Saturday, January 16, 2010

1998 (9)

BAB EMPATBELAS


 “Ada orang-orang yang tidak menyukai kedamaian. Mereka membentuk suatu kelompok rahasia untuk menghancurkan berbagai sistem pemerintahan yang ada dengan menguasai bidang-bidang keuangan, politik, pers, pendidikan dan berbagai bidang lainnya. Mereka ada di seluruh dunia, termasuk di negeri ini.”
            “Kakek punya bukti?”
            “Bukti? Seperti apa? Dokumen? Catatan?” Hadi menarik nafas dalam-dalam. “Tidak ada hal penting yang dibuat tertulis. Hanya ada kasak kusuk, gunjingan  dan kedipan mata. Begitulah kejahatan besar direncanakan.”
            "Apakah itu hanya sekedar teori konspirasi?"
            "Persekongkolan yang baik tidak bisa di buktikan. Kalau kau bisa membuktikannya, mereka telah membuat kesalahan."
            Hadi menuju rak bukunya dan jongkok membuka kunci lemari kecil paling bawah yang kelihatannya tempat menyimpan segala sesuatu yang ingin tidak diketahui orang lain. Ia mengambil sebuah buku tebal yang dipegangnya dengan tangan gemetar dan ia ragu memberikannya kepada Rosita. "Kau boleh membacanya, setelah itu kau boleh berpendapat apasaja."
            Buku itu berjudul 'Paws In The Game' karangan William Guy Carr. Rosita menangkap kecemasan dalam wajah kakeknya yang tidak bisa lagi disembunyikan. "Apakah ini buku yang dilarang beredar?"
            "Kenapa buku yang ditulis bagus harus tidak boleh beredar?" Bibir tua Hadi gemetar. "Buku itu menyingkap suatu rahasia dibalik berbagai peristiwa dunia. Ada suatu kelompok rahasia yang tujuan utamanya menghancurkan berbagai sistem pemerintahan. Mereka menciptakan krisis demi krisis yang kemudian menimbulkan revolusi, peperangan, penindasan dan berbagai tindak amoral lainnya. Mereka telah sukses mendominasi Dunia Barat, maka sekarang mereka mengarahkan perhatiannya kepada Dunia Timur, kepada kita dengan kegiatan dan aksi yang sama."
            "Rasanya sulit sekali mempercayainya."
            "Kita tidak pernah mengetahui seperti apa bentuk udara, tapi toh kita tetap mempercayainya."
            "Maksud saya negeri kita dijadikan gelanggang pertarungan."
            "Negeri kita terlalu makmur untuk dibiarkan dinikmati orang bodoh seperti kita. Mental kita mental kuli, kepala kita kosong dan perut kita buncit."
            "Kalau saya membuat laporan seperti ini, apakah orang akan percaya?"
            "Orang percaya atau tidak bukan urusan kita. Urusan kita adalah menyuarakan hati nurani. Itu juga kalau kita masih bisa jujur."  
Di saat Rosita membutuhkan dukungan, ia hanya bisa datang kepada kakeknya.  Ketika semua pintu tertutup untuknya, kakeknya menyambutnya dengan satu pesan bahwa ia tidak boleh kehilangan semangat. Ia belajar banyak dari kakeknya soal bagaimana bisa mempertahankan hidup pada suatu rezim yang otoriter. Mempertahankan hidup memang soal perut. Soal perut sering membuat orang menjual apasaja, termasuk menjual bangsanya.
“Kita hanya punya sejarah yang buruk,” kata Hadi sambil mengambil buku lainnya, tebal, kusam dan berdebu.
“Artinya kita juga ikut buruk.” Pang Ong sedang duduk menonton film action Amerika di televisi, “Apa menghadapi kematian kita ini harus tetap buruk, Hadi?”
“Tahun 60-an tulisan-tulisanku dibakar komunis,” Hadi mulai bercerita. “Jaman Orde Baru berkali-kali aku berurusan dengan aparat keamanan karena tulisanku dianggap menghasut. Jadi kalau ada orang yang paling sakit hati soal sejarah ini, akulah orangnya.”
Hadi membawa buku kusam yang belum dijilid itu ke arah meja dimana Rosita masih ragu untuk membuka buku pertama yang diberikan kakeknya. Bukan sebuah buku sebenarnya, tapi tumpukan kertas yang mungkin akan dijadikan sebuah buku. Hadi menyodorkannya pada Rosita.
“Bukan hanya demonstrasi atau penculikan aktivis, semua borok sejarah negeri ini, ada disini.” Wajah Hadi kelihatan tegang sekali. "Tentu saja menurut penilaianku."
Pak Ong menoleh dengan memicingkan mata tuanya. “Apa itu, Hadi?”
“Ongol-ongol.”
Rosita tertawa. Pak Ong manggut-manggut saja dan nonton televisi lagi.
“Jujur saja, aku takut menerbitkannya dulu. Kalau kamu mau menerbitkannya sekarang, aku akan senang meski harus menghadapi tiang gantungan.”
Rosita membuka lembaran pertama. Tertulis SIAPA MENABUR BENIH MENUAI HASIL dan nama penulis dibawahnya tertulis ANONIM.
“Ganti saja dengan namaku.” Wajah Hadi kelihatan begitu geram. Ia telah memutuskan apa yang harus dilakukannya dengan segala risikonya.  "Kau tahu apa yang dikatakan Al Maududi ketika akan dihukum mati? Dia bilang, jika ajal bagi saya telah datang, tidak seorang pun dapat mengelakannya. Akan tetapi bila ajal itu memang belum datang,  mereka tidak dapat menggantung saya, walaupun mereka sampai menggantung diri mereka sendiri." 
Rosita ragu dan wajahnya ikut tegang.
“Bukalah.”
Rosita sadar kalau ia mulai membuka buku itu artinya ia harus siap tidak bisa tidur nyenyak. Kemanapun ia pergi akan diikuti dan semua kegiatan yang dilakukannya akan dicatat dalam sebuah agenda hitam. Jelas ia harus takut. Ibaratnya ia harus masuk kandang harimau sendirian, meski telah diberitahu pawang bagaimana cara membuat harimau itu tidak menerkamnya. Ia tidak tahu persis bentuk ancaman dan teror seperti apakah yang diterima kakeknya selama menjalani karir sebagai wartawan. Ia pernah merasakan  bahwa ia ditekan secara mental selama ia menjadi reporter pada kasus sensitif.  Bahkan untuk seorang laki-laki setegar apapun, pasti akan terguncang.
--------
Fajar juga bukan laki-laki hebat, termasuk dalam fisik. Ia begitu terguncang melihat sebuah pistol jenis baretta menyalak dan pelurunya menembus pelipis seorang Pemuda yang duduk tanpa tenaga di kursi listrik. Ruangan lalu senyap. Padahal lebih dari sepuluh pasang mata dibalik terali besi termasuk Jarot menyaksikan adegan itu. Dalam keadaan tegang itu, meja didepan Fajar digebrak sebuah tangan kekar dan meja itu pecah berantakan.
“Anda sebagai mahasiswa mestinya bicara yang intelek, bukan menghasut!” Suara itu menggelegar .
Fajar tidak tahu apakah ruangan ini seperti sebuah neraka. Ia telah begitu hebat ditekan untuk tidak bisa berpikir apapun kecuali untuk sebuah semangat bahwa ia adalah manusia merdeka dan tidak ada seorang manusiapun bisa merampasnya. Ia telah hidup dengan susah payah diantara himpitan kerasnya kota. Perlakuan paling buruk pun telah ia terima. Tapi yang sekarang dihadapinya adalah sebuah akhir yang menyadarkan dirinya, bahwa ia hidup hanya untuk sebuah hinaan.
"Memangnya siapa kalian sampai bermimpi mau merubah negeri ini?" Tangan kekar lelaki itu menjambak rambut Fajar. "Untuk makan saja kalian susah. Berpikirlah bagaimana mencari duit dengan mudah dan tidak perlu bermimpi. Mimpi hanya dimiliki oleh orang berduit, dan kalian sama sekali tidak pantas bermimpi!" Lalu dibantingnya kepala Fajar ke dinding.
“Sisa waktu hidupmu tinggal tunggu giliran. Gunakan untuk berdoa.”
Ya, berdoa. Tuhan agaknya jalan terakhir bagi orang-orang teraniaya seperti dirinya. Tapi ia bukan orang yang mudah melupakan Tuhan ketika sehat dan kesenangan didapatinya. Ia orang yang diajarkan bapaknya untuk tidak melupakan Tuhan dalam saat senang dan susah. Fajar berterimakasih kepada suara itu. Apakah orang itu juga ber-Tuhan. Ia yakin tidak ada manusia yang tidak ber-Tuhan, yang bisa melakukan perbuatan keji pada Jarot dan orang-orang dibalik sel itu. 
  


 BAB LIMABELAS


Inaya kehilangan pegangan untuk beberapa saat. Ia sudah bisa melepaskan diri dari bayang-bayang orangtuanya dan menjadikan Fajar sebagai pelabuhan berikutnya. Untuk waktu yang cukup lama, tepatnya setelah jadi mahasiswa, separuh hidup Inaya bergantung kepada Fajar. Tentu saja dalam hal kebutuhan diluar materi. Ia telah mulai membayangkan menjadi ibu rumah tangga dan segala hal yang mengikutinya. Sangat menyenangkan.
Tapi ia sekarang sedang mengalami ketegangan yang luar biasa. Ia membutuhkan orang untuk menumpahkan kisah sedihnya. Satu-satunya harapan ada pada Ibu dan Noni. Tapi agaknya hal itu tidak pernah terjadi lagi, seperti ketika ia masih kecil dulu. Kepada bapaknya, suatu hal yang sangat sulit ia dapatkan waktunya. Saat-saat tertentu, Inaya menyesali kenapa ia dilahirkan tanpa saudara yang banyak.
Di pesawat televisi, Rosita sedang berdiri dengan latar belakang Universitas dan kelihatan sangat bersemangat. “….hilangnya Fajar sebagai salah satu orator di kampusnya, justru membuat gerakan mahasiswa semakin merapatkan barisan untuk menyuarakan kebebasan…..” Di layar televisi, tampak kumpulan mahasiswa menggelar spanduk yang menuntut dikembalikannya Fajar.
Inaya tidak bisa menahan matanya untuk tidak menangis. Nyonya Hartawan yang sangat jeli melihat perubahan putrinya, langsung menghardik. “Inaya, menangisi siapa kamu. Kalau sampai orang tahu kamu menangisi pembantu, martabat kita habis!”
“Salah sendiri sok jadi orang pinter, ngomong seenaknya didepan banyak orang, ya diculik. Mati juga pantes.” Noni mencibir habis.
Inaya berdiri dengan kemarahan diubun-ubun. “Tahu apa mbak Noni soal Fajar, soal mahasiswa. Mbak Noni kan tahunya cuma pesta, diskotik dan ketagihan tidur sama bule….”
Inaya tidak sempat menyelesaikan omongannya karena Noni sudah menamparnya. Tapi secepat itu pula, Inaya membalas menampar kakaknya dengan lebih keras. Noni terlempar ke sudut.
“Inaya, jaga kelakuanmu!” Nyonya Hartawan membantu Noni berdiri.
Inaya tidak pernah kenal kekerasan fisik sejak kecil. Hidupnya diatur sedemikian rupa oleh Ibunya sebagai orang yang katanya masih berhak menyandang gelar bangsawan. Cara berjalan, berbicara, bahkan cara makan harus melalui sebuah metode yang rumit. Semua harus dilakukan dengan perhitungan seperti matematika. Begitu merepotkan aturan yang diberlakukan, bahkan dalam pergaulan. Inaya tidak pernah berniat merubah tradisi leluhurnya, tapi dalam hal tertentu ia tidak mau menjadi robot. Ia mulai menikmati makan di pinggir jalan, tertawa lepas di kampus, pulang malam dan bergaul dengan siapa saja. Dan itu hanya didapatkannya setelah mengenal Fajar.
Inaya ingat betul ketika suatu kali Fajar mengatakan, “Dunia memberi kesempatan lebih dari peraturan-peraturan yang dibuat orangtuamu, dan kamu berhak mendapatkannya.”  Dan sudah saatnya ia harus mendapatkan kesempatan yang lebih besar. Ia telah mulai siap mengatur masa depannya sendiri.
Ia harus mulai mengambil suatu risiko, termasuk untuk berpisah dari orangtuanya. Ia tidak pernah mempunyai pikiran seperti itu sebelum adanya musim demonstrasi. Hidupnya berada pada posisi yang sempurna. Tapi setelah ia kenal Fajar dan ikut dalam demonstrasi, hidup ternyata memungkinkan banyak tawaran. Diam-diam ia mengemasi bajunya dan menuju rumah Fajar. Ibu Fajar tidak percaya anak majikannya bertindak sangat nekat seperti itu.
“Saya memaksa tinggal disini. Kalau tidak boleh, saya akan kost disini. Paling tidak untuk sementara.” Inaya mau menangis.
“Saya takut ketahuan, Non.”
“Kalau Ibu tidak bilang, saya tidak bakal ketahuan.”
“Tapi kenapa harus minggat?”
"Saya hanya ingin keluar dari rumah."
Inaya tidak pernah berpikir untuk minggat. Ia hanya meninggalkan rumah karena ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi disana.  Ia tidak lagi mendapatkan teman suka dan duka dalam rumah itu. Tempat baginya mengadu sudah lain melihat dirinya. Ia sangat menyanyangi ibunya, Noni dan bapaknya. Tidak ada yang menandingi cinta kasihnya dengan apapun. Hanya karena berbeda pendapat, tiba-tiba hidupnya putus dengan masa lalunya.
Ia sedang berjuang. Bukan untuk dirinya, Fajar atau kampusnya. Tapi untuk semua orang yang menginginkan perubahan ke arah lebih baik.  Bagi sebagian orang yang sudah mapan dalam hal kedudukan dan materi, apa yang sedang terjadi justru membuat kenikmatan mereka mulai berkurang. Orang terakhir inilah yang membuat perubahan tidak cepat tercapai. Kalau perlu, mereka harus membayar dengan uangnya untuk membuat perubahan itu tidak tercapai. Kebaikan dan keburukan menjadi hal yang nyaris tidak berbeda. Siapa yang merasa benar dan siapa yang dituduh salah.
(bersambung)

Monday, December 21, 2009

1998 (8)


BAB DUABELAS

Sudah berkumpul perwakilan mahasiswa dari berbagai Universitas  di seluruh Ibukota. Mereka datang sebagai utusan resmi yang mewakili kampus mereka masing-masing dan mempunyai rencana yang akan dibicarakan bersama. Ruangan itu penuh dengan warna warni jaket almamater. Mereka duduk membentuk formasi rapat. Fajar sudah membenamkan diri di kursi dan diam, sementara Jarot sibuk mengatur teman-temannya mengambil tempat. Fajar tidak bisa mengikuti rapat itu dengan baik. Ia masih kelihatan belum bisa  menghilangkan kekalutannya. Jarot tahu ia harus siap menggantikan Fajar kalau teman-temannya juga tidak siap.
Pada dinding dibelakang ketua rapat, terbentang spanduk bertuliskan FORUM MAHASISWA INDONESIA. Beberapa wartawan media cetak dan elektronik mengikuti jalannya rapat itu. Seperti mengikuti rapat kabinet para Menteri di Bina Graha. Para wartawan bebas dalam hal apasaja, terutama cara berpakaian yang tidak perlu memakai dasi, juga berbagai aturan protokol lain yang tidak menyenangkan. Rosita dan Harry juga sudah berada di ruangan itu. Rosita sengaja tidak menyapa Fajar tapi terus memperhatikannya dari jauh.
“Sangat mendesak waktunya bagi kita untuk segera menyatukan tujuan gerakan kita,” Ketua rapat sudah berdiri. “Jelas gerakan yang kita lancarkan mula-mula adalah gerakan moral. Artinya, satu-satunya alasan kita melakukan gerakan ini adalah atas nama rakyat!"
Masing-masing utusan Universitas kemudian memberikan pandangannya. Rapat berlangsung lebih dari lima jam, sampai jauh larut malam. Fajar yang seharusnya  mewakili kampusnya memberikan pandangan, terpaksa diwakilkan Jarot. Ia tidak siap untuk mencurahkan seluruh kemampuannya berpikir, seperti halnya ketika ia pidato sewaktu demonstrasi. Ia cukup yakin teman-temannya mampu mewakilinya. Ia melihat Rosita kecewa ia tidak berdiri berpidato karena Harry sudah siap mengambil gambarnya. Sampai rapat selesai, ia berusaha menghindari Rosita. Tapi ternyata tidak bisa.
“Saya sangat mengharapkan kamu yang berdiri didepan tadi.”
“Hukumlah saya yang sudah  mengecewakanmu.”
“Kamu baik-baik saja?”
“Saya baik-baik saja.”
“Semoga terus begitu, karena saya masih membutuhkan kamu.”
“Saya harus pulang.”
“Saya antar.”
“Mungkin kalian masih harus mencari berita lain malam ini.” Fajar sudah berjalan karena dilihatnya Jarot sudah keluar ruangan.
“Kami sudah selesai.”
“Terimakasih, saya harus pulang dengan Jarot.”
“Mobilnya masih cukup untuk beberapa orang.” Rosita nampak begitu memaksa.
Fajar bisa menghirup parfum Rosita. Mereka begitu dekat. Fajar menatap Rosita. Ia tahu wanita ini begitu serius mengorek kisah hidupnya dan entah apalagi yang sedang dipikirkannya. Bau parfum Rosita telah mencolok lubang hidungnya dan ubun-ubunnya langsung menguap. Fantasi laki-lakinya bermain. Belum pernah segila ini pikirannya terhadap Inaya sekalipun. Tapi Rosita memberinya pandangan lain. Wanita yang dewasa dan kelihatannya membutuhkan sentuhan laki-laki.
Udara malam yang dingin menampar Fajar. “Saya tidak mau diantar. Saya takut ada hardtop yang mengejar saya lagi.” Fajar mengatakan itu pelan dan tegas.
"Hardtop? Maksudmu mobil jenis jeep hardtop pernah mengejarmu?" Rosita serius sekali.
"Itu juga akan kamu masukkan dalam laporanmu?"
"Tentu saja. Saya yakin kamu sedang diincar."
"Oleh siapa?"
"Jangan sok jago. Kamu dalam bahaya." Nadanya terdengar khawatir. "Kalau mereka sudah melakukannya sekali, kamu tinggal menunggu aksi kedua mereka dan mungkin dengan cara lain."
"Saya bisa jaga diri."
"Kamu harus saya antar."
"Saya jalan kaki saja." Fajar terus saja pergi mengejar Jarot yang sudah menunggunya di halaman Universitas yang mulai sepi. Rosita nampak begitu kesal kekhawatirannya dianggap angin lalu. Ya, ia mulai mempunyai perasaan khawatir pada Fajar. Diluar soal reportasenya, ia tidak bisa membohongi bahwa ia mulai menyukai lelaki itu.
Sepuluh menit kemudian Fajar dan Jarot sudah menyusuri trotoar kota yang sepi. Dan mereka tidak tahu jeep  hardtop itu  mengikuti.
“Kamu kejauhan buat pulang, nginep saja ditempat kostku.”
Fajar melihat jam tangannya. Sudah tak ada bis kota. Naik taksi bisa sepuluh kali lipat naik Patas AC sekalipun.   
“Aman nggak?”
“Kamu kira tempat kostku sarang maling?”
Mereka terus menyusuri trotoar kota yang semakin sepi. Tidak ada sisa-sisa kesibukan kota metropolitan siang hari. Orang-orang lebih suka berada diatas ranjangnya dan bercinta dalam gairah yang membara. Siklus hidup ternyata sama dibelahan dunia manapun. Bekerja keras dan selebihnya untuk menikmati kesenangan.
Fajar dan Jarot tidak pernah tahu bahwa jeep hardtop itu terus mengikuti sampai didepan rumah tempat kost Jarot.
---------
Tiba-tiba pintu itu jebol terkena hantaman keras dari luar. Sinar lampu menerobos masuk ke dalam kamar ukuran 4 X 3 meter yang gelap itu. Empat laki-laki dengan pakaian tebal dan penutup kepala terbuat dari wol, tinggal matanya saja yang kelihatan, menyerbu ke dalam kamar. Ditangan mereka tersandang senapan mesin. Mereka bergerak cepat tanpa keributan yang berarti.
Dalam sepuluh detik, Fajar dan Jarot dibangunkan dengan paksa dan diborgol.  Dibawah todongan senapan, mereka tidak punya kesempatan membuka mulut, lalu diseret keluar kamar dengan sangat kasar. Dua menit kemudian, kamar itu telah kosong menyisakan sebuah sepi yang panjang.
Lima puluh tiga menit kemudian, kepala Fajar dibanting ke atas meja oleh sebuah tangan kekar, lalu dijambak rambutnya dan didongakkan ke atas. Darah keluar dari hidung dan mulut yang sudah robek. Fajar tidak bisa melihat sekelilingnya. Pandangannya kabur dan merasa akan dijemput malaikat maut. Ia duduk di kursi dengan kedua tangan diborgol ke belakang sandaran kursi. Sinar lampu hanya jatuh diatas kepalanya, sementara di sekelilingnya gelap.
Samar-samar Fajar melihat ada nyala puntung rokok yang disedot seseorang didepannya yang gelap. Ia yakin ada seseorang didepannya dan dugaannya benar karena dari sanalah sebuah suara keluar.
"Kamu tahu kenapa berada disini? Karena kamu sedang bermimpi menjadi pahlawan." Suaranya ketus, lalu membentak, “Dibayar sama siapa kamu untuk menghasut orang?!”
Fajar hanya bisa menggeleng. Mulutnya kaku karena berdarah.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu menghasut? Kamu PKI ya? Komunis ya?”
Fajar menggeleng lagi. Akibatnya kepalanya dibanting lagi oleh tangan kekar itu. Lampu di sudut lain ruangan itu menyala. Seorang Pemuda duduk di kursi listrik dan kelihatan tidak bertenaga sama sekali. Disampingnya terdapat sel-sel seperti penjara dan didalamnya berisi laki-laki yang semuanya masih berusia muda dalam keadaan kepayahan. Seperti tinggal menunggu giliran dijemput malaikat maut.
Fajar tak bisa melihat kalau di salah satu sel itu terdapat Jarot,  yang sedang dalam ketakutan yang luar biasa. Kacamatanya lenyap dan itu cukup menghalanginya melihat keadaan ruangan dan siapa yang telah membuatnya terguncang seperti itu. Sisa ingatannya hanya sampai pada detik dimana ia diseret dari dalam kamarnya. Selebihnya gelap, karena matanya terus ditutupi dengan kain hitam. 




 BAB TIGABELAS

Keadaan menjadi gempar. Berita hilangnya Fajar dan Jarot cepat menjadi berita hangat di Universitas. Berita demonstrasi di kota lain di koran pagi tidak berarti banyak.  Rosita dan Harry sudah berada di ruangan yang sedang berduka itu. Rosita nampak sibuk menelpon lewat handphone-nya. Ruangan itu menghentikan kegiatannya secara otomatis. Inaya kelihatan habis menangis dan duduk di sudut ruangan sendirian.
Seorang mahasiswa yang tampaknya menonjol segera mengambil alih keadaan dan membuat suatu rapat kecil. Tegang. Seperti menghadapi perang.  “Kesimpulan sementara kita adalah, Fajar dan Jarot diculik,” katanya berapi-api. “Dan kita akan mengirimkan wakil kita untuk melapor ke Kontras. “
Penculikan bukan berita mengejutkan bagi Rosita. Aktivis partai politik yang bersuara kritis, aktivis pro demokrasi yang menginginkan perubahan atau mereka yang dianggap bersuara vokal, telah banyak yang dilaporkan hilang dan belum pernah kembali. Bahkan ada yang telah delapan bulan tidak ada kabar berita, mati atau masih hidup. Keberanian untuk berbeda pendapat dan berpikir kritis, telah menimbulkan kemarahan Penguasa. Dengan dalih mengamankan bangsa dan negara, harus dilakukan tindakan keras terhadap mereka. Penculikan dalam drama rumah tangga biasanya karena ada permintaan tebusan uang. Para aktivis dan mahasiswa seperti Fajar dan Jarot diculik, jelas bukan minta tebusan harta benda.  
Sangat sulit bagi Rosita untuk melakukan penyelidikan. Semuanya serba gelap. Yang tersisa tinggal dugaan-dugaan berdasarkan desas-desus yang berkembang dari mulut ke mulut. Entah siapa yang pertama kali mengatakan bahwa para aktivis dan mahasiswa seperti Fajar dan Jarot, diculik oleh pihak aparat keamanan. Dilihat dari bukti lapangan, desas-desus tersebut sangat beralasan. Cara operasi mereka yang sangat rapi dan tidak meninggalkan jejak.
“Saya punya keyakinan bahwa ada oknum aparat keamanan dibalik penculikan mereka,” Rosita sudah duduk didepan Roy Ambyah dan menyodorkan berkas tulisannya beberapa lembar.
“Hati-hati kalau bicara,” Roy kelihatan tegang.
“Mungkin saya terlalu gegabah. Tapi saya sudah datang ke Kontras. Saya kira saya cukup punya data.”
“Selengkap apapun datamu, kita tetap tidak bisa menyiarkannya.”
“Ini menyangkut nyawa manusia!” Nada Rosita meninggi.
“Kamu juga harus sadar siapa yang kita hadapi. Saya sudah berhasil membujuk Chief untuk siaran live. Tapi tolong singkirkan berita gila macam ini.”
Mungkin permintaannya berlebihan. Agaknya ia sedang hidup di sebuah tempat yang semuanya menuntut serba hati-hati. Ia memang tidak siap untuk diculik seperti  Fajar. Tapi ia juga tidak bisa hanya sebagai orang yang selalu berkata ya, padahal hatinya mengatakan tidak. Apalagi ini menyangkut Fajar. Untuk alasan reportasenya barangkali sangat sepele. Tapi ia telanjur mengetahui begitu banyak hal tentang anak muda itu. Tiba-tiba ia tidak rela kalau harus kehilangan Fajar.

(bersambung)

Saturday, November 21, 2009

1998 (7)


BAB SEPULUH


Fajar sadar ketika pertamakali naik panggung untuk pidato, itulah saatnya ia siap merubah jalan hidupnya. Baginya itu sangat berat, tapi ia akan lebih merasa tidak bermartabat kalau hanya berdiam diri melihat perubahan yang diharapkan banyak orang itu. Kalau boleh memilih, ia memang lebih suka bekerja dan bisa terus menghidupi ibu dan dua adiknya. Tapi hidup tidak cukup hanya itu. Hidup membutuhkan banyak suara. Termasuk barangkali Nyonya Hartawan yang sangat amat menyakitkan. Ia ingin menghilangkan ingatannya dari suara bekas majikannya itu dengan berjemur matahari diatap gedung kampusnya.
Jarot datang melihat wajah sahabatnya yang sedih. “Aku takut kamu benar-benar lompat ke bawah, padahal perjuangan kita baru mulai.”
Fajar tidak bereaksi.
“Aku tahu kita sekarang sedang berusaha menyamakan hak, tapi soal jodoh, agaknya tidak masuk hitungan perjuangan kita.”
“Ini bukan soal perjuangan, Bung. Ini soal warna darah.”
“Kalau soal warna darah, darah kambing juga merah.”
“Aku tidak pernah percaya ada darah berwarna biru, kecuali kalau kelunturan blau.”
Jarot tertawa terbahak-bahak. “Makanya berhentilah bicara soal warna darah. Persoalannya mungkin lebih dari itu.”
“Tidak ada persoalan yang lebih penting sekarang daripada soal warna darah. Ini soal kehormatan keluarga!”
“Boleh saja, tapi kamu lupa soal timing, soal waktu. Buatlah dirimu jadi pahlawan dulu, baru melamar Inaya. Orangtua kita kan suka dengan orang yang dapat gelar? Apalagi bangsawan.” Jarot berdiri. “Sudah, cari dah gelar dulu.”
“Dimana?”
“Demonstrasinya?”
“Cari gelarnya.”
“Ah, sinting.” Jarot mulai beranjak. “Oya, dibawah sudah menunggu Rosita.”
“Menunggu siapa?”
“Yang pasti bukan menunggu Godot.”
***
Rangkaian petasan menyalak ramai. Asap dan serpihan kertas berhamburan di udara. Ada restoran Cina baru dibuka. Pemiliknya keturunan Tionghoa. Ini kawasan Pecenongan, salah satu daerah Pecinan Ibukota yang cukup elit. Pertumbuhan ekonomi kawasan ini tergolong tinggi karena salah satu kawasan perdagangan, terutama untuk bisnis orang keturunan Tionghoa jet set, selain Glodok dan Mangga Dua.
Fajar dan Rosita sedang berada disana dan ikut melihat kemeriahan yang jarang ada. Harry mengambil gambar tarian barongsai. Tarian yang sebenarnya tidak bebas dipentaskan karena ada larangannya. Mereka hanya lewat untuk terus menyusuri trotoar pertokoan yang berderet-deret.
“Bapak saya meninggal dalam perampokan di mobil Pak Hartawan.” Fajar bersedia bercerita karena permintaan Rosita sulit ditolaknya. “Ada tiga versi cerita. Versi Polisi, bapak saya yang merencanakan perampokan. Versi saksi, bapak saya melindungi Pak Hartawan dari bacokan perampok. Versi keluarga Pak Hartawan, bapak pantas mati sebagai sopir yang melindungi majikannya.”
“Kamu punya pendapat sendiri?”
“Saya tidak mau bapak saya diadili versi mereka. Saya hanya ingin bapak saya meninggal sebagai orang baik.”
Rosita melihat wajah Fajar menahan amarah. Laki-laki yang menarik latar belakang hidupnya. Ia telah begitu beruntung mendapatkan orang yang begitu kompleks kisah hidupnya, dan ia siap menunggu kejutan lain dari pemuda disampingnya itu.  Fajar tidak tampan, tapi pemuda itu mempunyai pesona. Rosita paham kenapa Inaya tertarik dengan Fajar. Pesona tidak akan pernah hilang, tapi ketampanan lenyap seiring dengan bertambahnya umur. Rosita pernah pacaran tapi karena tidak ada kecocokan, tidak bisa dipertahankan. Padahal ia telah siap menikah. Ia bukan perempuan yang suka mengoleksi laki-laki dalam daftar berpacaran karena ia tidak bisa menghabiskan sisa umurnya hanya untuk berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain. Memilih jodoh bukan seperti memilih barang. Barang terlihat jelek bukan berarti kualitasnya juga jelek. Kebaikan hati seseorang tidak bisa hanya dilihat dari baju yang di pakainya atau mobil yang di bawanya. 
Sudah lebih dari tiga tahun ia mengisi hidupnya sendirian. Ia tahu banyak rekan sekantornya yang berusaha mendekatinya. Tapi ia berhasil menghindarinya dengan bekerja keras sebagai reporter lapangan. Dan tiba-tiba bertemu Fajar. Ia tidak tahu persis kenapa bisa memilih Fajar sebagai bahan reportasenya. Ia merasa beruntung saja. Sekarang pun ia tidak perlu tahu sebabnya.
Mereka masuk ke sebuah toko roti besar yang didepan pintu masuknya bertuliskan TAN. Fajar bekerja sebagai sopir disitu. Toko cukup ramai. Fajar kebetulan bisa bekerja di toko Pak Tan. Seperti kisah dalam film Indonesia, ia menolong Pak Tan yang mobilnya mogok di pingir jalan. Setelah itu ia ditawari bekerja. Hanya itu, selebihnya ia telah menjalin hubungan baik dengan Pak Tan dan keluarganya.
Fajar menyapa seorang gadis dibelakang meja kasir. “Hallo, Kristin.”
“Hai, orang penting, kemana saja?” Gadis bernama Kristin bermata sipit, tersenyum lebar. Pramuniaga lain juga menoleh dan menyapa Fajar.
“Sombong ya, sudah masuk TV, jadi nggak kenal kita lagi.”
“Keren nggak saya masuk TV?”
Ruangan tertawa. Pak Tan keluar dari dalam dan senyumnya mengembang melihat Fajar.
“Tiga hari yang lalu saya ke rumah.”
Fajar menyalami Pak Tan. “Saya sibuk di kampus, Pak. Oya, kenalkan ini Rosita, Pak.”
“Ooo yang reporter TV itu ya.”
Rosita mengangguk. Semua pramuniaga menoleh ke Rosita.
“Mungkin saya akan bekerja lagi dalam dua tiga hari ini, Pak.”
“Atur saja. Kapan kamu ada waktu. Bapak senang lihat kamu teriak-teriak di TV. Begitu mestinya anak muda. Ayo ambil kursi, ajak duduk temanmu.”
Ini kejutan lain dari Fajar. Belum pernah Rosita melihat keakraban dua generasi berbeda dan dari ras yang berbeda. Di negeri ini, sangat sulit membangun hubungan seperti yang dilihatnya, kecuali bukti lain yang ia lihat pada kakeknya dan Pak Ong. Kakeknya bilang kepadanya bahwa ia berteman dengan Pak Ong bukan karena ras atau rasa kasihan dengan perlakuan diskriminasi sebagian orang di negeri ini. Kakeknya merasa Pak Ong adalah manusia, seperti juga dirinya.




BAB SEBELAS


Fajar tidak bisa menolak permintaan Rosita yang terus menerus mengikuti kegiatannya sehari-hari. Kekakuan diantara mereka sudah mulai hilang. Fajar mulai merasakan kehadiran seorang perempuan lain, setelah tidak bertemu dengan Inaya. Rosita tidak cantik tapi mempunyai daya tarik yang sanggup membuat setiap laki-laki setabah apapun akan terpacu jantungnya. Pintar, bersikap dewasa dan bisa menebak keinginan seseorang.
Pada akhirnya Fajar tidak bisa menolak keinginan Rosita yang memaksa ikut ke rumahnya di pinggiran kota. Kampung yang bagi kebanyakan orang disebut kampung pinggiran dan layak disebut kampung kumuh. Tapi Fajar merasa ia tinggal di kampung terbaik di dunia. Jalan kampung selalu semarak oleh anak-anak bermain. Ia berani bertaruh tidak ada pemandangan sesemarak ini di kampung lain di Ibukota ini. Barangkali tidak ada keindahan karena semua kelihatan kotor dan semrawut, tapi disana ada kehangatan. Ada teriakan tawa dan canda. Berbeda dengan di jalanan kompleks real estat yang menjamur di Ibukota. Seperti jalan di sepanjang rumah Inaya. Ia hanya melihat petugas keamanan yang mondar-mandir dalam jeda waktu yang ketat. Selebihnya adalah kesunyian yang panjang mirip kuburan. Ibukota telah terbagi menjadi hutan yang siap menegangkan jantung penghuninya.
Negeri ini sebenarnya tidak cocok dengan pengelompokan seperti itu. Sebutan negeri Timur yang terkenal dengan keramah tamahan penduduknya, agaknya siap tumbuh menjadi wild west. Rumah-rumah berpagar besi tinggi, bahkan diatasnya dipasangi pagar kawat berduri.  Kenyamanan seperti apakah yang didapat penghuninya. Bahkan, siapa tahu, dibelakang pintu telah disiapkan berbagai jebakan dan senjata api jenis AK-47.
“Saya lebih yakin orang seperti saya hanya akan jadi tumbal ketimbang jadi pahlawan,” kata Fajar tersenyum kecut.  Ia menggandeng Rosita yang kelihatan tidak siap berada diatas jembatan gantung yang membelah sungai kotor dari jalan raya menuju kampungnya.
Harry masih mengambil gambar di seberang sungai ke arah Fajar dan Rosita. Mungkin seperti adegan dalam film Rano Karno dengan Yessy Gusman tahun 80-an. Fajar tertawa dalam hati. Ia tidak tahu siapa Rosita dan kisah apa dibalik dirinya yang seorang reporter. Tapi ia tak punya waktu untuk mencari jawaban itu.
“Siapa tahu kamu orang pertama yang bisa jadi pahlawan.”
“Teman saya juga menyuruh saya mencari gelar pahlawan. Tapi saya malah khawatir saya orang pertama yang akan jadi tumbal.”
“Tidak selalu kita harus kalah.”
“Mungkin, tapi saya sudah kalah dalam segala hal.”
“Mungkin kamu hanya mengalah.”
“Saya orang yang tidak pernah dihibur.”
“Sama sekali saya tidak berusaha menghibur kamu. Kamu memang enggak pantas cuma dijadikan tumbal.” Nada suara Rosita terdenga gemetar. Kakinya terpeleset dan begitu saja ia meraih tubuh Fajar untuk dijadikan pegangan. 
Mereka berhenti di ujung jembatan dan berpelukan.
Harry mengambil gambar mereka. Hanya beberapa menit tapi itu adalah gambar yang paling menyegarkan setelah begitu lama ia hanya mendapatkan gambar kekerasan bentrokan mahasiswa dengan aparat keamanan.
Mereka berjalan kembali dan tidak lagi berbicara. Dada mereka saling terguncang dan tidak perlu mereka ungkapkan dengan kata-kata.  Sampai di halaman rumah, Fatimah, adik Fajar yang sedang  sibuk mengangkat jemuran, menghampiri kakaknya dan memberitahu, “Ada mbak Inaya.”
Fajar terkejut dan kelihatan menjadi bingung.
“Mungkin saya harus pergi.” Rosita sebenarnya mengharapkan sebaliknya.
"Kenapa harus pergi?"
"Kalian perlu privacy."
"Lalu kenapa kamu repot-repot ikut kemari?" Fajar menginginkan Rosita tetap tinggal. “Terserah kalau mau ketinggalan kisah sedih lainnya.”
Fajar terus saja masuk ke dalam rumah dengan wajah bingung. Rosita menoleh ke Harry, dan tampaknya Harry tidak mau pergi. Rosita mulai mengagumi Fajar dan segenap kisah hidupnya yang menurutnya heroik. Yang paling menarik perhatiannya adalah hubungan cinta Fajar dan Inaya. Tapi ia sekarang melihat hubungan itu terancam putus, dan sebaiknya bukan karena kehadirannya.

Di dalam kamar Fajar, Inaya sudah lama menangis. Matanya merah dan masih ada sisa air mata. Fajar berdiri di ambang pintu. Ingin sekali rasanya memeluk Inaya, tapi  mengingat wajah Nyonya Hartawan, keinginan itu diurungkannya. Ia tidak tega melihat perempuan menangis. Apalagi itu terjadi pada orang yang sangat disayanginya.
“Kalau masih ada gunanya menangis, menangislah.”
“Kamu mungkin tidak perlu menangis, karena kamu laki-laki.”
“Kalau aku harus menangis, itu adalah untuk nasibku.”
“Saya minta maaf soal Ibu.”
“Saya sedang berusaha melupakan saya ini orang hina, tapi ternyata tidak bisa. Mungkin tidak akan pernah bisa.”
“Kamu juga akan meninggalkan saya?”
Fajar terdiam.
“Oh, mungkin karena reporter wanita itu.”
Fajar menatap Inaya. “Kalau kamu masih ingat janjiku padamu, itulah yang akan aku pegang selamanya, meskipun kedengarannya seperti rayuan gombal.”
Inaya menunduk.  “Aku akan tinggal disini.”
“Aku yang tidak bisa tinggal di rumah kamu, Aya.”
“Kita tidak perlu kesana.”
“Kalau saja boleh begitu.”
“Kamu kira aku tidak berani meninggalkan orangtuaku?” Suaranya melengking. Mungkin sampai ke teras rumah dan Rosita bisa mendengarnya.
“Aku takut kamu kehilangan warna darahmu.”
Inaya berdiri dengan muka merah. Marah. “Kamu naif bicara soal warna darah!” Kelihatan sangat marah, lalu menyambar tas dan keluar kamar.
Fajar duduk di kursi karena merasa limbung. Ia bisa berdiri berjam-jam dibawah matahari pukul satu untuk berpidato didepan para demonstran. Tapi ia merasa nyaris pingsan di kamarnya sendiri. Kepalanya berputar. Entah berapa lama ia duduk dan melihat keluar jendela.
“Mas, tamunya sudah pamit pulang.” Fatimah sudah berdiri diambang pintu.
“Ibu sudah pulang?”
“Belum.”  
“Bikinkan kopi ya?” 

(bersambung)