Sunday, December 23, 2012

MAS KAREBET 15

BAB 15



KAREBET jongkok di depan kuburan Ki Buyut Jayadi. Banyak sekali yang sebenarnya ingin ia tanyakan kepada lelaki tua bekas abdi dalem almarhum ayahnya itu. Tapi rupanya ia harus mencari jawaban atas pertanyaanya entah dimana. Ia mulai disadarkan bahwa masa lalunya ternyata masih mengandung banyak teka-teki. Akan ia cari jawaban, supaya ia bisa lebih tahu siapa dirinya. Akan ia tanyakan kepada siapa saja yang bisa memberinya jawaban.
     Salah satunya adalah Ibunya. Ia yakin Ibunya tahu semua masa lalunya. Tahu semua leluhurnya. Ia sudah harus menyusun daftar pertanyaan di kepalanya sebelum tiba di padukuhan Tingkir. Tapi darimanakah ia harus mulai bertanya? Aryabajageni memberinya banyak rahasia yang masih harus dibuktikan kebenarannya. Mimpinya di bukit Telomoyo masih terus menggangu tidurnya, meskipun telah ditafsirkan oleh Sunan Kalijaga. Tapi bagaimana ia harus mempercayai jawaban itu?
Tiba-tiba kepalanya penuh.
Ia harus buru-buru meninggalkan padukuhan Pingit ini.
     Tapi di mulut kuburan, Dadung Awuk dan Roro Sendang sudah menunggunya. Dadung Awuk membawa buntalan kain di bahunya.  Seperti hendak bepergian.
     “Kau mau pergi jauh, Dadung Awuk?” tanya Karebet.
     “Seperti kata raden, saya akan mencari ilmu.”
     Karebet senyum dan berjalan melewati Dadung Awuk.
     “Tapi saya putuskan untuk ikut raden.”
     Karebet berhenti. “Saya akan pulang ke Tingkir.”
     “Sama saja bagi saya.” Dadung Awuk berkata tegas. “Yang penting buat saya, saya akan mendapatkan ilmu kanuragan yang saya inginkan.”
     “Kau masih dibutuhkan disini untuk menggantikan Ki Buyut Jayadi.”
     “Saya tidak tahu bagaimana  memimpin rakyat dan saya tidak kepingin jadi pemimpin. Kalau saya memaksakan diri, saya takut bukan menjadi baik, malah hancur tidak karuan nanti padukuhan ini.”
     Karebet melihat Roro Sendang yang diam saja. “Bagaimana dengan Roro Sendang?”
     Dadung Awuk menatap dalam Roro Sendang, seperti menembus ke dalam matanya. “Saya memang mencintainya. Tapi seperti kata raden, saya mulai ragu akan kesetiaannya.”
     Roro Sendang kaget bukan main. “Apa?!” Matanya seperti mau loncat keluar. “Jadi kakang mau mencampakkan aku seperti sampah?!”
     Dadung Awuk menjadi gugup. “Bukan begitu, Sendang. Maksud kakang….”
     Mata Roro Sendang jadi liar menatap Dadung Awuk dan Karebet. “Kalian laki-laki, sama-sama bajingan!!”
     Roro Sendang pergi berlari sambil menumpahkan air matanya. Kelihatan sangat marah dan kecewa. Dadung Awuk tidak jadi berteriak memanggil. Ia kelihatan serba salah, tapi sikapnya sudah jelas. Ia akan mengikuti Karebet. Ia ingin menjadi teman perjalanan, bahkan ia siap untuk di jadikan pembantu.
     “Aku terbiasa berjalan sendiri,” gumam Karebet.
     “Saya tidak akan merepotkan Raden. Saya juga rela di jadikan pembantu Raden.”
     “Memangnya siapa aku membutuhkan pembantu?” Karebet melihat ketulusan niat Dadung Awuk lewat matanya.
     “Saya memaksa ikut, Raden.”
     Karebet menatap Dadung Awuk.
“Kau akan berubah pikiran di perjalanan.”
“Mungkin. Tapi setelah saya banyak menimba pengalaman bersama Raden.”
Karebet berpikir lagi tapi kemudian dia berkata, “Baiklah, kau boleh ikut.”
     “Terimakasih, Raden.” Betapa gembiranya Dadung Awuk.
     “Sayang caramu tadi sama saja membunuhku,” kata Karebet sengit.
     Dadung Awuk nyengir. “Hanya itu cara saya bisa pergi, Raden.” Matanya masih melihat menghilangnya Roro Sendang di tikungan jalan. “Cita-cita saya lebih besar dari cinta saya kepada Roro Sendang.”
     “Tapi aku jadi jelek dimata Roro Sendang.”
     “Yang penting tidak jelek di mata saya.”
     Lalu mereka dikagetkan suara gemuruh dari bukit Siaul. Mereka menoleh. Tampak langit menghitam oleh asap yang membumbung ke langit. Asap dari pembakaran. Terdengar juga suara banyak orang beteriak ramai.
     “Para penduduk sudah membakar pesantren itu.”
     “Mungkin itu lebih baik.” Karebet lantas jalan.
     “Sebenarnya bagaimana Raden bisa mengusir Aryabajageni itu?”
     “Aku juga tidak tahu.”
     “Raden mengalahkan Aryabajageni, kan?”
     “Tidak.”
     “Buktinya pesantren itu sudah kosong waktu didatangi penduduk Padukuhan.”
     “Tidak penting lagi dibahas.” Karebet berbalik menghadapi Dadung Awuk. “Jadi Kau serius mau ikut aku?”
     “Duarius.”
     “Ada syaratnya.”
     “Apapun syaratnya saya sanggup.”
     “Pertama, jangan panggil aku raden.”
     “Beres.”
     “Kedua, panggil aku Karebet.”
     “Karebet?”
     “Itu nama asliku.”
     “Ooo. Pantesan waktu diatas bukit saya mendengar nama Karebet. Tapi bukankah bangga memakai nama Jaka Tingkir?”
     “Kalau kau mau, ambil saja.”
     “Memangnya barang diambil.”
     “Karena kau dari Pingit, ganti saja namamu jadi Jaka Pingit.”
     Dadung Awuk tertawa. “Jaka Pingit? Gila, keren juga. Raden…eh maaf, kau ternyata baik hati.”
     Karebet sudah berjalan.
     “Ngomong-ngomong, habis dari Tingkir, kita pergi kemana?”
     “Syarat ketiga, jangan cerewet.”
     Dadung Awuk nyengir. “Maaf. Tapi satu lagi. Bener ini yang terakhir. Bagaimana saya memanggilmu. Bet, Kar atau Rebet?”
     “Tidak mutu blas pertanyaanmu.”
     Dadung Awuk tertawa terbahak-bahak.  
(bersambung) 

Friday, December 21, 2012

MAS KAREBET 14

BAB 14



Di depan Karebet sudah menghadang lebih dari duapuluh lelaki berseragam merah. Lengkap bersenjata dan siap untuk membunuhnya. Karebet menatap mata mereka yang buas. Ia tahu persis, mereka orang yang siap mati dalam keadaan apapun. Karebet justru lebih takut menghadapi orang semacam ini daripada orang yang sudah jelas tinggi ilmu kanuragaannya. Mereka siap melakukan cara apasaja untuk membunuh lawannya, sepanjang nyawa mereka masih ada di raga mereka. Jenis perlawanan yang dimiliki oleh ketaatan kepada pemimpinnya dan kepada ajarannya.
 “Aku hanya berurusan dengan guru kalian.”  Karebet berusaha untuk basa-basi, siapa tahu mereka masih mau mendengarnya. Tapi memang sia-sia. Mereka sudah bergerak setelah Karebet selesai bicara. Karena sudah memperkirakan serangan itu, Karebet sudah lebih dulu mengeluarkan ikat kepalanya dan dia bergerak berputar badannya menyamping.
     Para Lelaki berseragam merah itu tidak ada yang sempat melawan. Mereka jatuh dan kesakitan dalam waktu hampir bersamaan. Hampir semua tidak bisa berdiri lagi dengan cepat. Yang berdiri lagi segera akan menyerang, tapi bengong. Karebet sudah melesat lari seperti kijang. Tubuhynya bergerak menembus pepohonan lebat.
Tidak lama ia sampai di halaman rumah besar itu.
Sepi.
Angin menerbangkan dedaunan kering.       
     Karebet berdiri tegang. Ia yakin Aryabajageni tahu kedatangannya. Tanpa perlu diteriaki untuk keluar, ia yakin orang itu akan keluar sendiri. Tapi caranya keluar, Karebet tidak menduga sama sekali.
     Tanah didepannya bergetar seperti gempa bumi. Dari dalam tanah seperti ada yang sesuatu mendorong. Sesuatu yang besar sekali. Sesuatu yang hidup. Karebet mundur. Dari dalam tanah muncul seekor cacing tanah. Besar dan mengerikan wajahnya. Cacing sebesar manusia itu berguling dan berubah menjadi tubuh Aryabajageni. Duduk bersila di tanah dan tertawa.
     “Kau mampu melakukan itu?” tanya Aryabajageni meledek.
     Tenggorkan Karebet kering. Pertamakali dalam hidupnya, lawannya adalah jenis manusia yang mungkin langka. Dari kemampuannya ia tidak terlalu kagum, tapi cara hidup dan apa yang ditempuhnya adalah sesuatu yang sama sekali baru baginya. Soal kemampuannya, ia yakin masih dibawah Arybajageni. Tapi ia tidak takut. Itulah satu-satunya modalnya berdiri didepan Aryabajageni tanpa harus lari melihat cara munculnya.
“Itu hanya permainan murahan,” katanya lirih.
Aryabajageni belum sempat tertawa ketika tubuh Karebet sudah melesat dengan sangat cepat. Cara melesatnya juga bukan kebiasaan orang bertarung dari depan lawannya. Ia tahu lawannya lebih hebat. Dengan memberikan sedikit pancingan gerakan menyamping, Aryabajageni langsung serius menghadapinya. Karebet langsung mengerahkan semua kemampuannya menyerang Aryabajageni. Ia sedang melawan orang yang mungkin paling hebat sepanjang ia mengembara. Jadi ia tidak mau kesempatannya terbuang dengan sia-sia. Kalau ia tidak memulainya, ia tidak pernah tahu kapan masalahnya bisa selesai.
     Aryabajageni dipaksa melawan Karebet. Lelaki berwajah tirus itu melihat gerakan Karebet yang berbeda dari pendekar pada umumnya. Untuk itu ia kemudian memaksa Karebet bertarung dengan jurus-jurus yang tidak biasa. Jurus-jurus yang ia yakin tidak bisa diimbangi Karebet. Tapi dugaaannya meleset. Karebet bisa mengimbangi seluruh serangan balik yang datang darinya. Bahkan kemudian bisa mematahkan jurus-jurusnya.
     Karebet tidak pernah belajar silat di sebuah perguruan. Ia tidak pernah tahu dimana ia bisa mendapatkan sebuah perguruan silat yang bagus. Ia orang yang tidak pernah mau setengah-setengah. Kalau perguruan itu tidak bagus dan terkenal, lebih baik ia tidak berguru sekalian. Ia lebih banyak belajar dari pendekar yang dikenalnya di tempat bertapa, selebihnya berlatih sendiri. Jadi kalau dipaksa bertarung dengan jurus yang aneh, ia bisa jauh lebih aneh. 
     Aryabajageni mundur dan mendengus, “Ternyata kau memang mempunyai ilmu kanuragan lumayan,” katanya sengit tanpa sadar bahwa ia mengakui kehebatan Karebet. “Tapi aku tidak mau bermusuhan denganmu. Aku ingin menjadikanmu muridku.”
     “Aku akan berguru padamu kalau kau bisa mengalahkanku,” jawab Karebet tegas. Ia tahu persis ia tidak akan bisa mengalahkan lelaki didepannya itu tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membebaskan warga padukuhan Pingit. Satu-satunya cara ia harus kelihatan jauh lebih berani untuk menutupi kelemahannya.
     “Kau tidak akan mampu mengalahkanku, Karebet. Aku juga tidak akan melukaimu. Jadi percuma saja pertarungan ini.”
     “Selama kau tidak pergi dari padukuhan ini, aku tetap akan melawanmu.” Karebet tidak bergeming. “Soal aku tidak bisa mengalahkanmu, itu bukan urusanku. Tapi aku tidak akan pergi meskipun aku kalah olehmu.”
     Aryabajageni tidak menyangka akan mendapatkan lawan Karebet. Seorang pemuda yang kelihatan tidak istimewa dan tidak hebat ilmu kanuragannya. Tapi betapa Karebet ternyata seorang pemuda yang ksatria. Pemuda itu sama sekali tidak takut menghadapinya saat semua orang menakutinya. Apa yang dibela Karebet juga orang-orang padukuhan yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Sikap ksatria Karebet membuat Aryabajageni harus mengakui ada kehebatan tersembunyi didalam diri Karebet. Dengan ilmu pamungkasnya, ia bisa saja meremukkan tubuh Karebet. Tapi ia tidak yakin pemuda itu akan binasa. Pemuda didepannya itu menyimpan suatu yang besar. Aryabajageni tidak tahu apa itu, tapi ia tiba-tiba merasakan bahwa Karebet adalah orang yang sulit ditaklukan.
     Karebet menduga Aryabajageni sedang mempersiapkan ilmu pamungkasnya untuk menutup pertarungan dengannya. Makanya kemudian ia diam-diam merapal ilmu yang dikuasainya paling tinggi. Ia menamakan ilmunya Ajian Serat Jiwa. Ilmu yang dipelajarinya dari seorang pendekar bernama Arya Kumbara yang berasal dari Madangkara. Ia tidak tahu persis dimana Madangkara tapi ilmu yang dilihatnya adalah sejenis ilmu yang sangat mematikan dan sulit dicari tandingannya. Pada mulanya ia merasa bahwa Ajian Serat Jiwa terlalu sadis dalam membunuh musuhnya. Ilmu  itu jahat seklii.
Tapi Arya Kumbara pernah berkata, “Hitam atau putih ilmu itu tergantung dari yang memakainya. Kalau ia dipakai untuk kejahatan, hitam ilmu itu. Tapi kalau dipakai untuk kebaikan, jadi putih ilmu itu.”
Sejak itu ia mulai mempelajarinya setelah diajari dasar ilmu itu oleh Arya Kumbara. Karena ada beberapa jurus yang tidak ia sukai, maka kemudian ia menciptakan sendiri ajian itu. Setelah beberapa waktu mempelajari ajian serat jiwa, ia mencobanya pada sebuah pohon trembesi. Dan pohon trembesi luluh lantak setelah dihajar ajiannya.
     “Aku ingin masalah ini cepat selesai, jadi mari kita selesaikan pertarungan ini.” Berkata begitu Karebet menyerbu.
     Aryabajageni tidak menyangka Karebet akan menyerangnya begitu deras,  serbuan tenaga yang terlalu besar. Mau tidak mau ia harus mengerahhkan ilmunya untuk membentengi dirinya. Ia merasakan hawa panas pada serangan Karebet dan ia merasakan bahwa pemuda itu tidak main-main lagi untuk menyerangnya.   Lama kelamaan ia mulai merasakan tubuh dan tenaganya tersedot oleh serangan Karebet. Ia merasakannya jelas sekali. Sendi-sendi tulangnya mulai terasa kaku dan kulitnya mulai mengeras.
     Hanya dengan merubah tata letak tangan dan kakinya, Aryabajageni sudah membendung serangan Karebet. Ia mulai tersenyum melihat pemuda itu mulai meningkatkan serangannya tapi jelas sekali seperti membentur tembok. Karebet memang merasakan serangannya mulai tidak berhasil. Baginya luar biasa sekali Aryabajageni. Dalam waktu yang sangat singkat bisa membuat ilmunya nyaris tidak bisa menembusnya.
     Karebet meningkatkan serangan Ajian Serat Jiwanya. Tapi semakin kuat juga Aryabajageni membendungnya. Ternyata semakin kuat dibendung, semakin kuat Ilmu Serat Jiwa menembus pertahanan Aryabajageni. Hal itu membuat Aryabajageni kerepotan dan tidak ada jalan lain baginya kecuali mengahiri perlawanan Karebet dengan caranya.
     Aryabajageni sangat menghormati Ki Ageng Kenongo, ayah Karebet, sebagaimana ia menghormati gurunya Syekh Siti Jenar. Ketika bertemu Karebet ia menemukan banyak harapan. Terlebih soal ajaran gurunya yang harus disebarluaskan. Selama ini ia terus diburu pihak kerajaan Demak karena menyebarkan ajaran Syekh Siti Jenar. Ia tidak tahu dimana letak kesalahan ajarannya karena berbeda pendapat menurutnya tidak ada yang bisa melarang. Sewaktu masih hidup,  Ayah Karebet sangat mendukungnya dalam soal penyebaran ajaran Syekh Siti Jenar. Dan setelah Ki Ageng Kenongo juga dihukum pihak keerajaan Demak sebagaimana Syekh Siti Jenar, ia merasa seperti sendirian dalam menyebarluaskan ajarannya.
     Ketika bertemu dengan Karebet harapannya muncul. Paling tidak ia mempunyai banyak tawaran yang bisa diterima Karebet. Perlawanan Karebet terhadap dirinya bukan dalam soal ajarannya tapi lebih kepada pembelaan kepada warga desa Pingit. Aryabajageni masih berharap banyak Karebet adalah penerus dari ajaran Syekh Siti Jenar. Makanya ketika serangan Karebet semakin gencar, ia segera berteriak mengguntur dan mengibaskan tangannya.
     Bukan sembarang kibasan tangan. Tapi kibasan tangan yang mengandung ilmu pukulan yang sangat besar. Buktinya Karebet yang sedang mengerahkan Ajian Serat Jiwanya dalam kondisi tertinggi, langsung terdorong mundur dan dadanya seperti jebol. Hanya dalam kedipan mata, Karebet mengaum keras seperti harimau lapar. Meskipun ia merasakan dadanya jebol dan badannya luluh lantak, ia masih dapat menguasai pikirannya. Sebenarnya ia ingin pura-pura terluka parah dan tidak bisa bangun, agar Aryabajageni terpuaskan tinggal menunggu serangan terakhir. Tapi nyatanya Aryabajageni tidak menyerang, jadi Karebet berubah pikiran dengan mengaum keras.
     Dengan segenap pengerahan ilmu yang pernah dipelajarinya, ia menyerbu dengan pekikan yang dahsyat, “Kau akan tahu aku tidak akan bersahabat denganmu.”
     Terjangan Karebet kali ini membuat Aryabajageni terkesiap. Ia melihat Karebet berubah dari aslinya. Pemuda itu sudah dikuasai sesuatu dan ia tahu ada sesuatu di badan pemuda itu. Auman itu menandakan ada kekuatan tersembunyi pada diri Karebet. Tapi ia belum tahu apa karena serangan Karebet benar-benar merepotkan. Hawa serangannya sangat berbeda dengan serangan awalnya.
     Karebet sendiri sesungguhnya sudah menyadari akan bahaya yang sedang mengancam dirinya. Ia sudah telanjur terbakar hangus oleh nafsu amarah. Dan ia begitu saja mengaum, merasakan ada dorongan kekuatan lain dari dalam dirinya.  Ia tidak peduli lagi dengan kesaktian Aryabajageni. Ia orang yang sedang berusaha mempertahankan kebenaran.
     Terjadi benturan hebat di udara.
     Tubuh Karebet dan Aryabajageni bertumbukan seperti dua ekor kambing saling seruduk kepala. Karebet memang terlempar lebih dulu dan lebih kencang ke belakang tapi ia bisa mendarat tanpa terjatuh. Sedangkan Aryabajageni terdorong pelan ke belakang tapi langsung jatuh telentang dan sepertinya terluka.
     Karebet melihat itu tidak percaya.
     Arayabajageni berdiri susah payah.
     Karebet bisa saja menyerang saat lelaki bermuka aneh itu berdiri, tapi ia sedang bingung apa yang terjadi dengan dirinya. Ia menjatuhkan lelaki sakti itu dengan mudah, sedangkan dirinya tidak terluka sedikitpun.
     “Apa yang ada dibalik ikat pinggangmu, Karebet?” teriak Aryabajageni bertanya.
     Karebet bingung dan meraba ikat pinggangnya.
“Aku tahu kemampuanmu tidak bisa mengatasi ilmuku. Tapi barang yang ada dibalik ikat pinggangmu itu, yang membuatmu kuat.”
     Karebet mengeluarkan barang dari ikat pinggangnya. Surat dari kulit binatang yang berasal dari Sunan Kalijaga. Dengan entengnya ia memperlihatkan barang itu.
“Hanya ini. Kulit.”
     “Darimana kau dapatkan kulit binatang itu?”
     “Itu bukan urusanmu. Sekarang apa kau masih mau bertahan didesa ini?”
     “Aku akan pergi dari desa ini setelah kau sebutkan darimana kau dapatkan kulit binatang itu.”
     “Aku tidak percaya omonganmu.”
     “Kau memegang janjiku, Karebet.”
     Karebet menatap lelaki bermua aneh itu. Lama. Lalu ia berkata, “Kulit ini sebenarnya sebuah surat. Yang memberikan Sunan Kalijaga.”
     “Aku sudah menduganya.” Aryabajageni teriak. “Tidak ada kekuatan ilmu apapun yang mampu menembus barang yang sudah disentuh Sunan Kalijaga.” 
Lalu begitu saja tubuh Aryabajageni lenyap.
     Karebet menoleh kanan kiri.
     Lalu terdengar suara Aryabajageni menggema, “Jangan kau kira aku kalah, Karebet. Aku akan terus hidup untuk menumbuhkan dendam di hatimu kepada para wali Demak. Hanya kau orang terakhir yang di takdirkan untuk menyebarluaskan ajaran guru besar Syekh Siti Jenar. Dan akulah penuntun hidupmu.”
     Lalu sepi.
     Suara angin jelas terdengar berdesir.
     Karebet tidak bereaksi apapun. Ia yakin Aryabajageni telah pergi jauh. Orang yang ilmunya menakjubkan, batinnya. Tapi ia masih saja di hinggapi keheranan dengan surat dari kulit binatang ditangannya. Benarkah sesuatu yang pernah disentuh Sunan Kalijaga memiliki kekuatan yang sangat hebat? Dengan cara apapun ia tidak percaya, karena ia tidak pernah bertemu Sunan Kalijaga. Tapi bukti didepannya, telah dikatakan oleh orang lain. Oleh orang yang ilmu kanuragannya sangat tinggi. 
     Karebet melangkah gontai dengan segenap pertanyaan yang semakin banyak memenuhi kepalanya. 
 (bersambung)

Thursday, December 20, 2012

MAS KAREBET 13

BAB 13




Tiba-tiba Karebet mengangkat kedua tangannya dan dia berteriak mengguntur ke udara. Teriakannya menggema di lembah padukuhan yang sepi itu. Mungkin gemanya sampai ke padukuhan. Beberapa burung terbang ketakutan dari pepohonan di sekitarnya. Karebet terduduk dengan kesedihan yang mendalam, kekesalan yang menumpuk dan kenangan yang tidak bisa diingatnya.
     Menjadi dewasa tidak menyenangkan. Ia harus menanggung beban yang mulai menjadi berat. Bertemu Aryabajageni adalah mimpi terburuk yang tidak pernah ia inginkan hadir dalam hidupnya. Pertemuan dengan orang yang mengaku adik seperguruan Ayahnya telah membuat hidupnya siap berantakan. Ia hanya ingin pulang dan bertemu Ibunya. Ia tidak suka kesenangan-kesenangan yang disukai banyak pemuda seusianya.
     Ia hanya suka bertapa.
     Mencari ilmu kanuragan.
     Tapi sekarang ia bertemu Aryabajageni.
     Apakah semua yang dikatakannya benar?
     “Raden…”
     Karebet menghapus sudut matanya yang berair.
     Ki Buyut Jayadi sudah dibelakangnya. Kelihatan khawatir. “Jangan hati Raden diselimuti amarah hanya karena hasutan orang yang tidak jelas asal usulnya,” katanya gemetar. “Kalau Raden mau tahu semua hal yang menyangkut Ayahanda Raden almarhum, bertanyalah kepada Kanjeng Sunan Kalijaga.”
     Sunan Kalijaga lagi?
     “Sewaktu Raden menuju bukit Siaul, Kanjeng Sunan Kalijaga mendatangi saya dan mengatakan bahwa Radenlah yang bisa mengusir Aryabajageni.”
Karebet sudah tidak peduli. “Memangnya siapa Sunan Kalijaga itu? Kenapa dia tidak menemui saya sendiri? Kenapa harus lewat Paman? Siapa memangnya Sunan Kalijaga itu ha?!”
Karebet benar-benar kesal.
     Ki Buyut Jayadi mengerti kegundahan Karebet.
     “Beliau adalah salah satu dari anggota Wali Songo, penasehat agama Kanjeng Sultan Demak.” Ki Buyut tetap menjelaskan.
     “Apa benar Ayahanda dibunuh Sunan Kudus?”
     Ki Buyut Jayadi kaget.
     “Apakah Sunan Kudus anggota Wali Songo?”
     Ki Buyut masih diam.
     “Barangkali Aryabajageni benar.”
     Ki Buyut Jayadi berdiri. “Raden, ayo kita pulang.”
     “Kalau masih ada yang mau Paman sampaikan, selesaikan saja disini.”
     “Bicaralah di rumah, disini banyak yang mendengar.”
     Karebet melihat sekeliling. Hanya pepohonan lebat dan kesunyian yang terhampar disekeliling lembah itu. Ki Buyut Jayadi sudah berjalan. Sepertinya memang tidak mau bicara lagi. Apakah lelaki tua itu merasa ada yang sedang mendengar pembicaraan mereka?
     Karebet tidak mau tahu lagi.
     Pikirannya kacau balau.
     Ia hanya ingin tenang.
     Kamar Ki Buyut Jayadi ternyata begitu tenang. Hampir tidak terdengar suara apapun dari luar. Ki Buyut Jayadi tahu Karebet membutuhkan ketenangan. Ia duduk dan menyalakan sentir, sejenis lampu dengan minyak jarak. Lalu ia meraih sadak dan mengunyahnya. Wajah tuanya menjadi lebih tenang. Sementara Karebet duduk santai masih menikmati kesenyapan kamar itu.
     “Raden, saya hanya menyampaikan amanat Kanjeng Sunan Kalijaga soal Aryabajageni,” kata Ki Buyut Jayadi memulai. “Paling tidak, Raden akan tahu sedang berhadapan dengan siapa.”
     “Kenapa tidak langsung disampaikan kepada saya? Sunan Kalijaga takut kepada saya?”
     “Nanti Raden tahu kenapa. Aryabajageni masih keturunan Prabu Udara yang merebut Majapahit dan menobatkan dirinya menjadi Prabu Brawijaya terakhir. Aryabajageni tidak suka dengan Demak yang menurutnya telah meruntuhkan Majapahit. Aryabajageni lalu berguru kepada Syekh Siti Jenar untuk menghancurkan Demak dari dalam, lewat ajarannya yang sesat dan menyesatkan.”
     Karebet mendengarkan.
     “Syekh Siti Jenar itu orang yang kesaktiannya luar biasa tinggi. Dia berguru kepada beberapa anggota Wali Songo. Bahkan ilmu kebatinannya mampu menggungguli Wali Songo. Dia menyebarkan ajarannya dengan leluasa dan islam yang diajarkan anggota Wali Songo mulai ditinggalkan masyarakat.”
     “Siapa yang bisa mengalahkan Syekh Siti Jenar?”
     “Hanya Kanjeng Sunan Kalijaga. Meskipun Kanjeng Sunan Kalijaga itu bersahabat baik dengan Syekh Siti Jenar.”
     “Apakah Aryabajageni sehebat Syekh Siti Jenar?”
     “Itu aku tidak tahu.”
     “Aku seperti menghadapi hantu.”
     “Entah kenapa Kanjeng Sunan Kalijaga tidak mau menemui Raden. Tapi beliau berpesan, kalau Raden ingin tahu lebih banyak soal Ayahanda Raden, temuilah beliau.”
     “Dimana?”
     “Tidak tahu.”
     “Tidak tahu?”
     “Kanjeng Sunan Kalijaga bilang Raden akan menemukannya sendiri.”
     “Orang yang selalu aneh.”
     “Memang beliau aneh.”
     Karebet diam. Pikirannya semakin dijejali banyak pertanyaan. Ia tiba-tiba harus menghadapi kejadian yang tidak pernah bisa dimengertinya ini.
     “Istirahatlah di kamar ini, Raden…”
     Karebet berdiri. “Tidak, Paman, saya ingin keluar jalan-jalan.”
     “Raden, tenangkan diri, dan mohonlah petunjuk Gusti Allah, mintalah petunjuk yang benar dan jangan dengarkan setan.”
     Karebet tersenyum dan keluar.
     Ki Buyut Jayadi membuang kinang dalam mulutnya. Dadanya plong. Semua yang menjadi beban pikirannya terlepas. Ia tidak ingin Karebet terbebani dengan berbagai pertanyaan setelah bertemu Aryabajageni. Belum sempat ia beranjak, didepannya sudah duduk Aryabajageni. Benar-benar muncul begitu saja. Lelaki berwajah tirus itu tersenyum penuh kebusukan. Ki Buyut Jayadi panik.
     “Oh…siapakah kisanak?”
     “Aryabajageni.”
     Jantung Ki Buyut Jayadi seperti mau meledak.
     “Akulah setan itu, tua bangka.”
     Ki Buyut Jayadi terlambat bereaksi, tangan kanan Aryabajageni sudah terangkat dan sebuah pedang tajam muncul di genggaman tangannya. Mata Ki Buyut Jayadi berkilat. Ia tidak sempat berteriak, pedang itu sudah menghujam dadanya. Tapi pedang itu seketika lenyap begitu dihujamkan ke dada tua itu. Aryabajageni tertawa dan seketika menghilang dari tempat itu.
     Suara jatuhnya tubuh Ki Buyut Jayadi cukup keras. Pintu kamarnya terbuka kembali dan Karebet masuk dengan ketegangan di kepalanya. Mengejar Ki Buyut Jayadi yang sekarat.
     “Paman….Paman, apa yang terjadi?”
     “Aryabajageni….”
     Karebet melihat ruangan itu kosong. Jendela tertutup rapat. Tidak ada celah lain kecuali pintu.
     “Raden….”
     “Aku akan balaskan ini, Paman!”
     “Balaskan untuk ketentraman padukuhan ini…” Suara Ki Buyut Jayadi melemah. “Raden harus Amar ma’ruf nahi munkar…” Kepala Ki Buyut Jayadi lunglai. Lukanya begitu parah sampai tubuh rentanya tidak kuat lagi menanggung kesakitannya. Ki Buyut Jayadi mati dengan tersenyum.
     Karebet geram. Aryabajageni memang sengaja ingin bermusuhan dengan padukuhan ini. Dengan menggunakan kekuatannya, padukuhan ini telah dijadikan ladang pembantaian untuk tujuan yang tidak jelas dengan alasan yang tidak masuk akal. Di pintu muncul Dadung Awuk yang segera berteriak tertahan.
     “Apa yang terjadi Raden?”
     “Aryabajageni membunuhnya.”
     “Oh….Jahanam.”
     Jagabaya muncul kemudian. Kegeramannya tidak bisa disembunyikannya tapi ia harus bertindak. Ia lalu mengumpulan warga padukuhan dan bergotong royong mengurus jenazah pemimpin mereka. Semua warga berduka. Ki Buyut Jayadi adalah lelaki yang dihormati karena memimpin dengan welas asih tapi tegas. Siapa yang salah di hukum, siapa yang lalai di tegur. Semua persoalan di tumpahkan kepada Ki Buyut Jayadi untuk dicari jalan keluarnya. Dan semua harus menghormati apapun keputusannya.
     Jenazah Ki Buyut Jayadi di arak ke pemakaman dengan tangisan. Padukuhan Pingit kehilangan pemimpin yang langka. Setua itu dia harus melindungi warga padukuhan dari segala masalah, termasuk dari keganasan Aryabajageni.
     Karebet tidak terima itu.
     Saat semua orang ke pemakaman, ia menuju bukit Siaul. Ia harus melakukan perlawanan. Barangkali ia nekat. Tapi ia punya niat baik. Meskipun niat baik saja tidak cukup, tapi ia tetap akan melawan Aryabajageni. Lawannya itu jelas orang sakti. Hebat ilmu kanuragannya. Kalah dan menang baginya biasa dalam sebuah pertarungan. Soal hidup dan mati juga bukan urusannya. Sehebat apapun lawannya, kalau ia belum di takdirkan mati, maka ia akan tetap hidup.   
(bersambung)