Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Thursday, December 20, 2012

MAS KAREBET 13

BAB 13




Tiba-tiba Karebet mengangkat kedua tangannya dan dia berteriak mengguntur ke udara. Teriakannya menggema di lembah padukuhan yang sepi itu. Mungkin gemanya sampai ke padukuhan. Beberapa burung terbang ketakutan dari pepohonan di sekitarnya. Karebet terduduk dengan kesedihan yang mendalam, kekesalan yang menumpuk dan kenangan yang tidak bisa diingatnya.
     Menjadi dewasa tidak menyenangkan. Ia harus menanggung beban yang mulai menjadi berat. Bertemu Aryabajageni adalah mimpi terburuk yang tidak pernah ia inginkan hadir dalam hidupnya. Pertemuan dengan orang yang mengaku adik seperguruan Ayahnya telah membuat hidupnya siap berantakan. Ia hanya ingin pulang dan bertemu Ibunya. Ia tidak suka kesenangan-kesenangan yang disukai banyak pemuda seusianya.
     Ia hanya suka bertapa.
     Mencari ilmu kanuragan.
     Tapi sekarang ia bertemu Aryabajageni.
     Apakah semua yang dikatakannya benar?
     “Raden…”
     Karebet menghapus sudut matanya yang berair.
     Ki Buyut Jayadi sudah dibelakangnya. Kelihatan khawatir. “Jangan hati Raden diselimuti amarah hanya karena hasutan orang yang tidak jelas asal usulnya,” katanya gemetar. “Kalau Raden mau tahu semua hal yang menyangkut Ayahanda Raden almarhum, bertanyalah kepada Kanjeng Sunan Kalijaga.”
     Sunan Kalijaga lagi?
     “Sewaktu Raden menuju bukit Siaul, Kanjeng Sunan Kalijaga mendatangi saya dan mengatakan bahwa Radenlah yang bisa mengusir Aryabajageni.”
Karebet sudah tidak peduli. “Memangnya siapa Sunan Kalijaga itu? Kenapa dia tidak menemui saya sendiri? Kenapa harus lewat Paman? Siapa memangnya Sunan Kalijaga itu ha?!”
Karebet benar-benar kesal.
     Ki Buyut Jayadi mengerti kegundahan Karebet.
     “Beliau adalah salah satu dari anggota Wali Songo, penasehat agama Kanjeng Sultan Demak.” Ki Buyut tetap menjelaskan.
     “Apa benar Ayahanda dibunuh Sunan Kudus?”
     Ki Buyut Jayadi kaget.
     “Apakah Sunan Kudus anggota Wali Songo?”
     Ki Buyut masih diam.
     “Barangkali Aryabajageni benar.”
     Ki Buyut Jayadi berdiri. “Raden, ayo kita pulang.”
     “Kalau masih ada yang mau Paman sampaikan, selesaikan saja disini.”
     “Bicaralah di rumah, disini banyak yang mendengar.”
     Karebet melihat sekeliling. Hanya pepohonan lebat dan kesunyian yang terhampar disekeliling lembah itu. Ki Buyut Jayadi sudah berjalan. Sepertinya memang tidak mau bicara lagi. Apakah lelaki tua itu merasa ada yang sedang mendengar pembicaraan mereka?
     Karebet tidak mau tahu lagi.
     Pikirannya kacau balau.
     Ia hanya ingin tenang.
     Kamar Ki Buyut Jayadi ternyata begitu tenang. Hampir tidak terdengar suara apapun dari luar. Ki Buyut Jayadi tahu Karebet membutuhkan ketenangan. Ia duduk dan menyalakan sentir, sejenis lampu dengan minyak jarak. Lalu ia meraih sadak dan mengunyahnya. Wajah tuanya menjadi lebih tenang. Sementara Karebet duduk santai masih menikmati kesenyapan kamar itu.
     “Raden, saya hanya menyampaikan amanat Kanjeng Sunan Kalijaga soal Aryabajageni,” kata Ki Buyut Jayadi memulai. “Paling tidak, Raden akan tahu sedang berhadapan dengan siapa.”
     “Kenapa tidak langsung disampaikan kepada saya? Sunan Kalijaga takut kepada saya?”
     “Nanti Raden tahu kenapa. Aryabajageni masih keturunan Prabu Udara yang merebut Majapahit dan menobatkan dirinya menjadi Prabu Brawijaya terakhir. Aryabajageni tidak suka dengan Demak yang menurutnya telah meruntuhkan Majapahit. Aryabajageni lalu berguru kepada Syekh Siti Jenar untuk menghancurkan Demak dari dalam, lewat ajarannya yang sesat dan menyesatkan.”
     Karebet mendengarkan.
     “Syekh Siti Jenar itu orang yang kesaktiannya luar biasa tinggi. Dia berguru kepada beberapa anggota Wali Songo. Bahkan ilmu kebatinannya mampu menggungguli Wali Songo. Dia menyebarkan ajarannya dengan leluasa dan islam yang diajarkan anggota Wali Songo mulai ditinggalkan masyarakat.”
     “Siapa yang bisa mengalahkan Syekh Siti Jenar?”
     “Hanya Kanjeng Sunan Kalijaga. Meskipun Kanjeng Sunan Kalijaga itu bersahabat baik dengan Syekh Siti Jenar.”
     “Apakah Aryabajageni sehebat Syekh Siti Jenar?”
     “Itu aku tidak tahu.”
     “Aku seperti menghadapi hantu.”
     “Entah kenapa Kanjeng Sunan Kalijaga tidak mau menemui Raden. Tapi beliau berpesan, kalau Raden ingin tahu lebih banyak soal Ayahanda Raden, temuilah beliau.”
     “Dimana?”
     “Tidak tahu.”
     “Tidak tahu?”
     “Kanjeng Sunan Kalijaga bilang Raden akan menemukannya sendiri.”
     “Orang yang selalu aneh.”
     “Memang beliau aneh.”
     Karebet diam. Pikirannya semakin dijejali banyak pertanyaan. Ia tiba-tiba harus menghadapi kejadian yang tidak pernah bisa dimengertinya ini.
     “Istirahatlah di kamar ini, Raden…”
     Karebet berdiri. “Tidak, Paman, saya ingin keluar jalan-jalan.”
     “Raden, tenangkan diri, dan mohonlah petunjuk Gusti Allah, mintalah petunjuk yang benar dan jangan dengarkan setan.”
     Karebet tersenyum dan keluar.
     Ki Buyut Jayadi membuang kinang dalam mulutnya. Dadanya plong. Semua yang menjadi beban pikirannya terlepas. Ia tidak ingin Karebet terbebani dengan berbagai pertanyaan setelah bertemu Aryabajageni. Belum sempat ia beranjak, didepannya sudah duduk Aryabajageni. Benar-benar muncul begitu saja. Lelaki berwajah tirus itu tersenyum penuh kebusukan. Ki Buyut Jayadi panik.
     “Oh…siapakah kisanak?”
     “Aryabajageni.”
     Jantung Ki Buyut Jayadi seperti mau meledak.
     “Akulah setan itu, tua bangka.”
     Ki Buyut Jayadi terlambat bereaksi, tangan kanan Aryabajageni sudah terangkat dan sebuah pedang tajam muncul di genggaman tangannya. Mata Ki Buyut Jayadi berkilat. Ia tidak sempat berteriak, pedang itu sudah menghujam dadanya. Tapi pedang itu seketika lenyap begitu dihujamkan ke dada tua itu. Aryabajageni tertawa dan seketika menghilang dari tempat itu.
     Suara jatuhnya tubuh Ki Buyut Jayadi cukup keras. Pintu kamarnya terbuka kembali dan Karebet masuk dengan ketegangan di kepalanya. Mengejar Ki Buyut Jayadi yang sekarat.
     “Paman….Paman, apa yang terjadi?”
     “Aryabajageni….”
     Karebet melihat ruangan itu kosong. Jendela tertutup rapat. Tidak ada celah lain kecuali pintu.
     “Raden….”
     “Aku akan balaskan ini, Paman!”
     “Balaskan untuk ketentraman padukuhan ini…” Suara Ki Buyut Jayadi melemah. “Raden harus Amar ma’ruf nahi munkar…” Kepala Ki Buyut Jayadi lunglai. Lukanya begitu parah sampai tubuh rentanya tidak kuat lagi menanggung kesakitannya. Ki Buyut Jayadi mati dengan tersenyum.
     Karebet geram. Aryabajageni memang sengaja ingin bermusuhan dengan padukuhan ini. Dengan menggunakan kekuatannya, padukuhan ini telah dijadikan ladang pembantaian untuk tujuan yang tidak jelas dengan alasan yang tidak masuk akal. Di pintu muncul Dadung Awuk yang segera berteriak tertahan.
     “Apa yang terjadi Raden?”
     “Aryabajageni membunuhnya.”
     “Oh….Jahanam.”
     Jagabaya muncul kemudian. Kegeramannya tidak bisa disembunyikannya tapi ia harus bertindak. Ia lalu mengumpulan warga padukuhan dan bergotong royong mengurus jenazah pemimpin mereka. Semua warga berduka. Ki Buyut Jayadi adalah lelaki yang dihormati karena memimpin dengan welas asih tapi tegas. Siapa yang salah di hukum, siapa yang lalai di tegur. Semua persoalan di tumpahkan kepada Ki Buyut Jayadi untuk dicari jalan keluarnya. Dan semua harus menghormati apapun keputusannya.
     Jenazah Ki Buyut Jayadi di arak ke pemakaman dengan tangisan. Padukuhan Pingit kehilangan pemimpin yang langka. Setua itu dia harus melindungi warga padukuhan dari segala masalah, termasuk dari keganasan Aryabajageni.
     Karebet tidak terima itu.
     Saat semua orang ke pemakaman, ia menuju bukit Siaul. Ia harus melakukan perlawanan. Barangkali ia nekat. Tapi ia punya niat baik. Meskipun niat baik saja tidak cukup, tapi ia tetap akan melawan Aryabajageni. Lawannya itu jelas orang sakti. Hebat ilmu kanuragannya. Kalah dan menang baginya biasa dalam sebuah pertarungan. Soal hidup dan mati juga bukan urusannya. Sehebat apapun lawannya, kalau ia belum di takdirkan mati, maka ia akan tetap hidup.   
(bersambung)
    

Tuesday, December 18, 2012

MAS KAREBET 11

BAB 11  

    

KI Buyut Jayadi menghela nafas berat, menatap Karebet yang duduk didepannya, lalu berkata, “Berat rasanya saya harus mengatakan kalau penduduk desa Pingit sekarang sangat membutuhkan bantuan, Raden.”
     “Saya paham, Paman.”
“Tapi kalau raden tidak bersedia membantu kami, terpaksa kami akan mengirim utusan lagi ke Demak, untuk meminta bantuan yang lebih besar.”
     Dadung Awuk menjawab lebih dahulu, “Berapapun prajurit yang dikirimkan, sia-sia saja, Ki Buyut,” katanya berapi-api. “Yang dibutuhkan adalah orang yang mampu mengalahkan Aryabajageni alias Syekh Siti Jenar palsu itu.” Dadung Awuk menoleh ke Karebet. “Bukan begitu, Raden?”
     “Ini memang urusan kerajaan Demak,” sahut Karebet menatap Ki Buyut Jayadi. “Tapi saya akan tetap berusaha membantu.”
     “Alhamduillah.” Suara Ki Buyut Jayadi gemetar.
     “Tapi tidak ada jaminan, saya mampu melawannya.”
     “Jaminan itu ada ditangan Allah, Raden.”
     “Raden pasti sanggup.” Dadung Awuk memberikan dukungan
     “Aku mau kau ikut.”
     Dadung Awuk melotot. “Ikut kemana?”
     “Ke bukit Siaul.”
     “Saya belum mau mati.”
     “Kalau belum waktunya mati, kau pasti hidup.”
     “Apa salahnya Dadung Awuk,” kata Jagabaya yang dari tadi diam. “Katanya kau ingin jadi prajurit Demak.”
     “Ini setor nyawa namanya, Jagabaya,” sahut Dadung Awuk panik. “Lagipula saya kan belum kawin.”
     “Tapi aku tetap ingin kamu ikut,” kata Karebet lagi.
     “Oalah Gusti, mimpi apa aku semalam.”
     Ruangan tertawa melihat Dadung Awuk seperti mau menangis.
     Beberapa saat kemudian, Karebet dan Dadung Awuk sudah berjalan menyusuri jalan setapak diantara rimbunan pohon menuju bukit Siaul. Karebet lebih banyak diam. Tapi rupanya Dadung Awuk orang yang tidak betah keadaannya kaku.
     “Maaf raden, boleh bertanya?”
     “Mulai kapan bertanya dilarang.”
     “Jadi benar kabar para pedagang kalau raden benar-benar mengalahkan buaya raksasa di sungai padukuhan Karangsaga?”
     “Kalau kamu percaya.”
     “Tentu saja percaya, Raden.”
     “Itu perbuatan bodoh.”
     “Tapi kan jadi terkenal.”
     “Kalau hanya mau terkenal, banyak cara yang lebih enak.”
     “Misalnya?”
     “Rampok saja pejabat kerajaan kalau lewat.”
     “Itu namanya cari mati dengan cara cepet.”
     Jalan setapak di hutan itu mulai menanjak. Dadung Awuk mulai kepayahan. Beban perutnya yang besar membuatnya  lambat. Karebet seperti tidak merasakan beban apapun. Jangankan melambat, keringatnya pun belum ada yang keluar. Dadung Awuk berhenti.
     “Berhenti sebentar, Raden.”
     “Baru juga separuh jalan.”
     “Perasaan jalannya bukan ini.”
     “Ini jalan pintas. Kita bisa lebih cepat sampai ke atas.”
     “Darimana Raden tahu?”
     “Aku pernah lewat jalan ini.”
     “Kapan Raden pergi dari rumah Ki Buyut?”
     “Malam sewaktu Senopati Ringkin memotong tangan maling murid pesantren Aryabajageni.”
     “Jadi Raden tidak pergi kencing kan?”
     “Tidak.”
     “Sialan.”
     Dadung Awuk harus akui, Karebet lain dari pemuda yang pernah di jumpainya. Apalagi dibandingkan pemuda desa Pingit, Karebet jauh diatasnya. Diam-diam ia bangga bisa akrab dengan Karebet. Bahkan lebih dari itu, ia ingin mengenal pemuda itu lebih jauh. Ia ingin mempunyai kehebatan ilmu kanuragan seperti Karebet. Lebih dari itu lagi, ia ingin terkenal. Tapi ia bingung darimana harus mulai. Ia hanya anak desa yang tidak juga mempunyai ilmu kanuragan yang cukup.
     Karebet berhenti. Memberi isyarat diam. Ia mendengar gerakan halus di sekelilingnya. Dadung Awuk tak sempat berkomentar ketika tiba-tiba beberapa panah mengarah kepada mereka. Panah-panah itu datang cepat sekali dari pepohonan. Karebet sudah bisa mengetahuinya lebih dahulu. Ia bergerak ke samping dan menyapu semua panah-panah yang datang kepadanya itu. Dadung Awuk berlindung di belakang tubuh Karebet sambil melotot.
     Dadung Awuk jelas takut tapi ia sedang tidak percaya bagaimana Karebet dengan mudahnya menghindari panah-panah yang meluncur kencang ke arahnya itu. Seperti menghalau burung layaknya. Bagi dirinya itu mustahil. Melihat kecepatan panahnya saja ia panik, selebihnya pasrah karena pasti ia habis terkena panah itu kalau kena di badannya. Tapi betapa Karebet menyambut panah-panah itu dengan semangatnya.
     “Berlindung ke balik pohon, Dadung!” bentak Karebet.
     Dadung Awuk  lari ke sebuah pohon dan sebuah panah meluncur lurus ke arahnya. Begitu Dadung Awuk tiba di sebuah pohon dan belum sempat bersembunyi, panah itu terus mengincarnya seperti punya mata. Begitu berbalik, panah itu nyaris menembus mukanya. Hanya beberapa jari jaraknya sebelum panah itu menembus pipinya yang tembem. Tangan Karebet sudah menangkap panah itu.
     Benar-benar ditangkap seolah panah itu barang tidak bergerak.
     Dadung Awuk tak bernafas sejenak.
     Karebet tidak punya waktu lagi untuk bernafas lega karena beberapa lelaki berseragam merah sudah turun dari pohon dan keluar dari semak. Mereka mengepung rapat tempat yang sempit itu. Mereka bersenjata tajam lengkap. Karebet jalan ke tengah tanah datar dan membiarkan Dadung Awuk. Ia melihat beberapa lelaki berseragam itu siap untuk membunuhnya. Dengan cara apapun. Rupanya  mereka dilatih untuk patuh kepada perintah pimpinannya.
     “Rupanya kalian tidak belajar agama di pesantren, tapi belajar jadi pembunuh.”
     Mereka menjawab dengan tatapan tajam. Karebet tahu tidak butuh jawaban mereka karena mereka hanya tahu membunuh. Gerakan mereka rapi saat menyerang Karebet. Jurus-jurusnya lumayan bagus. Mereka memang dipersiapkan untuk jadi mesin pembunuh. Dari semua serangan mereka, Karebet bisa mengimbanginya. Bahkan bisa menebak serangan-serangan mereka selanjutnya.
     Sebelum Karebet mengerahkan semua kemampuannya, beberapa lelaki berseragam merah itu mulai lemah pertahanannya. Dan sebelum mereka benar-benar jatuh oleh serangan Karebet, mereka mundur dengan rapi dan membuat barisan layaknya menyambut tamu.
     Karebet tegang.
     Dadung Awuk menahan nafas.
     Beberapa lelaki berseragam merah itu membungkuk ke arah Karebet. Memberi hormat.
     “Raden sudah ditunggu guru kami.” Salah satu lelaki itu berkata.
     Dadung Awuk memanjangkan kepala dan berteriak, “Awas jebakan, Raden!”
     “Raden memang sudah ditunggu guru kami, Kanjeng Pangeran Aryabajageni.” Lelaki itu berbalik dan memberi kode ke teman-temannya dan kemudian mereka pergi begitu saja. Lari ke dalam semak dan menuju atas bukit.
     Dadung Awuk keluar dari balik pohon. Ia tidak percaya yang baru saja dilihatnya. “Aneh sekali mereka, Raden.”
     “Sepertinya kedatanganku memang sudah ditunggu.”
     “Kalau jebakan bagaimana?”
     “Kalau ini jebakan, kita mungkin sudah diserbu mereka habis-habisan. Bukan hanya dengan beberapa orang.”
     Karebet mulai jalan.
     “Jadi Raden mau ke pesantren itu?”
     “Bukankah tujuan kita kesana?”
     “Bukan kita, tapi Raden sendiri. Saya kepingin pulang saja.”
     “Kalau kamu pulang sendiri, malah bisa di bunuh mereka.”
     Dadung Awuk ketakutan dan jalan lebih cepat dari Karebet. “Edan. Saya bisa gila beneran ini.”
     Karebet ingin sekali cepat sampai diatas bukit. Rasa penasarannya makin menjadi. Ia sudah ditunggu. Berarti semua gerak geriknya telah diketahui. Aryabajageni sudah mengetahui kalau ia hendak mendatanginya. Betapa hebatnya. Ia sudah kalah satu langkah di depan orang yang belum pernah di jumpainya ini. 
      Lebih cepat bertemu lebih baik.
     Ia memang menginginkannya.
(bersambung)
         

Monday, December 17, 2012

MAS KAREBET 10

 BAB 10



“SEWAKTU saya bertapa di bukit Telomoyo, saya bermimpi aneh,” kata Karebet didepan Ki Buyut Jayadi. “Saya kejatuhan rembulan.”
     Mendadak tubuh Ki Buyut Jayadi gemetar.
“Oh Gusti Allah…”
Beberapa saat Ki Buyut Jayadi tidak bisa bicara.
“Kenapa Paman?”
Lelaki tua itu menatap Karebet dengan lekat-lekat dan bola matanya kemudian perlahan berair. “Saya orang bodoh, Raden. Kalau boleh saya menafsirkan, Raden telah mendapatkan wahyu keprabon.”
     Wahyu keprabon?”
     “Raden akan jadi pemimpin.” Suara Ki Buyut Jayadi sekarang benar-benar gemetar.
     Karebet jadi teringat sesuatu. “Berarti benar…”
     “Apa maksud Raden?”
     “Sunan Kalijaga juga berkata begitu.”
     “Ya Allah…..” Kali ini suara Ki Buyut serak seperti mau menangis. Lalu memeluk Karebet. Lalu benar-benar menangis. Badan rentanya terguncang-guncang di pelukan Karebet.
“Mati sekarang pun rasanya ikhlas mendengar anugerah agung ini, Raden.”
     Karebet tidak bisa berkata.
     Dadung Awuk sudah muncul di depan mereka. Mulutnya masih mengunyah kinang. “Aduh, kenapa main peluk-pelukan begitu? Ki Buyut, kenapa pakai nangis segala? Cengeng banget sih?”
     Karebet duduk tidak peduli.
     Ki Buyut Jayadi mengambil air minum.
     Dadung Awuk semakin penasaran. “Ayolah saya diberi bocoran cerita ada apa tadi?”
     “Aku mau pulang….”
     “Raden kan sudah janji sama Senopati Ringkin,” teriak Dadung Awuk. “Keadaan desa Pingit sedang siaga satu. Sebelum Senopati Ringkin kembali, raden tidak boleh pergi.”
     Lalu terdengar suara kentongan.
     “Nah lho, tanda kematian!” teriak Dadung Awuk kepalanya menoleh keluar rumah.
     Di sudut hutan pinggir desa, sudah banyak penduduk berkumpul. Jagabaya sudah berada di sana dan memerintahkan penduduk untuk menjauh dari tubuh Senopati Ringkin yang terbujur kaku. Roro Sendang berdiri diantar penduduk dengan gemetar. Dia yang pertama kali melihat tubuh Senopati Ringkin melayang dari atas dan jatuh begitu saja di pinggiran jalan. Teriakan Roro Sendang membuat para penduduk berdatangan. Termasuk Jagabaya.
     Ki Buyut Jayadi dengan Karebet dan Dadung Awuk, akhirnya sampai di kerumunan itu. Roro Sendang langsung menubruk Dadung Awuk dengan sisa ketakutannya.
     “Kakang….”
     “Lho, kok main tubruk begini, Sendang. Malu dilihat banyak tetangga.”
     Karebet menatap tubuh Senopati Ringkin yang kaku dan bagian dadanya gosong. Bajunya mencetak dua telapak tangan di bagian dadanya. Sebuah pukulan ilmu yang sangat tinggi. Seperti apakah lawan yang membuat pukulan seperti itu, tanya batinnya. Ia mencoba membayangkan seorang lelaki kurus dan bermuka dingin. Bahkan mungkin bisa terbang seperti kelelawar. Rasa penasarannya terhadap orang yang ada di bukit Siaul makin besar.
Ki Buyut Jayadi tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. “Sepertinya Senopati Ringkin meninggal dengan sangat kesakitan,” katanya lirih melihat luka di dada Senopati Ringkin.
“Apakah luka di tubuh guru ngaji yang terbunuh seperti ini juga, Paman?” tanya Karebet.
“Berbeda, Raden. Ini lebih mengerikan.”
Dadung Awuk mendekati Karebet dengan Roro Sendang. “Raden, yang melihat pertama kali Roro Sendang.”
     “Tubuhnya jatuh dari atas,” kata Roro Sendang masih gemetar.
“Seperti kelapa jatuh dari pohon?” tanya Karebet.
     “Iya begitu.”
     Karebet melihat ke arah bukit Siaul. Dari jaraknya, terbilang jauh dari tempat dimana tubuh Senopati Ringkin ditemukan. Dihitung dengan cara apapun, tidak masuk akal tubuh Senopati Ringkin bisa terlempar begitu jauhnya. Tapi ini terjadi. Dengan cara apa tubuh Senopati Ringkin sampai di pinggiran desa? Bukan saja hebat musuh Senopati Ringkin, tapi juga sadis. Jenis manusia macam apa dia, tanya Karebet dalam hati makin penasaran.
     “Jagabaya, suruh anak buahmu membawa jenazah Senopati Ringkin ke kelurahan,” perintah Ki Buyut Jayadi.
     Beberapa pemuda mengangkat tubuh Senopati Ringkin. Wajah para penduduk diliputi ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. Mereka sudah tidak punya orang yang diandalkan untuk menghadapi musuh di bukit Siaul. Ki Buyut Jayadi bisa menangkap kekhawatiran mereka. Tapi ia belum bisa memberikan jalan keluar lain. Didalam lubuk hatinya, ia masih berharap dengan Karebet. Tapi ia tidak akan memaksa orang yang dihormatinya itu. Ia jauh lebih menyayangi nyawa Karebet. Bukan berarti ia akan mengorbankan nyawa penduduknya, tapi saat ini hanya Karebet yang menjadi harapan terakhirnya.
     Karebet tahu penduduk desa Pingit menghadapi hantu pencabut nyawa yang tidak bisa mereka lawan. Mereka dicekam ketakutan karena musuh mereka tidak bisa ditebak kapan datang. Ronda yang diadakan setiap malam sampai pagi tidak juga membuahkan hasil apapun. Ada saja sudut desa yang menjadi celah untuk masuknya musuh mereka. Sedangkan mereka tidak bisa menjaga setiap sudut desa sepanjang waktu.
     Untuk kesekian kalinya Karebet memandang ke arah bukit Siaul dari kejauhan. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak tahu apakah akan mampu melawan orang yang sudah membuat Senopati Ringkin terbunuh. Tapi niatnya bulat. Gagal atau berhasil bukan urusan dia. Ada seseorang dibelakangnya dan ia menebak kalau Dadung Awuk orangnya. Tapi ia kaget.
     Di depannya sudah berdiri Roro Sendang. “Raden mau ke bukit Siaul?” tanyanya seolah tahu pikiran Karebet.
     “Untuk apa aku harus ke bukit Siaul?”
     “Raden akan membiarkan kami ketakutan?”
     “Yang saya tahu ini sudah jadi urusan kerajaan Demak Bintoro.”
     “Demak Bintoro jauh, Raden. Sedangkan desa ini jauh dari manapun.” Suara Roro Sendang seperti meminta.
     Karebet diam. Gadis ini cerdas. Tapi ia tidak habis mengerti kenapa gadis ini bisa tahu ia ada disini. Kalau hendak ke sungai, jalannya bukan jalan ini. Tapi ia tidak peduli. Saat ini pikirannya sedang memikirkan orang di atas bukit Siaul itu.
     “Raden toh harus membuktikan bahwa raden lebih hebat dari senopati Demak Bintoro itu,” kata Roro Sendang lagi ngotot.
     “Aku tidak perlu membuktikan apa-apa.” Karebet menatap gadis itu. “Tapi aku akan tetap kesana.”
     Karebet terus saja pergi. Tanpa pamit.
     “Raden selalu dingin terhadap wanita?”
     Karebet berhenti. Berbalik. Mata gadis itu menatap tajam ke arah Karebet. Pertanyaan itu membuatnya sadar bahwa gadis itu memang sengaja mengikutinya untuk bisa berbicara berdua.
     “Aku biasa ngobrol dengan wanita.”
     “Tapi sikap raden menunjukkan kalau raden tidak pernah dekat dengan seorang wanita.”
     “Aku dekat dengan ibuku.”
     “Maksud saya seorang kekasih.”
     Akhirnya gadis ini semakin memperjelas tujuannya bicara dengannya. Sayang ia sama sekali tidak tertarik dengan Roro Sendang. Ia tidak pernah berpikir untuk menyukai wanita sebelum dirinya menjadi seseorang yang bisa berarti bagi orang lain.  Perkara Roro Sendang tertarik kepadanya itu bukan urusannya.
“Bagaimana hubunganmu dengan Dadung Awuk?”
     “Saya belum menjadi milik siapapun,” jawab Roro Sendang cepat. “Sebelum ada janur kuning di depan rumah saya.”
     Gadis ini memang sedang berusaha menggodanya.
     “Maaf Roro Sendang, aku harus pergi.”
     Karebet tidak menoleh lagi.
     Roro Sendang menahan diri dan menatap lelaki yang membuatnya tertarik begitu pertama kali melihatnya. Ia merasa berhak menyukai siapapun, meskipun ia mempunyai hubungan khusus dengan Dadung Awuk.(bersambung)

Sunday, December 16, 2012

MAS KAREBET 9

BAB 9




DI tengah jalan desa yang gelap, lima orang perampok sedang bertarung melawan Senopati Ringkin. Lima perampok itu semuanya bertopeng hitam. Tapi baju mereka bisa dikenali dengan mudah kalau mereka adalah murid pesantren Aryabajageni. Beberapa penduduk desa sudah berada di sekeliling jalan. Mereka terus berdatangan membawa obor dan senjata tajam ditangan. Jagabaya kelihatan sudah mengatur beberapa pemuda terlatih di sekitar arena pertarungan. Dadung Awuk datang dengan tergesa-gesa.
     “Apa yang mereka curi, Ki Jagabaya?” tanya Dadung Awuk.
     “Bahan makanan di lumbung padi.”
     “Lho, mereka memakai seragam merah-merah.”
     “Mereka memang murid pesantren Aryabajageni.”
     “Edan, ada murid pesantren di suruh jadi maling.”
     Senopati Ringkin mudah sekali mengalahkan kelima maling berseragam merah itu. Bukan tandingan Seorang senopati kerajaan. Saat ia hendak meringkus mereka, salah satu dari mereka melemparkan senjata rahasia ke arah Senopati Ringkin. Senjata rahasia itu meledak menimbulkan asap putih tebal. Tapi sebelum kelima maling itu melarikan diri, Senopati Ringkin bergerak cepat meraih salah satu tangan dari kelima orang itu. Secepat itu  dibantingnya lelaki berbaju merah itu dan diinjak dadanya.
     “Kanjeng Senopati,” teriak Jagabaya mencegah, “Sebaiknya orang ini dihadapkan kepada Ki Buyut.”
     “Aku ingin bertanya dulu!” Senopati Ringkin tidak peduli. “Hei, kau murid pesantren Aryabajageni?”
     Maling itu tidak menjawab.
     “Jawab atau dibakar hidup-hidup kamu.” Dadung Awuk mengancam.
     Maling itu tetap tidak menjawab.
     “Baiklah, aku tidak peduli lagi kau murid pesantren sesat itu atau bukan. Aku ingin kau bilang kepada Aryabajageni, aku Senopati Ringkin, besok siang akan datang ke pesantren kalian!” Senopati Ringkin mencabut kerisnya. “Karena kau telah mencuri, maka hukumannya tangan harus dipotong.”
     Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Tidak ada yang menduganya. Tahu-tahu tangan kanan maling itu putus sebatas bahu. Darah segar menyembur. Maling itu teriak melolong, lantas berlari kesetanan ke arah kegelapan. Semua mata penduduk masih melotot dengan kejadian yang bagi mereka sadis itu. Jagabaya yang tinggi besar tidak bisa juga menyembunyikan kengeriannya. Dadung Awuk seperti mau muntah.
     “Sinting,” bisik Dadung Awuk di telinga Jagabaya.
     Senopati Ringkin sudah berjalan santai meninggalkan tempat itu. Ia memang sengaja melakukannya. Sejak kedatangan Karebet, ia hampir dianggap sebagai orang kedua. Padahal saat ia datang pertama kali, ia disambut seperti seorang pahlawan. Pemuda itu sanggup merebut perhatian penduduk desa dengan aksinya melawan dirinya. Ia akui Karebet hebat, tapi ia tidak bisa membiarkan anak kampung itu merebut perhatian penduduk.
     Orang kampung segan dengan orang kalau sudah melihat bukti kehebatannya. Dan ia perlu mempertahankan kepopulerannya dimata penduduk. Maling itu menjadi sasaran empuk. Bukan hanya bukti ia hebat tetap juga ia orang yang tidak pernah main-main didepan musuh. Sementara Karebet tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
     Senopati Ringkin tertawa dalam hati.
Dadung Awuk langsung tidak menyukai Senopati Ringkin. Ia barangkali orang yang pertama kali kagum menyambutnya ketika datang. Ia bisa dekat dan ngobrol akrab. Tapi melihat kesadisannya yang baru saja ia lihat, kekagumamnya hilang. Baginya jabatan tinggi bukan berarti lantas bisa berbuat melampuai batas, meskipun kepada musuhnya. Apalagi kepada musuh yang sudah tidak berdaya.
Dadung Awuk sudah mengetok pintu kamar Karebet tapi terus saja menerobos masuk.  Ia tidak bisa menahan diri untuk segera mengatakan apa yang baru saja dilakukan Senopati Ringkin. Ia mencari Karebet diantara kerumunan penduduk dan ia menduga Karebet ketiduran. Tapi kamar itu kosong. Belum sempat ia teriak memanggil, dari jendela masuk Karebet. Enak saja Karebet masuk dan kembali menutup jendela.
     “Raden darimana?”
     “Kencing.”
     “Kenapa lewat jendela?”
     “Lebih cepat saja.”
     “Kan ada pintu?”
     “Kalau lewat pintu masih harus belok sana sini, keburu kencing di celana.” Karebet rebahan di atas dipan bambu. “Kenapa ada di kamarku? Mau tidur denganku?”
     “Bukan,” jawab Dadung Awuk buru-buru. “Saya hanya mau memberitahu, Senopati Ringkin baru saja memotong tangan maling itu.”
     “Terus?”
     “Raden benar tadi tidak menyusul ya?”
     “Tidak.”
     “Saya hanya kaget, ternyata seorang Senopati begitu kejam.”
     “Beliau kan mengemban tugas khusus. Apapun dilakukannya agar tugasnya berhasil.”
     “Termasuk memotong tangan? Meskipun orangnya sudah menyerah?”
     “Kalau perlu memotong lehernya.”
     “Ah, raden malah lebih gila.” Dadung memegang lehernya sendiri.
     “Masih mau tidur disini?”
     “Tidak, tidak mungkin. Saya masih sayang leher saya.” Dadung Awuk kabur keluar.
     Karebet tertawa. Ia sebenarnya kaget juga mendengar cara Senopati Ringkin menyelesaikan masalahnya. Soal kekerasan sudah sering ia melihatnya, bahkan sering terlibat didalamnya. Untuk ukuran dirinya ia bisa memahaminya. Tapi yang dilakukan Senopati Ringkin ditengah penduduk yang merupakan orang-orang desa yang tidak akrab dengan kekerasan, bisa menjadi hal yang mengerikan. Meskipun ia yakin Senopati Demak itu mempunyai alasan sendiri melakukan tindakan itu.
     Lawan yang sedang dihadapinya masih misterius.
Karebet sudah membuktikan sendiri. Sewaktu sebagian penduduk mengurusi maling itu, ia naik ke kaki bukit Siaul. Saat sampai di kaki bukit, ia terpaksa berhenti. Ia sudah merasakan kekuatan gaib yang mengelilingi bukit itu. Ia bisa saja memaksa naik ke pesantren itu. Tapi tiba-tiba ia disergap rasa takut.
Sudah banyak tempat angker ia datangi. Banyak tempat sepi ia singgahi untuk bertapa. Tapi di kaki bukit Siaul, ia merasakan ketakutan. Entah kekuatan apa yang ada di atas bukit sana. Orang itu pasti memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sekali. Apa yang diinginkan orang itu di daerah ini? Segenap pertanyaan terus menyerbu kepalanya. Sebelum  benar-benar dihinggapi berbagai pertanyaan yang lebih aneh, ia segera kembali ke desa.
     Besok paginya, Senopati Ringkin benar-benar pamit untuk menuju pesantren di bukit Siaul itu. Semua mengantarnya di halaman kelurahan. Termasuk Karebet.
     “Pertimbangkanlah untuk membawa bala bantuan, Kanjeng Senopati,” pinta Ki Buyut Jayadi dengan sungguh-sungguh.
     “Saya tidak mau ada korban lagi, Ki Buyut,” jawab Senopati Ringkin tegas. “Doakan saya bisa menyelesaikan masalah ini.”
     “Saya yakin Kanjeng Senopati  mampu melenyapkan durjana ini,” kata Jagabaya berharap.
     Senopati Ringkin menatap Karebet. Seperti ada yang hendak dikatakannya. Tapi Karebet yang lebih dahulu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dengan sikap yang sangat hormat.
     “Saya minta maaf karena saya lancang berani melawan Kanjeng Senopati ketika pertama kali datang disini.” Karebet berkata dengan sungguh-sungguh. “Semoga berhasil, Kanjeng Senopati.”
     Senopati Ringkin tersenyum. Genggaman tangannya cukup memberikan jawaban lebih dari sekedar kalimat. Melihat ketulusan Karebet, ia merasa telah salah menjadikan pemuda itu saingannya merebut perhatian banyak orang. Ia punya kedudukan, punya jabatan tinggi. Dibanding Karebet, ia jauh lebih beruntung. Tapi betapa ia melihat Karebet  sangat tulus menghormatinya.
     “Berjanjilah jangan pergi dari desa ini sebelum saya kembali.”
     “Saya berjanji, Kanjeng Senopati,” jawab Karebet mantap.
     Ki Buyut Jayadi terharu.
     Bukit Siaul masih diselimuti keheningan yang panjang. Para penduduk sering mencari kayu bakar dan berburu disana. Disana juga digunakan untuk bercocok tanam singkong dan palawija. Bukit itu telah memberikan mereka kehidupan yang lebih baik buat penduduk desa Pingit. Tapi setelah berdirinya pesantren pimpinan Aryabajageni, semuanya menjadi berubah.
     Pada mulanya penduduk senang. Pesantren adalah tempat menimba ilmu agama. Tempat orang-orang yang dekat dengan Allah. Tapi pesantren di bukit Siaul itu lain. Mereka tidak suka guru ngaji di desa. Mereka sengaja membuat permusuhan. Mereka berusaha menyebarkan ajaran yang berbeda dengan ajaran islam yang diterima penduduk. Sampai pembunuhan guru ngaji terus berulangkali, akhirnya penduduk membuat garis batas bahwa mereka harus memerangi orang-orang di pesantren bukit Siaul itu.
     Senopati Ringkin sampai di kaki bukit. Langkahnya terhenti dengan munculnya beberapa lelaki berseragam merah. Mereka mengepungnya.
“Aku tidak berurusan dengan kalian,” bentak Senopati Ringkin. “Aku menginginkan guru kalian. Suruh keluar menemui utusan khusus Sultan Trenggono dari Demak!”
     Tapi mereka tidak peduli. Salah satu dari mereka bersiul dan bermunculan lagi lelaki berseragam mereh. Jumlah mereka sekitar duapuluh orang sekarang. Mengepung rapat dengan membuat pertahanan berlapis. Mereka tahu yang dihadapi kekuatannya tidak bisa dianggap enteng.
     Senopati Ringkin merapal ilmunya. Saat belum selesai, ia telah diserang duapuluh lelaki berseragam merah itu. Kekuatan mereka hebat tapi ia sudah pernah bertarung dengan mereka sebelumnya. Ia bisa tahu tata gerak mereka masih lemah. Kelihatan belum lama belajar ilmu kanuragan. Meskipun begitu, pertahanan duapuluh orang ini kuat. Tapi tetap tidak sekuat pertahanan prajuritnya.
     Ia biasa berlatih ilmu kanuragan dengan para prajuritnya. Dikeroyok lebih dari duapuluh orang sudah sangat biasa. Jadi menghadapi duapuluh lelaki berseragam merah dengan ilmu kanuragan biasa, menjadi mudah baginya. Tapi aneh. Meskipun ia mudah menjatuhkan mereka, tapi kekuatan mereka luar biasa. Seperti orang yang tidak bisa terluka. Itu akan menguras tenaganya. Sebelum ia dipaksa terus menerus bertarung, ia mencabut kerisnya.
     Keris itu ia tancapkan di tanah. Kejadian berikutnya tidak bisa diikuti dengan mata biasa. Duapuluh lelaki berseragam merah itu terlempar ke segala arah seperti daun kering yang ditiup angin. Keris itu mengeluarkan kekuatan yang mengerikan. Duapuluh lelaki berseragam merah itu tidak bangun lagi. Ia segera memasukkan lagi kerisnya ke dalam sarungnya.
Tapi sebelum benar-benar beranjak, sebuah tiupan angin besar datang dari arah atas bukit, disusul sebuah suara yang berat.
     “Jangan membusungkan dada dulu, Senopati Demak!!!”
     Suara itu berat dan seolah berada dekat sekali. Tapi nyatanya tidak ada siapapun di depan Senopati Ringkin. Kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat. Sebelum sadar benar apa yang akan terjadi, dari atas bukit meluncur sebuah bongkahan batu yang sangat besar. Benar-benar sebuah batu yang sepertinya baru diangkat dari dasar bumi.
     Secepat luncuran batu besar itu ke arahnya, Senopati Ringkin mengerahkan kekuatannya dan mengumpulan di tangannya. Begitu batu besar itu berjarak hanya sepuluh langkah didepannya, ia keluarkan kekuatannya lewat tangannya. Seperti ada angin besar yang keluar dari tangannya, meluncur menyambut batu besar itu. Ledakan besar terjadi. Senopati Ringkin menutup mukanya menghindari pecahan batu besar itu.
     “Turun dan hadapilah aku sebagai laki-laki!!!” teriak Senopati Ringkin menantang.
     “Rajamu terlalu menyepelakan aku dengan mengirim orang bodoh sepertimu!”
     “Kau terlalu penting untuk diurusi Rajaku, durjana!” Senopati Ringkin mencabut kerisnya lagi. “Hadapi aku saja kau tidak punya nyali.”
     Keris itu kembali ditancapkan ke dalam tanah. Tidak ada sesuatu yang terjadi. Tapi Senopati Ringkin menunggu kekuatan keris itu memaksa musuhnya untuk memunculkan diri didepannya.  Sebuah bayangan merah meluncur dari atas bukit, tapi hanya sesaat. Lalu lenyap. Yang tidak diduga adalah tiba-tiba bayangan merah itu sudah didepan Senopati Ringkin.
Berdiri seorang lelaki berjubah merah dengan muka tirus bercambang. Matanya tajam menikam. Wajahnya menyimpan beban rahasia yang busuk. Kalau orang desa bertemu dengannya, bisa langsung pingsan.
     Senopati Ringkin mundur beberapa langkah terdorong angin yang datang bersamaan munculnya lelaki bernama Aryabajageni itu. Sesaat ia gemetar. Lelaki tinggi kurus itu benar-benar membuat nyalinya ciut. Bukan hanya karena orangnya memang menakutkan, tapi kekuatan ilmunya sudah bisa dirasakan kehebatannya. Tapi ia adalah seorang Senopati kerajaan Demak. Menghadapi musuh adalah makanannya sejak masih jadi prajurit.
     “Aku diberi wewenang untuk membawamu ke Demak dengan baik-baik. Tapi kalau kau menolak, aku diberi kekuasaan untuk memaksamu.”
     “Kenapa orang kecil seperti aku masih harus diurusi?”
     “Kau mengajarkan ajaran sesat seperti gurumu Syekh Siti Jenar.”
     “Akulah Syekh Siti Jenar.!”
     “Dasar orang keblinger!”
     “Kau dan seluruh orang di Istana Demak tidak punya hak melarangku menyebarkan ajaranku. Ini bumi bukan kepunyaan Rajamu. Sebaiknya kau pulang sebelum aku tiup jadi debu!”
     Ubun-ubun Senopati Ringkin menguap. Belum pernah ada orang yang menghina Rajanya dengan begitu rendahnya. Ia menerjang lelaki itu. Tapi pukulannya seperti membentur ruang kosong. Yang tidak ia duga lagi, ia langsung melayang terlempar dan menghantam sebuah pohon. Ia tidak punya kesiapan untuk dilawan sedemikian cepatnya. Dari sudut mulutnya mengalir darah segar. Buru-buru ia berdiri lagi.
     Aryabajageni menyunggingkan senyum pahit di sudut bibirnya. “Kau sudah membuatku turun, jadi aku harus membunuhmu sebagai pelampiasanku.”
     Bersamaan selesai kalimatnya, tangan Aryabajageni bergerak membuat gerakan membuka di dada. Itu yang jadi perhatian Senopati Ringkin. Tapi gerakan selanjutnya tak bisa ia antisipasi. Kedua tangan Aryabajageni terjulur, seperti memanjang dan menghajar dada Senopati Ringkin. Seharusnya tubuh Senopati Ringkin terlempar karena terkena dorongan. Apalagi dari kekuatan ilmu kanuragan yang tinggi.
     Tapi tubuh Senopati Ringkin tetap berdiri tegak.
     Aryabajageni tersenyum sinis sambil menjejakkan kakinya ditanah sekali dan tubuhnya lenyap begitu saja. Bersamaan lenyapnya Aryabajageni, tubuh Senopati Ringkin tersedot ke atas, seperti batu yang dilemparkan ke udara.
(bersambung)



Friday, December 14, 2012

MAS KAREBET 8

BAB 8



MALAM yang sepi. Seperti malam-malam sebelumnya. Suara-suara binatang malam nyaris tidak terdengar, seolah mereka juga dilanda ketakutan. Langkah kaki pun pasti mudah sekali dikenali. Seperti juga di dalam pendopo kelurahan. Senopati Ringkin, Ki Buyut Jayadi dan Jagabaya duduk seperti menunggu sesuatu. Padahal pikiran mereka berkecamuk. Suara dengus nafas merekapun terdengar dengan jelas.
     “Saya sudah putuskan akan mendatangi pesantren Aryabajageni besok,” kata Senopati Ringkin membuka percakapan.
     “Saya ada usul, ini juga kalau kanjeng Senopati tidak keberatan,” kata Ki Buyut Jayadi dengan hati-hati.
     “Katakan saja, Ki Buyut.”
     “Bagaimana kalau Jaka Tingkir membantu Kanjeng Senopati?”
     Jagabaya nampak senang.
     Tapi Senopati Ringkin tidak suka sama sekali.
“Ini urusan resmi kerajaan, bukan urusan orang luar, Ki Buyut,” jawabnya ketus. “Lagipula saya tidak tahu siapa anak muda itu. Saya malah mencurigainya sebagai mata-mata Aryabajageni.”
     “Itu tidak mungkin,” sahut Ki Buyut Jayadi cepat. “Saya tahu sekali Jaka Tingkir. Saya dulu pernah mengabdi kepada ayahandanya.”
     “Memangnya siapa dia?”
     Ki Buyut Jayadi baru sadar perkataannya mengundang penasaran. “Jaka Tingkir hanya anak seorang saudagar di desa Tingkir.”
     Ki Buyut Jayadi termasuk orang yang harus memegang rahasia bahwa Jaka Tingkir adalah Mas Karebet, anak Ki Ageng Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging. Bagi Sultan Demak, Ki Ageng Kebo Kenongo telah mbalelo. Tidak mau sowan ke Demak lagi sebagaimana yang dilakukan para adipati lain di tlatah Jawa. Pengging juga tidak pernah lagi memberikan upeti ke Demak.
Tapi hal itu terjadi setelah Ki Ageng Kebo Kenongo berguru agama kepada Syekh Siti Jenar yang dianggap mengajarkan ajaran sesat oleh para para Wali. Setelah diberi waktu tiga tahun untuk menentukan pilihan, Ki Ageng Kenongo tetap tidak bersedia datang ke Demak. Maka kemudian Sunan Kudus selaku Panglima Perang diberi tugas untuk menghukum Ki Ageng Kenongo yang sudah diputuskan membangkang kepada pemerintahan yang sah. Hukuman itu membuahkan kematian terhadap Ki Ageng Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging.      
     “Maaf Ki Buyut, di Demak sana, banyak pemuda seperti Jaka Tingkir. Baik kehebatan ilmu kanuragannya, maupun ketampanan wajahnya. Dia hanya anak kampung.” Nada Senopati Ringkin tinggi. Menyiratkan kebencian yang dalam.
     “Maaf, Kanjeng Senopati, saya hanya memberikan usulan.” Ki Buyut Jayadi berkata lirih. “Semua terserah Kanjeng Senopati.”
     “Tidak usah Ki Buyut ragukan kehebatan Senopati Demak.”
     Ki Buyut Jayadi tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Ia berharap Karebet tidak mendengar pembicaraan ini. Ia sangat menghormati anak bekas majikannya itu. Ia tidak mau hati anak muda itu terluka dengan jawaban Senopati Ringkin yang sangat merendahkan.
Karebet memang tidak mendengar pembicaraan itu karena ia sedang berada di kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus terganggu dengan pesantren di bukit Siaul itu. Baginya aneh sebuah pesantren tidak menyukai guru ngaji. Apalagi guru ngaji kampung. Apakah ini hanya sebuah saingan mencari murid?   
     Udara terasa panas didalam kamar. Di bukanya jendela, tapi terdengar suara benturan diluar kamar disusul suara mengaduh. Dilihatnya Dadung Awuk mengelus-elus batok kepalanya.
     “Aduh biyung, kepalaku bocor.” Dadung Awuk mengelus batok kepalanya yang terkena daun jendela.
     “Kalau mau jaga malam, bilang-bilang.”
     “Sialan, buat apa orang sehebat raden dijaga segala.” Dadung Awuk duduk di jendela. “Raden tidak ikut pertemuan di pendopo?”
     “Memangnya ada apa?”
     “Katanya, besok Kanjeng Senopati Ringkin mau ke bukit Siaul.”
     “Baguslah.”
     “Lho kok bagus?”
     “Bukankah beliau datang untuk membuat aman desa ini? Lebih cepat aman lebih baik kan?”
     “Tapi saya tidak yakin.”
     “Seorang Senopati pasti seorang yang sangat hebat ilmunya. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya”
     “Saya malah yakin raden yang bisa membuat aman desa ini.”
     “Jangan meledek.”
     “Sumpah mati, saya bicara jujur….”
     Lalu terdengar suara kentongan bertalu-talu di kejauhan. Makin lama makin banyak suara kentongannya.
     “Ada perampokan.” Dadung Awuk berdiri. “Buset, ada-ada saja kejadian. Ayo raden, kita kesana.”
     “Kamu saja. Aku ngantuk.”
     “Siapa tahu malingnya sakti.”
     “Masih ada Senopati Ringkin.”
     “Sama Raden saja kalah.”
     “Kamu duluan saja.”
     “Tapi menyusul ya, Raden.” Dadung Awuk lantas pergi.
Karebet ke arah tempat tidur yang terbuat dari bambu. Ia merebahkan dirinya. Ia tidak bisa menduga kejadian apa yang melanda desa ini. Saat sedang berlangsung pembunuhan guru ngaji, ada kejadian perampokan. Bisa jadi  saling berhubungan kalau yang melakukan pembunuhan dan perampokan orang yang sama.
Karebet bergegas keluar dari kamar itu. Ia yakin Senopati Ringkin akan mampu mengatasi perampokan. Ia ingin menuju bukit Siaul. Ia ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mulai menumpuk di kepalanya.(bersambung)