Sunday, December 16, 2012

MAS KAREBET 9

BAB 9




DI tengah jalan desa yang gelap, lima orang perampok sedang bertarung melawan Senopati Ringkin. Lima perampok itu semuanya bertopeng hitam. Tapi baju mereka bisa dikenali dengan mudah kalau mereka adalah murid pesantren Aryabajageni. Beberapa penduduk desa sudah berada di sekeliling jalan. Mereka terus berdatangan membawa obor dan senjata tajam ditangan. Jagabaya kelihatan sudah mengatur beberapa pemuda terlatih di sekitar arena pertarungan. Dadung Awuk datang dengan tergesa-gesa.
     “Apa yang mereka curi, Ki Jagabaya?” tanya Dadung Awuk.
     “Bahan makanan di lumbung padi.”
     “Lho, mereka memakai seragam merah-merah.”
     “Mereka memang murid pesantren Aryabajageni.”
     “Edan, ada murid pesantren di suruh jadi maling.”
     Senopati Ringkin mudah sekali mengalahkan kelima maling berseragam merah itu. Bukan tandingan Seorang senopati kerajaan. Saat ia hendak meringkus mereka, salah satu dari mereka melemparkan senjata rahasia ke arah Senopati Ringkin. Senjata rahasia itu meledak menimbulkan asap putih tebal. Tapi sebelum kelima maling itu melarikan diri, Senopati Ringkin bergerak cepat meraih salah satu tangan dari kelima orang itu. Secepat itu  dibantingnya lelaki berbaju merah itu dan diinjak dadanya.
     “Kanjeng Senopati,” teriak Jagabaya mencegah, “Sebaiknya orang ini dihadapkan kepada Ki Buyut.”
     “Aku ingin bertanya dulu!” Senopati Ringkin tidak peduli. “Hei, kau murid pesantren Aryabajageni?”
     Maling itu tidak menjawab.
     “Jawab atau dibakar hidup-hidup kamu.” Dadung Awuk mengancam.
     Maling itu tetap tidak menjawab.
     “Baiklah, aku tidak peduli lagi kau murid pesantren sesat itu atau bukan. Aku ingin kau bilang kepada Aryabajageni, aku Senopati Ringkin, besok siang akan datang ke pesantren kalian!” Senopati Ringkin mencabut kerisnya. “Karena kau telah mencuri, maka hukumannya tangan harus dipotong.”
     Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Tidak ada yang menduganya. Tahu-tahu tangan kanan maling itu putus sebatas bahu. Darah segar menyembur. Maling itu teriak melolong, lantas berlari kesetanan ke arah kegelapan. Semua mata penduduk masih melotot dengan kejadian yang bagi mereka sadis itu. Jagabaya yang tinggi besar tidak bisa juga menyembunyikan kengeriannya. Dadung Awuk seperti mau muntah.
     “Sinting,” bisik Dadung Awuk di telinga Jagabaya.
     Senopati Ringkin sudah berjalan santai meninggalkan tempat itu. Ia memang sengaja melakukannya. Sejak kedatangan Karebet, ia hampir dianggap sebagai orang kedua. Padahal saat ia datang pertama kali, ia disambut seperti seorang pahlawan. Pemuda itu sanggup merebut perhatian penduduk desa dengan aksinya melawan dirinya. Ia akui Karebet hebat, tapi ia tidak bisa membiarkan anak kampung itu merebut perhatian penduduk.
     Orang kampung segan dengan orang kalau sudah melihat bukti kehebatannya. Dan ia perlu mempertahankan kepopulerannya dimata penduduk. Maling itu menjadi sasaran empuk. Bukan hanya bukti ia hebat tetap juga ia orang yang tidak pernah main-main didepan musuh. Sementara Karebet tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
     Senopati Ringkin tertawa dalam hati.
Dadung Awuk langsung tidak menyukai Senopati Ringkin. Ia barangkali orang yang pertama kali kagum menyambutnya ketika datang. Ia bisa dekat dan ngobrol akrab. Tapi melihat kesadisannya yang baru saja ia lihat, kekagumamnya hilang. Baginya jabatan tinggi bukan berarti lantas bisa berbuat melampuai batas, meskipun kepada musuhnya. Apalagi kepada musuh yang sudah tidak berdaya.
Dadung Awuk sudah mengetok pintu kamar Karebet tapi terus saja menerobos masuk.  Ia tidak bisa menahan diri untuk segera mengatakan apa yang baru saja dilakukan Senopati Ringkin. Ia mencari Karebet diantara kerumunan penduduk dan ia menduga Karebet ketiduran. Tapi kamar itu kosong. Belum sempat ia teriak memanggil, dari jendela masuk Karebet. Enak saja Karebet masuk dan kembali menutup jendela.
     “Raden darimana?”
     “Kencing.”
     “Kenapa lewat jendela?”
     “Lebih cepat saja.”
     “Kan ada pintu?”
     “Kalau lewat pintu masih harus belok sana sini, keburu kencing di celana.” Karebet rebahan di atas dipan bambu. “Kenapa ada di kamarku? Mau tidur denganku?”
     “Bukan,” jawab Dadung Awuk buru-buru. “Saya hanya mau memberitahu, Senopati Ringkin baru saja memotong tangan maling itu.”
     “Terus?”
     “Raden benar tadi tidak menyusul ya?”
     “Tidak.”
     “Saya hanya kaget, ternyata seorang Senopati begitu kejam.”
     “Beliau kan mengemban tugas khusus. Apapun dilakukannya agar tugasnya berhasil.”
     “Termasuk memotong tangan? Meskipun orangnya sudah menyerah?”
     “Kalau perlu memotong lehernya.”
     “Ah, raden malah lebih gila.” Dadung memegang lehernya sendiri.
     “Masih mau tidur disini?”
     “Tidak, tidak mungkin. Saya masih sayang leher saya.” Dadung Awuk kabur keluar.
     Karebet tertawa. Ia sebenarnya kaget juga mendengar cara Senopati Ringkin menyelesaikan masalahnya. Soal kekerasan sudah sering ia melihatnya, bahkan sering terlibat didalamnya. Untuk ukuran dirinya ia bisa memahaminya. Tapi yang dilakukan Senopati Ringkin ditengah penduduk yang merupakan orang-orang desa yang tidak akrab dengan kekerasan, bisa menjadi hal yang mengerikan. Meskipun ia yakin Senopati Demak itu mempunyai alasan sendiri melakukan tindakan itu.
     Lawan yang sedang dihadapinya masih misterius.
Karebet sudah membuktikan sendiri. Sewaktu sebagian penduduk mengurusi maling itu, ia naik ke kaki bukit Siaul. Saat sampai di kaki bukit, ia terpaksa berhenti. Ia sudah merasakan kekuatan gaib yang mengelilingi bukit itu. Ia bisa saja memaksa naik ke pesantren itu. Tapi tiba-tiba ia disergap rasa takut.
Sudah banyak tempat angker ia datangi. Banyak tempat sepi ia singgahi untuk bertapa. Tapi di kaki bukit Siaul, ia merasakan ketakutan. Entah kekuatan apa yang ada di atas bukit sana. Orang itu pasti memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sekali. Apa yang diinginkan orang itu di daerah ini? Segenap pertanyaan terus menyerbu kepalanya. Sebelum  benar-benar dihinggapi berbagai pertanyaan yang lebih aneh, ia segera kembali ke desa.
     Besok paginya, Senopati Ringkin benar-benar pamit untuk menuju pesantren di bukit Siaul itu. Semua mengantarnya di halaman kelurahan. Termasuk Karebet.
     “Pertimbangkanlah untuk membawa bala bantuan, Kanjeng Senopati,” pinta Ki Buyut Jayadi dengan sungguh-sungguh.
     “Saya tidak mau ada korban lagi, Ki Buyut,” jawab Senopati Ringkin tegas. “Doakan saya bisa menyelesaikan masalah ini.”
     “Saya yakin Kanjeng Senopati  mampu melenyapkan durjana ini,” kata Jagabaya berharap.
     Senopati Ringkin menatap Karebet. Seperti ada yang hendak dikatakannya. Tapi Karebet yang lebih dahulu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dengan sikap yang sangat hormat.
     “Saya minta maaf karena saya lancang berani melawan Kanjeng Senopati ketika pertama kali datang disini.” Karebet berkata dengan sungguh-sungguh. “Semoga berhasil, Kanjeng Senopati.”
     Senopati Ringkin tersenyum. Genggaman tangannya cukup memberikan jawaban lebih dari sekedar kalimat. Melihat ketulusan Karebet, ia merasa telah salah menjadikan pemuda itu saingannya merebut perhatian banyak orang. Ia punya kedudukan, punya jabatan tinggi. Dibanding Karebet, ia jauh lebih beruntung. Tapi betapa ia melihat Karebet  sangat tulus menghormatinya.
     “Berjanjilah jangan pergi dari desa ini sebelum saya kembali.”
     “Saya berjanji, Kanjeng Senopati,” jawab Karebet mantap.
     Ki Buyut Jayadi terharu.
     Bukit Siaul masih diselimuti keheningan yang panjang. Para penduduk sering mencari kayu bakar dan berburu disana. Disana juga digunakan untuk bercocok tanam singkong dan palawija. Bukit itu telah memberikan mereka kehidupan yang lebih baik buat penduduk desa Pingit. Tapi setelah berdirinya pesantren pimpinan Aryabajageni, semuanya menjadi berubah.
     Pada mulanya penduduk senang. Pesantren adalah tempat menimba ilmu agama. Tempat orang-orang yang dekat dengan Allah. Tapi pesantren di bukit Siaul itu lain. Mereka tidak suka guru ngaji di desa. Mereka sengaja membuat permusuhan. Mereka berusaha menyebarkan ajaran yang berbeda dengan ajaran islam yang diterima penduduk. Sampai pembunuhan guru ngaji terus berulangkali, akhirnya penduduk membuat garis batas bahwa mereka harus memerangi orang-orang di pesantren bukit Siaul itu.
     Senopati Ringkin sampai di kaki bukit. Langkahnya terhenti dengan munculnya beberapa lelaki berseragam merah. Mereka mengepungnya.
“Aku tidak berurusan dengan kalian,” bentak Senopati Ringkin. “Aku menginginkan guru kalian. Suruh keluar menemui utusan khusus Sultan Trenggono dari Demak!”
     Tapi mereka tidak peduli. Salah satu dari mereka bersiul dan bermunculan lagi lelaki berseragam mereh. Jumlah mereka sekitar duapuluh orang sekarang. Mengepung rapat dengan membuat pertahanan berlapis. Mereka tahu yang dihadapi kekuatannya tidak bisa dianggap enteng.
     Senopati Ringkin merapal ilmunya. Saat belum selesai, ia telah diserang duapuluh lelaki berseragam merah itu. Kekuatan mereka hebat tapi ia sudah pernah bertarung dengan mereka sebelumnya. Ia bisa tahu tata gerak mereka masih lemah. Kelihatan belum lama belajar ilmu kanuragan. Meskipun begitu, pertahanan duapuluh orang ini kuat. Tapi tetap tidak sekuat pertahanan prajuritnya.
     Ia biasa berlatih ilmu kanuragan dengan para prajuritnya. Dikeroyok lebih dari duapuluh orang sudah sangat biasa. Jadi menghadapi duapuluh lelaki berseragam merah dengan ilmu kanuragan biasa, menjadi mudah baginya. Tapi aneh. Meskipun ia mudah menjatuhkan mereka, tapi kekuatan mereka luar biasa. Seperti orang yang tidak bisa terluka. Itu akan menguras tenaganya. Sebelum ia dipaksa terus menerus bertarung, ia mencabut kerisnya.
     Keris itu ia tancapkan di tanah. Kejadian berikutnya tidak bisa diikuti dengan mata biasa. Duapuluh lelaki berseragam merah itu terlempar ke segala arah seperti daun kering yang ditiup angin. Keris itu mengeluarkan kekuatan yang mengerikan. Duapuluh lelaki berseragam merah itu tidak bangun lagi. Ia segera memasukkan lagi kerisnya ke dalam sarungnya.
Tapi sebelum benar-benar beranjak, sebuah tiupan angin besar datang dari arah atas bukit, disusul sebuah suara yang berat.
     “Jangan membusungkan dada dulu, Senopati Demak!!!”
     Suara itu berat dan seolah berada dekat sekali. Tapi nyatanya tidak ada siapapun di depan Senopati Ringkin. Kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat. Sebelum sadar benar apa yang akan terjadi, dari atas bukit meluncur sebuah bongkahan batu yang sangat besar. Benar-benar sebuah batu yang sepertinya baru diangkat dari dasar bumi.
     Secepat luncuran batu besar itu ke arahnya, Senopati Ringkin mengerahkan kekuatannya dan mengumpulan di tangannya. Begitu batu besar itu berjarak hanya sepuluh langkah didepannya, ia keluarkan kekuatannya lewat tangannya. Seperti ada angin besar yang keluar dari tangannya, meluncur menyambut batu besar itu. Ledakan besar terjadi. Senopati Ringkin menutup mukanya menghindari pecahan batu besar itu.
     “Turun dan hadapilah aku sebagai laki-laki!!!” teriak Senopati Ringkin menantang.
     “Rajamu terlalu menyepelakan aku dengan mengirim orang bodoh sepertimu!”
     “Kau terlalu penting untuk diurusi Rajaku, durjana!” Senopati Ringkin mencabut kerisnya lagi. “Hadapi aku saja kau tidak punya nyali.”
     Keris itu kembali ditancapkan ke dalam tanah. Tidak ada sesuatu yang terjadi. Tapi Senopati Ringkin menunggu kekuatan keris itu memaksa musuhnya untuk memunculkan diri didepannya.  Sebuah bayangan merah meluncur dari atas bukit, tapi hanya sesaat. Lalu lenyap. Yang tidak diduga adalah tiba-tiba bayangan merah itu sudah didepan Senopati Ringkin.
Berdiri seorang lelaki berjubah merah dengan muka tirus bercambang. Matanya tajam menikam. Wajahnya menyimpan beban rahasia yang busuk. Kalau orang desa bertemu dengannya, bisa langsung pingsan.
     Senopati Ringkin mundur beberapa langkah terdorong angin yang datang bersamaan munculnya lelaki bernama Aryabajageni itu. Sesaat ia gemetar. Lelaki tinggi kurus itu benar-benar membuat nyalinya ciut. Bukan hanya karena orangnya memang menakutkan, tapi kekuatan ilmunya sudah bisa dirasakan kehebatannya. Tapi ia adalah seorang Senopati kerajaan Demak. Menghadapi musuh adalah makanannya sejak masih jadi prajurit.
     “Aku diberi wewenang untuk membawamu ke Demak dengan baik-baik. Tapi kalau kau menolak, aku diberi kekuasaan untuk memaksamu.”
     “Kenapa orang kecil seperti aku masih harus diurusi?”
     “Kau mengajarkan ajaran sesat seperti gurumu Syekh Siti Jenar.”
     “Akulah Syekh Siti Jenar.!”
     “Dasar orang keblinger!”
     “Kau dan seluruh orang di Istana Demak tidak punya hak melarangku menyebarkan ajaranku. Ini bumi bukan kepunyaan Rajamu. Sebaiknya kau pulang sebelum aku tiup jadi debu!”
     Ubun-ubun Senopati Ringkin menguap. Belum pernah ada orang yang menghina Rajanya dengan begitu rendahnya. Ia menerjang lelaki itu. Tapi pukulannya seperti membentur ruang kosong. Yang tidak ia duga lagi, ia langsung melayang terlempar dan menghantam sebuah pohon. Ia tidak punya kesiapan untuk dilawan sedemikian cepatnya. Dari sudut mulutnya mengalir darah segar. Buru-buru ia berdiri lagi.
     Aryabajageni menyunggingkan senyum pahit di sudut bibirnya. “Kau sudah membuatku turun, jadi aku harus membunuhmu sebagai pelampiasanku.”
     Bersamaan selesai kalimatnya, tangan Aryabajageni bergerak membuat gerakan membuka di dada. Itu yang jadi perhatian Senopati Ringkin. Tapi gerakan selanjutnya tak bisa ia antisipasi. Kedua tangan Aryabajageni terjulur, seperti memanjang dan menghajar dada Senopati Ringkin. Seharusnya tubuh Senopati Ringkin terlempar karena terkena dorongan. Apalagi dari kekuatan ilmu kanuragan yang tinggi.
     Tapi tubuh Senopati Ringkin tetap berdiri tegak.
     Aryabajageni tersenyum sinis sambil menjejakkan kakinya ditanah sekali dan tubuhnya lenyap begitu saja. Bersamaan lenyapnya Aryabajageni, tubuh Senopati Ringkin tersedot ke atas, seperti batu yang dilemparkan ke udara.
(bersambung)



Friday, December 14, 2012

MAS KAREBET 8

BAB 8



MALAM yang sepi. Seperti malam-malam sebelumnya. Suara-suara binatang malam nyaris tidak terdengar, seolah mereka juga dilanda ketakutan. Langkah kaki pun pasti mudah sekali dikenali. Seperti juga di dalam pendopo kelurahan. Senopati Ringkin, Ki Buyut Jayadi dan Jagabaya duduk seperti menunggu sesuatu. Padahal pikiran mereka berkecamuk. Suara dengus nafas merekapun terdengar dengan jelas.
     “Saya sudah putuskan akan mendatangi pesantren Aryabajageni besok,” kata Senopati Ringkin membuka percakapan.
     “Saya ada usul, ini juga kalau kanjeng Senopati tidak keberatan,” kata Ki Buyut Jayadi dengan hati-hati.
     “Katakan saja, Ki Buyut.”
     “Bagaimana kalau Jaka Tingkir membantu Kanjeng Senopati?”
     Jagabaya nampak senang.
     Tapi Senopati Ringkin tidak suka sama sekali.
“Ini urusan resmi kerajaan, bukan urusan orang luar, Ki Buyut,” jawabnya ketus. “Lagipula saya tidak tahu siapa anak muda itu. Saya malah mencurigainya sebagai mata-mata Aryabajageni.”
     “Itu tidak mungkin,” sahut Ki Buyut Jayadi cepat. “Saya tahu sekali Jaka Tingkir. Saya dulu pernah mengabdi kepada ayahandanya.”
     “Memangnya siapa dia?”
     Ki Buyut Jayadi baru sadar perkataannya mengundang penasaran. “Jaka Tingkir hanya anak seorang saudagar di desa Tingkir.”
     Ki Buyut Jayadi termasuk orang yang harus memegang rahasia bahwa Jaka Tingkir adalah Mas Karebet, anak Ki Ageng Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging. Bagi Sultan Demak, Ki Ageng Kebo Kenongo telah mbalelo. Tidak mau sowan ke Demak lagi sebagaimana yang dilakukan para adipati lain di tlatah Jawa. Pengging juga tidak pernah lagi memberikan upeti ke Demak.
Tapi hal itu terjadi setelah Ki Ageng Kebo Kenongo berguru agama kepada Syekh Siti Jenar yang dianggap mengajarkan ajaran sesat oleh para para Wali. Setelah diberi waktu tiga tahun untuk menentukan pilihan, Ki Ageng Kenongo tetap tidak bersedia datang ke Demak. Maka kemudian Sunan Kudus selaku Panglima Perang diberi tugas untuk menghukum Ki Ageng Kenongo yang sudah diputuskan membangkang kepada pemerintahan yang sah. Hukuman itu membuahkan kematian terhadap Ki Ageng Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging.      
     “Maaf Ki Buyut, di Demak sana, banyak pemuda seperti Jaka Tingkir. Baik kehebatan ilmu kanuragannya, maupun ketampanan wajahnya. Dia hanya anak kampung.” Nada Senopati Ringkin tinggi. Menyiratkan kebencian yang dalam.
     “Maaf, Kanjeng Senopati, saya hanya memberikan usulan.” Ki Buyut Jayadi berkata lirih. “Semua terserah Kanjeng Senopati.”
     “Tidak usah Ki Buyut ragukan kehebatan Senopati Demak.”
     Ki Buyut Jayadi tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Ia berharap Karebet tidak mendengar pembicaraan ini. Ia sangat menghormati anak bekas majikannya itu. Ia tidak mau hati anak muda itu terluka dengan jawaban Senopati Ringkin yang sangat merendahkan.
Karebet memang tidak mendengar pembicaraan itu karena ia sedang berada di kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus terganggu dengan pesantren di bukit Siaul itu. Baginya aneh sebuah pesantren tidak menyukai guru ngaji. Apalagi guru ngaji kampung. Apakah ini hanya sebuah saingan mencari murid?   
     Udara terasa panas didalam kamar. Di bukanya jendela, tapi terdengar suara benturan diluar kamar disusul suara mengaduh. Dilihatnya Dadung Awuk mengelus-elus batok kepalanya.
     “Aduh biyung, kepalaku bocor.” Dadung Awuk mengelus batok kepalanya yang terkena daun jendela.
     “Kalau mau jaga malam, bilang-bilang.”
     “Sialan, buat apa orang sehebat raden dijaga segala.” Dadung Awuk duduk di jendela. “Raden tidak ikut pertemuan di pendopo?”
     “Memangnya ada apa?”
     “Katanya, besok Kanjeng Senopati Ringkin mau ke bukit Siaul.”
     “Baguslah.”
     “Lho kok bagus?”
     “Bukankah beliau datang untuk membuat aman desa ini? Lebih cepat aman lebih baik kan?”
     “Tapi saya tidak yakin.”
     “Seorang Senopati pasti seorang yang sangat hebat ilmunya. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya”
     “Saya malah yakin raden yang bisa membuat aman desa ini.”
     “Jangan meledek.”
     “Sumpah mati, saya bicara jujur….”
     Lalu terdengar suara kentongan bertalu-talu di kejauhan. Makin lama makin banyak suara kentongannya.
     “Ada perampokan.” Dadung Awuk berdiri. “Buset, ada-ada saja kejadian. Ayo raden, kita kesana.”
     “Kamu saja. Aku ngantuk.”
     “Siapa tahu malingnya sakti.”
     “Masih ada Senopati Ringkin.”
     “Sama Raden saja kalah.”
     “Kamu duluan saja.”
     “Tapi menyusul ya, Raden.” Dadung Awuk lantas pergi.
Karebet ke arah tempat tidur yang terbuat dari bambu. Ia merebahkan dirinya. Ia tidak bisa menduga kejadian apa yang melanda desa ini. Saat sedang berlangsung pembunuhan guru ngaji, ada kejadian perampokan. Bisa jadi  saling berhubungan kalau yang melakukan pembunuhan dan perampokan orang yang sama.
Karebet bergegas keluar dari kamar itu. Ia yakin Senopati Ringkin akan mampu mengatasi perampokan. Ia ingin menuju bukit Siaul. Ia ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mulai menumpuk di kepalanya.(bersambung)

Wednesday, December 12, 2012

MAS KAREBET (7)


BAB 7



KAREBET melihat di kejauhan bukit Siaul, tempat dimana pesantren Aryabajageni didirikan. Hanya pepohonan hijau yang kelihatan. Deguban jantungnya merasakan getaran gaib yang kuat dari arah bukit itu. Entah kekuatan apa yang menguasai bukit itu. Ada gerakan halus dibelakangnya. Hampir tidak didengarnya. Tapi hembusan anginnya sudah berbeda. Tangannya bergerak cepat dan menangkap leher seseorang.
     “Aduh biyung, ini saya raden, Dadung Awuk!”
     Karebet melepaskan tangannya. Dilihatnya pemuda bertubuh gempal itu memegangi lehernya yang sakit. Wajahnya masih menyisakan rasa takut.
     “Maaf, raden.”
     “Kamu suka menggangu orang rupanya.”
     “Tergantung orangnya. Kalau orang sehebat raden, apa salahnya.”
     “Kamu kira aku orang baik?”
     “Saya hanya tahu raden orang terkenal karena kehebatan raden.”
     “Jangan semua yang kamu dengar kamu percaya.”
     “Tadinya saya tidak percaya raden bisa mengalahkan buaya raksasa. Tapi sewaktu melawan Senopati Ringkin, saya jadi percaya.”
     “Siapa bilang saya menang.”
     “Meski tidak diumumkan, semua orang tahu sebenarnya raden lebih hebat daripada Senopati Ringkin.”
     Benarkah ia lebih hebat dari Senopati Demak itu? Ia mendengar kata-kata itu sepertinya hanya sebagai hiburan. “Kau mempunyai impian, Dadung?”
     “Saya ingin menjadi prajurit Demak.”
     “Sudah pernah ke Bintoro Demak?”
     “Belum pernah. Tapi saya sendiri tidak yakin. Ilmu kanuragan saya masih terlalu rendah.”
     “Carilah guru.”
     “Dimana?”
     “Pergilah ke tempat jauh.”
     “Tapi kemana?”
     “Kemana saja kamu suka.”
     “Aku tidak mudeng blas.”
     “Ada orang bijak bilang, pergilah ke tempat jauh untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman, lalu jadikan pengalaman itu sebagai guru.”
     “Saya kan ingin guru ilmu kanuragan, bukan guru begituan.”
     “Kamu akan mendapatkan juga.”
     Dadung Awuk mengambil sebuah sadak didalam pinggangnya. Karebet yang hendak pergi tertarik melihat Dadung Awuk memakan sadak itu. Karebet sering melihat orang memakan kinang. Tapi kebanyakan adalah wanita tua. Tapi yang dilihatnya Dadung Awuk makan kinang.
     “Ini sadak raden,” kata Dadung Awuk menjelaskan, seolah tahu keheranan Karebet. “Kinang yang sudah digulung. Raden mau?”
     “Tidak. Kelihatannya kau sangat suka sadak?”
     “Saya tidak tahu kenapa saya suka sadak. Mungkin Ibu saya dulu nyidam sadak tidak kesampaian, saya yang akhirnya doyan sadak.”
     “Hati-hati.”
     “Maksud Raden?”
     “Apa yang sangat kau suka kadang bisa menjadi senjata makan tuan.”
     “Saya kok tidak mengerti. Apa hubungannya sadak sama senjata. Ini kan hanya daun sirih. ”
     “Suatu saat kau akan mengerti.”
Karebet lantas beranjak. Tapi nampak mendekat seorang gadis berwajah manis membawa bakul berisi baju-baju. Rupanya gadis itu mau ke sungai untuk mencuci. Karebet tidak begitu peduli tapi gadis itu menatapnya terus.
     “Sendang.” Dadung Awuk berteriak. “Kebetulan, sini kakang kenalkan dengan orang terkenal, Jaka Tingkir. Raden, kenalkan ini Roro Sendang, calon istri saya kalau direstui.”
     Karebet mengangguk ke gadis itu.
     Roro Sendang juga tersenyum manis. “Saya ke sungai dulu, kakang.”
     “Hati-hati ya.”
     Roro Sendang berlalu sambil terus melirik ke arah Karebet. Gadis itu bukan tidak tahu Karebet. Sejak kedatangannya di sambut beberapa pemuda yang melawannya, semua warga desa mengetahui semua hal itu. Termasuk dirinya. Apalagi dengan berita yang beredar luas kalau Karebet adalah orang hebat yang mengalahkan buaya sungai seorang diri.
     Karebet nyaris tidak pernah mengenal wanita dengan baik kecuali dengan Ibunya. Apalagi sampai memutuskan untuk berhubungan dekat dan akhirnya berjanji untuk menikah. Ia belum bisa berpikir sejauh itu. Bukan karena ia orang yang selalu pergi untuk bertapa dan mengunjungi tempat-tempat keramat. Tapi ia merasa belum tertarik untuk melakukan hubungan seperti itu. Ia masih ingin melihat dunia dengan lebih luas. Ia ingin menuntut ilmu setinggi mungkin, termasuk ilmu kanuragan.
     “Bagaimana kalau kita ke sungai?” ajak Karebet.
     “Raden mau mandi?”
     “Udara mulai panas begini, mungkin lebih enak berendam di sungai.”
     “Ayolah kalau raden mau.”
     Mereka lantas berjalan searah dengan perginya Roro Sendang.
     Sungai di desa Pingit hanyalah sungai dangkal dengan arus yang kecil. Airnya jernih dan banyak bebatuan. Hampir semua warga desa Pingit menggunakan sungai itu untuk mandi dan mencuci. Siang menjelang sore itu, beberapa gadis berkumpul mencuci baju. Roro Sendang sudah bergabung dengan teman-teman sebayanya. Tidak ada lagi yang berada di sungai kecuali para gadis-gadis itu. Mereka serius mencuci baju sambil berbincang.
     Sejak terjadi pembunuhan terhadap guru ngaji, Ki Buyut Jayadi memberi perintah agar setiap bepergia, bersama-sama. Termasuk ke sungai. Selama ini tidak ada gangguan terhadap gadis-gadis desa. Tapi dari balik semak, beberapa pasang mata menatap ke arah gadis-gadis itu dengan buas. Mereka berbaju merah semua, seperti seragam.
     Salah satu dari mereka memberi isyarat untuk keluar dan mereka segera ke arah sungai. Mereka dikenal sebagai murid pesantren diatas bukit Siaul. Selama ini mereka hampir tidak pernah menampakkan diri. Tapi sekarang mereka bukan hanya menampakkan diri tapi juga mempunyai niat untuk menggoda gadis-gadis desa itu.
     Itulah anehnya. Kalau memang benar di bukit Siaul berdiri sebuah pesantren, artinya murid-muridnya diajarkan cara beragama yang benar. Cara berkehidupan yang benar. Tapi rupanya pesantren itu lain. Hampir semua murid pesantren itu bukan penduduk desa Pingit. Mereka adalah pendatang yang entah darimana. Guru ngaji di desa Pingit selalu memperingatkan kepada warga kalau pesantren di bukit itu mengajarkan ajaran islam yang salah. Makanya kemudian penduduk desa Pingit tidak ada yang mau menjadi murid di pesantren bukit Siaul pimpinan Aryabajageni.
     Gadis-gadis itu disergap ketakutan melihat beberapa lelaki berseragam merah itu mendekati mereka. Roro Sendang berada paling depan diantara teman-temannya. Ia memang takut tapi ia harus mengatasi ketakutannya sendiri. Kunci dari mengatasi ketakutan adalah dengan nekat.
     “Kalau kalian mau mandi , mandi saja, tapi jangan ganggu kami,” bentak Roro Sendang.
     “Kami memang mau mandi, tapi mandinya bersama kalian,” jawab salah satu lelaki berseragam merah itu, yang disambut suara tawa teman-temannya.
     “Kalau kalian tidak pergi, kami akan teriak dan semua penduduk akan datang kemari. Kalian semua akan di cincang tahu!” Suara Roro Sendang mulai gemetar.
     “Oo takut.” Salah seorang belagak ketakutan dan yang lain segera tertawa menimpali.
Seorang lelaki berseragam merah yang lain lantas mau menarik Roro Sendang, tapi mendadak tangannya langsung dikibaskan dan dia teriak kesakitan, persis seperti orang kebakaran tangannya.
     Semua kaget melihatnya.
     Di belakang mereka sudah muncul Dadung Awuk. “Makanya punya tangan jangan kayak maling.”
     Roro Sendang tertawa. Tapi tawanya lenyap saat melihat Karebet di belakang Dadung Awuk. 
     “Raden, biar saya yang pepes mereka ya?” pinta Dadung Awuk dengan bangga.
     Karebet hanya tersenyum.
     Lelaki berseragam merah itu menjadi marah dan berbalik ke arah Dadung Awuk. Mereka segera mencabut senjata yang mereka sembunyikan di balik baju.
     “Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa ha?”
     “Melihat seragam kalian, berarti kalian murid pesantren di bukit Siaul.”
     “Bagus. Jadi kau tidak akan mati penasaran.”
     “Tunggu dulu.” Karebet maju. “Kalau kalian murid pesantren, kenapa kelakukan kalian seperti maling pasar?”
     “Wedus gembel,” umpat salah satu lelaki berseragam merah dan ia memberi isyarat untuk menyerang. “Bunuh dia.”
     Karebet langsung menyingkir karena sengaja memberikan kesempatan Dadung Awuk untuk menghadapi mereka. Meskipun Dadung Awuk sendiri kelihatan kaget.
     “Raden, ayo lawan mereka.”
     “Katanya kau mau melawan mereka…..”
     Dadung Awuk tidak bisa berkata lagi karena serangan pertama menuju dirinya. Meskipun tubuhnya gempal, ia bisa bergerak cepat untuk menghindar. Pukulan Dadung Awuk keras tapi sekarang ia menghadapi beberapa orang lawan. Kegesitannya berkurang karena berada di atas sungai. Kakinya sulit mencari pijakan yang benar. Akibatnya ia mudah mendapatkan serangan. Dan ia jatuh terjerembab. Dan tinggal menjadi bulan-bulanan lawannya.
     Tapi Karebet sudah bergerak cepat tangannya meraih kerikil sungai dan menyambitnya satu-satu ke arah pengeroyok Dadung Awuk.  Mereka kesakitan seperti terkena sengatan binatang di punggung mereka. Mereka berbalik mengejar Karebet dan menyerang dengan senjata terhunus. Karebet bukannya tidak sadar serangan mereka akan sangat mengerikan. Tapi kelemahan mereka juga justru sangat mudah dilihat. Mereka sudah terpancing untuk menyerang dengan sembarangan, apalagi diatas sungai yang jelas tidak rata permukaannya. Dengan gerakan menipu sedikit saja, Karebet sudah bisa menggagalkan serangan mereka, bahkan tangannya bergerak dengan lebih cepat meraih senjata mereka tanpa perlu memukul. Itu saja mereka langsung kaget karena senjata mereka tahu-tahu sudah berpindah tangan. Sebelum mereka sadar kembali, Karebet sudah melemparkan senjata itu ke depan mereka dan menancap di bebatuan.
      Sebuah kekuatan tenaga dalam yang luar biasa. Melemparkan pisau ke pohon pisang saja sering tidak menancap, padahal sudah jelas batang pohon pisang mudah ditembus oleh pisau. Tapi sebuah batu begitu mudah ditembus senjata. Tanpa berpikir dua kali, para lelaki berseram merah itu kabur. Lari dengan ketakutan membayangkan kepala mereka seperti batu sungai itu.
     Bukan hanya Dadung Awuk yang terbengong-bengong melihat kehebatan itu, tapi juga Roro Sendang dan teman-temannya. Dadung Awuk mengucek-ucek bola matanya seolah bermimpi di siang bolong. 
(bersambung)