Thursday, November 18, 2010

SYAM - Si Lelaki Misterius



Catatan : (Sumber tulisan dari Wikipedia Indonesia)

Nama aslinya adalah Sjamsul Qamar Mubaidah. Dia merupakan tokoh kunci G30S dan orang nomor satu di Biro Khusus PKI yang bertugas membina simpatisan PKI dari kalangan ABRI dan pegawai negeri sipil. Sjam kelahiran Tuban, Jawa Timur pada 30 April 1924. Pendidikannya hanya sampai kelas tiga Land & Tunbow School dan Suiker-School, Surabaya. Karena Jepang keburu masuk Indonesia, Sjam tidak menamatkan sekolahnya dan pada 1943 dia masuk sekolah dagang di Yogyakarta tapi itupun hanya sampai kelas dua. Setelah proklamasi kemerdekaan, Sjam ikut berjuang memanggul senjata dalam pertempuran di Magelang tahun 1945-1946, Ambarawa dan Front Mranggen, Semarang.

Dia sempat memimpin laskar di Front Semarang Barat. Sekembalinya dari Front tersebut, ia menjadi anggota Pemuda Tani dan menjadi pemimpin Laskar Tani di Yogyakarta. Tahun 1947, menjelang Agresi Militer Belanda I, ia membentuk Serikat Buruh Mobil, sebuah organisasi buruh yang berhaluan kiri. Pada akhir 1947, ketika Serikat Buruh Kapal dan Pelabuhan didirikan, Sjam juga menjadi pimpinan bakhan kemudian menjadi ketua. Ia banyak mempelajari teori Marxis pada periode tersebut. Pada tahun 1950, dia menjadi Wakil Ketua Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Tahun 1951 sampai 1957, dia menjadi staf anggota Dewan Nasional SOBSI

Dan barulah semenjak 1957 dia menjadi pembantu pribadi D.N. Aidit. Mulai tahun 1960, Sjam ditetapkan menjadi anggota Departemen Organisasi PKI. Empat tahun setelah itu, dia memperkenalkan bentuk pengorganisasian anggota-anggota PKI yang berasal dari ABRI. Lahirlah apa yang disebut Biro Khusus Sentral pada tahun 1964. Ketika mulai dekat dengan Aidit, Sjam menjalin hubungan dengan anggota ABRI. 

Channelnya sangatlah mengagumkan. Ia pernah menjadi informan Moedigdo, seorang komisaris polisi, yang kelak salah satu anak Mudigdo diperistri oleh Aidit. Sjam juga disebut-sebut pernah menjadi intelnya Kolonel Soewarto, direktur seskoad pada 1958. Melalui cabang-cabang di daerah, Sjam berhasil mengadakan kontak-kontak tetap dengan kira-kira 250 perwira di Jawa Tengah, 200 di Jawa Timur, 80 sampai 100 di Jawa Barat, 40 hingga 50 di Jakarta, 30-40 di Sumatera Utara, 30 di Sumatera Barat dan 30 di Bali. 

Sjam ibarat hantu yang bisa menyusup ke mana saja ia mau. Sehingga banyak orang yang yakin bahwa ia sebenarnya agen ganda. Dia tidak hanya bekerja untuk kepentingan PKI, tapi juga bertugas sebagai spionase untuk kepentingan-kepentingan lain. Ada yang meyakini bahwa Sjam adalah agen ganda untuk KGB dan CIA. Lalu ada juga yang bilang bahwa Sjam itu adalah orang sipil yang menjadi informan tentara. Sjam dianggap sebagai tokoh terpenting dalam peristiwa G30S ini yang membuat tidak hanya PKI, tetapi juga kekuatan-kekuatan politik nasionalis runtuh dalam beberapa hari. Dan setelah G30S meletus dan kemudian gagal (atau didesain untuk gagal), Sjam pun menghilang. 

Menurut Mayjen Tahir, perwira pelaksana Team Pemeriksa Pusat, Sjam ditangkap di daerah Jawa Barat sekitar akhir tahun 1965 atau awal 1966. Sjam diyakini sebagai tokoh kunci dalam peristiwa ini, namun sampai sejauh mana dia berperan? Saat Presiden Soekarno sakit, Sjam dipanggil Aidit ke rumahnya pada 12 Agustus 1965. Dalam pertemuan itu, Aidit mengemukakan suatu hal yaitu “Seriusnya sakit Presiden dan kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan segera apabila beliau meninggal”. Kemudian Aidit meminta Sjam untku “meninjau kekuatan kita” dan “mempersiapkan suatu gerakan”. Atas dasar instruksi tersebut maka Sjam dan rekan-rekannya dari biro khusus membicarakan ikut serta dalam “suatu gerakan”, dan memutuskan untuk mendekati Kolonel Latief, Komandan Brigade Infantry I Kodam Jaya, Letkol Untung, Komandan salah satu dari tiga batalyon pasukan pengawal istana Tjakrabirawa di Jakarta dan Soejono dari AU, komandan pertahanan pangkalan Halim Perdanakusumah. 

Petunjuk inilah yang menunjukkan bahwa Sjam adalah inisiator dari gerakan yang kemudian gagal. Sementara itu, eksekusi terhadap para jenderal,bukan atas inisiatif Sjam. Gathut Soekresno yang dihadapkan sebagai saksi atas perkara Untung tahun 1966 memberi petunjuk bahwa Doel Latief lebih berperan, kendati sebetulnya Mayor Udara Soejono adalah yang bertanggung jawab terhadap nasib para jenderal tersebut. 

Di pengadilan Sjam memang divonis mati. Tetapi banyak mantan tahanan politik di Rumah Tahanan Militer(RTM) Budi Mulia meragukan apakah Sjam betul-betul dieksekusi. Bahkan lebih banyak Sjam dilepas, ganti identitas dan hidup sebagaimana orang biasa atau bahkan sudah kabur ke luar negeri. Semua itu tidak lepas dari jasanya terhadap berdirinya Orde Baru di bawah Soeharto. Memang tidak banyak informasi yang kami dapat tentang Sjam Kamaruzzaman. 

DI MANA SYAM KAMARUZZAMAN ?

Monday, November 8, 2010

Karya Sastra Mengukuhkan Mitos


Banyak bencana alam (tsunami, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir bandang, tabrakan kereta api, kapal tengelam, busung lapar, dan lain-lain) dihubung-hubungkan dengan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan ada yang menganjurkan agar Presiden RI tersebut menyembelih kambing untuk tolak bala. Sesungguhnya hal itu merupakan lambang kebudayaan yang mengarah perlunya seorang pemimpin yang karismatik, sebagaimana yang diyakini masyarakatnya.

Guru Besar Ilmu Sastra pada Fakultas Bahasa Sastra dan Seni Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Hasanuddin WS, mengatakan hal itu berkaitan dengan mitos yang berkembang di masyarakat tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan bencana yang beruntun terjadi di masa kepemimpinannya."Satu di antara karismatik pemimpin adalah melalui kemampuan supernatural, misalnya mampu memvisi keadaan atau mempreduksi sesuatu yang bakal terjadi. Dengan demikian, masyarakat yang dipimpinnya akan mengakui kepemimpinannya dengan ikhlas (dalam tradisi kerajaan Melayu dikenal dengan istilah Daulat )," katanya, menjawab Kompas, saat dihubungi di Padang, Minggu (7/11/2010).

Hasanuddin menjelaskan, kehidupan manusia, dan dengan sendirinya hubungan antarmanusia, dikuasai oleh mitos-mitos. Dalam teks-teks sastra lama, banyak ditemui mitos-mitos tentang keajaiban dan kesaktian yang dimiliki raja, permaisuri, pangeran, dan lain-lain. Sejalan dengan itu, menjadi hal tidak aneh jika pada banyak karya sastra lama ditemukan mitos yang mengukuhkan hal-hal yang telah dipercayai masyarakat karena tuntunan masyarakatnya memang demikian.

Tidak hanya di era Susilo Bambang Yudhoyono ada mitos. Pada era Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, dan Gus Dur juga berkembang mitos-mitos. Bung Karno telah diramalkan akan menjadi seorang pemimpin besar, karena sewaktu beliau lahir, Gunung Agung meletus sebagai suatu pertanda telah lahir seorang calon pemimpin besar. Soeharto dimitoskan sebagai pemimpin yang mumpuni melalui cerita-cerita heroik, serta digambarkan pula bahwa beliau seorang kejawen yang baik ilmunya. BJ Habibie dan Gus Dus juga diberitakan suka mengunjungi makam-makam orang terkenal untuk menambah kemampuan supernaturalnya.

Hasanuddin berharap, baik kepada peneliti dan penelaah sastra maupun kepada satrawan, kajian kemelayuan dan keindonesiaan sebaiknyalah menyatu dan sejalan dengan kajian terhadap persoalan tradisi, mitologis, dan transformasi budaya. "Hal itu akan memberikan informasi yang memungkinkan peningkatan dan pembinaan terhadap kemampuan berapresiasi sastra," ungkapnya.

Sastrawan dan Guru Besar dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Sapardi Djoko Damono, pada acara Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, akhir Oktober lalu, mengatakan, perhatian terhadap khazanah sastra lama sudah selayaknya ditingkatkan. Sebab, kekayaan itulah yang bisa memberi keyakinan bahwa kita tidak hidup sekarang saja, tetapi benar-benar ada sejak berabad-abad yang lalu.

"Sastra lama merupakan salah satu landasan keberadaan kita sebagai suatu bangsa. Perhatian terhadap sastra lama ini sangat bermanfaat untuk meneguhkan adanya tradisi penulisan dalam sastra Indonesia; di samping itu sastra lama juga merupakan sumber acuan penting bagi karya satra masa kini," katanya. Menurut Sapardi, sastra adalah seni bahasa, dan dalam hal ini bahasa adalah mitos, istilah yang lebih keren untuk dongeng. Dongeng dihasilkan oleh masyarakat untuk menjawab begitu banyak pertanyaan yang muncul ketika mereka menghadapi dan menjalani kehidupannya.

Penulis: Yurnaldi
KOMPAS.SENIN 8 NOVEMBER 2010

Wednesday, November 3, 2010

Terorisme dan Film "in The Name of God"


Terorisme dan segala bentuk ekstimisme serta segala upaya radikalisme dan kekerasan merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan, walaupun hal itu dilakukan atas nama Tuhan, demikian kiranya pesan yang ingin disampaikan melalui sebuah film Pakistan, "In The Name of God". "Terorisme, ekstrimisme, dan radikalisme yang berbasis atas salah interpretasi terhadap ajaran Islam merupakan sesuatu yang salah, dan kami sedang mencoba mengenalkan bagaimana kehidupan warga Pakistan yang sebenarnya kepada dunia," kata Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Sanaullah.

Melalui acara pemutaran perdana film yang aslinya berjudul "Khuda Kay Liye", Selasa, Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta mengajak warga Indonesia untuk mengenali Islam di Pakistan secara lebih dalam sekaligus menegaskan posisi Pakistan sebagai negara yang menentang terorisme. "Saya harap anda akan memahami maksud pesan yang disampaikan dengan menganalisa setiap pesan yang ada dalam film tersebut," kata Dubes Sanaullah."Film ini telah menjadi perdebatan di antara para politikus, petinggi agama, parlemen, sineas, bahkan warga biasa," ujarnya.

Film garapan sutradara Pakistan, Shoaib Mansoor, ini diperankan 3 bintang muda yang berakting luar biasa, Shaan (sebagai Mansoor), Fawad Khan (Sarmad), dan Imam Ali (Mary).Lokasi film ini ini pun bertemat di tiga benua, Pakistan (Asia), Chicago (Amerika) dan London (Eropa).

Mansoor dan Sarmad adalah dua orang musisi muda berbakat yang sudah punya banyak penggemar di Lahore. Karena perbedaan pendapat, kedua orang yang sebenarnya bersaudara ini jadi terpisah. Mansoor memilih tetap menjadi musisi sementara Sarmad memilih menjalani hidup sebagai muslim garis keras. Sang kakak, Mansoor yang melanjutkan sekolah Musik di Amerika kemudian menikah dengan teman sekelasnya, warga Amerika, Janie (Austin Marie Sayre), sedangkan sang adik Sarmad (Fawad Khan) yang terpengaruh oleh seorang imam Islam Fundamentalis, meninggalkan karirnya sebagi musisi dan memilih bergabung dengan jaringan teroris Taliban.

Karena alasan agama, Sarmad menikahi paksa anak dari pamannya, Mary (Iman Ali) seorang gadis warganegara Inggris keturunan Pakistan yang semenjak lahir hidup di London dengan budaya Barat. Prinsip ayah Mary (Hussain), "Pria Muslim boleh menikahi wanita non-Muslim, namun sebaliknya wanita Muslim dilarang." Ayah Mary yang tidak tahan dengan gunjingan komunitas Pakistan di London karena Marry menjalin hubungan dengan pria kulit putih akhirnya mengajak putrinya ke Pakistan, untuk secara diam-diam menikahkan putrinya dengan Sarmad. Mary pun terpaksa harus tinggal di daerah terpencil di perbatasan Pakistan-Afganistan sampai pemerintah Inggris menyelamatkannya. Kemudian terjadilah peristiwa 11 September 2001 yang merombak segalanya, bukan saja meruntuhkan Menara Kembar di New York namun banyak warga dari negara Muslim, seperti Pakistan, yang dituduh terlibat jaringan terorist Al Qaida pimpinan Osama Bin Laden.

Dalam film yang berdurasi lebih dari dua jam tersebut banyak terdapat dialog-dialog tentang pro-kontra dalam agama Islam, tidak hanya seperti yang terjadi saat ini antara Barat dengan Islam, tapi juga Muslim garis keras dengan Muslim moderat.

Shoaib Mansoor seolah mendambakan Pakistan yang lebih terbuka setelah tokoh Mary yang memenangkan hak asuh anak dan gugatan di pengadilan, walau pada akhirnya ia membatalkan tuntutan dan kembali ke wilayah pedalaman Afghanistan, tempat ia disekap selama beberapa lama.

Dalam praktiknya justru kini Taliban terus memerangi pemerintahan berdaulat Pakistan dengan menuduh pemerintah yang berlegitimasi itu sebagai "boneka" yang dikendalikan oleh Amerika Serikat, sekutu mereka di masa Perang Dingin, saat seterunya India memilih Rusia sebagai mitra yang erat.

Film "In The Name of God" sendiri telah mendapatkan sejumlah penghargaan dari berbagai festival film dunia khususnya dalam JIFFest (Jakarta International Film Festival) mendapatkan sebutan sebagai, "Film dengan Aklamasi secara Menyeluruh." "Khuda Kay Liye: In The Name of God" akan diputar di bioskop-bioskop Jakarta terhitung 4 November nanti.

KOMPAS 3 NOVEMBER 2010