Wednesday, March 9, 2011

Tidak Ada Hollywood, Masih Ada Pocongwood


Dengan beredarnya surat Dirjen Pajak tanggal 10 Januari 2011 membuat MPAA mengancam tidak akan memasukan film produksi Hollywood ke Indonesia. MPAA mengancam yang demikian bisa jadi aturan itu akan menjadi beban keuangan mereka atau mengurangi keuntungan yang diperoleh selama ini.

Bila ancaman itu benar-benar dilakukan, bisa jadi tidak akan ada lagi film-film asing yang diputar di bioskop-bioskop di Indonesia. Tentu saja hal ini selain mematikan bioskop yang ada, juga membuat usaha mall dan kantin yang menjadi usaha penyangga bioskop juga akan mengalami kerugian.

Selama ini dari jam ke jam pertunjukan bioskop-bioskop itu didominasi oleh film-film impor. Lihat saja dari perbandingan film nasional dan film impor di tahun 2009, film nasional 78 judul sementara film impor 204 judul. Pada tahun 2010, film nasional 77 judul, sangat jauh angkanya dengan film impor sebanyak 192 judul.

Tidak hadirnya film-film asing ini sebenarnya bisa menjadi peluang bagi produsen film Indonesia untuk mengisi kekosongan itu. Peluang itu semakin lebar ketika Menteri Pariwisata dan Budaya Jero Wacik mengatakan sesuai dengan UU No 33/2009 bahwa bioskop harus memutar film nasional dengan persentase sebesar 60%.

Menjadi pertanyaan sejauh mana produsen film Indonesia bisa memenuhi selera para konsumen film di Indonesia? Ketika masyarakat semakin cerdas tentu film yang diinginkan semakin bermutu. Memang ada beberapa produser dan sutradara di Indonesia yang mampu memenuhi selera konsumen film Indonesia. Para produser dan sutradara itu mampu membuat film-film yang mampu menarik hingga jutaan masyarakat untuk datang ke bioskop dan melihat film-film dalam negeri. Film-film itu seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan beberapa film lainnya.

Namun persentase produser dan sutradara pembuat film bermutu itu tidak banyak. Justru saat ini yang banyak dari produser dan sutradara film di Indonesia adalah mereka yang membuat film 'nggak karuan.' Akibatnya selain menodai film bermutu, juga mendapat penolakan dari masyarakat.

Sekelompok produser dan sutradara pembuat film nggak karuan itu memanfaatkan kepentingan sesaat dan hanya ingin meraih keuntungan semata. Untuk mencapai hal tersebut mereka sudi mendatangkan bintang-bintang film porno dari Jepang dan Amerika Serikat untuk bermain film di Indonesia. Akibatnya film itu hanya menampilkan kemolekan tubuh pemain tanpa ada muatan yang berarti dalam alur ceritanya.

Pertama kali bintang porno yang bermain di film produksi Indonesia adalah Miyabi atau Maria Ozawa. Kemudian disusul oleh Leah Yuzuki, Tera Patrick, dan Rin Sakuragi. Mereka secara leluasa bebas shooting di Jakarta dan sekitarnya untuk pembuatan sebuah film.

Adanya film yang tidak bermutu dan nggak karuan ini mengapa Kementerian Pariwisata dan Budaya tidak melakukan seleksi atau bertindak tegas? Tidak tegasnya pemerintah itulah membuat produksi film dengan melibatkan bintang porno akan terus mengalir. Dan akibatnya akan semakin memperpuruk film dalam negeri semakin ke dalam. Kalau kita belajar pada pengalaman masa lalu, pada tahun 1980-an, bangkrutnya film dalam negeri, selain maraknya budaya televisi juga maraknya film-film yang tidak berkualitas. Hal inilah yang menyebabkan runtuhnya produksi film Indonesia ketika itu.

Dalam sebuah kesempatan, Garin Nugroho menilai film-film Indonesia saat ini terlalu meremehkan penonton dengan dibuat dan dikemas seadanya sehingga membuat penonton bosan. Akibat dari itu membuat perfilman Indonesia lesu, sebab proses pembuatannya kebanyakan dilalui secara instan.

Produksi film nasional yang nggak karuan itu selain membuat masyarakat enggan menonton film dalam negeri, juga ditentang oleh masyarakat sendiri. Misalnya ketika film Miyabi yang pertama beredar, di sebuah situs, diberitakan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Malang menolak pemutaran film Menculik Miyabi. NU mengajak semua elemen masyarakat di Malang Raya untuk menolak pemutaran film tersebut di bioskop-bioskop di Malang. Alasannya film itu secara tidak langsung akan mempengaruhi generasi muda.

Tidak hanya Film Miyabi yang ditolak, Film Arwah Goyang Kerawang yang dibintangi oleh Juliar Perez dan Dewi Persik, juga mengalami hal yang sama, yakni ditentang masyarakat. Film itu oleh masyarakat Karawang, Jawa Barat, diprotes sebab film itu menghina warga Karawang dan hanya akan menimbulkan citra jelek Kabupaten Karawang. Dulu Aa Gym juga pernah memprotes film dengan judul Buruan Cium Gue.

Produksi film dalam negeri tidak hanya didominasi dengan film-film yang hanya menonjolkan paha dan dada, namun juga menayangkan film horor yang di luar logis yang ada. Ketika kehabisan judul dan bahan cerita, mereka membuat judul yang aneh-aneh, seperti Pocong Ngesot. Menjadi pertanyaan sejak kapan pocong jalannya ngesot?

Tak hanya Pocong Ngesot yang terasa lucu judulnya, ada beberapa film horor Indonesia yang judulnya tidak logis sehingga membuat kita tertawa lucu dan mengejek, seperti Pocong VS Kuntilanak, Hantu Binal Jembatan Semanggi, Darah Janda Kalong Wewe Nafsu Pocong, Hantu Jamu Gendong, Suster Keramas, Hantu Puncak Datang Bulan. Banyaknya film-film yang peran utamanya pocong, kuntilanak, dan setan lainnya itu layak kalau produsen film di Indonesia disebut Pocongwood.

Untuk menciptakan film bermutu dan melahirkan sutradara bermutu di Indonesia memang tidak mudah. Selain mereka direcoki sutradara dan produser yang nggak karuan, diantara pihak-pihak yang mengawasi dan memantau film-film di Indonesia pun suka cekcok. Lihat saja adanya perselisihan Komite FFI (Festival Film Indonesia) terkait keanggotaan dewan juri FFI 2010. Dari imbas tersebut siapa sesungguhnya yang berhak menyandang pemenang menjadi kabur, dewan juri yang satu memenangkan memilih Alangkah Lucunya Negeri Ini dan 3 hati 2 Dunia 1 Cinta menjadi primadona. Sementara dewan juri yang lain memenangkan Sang Pencerah.

Perselisihan itu tentu akan mengganggu kenyamanan pembuat film bermutu, sebab di antara mereka bisa saling mencibir dan memuji diri mereka sendiri. Mereka mencibir film yang dimenangkan dewan juri yang satunya dan memuji film yang dibuatnya sebagai film yang paling berhak menjadi film terbaik.

Dengan kemungkinan tak adanya film Hollywood masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia tidak ada pilihan lagi untuk menonton film yang bermutu, sehingga dengan terpaksa atau tidak harus menonton film dalam negeri yang kebanyakan berbau porno dan mistik.
*) Ardi Winangun adalah pengurus Presidium Nasional Masika ICMI, tinggal di Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur.
detikNews, Rabu, 09/03/2011

Friday, March 4, 2011

Fakta Tentang Piala Oscar


Penganugerahan Piala Oscar atau Academy Awards pertama digelar di Blossom Room Hollywood Roosevekt Hotel pada 16 Mei 1929. Pemberian penghargaan ini menjadi awal kebangkitan film di Hollywood. Inilah fakta-fakta mengenai Piala Oscar.

Awal Penghargaan 1929

Artis dan Aktor Terbaik kala itu disandang Janet Gaynor dan Emil Janning. Gaynor berperan dalam film "Sunrise" dan "Seventh Heaven". Dua film yang dibuat 1927 dan "Street Angel" pada 1928. Janning bermain dalam film "The Last Command" dan "The Way of All Flesh."

Film produksi The Warner Bros. "The Jazz Singer" mendapat penghargaan khusus sebagai "pioneering outstanding talking picture, which has revolutionized the industry."

GONE WITH THE WIND Penguasa 1939

-- 1939 menjadi tahun penuh kegembiraan dalam sejara film America dengan kemunculan film klasik "The Wizard of Oz," "Stagecoach" "Mr. Smith Goes to Washington," "Ninotchka," "Wuthering Heights" dan "Goodbye Mr. Chips."

-- Film berdurasi empat jam arahan Victor Fleming "Gone with the Wind," menjadi penyabet penghargaan terbanyak, sekaligus film terpanjang pada waktu itu. Gone With the Wind merupakan film berwarna pertama yang memenangkan best picture. Film ini masuk dalam 13 nominasi dan memenangkan delapan penghargaan (dan dua pujian khusus) --. Penghargaan ini menempatkan film tersebut sebagai pemegang rekor penghargaan Oscar sampai tahun 1957 kala "Gigi" (1957) memecahkan rekornya dengan sembilan penghargaan Oscar.

-- Ini merupakan tahun pertrama pemeran yang berada di puncak merupakan artis asal Britania. Kala itu pendatang baru Vivien Leigh menang atas Scarlett O'Hara dalam "Gone with the Wind," dan Robert Donat meraih penghargaan daam "Goodbye, Mr. Chips."

Penerima Penghargaan Terbanyak

-- Pada 1959 film epik "Ben Hur" memecahkan rekor Academy Award dengan 11 Oscar yang baru disamai setelah empat dekade oleh Titanic pada 1997 dan "The Lord of the Rings: The Return of the King" tahun 2003.


-- Artis Amerika Serikat Meryl Streep memegang rekor nominasi terbanyak yakni 16, termasuk film terakhirnya pada 2009 "Julie & Julia". Dia meraih penghargaan dua kali. Katharine Hepburn mendapat 12 nominasi tetapi meraih empat pernghargaan. Ingrid Bergman meraih tiga Oscar dari tujuh nominasi.

-- Jack Nicholson menjadi aktor pemegang nominasi terbanyak dengan 12 nominasi dan meraih tiga penghargaan. Walter Brennan juga menang tiga penghargaan dari empat nominasi yang ia raih.

Oscar 2010

Pada tahun lalu Aktor terbaik jatuh pada Jeff Bridges dalam "Crazy Heart" dan Sandra Bullock dalam film "The Blind Side."

Kathryn Bigelow meraih director terbaik dalam film "The Hurt Locker," yang juga meraih penghargaan kategori gambar terbaik. Bigelow menjadi pengarah wanita pertama yang masuk Academy Award.

The Hurt Locker" meraih empat penghargaan. Avatar, the 3D arahan mantan suami Bigelow James Cameron meraih tiga penghargaan dalam kategori teknis.

Reuters | www.filmsite.org | www.Oscars.org |

Monday, February 28, 2011

BARET HITAM (2)



BAB DUA
    
Sesaat dipandangnya lelaki tua berumur limapuluh tahun itu dengan ketidakpercayaan. Ia sama sekali tidak mengharapkan kehadiran lelaki yang sangat dihormatinya itu saat ia tidak sedang senang. Terutama setelah adanya berita-berita tentang Timor Timur. Tidurnya selalu terganggu jadwalnya dan menaikkan tekanan darahnya.
     “Kau kelihatan gemuk, Tarik.” Suara Wenang Pati bergetar, lalu memeluknya.
“Apa kabar, Jenderal.” 
Halaman rumah itu lalu sepi, seperti semula ketika belum ada siapa-siapa. Tidak ada suara apapun kecuali desisan angin gunung.  Tarik menjadi canggung dan seolah itu halaman rumah seseorang yang tidak dikenalnya. Sejenak ia mengira ada seseorang memanggil, tapi kemudian ia sadar bahwa suara itu adalah degup jantungnya sendiri.
     “Susah sekali mencarimu.”
     Masih suka becanda seperti dulu, pikirnya. Mencari seseorang yang diinginkannya adalah semudah membalik telapak tangan, walaupun orang itu sembunyi dalam lobang semut sekalipun. Keberadaannya di desa terpencil ini ia yakin sudah diketahui bekas atasannya itu dengan baik. Dimana ia tinggal dan apa yang dikerjakannya, bahkan kebiasaannya pergi diketahui dengan sangat jelas. Apa jadwal kesehariannya dan lebih dari itu, apa yang dimakannya tiap hari telah dicatat dengan baik.
     Kegilaan seperti itulah yang sangat disukainya. Ia menyebutnya gila karena nyaris mustahil jenis pekerjaan itu, kalau bukan malaikat yang melakukannya. Tapi itulah dunia intelijen militer. Rumit, menegangkan tapi menyenangkan. Tidak seperti dunia bisnis yang hanya mengandalkan intuisi tajam dan selebihnya bisa apasaja, termasuk membeli orang dengan uanganya.
     “Ada misi yang harus kamu selesaikan di Timor Timur.”
     "Jenderal adalah orang pertama di bumi ini yang saya tunggu kedatangannya hari ini. Tapi tidak termasuk yang terakhir itu."
     "Itulah maksud kedatanganku kemari."  
     “Saya tidak punya karir lagi, Pak.”
     “Tidak bagiku. Dalam tiga jam terakhir kau sudah harus terbang bersamaku ke Jakarta. Berkemaslah.”
     “Terlalu mendadak, saya tidak bisa memutuskan sekarang."
     "Sayang sekali kau tidak punya waktu lagi."
     Tarik diam saja.
     Wenang Pati melihat bekas anak buahnya dengan sangat serius. “Kamu berubah.”
     “Semua hal berubah. Saya juga harus berubah.”
     “Tapi kau jadi dingin.”
     “Desa ini di kaki gunung, mungkin itu yang membuat saya begitu.”
     “Kau terlalu berharga disini.”
     “Tapi saya dihargai sebagai manusia disini.”
     “Begini,” Wenang Pati berdiri, berusaha menghindari kepedihan hati bekas anak buahnya itu. “Lima jam sebelum interfet mendarat di Timor Timur, wakil panglima darurat militer, Kolonel Alfonso, hilang dalam patroli.”
     “Cepat sekali anak Timor Timur itu naik pangkat.”
     “Dugaan kita, dia diculik kelompok radikal Fretilin, Brigade Negra. Lokasinya sudah kita pastikan di Viqueque, sarang Falintil.”
     Tarik mendengus, terdiam agak lama. Pandangan matanya redup.
     “Kamu pernah mengobrak-abrik sarang Falintil dan membuatnya kocar-kacir. Operasi yang pernah kamu pimpin, adalah operasi yang paling berhasil yang pernah dilakukan disana.”
     Tarik telah begitu kecewa dengan vonis yang dijatuhkan markas besar buatnya. Keinginan terakhirnya di dunia sudah pupus. Tidak ada lagi kebanggaan yang dimilikinya. Bahkan istrinya yang ia harapkan mengerti, tidak juga memberinya perlindungan. Karir militernya selesai, istrinya minta bercerai. Sebuah kejadian yang baginya merupakan malapetaka terburuk dalam hidupnya.
     Apa yang telah dilakukannya bersama beberapa anak buahnya hanya melaksanakan tugas. Situasi pemerintahan mulai tidak stabil setelah diterpa badai krisis ekonomi tahun 1997. Dari pertama ia menolak tugas itu karena bukan wewenang pasukan khusus. Tapi adanya perintah  yang tidak bisa dibantah oleh siapapun, termasuk Wenang Pati, membuatnya tidak bisa tidak melakukan operasi itu. Ia dan beberapa anak buahnya dengan mudah membekuk Gembong gerakan bawah tanah yang dicurigai akan melakukan operasi klandestein, melakukan gerakan bawah tanah untuk melawan pemerintah. Beberapa hari kemudian koran ramai memberitakan hilangnya gembong itu yang oleh media dikatakan sebagai pembela demokrasi yang sedang memperjuangkan demokrasi.
Mulanya ia yakin tidak bakal bisa dilacak peristiwa sebenarnya oleh LSM dan lembaga hukum yang mengatasnamakan hak asasi manusia. Tapi rupanya jaman sedang bergerak, semuanya minta bergerak. Mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran. Dengan mudah kasus itu terlacak dan masuk pengadilan. Gembong itu nyanyi-nyanyi tentang prosedur penangkapannya. Gembong itu tahu bukan polisi yang menangkapnya. Dan penyelidikan yang kemudian berlangsung, menyeret anak buah Tarik sebagai tersangka. Ia sendiri bisa lolos karena Wenang Pati tidak mau melepasnya.
     Tarik tidak bisa melupakannya, walaupun ia telah berada jauh dari Jakarta. 
     “Saya tahu kamu sangat kecewa, tapi berilah kesempatan kedua untuk karirmu.”
     “Saya sudah tidak punya karir, Pak.”
     Wenang Pati terdiam. Ia tahu bekas anak buahnya itu keras kepala. Satu-satunya sifat yang masih ada pada bekas anak buahnya itu. Sekali lagi dipandanginya wajah Tarik. Wajah yang tampan tapi mengesankan rasa duka oleh sebuah luka yang dalam, terus menerus serius dengan kedua matanya yang menikam. Dia memang telah berubah, pikir Wenang Pati. 
        (bersambung)