Friday, December 7, 2012

MAS KEREBET 6

BAB 6


SENOPATI Ringkin menatap Karebet tidak suka. Tapi ia tidak bisa melarang Ki Buyut Jayadi untuk mengundang Karebet duduk dan menikmati hidangan di pendopo kelurahan. Bahkan sambutan untuk Karebet masih lebih meriah dibanding saat menyambut dirinya pertama kali datang. Sebagai seorang yang berpengalaman dan mempunyai kedudukan tinggi, ia tidak perlu mempelihatkan rasa ketidaksukaan kepada Karebet. Ia tahu harus bersikap bagaimana.
     Yang paling menonjol dalam pertemuan itu, bukan Ki Buyut Jayadi yang begitu terharu bertemu dengan Karebet. Tapi Dadung Awuk. Pemuda itu terus saja mengikuti Karebet. Dan ia sekarang duduk persis di sebelah kirinya, seolah ia ingin menjadi wakil Karebet. Sewaktu ia maju untuk melawan Karebet, ia hanya tidak ingin kehilangan muka di depan teman-temannya. Meskipun hasilnya juga sia-sia, tapi ia tetap bangga bisa melawan Jaka Tingkir yang terkenal.
     Para pedagang keliling memberikan kabar kalau Jaka Tingkir adalah seorang pemuda pemberani yang rela mempertaruhkan nyawa dengan bertarung melawan seekor buaya yang sangat besar di sungai pedukuhan Karangsaga. Berita yang dibawa para pedagang keliling itu menyebar ke pedukuhan-pedukuhan, dimana para pedagang itu singgah. Begitu juga di pedukuhan Pingit. Mereka mendengar kehebatan aksi Jaka Tingkir itu. Dan sekarang orang terkenal itu sampai di pedukuhan Pingit.
     “Maafkan sikap para pemuda pedukuhan yang berlebihan, anakmas,” kata Ki Buyut Jayadi dengan gemetar. “Pedukuhan ini memang sedang tidak aman. Setiap ada orang asing datang selalu di curigai sebagai anak buah Syekh Arya Bajageni yang mengaku sebagi jelmaan Syekh Siti Jenar.”
     “Syekh Siti Jenar? Saya pernah mendengar kabar kalau Syekh Siti Jenar sudah meninggal?”
     “Ini muridnya yang bernama Arya Bajageni.”
“Dia mengambil murid dari penduduk pedukuhan Pingit ini dan pedukuhan lain, lalu mendirikan pesantren di bukit Siaul sana,” Jagabaya meneruskan. “Anehnya meski mereka mendirikan pesantren, tapi tidak suka dengan guru ngaji yang ada di pedukuhan ini atau yang datang kemari. Dan tadi pagi ditemukan mayat ketujuh dari guru ngaji di pedukuhan ini.”
     “Saya minta maaaf kalau saya lancang masuk  pedukuhan ini.” Karebet berusaha memahami situasi. “Saya hanya lapar dan mau pulang.”
     “Ternyata orang hebat juga bisa lapar ya,” sahut Dadung Awuk meledek.
     “Kanjeng Senopati Ringkin diutus Kanjeng Sultan Demak kemari untuk menumpas Syekh Arya Bajageni itu.” Ki Buyut Jayadi sengaja memperjelas posisi Senopati Ringkin karena melihat tidak menyukai kehadiran Karebet. Tapi ia yakin Karebet tidak merasa lebih hebat meskipun namanya dikenal luas.
     “Maafkan saya, kanjeng Senopati,” kata Karebet menggangguk hormat. Ia memang tidak tahu kalau yang dihadapinya adalah seorang Senopati. Baginya seorang Senopati adalah jabatan tinggi yang mempunyai kekuasaan luas terhadap prajurit. Bahkan bisa menentukan hidup matinya prajurit. Sayang ia tidak mempunyai cita-cita menjadi seorang senopati. Ia hanya ingin menjadi orang yang berguna buat orang lain. Ibunya selalu mengajarkan agar bisa menjadi penolong bagi sesama dengan cara yang di kuasainya.
     Ibunya adalah seorang saudagar yang bagi kebanyakan orang di desanya dianggap berhasil, bahkan dianggap sebagai orang paling kaya. Tapi bukan karena dikatakan sebagai orang paling kaya, Ibunya menjadi seorang dermawan, suka membantu kesulitan warga desa. Melainkan karena Ibunya memang tidak bisa melihat orang lain dalam kesusahan. Ibunya tidak butuh disebut dermawan karena ia suka memberi bantuan. Ia tahu persis, Ibunya adalah seorang yang welas asih tanpa mengharapkan imbalan apapun.
     Pada setiap pengembaraannya, ia selalu teringat ibunya. Ia sebenarnya tidak tega sering meninggalkannya. Tapi ia harus menuruti kata hatinya. Saat ia menyendiri, ia mendapatkan kedaimaian hati yang luar biasa. Sedangkan kalau selalu berada di rumah, ia gelisah.  
     “Raden melamun.” Ki Buyut Jayadi sudah berdiri disamping Karebet. Sengaja di suruhnya Karebet makan di ruangan belakang karena ia tidak bisa lagi menunggu untuk berbicara dengan Karebet berdua saja. Ia tidak bebas berbicara karena keberadaan Senopati Ringkin sebagai pejabat Istana Demak Bintoro disitu.
“Kenapa sedikit sekali makannya, Raden?”
     “Saya tidak biasa makan banyak, Ki Buyut.”
     “Saya ingin anakmas tidak memanggil saya Ki Buyut,” mata Ki Buyut berkaca lagi.
     “Saya juga tidak mau dipanggil Raden.”
“Raden harus dipanggil Raden. Tapi saya ingin dipanggil Paman, sebagaimana almarhum ayahanda raden memanggil saya.”
     Karebet kaget. “Apa maksud, Ki Buyut?”
     “Saya tidak menyalahkan Raden yang tidak mengingat kalau saya bekas abdi Kanjeng romo, Ki Ageng Kebo Kenongo di keraton Pengging.”
     Karebet semakin kaget.
     “Beruntung saya ingat janji sebelum berpisah dengan Nyai Ageng Tingkir, untuk tidak pernah membuka rahasia anakmas sebenarnya. Makanya tadi di depan Kanjeng Senopati Ringkin, saya berusaha menahan diri untuk tidak memanggil dengan sebutan Raden Mas Karebet.”
     Ia memang sudah tahu soal pergantian namanya tapi ia belum tahu rahasia apa dibalik itu. Dari dulu ia tidak pernah ingin tahu sebab kenapa namanya diganti. Tapi kali ini ia menjadi tertarik.
     “Rahasia apa, Ki Buyut?”
     “Waktu itu, dengan disaksikan Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, Nyai Ageng Tingkir membawa Anakmas ke desa Tingkir dengan diam-diam, supaya tidak diketahui orang-orang Demak Bintoro kalau Ki Ageng Kebo Kenongo mempunyai keturunan yang masih hidup.” Ki Buyut Jayadi bercerita dengan lancar sekali. Matanya menerawang jauh. “Untuk itulah dengan kesepakatan mereka bertiga, nama Raden segera diganti menjadi Jaka Tingkir untuk menghilangkan jejak.”
     Karebet diam sesaat. 
     “Baik, Paman.” Karebet melihat iba di wajah lelaki tua itu. Ia hampir tidak ingat lagi masa kecilnya di Pengging, tempat kelahirannya. Bahkan ia tidak pernah tahu soal Ki Buyut Jayadi sewaktu menjadi pembantu ayahnya. Ia hanya ingat besar di desa Tingkir dengan Ibu seorang saudagar kaya. Jadi ia tidak bisa tahu seberapa baik hubungan ayahnya dan Ki Buyut Jayadi. Ia hanya melihat ketulusan wajah lelaki tua itu sejak melihatnya. Seolah terus menerus ingin mengasihaninya.
     Ia juga tidak pernah ingat betul apakah ia pernah tinggal di sebuah keraton yang bernama Pengging. Sedikit sekali ingatan masa kecilnya bisa ia ingat. Apa yang dikatakan Ki buyut Jayadi ia juga belum paham semuanya. Ia tidak pernah banyak bertanya kepada Ibunya. Bukan ia tidak mau tapi ia lebih lebih menyukai kesenengannya mengembara dan bertapa.
     “Saya tahu Raden tidak mengenal saya dengan baik,” kata Ki Buyut Jayadi seolah mengerti keraguan Karebet. “Tapi saat Raden lahir, sayalah yang ikut menjaga diluar kamar Gusti Putri. Saya ikut menimang Raden. Sampai ….,” suara Ki Buyut Jayadi gemetar, matanya menerawang ke masa lalu.
“…sampai Anakmas harus di bawa Nyai Ageng Tingkir. Maaf Raden, bukan saya mau membuat Raden sedih, tapi saya seperti melihat Ki Ageng Kebo Kenongo di wajah Raden.”
     Karebet tidak bisa menahan bibit air matanya yang mulai muncul. Ia lelaki yang hampir tidak pernah bisa menangis. Ia diajarkan untuk menjadi lelaki yang tegar, tidak cengeng. Bahkan saat ia harus pergi untuk mengembara mencari tempat bertapa, ia tidak pernah menangis karena berpisah dengan Ibunya. Tapi melihat lelaki tua yang gemetar dan begitu mengharapkan dirinya, ia tidak bisa menahan dirinya. 
     “Kalau raden capek, biar saya panggil tukang pijit terbaik di pedukuhan ini. Sebelum raden melanjutkan perjalanan pulang.”
     “Terimakasih, Paman…”
     Keadaan menjadi hening.
     Sebenarnya ia ingin Ki Buyut Jayadi bercerita lagi supaya ia semakin mengerti akan masa lalunya. Supaya ia mengerti dengan jelas, seperti apakah masa kecilnya. Karena Ibunya tidak pernah sekalipun mengajaknya bicara masa kecilnya. Tapi keadaan di pedukuhan ini membuatnya harus melupakan itu. 
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi di pedukuhan ini, Paman? “ Karebet bertanya untuk mengalihkan kesedihannya.
Ki Buyut Jayadi menggeleng. “Sebaiknya Raden pulang ke Tingkir saja.”
“Saya tidak akan ikut campur, Paman.”
“Di pedukuhan ini sedang terjadi penindasan. Tapi mudah-mudahan dengan kedatangan Kanjeng Senopti Ringkin, masalah ini akan selesai.” Ki Buyut Jayadi menatap Karebet lekat. “Seandainya Kanjeng Senopati Ringkin gagal menumpas pesantren sesat itu, keadaan di sini akan hancur….”
“Jadi Syekh Arya Bajageni itu orang jahat?”
“Jahat dan juga menyesatkan Aqidah islam warga di pedukuhan ini.”
Karebet belum mengerti benar soal agama islam secara mendalam. Sejak kecil ia memang di ajari sholat dan mengaji oleh seorang ustad yang khusus di datangkan oleh Ibunya. Tapi ia tidak pernah betah dan menurut setiap kali diajari. Berganti-ganti guru ngaji didatangkan karena dikira guru ngajinya yang kuang pintar atau ia yang tidak berkenan.  Tidak lelah Ibunya menasehatinya tapi tetap saja ia hanya ingin mengembara dan bertapa.
“Setidaknya itulah yang dikatakan Kanjeng Sunan Kalijaga,” tambah Ki buyut Jayadi melanjutkan.
Sunan Kalijaga lagi. Orang itu benar-benar sudah ada dimana-mana.
“Kanjeng Sunan Kalijaga pernah kemari, Paman?”
“Beliau sengaja datang untuk bertemu dengan Syekh Arya Bajageni itu. Kanjeng Sunan Kalijaga membujuk supaya Syekh Arya Bajageni membubarkan pesantrennya itu.”
“Apa yang diajarkan di pesantren itu, Paman?”
“Jihad.”
“Apa itu Jihad?”
           “Jihad itu perang melawan sesama manusia yang tidak sepaham dengan mereka. Itu yang diajarkan kepada murid-murid di pesantren itu.”
“Jadi mereka membunuh guru-guru ngaji di pedukuhan ini?”
“Ada juga penduduk biasa. Padahal agama islam tidak seperti itu. Jihad juga bukan begitu artinya.”
Penjelasan Ki buyut Jayadi begitu lancar dan fasih. Padahal usianya terbilang uzur. Tapi jelas terlihat keputusasaan di wajah rentanya. Nafasnya berulang kali dihelanya dengan berat. Seperti berusaha mengeluarkan beban yang menghimpit dadanya.
“Alhamdulillah kanjeng Senopati Ringkin sudah ada di pedukuhan ini,” ujar Ki buyut Jayadi seperti tahu kekhawatiran Karebet.
Tapi Ki Buyut Jayadi menjadi lebih tenang sekarang. Kehadiran Karebet menghibur dirinya saat dilanda ketegangan menghadapi musuh yang tidak bisa dilihatnya. Ia tidak pernah berhadapan langsung dengan musuhnya. Ia seperti menghadapi hantu. Makanya kemudian ia mengusulkan meminta bantuan ke Demak.
     Sewaktu pertamakali datang, Senopati Ringkin disambut seperti seorang Raja. Mereka mempunyai harapan kegelapan yang sedang melanda desa Pingit, bisa segera diatasi. Mereka ingin hidup aman dan tenang. Tapi setelah Karebet datang, Ki Buyut menjadi lebih tenang. Ia percaya anak bekas majikannya itu mempunyai daya luniwih. Apalagi setelah beredar kabar Karebet berhasil mengalahkan seekor buaya raksasa. Ki Kebo Kenongo ayah Karebet adalah seorang Adipati yang dikenal karena ketinggian ilmu pemerintahan dan kanuragannya. Ayahnya masih keturunan Prabu Brawijaya terakhir, penguasa Majapahit sebelum runtuh. Diam-diam Ki Buyut Jayadi merasa, masalah yang melanda desa Pingit bisa selesai justru di tangan Karebet.
    
 (bersambung)

Sunday, December 2, 2012

MAS KAREBET 5

BAB 5

 
Padukuhan Pingit tenggelam dalam kegelapan yang sunyi. Rembulan nyaris tidak menampakan diri. Seorang lelaki yang baru turun dari mushola di sergap ketakutan. Di depannya berdiri sosok yang membuatnya harus berlari dan sambil berteriak minta tolong. Tapi mushola itu jauh dari rumah penduduk. Ia terus berlari dengan ketakutan. Makhluk itu mungkin sejenis siluman. Tapi ia tidak yakin juga karena ia tidak pernah tahu wujud siluman sebenarnya. Ia tidak lagi sempat berpikir banyak karena kemudian kakinya tersandung. Saat ia berbalik ke belakang, sebuah sosok besar bulat mirip cacing, yang baru pernah dilihatnya seumur hidupnya menerkamnya. Di malam sunyi itu, hanya terdengar lolongan laki-laki itu meregang nyawa.
Besok paginya di pendopo pedukuhan Pingit, sudah berkumpul semua tetua pedukuhan dan seorang tamu agung dari kerajaan Demak bernama Senopati Ringkin. Pemimpin pedukuhan Pingit itu adalah seorang lelaki tua yang biasa dipanggil Ki Buyut Jayadi. Saat berlangsung pertemuan, datang Jagabaya dan seorang pemuda berbadan gempal bernama Dadung Awuk.
“Lukanya persis dengan yang sudah-sudah, Ki Buyut,” Jagabaya melaporkan. “Ini korban ke tujuh.”
“Apakah korbannya masih penduduk pedukuhan Pingit ini?” Senopati Ringkin bertanya.
“Betul, kanjeng Senopati. Namanya Amrozi, guru ngaji,” sahut Dadung Awuk sambil menyambar sadak yang ada di didepannya. Sadak adalah kinang yang sudah digulung dengan tali. “Kenapa tidak langsung kanjeng senopati datangi saja sarang Syekh Arya Bajageni yang mengaku penjelmaan Syekh Siti Jenar. Katanya sudah mendapat wewenang dari kanjeng Sultan Demak.”
“Jaga sopan santumu, Dadung Awuk!” Ki Buyut Jayadi membentak keras.
“Tidak apa, Ki Buyut,” Senopati Ringkin menyahut dan melihat Dadung Awuk. “Dadung Awuk, kau yakin yang melakukan pembunuhan itu Syekh Arya Bajageni yang mengaku sebagai penjelmaan Syekh Siti Jenar?”
“Dari luka dan matinya korban, semuanya sama. Tidak ada lagi selain dia , Kanjeng Senopati.”
“Kau tahu siapa Syekh Siti Jenar?”
“Memangnya dia orang terkenal?”
Ki Buyut dan beberapa orang tua menggelengkan kepala sebagai tanda kekesalan atas kebodohan Dadung Awuk. Bagi ki Buyut Jayadi dan orang-orang tua seusianya, nama Syekh Siti Jenar sangat dikenal. Sama terkenalnya dengan nama Sunan Kalijaga dan beberapa nama Wali Agung keraton Demak Bintoro. Sedangkan Dadung Awuk hanya seorang pemuda pedukuhan yang berbadan gempal, yang mempunyai kesukaan memakan sadak dan  nyaris tidak pernah pergi kemana-mana. Pengetahuannya terbatas dan dunianya sempit.
“Bukan hanya terkenal,” jawab Senopati Ringkin, “Syekh Siti Jenar yang asli adalah seorang wali.”
“Jadi yang ini palsu?”
“Pasti palsu karena yang asli sudah meninggal.”
Dadung Awuk melotot. “Buset. Bangkit dari kubur?”
“Artinya ini pasti orang lain dan hanya mengaku-aku sebagai jelmaan Syekh Siti Jenar.”
Saat itu masuklah seorang pemuda desa dengan tergesa. “Ki Buyut, ada seorang pemuda mencurigakan masuk desa!” teriaknya.
     “Kalian sudah tahan dia di pos jaga?” Jagabaya bertanya.
     “Pemuda ini melawan, Ki Jagabaya.”
     “Oh hebat betul. Biar ini urusan Dadung Awuk.” Dadung Awuk berdiri sok jago. “Ki Jagabaya, biar Dadung yang urus. Duduk saja tenang disini.”
Dadung Awuk pergi dengan membusungkan dadanya. Seolah ia orang yang paling bertanggun jawab akan keamanan pedukuhan. Ki buyut Jayadi dan tetua pedukuhan sudah paham tingkah laku Dadung Awuk itu. Tapi tidak dengan Senopati Ringkin.
“Siapa pemuda itu, Ki Buyut?”
     “Namanya Dadung Awuk. Dia itu punya angan-angan tinggi. Ingin menjadi prajurit Demak, kanjeng Senopati.”
     “Saya suka semangatnya….”
     Di pos jaga pedukuhan, beberapa pemuda pedukuhan akhirnya bertarung melawan Karebet yang tidak mau ditangkap dan dibawa ke pendopo pedukuhan. Karebet merasa ia hanya numpang lewat sambil cari warung makan karena perutnya belum juga diisi sejak pagi meninggalkan tepi hutan tempatnya menginap. Sejak meninggalkan pedukuhan Karangsaga, ia memilih jalan hutan karena tidak mau di ketahui penduduk penduduk karangsaga yang ia yakin akan mencari dan mengejarnya untuk di ajak ke menghadap lurahnya. Ia juga tidak memilih bermalam di keramaian supaya bisa lebih tenang tidur mengistirahatkan badannya yang capek luar biasa setelah bertarung melawan buaya sungai. Sejak meninggalkan hutan tempatnya tidur, pedukuhan pertama yang ia jumpai adalah pedukuhan Pingit.
     Para pemuda pedukuhan itu mendapatkan lawan yang tangguh. Karebet memperlihatkan kegesitannya yang luar biasa. Kecepatan gerakannya dan pukulannya. Para pemuda pedukuhan tidak ada yang berhasil menyentuhnya sekalipun. Bahkan sudah banyak yang menyerah dan mundur.  Saat itulah datang Dadung Awuk  yang langsung kaget melihat teman-temannya bergeletakan seperti habis dilempar angin puyuh.
     “Buset, kalian pada kenapa? Habis mabuk ya?” Dadung Awuk lalu melihat Karebet. “Sampeyan yang mengalahkan mereka ya?”
“Maaf, saya cuma numpang lewat disini.”
     Dadung Awuk nyengir dan cengengesan. “Sampeyan hebat. Belajar dimana ilmu silatnya?”
     “Kang Dadung, lawan dia kalau berani.” Seorang pemuda berteriak.
     “Diam. Kalau mau lawan orang pakai otak dong. Lihat baik-baik.” Dadung Awuk masih nyengir ke Karebet. “Maaf ya mereka, biasa darah muda. Ngomong-ngomong darimana mau kemana?”
     “Saya cuma mau pulang.”
     “Memangnya rumah sampeyan dimana?”
     “Tingkir.”
     “Ooo desa Tingkir…”
     “Kang Dadung, kenapa malah ngobrol. Ringkus dia,” teriak salah satu pemuda kesal.
     “Memangnya maling di ringkus,” Dadung Awuk balas teriak. “Sekali lagi maaf ya, mereka tidak tahu sopan santun.”
     Dadung Awuk jadi kagum melihat Karebet yang begitu tenang. Ia tahu teman-temannya adalah orang yang hampir tiap malam berlatih jurus-jurus silat. Bahkan ada beberapa diantaranya sudah memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi untuk ukuran di pedukuhan Pingit. Tapi menghadapi Karebet, mereka sepertinya tidak memiliki ilmu apapun. Dadung Awuk jelas jadi penasaran. Meskipun ia lebih banyak cengengesan, ia bisa bertindak tegas.
     “Tapi maaf lagi ya, aku harus tahu seberapa hebat sebenarnya kamu. Semua teman-temanku kau bikin kayak layangan. Tersinggung aku.”
     “Maju saja kalau kau berani.”
     Dadung Awuk naik juga darahnya. “Belum tahu Dadung Awuk. Jagoan dari Pingit. ” Lalu ia memperagakan jurus-jurus.
     Karebet masih melihat pemuda bertubuh gempal itu. Ia tahu pemuda itu tidak mau kehilangan muka didepan teman-temannya. Tapi ia kaget begitu Dadung Awuk menyerangnya. Tenaganya kuat sekali. Jurusnya aneh. Seruduk sana-sini persis kerbau. Karebet membiarkan Dadung Awuk untuk memperlihatkan kehebatannya. Bahkan sampai pemuda itu habis jurus-jurus yang dimilikinya. Dan sejauh itu tidak satupun pukulan yang mengenai Karebet.
     Dadung Awuk ngos-ngosan berdiri menatap Karebet. “Sampeyan berguru dimana sih?”
     “Hanya itu kemampuanmu?”
     “Jangan ngeledek. Aku belum makan tahu.”
     Karebet mengulum senyum. Tapi senyumnya lenyap ketika mendadak muncul melayang, seperti terbang Senopati Ringkin dan berdiri didepan Karebet.
     “Jangan sok jago, anak muda.”
     Begitu perkataannya berhenti, Senopati Ringkin langsung menyerang Karebet. Gerakannya cepat dan berisi. Pukulannya mengandung angin yang kuat untuk merobohkan lawannya. Karebet harus terus menghindar untuk mengetahui kemampuan lawannya. Ia tahu gerakan lelaki berbaju bagus itu bukan jurus yang biasa digunakan di dunia persilatan atau yang diajarkan di perguruan silat. Tata geraknya halus dan indah, seperti menari, tapi berisi. Ia menduga ilmu tata gerak itu adalah dari orang-orang yang belajar dibalik tembok istana kerajaan.
     Senopati Ringkin bukan tidak tahu Karebet sedang mengukur kemampuannya. Sebagai orang yang mempunyai derajat dan kedudukan tinggi, ia merasa bukan tandingan anak pedukuhan seperti anak muda didepannya itu. Ia ingin menunjukkan kelasnya sebagai  orang yang lebih tinggi dibanding anak pedukuhan biasa. Makanya ia mempercepat serangannya. Tidak perlu mengeluarkan ilmu kanuragan yang lebih tinggi lagi.
Tapi ia lagi-lagi kecewa.
     Karebet bisa mengimbangi gerakannya meskipun telah dipercepat. Bahkan Karebet mempercepat serangannya juga. Tahu-tahu kemudian Senopati Ringkin mundur, sepertinya kena pukulan Karebet. Muka Senopati Ringkin memerah dan menjadi marah. Ia akui Karebet kuat dan bisa mengimbangi ilmunya. Tapi ia adalah orang berpendidikan tinggi dan mempunyai kedudukan tinggi. Ia terhina kalau kalah. Ia langsung mencabut kerisnya.
     Tapi di ujung jalan muncul Ki Buyut Jayadi dan berteriak, “Tunggu , Kanjeng Senopati!”
     Semua orang menoleh ke arah datangnya Ki Buyut Jayadi yang di dampingi Jagayaba. Tapi sebelum Ki Buyut Jayadi benar-benar sampai di dekat keramaian itu, Senopati Ringkin sudah melanjutkan kemarahannya yang ditujukan kepada Ki Buyut.
     “Apa hak Ki Buyut melarang saya menghajar pengacau pedukuhan ini. Jangan-jangan pemuda ini anak buah Syekh Siti Jenar palsu itu.”
     “Ijinkan saya bertanya lebih dulu, Kanjeng Senopati,” Ki Buyut Jayadi nampak tenang, lalu menatap dalam ke arah Karebet. Ingatan tuanya kembali ke beberapa tahun sebelumnya. “Anakmas ini berasal darimana?”
     “Saya dari desa Tingkir.”
     “Apa anakmas ada hubungannya dengan Nyai Ageng Tingkir?”
     “Beliau Ibu saya.”
     “Ya Allah….” Ki Buyut Jayadi hampir berteriak dan semua orang menatap Ki Buyut dengan heran. “Anakmas yang bernama Jaka Tingkir?”
     “Betul, Ki Buyut.”
     “Jaka Tingkir?” Dadung Awuk berteriak.
     Semua orang dilanda kekagetan. Ki Buyut Jayadi hampir berteriak karena mengenal baik pemuda itu pada masa beberapa tahu yang lalu, saat ia belum berada di desa Pingit ini. Sementara Dadung Awuk berteriak dan orang-orang kaget karena nama Jaka Tingkir sedang terkenal, setelah tersebar kabar pemuda itu mengalahkan buaya sungai di desa Karangsaga sehari sebelumnya.
Dadung Awuk yang paling bersemangat dan menerobos ke depan.
“Kenapa tidak bilang dari tadi kalau sampeyan ini Jaka Tingkir?”
     Karebet menjadi bingung.
     “Sampeyan benar mengalahkan buaya raksasa di sungai Karangsaga?”
     Karebet jadi paham.
     “Maaf Kanjeng Senopati,” Ki Buyut Jayadi berkata dengan cepat. “Anakmas Jaka Tingkir ini saya kenal dengan baik.”
     Senopati Ringkin tidak bereaksi sedikitpun.
     “Jangan sok kenal, Ki Buyut.” Dadung Awuk tidak terima Ki Buyut mengaku-aku.
     “Silahkan anakmas ke pendopo.” Ki Buyut Jayadi memberi jalan kepada Karebet.
     Karebet berjalan lebih dulu karena semua mata menatapnya dengan terus menerus. Lama kelamaan ia merasa tidak nyaman. Tapi ternyata para pemuda pedukuhan itu ikut berjalan di belakang Ki Buyut Jayadi.
     “Lho kalian ini pada mau kemana?” Dadung Awuk menghardik. “Ini sudah urusan tingkat atas. Kalian tetap pada jaga disini.”
     Para pemuda itu langsung menyoraki Dadung Awuk.
     (bersambung)
    

Saturday, December 1, 2012

MAS KAREBET 4

 BAB 4



SUNGAI Karangsaga kelihatan seperti sungai pada umumnya. Tidak terlalu lebar tapi dalam. Warga pedukuhan harus membuat semacam jembatan dari bambu di pinggiran sungai untuk melakukan aktifitasnya. Sungai itu tenang dan tidak menjadi sesuatu yang menakutkan. Begitu juga bagi Karebet. Perjalanannya pulang masih jauh dan karena lelah, ia membasuh mukanya di sungai itu dan merendam kedua kakinya.
     Ia sudah lama termenung di pinggiran sungai itu. Sejak meninggalkan kaki gunung Andong di perbatasan pedukuhan Mangli, ia masih dihinggapi pertanyaan yang mendesak untuk segera di jawab. Ia tidak tahu sudah berapa lama berjalan. Ia bahkan tidak merasakan lapar. Ia hanya ingin cepat pulang sampai di rumah dan bertemu Ibunya. Surat yang diterimanya dari Sunan Kalijaga membuatnya semakin gelisah. Apalagi isi surat itu. Apakah benar begitu arti mimpinya. Bagaimana caranya Sunan Kalijaga mengetahui ia bermimpi apa. Bagaimana Sunan Kalijaga mengetahui ia akan bertanya soal arti mimpinya?
     Rasanya mau meledak isi kepalanya. Ia bisa membelah batu hanya dengan kepalan tangannya. Ia bisa melompati sungai didepannya ini meskipun jaraknya dua kali pohon kelapa panjangnya. Tapi untuk bisa mengerti dan memahami apa yang baru terjadi dengan dirinya, ia tidak bisa. Ia harus cepat pulang dan mengadukan semua itu kepada Ibunya.      
     “Hei, jangan main-main di pinggir sungai. Bahaya!”
     Terdengar bentakan keras dari arah belakang.
Karebet menoleh ke arah sumber suara. Di lihatnya seorang lelaki yang lebih tua lima tahun darinya dengan tombak panjang di tangannya berderi dengan sikap mau bertarung.
Karena Karebet belum juga beranjak, Tunggul berteriak sekali lagi dengan lebih galak. “Kamu mau mati di makan buaya?! Pergi dari situ!”
     Cepat sekali Karebet mengangkat kedua kakinya dan segera berdiri dan menjauh. Ternyata ia melihat banyak penduduk di belakang Tunggul. Rupanya akan ada suatu kejadian di sungai itu, dan berhubungan dengan buaya. Karebet lalu pergi menyelinap ke arah penduduk desa yang berkumpul di belakang Tunggul. Ia tidak mau terlibat dalam masalah yang tidak di mengertinya. Ia hanya ingin cepat pulang dan bertemu Ibunya. Tapi rasa penasarannya tetap saja membuatnya harus bertanya.
     “Ada kejadian apa, Pak?” Karebet bertanya kepada seorang lelaki setengah tua.
     “Buaya.”
     “Buaya?”
     “Sudah lima penduduk mati di makan buaya.” Laki-laki itu menoleh ke Karebet. “Kau bukan penduduk Karangsaga?”
     “Saya kebetulan lewat, mau pulang ke desa Tingkir.”
     “Kau tidak ingin ikut sayembara seperti pemuda itu?”
     “Sayembara?”
     “Siapa yang bisa membunuh buaya pemangsa itu, akan dikawinkan sama Roro Anteng, anak Ki Lurah Warno.”
     Seringkali dalam perjalanannya ke suatu tempat untuk bertapa, ia melalui  banyak sungai. Tidak pernah terjadi sesuatu. Tapi di pedukuhan Karangsaga ini ternyata menjadi lain. Ada buaya pemangsa dan ada sayembara dengan hadiah kawin. Kalaupun ia mengikuti sayembara itu, ia tidak pernah tahu wajah Roro Anteng. Dan melawan buaya? Ia pernah melihat buaya di sungai yang pernah dijumpainya. Sepertinya ganas sekali dan ia tidak pernah berpikir untuk membunuh buaya demi sebuah sayembara.
     Dari arah belakang penduduk berkerumun, muncul seorang lelaki menenteng seekor ayam yang masih hidup. Lalu diberikannya kepada Tunggul. Begitu ditangannya, Tunggul menggigit leher ayam itu sampai darah mengucur dari leher ayam. Dalam sekejab ayam itu dia lemparkan ke tengah sungai yang airnya tenang. Semua mata menatap tegang ke arah ayam yang sekarat diatas sungai. Air sungai menjadi merah tergenang darah ayam. Tidak lama airnya bergolak, lama kelamaan membesar sampai muncul kepala buaya yang sangat besar itu.
Tunggul langsung meloncat dengan tombak ditangan kananya ke tengah sungai. Gerakannya mirip orang terbang sehingga orang-orang yang melihatnya berdecak kagum.  Buat penduduk pedukuhan, itu sesuatu yang langka dan hampir tidak pernah mereka lihat. Mereka hanya terbiasa melihat prajurit Demak yang sering singgah di pedukuhan. Itu pun tidak pernah mereka melihat para prajurit itu bertarung atau memperlihatkan ilmu kanuragannya. Tapi melihat Tunggul adalah hiburan yang menakjubkan.
Tunggul langsung menghajar kepala buaya dengan tombaknya. Tapi kepala buaya sungai itu seperti batu. Tombak Tunggul tidak mampu menembus kulit buaya. Pemuda itu terlempar ke belakang karena benturan tombak dan kepala buaya yang keras. Saat masih mengatur gerakannya agar tidak kecebur ke air, buaya itu sudah balik menyerang Tunggul.
     Yang diharapkan Tunggul memang suatu perkelahian. Sebagai orang yang berasal dari lembah Serayu ia adalah orang yang mempunyai kehidupan yang keras. Sungai Serayu adalah sungai besar di kaki gunung Slamet. Daerah yang masih sangat perawan dan rawan. Kekuatan adalah hal paling utama yang harus di miliki supaya mampu menjadi orang yang di tindas. Tapi rupanya berkelahi di atas air sangat berbeda dengan di darat. Padahal Tunggul akrab dengan sungai Serayu yang jelas lebih bear dari sekadar sungai pedukuhan Karangsaga ini. Sudah banyak lawan tanding yang di kalahkannya. Sudah banyak musuh bertekuk lutut di bawah keperkasaannya. Apalagi dengan tombaknya yang tajam itu, ia menjadi lawan yang layak ditakuti. Tapi menghadapi buaya pemangsa dan besarnya lima kali lipat besar tubuhnya, membuat Tunggul tegang. Ia pikir buayanya tidak lebih besar dari tubuhnya.
     Untuk mundur, jelas tidak mungkin. Ia sudah terlanjur berjanji didepan Ki Lurah Warno dan didepan banyak penduduk. Harga dirinya jauh lebih dibelanya daripada ketakutannya menghadapi buaya sungai itu. Ia punya nama besar sebagai pendekar dan akan ia pertahankan meskipun ia merasa sedang melakukan bunuh diri menghadapi buaya itu.
     Karebet juga tidak menyangka buayanya begitu besar. Tapi perhatiannya lebih tertuju pada Tunggul yang sedang bertarung dengan buaya itu. Ia pernah bertarung, bahkan sering, meskipun ia bertarung untuk membantu orang lain. Sayangnya ia belum pernah bertarung dengan binatang, begitu juga melawan buaya. Apalagi buaya sebesar yang dilihatnya sekarang.
     Pada suatu kesempatan, tombak Tunggul berhasil melukai kulit buaya itu. Hanya kulit luar dan tidak bisa menembus ke dalam dagingnya. Tapi itu cukup membuat buaya itu semakin ganas menyerang Tunggul. Tidak lama buaya itu sudah berhasil membuat terluka bagian lengan kanan Tunggul. Darah membanjiri lengannya. Pemuda itu segera mengeluarkan ilmu kesaktiannya. Tubuhnya naik ke udara dan ia berteriak mengguntur sambil merentangkan kedua tangannya, menyerang ke arah buaya itu. Seperti serangan pertama dengan tombaknya, lagi-lagi pukulan itu seperti menghantam tembok tebal. Bahkan berbalik menghantam Tunggul. Pemuda itu jatuh ke dalam air dan buaya itu segera membuka mulutnya yang lebar dan bersiap memakannya.
     Pada saat yang sama, Karebet seperti didorong tubuhnya untuk melesat menuju tengah sungai. Karebet sadar sekali bahwa ia tidak mempunyai keberanian untuk melawan buaya sebesar itu. Di hitung dengan cara apapun, sulit mengalahkan buaya sungai itu. Ia hanya punya pengalaman bertarung melawan manusia. Tapi melihat Tunggul menjadi sasaran empuk buaya itu, ia tidak bisa terima. Pertamakali di hardik Tunggul, ia sempat menangkap sikap Tunggul yang angkuh. Untuk ukuran seorang pendekar tangguhpun, sikap itu pasti ada. Angkuh dan juga sikap sok jago diperlihatkan Tunggul karena ia sedang mempertahankan nama baiknya sebagai pendekar yang mengikuti sayembara.
     Karebet memutuskan untuk maju dan meluncur ke tengah sungai bukan untuk mempertahankan nama baik Tunggul, tapi nyawa lelaki yang tidak dikenalnya itu yang akan tercabut sia-sia oleh kebuasan seekor buaya sungai. Tetap saja gerakan Karebet jauh lebih lambat dari caplokan mulut buaya menghajar tengkorak kepala Tunggul. Karebet menggunakan kepalan tangannya untuk menghajar kepala buaya itu. Ia pikir pukulannya tidak berarti apa-apa untuk batok kepala buaya yang tebal itu. Tapi ternyata buaya itu menggelepar dan mulutnya terbuka lebar seperti menahan sakit yang luar biasa.
     Buaya itu benar-benar kesakitan.
     Ia memang mengerahkan seluruh tenaga di kepalan tangannya. Tapi ia tidak mendasarinya dengan tenaga dalam. Pikirannya hanya memukul dan menyelamatkan Tunggul. Ia sempat tidak yakin pukulan tangannya akan mampu membuat mulut buaya itu terbuka karena merasakan kesakitan. Dengan tombak dan pukulan jarak jauh Tunggul saja buaya itu tak bergeming. Ia yakin tombal Tunggul sebuah tombak yang ampuh dan ia yakin pukulan jarak jauh Tunggul sebuah ilmu pukulan yang hebat. Ia tahu lembah Serayu menyimpan segudang pendekar tangguh karena ia pernah mengembara ke wilayah barat di kaki gunung Slamet itu.       
     Buaya itu mengeluarkan suara lengkingan kesakitan.
Saat buaya itu membuka mulutnya itulah Karebet menarik tubuh Tunggul. Sebelum buaya itu menyerang kembali dengan kemarahan dua kali lipat, Karebet meluncur ke darat membawa tubuh Tunggul dengan gerakan yang sulit diikuti mata biasa. Ia mengerahkan kekuatan di kakinya supaya bisa berlari cepat. Ia ingin segera sampai di pinggiran sungai. 
Penduduk bengong karena tahu-tahu Karebet membopong Tunggul dan sudah berdiri didepan mereka. Para penduduk sedang tegang melihat pertarungan ditengah sungai dan melihat saat terakhir kematian Tunggul. Saat sadar Karebet didepan mereka membawa Tunggul yang terluka, mereka begitu kaget.
Gerakan Karebet seperti angin.
Mereka baru pernah melihatnya.
Saat masih belum percaya dengan kehebatan Karebet, mereka dikagetkan oleh sebagain penduduk yang mendadak berlarian menjauhi sungai dengan ketakutan. Karebet menoleh ke arah belakang. Hanya satu kedipan mata buaya itu sudah dibelakangnya dan menyerangnya. Karebet mengumpat dalam hati karena buaya itu begitu cepatnya mengejarnya ke darat. Nyaris tidak bisa dipercayainya.
Buaya itu berhenti, menatapnya dengan buas.
Penduduk sudah tunggang langgang bersembunyi.
Karebet masih membopong Tunggul yang bobot tubuhnya dua kali lipat bobot tubuhnya. Jelas ia akan kesulitan melawan buaya itu. Kalau ia geletakkan tubuh Tunggul, bisa jadi akan disantap buaya itu lagi. Tunggul pingsan karena luka dikepalanya sangat serius. Belum juga ia memutuskan, buaya itu sudah menyerangnya. Mau tidak mau Karebet harus melayani serangan buaya itu. Hanya saja gerakannya jadi lebih lambat karena terbebani Tunggul.
“Jauhkan buaya dari air!!” sebuah suara berteriak.
Entah siapa.
Mungkin penduduk.
Karebet menjadi sadar. Buaya adalah binatang air dan seperti ikan, untuk waktu yang cukup lama tidak menyentuh air, maka akan kehabisan tenaga dan akhirnya lemas dan mudah dikalahkan. Tapi perhitungan itu meleset. Buaya ini lain. Sepertinya tidak ada bedanya berada dalam air dan di darat. Serangannya tetap buas meskipun waktunya sudah cukup lama di darat. Bahkan Karebet yang mulai kehabisan tenaga sementara buaya itu semakin buas. Ia tidak bisa membiarkan pertarungan dengan buaya menguras tenaganya. Binatang bukan manusia yang punya akal. Naluri binatang hanya membunuh kalau berhadapan dengan lawannya. Jadi mau tidak mau Karebet harus mengambil keputusan.
Karebet mengikat tubuh Tunggul dengan selendang yang melilit di pingganya dan menggendongnya. Meskipun cukup berat tapi ia tidak bisa membiarkan tubuh Tunggul tergelatak dan disambar ekor buaya. Ia lalu menyalurkan semua tenaga ke dalam kepalan tangannya sambil membaca mantra yang dipelajarinya saat bertapa. Ia telah mempelajari pukulan Bajrageni, ilmu pukulan paling dasar yang pelajari para pendekar. Selama ini ia hanya mencobanya pada pohon asem atau mahoni.
Sesuai namanya, ilmu pukulan Bajrageni sifatnya membakar. Dalam arti mampu membakar seperti api, tapi juga membakar dari dalam. Ia tidak tahu apakah akan mampu menembus kekerasan batok kepala buaya sungai itu.
Begitu kepalan tangannya menghajar kepala buaya itu, akibatnya diluar dugaan. Buaya itu menggelepar kesakitan dan lari ke dalam air. Melihat musuhnya lari, Karebet tidak membiarkannya. Cepat sekali Tunggul di turunkannya dari gendongannya, ia memburu buaya ke tengah sungai dan segera menyergapnya dari belakang dan menghajarnya kembali dengan pukulan tangan kanannya bertubi-tubi. Buaya itu masih sempat melawan dan melemparkan Karebet, tapi pukulan Karebet yang terus menerus itu membuat buaya itu akhirnya menggelepar.
Buaya itu meregang nyawanya.
Tak berapa lama mengapung mati.
     Karebet masih menunggu dengan waspada takut buaya itu masih menyerangnya. Tapi beberapa lama, buaya itu tetap diam seperti onggokan kayu kering. Penduduk yang tadinya mengintip di balik pohon dan semak, perlahan maju melihat dan mendekat ke sungai. Mereka baru bereaksi saat Karebet menuju ke pinggir sungai sambil menarik bangkai buaya besar itu.
Penduduk bersorak sorai.
Mereke menyerbu Karebet.
Sebagian penduduk ke buaya, sebagian ke arah Karebet. Sebagian menggotong buaya ke darat, sebagian menggotong Karebet. Tapi Karebet meminta turun dan lebih memperhatikan Tunggul yang masih tergeletak tidak ada yang menolongnya.
     “Bawa saja buayanya ke kelurahan,” teriak Karebet ke beberapa penduduk. Mereka menurut saja dan mengarak bangkai buaya itu menjauhi sungai. Karebet menuju Tunggul. Pemuda itu masih pingsan. Kepalanya terluka, terutama di bagian leher. Luka itu diakibatkan taring buaya yang tajam. Menembus ke dalam daging. Karebet pernah terluka dalam banyak pertarungan dan ia bisa tahu seberat apa luka Tunggul.
     “Tolong bawa laki-laki ini,” Karebet meminta beberapa penduduk yang masih tertinggal. “Lukanya masih bisa disembuhkan.”
     “Tapi kisanak juga harus ikut ke kelurahan.” Seorang penduduk memberitahu. “Kisanak yang memenangkan sayembara ini.”
     “Kisanak akan dikawinkan sama Roro Anteng!” kata yang lain.
     “Saya akan membersihkan diri dulu…”
“Kisanak, namanya siapa?” Tanya lelaki lainnya.
Karebet kaget.
“Biar saya bilang dulu ke Ki Lurah Warno.”
“Jaka Tingkir…”
Lelaki itu bengong.
“Kenapa, Pak?”
“Ah tidak, namamu bagus.”
Ia tidak tahu bagus tidaknya karena ia ingin sampai di rumah secepatnya dan ia tidak suka di ganggu di jalan. Ia terus menuju ke sungai. Beberapa penduduk pergi lebih dulu sambil meneriakkan nama Jaka Tingkir. Tubuh Tunggul digotong ramai-ramai. Beberapa saat kemudian pinggiran sungai itu sepi. Setelah membersihkan diri, Karebet beranjak pergi. Menjauhi pedukuhan Karangsaga.
     Ia memang tidak mau ke pedukuhan. Ia tidak mau perjalanan pulangnya terhambat oleh suatu hal yang tidak sepenting urusannya. Ia hanya berniat menolong Tunggul. Segala akibat karena sayembara itu ia tidak peduli. Ia tidak ingin ikut sayembara itu dan terlebih lagi ia tidak mau dikawinkan dengan seorang gadis yang tidak pernah dilihatnya. Ia hanya ingin pulang dan bertemu ibunya.

(bersambung)