Sunday, March 28, 2010

1998 (11)

BAB TUJUHBELAS




Alice Springs, Australia.
Dalam sebuah bangunan kolonial yang megah, telah berkumpul semua anggota dari seluruh cabang. Mereka nampak santai dan duduk dengan cara yang menunjukkan bahwa mereka berada di rumah sendiri.
            Sang Ketua duduk lebih santai. Ia sudah memberikan wewenangnya kepada Sam. Seperti biasa, Sam menyalakan rokok filter-nya terlebih dahulu, sebelum akhirnya berkata, "Saya ingin menyampaikan kabar gembira dari Jakarta. Semua berjalan sesuai rencana. Tahap terakhir rencana kita akan segera dilaksanakan dan pasti sukses. Rencana itu akan dilaksanakan di bagian Barat dari Jakarta, tanggal 12 Mei dan akan dilanjutkan dua hari kemudian dengan aksi massa untuk menciptakan chaos di Jakarta dan kota besar lainnya."
            Uncle Sam (nama sandi), bicara, "Bagaimana kemungkinan militer bertindak."
            "Kita akan memotong jalur komunikasi pada hari H untuk mengacaukan jalur komando. Dan kita telah menempatkan orang-orang kita didalamnya untuk memperlancar rencana. Ada pertanyaan?"
            Tak ada pertanyaan.
***     

            Ruangan Senat Universitas sibuk luar biasa. Jadwal demonstrasi yang padat membuat semua harus bergerak. Mereka mulai membiasakan diri bahwa kuliah bukan hanya belajar di kelas. Kampus tidak sebatas memberikan mereka masa depan dan selanjutnya terserah mau menjadi apa. Musim demonstrasi ini memberikan pilihan lain bahwa masa depan itu bisa mereka rintis menjadi seperti apa. Mereka mulai mempunyai posisi tawar menawar yang menguntungkan. Paling tidak pada saat musim demonstrasi sedang marak-maraknya.
Inaya duduk di meja rapat dengan beberapa teman aktivis. Membuka kertas-kertas undangan yang datang dari Universitas lain. Agaknya semua sedang berlomba membuat jadwal demonstrasi dan bagaimana bisa menonjol dengan didukung massa dalam jumlah banyak.
“Kita menerima undangan dari Trisakti. Mereka akan mengadakan longmarch ke gedung wakil rakyat.” Inaya memberikan pidato sambil membacakan sebuah surat.
Seorang mahasiswa berkulit gelap angkat tangan. "Maaf, Inaya."
"Saya belum selesai, Luther. Interupsi nanti saja kalau sudah selesai."
"Sama sekali bukan mau interupsi, tapi saya mau minta ijin kencing."
Ruangan tertawa.                  
Belum sampai Luther keluar, pintu didepannya terbuka dan mata Luther seperti mau keluar sambil berteriak kegirangan. "Hei, hei, lihat, siapa yang datang!! Si anak hilang!”
Semua kegiatan ruangan itu terhenti seketika. Melihat hantu pun mereka tidak akan setegang itu. Padahal yang berdiri kaku di pintu itu adalah Fajar Sidik, teman mereka yang telah hilang.  Ruangan mendadak sepi. Inaya juga berdiri kaku. Semenit kemudian ruangan berubah menjadi penuh sorak. Fajar dikerubuti seperti seorang pahlawan yang baru kembali dari medan perang.
Inaya masih berdiri kaku dan menangis. Ia mulai menyadari bahwa Fajar ternyata bukan hanya miliknya sekarang. Ia menunggu sampai teman-temannya berhenti sendiri, tapi penantiannya sia-sia karena semua orang ingin mendengar kisahnya.
Fajar menolak usul teman-temannya untuk mengadakan konferensi pers. Ia memilih pulang ke rumah dan menolak pengawalan teman-temannya yang menghawatirkan keselamatannya. Ia memilih mengajak Inaya yang telah lama menunggunya untuk berbicara. Tapi dalam perjalanan dalam taksi, mereka tidak berbicara. Seperti orang yang belum lama berkenalan dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan.
"Saya sekarang tinggal di rumahmu." Inaya tidak tahan untuk tidak berbicara.
"Kalau itu menurutmu baik, lakukan saja."
Inaya tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Biasanya yang keluar adalah pertanyaan dan bukan pilihan jawaban. Inaya melihat Fajar telah berubah. Tenang dan dingin. Ya, dingin. Inaya bisa merasakan perubahan itu.
"Apakah mereka menyakitimu?"
Fajar diam dan segera terbayang di kepalanya sebuah ruangan sempit dan gelap, orang-orang di balik terali besi, pistol menyalak dan kepala pecah dengan darah muncrat kemana-mana. Fajar tiba-tiba menggigil tubuhnya. Pandangan matanya liar dan gelisah.
Inaya memeluknya.  Dilihatnya Fajar begitu ketakutan. Menghadapi perlakuan  Ibunya yang sangat kasar saja tidak sampai begitu menderitanya. Fajar yang dikenalnya adalah orang yang tegar, paling sabar dan penuh pengertian. Tapi yang dihadapinya sekarang Fajar lain. Yang pernah hilang entah kemana dan tiba-tiba muncul begitu saja. Seperti hantu.  Ia yakin  telah terjadi sesuatu yang sangat menakutkan yang menimpa Fajar.
Sesampainya di rumah, Fajar langsung berbaring diatas tempat tidur yang telah membesarkan tubuhnya. Ia menangis bertemu kembali dengan Ibu dan dua orang adiknya. Ia ingin terus bersama mereka. Telah ia janjikan bahwa ia adalah kepala keluarga. Ia biarkan kedua adiknya terus menangis. Ia biarkan Ibunya memberikan perhatiannya yang berlebihan, seperti ketika ia masih kecil. Membelai rambut dan mengusap airmatanya. Ia tidak marah Inaya menempati kamarnya. Tiba-tiba ia merelakan semua apa yang dimilikinya dan apa yang ia tidak suka sebelumnya.
Berita kemunculan Fajar didengar banyak orang, termasuk Rosita. Ia datang sendiri dan melepas atribut reporternya. Begitu bertemu, langsung memeluk Fajar dan menangis. "Kamu orang terakhir di dunia yang saya tunggu hari ini," katanya membuat Fajar tersenyum.
Inaya melihatnya dengan perasaan yang ditekannya sedemikian rupa. Ia tahu harus cemburu pada Rosita karena wanita itu juga menangis. Dan air mata itu jelas untuk Fajar. Apalagi ketika Rosita bicara sambil menggenggam tangan Fajar.
“Kakek saya mengatakan nyawanya sedang terancam sekarang.” Rosita sudah tidak menangis. “Kakek dianggap sebagai musuh oleh penguasa negeri ini. Dua hari yang lalu saya juga baru menerima ancaman karena membuat berita penculikan kamu. Saya siap dipecat dari karir saya tapi saya tidak bisa dipisahkan oleh tekad saya.”
Inaya kalah dewasa daripada Rosita. Ia masih bisa menangis dan wanita didepannya itu begitu tegar, walaupun airmatanya sudah tumpah. Semakin tertekan perasaannya ketika Fajar menatap Rosita lama. Seperti memendam perasaan cinta yang menggelora dan segera ingin dilampiaskannya.
"Bicaralah kepada saya dan Inaya, supaya kita juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan." Rosita memohon.
"Kita sudah terlalu banyak bicara."
"Tapi kita tidak bisa menolak duduk meskipun kita tahu kursi itu berduri."
"Kita tidak perlu duduk kalau kita masih bisa berdiri."
Rosita tersenyum. "Saya memang selalu yakin kamu tidak pernah kehilangan semangat."
Inaya semakin kehilangan tempat di ruangan itu.
 (bersambung)

1998 (10)


BAB ENAMBELAS

Ruangan itu gelap, lembab dan dipenuhi oleh asap rokok yang menyesakkan paru-paru dan mengaburkan pandangan mata. Seperti sebuah ruangan yang jarang digunakan. Sinar matahari menembus di kisi jendela yang letaknya di tembok dan dua meter tingginya dari lantai ruangan. Di tengah ruangan terdapat satu kursi kayu, seperti sengaja diletakkan disana sebagai satu-satnya pengisi ruangan. Fajar duduk disana dengan kepala tertunduk dan kedua tangan terborgol ke belakang. Kedua matanya ditutup menggunakan kain hitam. Bajunya telah bercampur keringat dan darah yang mengering. Wajahnya bersih, tidak mengalami cacat luka atau kulit yang terkelupas walaupun satu inci.  Tapi cara duduknya menampakkan bahwa ia sangat tegang dan tertekan. Posisinya siap untuk menunggu apalagi yang akan terjadi dengan tubuhnya. Hanya sedikit sisa kesadaran yang dimilikinya bahwa nyawanya belum tercabut dari raganya. Hal itu ia yakinkan sendiri lewat kedua telinganya yang dipasangnya sebagai ganti penglihatannya yang tertutup.
Kolonel berbaret hitam dan memegang tongkat itu berdiri di depan Fajar. Ia diapit dua serdadu berbaret hitam juga. Wajahnya sedikit menunjukkan keramahan dan ia bicara dengan sangat tenang.
“Kami akan membebaskanmu…”
Tiba-tiba kesadaran Fajar kembali sepenuhnya. Ia merasa dirinya terlempar jauh ke langit menemukan cahaya kehidupan.
“Tapi ingat, kami sudah tahu siapa kamu. Kamu tinggal dengan ibu dan dua adikmu. Ayahmu sudah meninggal dan kamu bekerja sebagai sopir pengantar roti di toko Tan, dan juga sebagai sopir di rumah seorang purnawirawan Angkatan Darat.” Kalimat itu meluncur seperti dibacanya dari sebuah tulisan. “Tapi bukan karena kamu dekat purnawirawan itu dibebaskan. Meskipun kamu akan melapor kepada Panglima Kodam atau Panglima Tinggi sekalipun, kami tetap bisa melampauinya. Atau Kontras? Tidak, mereka tidak bisa menjagamu terus menerus. Satu hari kamu mungkin bisa lolos, satu minggu atau satu bulan,  bahkan satu tahun. Tapi dalam satu hari, satu minggu, satu bulan dan satu tahun itu, pasti ada waktu dimana kamu lengah, dan saat itulah kami selesaikan tugas kami!” 
Kesadarannya yang telah kembali tetap tidak bisa mencegah bulu kuduk Fajar berdiri. Baginya itu sebuah ancaman yang sangat amat serius. Bayangan kematian sangat jelas pada setiap kalimat yang didengarnya itu. Ia memang telah siap menghadapi kematiannya ketika pertama kali menyadari bahwa ia diculik. Sebuah kematian yang pasti tidak wajar. Mungkin ia akan dipotong tujuh belas dan mayatnya dibuang ke laut sebagai santapan ikan yang kelaparan.
Ia telah melihat kematian bapaknya sebagai akibat dari sebuah kejahatan manusia. Dalam perkelahian yang adil, ia yakin bapaknya akan menang. Tapi menghadapi beberapa orang dengan clurit dan golok setajam pisau daging, nyalinya melayang juga. Dan tubuh ayahnya terkoyak-koyak seperti tercabik cakar serigala. Manusia lebih tinggi kedudukannya daripada malaikat, tapi celakanya manusia diberi nafsu yang lebih kejam daripada binatang.
            Ruangan itu senyap.
            Tapi halaman Universitas itu sedang bergemuruh. Ratusan mahasiswa berkumpul untuk berteriak. Tulisan terbentang, bendera dikibarkan dan tangan terkepal. Semua menyimpan kemarahan yang meledak-ledak. Berdiri diatas mimbar, Inaya berikat kepala putih. Ia  berteriak lantang dibawah matahari pukul duabelas.
            “Kita harus terus maju. Penculikan teman-teman kita adalah bukti, rezim ini harus dilawan!!!”
            "Lawaaan!!!
Gemuruh memenuhi halaman Universitas.
Kali ini gemuruh itu disertai dengan kemarahan di ubun-ubun kepala mereka. Keadaan menjadi semakin tidak pasti. Perubahan harus terjadi.   Termasuk Inaya yang juga berubah dan telah terjun ke gelanggang tampil sebagai pengganti Fajar. Gadis itu menarik perhatian lebih banyak dari sebelumnya dari massa. Masih lebih kepada kekaguman mereka karena Inaya seorang perempuan yang cantik dan menarik, selebihnya boleh apasaja. Termasuk alasan Inaya sebagai pengganti Fajar, orang yang dicintainya.
Disudut lapangan, Rosita terharu melihatnya. Ia terpaksa harus mengakui kalau ia cemburu pada gadis itu. Diluar soal Fajar, ia lebih cemburu kepada keberanian Inaya dan kesempatan yang dimilikinya. Kalau saja ia dulu mempunyai kehidupan seperti saat dimana pergerakan mahasiswa terjadi secara besar-besaran seperti sekarang. Ia mengharapkan sepenuhnya kalau tampilnya Inaya sebagai penerus Fajar. Ia telah kehilangan tokoh, ia yakin hanya untuk sementara, dan sekarang ia menemukan kelanjutan kisahnya. Harry disampingnya sudah mengambil posisinya.
 “Kita mengambil pengantar dulu,” kata Harry memberi tahu Rosita. 
            Rosita segera mengambil posisi dengan latar belakang Inaya berpidato. Harry segera menghitung mundur. “Lima, empat, tiga, dua, satu….!”
“Saudara, patah tumbuh hilang berganti. Gerakan mahasiswa tampaknya tidak bisa dihentikan oleh hilangnya kawan mereka yang diduga kuat diculik…..”
Siaran itu mengudara ke seluruh negeri. Mengetuk setiap pintu rumah dan mengabarkan bahwa perubahan sedang terjadi dan semua orang diminta untuk bereaksi. Telah begitu lama orang tidak bisa memperoleh kabar yang jujur soal negeri ini, karena berita yang akan disampaikan oleh para pewarta telah dimanipulasi. Kebenaran telah disimpan dalam sebuah tempat yang gelap dan dijaga ketat seolah-olah merupakan benda pusaka yang harus selalu di rawat.  Selama bertahun-tahun orang hanya mengetahui negeri mereka memang aman dan nyaman untuk ditinggali. Para turis berdatangan sampai ke pelosok desa di kaki bukit, di tepi laut, dan mereka selalu kembali datang karena terkagum-kagum dengan keramahtamahan penduduknya, bahkan mereka menganggap sebagai  masyarakat paling sopan di dunia.  
Tapi kejadian di Ibukota yang disiarkan lewat televisi telah membuka seluruh kesadaran bahwa sesuatu telah terjadi dengan sangat serius.
***
Rosita dipanggil Roy Ambyah dengan mendadak. Ia segera bisa mencium bau tidak enak. Dengan suasana hati yang masih tidak menentu, ia menuju ruangan Roy. Baru saja ia melangkah masuk, Roy sudah menunggunya dengan berdiri dan menyodorkan selembar surat berkop Departemen Penerangan, dan berkata, "Saya merasa ada sesuatu yang harus kita pertimbangkan."
"Baik, Pak. Saya akan membacanya setelah saya selesai meliput nanti malam."
Roy dengan tegas mendesak, "Sita, bacalah sekarang."
Rosita merasa suasana sedang menegangkan di ruangan itu. Tanpa duduk, ia segera membacanya. Pesannya sangat jelas dan ia tidak perlu dua kali untuk membacanya, tapi ia masih tidak mempercayainya. Dengan sinis dia berkata, “Saya kira semua telah berubah."
"Siapa yang mengira belum."
"Saya tidak habis mengerti, ada persoalan besar yang mengancam keutuhan bangsa ini, tapi betapa reporter kecil seperti saya masih sempat mereka urusi?”
            “Semua orang sedang diurusi sekarang.”
            “Kali ini saya akan menggunakan hak jawab saya, meski perusahaan tidak mendukung saya.”
            “Ini bukan perkara tanya jawab, tapi peringatan keras bahwa kamu harus menghindari apa yang mereka sebutkan sebagai tuduhan yang memojokkan.”
            “Saya melaporkan kasus penculikan itu berdasarkan data Kontras.” Nada Rosita meninggi.
            “Saya sudah menjelaskannya kepada Chief Eksekutif kita.”
“Dan saya yakin beliau tidak mau tahu.” Rosita menyambung kalimat itu dengan geram. “Terimakasih, saya harus meliput demonstrasi mahasiswa.”
Rosita segera menghilang dan satu jam kemudian ia sudah kembali ditengah-tengah massa mahasiswa berdemonstrasi. Ia akan terus meliput dan menyiarkan apa yang dilihat dan dirasakannya. Ia sadar betul surat yang ditujukan kepadanya itu serius. Tapi ia harus tetap merekam seluruh kejadian yang boleh dan tidak boleh direkam. Ia akan bicara apa yang didengar dan dilihatnya, karena ia masih punya nyali untuk berkata jujur. Kebenaran tidak bisa dikalahkan kecuali oleh kebenaran itu sendiri.
(bersambung)

Saturday, January 16, 2010

1998 (9)

BAB EMPATBELAS


 “Ada orang-orang yang tidak menyukai kedamaian. Mereka membentuk suatu kelompok rahasia untuk menghancurkan berbagai sistem pemerintahan yang ada dengan menguasai bidang-bidang keuangan, politik, pers, pendidikan dan berbagai bidang lainnya. Mereka ada di seluruh dunia, termasuk di negeri ini.”
            “Kakek punya bukti?”
            “Bukti? Seperti apa? Dokumen? Catatan?” Hadi menarik nafas dalam-dalam. “Tidak ada hal penting yang dibuat tertulis. Hanya ada kasak kusuk, gunjingan  dan kedipan mata. Begitulah kejahatan besar direncanakan.”
            "Apakah itu hanya sekedar teori konspirasi?"
            "Persekongkolan yang baik tidak bisa di buktikan. Kalau kau bisa membuktikannya, mereka telah membuat kesalahan."
            Hadi menuju rak bukunya dan jongkok membuka kunci lemari kecil paling bawah yang kelihatannya tempat menyimpan segala sesuatu yang ingin tidak diketahui orang lain. Ia mengambil sebuah buku tebal yang dipegangnya dengan tangan gemetar dan ia ragu memberikannya kepada Rosita. "Kau boleh membacanya, setelah itu kau boleh berpendapat apasaja."
            Buku itu berjudul 'Paws In The Game' karangan William Guy Carr. Rosita menangkap kecemasan dalam wajah kakeknya yang tidak bisa lagi disembunyikan. "Apakah ini buku yang dilarang beredar?"
            "Kenapa buku yang ditulis bagus harus tidak boleh beredar?" Bibir tua Hadi gemetar. "Buku itu menyingkap suatu rahasia dibalik berbagai peristiwa dunia. Ada suatu kelompok rahasia yang tujuan utamanya menghancurkan berbagai sistem pemerintahan. Mereka menciptakan krisis demi krisis yang kemudian menimbulkan revolusi, peperangan, penindasan dan berbagai tindak amoral lainnya. Mereka telah sukses mendominasi Dunia Barat, maka sekarang mereka mengarahkan perhatiannya kepada Dunia Timur, kepada kita dengan kegiatan dan aksi yang sama."
            "Rasanya sulit sekali mempercayainya."
            "Kita tidak pernah mengetahui seperti apa bentuk udara, tapi toh kita tetap mempercayainya."
            "Maksud saya negeri kita dijadikan gelanggang pertarungan."
            "Negeri kita terlalu makmur untuk dibiarkan dinikmati orang bodoh seperti kita. Mental kita mental kuli, kepala kita kosong dan perut kita buncit."
            "Kalau saya membuat laporan seperti ini, apakah orang akan percaya?"
            "Orang percaya atau tidak bukan urusan kita. Urusan kita adalah menyuarakan hati nurani. Itu juga kalau kita masih bisa jujur."  
Di saat Rosita membutuhkan dukungan, ia hanya bisa datang kepada kakeknya.  Ketika semua pintu tertutup untuknya, kakeknya menyambutnya dengan satu pesan bahwa ia tidak boleh kehilangan semangat. Ia belajar banyak dari kakeknya soal bagaimana bisa mempertahankan hidup pada suatu rezim yang otoriter. Mempertahankan hidup memang soal perut. Soal perut sering membuat orang menjual apasaja, termasuk menjual bangsanya.
“Kita hanya punya sejarah yang buruk,” kata Hadi sambil mengambil buku lainnya, tebal, kusam dan berdebu.
“Artinya kita juga ikut buruk.” Pang Ong sedang duduk menonton film action Amerika di televisi, “Apa menghadapi kematian kita ini harus tetap buruk, Hadi?”
“Tahun 60-an tulisan-tulisanku dibakar komunis,” Hadi mulai bercerita. “Jaman Orde Baru berkali-kali aku berurusan dengan aparat keamanan karena tulisanku dianggap menghasut. Jadi kalau ada orang yang paling sakit hati soal sejarah ini, akulah orangnya.”
Hadi membawa buku kusam yang belum dijilid itu ke arah meja dimana Rosita masih ragu untuk membuka buku pertama yang diberikan kakeknya. Bukan sebuah buku sebenarnya, tapi tumpukan kertas yang mungkin akan dijadikan sebuah buku. Hadi menyodorkannya pada Rosita.
“Bukan hanya demonstrasi atau penculikan aktivis, semua borok sejarah negeri ini, ada disini.” Wajah Hadi kelihatan tegang sekali. "Tentu saja menurut penilaianku."
Pak Ong menoleh dengan memicingkan mata tuanya. “Apa itu, Hadi?”
“Ongol-ongol.”
Rosita tertawa. Pak Ong manggut-manggut saja dan nonton televisi lagi.
“Jujur saja, aku takut menerbitkannya dulu. Kalau kamu mau menerbitkannya sekarang, aku akan senang meski harus menghadapi tiang gantungan.”
Rosita membuka lembaran pertama. Tertulis SIAPA MENABUR BENIH MENUAI HASIL dan nama penulis dibawahnya tertulis ANONIM.
“Ganti saja dengan namaku.” Wajah Hadi kelihatan begitu geram. Ia telah memutuskan apa yang harus dilakukannya dengan segala risikonya.  "Kau tahu apa yang dikatakan Al Maududi ketika akan dihukum mati? Dia bilang, jika ajal bagi saya telah datang, tidak seorang pun dapat mengelakannya. Akan tetapi bila ajal itu memang belum datang,  mereka tidak dapat menggantung saya, walaupun mereka sampai menggantung diri mereka sendiri." 
Rosita ragu dan wajahnya ikut tegang.
“Bukalah.”
Rosita sadar kalau ia mulai membuka buku itu artinya ia harus siap tidak bisa tidur nyenyak. Kemanapun ia pergi akan diikuti dan semua kegiatan yang dilakukannya akan dicatat dalam sebuah agenda hitam. Jelas ia harus takut. Ibaratnya ia harus masuk kandang harimau sendirian, meski telah diberitahu pawang bagaimana cara membuat harimau itu tidak menerkamnya. Ia tidak tahu persis bentuk ancaman dan teror seperti apakah yang diterima kakeknya selama menjalani karir sebagai wartawan. Ia pernah merasakan  bahwa ia ditekan secara mental selama ia menjadi reporter pada kasus sensitif.  Bahkan untuk seorang laki-laki setegar apapun, pasti akan terguncang.
--------
Fajar juga bukan laki-laki hebat, termasuk dalam fisik. Ia begitu terguncang melihat sebuah pistol jenis baretta menyalak dan pelurunya menembus pelipis seorang Pemuda yang duduk tanpa tenaga di kursi listrik. Ruangan lalu senyap. Padahal lebih dari sepuluh pasang mata dibalik terali besi termasuk Jarot menyaksikan adegan itu. Dalam keadaan tegang itu, meja didepan Fajar digebrak sebuah tangan kekar dan meja itu pecah berantakan.
“Anda sebagai mahasiswa mestinya bicara yang intelek, bukan menghasut!” Suara itu menggelegar .
Fajar tidak tahu apakah ruangan ini seperti sebuah neraka. Ia telah begitu hebat ditekan untuk tidak bisa berpikir apapun kecuali untuk sebuah semangat bahwa ia adalah manusia merdeka dan tidak ada seorang manusiapun bisa merampasnya. Ia telah hidup dengan susah payah diantara himpitan kerasnya kota. Perlakuan paling buruk pun telah ia terima. Tapi yang sekarang dihadapinya adalah sebuah akhir yang menyadarkan dirinya, bahwa ia hidup hanya untuk sebuah hinaan.
"Memangnya siapa kalian sampai bermimpi mau merubah negeri ini?" Tangan kekar lelaki itu menjambak rambut Fajar. "Untuk makan saja kalian susah. Berpikirlah bagaimana mencari duit dengan mudah dan tidak perlu bermimpi. Mimpi hanya dimiliki oleh orang berduit, dan kalian sama sekali tidak pantas bermimpi!" Lalu dibantingnya kepala Fajar ke dinding.
“Sisa waktu hidupmu tinggal tunggu giliran. Gunakan untuk berdoa.”
Ya, berdoa. Tuhan agaknya jalan terakhir bagi orang-orang teraniaya seperti dirinya. Tapi ia bukan orang yang mudah melupakan Tuhan ketika sehat dan kesenangan didapatinya. Ia orang yang diajarkan bapaknya untuk tidak melupakan Tuhan dalam saat senang dan susah. Fajar berterimakasih kepada suara itu. Apakah orang itu juga ber-Tuhan. Ia yakin tidak ada manusia yang tidak ber-Tuhan, yang bisa melakukan perbuatan keji pada Jarot dan orang-orang dibalik sel itu. 
  


 BAB LIMABELAS


Inaya kehilangan pegangan untuk beberapa saat. Ia sudah bisa melepaskan diri dari bayang-bayang orangtuanya dan menjadikan Fajar sebagai pelabuhan berikutnya. Untuk waktu yang cukup lama, tepatnya setelah jadi mahasiswa, separuh hidup Inaya bergantung kepada Fajar. Tentu saja dalam hal kebutuhan diluar materi. Ia telah mulai membayangkan menjadi ibu rumah tangga dan segala hal yang mengikutinya. Sangat menyenangkan.
Tapi ia sekarang sedang mengalami ketegangan yang luar biasa. Ia membutuhkan orang untuk menumpahkan kisah sedihnya. Satu-satunya harapan ada pada Ibu dan Noni. Tapi agaknya hal itu tidak pernah terjadi lagi, seperti ketika ia masih kecil dulu. Kepada bapaknya, suatu hal yang sangat sulit ia dapatkan waktunya. Saat-saat tertentu, Inaya menyesali kenapa ia dilahirkan tanpa saudara yang banyak.
Di pesawat televisi, Rosita sedang berdiri dengan latar belakang Universitas dan kelihatan sangat bersemangat. “….hilangnya Fajar sebagai salah satu orator di kampusnya, justru membuat gerakan mahasiswa semakin merapatkan barisan untuk menyuarakan kebebasan…..” Di layar televisi, tampak kumpulan mahasiswa menggelar spanduk yang menuntut dikembalikannya Fajar.
Inaya tidak bisa menahan matanya untuk tidak menangis. Nyonya Hartawan yang sangat jeli melihat perubahan putrinya, langsung menghardik. “Inaya, menangisi siapa kamu. Kalau sampai orang tahu kamu menangisi pembantu, martabat kita habis!”
“Salah sendiri sok jadi orang pinter, ngomong seenaknya didepan banyak orang, ya diculik. Mati juga pantes.” Noni mencibir habis.
Inaya berdiri dengan kemarahan diubun-ubun. “Tahu apa mbak Noni soal Fajar, soal mahasiswa. Mbak Noni kan tahunya cuma pesta, diskotik dan ketagihan tidur sama bule….”
Inaya tidak sempat menyelesaikan omongannya karena Noni sudah menamparnya. Tapi secepat itu pula, Inaya membalas menampar kakaknya dengan lebih keras. Noni terlempar ke sudut.
“Inaya, jaga kelakuanmu!” Nyonya Hartawan membantu Noni berdiri.
Inaya tidak pernah kenal kekerasan fisik sejak kecil. Hidupnya diatur sedemikian rupa oleh Ibunya sebagai orang yang katanya masih berhak menyandang gelar bangsawan. Cara berjalan, berbicara, bahkan cara makan harus melalui sebuah metode yang rumit. Semua harus dilakukan dengan perhitungan seperti matematika. Begitu merepotkan aturan yang diberlakukan, bahkan dalam pergaulan. Inaya tidak pernah berniat merubah tradisi leluhurnya, tapi dalam hal tertentu ia tidak mau menjadi robot. Ia mulai menikmati makan di pinggir jalan, tertawa lepas di kampus, pulang malam dan bergaul dengan siapa saja. Dan itu hanya didapatkannya setelah mengenal Fajar.
Inaya ingat betul ketika suatu kali Fajar mengatakan, “Dunia memberi kesempatan lebih dari peraturan-peraturan yang dibuat orangtuamu, dan kamu berhak mendapatkannya.”  Dan sudah saatnya ia harus mendapatkan kesempatan yang lebih besar. Ia telah mulai siap mengatur masa depannya sendiri.
Ia harus mulai mengambil suatu risiko, termasuk untuk berpisah dari orangtuanya. Ia tidak pernah mempunyai pikiran seperti itu sebelum adanya musim demonstrasi. Hidupnya berada pada posisi yang sempurna. Tapi setelah ia kenal Fajar dan ikut dalam demonstrasi, hidup ternyata memungkinkan banyak tawaran. Diam-diam ia mengemasi bajunya dan menuju rumah Fajar. Ibu Fajar tidak percaya anak majikannya bertindak sangat nekat seperti itu.
“Saya memaksa tinggal disini. Kalau tidak boleh, saya akan kost disini. Paling tidak untuk sementara.” Inaya mau menangis.
“Saya takut ketahuan, Non.”
“Kalau Ibu tidak bilang, saya tidak bakal ketahuan.”
“Tapi kenapa harus minggat?”
"Saya hanya ingin keluar dari rumah."
Inaya tidak pernah berpikir untuk minggat. Ia hanya meninggalkan rumah karena ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi disana.  Ia tidak lagi mendapatkan teman suka dan duka dalam rumah itu. Tempat baginya mengadu sudah lain melihat dirinya. Ia sangat menyanyangi ibunya, Noni dan bapaknya. Tidak ada yang menandingi cinta kasihnya dengan apapun. Hanya karena berbeda pendapat, tiba-tiba hidupnya putus dengan masa lalunya.
Ia sedang berjuang. Bukan untuk dirinya, Fajar atau kampusnya. Tapi untuk semua orang yang menginginkan perubahan ke arah lebih baik.  Bagi sebagian orang yang sudah mapan dalam hal kedudukan dan materi, apa yang sedang terjadi justru membuat kenikmatan mereka mulai berkurang. Orang terakhir inilah yang membuat perubahan tidak cepat tercapai. Kalau perlu, mereka harus membayar dengan uangnya untuk membuat perubahan itu tidak tercapai. Kebaikan dan keburukan menjadi hal yang nyaris tidak berbeda. Siapa yang merasa benar dan siapa yang dituduh salah.
(bersambung)