Sunday, February 20, 2011

SAM (3)

BAB 3

“NANTI malam aku menghadap Presiden,” kata Umar Yusuf sambil berjalan dengan Jun Maher ditengah keramaian Pasar Baru. Kebisingan dan keramaian adalah tempat paling aman mereka membicarakan sesuatu yang sangat penting tanpa perlu takut ada yang mencuri dengar. Hidup dan nyawa mereka berada di mulut mereka sendiri. 
“Kabar ditemukannya Sam sebentar lagi akan menjadi komoditi yang laris di Istana,” kata Jun Maher sinis. “Lebih baik ditunda, Pak.”
     “Ini masalah serius, Jun.”
     “Kita selalu menangani kasus yang tidak pernah tidak serius. Tapi ini kasus khusus.”
“Kamu tidak percaya kepada Presiden?”
“Aku tidak percaya kepada All The Presdient Man.”
“Paling tidak aku berharap Presiden lebih bijaksana untuk lebih menutupi persoalan yang satu ini.”
     “Di negeri ini, dimana kita bisa menyembunyikan sebuah rahasia? Dinding kantor kita terlalu tipis, lebih tipis dari baju yang kita pakai. Apalagi kalau berita ini sampai di Senayan, urusannya bisa jadi lain.”
     “Jangan menyinggung perasaan orang banyak.”
     Jun Maher terbahak.
     Umar Yusuf mengambil botol air mineralnya dan meminumnya.
     “Apakah bisa dipastikan teman-teman yang lain akan keluar?”
     “Pasti. Bahkan mungkin saat ini CIA, MI6, KGB, Mossad, sudah memilih agent-agent terbaiknya untuk turun,” jawab Umar Yusuf tegas.
     “Siapa orang ini sebenarnya?” Jun Maher jadi keheranan sendiri, padahal ia sudah paham diluar kepala tentang orang ini sejak masih duduk di sekolah menengah atas. Tapi apa yang dikatakan atasannya menjadi sangat menegangkan.
     “Sam dikenal sebagai pimpinan Biro Khusus Partai Komunis Indonesia. Tapi sebenarnya dia adalah double agent, bahkan dia seorang triple agent.” Umar Yusuf seperti sedang membacakan buku pelajaran sejarah. “Peristiwa yang dikenal gerakan 30 september 1965 adalah hasil kecemerlangan otak Sam, sehingga sampai sekarang menjadi teka-teki.”   
“Menurutku dia terlalu pintar untuk merancang gerakan yang mengguncang dunia itu seorang diri.” Jun Maher berkata sinis.
     “Tentu saja dia tidak sendirian. Dokumen Gilchrist contoh paling nyata yang dibuat agent MI6 yang menyatakan adanya Dewan Jendral.”
     “Tapi penghilangan jejak pada lini-lini penting adalah khas operasi intelijen, dan itu metode klasik CIA.”
     “Itu memperkuat dugaan bahwa Sam triple agent.”
“Menurut bapak, Sam sengaja menghilang atau dihilangkan?”
“Menurutku dia sengaja disimpan.”
“Atau jangan-jangan Sam itu sebenarnya orang yang pemalu dan rendah hati.”
     Mereka tertawa.
     Suara tawa penuh kelucuan.
     “Tapi kenapa sekarang bisa ditemukan?” Jun Maher mengernyitkan dahi. “Apakah dia sengaja menampakkan diri? Lebih gila lagi dia muncul di Banjarnegara. Kenapa tidak di Perancis seperti tokoh PKI yang lain? Atau Belanda? Atau Amerika Serikat, sehingga dia layak dipanggil Paman Sam.”
     “Ada yang pernah mengatakan Sam hidup di Belanda dan Perancis. Tapi alasan kenapa dia bisa berada di Banjarnegara, kau yang harus cari tahu.”   
     “Ini pasti informasi ngawur.”
     “Foto-foto yang sampai di mejaku, sudah diteliti di lab. Semuanya menunjukkan kesamaan antara foto lama dan foto terbaru yang dikirim agen lapangan.”
     “Saat kita seharusnya mengurusi hal yang lebih penting, kita malah mengurusi orang tidak waras ini.” Jun Maher terus berkata. “Aidit dan Untung menjadi terkenal karena berita eksekusi mereka dimasukkan dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Tapi Sam? Orang ini merasa terlalu berharga untuk menjadi komoditas berita di selembar kertas pembungkus tempe.”
     Jun Maher lalu diam.
     Umar Yusuf kelihatan berpikir.
“Dalam tiga hari ini aku sudah harus mendapatkan tim untuk kau pimpin.”
     “Ada teman kita yang aktif di kota kecil itu?”
     “Aku sudah mengirimkan agent kita sejak berita ini sampai. Dan kita terus berhubungan.” Umar Yusuf meminum kembali air mineral yang dibawanya, sepertinya butuh banyak ketenangan, lalu diam sebentar dan kemudian berkata, “Aku ingin Sam dibawa secepatnya ke Jakarta. Aku tidak mau pihak lain mendapatkannya terlebih dahulu.”
     “Aku ingin ikut memilih anggota tim yang berangkat.”
     “Nanti malam data agent-agent yang harus dipilih sudah di mejaku.”
Umar Yusuf lantas berbelok masuk ke dalam sebuah Barber Shop. Jun Maher membeli sebuah rokok di penjual keliling, setelah itu ia masuk menyusul atasannya.
***
TAMAN Rekreasi dan Margasatwa Serungling Mas Banjarnegara adalah sebuah taman rekreasi dan kebun binatang yang letaknya satu kilometer dari pusat kota Banjarnegara. Taman rekreasi ini berdampingan dengan sifon atau saluran bawah tanah di bawah sungai Banjarcahyana yang dibangun Belanda tahun 1938. Dari tempat itu, pengunjung dapat menyaksikan pertemuan tiga sungai, yaitu sungai Serayu, sungai Merawu dan sungai Palet. Presiden Soekarno pernah mengunjungi bangunan itu pada tahun 1952 dan sangat mengaguminya.
Sebelumnya taman rekreasi itu merupakan hutan kota dan saat hari libur selalu ramai dikunjungi dan akan lebih banyak lagi saat liburan akhir semester anak sekolah dan saat lebaran. Sinar matahari yang terik tidak terasakan lagi saat berada di taman rekreasi ini. Rimbunnya pohon telah membuat teduh dan orang-orang menjadi nyaman berada disana.
     Mustajab membawa kamera tustelnya dengan cara dikalungkan di lehernya. Penampilannya seperti tukang foto keliling yang menawarkan jasanya kepada pengunjung taman rekreasi untuk difoto. Dengan memakai topi butut dan rompi lusuh, Mustajab meyakinkan seperti tukang foto keliling lainnya. Tidak seperti tukang foto keliling lain yang benar-benar menawarkan diri kepada pengunjung, Mustajab lebih suka kesana kemari mencari gambar yang nantinya bisa menjadi koleksi fotonya dan bisa dikirimkan ke majalah Ibukota.
     Bagi keluarga besarnya, Mustajab bekerja sebagai karyawan di Departemen Pertahanan sesuai dengan jurusan yang diambilnya saat kuliah. Saat mendapatkan perintah untuk ke Banjarnegara ia mengira sedang menghadapi lelucon. Sampai kemudian Umar Yusuf sendiri yang memberinya perintah, baru ia percaya dan langsung menuju kota kelahirannya. Seperti pulang kampung saja dan yang paling senang adalah istrinya. Kepada istri dan anaknya dan kepada kedua orangtuanya serta kepada mertuanya, dia mengatakan mendapatkan cuti dari kantornya.
Kesukaan yang diketahui keluarganya adalah ia suka memotret. Maka ketika ia pergi membawa kamera dan mengatakan ingin mencari gambar foto koleksi, tidak ada yang mencurigainya. Keluarga besarnya, bahkan istrinya tidak pernah mengetahui pekerjaan sebenarnya Mustajab adalah seorang telik sandi, seorang mata-mata yang bekerja untuk negara. Di mata keluarganya, Mustajab adalah sosok pendiam yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku sejak kecil.
     Ayahnya adalah pensiunan guru agama. Sejak sekolah dasar, ia di sekolahkan di sekolah agama sampai dengan sekolah menengah atas. Hal yang selalu membanggakan kedua orangtuanya adalah ia selalu mendapakan peringkat di tiga besar di kelasnya. Saat lulus sekolah menengah atas, kedua orangtuanya menginginkannya masuk di perguruan tinggi agama seperti kakak sulungnya yang mengambil bidang pendidikan agama. Tapi Mustajab memilih bidang Sosial Politik. Nilainya selalu tinggi di kelas dan saat baru selesai di wisuda, seseorang menghampirinya dan mengatakan ia di terima bekerja di Departemen Pertahanan. Tentu saja ia terkejut karena tidak pernah mengajukan lamaran, apalagi bukan Departemen Luar Negeri seperti keinginannya. Esok harinya ia tetap datang dan dua tahun kemudian, ia direkrut Dinas Intelijen Khusus.
     Mustajab sengaja ke tempat rekreasi Serunglingmas karena Abusono dan keluarganya sedang berada disana. Abusono membawa istrinya dan dua anaknya. Anaknya yang paling besar bernama Dodo dan adiknya seorang gadis kira-kira berumur 16 tahun. Istrinya tampak lebih tua dari umurnya yang sebenarnya, dengan rambut memutih semua. Abusono kelihatan sangat menikmati rekreasinya dengan keluarganya. Bahkan ia ikut naik gajah yang disewakan di kebun binatang itu.
     Semua kegembiraan Abusono dan keluarganya diabadikan dalam foto Mustajab. Sampai setengah hari Abusono berada di tempat rekreasi itu. Setelah itu mereka pulang. Mustajab meyakinkan terlebih dahulu mereka tidak mampir ke tempat lainnya dengan mengikuti bis yang mengangkut mereka. Saat sampai di sebuah daerah bernama Mandiraja, mereka juga tidak kelihatan turun, Mustajab segera melarikan motornya terlebih dahulu. Mandiraja adalah sebuah kota Kecataman berjarak tiga kilometer dari tempat tinggal Abusono di daerah bernama Purworejo Klampok yang berjarak hampir 30 kilometer dari pusat kota Banjarnegara.
     Rumah yang yang ditempati Abusono merupakan rumah kolonial. Di sekitarnya banyak rumah sejenis dan bukan merupakan perkampungan padat penduduk. Hanya ada beberapa rumah kolonial itu. Didepan rumahnya ada sebuah tanah lapang yang digunakan untuk keperluan tertentu selain untuk berolahraga warga sekitar. Diseberang lapangan itu juga berderet rumah kolonial yang sudah padat penduduknya. Mustajab teringat sewaktu SMP ia pernah mengikuti perkemahan di lapangan itu. Saat itu ia tidak pernah mempunyai bayangan masa depan, suatu saat harus berada di tempat yang sama untuk keperluan yang berbeda.
     Daerah Purworejo Klampok merupakan daerah yang terkenal dengan kerajinan keramik berupa guci dan souvenir lainnya. Produknya mampu bersaing dengan produk dari daerah Plered di Purwakarta atau Kasongan di Kota Gede Yogyakarta. Hanya saja industri keramik di biarkan berjalan sendiri dengan kemampuan pengrajin. Tidak diarahkan untuk menjadi sebuah industri masa depan untuk kepentingan komoditi. Hal itu bisa dilihat masih banyaknya warga sekitar yang lebih memilih pergi ke Jakarta daripada menjadi pengrajin keramik.
     Mustajab memarkir motornya di seberang jalan masuk ke arah rumah Abusono. Ia sudah mencopot atribut yang dipakai di tempat rekeasi. Rompi lusuh dan topi butut dan kamera di leher. Kamera masih ada disampingnya. Ia membongkar busi motornya. Saat itu bis yang menganggkut Abusono datang dan berhenti di tempat yang sudah diperkirakannya. Dari balik motornya, dengan posisi jongkok, Mustajab mengambil gambar Abusono menuju rumahnya. Wajah terakhir yang diambilnya dalah wajah close up Abusono saat masuk ke dalam rumahnya.  
(bersambung)

Saturday, February 19, 2011

Tak Ada Lagi Film Asing di Bioskop


Noorca Masardi, juru bicara 21 Cineplex, mengatakan bahwa semua film asing yang berada di Tanah Air telah diturunkan dari penayangan di semua bioskop (21/XXI/Blitz Megaplex).

"Mulai hari ini sudah tidak ada lagi film asing yang ditayangkan di semua bioskop, termasuk bioskop 21," ujar Noorca Masardi saat dikonfirmasi lewat telepon, Jumat (18/2/2011).

Motion Picture Associated (MPA), mewakili sejumlah perusahaan film asing, sudah resmi menarik semua film asing yang beredar di bioskop-bioskop Indonesia. Pemberlakuan penarikan juga berlaku bagi film asing yang akan beredar.

"Sudah ada koordinasi dengan pihak bioskop 21. Mereka datang dan kemarin mengumumkan. Kami dari pihak 21 Cineplex merasa sangat prihatin dengan kondisi sekarang ini," ucap Noorca.

Noorca menyesalkan adanya aksi penarikan tersebut. Hal itu dipicu oleh keputusan pemerintah melalui Dirjen Pajak dan Bea Cukai yang menetapkan pemberlakuan bea masuk hak edar distribusi.

"Prihatin atas keputusan pihak asing yang tidak mau lagi mendistribusikan filmnya ke Indonesia, kami yang bergerak di bidang bioskop hanya bisa berharap dan berdoa semoga pihak MPA bisa kembali mendistribusikan film ke Indonesia," ujarnya.

Noorca berharap pemerintah bisa mempertimbangkan kembali ketentuan baru tersebut sehingga bisa terus memberikan ruang kepada publik untuk mendapatkan hak hiburan seluas-luasnya.

Sebelumnya MPA menolak karena sudah ada negosiasi dan argumen tentang keberatan terhadap ketentuan itu."Namun, keputusan itu tetap diberlakukan mulai Januari kemarin," ucap Noorca Masardi.


Memacu Pertumbuhan Film Nasional

Direktur Perfilman Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Syamsul Lussa mengatakan, ada informasi yang terpotong terkait dikeluarkannya surat edaran dari Dirjen Pajak Nomor 3 Tanggal 10 Januari 2011, yang berbuntut reaksi pihak Motion Picture Association dengan menghentikan impor filmnya ke Indonesia.

"Besok kita akan 'kejar' sehingga nyambung dan mencari penyelesaiannya menyusul adanya edaran tersebut. Secepatnya pihak-pihak terkait akan segera membahasnya," katanya dihubungi di Jakarta, Jumat (18/2/2011).

Langkah pihak Motion Picture Association (MPA) untuk tidak mendistribusikan semua filmnya di Indonesia merupakan buntut dari keberatan pihak mereka terkait penetapan bea masuk atas hak distribusi film impor. Keputusan MPA tersebut dilakukan terhitung hari Kamis, tanggal 17 Februari 2011.

Menurut Ketua Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (Ketua GPBSI) Noorca Massardi, dalam siaran persnya, Jumat (18/2/2011), pihak MPA menilai penetapan itu tidaklah lazim dan tidak pernah ada dalam praktik bisnis film di seluruh dunia.

Dikatakan Noorca, buntut dari dicabutnya hak edar distribusi sangatlah berdampak luas, antara lain Bioskop 21 Cineplex dengan sekitar 500 layar, sebagai pihak yang diberi hak untuk menayangkan film impor, akan kehilangan pasokan ratusan judul film setiap tahun. Padahal, film nasional selama ini baru mampu berproduksi 50-60 judul per tahun. "Dengan akan merosotnya jumlah penonton film (impor) ke bioskop, maka eksistensi industri bioskop di Indonesia akan terancam," ujarnya.

Tak hanya itu, Ditjen Bea Cukai, Ditjen Pajak, Pemda, Pemkot, dan Pemkab akan kehilangan rencana anggaran pendapatan dari film impor sebesar 23,75 persen atas bea masuk barang, 15 persen PPh hasil ekploitasi film impor, serta Pemda, Pemkot, dan Pemkab akan kehilangan 10-15 persen pajak tontonan sebagai pendapatan asli daerah.

Sementara itu, Syamsu justru menilai tidak adanya film impor bukan berarti harus ada kekosongan. Langkah yang diambil pihak pemerintah justru untuk memacu pertumbuhan produksi film nasional dan mendorong sineas untuk menghasilkan karya yang bermutu.

"Selama ini produksi film nasional mencapai 77 film per tahun, sedangkan impor film mencapai 140 film. Perbandingannya 36:64. Ini berbanding terbalik dengan apa yang diamanatkan undang-undang, yakni 60 untuk film nasional dan 40 untuk film asing," ujarnya.

KOMPAS,Jumat & Sabtu, 18 & 19 Februari 2011

Wednesday, February 9, 2011

SAM (2)


BAB 2


KABAR Abusono berada di Banjarnegara, sudah sampai di meja Umar Yusuf, kepala Dinas Intelijen Khusus (DIK). Gedung DIK terletak agak jauh dan menyendiri dari pusat kegiatan pemerintahan Ibukota Jakarta . Sebuah gedung yang diselimuti oleh kesan misterius dan penuh rahasia. Dikelilingi tembok tinggi dengan kawat berduri yang dialiri listrik berkekuatan tinggi, kamera rahasia dan jenis peralatan canggih lainnya yang mampu mematikan arus komunikasi di sekitarnya. Dari luar, gedung itu kelihatan tenang. Selalu tenang. Tapi didalam ruangan gedung itu, berbagai aktifitas sedang berlangsung terus menerus. Tiada waktu berhenti. Semua harus bergerak dan selalu bergerak.
     Penjagaan di setiap pintu masuk dilakukan selama duapuluhempat jam penuh oleh polisi militer berseragam sipil. Setiap orang yang masuk, harus diperiksa dengan sangat ketat melalui ruangan khusus yang telah dipasang sinar infra merah. Pada setiap sudut terdapat kamera rahasia dan alat deteksi. Tidak ada satu penyusup yang akan berhasil masuk. Bahkan untuk seekor tikus.
Umar Yusuf, Kepala DIK, masih berada didalam ruang kerjanya. Berusia enampuluh sembilan tahun, seorang laki-laki yang dingin dengan wajah penuh kerut ketuaan dan sorot mata menikam serta sarat dengan beban rahasia yang busuk. Ia seorang purnawirawan Angkatan Laut berbintang tiga. Masih nampak gagah dan menampakkan diri sebagai laki-laki yang mempunyai kharisma. Pekerjaannya membuatnya harus selalu berada dalam suatu keadaan segar bugar, penuh selidik dan mencurigai siapapun, termasuk keluarganya. Ia hanya percaya kepada dirinya sendiri. Bahkan tidak termasuk kepada Jun Maher, anak buahnya yang paling ia andalkan, yang tengah duduk didepannya.
Ia sudah memegang sebuah foto ukuran 10R dengan gambar berwarna dan disodorkan kepada Jun Maher untuk melihatnya.
     “Siapa ini?” Tanya Jun Maher manatap foto lelaki tua berkacamata tebal dengan kepala hampir botak dan bentuk wajah yang keras.
     “Kau tidak tahu dia?” Umar Yusuf mengambil foto-foto yang lain dan menyodorkannya. “Coba lihat foto-foto yang ini.”
     Jun Maher melihat satu persatu foto hitam putih itu. Gambar lain dari Abusono sewaktu masih muda dan satu foto saat berdiri di depan sidang Mahmilub di Bandung. Meskipun belum jelas benar baginya, tapi ia tahu wajah dingin dalam foto itu. Dan ia begitu saja berkata,
“Sam?”
     “Ya.”
     “Maksudnya?”
     “Dia sudah ditemukan.”
     “Sudah ditemukan?”
     “Di sebuah kota bernama Banjarnegara.”
     “Orang ini?”
     “Ya, Sam, Kepala Biro Khusus Sentral Partai Komunis Indonesia tahun 1965.” Umar Yusuf dengan lancar berkata. “Orang yang sampai detik ini tidak ada yang tahu keberadaannya sejak tanggal 30 sepetember 1986.”
“Bukankah tanggal itu dia dieksekusi di salah satu pulau di Kepualauan Seribu?”
“Ya. Tapi saat terjadi pergantian kekuasaan tahun 1998, sumber intelijen mengatakan Sam masih hidup.”  
     Jun Maher masih tidak percaya melihat foto Abusono tua, yang di foto beberapa hari sebelumnya oleh agen yang sudah berada di lapangan.
“Ini hanya kebetulan mirip, Pak.”
     “Memang butuh kepastian untuk meyakinkan bahwa lelaki tua ini adalah Sam. Tapi tim kita di laboratorium sudah meyakinkan bahwa foto terbaru itu adalah foto Sam.”
     “Siapa sumber kita?”
     “Teman lama yang telah pensiun.”
     Jun Maher tertawa. 
     “Kau tidak percaya?”
     “Tentu saja tidak,” Jawab Jun Maher mantap. “Sam itu hanya Tuhan yang tahu berada dimana sekarang setelah eksekusi yang kita tidak pernah tahu dilakukan atau tidak.”
     “Untuk itu kau harus turun sendiri meyakinkan berita penemuan ini,” kata Umar Yusuf yakin. Ia sudah mengalami banyak bahaya bersama Jun Maher dan sudah berkali-kali mempercayakan nyawa kepadanya. Jika Umar Yusuf punya anak asuh, Jun Maher-lah anak asuhnya. Tapi sedekat apa hubungannya dengan Jun Maher, Umar Yusur tak bisa sepenuhnya mengenal lelaki itu. Seperti semua agen yang baik, Jun Maher tidak membagi hidupnya dengan orang lain, hanya memperlihatkan apa yang diperlukan pada saat dibutuhkan. Persis seperti Umar Yusuf.
     “Jadi Bapak percaya orang ini sudah ditemukan?”
     “Demi Tuhan, Jun, ini penemuan paling menakjubkan setelah orang bisa mendarat di bulan,” kata Umar Yusuf berapi-api. “Kau tahu, ini juga berita pertama setelah empatpuluh tahun lebih kita tidak pernah bisa mengendus keberadaannya. Lagipula sangat sedikit yang tahu wajah orang ini sebenarnya. “
     “Menurut saya ini omong kosong.”
     “Setiap informasi sekecil apapun, sangat berharga buat kita. Apalagi untuk orang yang paling dicari keberadannya seperti Sam.”
     “Kalau pun benar, ini akan menjadi bola api liar.”
     “Dan akan memancing keluar ikan yang besar.”
     “Tetap saja saya belum percaya,” kata Jun Maher lagi.
     “Untuk itu aku akan siapkan tim untuk kau pimpin ke Banjarnegara,” katanya tegas tanpa menghiraukan ketidakpercayaan Jun Maher. Ia mengambil telpon. “Kita bicara lagi setelah ini.”
     Jun Maher tidak bisa berkata lagi. Atasannya itu sudah berbicara di telpon. Artinya ia tidak bisa membantah atau mengemukakan pendapatnya. Makanya kemudian ia memilih keluar ruangan.  Tapi saat ia hendak keluar, atasannya itu memanggil lagi.
     “Jun, kita bicara sekarang, tapi diluar.”
     Karir Jun Maher dimulai di Departemen Luar Negeri sebagai wakil Kepala Intelijen urusan Dalam Negeri. Dengan umur empatpuluh dua tahun, sebenarnya ia terlalu muda untuk menempati posisi strategis sebagai salah seorang ahli intelijen yang diperhitungkan di Dinas Intelijen Khusus, sebuah instansi baru yang sangat dirahasiakan keberadannya. Penampilannya selalu rapi dan bersih, dengan potongan rambut pendek agar bentuk wajahnya terlihat jelas. Agaknya ia orang yang mempunyai cukup waktu untuk bersolek. Tapi satu-satunya alasan ia melakukan hal itu karena belum beristri. Kebutuhan hidupnya telah tercukupi dengan sangat layak. Sebuah rumah bagus di salah satu kawasan real estat yang banyak di huni kalangan eksekutif muda, sebuah mobil jip warna hitam, dan setiap ada waktu libur ia menonton film di Planet Hollywood yang dilanjutkan dengan nongkrong di Hard Rock Cafe. Hampir semua kenikmatan bisa didapatnya dengan mudah dan ia kelihatan menikmati sekali statusnya sebagai bujangan. 
Gelar sarjana ia peroleh dari Institut Teknologi Bandung, gelar master di Universitas Indonesia, mendapatkan pelatihan dari BIN, pelatihan Kopassus,  Pelatihan pasukan khusus polisi, pelatihan bahasa dan elektronik canggih. Ia merasa bangga karena dari beberapa teman kantornya, hampir semua lulusan luar negeri. Ia bukan jenis orang yang ngotot mempertentangkan sekolah luar negeri dan dalam negeri, sepanjang apa yang dilakukannya tidak dipandang dengan perbedaan. Seperti Umar Yusuf atasannya yang sedang berjalan di sampingnya.
Umar Yusuf, purnawirawan Angkatan Laut berpangkat terakhir Letnan Jenderal Marinir, pernah memegang jabatan strategis pada masa setelah pemberontakan Partai Komunis Indonesia tahun 1965. Dengan karir cemerlang pada masanya, ia menjadi tokoh yang banyak dibicarakan dan mempunyai pengaruh cukup besar di kalangan purnawirawan, saat dominasi Angkatan Darat sangat besar pada waktu itu.
Dibalik sifatnya yang tanpa tedeng aling-aling, ia adalah seorang pemberani. Sebagai seorang anak nelayan, ia telah menikmati kehidupan yang berat di masa-masa kecilnya di Labuhan, Banten, karena penjajahan Jepang. Ia sebenarnya bisa menikmati pendidikan yang layak karena ayahnya adalah salah satu saudagar kapal. Tapi ketika ia berusia duabelas tahun, ia melihat kakak tertuanya yang suka melaut melawan serdadu Jepang tanpa memikirkan dirinya sendiri di pantai. Semenjak saat itu, ia tahu apa yang diinginkannya: menjadi pejuang dan bergabung dengan tentara yang melawan serdadu Jepang di laut. Pada usia tujuh belas tahun, ia telah pergi jauh dari tanah kelahirannya dan berjuang di Jakarta. Dari salah satu komandannya, ia disarankan bersekolah di Semarang. Ia kemudian pulang menemui ayahnya dan meminta uang untuk masuk Sekolah Tinggi Pelayaran. Dari sanalah ia akhirnya berhasil mewujudkan impiannya untuk menjadi anggota  Korps Marinir.
Dalam perjalanan karirnya sebagai serdadu, ia banyak terlibat dalam berbagai operasi. Salah satunya adalah operasi pembebasan Irian Barat dan penumpasan pemberontakan PRRI dan PERMESTA, sampai kemudian karena prestasinya, ia dikirim ke Amerika untuk mengikuti pendidikan Advance Course For Officer of Marines Corps School. Setelah pulang, ia segera menduduki jabatan-jabatan yang menurutnya bagus tapi tidak menguntungkan untuk karir militernya. Sejak saat itu, ia merasa karirnya telah selesai, tapi sebagai prajurit ia tetap harus melaksanakan kewajibannya sebaik yang bisa dilakukannya. Ia termasuk orang yang beruntung karena di didik dengan latar belakang agama yang kuat, lingkungan baik yang selalu membuatnya harus jujur dan menjunjung kebenaran.
Setelah rezim Orde Lama berakhir dan digantikan rezim Orde Baru, ia berharap segala sesuatunya akan lebih baik. Tetapi harapannya tidak terpenuhi, ia melihat banyak sekali kejadian yang bertentangan dengan hati nuraninya, akibat dari kekuasaan yang dijalankan dengan kekerasan. Jabatannya tidak mampu ia gunakan untuk merubah keadaan menjadi lebih damai buat orang banyak. Setelah ia pensiun, ia memilih tidak melibatkan diri dalam dunia politik.
Tapi saat Presiden Abdurahman Wahid berkuasa, ia diangkat menjadi Kepala Dinas Intelijen Khusus. Sebuah lembaga yang dibentuk untuk menangani kasus-kasus khusus yang sulit terpecahkan oleh dinas keamanan lainnya, terutama intelijen negara.  Secara teknis, DIK berada di bawah Departemen Pertahanan, tapi Presiden menginginkan DIK menjadi lembaga intelijen yang mandiri dan terpisah dari urusan birokrasi dan langsung berada di bawah kekuasaannya. DIK diberi kewenangan untuk mengakses semua informasi dari Departemen manapun untuk kepentingan penyelidikan. Untuk menghindari kepentingan yang saling berbenturan, juga menghindari ketidaksenangan lembaga keamanan lain, DIK dirahasiakan keberadaannya. Tidak pernah disebutkan dan tidak akan pernah diakui keberadaannya, seandainya suatu saat ada pihak yang ingin membongkarnya.
Umar Yusuf nyaris tidak percaya ketika ditunjuk untuk memimpin DIK. Rupanya perjalanan karirnya dilihat serius oleh Presiden saat itu. Saat pertamakali dipangil ke Istana oleh Presiden saat ditawari jabatan itu, Presiden berkata, “Saya butuh orang-orang yang tidak terikat dengan sejarah masa lalu yang penuh kepalsuan. Saya ingin sejarah negeri ini diluruskan.”
“Maaf Bapak Presiden, kenapa Bapak mendirikan DIK?”
“Allen Dulles, pendiri CIA, pernah mengatakan, negara pasti kuat jika memiliki intelijen yang kuat. Pak Umar juga pasti lebih tahu dari saya bahwa Orde Baru kuat karena intelijennya juga kuat.”
“Tapi sudah ada BIN.”
“DIK beda. DIK mempunyai tugas khusus, yaitu meluruskan yang bengkok-bengkok supaya tidak terjadi sejarah yang bengkok di kemudian hari.”        
     “Bapak Presiden yakin saya orang yang tepat dengan jabatan ini?”
     “Tunjukkan bahwa Pak Umar Yusuf bekerja untuk kepentingan negara, bukan untuk saya. ”
     Setelah diberi waktu satu hari, Umar Yusuf menerima jabatan itu. 
(bersambung)