Monday, February 28, 2011

Tema Penyakit dalam Film, Fakta atau Hiperbolik?


Kisah kepedihan, perjuangan, bahkan kematian dalam melawan penyakit menjadi salah satu tema yang banyak diangkat ke layar lebar. Sebut saja Tom Hanks dalam film Philadelphia yang melawan HIV/AIDS, Jack Nicholson's yang menderita obsessive-compulsive dalam As Good as It Gets, atau cerita tentang obesitas dalam Super Size Me. Akan tetapi, meski cerita tersebut berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya, bukan berarti film tersebut akurat, dari sisi medis. Itu sebabnya berkaitan dengan pemberian piala Oscar, kami sajikan uraian dari pakar kesehatan mengenai film-film yang bercerita tentang penyakit.

Diabetes tipe 1

Judul film: Steel Magnolias (1989) Film ini bercerita mengenai penderita diabetes tipe 1 yang diperankan Julia Roberts, yang hamil di luar rencana. Meski tim dokter menyarankan untuk mengakhiri kehamilannya, ia kekeuh mempertahankan bayinya dan harus membayarnya dengan nyawa karena ginjalnya gagal berfungsi.

Dari sisi medis, film ini dinilai "sangat, sangat jauh dari kenyataan," kata Richard Hellman, MD, ahli endokrin. "Banyak wanita yang menderita diabetes jadi takut untuk hamil setelah menyaksikan film ini karena mereka takut mati. Kenyataannya, meski perlu pengawasan ketat dari dokter, tapi penderita diabetes tetap boleh hamil dan melahirkan.

Serangan jantung

Judul film: Something's Gotta Give (2003) Seorang pria paruh baya yang punya selusin pacar, Harry Saborn (Jack Nicholson) diceritakan terkena serangan jantung saat sedang melakukan foreplay dengan pacarnya yang berusia 20-an. Di rumah sakit, dokter (Keanu Reeves) memberikan ia obat IV nitroglycerin. Si dokter lalu mengatakan bahwa obat tersebut akan berakibat fatal jika pasien sedang mengonsumsi viagra.

"Ada sedikit kebenaran dalam cerita tersebut. Kebanyakan kasus serangan jantung terjadi karena aktivitas fisik yang berat, termasuk hubungan seks," kata Matthew Sorrentino, ahli kardiologis dari University of Chicago Medical Center.

Gangguan tidur

Judul film: Insomnia (2002) Al Pacino berperan sebagai seorang detektif yang datang ke Alaska untuk menyelidiki kasus pembunuhan. Perasaan bersalah yang menderanya dan cuaca yang aneh, matahari bersinar terang di tengah malam, menghasilkan insomnia parah. "Cara Pacino menggambarkan penderitaan seorang penderita insomnia berat hampir mendekati akurat," kata David M.Rapoport, direktur program gangguan tidur dari NYU School of Medicine. Kombinasi antara tekanan di tempat kerja dengan lingkungan yang bisa mengganggu tidur disebutkan memang menyebabkan gejala-gejala seperti yang dialami Al Pacino.

Kanker

Judul film: Terms of Endearment Pada tahun 1983 film ini membawa pulang lima Piala Oscar, termasuk untuk kategori film terbaik, aktris terbaik dan aktor pendukung terbaik. Film yang menguras air mata ini berkisah tentang hubungan ibu dan anak perempuannya yang menderita kanker. Film ini dinilai mendekati kenyataan, terutama ketika menggambarkan pentingnya manajemen rasa sakit untuk pasien kanker di stadium akhir.

Diabetes

Judul film: Chocolat (2000) Di sebuah perkampungan di Perancis, hadir sebuah toko kecil yang menjual cokelat yang memiliki rasa ajaib. Hal yang menggiurkan namun berbahaya bagi penderita diabetes karena Judi Dench yang memerankan diabetesi meninggal setelah mengonsumsi terlalu banyak cokelat.

Menurut dr.Hellman, film ini memberi pesan bagi para diabetesi untuk tidak sembarangan mengonsumsi makanan seperti halnya orang sehat. "Tapi dampaknya sebenarnya berbeda dari kenyataan. Menderita diabetes bukan berarti Anda harus jadi pertapa yang pantang semua hal. Yang penting adalah menjaga asupan makanan agar gula darah terkendali," katanya.

Kelebihan berat badan

Judul film: Super Size Me (2004) Bila adegan penambahan berat badan di dalam film ini tampak begitu nyata, itu karena memang demikianlah faktanya. Menggunakan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan, pembuat film dokumenter Morgan Spurlock mencoba mengetahui apa yang terjadi jika seseorang makan di restoran cepat saji tiga kali sehari selama sebulan penuh. Perubahan fisik yang dialaminya sangat dramatis. Asupan kalori, karbohidrat dan lemak jenuh telah menaikkan kadar kolesterol dari 160 menjadi 230, dan berat badannya naik 11 kg dalam kurun waktu sebulan. Ia juga menderita gangguan liver dan gangguan mood.


Sumber :  KOMPAS

SAM (5)


BAB 5

PANGKALAN udara Wirasaba adalah sebuah pangkalan kecil. Terletak di Kabupaten Purbalingga, persis berbatasan dengan Banjarnegara di sebelah barat. Tidak banyak aktifitas di pangkalan udara itu karena jarang sekali di gunakan.  Pada sekitar tahun 1988 Presiden Soeharto menggunakan lapangan udara itu saat meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Air Mrica yang dinamakan Bendungan Panglima Besar Soedirman. Setelah itu, tidak banyak pendaratan yang menyita perhatian masyarakat.
     Mustajab sudah melakukan standar operasi yang biasa ia lakukan. Dua mobil telah ia sewa dan telah di siapkan di pangkalan udara Wirasaba sejak sore hari. Ia juga sudah menyiapkan kamar hotel di pusat kota. Ia sengaja menyewa hotel di pusat kota untuk menghindari kecurigaan dari siapapun. Di daerah Abusono bertempat tinggal adalah daerah perkampungan, tidak ada penginapan, apalagi sebuah hotel. 
     Entah kenapa ia merasa kali ini tegang. Mungkin karena ia melakukan operasi di tanah kelahirannya. Bukan soal takut akan ada orang yang mengenalinya, tapi ia harus melakukan pekerjaannya sekarang dengan sempurna. Ia sedang menghadapi orang yang paling dicari dalam sejarah negeri ini. Kalau boleh memilih, ia lebih suka melakukan operasi menghadapi teroris seperti kelompok Jamaah Islamiyah. Mustajab tersentak ketika radio-nya berbunyi.
     “Serayu masuk-Serayu masuk, disini  Ciliwung.” terdengar suara Jun Maher di seberang sana dengan suara setengah berteriak karena berebut dengan kebisingan suara helkopter.
     “Disini Serayu-disini Serayu,” jawab Mustajab.
     “Apakah fajar siap muncul di ufuk dalam sepuluh menit?
     “Serayu siap menjemput, Pak,” jawab Mustajab singkat dan langsung menutup radio-nya.    
     Mustajab sudah didalam mobil di pangkalan udara Wirasaba sejak enam jam terakhir dan ia tidak pernah keluar dari sana. Ia terus membuka saluran radio agar mengetahui lalu lintas pembicaraan dari manapun. Setiap percakapan didengarnya dan ia ia akan mengetahui informasi apapun yang disekitar wilayahnya meskipun ada yang menggunakan kata sandi. Sejak siang hari ia juga sudah melakukan pembersihan di wilayah di sekitar pangkalan udara Wirasaba. Ia harus memastikan wilayah pangkalan udara itu terbebas dari unsur sabotase.
     Sepuluh menit kemudian sebuah helicopter Dinas Intelijen Khusus mendarat. Lima menit kemudian terbang kembali dan menghilang di kegelapan pagi yang menjelang. Lima lelaki berbadan besar dan masing-masing menggendong ransel menuju dua mobil yang sudah di parkir. Mustajab menatap Jun Maher dan memberi kode tertentu bahwa semuanya sudah disiapkannya. Tanpa bicara sepatah katapun, mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Mustajab membawa satu mobil yang dinaiki Parwata dan Warsito Abdul Khamid. Beny Reza membawa satu mobil lagi dengan Jun Maher dan Tigor Naipospos. Tidak sampai lima menit, kedua mobil itu menginggalkan pangkalan udara Wirasaba.
     Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Banjarnegara, Mustajab juga tidak membuka suara. Parwata langsung memejamkan matanya. Warsito Abdul Khamid menghitung jarak perjalanan yang ditempuhnya. Beny Reza membawa mobilnya sesantai mungkin dan merekam semua rambu lalu lintas didepannya. Jun Maher mempelajari jalur yang mereka lalui, menghitung setiap jalan simpang, jembatan dan belokan, serta menghafal setiap letak rumah, warung rokok, warung makan, pos polisi. Sementara Tigor Naipospos menikmati suasana.
     “Tempat sembunyi yang menyenangkan,” cetus Tigor Naipospos.
     Tak ada yang menimpali.
     Sunyi.
     Memasuki pusat kota Banjarnegara, Tigor Naipospos berseru kembali, “Aku hanya butuh limabelas menit sampai disini.”
     “Aku sanggup sepuluh menit dengan kecepatan seratus lima puluh kilometer perjam,” jawab Beny santai. 
     “Memangnya kita sedang mengikuti rally Paris Dakar,” kata Jun Maher menatap kedua orang itu tersenyum. Lalu turun dari mobil.
     Tanpa suara mereka juga langsung masuk ke dalam kamar hotel yang sudah disiapkan. Hanya Mustajab yang melakukan pembicaraan dengan pegawai hotel. Pegawai hotel mengantarkan sampai didepan kamar dan Mustajab memberikan uang tip supaya lekas pergi. Mustajab menyewakan tiga kamar. Seperti pengaturan masuk mobil, mereka masuk kamar hotel begitu saja. Jun Maher satu kamar dengan Mustajab. Lima menit kemudian, Beny Reza, Tigor Naipospos, Parwata dan Warsito Abdul Khamid menuju kamar Jun Maher tanpa menimbulkan suara langkah kaki.
     Mustajab sudah membentangkan kertas blue print lokasi rumah Abusono alias Sam. Catatan jarak yang ditempuh dan waktu yang dibutuhkan. Jun Maher sudah mempelajarinya begitu masuk kamar. Begitu semua agent berkumpul didepannya, ia segera melakukan tugasnya.
     “Target kita bertempat tinggal di sebuah desa bernama Purworejo Klampok. Kita sudah melewatinya tadi.” Jun Maher mulai sangat serius. “Daerah sekitar target tinggal adalah daerah terbuka. Jadi kita butuh base camp disekitar tempat tinggal target untuk memudahkan kita bergerak. Pak Parwata, jam duabelas siang sudah harus mendapatkan base camp berupa rumah kolonial di daerah sekitar target.”
     “Sebelum jam sebelas sudah saya dapatkan.” Parwata yakin sekali.
      “Warsito dan Tigor, lakukan pengintaian target dan sudah harus mendapatkan detail lingkungan tempat tinggal target.” Jun Maher lalu menoleh kepada Mustajab. “Selanjutnya, kita akan mendengarkan paparan Mustajab.”
     “Target kita tidak pernah keluar rumah. Tetangga pasif dan kondisi lingkungan aman diatas jam duapuluh satu. Dua hari lagi target pergi ke Purwokerto dan di jadwalkan pulang dengan bis jurusan Semarang jam duapuluh  dan sampai di pinggir jalan sekitar jam duapuluh satu lewat sepuluh menit Waktu Indonesia bagian Barat. Jarak pinggir jalan raya ke rumah target lima menit lebih lima detik.” Mustajab menjelaskan dengan lancar. “Saat kepulangan target, saat paling baik buat kita bergerak dan mengambilnya.”
     “Kita matangkan rencana hari ini. Target kita ambil seperti petunjuk Mustajab.” Jun Maher melihat ke semua anak buahnya.  “Ada pertanyaan?”
     “Bagaimana dengan keluarganya?” Tanya Warsito
     “Kita ambil target tanpa diketahui mereka.”
     “Mereka akan lapor polisi.” Beny Reza berpendapat.
     “Kalau benar itu Sam, tidak mungkin mereka berani lapor Polisi,” sahut Tigor Naipospos.
     “Semua kemungkinan itu kita singkirkan,” kata Jun Maher. “Kita fokuskan kepada pengambilan target. Ada pertanyaan lagi?”
     Tidak ada pertanyaan lagi.
     “Motor sudah siap?”  Jun Maher menoleh kepada Mustajab.
     “Sudah siap, Pak,” jawab Mustajab memberikan kunci motor.
     “Tigor dan Warsito, ini waktunya kalian jalan-jalan.” Jun Maher memberi perintah dan menyodorkan kunci motor kepada Tigor Naipospos.
     Tanpa menjawab kedua lelaki itu keluar ruangan tanpa menimbulkan keributan.
     “Pak Parwata, silahkan ambil kunci mobil Mustajab untuk mengunjungi tetangga.”
     Tanpa menjawab, Parwata menerima kunci mobil dari Mustajab dan keluar ruangan juga.
     “Kita lihat keadaan kota, apa yang bisa kita lakukan.” kata Jun Maher kepada Mustajab dan Beny Reza sambil keluar kamar.
Keadaan kamar kembali sepi.    
     (bersambung)

Tuesday, February 22, 2011

SAM (4)

BAB 4



WAJAH Abusono dalam foto close up itu sudah didepan Jun Maher yang duduk diam menatap wajah tuanya. Wajah yang berkeriput dan air muka tua yang menyimpan banyak beban rahasia. Sinar matanya menyisakan harapan ingin hidup lebih lama.
Benarkah laki-laki ini Sam?
Kenapa ia muncul?
     Jun Maher membangun karir intelijennya dengan mempertaruhkan dirinya sendiri. Diatas usia kepala empat, ia belum juga beristri. Bukan karena begitu banyak kasus yang harus dikerjakannya tapi ia ingin total. Barangkali teman-temannya bisa bekerja sambil mendengar rengekan anak dan istrinya, ia tidak bisa. Hidup di dunia intelijen adalah hidup di dunia yang gelap, penuh prasangka buruk dan  penuh dengan beban rahasia yang seringkali busuk. Sesuatu yang harus selalu di pegangannya adalah ”jangan percaya pada siapa pun”.
     Sam adalah sebuah sejarah gelap masa lalu. Selama lebih dari empat puluh tahun, Gerakan 30 September 1965 tetap menjadi misteri bagi banyak sejarawan, justru karena sumber-sumber primernya sangat tidak bisa diandalkan. Sejarawan yang menulis tentang peristiwa gelap itu masih saling berdebat sendiri dengan banyak teori. Diluar sejarawan, banyak ilmuwan, wartawan, penulis lepas, bahkan ahli filsafat menuliskan peristiwa itu dalam tulisan di surat kabar dan bentuk buku. Lebih dari duapuluh judul buku sudah Jun Maher baca dan semua berkesimpulan dengan teori lebih dari satu. Tidak ada yang pasti dan semuanya saling berdebat sengit mempertahankan keyakinan teorinya. 
     Barangkali semua teori yang beredar benar. Terlalu banyak yang bermain pada saat terjadinya peristiwa Gerakan 30 September. Negeri ini terlalu sayang hanya diurus oleh orang-orang lokal yang tidak tahu bagaimana mengurus negeri dengan benar. Indonesia adalah kue raksasa yang setiap orang ingin mencicipi kelezatan rasanya sejak negeri ini belum menemukan namanya sendiri. Bahkan remah-remahnya banyak yang menginginkannya.
Suatu tim cerdas-cermat yang tangguh barangkali mampu menyingkap tabir gelap Gerakan 30 September tanpa dibebani pesan sponsor manapun. Karena menulis sejarah adalah urusan para professional, bukan urusan amatir. Di zaman apapun selalu bisa ditemukan hal-hal baik, lumayan, biasa, buruk ataupun biadab. Dan selalu ada pihak yang menarik keuntungan, berpesta di atas penderitaan orang. Di setiap penggalan sejarah selalu ada pengkhianat, pahlawan, oportunis dan penonton. Dalam setiap zaman berbagai sifat itu ada dalam semua sisi yang bertengkar. Sejarah tidak kenal ampun dan catatan sejarah tidak mungkin dihapus oleh siapapun dan oleh apapun.
     Jun Maher tidak peduli dengan teori sejarah manapun. Sekarang ia hanya menginginkan Sam. Orang itu sudah terlalu lama bersembunyi. Lelaki itu harus bicara, batinnya dengan berapi-api. Ia bukan untuk hendak membuat teori sendiri tapi untuk sebuah nilai yang barangkali masih berguna untuk bangsanya. Tiba-tiba Jun Maher merasa menjadi seseorang yang sok idealis, tapi ia sedang bekerja di tempat yang mempunyai tanggung jawab meluruskan sesuatu yang bengkok.  
     Telponnya berdering dan dengan cara seperti biasa, ia mengangkatnya, “Ya…”
     “Aku tunggu sekarang di kantor,” terdengar suara Umar Yusuf di seberang sana.
     “Baik, Pak.”
     Empat puluh menit kemudian, Jun Maher sudah disebuah ruangan khusus di kantornya. Ada enam orang laki-laki lain termasuk Umar Yusuf. Ia tahu mereka semua adalah agent seperti dirinya. Tidak satu orangpun yang dikenalnya.
     “Bapak-bapak, kenalkan Jun Maher, yang akan memimpin tim ini,” kata Umar Yusuf memperkenalkan. “Jun, yang duduk di sudut itu adalah Beny Reza, ahli navigasi.”
     Jun Maher mengangguk tanpa senyum kepada lelaki berumur tigapuluha lima tahun berkulit gelap itu. Badannya gempal dan raut mukanya persis orang Ambon. Beny Reza seperti sudah tahu pertanyaan di kepala Jun Maher saat menatapnya tajam.
     “Ayah saya Jawa dan Ibu saya Padang, tapi kakek asli Maluku,” Beny Reza berkata dengan nada tinggi. “Saya kira itu yang anda pikirkan.”
     Jun Maher terpaksa tersenyum.       
     “Itu Tigor Naipospos,” tunjuk Umar Yusuf ke arah lelaki Batak berbadan besar dengan wajah keras dan mata yang liar. 
     “Nama macam apa itu Jun Maher?” Tanya Tigor Naipospos tiba-tiba.
     “Yang jelas bukan nama orang Batak,” jawab Jun Maher.
     “Yang duduk pendiam itu Pak Parwata. Kebutuhan lapangan macam apa, dia sanggup menyediakannya dengan sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari broker rumah di Jakarta kalau kita membutuhkan base camp.”
     “Apa keahlianmu?” Tanya Jun Maher kepada Tigor Naipospos.
     “Apa saja yang kau minta,” jawabnya enteng. “Bahkan tengah malam kau butuh pentil pesawat, aku bisa bawakan sebelum matahari muncul.”
     Umar Yusuf tertawa terpingkal-pingkal.
     Seorang lelaki seumuran dirinya berdiri dan menyodorkan tangan minta bersalaman dengan Jun Maher sambil berkata, “Saya Warsito Abdul Khamid, lahir di Selo, Purwodadi, Jawa Tengah.”
     “Tempat asal Ki Ageng Selo?”
     “Beliau di namakan Ki Selo bukan karena lahir di Selo tapi bertempat tinggal di Selo sampai meninggalnya. Saya mengidolakan beliau yang lebih suka bertani daripada menerima tawaran Sultan Demak menjadi Panglima Perang. Bayangkan, jabatan sepenting itu ditolak. ”
     “Bah, seperti sedang belajar pelajaran sejarah saja,” sela Tigor Naipospos.
     “Kita berkumpul disini juga karena ada sejarah yang gelap,” Beny Reza berkata sengit.
     “Seperti muka kau itu.”
     Beny Reza malah tertawa.
     Umar Yusuf meraih remote dan sesaat kemudian muncul gambar wajah Abusono di layar. Kemudian dia berkata lantang, “Ini adalah Abusono. Tapi kita meyakini dia adalah Sam, kepala Biro Khusus Partai Komunis Indonesia yang menghilang setelah peristiwa Gerakan 30 September…”
     Semua menyimak dengan serius, tapi Tigor Naipospos menyela dengan cepat, “Sam Kamaruzzaman?”
     “Kita hanya menyebutnya Sam.”
     “Kenapa hanya Sam?” Beny Reza juga bertanya. “Kenapa tidak Samsul atau Samsir. Yang jelas tidak hanya Sam.” 
     “Karena hanya Sam.” Umar Yusuf lalu membcakan kertas yang dibawanya. “Sam alias Abusono lahir di Tuban, Jawa Timur. Tahun 1957 dia menjadi pembantu pribadi Dipa Nusantara Aidit dan tahun 1960 dia ditetapkan sebagai anggota Departemen Organisasi PKI. Empat tahun kemudian dia memperkenalkan bentuk pengoraganiasian yang berasal dari ABRI. Lahirlah kemudian yang disebut Biro Khusus Sentral.”
     Semua mendengarkan dengan serius.
     “Sam ibarat hantu yang menyusup kemana saja dia mau. Sehingga diyakini bahwa dia adalah agen ganda untuk PKI, CIA, MI6, KGB dan ABRI.”
     “Saya kira dia adalah spionase nomer satu di dunia.” Tigor Naipospos berkata dengan serius. “Bahkan saya yakin, Zulkifli Lubis yang dikatakan sebagai bapak intelijen kita saja sampai kalah.”
     “Sam ditangkap tanggal 9 Maret 1967 dan di adili di Mahmakah Militer Luar Biasa di Bandung setahun kemudian. Sam di vonis mati, tapi eksekusinya diragukan. Karena informasi yang diyakini, Sam dilepaskan dan berganti identitas. Meskipun pernah ada yang meyakini dia hidup di Perancis dan Belanda, tapi  kenyataan sekarang kita mendapatkan Sam berada di Banjarnegara, sebuah kota Kabupaten di wilayah Jawa Tengah.“
     Semua masih mendengarkan. 
“Dalam waktu Sembilanpuluh enam jam kalian akan menjemput orang ini dan di bawa ke Jakarta. Operasi ini dinamakan operasi Serayu.”
     “Maaf Bapak Direktur,” Tigor Naipospos memotong lagi. “Siapa yang meyakini kalau orang ini Sam?”
     “Dia memang diyakini Sam.”
     “Tidak mungkin selama ini tidak ada ada agent lapangan disana yang mengetahuinya,” sela Parwata yang dari tadi diam.
     “Dia dikenali oleh teman lama kita yang telah pensiun.” Umar Yusuf menoleh ke Tigor Naispospos. “Kenapa Tigor, kau takut?”
     “Tentu saja. Kalau benar orang ini Sam, CIA pasti juga menginginkannya,” kata Tigor sengit. “Mungkin KGB, MI6 juga akan turun.”
     “Saya tidak yakin CIA akan tertarik.” Kata Parwata. “Kasus ini sudah basi buat mereka dan kalaupun ada akibat yang akan ditimbulkan oleh munculnya Sam, mereka tidak bakal ambil pusing.”
     “Apa yang tidak diurusi CIA di dunia ini.”
     “Saya kira tidak perlu jadi paranoid.” Beny Reza berpendapat.
     “Kita taruhan saja kalau begitu,” tantang Tigor Naipospos.
     “Ini tugas negara Bung, bukan main lotere,” kata Warsito Abdul Khamid.
     “Sama saja bagiku. Negeri kita selama ini juga sedang dijadikan lotere oleh negara-negara yang merasa kaya dan kuat di seberang sana itu,” jawab Tigor sewot.  
     “Cukup, bapak-bapak,” Umar Yusuf berkata lagi, dengan nada yang sama. “Pukul duapuluhtiga nanti malam, kalian berangkat dari Halim.”
     “Memangnya Banjarnegara itu mempunyai lapangan udara?” Tanya Tigor lagi dengan nada mengejek.
     “Ada pangkalan udara bernama Wirasaba, tigapuluh kilometer barat kota Banjarnegara dan dua kilometer dari lokasi target,” jawab Jun Maher.
     “Kenapa tidak mendarat di Tunggul Wulung Cilacap, Pak?” Beny Reza menyela, “Saya kira itu jauh tidak menyita perhatian.”
     “Terlalu jauh dari lokasi target. Lagipula sebelum fajar, kalian sudah sampai. Semoga Tuhan melindungi kita semua. Selamat siang.” Umar Yusuf segera keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.
     Jun Maher berdiri dan berkata setelah melihat jam tangannya, “Kita masih punya waktu tujuh jam untuk persiapan. Beny Reza, kau sudah boleh ke Halim mempersiapkan diri.”
     “Baik, Bos.”
     Lalu mereka bubar.
 (bersambung)