Showing posts with label kreatif. Show all posts
Showing posts with label kreatif. Show all posts

Saturday, January 3, 2009

TEORI PENULISAN SKENARIO 1


Sebelum membahas lanjutan artikel sebelumnya, saya mesti beralih lebih dulu untuk membahas urutan penulisan scenario biar kelihatan lebih sistematis dan kelihatan serius. Biar dianggap lebih serius lagi maka disebut saja ini semacam teori penulisan scenario. Paling tidak ini pemahaman yang saya dapat. Dalam hal ini saya akan mengambil rujukan hasil kuliah penulisan scenario dengan pandungan diktat yang disusun oleh Misbah Yusa Biran yang menjadi acuan mata kuliah Penulisan Skenario dasar.

Dalam penulisan scenario ada tahapan yang harus dilakukan. Tahapan itu adalah:

1.Merumuskan Ide pokok dan tema
2.Membuat Basic story
3.Mengembangkan lewat Synopsis
4.Membuat Treatment
5.Membuat Skenario.

IDE POKOK
Merumuskan ide pokok merupakan pekerjaan utama untuk menyusun sebuah cerita yang utuh. Maka seperti pondasi, ide pokok benar-benar harus kuat untuk menopang cerita. Jadi apakah rapuhnya sebuah ide pokok berarti rapuhnya sebuah cerita?

Ide pokok muncul sebagai suatu gerakan personal dari keinginan intelektual seseorang untuk bicara. Pengalaman, pendidikan dan lingkungan adalah perangsang sebuah ide keluar. Tidak selalu sebuah cerita berangkat dari ide, tapi justru dari tema atau bahkan dari sebuah cerita global. Padaha secara structural atau urutannya, ide harus muncul lebih dulu sebelum tema. Ide dikemukakan untuk mengetahui apa yang hendak diketengahkan dari sebuah cerita. Sedangkan tema tinggal mengikuti ide pokoknya tentang subyeknya. Sebuah ide memang mempunyai kesulitan tersendiri untuk digali, karena ide mengandung suatu perenungan.

Ide pokok menjadi penting karena bobot film ditentukan bobot ide pokok dan bobot penyajiannya. Bobot ide pokok ditentukan oleh kedalaman pemikiran dan keluasan jangkauannya.Makin dalam pemikiran dan makin luas jangkaunnya,makin berbobot ide pokoknya. Ide pokok menjawab pertanyaan,film ini mau bicara apa. Ide pokok adalah pernyataan bahan renungan yang ingin disampaikan penulis skenario kepada penontonnya.Ide pokok dirumuskan dalam satu kalimat, misalnya: cinta tidak mengenal perbedaan kelas sosial.

Sedangkan tema harus mewujudkan ide pokok yang hendak disampaikan. Tema harus menjelaskan cerita yang ditulis tentang siapa dan bagaimana. Tema dijelaskan dalam satu kalimat, tentang siapa yang bagaimana. Misalnya,tentang seorang milyader yang jatuh cinta pada seorang pelacur (Pretty Woman)

Mempertanyakan sebuah tema berarti mempertanyakan makna sebuah karya. Jadi tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Teman merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan (dari buku Teori Pengkajian Fiksi-Burhan Nurgiyantoro)

Tema harus berkaitan erat dengan ide pokok, karena sebelum menetapkan tema, terlebih dulu harus merumuskan ide pokok cerita. Tema harus mewujudkan ide pokok yang mau disampaikan. Dalam satu kalimat, tema menjelaskan film tentang siapa (tokoh) yang bagaimana. Pada rumusan tema tersebut dimasukkan unsur karakter dan action.

Sebagai factor dasar pemersatu sebuah film, di atas segala-galanya harus diingat bahwa penentuan tema tidaklah sama dengan dampak penuh film itu sendiri. Tema hanya menjernihkan pandangan tentang sebuah karya menunggal, karena penilaian tema, sebagaian besar, merupakan penilaian yang sangat subyektif.

Menurut Joseph M. Boggs dalam bukunya Cara Menilai Sebuah Film, salah satu alat pengukur yang biasa diterapkan dalam penilaian tema adalah keuniversalannya. Yang menarik dari tema universal adalah karena ia berlaku sepanjang jaman. Jadi kesimpulannya buatlah tema yang paling diminati orang untuk menontonnya. Tidak harus yang factual karena kehidupan ini toh punya masa lalu yang menarik juga untuk diangkat sebagai sebuah tema cerita film. Tidak harus sebuah tema yang berat dan butuh mikir njelimet, tapi tema sederhana pun kalau kita mampu menemukannya, bakal menyita perhatian.

Monday, December 29, 2008

mengkhayal-sampai-mati


Apalah arti sebuah nama. Jadi tidak penting benar untuk dicari jawabannya kenapa blog ini bernama seperti ini dan kenapa tidak bernama yang lain. Tapi tentu saja saya tidak bisa memberi nama blog ini dengan bidang pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan saya. Karena saya penulis (scenario), yang urusannya membuat cerita –baik berdasarkan kisah nyata atau benar-benar rekaan, otomatis saya butuh dan harus sering mengkhayal –sambil berpikir tentunya. Karena bidang pekerjaan ini sudah saya anggap serius, maka saya ingin melakukan pekerjaan ini sampai mati. Begitu kira-kira jawaban apa adanya.

Kadang masih ada keraguan juga, apakah menjadi penulis (scenario) di Indonesia bisa hidup layak? Standart hidup layak itu kata orang bisa punya rumah, bisa punya mobil –kalau bisa punya kebon yang luas sama empang buat pembibitan gurame. Tapi kita –terutama saya, sudah dilatih hidup prihatin sejak kecil. Bisa puasa senin kamis –kalau lagi mau. Perkara hidup susah sudah bukan barang baru. Saya kira setiap orang pernah merasakan hidup susah –meskipun mereka juga orang kaya yang duitnya sekarung-karung. Yang beda adalah tingkat kesusahannya itu dan jenis kesusahannya.

Orang biasa seperti saya jenis kesusahannya kadang tidak punya duit, otomatis tidak bisa makan. Jalan keluarnya ngutang. Orang kaya jenis kesusahannya buang duitnya buat beli apalagi. Rumah sudah punya dimana-dimana, dari pondok Indah sampai ujung berung, Mobil sudah penuh di garasi yang didisain seperti museum mobil, Apartement yang baru selalu beli. Apasaja bisa dibeli. Jadi betul juga kata Rhoma Irama, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Orangtua kita masih menganggap bahwa pekerjaan yang layak itu pegawai kantoran –kalau bisa pegawai negeri sipil karena bisa dapat pensiun. Tapi industri film Indonesia memang belum aman sekali untuk dijadikan lahan mencari nafkah. Sebentar mati sebentar hidup, Sebentar ilang sebentar muncul persis Kayak bisul. Padahal ini urusan perut. Anehnya lagi urusan perut masih terus bergantung pada pemerintah. Industri Hollywood maju bukan karena campur tangan pemerintah, tapi pemerintah memberikan kebebasan sehingga industrinya bisa mandiri. Kita negerinya lain. Soal tempe bongkrek saja diurusin pemerintah, apalagi urusan yang lebih gede.

Dalam buku Proses Kreatif II (Pamusuk Eneste) Pengarang Hamsad Rangkuti mengatakan bahwa ia adalah seorang pengelamun yang parah sejak kecil. Dia suka duduk berjam-jam di atas pohon membiarkan pikirannya terbang ke mana dia suka tanpa dia mengontrolnya dan dia merasa nikmat. Hamsad Rangkuti kecil juga suka menonton Ketoprak dan ludruk dan diapun mengenal cerita Jaka Tarub. Maka dalam khayalannya dia selanjutnya, dia naik ke puncak pohon dan mengintip gadis-gadis mandi di sungai.

Mengkhayal kadang kita butuhkan supaya kita mempunyai motivasi, supaya kita punya cita-cita. Soal kita tidak menjadi apa yang kita khayalkan, toh kita masih isa terus mengkhayal –sampai mati bahkan. Jadi urusan saya menulis ini cuma mengenalkan kenapa blog ini bernama ini dan bukan yang lain. Buat saya yang penting mudah diingat dan sedikit mengharu biru. Jadi mulailah mengkhayal dari sekarang. Merdeka!