Sunday, April 10, 2011

KISAH 13 PEMBUNUH


inilah film yang merupakan karya penyutradaraan terbaru Takashi Miike; sineas Jepang yang tingkat kepopulerannya di kalangan insan perfilman sudah sangat mendunia. Sineas asal negeri matahari terbit ini sangat terkenal dengan karya penyutradaraannya yang kontroversial karena kecenderungannya untuk menyajikan adegan kekerasan maupun muatan seksual yang ekstrim dan mengejutkan, meski ia juga sudah terbukti piawai menggarapfilm-film yang ‘ramah dan aman dikonsumsi’. Kali ini Miike mengadaptasi ulang film lawas berjudul sama yang dulu diproduksi di tahun 1963.

Pada masa menjelang akhir periode Edo di Jepang, seorang pejabat dari wilayah Akashi; Tosho Mamiya (Uchino) melakukan aksi bunuh diri di depan gerbang Roju bernama Lord Doi (Hira). Seraya melakukan aksinya, Mamiya sempat menuduh penguasa wilayah Akashi; Naritsugu Matsudaira (Inagaki) melakukan tindak kejahatan seperti pembunuhan dan pemerkosaan.

Adapun, Matsudaira sendiri; yang berstatus sebagai adik kandung Shogun bernama Ieyoshi, akan bergelar Roju pada tahun berikutnya. Klan Shogun yang mendengar peristiwa itu merasa terusik dengan kasus itu dan yakin bahwa pemimpin Akashi itu merupakan ancaman serius bagi stabilitas dan kedamaian negeri. Lord Doi kemudian memutuskan untuk melakukan aksi pembunuhan terhadap Matsudaira dengan mengutus seorang samurai; Shinzaemon Shimada (Yakusho) sebagai pengemban mandatnya.

Untuk mensukseskan misinya, Shimada mengumpulkan 11 orang pria, termasuk di antaranya keponakannya sendiri; Shinrokuro Shimada (Yamada) yang sangat menggemari berjudi, alkoholik, dan main perempuan.Rencana pembunuhan itu sampai juga ke telinga kepala samurai kubu Matsudaira; Hanbei Onigashira (Ichimura), yang bertahun-tahun lalu berguru ilmu pedang bersama-sama dengan Shinrokuro, namun perbedaan ideologi antara keduanya, memutus tali pertemanan mereka.

Shinzaemon percaya bahwa peluang terbaik untuk menghabisi Matsudaira ada dengan melakukan serangan mendadak di kota Ochlai, kala sang target kembali dari Edo. Dalam proses menjalankan rencana ini ke-12 samurai ini berjumpa dengan Koyata Saga (Iseya) yang kemudian bergabung menjadi anggota ke-13 mereka.

Saat datangnya melancarkan misi, di luar dugaan mereka, pihak lawan ternyata sudah menyiapkan pasukan samurai beranggotakan lebih dari 200 orang Pertempuran berdarah tak lagi bisa dihindarkan. Karya penyutradaraan Miike ini jalinan kisahnya agaknya bisa membuat para insan perfilman maupun publik sedikit banyak akan teringat pada salah satu karya masterpiece Akira Kurosawa yang berjudul THE SEVENTH SAMURAI. Sebagai informasi di film yang disarati nama-nama kondang dunia perfilman Jepang masa kini ini berhasil menuai sambutan yang menggembirakan dari kalangan kritikus, ketika diputar dalam berbagai festival film internasional.

Starring : Mikijiro Hira, Goro Inagaki, Koji Yakusho, Tsuyoshi Ihara, Takayuki Yamada, Masachika Ichimura, Yusuke Iseya, Ikki Sawamura, Kazue Fukushi, Mitsuki Tanimura, Sousuke Takaoka, Arata Furuta
Directed by : Takashi Muke


TRAILER:

http://www.youtube.com/watch?v=e0xbHPE79kQ

Friday, April 8, 2011

LIMITLESS: JIKA SEORANG PENULIS KEHABISAN IDE


Eddie Morra (Bradley Cooper) seorang penulis yang sedang kehabisan ide, baru putus dari pacarnya. Meski ia sudah tak lagi jadi pecandu kokain namun masa depannya bisa dibilang tak jauh dari kata suram. Sampai ketika Eddie bertemu dengan teman lamanya yang memberinya sebuah obat yang tidak biasa; obat yang mampu mengaktifkan seluruh sel dan kemampuan otak manusia. masa depan Eddie tiba-tiba saja berubah total.Obat itu bernama MTD-48, obat yang konon bisa memacu kerja otak sehingga kita bisa memanfaatkan 100% dari kemampuan otak kita. Ternyata, janji itu bukan sekedar omong kosong. Eddie memang berubah. Ia bisa menulis buku hanya dalam waktu satu hari saja. Ia bisa belajar bahasa asing dalam waktu sangat singkat dan tak ada hal yang tak bisa ia pelajari dalam waktu cepat.

Eddie lantas memanfaatkan kemampuan supernya ini untuk mendapatkan uang dengan cara cepat. Sayangnya, ada orang yang cukup peka untuk melihat kemampuan Eddie ini. Orang itu adalah Carl Van Loon (Robert De Niro) yang kemudian mencoba untuk memanfaatkan kemampuan Eddie untuk keuntungan pribadinya. Celakanya itu bukan satu-satunya masalah Eddie. Masih ada polisi dan sekelompok penjahat yang ternyata juga mengincar Eddie untuk tujuan yang sama.

ide yang baru.

Monday, April 4, 2011

Bunuh Diri Kebudayaan


Ada ungkapan penyair Jerman, Heinrich Heine, ”Di mana mereka membakar buku, ujung-ujungnya mereka akan membakar manusia”. Memang demikian. Memusnahkan teks-teks historikal dan kultural bukan sekadar membakar kertas; untuk mengatakannya dengan mengerikan, ini adalah upaya satu pihak menghapus total pihak-pihak yang dibencinya. Rezim revolusioner Maximilien Robespierre (1793-1794), yang memenggal 16.000 kepala, tercatat menghancurkan dua pertiga dari satu miliar dokumen sejarah Perancis. Menyingkirkan feodalisme Louis XVI diidentikkan menghabisi segala catatan masa lalu.

Contoh serupa, di antara para akademisi Irak, tersebar pandangan pemerintahan George Bush sengaja tak menugaskan tentara menjaga situs-situs bersejarah saat pasukan AS masuk—perlakuan beda terhadap Kementerian Perminyakan.Tank Amerika melabrak masuk Akademi Ilmu Pengetahuan Irak. Penjarah mengikutinya. Sebanyak 170.000 koleksi Museum Nasional Irak, termasuk artefak tulisan-tulisan pertama peradaban manusia, rusak. Lenyap.

PDS Jassin

Donald Rumsfeld, Menteri Pertahanan kabinet Bush, menganggap media melebih-lebihkan kekacauan dan luput mengangkat kebebasan serta demokrasi yang dibawa ke jalanan Irak pascatumbangnya patung- patung diktator Saddam Hussein. ”Keberhasilan militer paling mencengangkan dalam sejarah manusia”—menyitir istilah penyiar berita stasiun FOX yang mendukung invasi itu. Bagi para cendekiawan Irak, itu kekerasan dan penghinaan amat brutal.

Paling jelas, jejak-jejak sejarah bangsa Irak—berbagai peninggalan tak ternilai kunci pembuka episode kehidupan manusia yang masih kabur—takkan pernah kembali. Alasan mengutuk biblioklasme, genosida kebudayaan, perusakan artefak historis amat jelas—apakah misi demokrasi AS yang disokong artileri baja membenarkan pelibasan habis-habisan jejak orang- orang Irak menjadi dirinya? Apa yang lebih sadis dari satu tindakan yang membuat sekian juta pendahulu bangsa itu seakan tak pernah ada atau dilahirkan?

Ada lagi kesadisan serupa yang berpilin keteledoran luar biasa. Tentang dokumen-dokumen historis di Indonesia yang merana di hadapan rencana konstruksi gedung DPR yang spektakuler; tentang artefak-artefak, yang menceritakan apa yang mengonstitusi siapa diri kita kini, yang diabaikan dan terancam punah di hadapan kemewahan elite politik.PDS HB Jassin yang tiba-tiba mencuri perhatian para elite politik adalah puncak gunung es situasi miris pusat-pusat dokumentasi di Indonesia. Liputan Kompas (27/3) memberi nama sejumlah gudang sejarah yang terancam dan mati.

Dicuri negeri asing

Masih banyak halaman gelap sejarah Indonesia. Pertengahan 1960-an salah satunya, yang usai reformasi diembus angin segar penerbitan teks-teks memoar maupun penelusuran historis.Juga periode kerajaan di Kepulauan Nusantara yang memperlihatkan kehidupan maritim yang kosmopolit, terbuka, disangga mekanisme check and balance kekuasaan—di masa jauh sebelum demokrasi. Itu kini gelap dan jauh karena ulah kolonial dan Orde Baru yang memperlakukan Indonesia semata daratan untuk dikuasai terpusat, satu, utuh, melingkar di Jakarta.

Penulisan sejarah pun mengeksklusikan kelompok Tionghoa-Indonesia, menempatkannya semata ancaman perekonomian pribumi atau kesatuan negara. Telaah Claudine Salmon, Pramoedya Ananta Toer, Leo Suryadinata, sebaliknya, mencatat peran signifikan kelompok ini membentuk gagasan keindonesiaan awal abad ke-20, lewat perdebatan di media cetak maupun karya-karya sastra.

Bagaimana jika kilau historis yang tak dapat tempat sepantasnya dalam imajinasi keindonesiaan kita itu hilang karena jamur kertas atau genteng gudang sejarah yang bocor?Tak heran, pada harinya nanti, diri kita tak lagi punya kita. Milik negeri asing, entah Amerika, Eropa, China, atau Arab. Mereka yang mencuri dan menyimpan data terbaik kita. Sementara kita berproses yang tak lebih dari bunuh diri sosiohistoris. Membiarkan sejarah kita hancur bersama waktu.

GEGER RIYANTO Penulis Esai-esai Humaniora; Alumnus Sosiologi FISIP UI; Aktivis Bale Sastra Kecapi

KOMPAS Senin 4 April 2011