahnya dan meminta uang untuk masuk Sekolah Tinggi Pelayaran. Dari sanalah ia akhirnya berhasil mewujudkan impiannya untuk menjadi anggota  Korps Marinir.
Dalam perjalanan karirnya sebagai serdadu, ia banyak terlibat dalam berbagai operasi. Salah satunya adalah operasi pembebasan Irian Barat dan penumpasan pemberontakan PRRI dan PERMESTA, sampai kemudian karena prestasinya, ia dikirim ke Amerika untuk mengikuti pendidikan Advance Course For Officer of Marines Corps School. Setelah pulang, ia segera menduduki jabatan-jabatan yang menurutnya bagus tapi tidak menguntungkan untuk karir militernya. Sejak saat itu, ia merasa karirnya telah selesai, tapi sebagai prajurit ia tetap harus melaksanakan kewajibannya sebaik yang bisa dilakukannya. Ia termasuk orang yang beruntung karena di didik dengan latar belakang agama yang kuat, lingkungan baik yang selalu membuatnya harus jujur dan menjunjung kebenaran.
Setelah rezim Orde Lama berakhir dan digantikan rezim Orde Baru, ia berharap segala sesuatunya akan lebih baik. Tetapi harapannya tidak terpenuhi, ia melihat banyak sekali kejadian yang bertentangan dengan hati nuraninya, akibat dari kekuasaan yang dijalankan dengan kekerasan. Jabatannya tidak mampu ia gunakan untuk merubah keadaan menjadi lebih damai buat orang banyak. Setelah ia pensiun, ia memilih tidak melibatkan diri dalam dunia politik.
Tapi saat Presiden Abdurahman Wahid berkuasa, ia diangkat menjadi Kepala Dinas Intelijen Khusus. Sebuah lembaga yang dibentuk untuk menangani kasus-kasus khusus yang sulit terpecahkan oleh dinas keamanan lainnya, terutama intelijen negara.  Secara teknis, DIK berada di bawah Departemen Pertahanan, tapi Presiden menginginkan DIK menjadi lembaga intelijen yang mandiri dan terpisah dari urusan birokrasi dan langsung berada di bawah kekuasaannya. DIK diberi kewenangan untuk mengakses semua informasi dari Departemen manapun untuk kepentingan penyelidikan. Untuk menghindari kepentingan yang saling berbenturan, juga menghindari ketidaksenangan lembaga keamanan lain, DIK dirahasiakan keberadaannya. Tidak pernah disebutkan dan tidak akan pernah diakui keberadaannya, seandainya suatu saat ada pihak yang ingin membongkarnya.
Umar Yusuf nyaris tidak percaya ketika ditunjuk untuk memimpin DIK. Rupanya perjalanan karirnya dilihat serius oleh Presiden saat itu. Saat pertamakali dipangil ke Istana oleh Presiden saat ditawari jabatan itu, Presiden berkata, “Saya butuh orang-orang yang tidak terikat dengan sejarah masa lalu yang penuh kepalsuan. Saya ingin sejarah negeri ini diluruskan.”
“Maaf Bapak Presiden, kenapa Bapak mendirikan DIK?”
“Allen Dulles, pendiri CIA, pernah mengatakan, negara pasti kuat jika memiliki intelijen yang kuat. Pak Umar juga pasti lebih tahu dari saya bahwa Orde Baru kuat karena intelijennya juga kuat.”
“Tapi sudah ada BIN.”
“DIK beda. DIK mempunyai tugas khusus, yaitu meluruskan yang bengkok-bengkok supaya tidak terjadi sejarah yang bengkok di kemudian hari.”        
     “Bapak Presiden yakin saya orang yang tepat dengan jabatan ini?”
     “Tunjukkan bahwa Pak Umar Yusuf bekerja untuk kepentingan negara, bukan untuk saya. ”
     Setelah diberi waktu satu hari, Umar Yusuf menerima jabatan itu. 
(bersambung)

Sunday, December 5, 2010

SAM (1)


Pengantar
Cerita panjang yang akan hadir ini mengambil latar belakang seorang tokoh misterius dan tokoh penting pada peristiwa yang di sebut dengan G30S/PKI. Lelaki itu bernama Syam Kamaruzzaman. Banyak sekali rahasia yang menyelimuti hidupnya sampai kepada kematiannya, bahkan ada yang meyakininya masih hidup. Jadi cerita yang akan di sajikan ini bermain di wilayah teka teki ini. Tentang sosok lelaki misterius itu.

Ini jelas fiksi, jelas khayalan. Bahkan sebuah khayalan ngawur. Tapi di dalamnya ada data2 bagian dari catatan sejarah yang tersedia di berbagai arsip dan berita. Benar tidaknya sebuah data tetaplah akan menjadi perdebatan. Jadi benar dan tidaknya cerita dalam kisah ini, tetap menjadi kebenaran fiksi, tidak pernah menjadi kebenaran fakta. Jadi nikmati saja sebagai sebuah bacaan ringan. (Lihat posting sebelumnya untuk membaca riwayat Syam Kamaruzzaman)




BAB 1
 


WARUNG Dawet Ayu ‘Mbah Dolah’ terletak di sudut alun-alun kota. Warung itu terbuka dan kebanyakan meja dan kursi di letakkan di halaman. Pemiliknya seorang lelaki berumur tujuhpulah dua tahun yang dipanggil dengan sebutan Mbah Dolah. Dawet ayu adalah sebuah minuman khas kota Banjarnegara yang terbuat dari   Cendol tepung beras, gula aren, gula kelapa dan santan, yang kadang di kombinasi dengan rasa nangka atau durian . Keadaan cuaca sedang cukup panas sehingga akan menyegarkan menikmati segelas es dawet. Apalagi hari minggu seperti ini. Beberapa keluarga sedang menikmati liburan dan hidangan es dawet adalah hal paling menyenangkan. Banjarnegara adalah sebuah kota kabupaten dengan penduduk sekitar 890 ribu jiwa. Secara geografis, Kabupaten seluas 1.064,52 kilometer persegi ini adalah daerah peruntukan untuk pertanian. Sebagian besar daerahnya berupa pegunungan dan perbukitan. Itu sebabnya dinamakan Banjarnegara yang berarti kota sawah.
     Fatimah mengajak ayahnya yang bernama Ahmad Najib Burhani jalan-jalan menikmati hari libur. Ia sendiri sibuk mengajar pada hari kerja. Maka waktu luang itu ia gunakan untuk menyenangkan ayahnya untuk sekadar menikmati segelas es dawet kesukaan Ayahnya. Hanya dirinya yang masih berusaha membahagiakan ayahnya. Dua saudaranya bekerja di Jakarta dan jarang sekali pulang. Ia dan ayahnya yang telah lama pensiun tinggal berdua. Ibunya telah lama meninggal karena sakit. Membahagiakan ayahnya adalah hal terakhir yang selalu  ingin dilakukannya. Bukan karena ayahnya sekarang sudah tua dan membutuhkan teman setelah Ibunya meninggal, tapi lebih kepada pengabdiannya kepada orangtua.
     Ayahnya dulu bekerja di Jakarta. Ia tidak pernah tahu Ayahnya bekerja di bidang apa. Ayahnya hanya mengatakan bekerja di Departemen Luar Negeri. Setelah peristiwa kerusahan di Jakarta tahun 1998 dan pergantian Presiden, Ayahnya meminta pensiun. Dengan pesangon yang cukup lumayan, apalagi untuk seorang pegawai negeri dan ia sempat heran ketika itu, Ayahnya memboyong keluarga pindah ke tanah kelahirannya di Banjarnegara. Ketika didesak kenapa harus pindah, sedangkan mereka merasa tidak bermasalah dengan Jakarta, Ayahnya menjawab, “Ayah ingin tenang.”
      Seseorang ingin ketenangan biasanya karena sakit. Ia tahu persis ayahnya sangat sehat, bahkan sakit flu atau masuk angin sangat jarang dideritanya. Ayahnya disiplin berolahraga dan makan dengan teratur. Kalau hanya karena semakin bertambahnya umur menjadi alasan, banyak orang yang tetap bertahan di Jakarta.  Ayahnya adalah orang yang tegar dalam menghadapi setiap masalah yang menimpa dirinya. Pembawaan dirinya sangat tenang dan selalu menyelesaikan masalah dengan penuh perhitungan. Jadi buat Fatimah, kepindahan mereka sekeluarga ke tanah kelahiran Ayahnya masih merupakan teka-teki sampai sekarang.
     Kedua kakaknya tetap berada di Jakarta untuk bekerja karena mereka merasa di Ibukotalah tanah kelahiran mereka. Tapi ia tidak memaksakan diri seperti mereka karena menyadari hanya dirinyalah yang menjadi teman terakhir ayahnya saat Ibunya telah meninggal. Fatimah merasa bahwa ia melakukan hal yang benar. Dan ia bahagia.
     “Sudah lama aku tidak menikmati dawet ayu,” kata Ahmad Najib Burhani sambil duduk, “Entah seperti apa rasanya sekarang.”
     “Masih sama seperti terakhir ayah meminumnya,” jawab Fatimah sambil menoleh ke arah pelayan yang datang kepadanya, lalu berkata, “Minta dua es dawetnya, Mbak.”
     “Mau pesen makanan juga, Bu?”
     “Ayah mau makan juga?”
     “Ayah hanya ingin menikmati es dawet. Tidak yang lain.”
     Pelayan lantas pergi.
     Fatimah melihat Ayahnya tersenyum. “Kenapa Ayah tersenyum?”
     “Kau dengar tadi pelayan itu menyebut apa sama kamu?”
     “Tampang saya sudah seperti Ibu-ibu rupanya.”
     “Makanya cepatlah mencari jodohmu.”
     “Jodoh ditangan Tuhan.”
     “Bukan Tuhan yang mencarikanmu suami, tapi kamu sendiri.”
     Dari meja disamping Fatimah, seseorang memanggil namanya. Fatimah menoleh. Di meja sebelah duduk seorang pemuda yang sedang berdua dengan Ayahnya menikmati makanan. Fatimah mengenalnya.
     “Hai Dodo? Maaf ya, tidak tahu kamu duduk disitu.” Fatimah berdiri dan mengajak Ayahnya berdiri. “Ayah, kenalkan Dodo Sudirjo teman Fatimah.”
     Ahmad Najib Burhani menyodorkan tangannya sambil tersenyum. Teman Fatimah bernama Dodo itu menyalami dan menyebut namanya. Lalu dia juga meminta Ayahnya berdiri, “Oya, kenalkan juga Ayahku. Ayah ini Fatimah teman saya dan Ayahnya.”
     Fatimah menyalami Ayah Dodo sambil menyebutkan nama dan memberi jalan Ayahnya untuk berkenalan dan bersalaman dengan Ayah Dodo. Ayah Dodo senyum dan menyodorkan tangannya ke Ayah Fatimah.
     “Abusono….” Kata lelaki berkacamata tebal itu singkat.
     “Ahmad Najib Burhani. Tinggal dimana?” Tanya Ahmad Najib Burhani dengan tangan masih salaman, seperti sedang memahami orang yang sedang dikenalkannya. Karena ia merasa tiba-tiba mengenal wajah Abusono meski memakai kacamata tebal. Ingatan tuanya seperti memutar rekaman di kepalanya tentang wajah Abusono di masa lalunya. Dan ia meyakini apa yang dilihatnya tidak berbeda dengan ingatannya. Mengenal wajah seseorang adalah pekerjaannya, maka melihat wajah Abusono menjadi sangat mudah, meskipun wajah itu sudah berkeriput, berkacamata tebal dan kepala sedikit botak.        
     “Di Klampok….”
     “Purworejo Klampok?”
     “Ya...”
“Asli dari Banjarnegara?” Ahmad Najib Burhani berusaha terus meyakinkan dirinya agar tidak salah dengan terus bertanya untuk mendukung keyakinannya siapa orang yang berada didepannya.
     “Tidak. Saya dari Randublatung.” Jawab Abusono mulai tidak nyaman dengan cara menatap Ahmad Najib Burhani.
     “Randublatung? Pemalang?”
     “Bukan. Tuban.”
     “Oh Tuban ya? Tentu saja Randublatung di Tuban.” Ahmad Najib Burhani berusaha menutupi kekagetannya yang besar.  “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
     “Saya yakin tidak.” Abusono menjawab cepat dengan senyum ramah.
     “Saya dulu punya banyak teman dari Jawa Timur, termasuk dari Tuban, sewaktu masih di Pejambon.” Kata Ahmad Najib Burhani seperti membuka diri lebih jauh.
     “Pejambon?” Abusono mengernyitkan dahinya. “Oh Jakarta…,” lalu mukanya berubah menjadi kaget sendiri seperti tersadar dari sesuatu, dan tiba-tiba ia berkata gugup, “Ehm maaf, kami masih ada keperluan lain. Kami permisi dulu.” Wajah Abusono sangat cepat berubah menjadi tegang dan tangannya menggaet lengan anak lelakinya untuk segera pergi dari tempat itu.
     “Sampai ketemu Fatimah,” kata Dodo buru-buru berpamitan.
     Bagi Fatimah tidak ada yang aneh dan ganjil. Tapi tidak bagi Ahmad Najib Burhani. Tangannya kemudian meraba mangkok bakso di meja Abusono dan ia langsung mendapatkan kesimpulan.
“Temanmu pergi buru-buru, Fatimah.”
     “Maksud Ayah?”
     “Makanan mereka masih panas.”
     Fatimah melihat bakso dalam mangkok itu memang masih penuh dan panas. Mungkin baru dua tiga suap dimakan Abusono.
     “Kau sudah lama kenal temanmu itu?” Ahmad Najib Burhani terus melihat kepergian mereka. Rasa penasarannya semakin tinggi dan keyakinannya akan siapa Abusono semakin mantap.
     “Baru sekitar enam bulan. Dodo bekerja di Dinas Kesehatan.”
     “Dia juga bilang bukan berasal dari daerah sini?”
     “Saya tidak pernah bertanya soal itu. Jarang saya bertemu dengan dia, apalagi ngobrol sama dia. “ Fatimah merasa ada yang aneh dengan sikap Ayahnya. “Memangnya kenapa? Ayah mengenal Ayahnya Dodo?”
     “Mungkin.” Ahmad Najib mencium tangannya. “Wajahnya mengingatkan kepada seseorang yang dulu sangat aku kenal. Dulu sekali, sekitar empat puluh tahun yang lalu.”
     “Saat masih di Jakarta?”
     “Saat masih di Jakarta.”
     “Rasanya mustahil, Ayah.”
     “Menurutmu begitu?”
     “Dodo bilang, sebelum dia pindah tugas kemari, mereka tinggal di Aceh.”
     “Di Aceh? Bisa jadi begitu, tapi bisa jadi sebelum mereka berada di Aceh, mereka tinggal di Jakarta. “ Ahmad Najib Burhani terus membuat teori sendiri. “Tapi kau lihat tadi, saat Ayah menyebut Pejambon, dia langsung tahu bahwa itu nama tempat di Jakarta. Apakah itu  suatu kebetulan?”
     “Mungkin Pak Abusono dulu pernah tinggal atau bekerja di sekitar daerah Pejambon.”
     “Itu maksudku. Lelaki itu pernah tinggal di Jakarta. Empat puluh tahun yang lalu dia memang ada di Jakarta. Dan namanya juga mungkin bukan Abusono.”
     Fatimah semakin tidak mengerti pembicaraan Ayahnya. Ia sudah mulai menikmati hidangan didepannya. Tidak peduli dengan ketegangan yang menyergap Ayahnya tiba-tiba.
“Suaranya sangat aku hafal. Masih sama seperti dulu.” Ahmad Najib Burhani masih berkata lagi untuk meyakinkan dirinya. “Bau badannya bahkan sepertinya tidak aneh bagiku. Juga parfum yang dia pakai. Masih sama.”
     “Saya semakin tidak mengerti dengan maksud Ayah.”
     “Ayo habiskan minumanmu. Setelah ini Ayah harus menelpon ke Jakarta.” Ahmad Najib Burhani lantas duduk kembali untuk menghabiskan es dawet ayu. Ia tidak akan bisa lagi menikmati segarnya es dawet ayu yang sudah lama tidak dinikmatinya. Tapi seseorang yang baru saja ditemuinya, membuatnya harus segera melakukan hubungan rahasia dengan Jakarta. Meskipun ia tidak seratus persen yakin bahwa lelaki itu adalah orang yang sangat penting, yang keberadaannya sangat misterius. Bukan hanya buat dirinya sendiri. Tapi buat teman-temannya di Jakarta.
(bersambung) 

Saturday, January 16, 2010

1998 (9)

BAB EMPATBELAS


 “Ada orang-orang yang tidak menyukai kedamaian. Mereka membentuk suatu kelompok rahasia untuk menghancurkan berbagai sistem pemerintahan yang ada dengan menguasai bidang-bidang keuangan, politik, pers, pendidikan dan berbagai bidang lainnya. Mereka ada di seluruh dunia, termasuk di negeri ini.”
            “Kakek punya bukti?”
            “Bukti? Seperti apa? Dokumen? Catatan?” Hadi menarik nafas dalam-dalam. “Tidak ada hal penting yang dibuat tertulis. Hanya ada kasak kusuk, gunjingan  dan kedipan mata. Begitulah kejahatan besar direncanakan.”
            "Apakah itu hanya sekedar teori konspirasi?"
            "Persekongkolan yang baik tidak bisa di buktikan. Kalau kau bisa membuktikannya, mereka telah membuat kesalahan."
            Hadi menuju rak bukunya dan jongkok membuka kunci lemari kecil paling bawah yang kelihatannya tempat menyimpan segala sesuatu yang ingin tidak diketahui orang lain. Ia mengambil sebuah buku tebal yang dipegangnya dengan tangan gemetar dan ia ragu memberikannya kepada Rosita. "Kau boleh membacanya, setelah itu kau boleh berpendapat apasaja."
            Buku itu berjudul 'Paws In The Game' karangan William Guy Carr. Rosita menangkap kecemasan dalam wajah kakeknya yang tidak bisa lagi disembunyikan. "Apakah ini buku yang dilarang beredar?"
            "Kenapa buku yang ditulis bagus harus tidak boleh beredar?" Bibir tua Hadi gemetar. "Buku itu menyingkap suatu rahasia dibalik berbagai peristiwa dunia. Ada suatu kelompok rahasia yang tujuan utamanya menghancurkan berbagai sistem pemerintahan. Mereka menciptakan krisis demi krisis yang kemudian menimbulkan revolusi, peperangan, penindasan dan berbagai tindak amoral lainnya. Mereka telah sukses mendominasi Dunia Barat, maka sekarang mereka mengarahkan perhatiannya kepada Dunia Timur, kepada kita dengan kegiatan dan aksi yang sama."
            "Rasanya sulit sekali mempercayainya."
            "Kita tidak pernah mengetahui seperti apa bentuk udara, tapi toh kita tetap mempercayainya."
            "Maksud saya negeri kita dijadikan gelanggang pertarungan."
            "Negeri kita terlalu makmur untuk dibiarkan dinikmati orang bodoh seperti kita. Mental kita mental kuli, kepala kita kosong dan perut kita buncit."
            "Kalau saya membuat laporan seperti ini, apakah orang akan percaya?"
            "Orang percaya atau tidak bukan urusan kita. Urusan kita adalah menyuarakan hati nurani. Itu juga kalau kita masih bisa jujur."  
Di saat Rosita membutuhkan dukungan, ia hanya bisa datang kepada kakeknya.  Ketika semua pintu tertutup untuknya, kakeknya menyambutnya dengan satu pesan bahwa ia tidak boleh kehilangan semangat. Ia belajar banyak dari kakeknya soal bagaimana bisa mempertahankan hidup pada suatu rezim yang otoriter. Mempertahankan hidup memang soal perut. Soal perut sering membuat orang menjual apasaja, termasuk menjual bangsanya.
“Kita hanya punya sejarah yang buruk,” kata Hadi sambil mengambil buku lainnya, tebal, kusam dan berdebu.
“Artinya kita juga ikut buruk.” Pang Ong sedang duduk menonton film action Amerika di televisi, “Apa menghadapi kematian kita ini harus tetap buruk, Hadi?”
“Tahun 60-an tulisan-tulisanku dibakar komunis,” Hadi mulai bercerita. “Jaman Orde Baru berkali-kali aku berurusan dengan aparat keamanan karena tulisanku dianggap menghasut. Jadi kalau ada orang yang paling sakit hati soal sejarah ini, akulah orangnya.”
Hadi membawa buku kusam yang belum dijilid itu ke arah meja dimana Rosita masih ragu untuk membuka buku pertama yang diberikan kakeknya. Bukan sebuah buku sebenarnya, tapi tumpukan kertas yang mungkin akan dijadikan sebuah buku. Hadi menyodorkannya pada Rosita.
“Bukan hanya demonstrasi atau penculikan aktivis, semua borok sejarah negeri ini, ada disini.” Wajah Hadi kelihatan tegang sekali. "Tentu saja menurut penilaianku."
Pak Ong menoleh dengan memicingkan mata tuanya. “Apa itu, Hadi?”
“Ongol-ongol.”
Rosita tertawa. Pak Ong manggut-manggut saja dan nonton televisi lagi.
“Jujur saja, aku takut menerbitkannya dulu. Kalau kamu mau menerbitkannya sekarang, aku akan senang meski harus menghadapi tiang gantungan.”
Rosita membuka lembaran pertama. Tertulis SIAPA MENABUR BENIH MENUAI HASIL dan nama penulis dibawahnya tertulis ANONIM.
“Ganti saja dengan namaku.” Wajah Hadi kelihatan begitu geram. Ia telah memutuskan apa yang harus dilakukannya dengan segala risikonya.  "Kau tahu apa yang dikatakan Al Maududi ketika akan dihukum mati? Dia bilang, jika ajal bagi saya telah datang, tidak seorang pun dapat mengelakannya. Akan tetapi bila ajal itu memang belum datang,  mereka tidak dapat menggantung saya, walaupun mereka sampai menggantung diri mereka sendiri." 
Rosita ragu dan wajahnya ikut tegang.
“Bukalah.”
Rosita sadar kalau ia mulai membuka buku itu artinya ia harus siap tidak bisa tidur nyenyak. Kemanapun ia pergi akan diikuti dan semua kegiatan yang dilakukannya akan dicatat dalam sebuah agenda hitam. Jelas ia harus takut. Ibaratnya ia harus masuk kandang harimau sendirian, meski telah diberitahu pawang bagaimana cara membuat harimau itu tidak menerkamnya. Ia tidak tahu persis bentuk ancaman dan teror seperti apakah yang diterima kakeknya selama menjalani karir sebagai wartawan. Ia pernah merasakan  bahwa ia ditekan secara mental selama ia menjadi reporter pada kasus sensitif.  Bahkan untuk seorang laki-laki setegar apapun, pasti akan terguncang.
--------
Fajar juga bukan laki-laki hebat, termasuk dalam fisik. Ia begitu terguncang melihat sebuah pistol jenis baretta menyalak dan pelurunya menembus pelipis seorang Pemuda yang duduk tanpa tenaga di kursi listrik. Ruangan lalu senyap. Padahal lebih dari sepuluh pasang mata dibalik terali besi termasuk Jarot menyaksikan adegan itu. Dalam keadaan tegang itu, meja didepan Fajar digebrak sebuah tangan kekar dan meja itu pecah berantakan.
“Anda sebagai mahasiswa mestinya bicara yang intelek, bukan menghasut!” Suara itu menggelegar .
Fajar tidak tahu apakah ruangan ini seperti sebuah neraka. Ia telah begitu hebat ditekan untuk tidak bisa berpikir apapun kecuali untuk sebuah semangat bahwa ia adalah manusia merdeka dan tidak ada seorang manusiapun bisa merampasnya. Ia telah hidup dengan susah payah diantara himpitan kerasnya kota. Perlakuan paling buruk pun telah ia terima. Tapi yang sekarang dihadapinya adalah sebuah akhir yang menyadarkan dirinya, bahwa ia hidup hanya untuk sebuah hinaan.
"Memangnya siapa kalian sampai bermimpi mau merubah negeri ini?" Tangan kekar lelaki itu menjambak rambut Fajar. "Untuk makan saja kalian susah. Berpikirlah bagaimana mencari duit dengan mudah dan tidak perlu bermimpi. Mimpi hanya dimiliki oleh orang berduit, dan kalian sama sekali tidak pantas bermimpi!" Lalu dibantingnya kepala Fajar ke dinding.
“Sisa waktu hidupmu tinggal tunggu giliran. Gunakan untuk berdoa.”
Ya, berdoa. Tuhan agaknya jalan terakhir bagi orang-orang teraniaya seperti dirinya. Tapi ia bukan orang yang mudah melupakan Tuhan ketika sehat dan kesenangan didapatinya. Ia orang yang diajarkan bapaknya untuk tidak melupakan Tuhan dalam saat senang dan susah. Fajar berterimakasih kepada suara itu. Apakah orang itu juga ber-Tuhan. Ia yakin tidak ada manusia yang tidak ber-Tuhan, yang bisa melakukan perbuatan keji pada Jarot dan orang-orang dibalik sel itu. 
  


 BAB LIMABELAS


Inaya kehilangan pegangan untuk beberapa saat. Ia sudah bisa melepaskan diri dari bayang-bayang orangtuanya dan menjadikan Fajar sebagai pelabuhan berikutnya. Untuk waktu yang cukup lama, tepatnya setelah jadi mahasiswa, separuh hidup Inaya bergantung kepada Fajar. Tentu saja dalam hal kebutuhan diluar materi. Ia telah mulai membayangkan menjadi ibu rumah tangga dan segala hal yang mengikutinya. Sangat menyenangkan.
Tapi ia sekarang sedang mengalami ketegangan yang luar biasa. Ia membutuhkan orang untuk menumpahkan kisah sedihnya. Satu-satunya harapan ada pada Ibu dan Noni. Tapi agaknya hal itu tidak pernah terjadi lagi, seperti ketika ia masih kecil dulu. Kepada bapaknya, suatu hal yang sangat sulit ia dapatkan waktunya. Saat-saat tertentu, Inaya menyesali kenapa ia dilahirkan tanpa saudara yang banyak.
Di pesawat televisi, Rosita sedang berdiri dengan latar belakang Universitas dan kelihatan sangat bersemangat. “….hilangnya Fajar sebagai salah satu orator di kampusnya, justru membuat gerakan mahasiswa semakin merapatkan barisan untuk menyuarakan kebebasan…..” Di layar televisi, tampak kumpulan mahasiswa menggelar spanduk yang menuntut dikembalikannya Fajar.
Inaya tidak bisa menahan matanya untuk tidak menangis. Nyonya Hartawan yang sangat jeli melihat perubahan putrinya, langsung menghardik. “Inaya, menangisi siapa kamu. Kalau sampai orang tahu kamu menangisi pembantu, martabat kita habis!”
“Salah sendiri sok jadi orang pinter, ngomong seenaknya didepan banyak orang, ya diculik. Mati juga pantes.” Noni mencibir habis.
Inaya berdiri dengan kemarahan diubun-ubun. “Tahu apa mbak Noni soal Fajar, soal mahasiswa. Mbak Noni kan tahunya cuma pesta, diskotik dan ketagihan tidur sama bule….”
Inaya tidak sempat menyelesaikan omongannya karena Noni sudah menamparnya. Tapi secepat itu pula, Inaya membalas menampar kakaknya dengan lebih keras. Noni terlempar ke sudut.
“Inaya, jaga kelakuanmu!” Nyonya Hartawan membantu Noni berdiri.
Inaya tidak pernah kenal kekerasan fisik sejak kecil. Hidupnya diatur sedemikian rupa oleh Ibunya sebagai orang yang katanya masih berhak menyandang gelar bangsawan. Cara berjalan, berbicara, bahkan cara makan harus melalui sebuah metode yang rumit. Semua harus dilakukan dengan perhitungan seperti matematika. Begitu merepotkan aturan yang diberlakukan, bahkan dalam pergaulan. Inaya tidak pernah berniat merubah tradisi leluhurnya, tapi dalam hal tertentu ia tidak mau menjadi robot. Ia mulai menikmati makan di pinggir jalan, tertawa lepas di kampus, pulang malam dan bergaul dengan siapa saja. Dan itu hanya didapatkannya setelah mengenal Fajar.
Inaya ingat betul ketika suatu kali Fajar mengatakan, “Dunia memberi kesempatan lebih dari peraturan-peraturan yang dibuat orangtuamu, dan kamu berhak mendapatkannya.”  Dan sudah saatnya ia harus mendapatkan kesempatan yang lebih besar. Ia telah mulai siap mengatur masa depannya sendiri.
Ia harus mulai mengambil suatu risiko, termasuk untuk berpisah dari orangtuanya. Ia tidak pernah mempunyai pikiran seperti itu sebelum adanya musim demonstrasi. Hidupnya berada pada posisi yang sempurna. Tapi setelah ia kenal Fajar dan ikut dalam demonstrasi, hidup ternyata memungkinkan banyak tawaran. Diam-diam ia mengemasi bajunya dan menuju rumah Fajar. Ibu Fajar tidak percaya anak majikannya bertindak sangat nekat seperti itu.
“Saya memaksa tinggal disini. Kalau tidak boleh, saya akan kost disini. Paling tidak untuk sementara.” Inaya mau menangis.
“Saya takut ketahuan, Non.”
“Kalau Ibu tidak bilang, saya tidak bakal ketahuan.”
“Tapi kenapa harus minggat?”
"Saya hanya ingin keluar dari rumah."
Inaya tidak pernah berpikir untuk minggat. Ia hanya meninggalkan rumah karena ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi disana.  Ia tidak lagi mendapatkan teman suka dan duka dalam rumah itu. Tempat baginya mengadu sudah lain melihat dirinya. Ia sangat menyanyangi ibunya, Noni dan bapaknya. Tidak ada yang menandingi cinta kasihnya dengan apapun. Hanya karena berbeda pendapat, tiba-tiba hidupnya putus dengan masa lalunya.
Ia sedang berjuang. Bukan untuk dirinya, Fajar atau kampusnya. Tapi untuk semua orang yang menginginkan perubahan ke arah lebih baik.  Bagi sebagian orang yang sudah mapan dalam hal kedudukan dan materi, apa yang sedang terjadi justru membuat kenikmatan mereka mulai berkurang. Orang terakhir inilah yang membuat perubahan tidak cepat tercapai. Kalau perlu, mereka harus membayar dengan uangnya untuk membuat perubahan itu tidak tercapai. Kebaikan dan keburukan menjadi hal yang nyaris tidak berbeda. Siapa yang merasa benar dan siapa yang dituduh salah.
(bersambung)

Saturday, November 21, 2009

1998 (7)


BAB SEPULUH


Fajar sadar ketika pertamakali naik panggung untuk pidato, itulah saatnya ia siap merubah jalan hidupnya. Baginya itu sangat berat, tapi ia akan lebih merasa tidak bermartabat kalau hanya berdiam diri melihat perubahan yang diharapkan banyak orang itu. Kalau boleh memilih, ia memang lebih suka bekerja dan bisa terus menghidupi ibu dan dua adiknya. Tapi hidup tidak cukup hanya itu. Hidup membutuhkan banyak suara. Termasuk barangkali Nyonya Hartawan yang sangat amat menyakitkan. Ia ingin menghilangkan ingatannya dari suara bekas majikannya itu dengan berjemur matahari diatap gedung kampusnya.
Jarot datang melihat wajah sahabatnya yang sedih. “Aku takut kamu benar-benar lompat ke bawah, padahal perjuangan kita baru mulai.”
Fajar tidak bereaksi.
“Aku tahu kita sekarang sedang berusaha menyamakan hak, tapi soal jodoh, agaknya tidak masuk hitungan perjuangan kita.”
“Ini bukan soal perjuangan, Bung. Ini soal warna darah.”
“Kalau soal warna darah, darah kambing juga merah.”
“Aku tidak pernah percaya ada darah berwarna biru, kecuali kalau kelunturan blau.”
Jarot tertawa terbahak-bahak. “Makanya berhentilah bicara soal warna darah. Persoalannya mungkin lebih dari itu.”
“Tidak ada persoalan yang lebih penting sekarang daripada soal warna darah. Ini soal kehormatan keluarga!”
“Boleh saja, tapi kamu lupa soal timing, soal waktu. Buatlah dirimu jadi pahlawan dulu, baru melamar Inaya. Orangtua kita kan suka dengan orang yang dapat gelar? Apalagi bangsawan.” Jarot berdiri. “Sudah, cari dah gelar dulu.”
“Dimana?”
“Demonstrasinya?”
“Cari gelarnya.”
“Ah, sinting.” Jarot mulai beranjak. “Oya, dibawah sudah menunggu Rosita.”
“Menunggu siapa?”
“Yang pasti bukan menunggu Godot.”
***
Rangkaian petasan menyalak ramai. Asap dan serpihan kertas berhamburan di udara. Ada restoran Cina baru dibuka. Pemiliknya keturunan Tionghoa. Ini kawasan Pecenongan, salah satu daerah Pecinan Ibukota yang cukup elit. Pertumbuhan ekonomi kawasan ini tergolong tinggi karena salah satu kawasan perdagangan, terutama untuk bisnis orang keturunan Tionghoa jet set, selain Glodok dan Mangga Dua.
Fajar dan Rosita sedang berada disana dan ikut melihat kemeriahan yang jarang ada. Harry mengambil gambar tarian barongsai. Tarian yang sebenarnya tidak bebas dipentaskan karena ada larangannya. Mereka hanya lewat untuk terus menyusuri trotoar pertokoan yang berderet-deret.
“Bapak saya meninggal dalam perampokan di mobil Pak Hartawan.” Fajar bersedia bercerita karena permintaan Rosita sulit ditolaknya. “Ada tiga versi cerita. Versi Polisi, bapak saya yang merencanakan perampokan. Versi saksi, bapak saya melindungi Pak Hartawan dari bacokan perampok. Versi keluarga Pak Hartawan, bapak pantas mati sebagai sopir yang melindungi majikannya.”
“Kamu punya pendapat sendiri?”
“Saya tidak mau bapak saya diadili versi mereka. Saya hanya ingin bapak saya meninggal sebagai orang baik.”
Rosita melihat wajah Fajar menahan amarah. Laki-laki yang menarik latar belakang hidupnya. Ia telah begitu beruntung mendapatkan orang yang begitu kompleks kisah hidupnya, dan ia siap menunggu kejutan lain dari pemuda disampingnya itu.  Fajar tidak tampan, tapi pemuda itu mempunyai pesona. Rosita paham kenapa Inaya tertarik dengan Fajar. Pesona tidak akan pernah hilang, tapi ketampanan lenyap seiring dengan bertambahnya umur. Rosita pernah pacaran tapi karena tidak ada kecocokan, tidak bisa dipertahankan. Padahal ia telah siap menikah. Ia bukan perempuan yang suka mengoleksi laki-laki dalam daftar berpacaran karena ia tidak bisa menghabiskan sisa umurnya hanya untuk berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain. Memilih jodoh bukan seperti memilih barang. Barang terlihat jelek bukan berarti kualitasnya juga jelek. Kebaikan hati seseorang tidak bisa hanya dilihat dari baju yang di pakainya atau mobil yang di bawanya. 
Sudah lebih dari tiga tahun ia mengisi hidupnya sendirian. Ia tahu banyak rekan sekantornya yang berusaha mendekatinya. Tapi ia berhasil menghindarinya dengan bekerja keras sebagai reporter lapangan. Dan tiba-tiba bertemu Fajar. Ia tidak tahu persis kenapa bisa memilih Fajar sebagai bahan reportasenya. Ia merasa beruntung saja. Sekarang pun ia tidak perlu tahu sebabnya.
Mereka masuk ke sebuah toko roti besar yang didepan pintu masuknya bertuliskan TAN. Fajar bekerja sebagai sopir disitu. Toko cukup ramai. Fajar kebetulan bisa bekerja di toko Pak Tan. Seperti kisah dalam film Indonesia, ia menolong Pak Tan yang mobilnya mogok di pingir jalan. Setelah itu ia ditawari bekerja. Hanya itu, selebihnya ia telah menjalin hubungan baik dengan Pak Tan dan keluarganya.
Fajar menyapa seorang gadis dibelakang meja kasir. “Hallo, Kristin.”
“Hai, orang penting, kemana saja?” Gadis bernama Kristin bermata sipit, tersenyum lebar. Pramuniaga lain juga menoleh dan menyapa Fajar.
“Sombong ya, sudah masuk TV, jadi nggak kenal kita lagi.”
“Keren nggak saya masuk TV?”
Ruangan tertawa. Pak Tan keluar dari dalam dan senyumnya mengembang melihat Fajar.
“Tiga hari yang lalu saya ke rumah.”
Fajar menyalami Pak Tan. “Saya sibuk di kampus, Pak. Oya, kenalkan ini Rosita, Pak.”
“Ooo yang reporter TV itu ya.”
Rosita mengangguk. Semua pramuniaga menoleh ke Rosita.
“Mungkin saya akan bekerja lagi dalam dua tiga hari ini, Pak.”
“Atur saja. Kapan kamu ada waktu. Bapak senang lihat kamu teriak-teriak di TV. Begitu mestinya anak muda. Ayo ambil kursi, ajak duduk temanmu.”
Ini kejutan lain dari Fajar. Belum pernah Rosita melihat keakraban dua generasi berbeda dan dari ras yang berbeda. Di negeri ini, sangat sulit membangun hubungan seperti yang dilihatnya, kecuali bukti lain yang ia lihat pada kakeknya dan Pak Ong. Kakeknya bilang kepadanya bahwa ia berteman dengan Pak Ong bukan karena ras atau rasa kasihan dengan perlakuan diskriminasi sebagian orang di negeri ini. Kakeknya merasa Pak Ong adalah manusia, seperti juga dirinya.




BAB SEBELAS


Fajar tidak bisa menolak permintaan Rosita yang terus menerus mengikuti kegiatannya sehari-hari. Kekakuan diantara mereka sudah mulai hilang. Fajar mulai merasakan kehadiran seorang perempuan lain, setelah tidak bertemu dengan Inaya. Rosita tidak cantik tapi mempunyai daya tarik yang sanggup membuat setiap laki-laki setabah apapun akan terpacu jantungnya. Pintar, bersikap dewasa dan bisa menebak keinginan seseorang.
Pada akhirnya Fajar tidak bisa menolak keinginan Rosita yang memaksa ikut ke rumahnya di pinggiran kota. Kampung yang bagi kebanyakan orang disebut kampung pinggiran dan layak disebut kampung kumuh. Tapi Fajar merasa ia tinggal di kampung terbaik di dunia. Jalan kampung selalu semarak oleh anak-anak bermain. Ia berani bertaruh tidak ada pemandangan sesemarak ini di kampung lain di Ibukota ini. Barangkali tidak ada keindahan karena semua kelihatan kotor dan semrawut, tapi disana ada kehangatan. Ada teriakan tawa dan canda. Berbeda dengan di jalanan kompleks real estat yang menjamur di Ibukota. Seperti jalan di sepanjang rumah Inaya. Ia hanya melihat petugas keamanan yang mondar-mandir dalam jeda waktu yang ketat. Selebihnya adalah kesunyian yang panjang mirip kuburan. Ibukota telah terbagi menjadi hutan yang siap menegangkan jantung penghuninya.
Negeri ini sebenarnya tidak cocok dengan pengelompokan seperti itu. Sebutan negeri Timur yang terkenal dengan keramah tamahan penduduknya, agaknya siap tumbuh menjadi wild west. Rumah-rumah berpagar besi tinggi, bahkan diatasnya dipasangi pagar kawat berduri.  Kenyamanan seperti apakah yang didapat penghuninya. Bahkan, siapa tahu, dibelakang pintu telah disiapkan berbagai jebakan dan senjata api jenis AK-47.
“Saya lebih yakin orang seperti saya hanya akan jadi tumbal ketimbang jadi pahlawan,” kata Fajar tersenyum kecut.  Ia menggandeng Rosita yang kelihatan tidak siap berada diatas jembatan gantung yang membelah sungai kotor dari jalan raya menuju kampungnya.
Harry masih mengambil gambar di seberang sungai ke arah Fajar dan Rosita. Mungkin seperti adegan dalam film Rano Karno dengan Yessy Gusman tahun 80-an. Fajar tertawa dalam hati. Ia tidak tahu siapa Rosita dan kisah apa dibalik dirinya yang seorang reporter. Tapi ia tak punya waktu untuk mencari jawaban itu.
“Siapa tahu kamu orang pertama yang bisa jadi pahlawan.”
“Teman saya juga menyuruh saya mencari gelar pahlawan. Tapi saya malah khawatir saya orang pertama yang akan jadi tumbal.”
“Tidak selalu kita harus kalah.”
“Mungkin, tapi saya sudah kalah dalam segala hal.”
“Mungkin kamu hanya mengalah.”
“Saya orang yang tidak pernah dihibur.”
“Sama sekali saya tidak berusaha menghibur kamu. Kamu memang enggak pantas cuma dijadikan tumbal.” Nada suara Rosita terdenga gemetar. Kakinya terpeleset dan begitu saja ia meraih tubuh Fajar untuk dijadikan pegangan. 
Mereka berhenti di ujung jembatan dan berpelukan.
Harry mengambil gambar mereka. Hanya beberapa menit tapi itu adalah gambar yang paling menyegarkan setelah begitu lama ia hanya mendapatkan gambar kekerasan bentrokan mahasiswa dengan aparat keamanan.
Mereka berjalan kembali dan tidak lagi berbicara. Dada mereka saling terguncang dan tidak perlu mereka ungkapkan dengan kata-kata.  Sampai di halaman rumah, Fatimah, adik Fajar yang sedang  sibuk mengangkat jemuran, menghampiri kakaknya dan memberitahu, “Ada mbak Inaya.”
Fajar terkejut dan kelihatan menjadi bingung.
“Mungkin saya harus pergi.” Rosita sebenarnya mengharapkan sebaliknya.
"Kenapa harus pergi?"
"Kalian perlu privacy."
"Lalu kenapa kamu repot-repot ikut kemari?" Fajar menginginkan Rosita tetap tinggal. “Terserah kalau mau ketinggalan kisah sedih lainnya.”
Fajar terus saja masuk ke dalam rumah dengan wajah bingung. Rosita menoleh ke Harry, dan tampaknya Harry tidak mau pergi. Rosita mulai mengagumi Fajar dan segenap kisah hidupnya yang menurutnya heroik. Yang paling menarik perhatiannya adalah hubungan cinta Fajar dan Inaya. Tapi ia sekarang melihat hubungan itu terancam putus, dan sebaiknya bukan karena kehadirannya.

Di dalam kamar Fajar, Inaya sudah lama menangis. Matanya merah dan masih ada sisa air mata. Fajar berdiri di ambang pintu. Ingin sekali rasanya memeluk Inaya, tapi  mengingat wajah Nyonya Hartawan, keinginan itu diurungkannya. Ia tidak tega melihat perempuan menangis. Apalagi itu terjadi pada orang yang sangat disayanginya.
“Kalau masih ada gunanya menangis, menangislah.”
“Kamu mungkin tidak perlu menangis, karena kamu laki-laki.”
“Kalau aku harus menangis, itu adalah untuk nasibku.”
“Saya minta maaf soal Ibu.”
“Saya sedang berusaha melupakan saya ini orang hina, tapi ternyata tidak bisa. Mungkin tidak akan pernah bisa.”
“Kamu juga akan meninggalkan saya?”
Fajar terdiam.
“Oh, mungkin karena reporter wanita itu.”
Fajar menatap Inaya. “Kalau kamu masih ingat janjiku padamu, itulah yang akan aku pegang selamanya, meskipun kedengarannya seperti rayuan gombal.”
Inaya menunduk.  “Aku akan tinggal disini.”
“Aku yang tidak bisa tinggal di rumah kamu, Aya.”
“Kita tidak perlu kesana.”
“Kalau saja boleh begitu.”
“Kamu kira aku tidak berani meninggalkan orangtuaku?” Suaranya melengking. Mungkin sampai ke teras rumah dan Rosita bisa mendengarnya.
“Aku takut kamu kehilangan warna darahmu.”
Inaya berdiri dengan muka merah. Marah. “Kamu naif bicara soal warna darah!” Kelihatan sangat marah, lalu menyambar tas dan keluar kamar.
Fajar duduk di kursi karena merasa limbung. Ia bisa berdiri berjam-jam dibawah matahari pukul satu untuk berpidato didepan para demonstran. Tapi ia merasa nyaris pingsan di kamarnya sendiri. Kepalanya berputar. Entah berapa lama ia duduk dan melihat keluar jendela.
“Mas, tamunya sudah pamit pulang.” Fatimah sudah berdiri diambang pintu.
“Ibu sudah pulang?”
“Belum.”  
“Bikinkan kopi ya?” 

(bersambung)