Monday, April 6, 2009

1998 1

Pengantar
Pada tanggal 21 Mei 1998 jam 09:02:45, Jenderal Besar Soeharto memutuskan mengundurkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia. Mahasiswa di gedung DPR/MPR bersorak menang.Itulah tonggak awal Reformasi. Tapi apakah yang sebenarnya terjadi sebelum hari bersejarah itu di Jakarta. Ada rahasia apa di balik peristiwa yang akan merubah arah sejarah Indonesia itu?

Mungkin jawaban itu bisa di temukan di cerita bersambung di bawah ini. Cerita ini hanyalah fiktif. Di susun berdasarkan khayalan liar. Disini hanya akan di temukan kebenaran fiksi, tidak ada kebenaran fakta, kecuali peristiwa yang memang terjadi pada saat itu. 

Selamat menikmati.





Bangsa Indonesia adalah orang-orang
yang rendah hati, jujur, beradab, berbudaya
serta taat beragama.

- Sir Stamford Raffles
 


BAB SATU


15 Januari 1998
HADI JAYADI merapatkan kerah jaketnya dan semakin mempercepat langkah kakinya menyeberang jalan di pertigaan lampu merah Tugu Pak Tani, takut hujan akan turun lagi. Pak Ong yang berjalan bersamanya seperti mengerti hal itu. Langkahnya lebih sigap dan cepat, padahal umur mereka tidak jauh berbeda. Rambut mereka sudah sama-sama beruban dan perbedaan paling mencolok adalah pada kulit muka mereka. Hadi nampak sekali sudah berkerut-kerut, sementara Pak Ong masih nampak kencang dan bercahaya, seperti sering bersolek. Tapi Hadi tak pernah mempersoalkan benar dirinya yang bukan keturunan Tionghoa seperti Pak Ong atau Jawa koek seperti dirinya. Ia telah bersahabat sejak muda dengan Pak Ong.
     Mereka sekarang melintas di depan gedung Perusahaan Listrik Negara dan selangkah kemudian sudah berada di depan gedung Markas Polisi Militer. Telinga tua Hadi mendengar keramaian disebelah kiri, di seberang jalan. Ia lantas menoleh. Disana, didepan Kedutaan Besar Amerika Serikat, sedang berlangsung demonstrasi.
     "Akhirnya mereka bergerak juga." katanya seperti kepada dirinya sendiri. "Tidak apa, daripada tidak sama sekali."
            "Menurutmu mereka terlambat?"
     "Sangat terlambat. Kenapa mereka tidak bergerak sejak setahun yang lalu. Saat kerusuhan-kerusuhan mulai terjadi?" Hadi seperti menyesalinya.
     "Mungkin sekarang memang waktunya."
     "Tanggal limabelas Januari? Apa bedanya dengan tanggal tigapuluh?"
     "Tentu saja berbeda, Hadi. Semua berbeda."
     "Maksudmu karena hari ini sama dengan Malapetaka limabelas januari?"
     "Jangan bilang kau sudah pikun mengingat peristiwa itu, Hadi."        
     Tidak ada yang istimewa dengan tanggal 15 Januari, kecuali untuk orang yang berulangtahun pada hari itu atau hari pertama kencan dengan kekasih dan  untuk sebagian orang yang pernah mengalami peristiwa di tanggal 15 Januari 1974. Hari itu terjadi suatu demonstrasi besar yang akhirnya meletus menjadi kerusuhan, yang kemudian dikenal dengan nama Malapetaka Limabelas Januari atau Malari. Sudah sejak dulu, hari-hari seperti itu dimanfaatkan oleh berbagai kelompok di luar pemerintahan melakukan demonstrasi. Akhir-akhir ini demonstrasi berlangsung padat jadwalnya, yang dilakukan oleh para aktivis pro demokrasi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta.
     Hadi Jayadi paham betul sesuatu akan terjadi. Naluri dan pengalamannya sebagai seorang wartawan mengatakan demonstrasi akan menjadi gelombang yang membesar dalam beberapa bulan mendatang. Ia melihat sebuah spanduk yang dibentangkan para demonstran: KAMI INGIN PERUBAHAN. Pimpinan demonstrasi sedang memberikan pidatonya dengan memegang megaphone sambil berjalan-jalan agar suaranya bisa terdengar meluas. Lehernya bersimbah keringat dan keluar otot-ototnya seperti pipa-pipa minyak. Aparat kepolisian yang jumlahnya terbatas dan tidak bersenjata berjaga-jaga dengan sangat serius didepan pintu gerbang, seolah yang dijaga adalah sebuah gedung  yang sangat penting. Padahal kedutaan itu dilengkapi dengan sistem keamanan yang paling canggih, bahkan lebih canggih daripada sistem keamanan Istana Merdeka yang letaknya hanya dibatasi lapangan Monumen Nasional di sebelah utara. Gedung kedutaan Amerika berpagar pondasi batu kali yang kokoh dan mempunyai pintu gerbang yang sangat tinggi, yang hampir menutupi bentuk gedungnya sendiri. Terletak persis di samping jalan layang rel kereta api dan hanya beberapa puluh meter dari stasiun Kereta Api Gambir, dan di samping kirinya adalah gedung Balaikota.
     Letaknya yang sangat strategis dan mudah dicapai dari berbagai penjuru jalan, membuat penjagaan di lakukan dengan sangat menyolok. Sesaat kemudian satu mobil truk yang berisi satu kompi polisi bersenjatakan senapan laras panjang, datang ke arah para demonstran. Mereka bergerak cepat, membentuk pagar didepan gerbang kedutaan, dan mengelilingi para demonstran, seperti mengepung, dengan senapan yang siap menyalak. Komandan lapangan memegang radio yang terus menerus menyala, entah di hubungi siapa dan menghubungi siapa, tapi kemudian ia mendekati pimpinan demonstrasi.
     Hadi Jayadi segera membetulkan letak topinya, lalu menyeberang jalan bersama Pak Ong, mendekati kerumunan demonstran itu. Untuk beberapa lama, ia tidak pernah melihat aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa dan aktifis pro demokrasi.  Tapi sekarang ia hanya melihat dan mencatatnya di buku untuk disimpan, tidak untuk diturunkan di surat kabar tempatnya bekerja dulu. Sudah banyak wartawan media cetak dan elektronik berada di sekitar para demonstran, seperti laron yang mengerumuni cahaya lampu. Aksi demonstrasi sekarang kelihatannya akan menjadi membesar.
     "Kita menunggu sampai mereka bubar, Hadi?"
     "Tentu saja, Ong. Siapa tahu ada kejadian penting."
     "Maksudmu bentrokan?"
     "Mungkin saja."
     "Kalau begitu aku akan pergi saja. Aku tidak mau mati konyol disini."
     "Takut amat sih. Kita toh pernah mengalami yang lebih buruk dari itu."
     "Itu kan tigapuluh tahun lalu."
     "Aku belum pikun mengingat soal itu." Hadi Jayadi nampak sekali bersikeras tidak mau beranjak. Apalagi kemudian ia melihat seorang lelaki tua yang merokok dengan cara merokok yang ia sangat hafal dengan jaket tebal membungkus tubuh tuanya. Hadi segera mendekati lelaki yang berdiri melihat para demonstran itu. Memandangnya lama untuk menarik perhatian laki-laki itu. Ia ragu untuk menyapa tapi akhirnya ia berkata begitu saja, "Apa kabar?"
     Laki-laki yang terus menerus merokok filter itu menoleh. Wajahnya biasa saja. "Apa kita saling mengenal?"
     "Kau tidak ingat aku?"
     "Tidak." Laki-laki itu melirik juga kepada Ong dengan acuh tak acuh.
     "Hadi Jayadi. Wartawan. Jakarta 1965." Hadi berharap lelaki itu menyebutkan namanya. Nama aslinya.
     Laki-laki itu mengernyitkan dahi, seperti sedang mengingat. "Oh, sudah lama sekali ya." Lalu bersikap acuh tak acuh dan menyedot rokok filternya dengan kuat.
     "Ya, lama sekali." Hadi nampak begitu gembira. "Masih berhubungan dengan CIA?" Ia terus memancing.
     "Aku sedang berusaha pensiun."
     "Bagaimana dengan KGB?"
     "Sejak Uni Sovyet bubar, aku diberhentikan."
     "BAKIN?"
     "Mereka mengurangi pegawai."
     "BAKIN memecat pegawai?" Hadi tertawa kecil. "Hanya pabrik sepatu yang wajar memecat buruhnya."     
     Laki-laki itu tidak terpengaruh suara tawa Hadi. "Aku harus pergi."
     "Masih ngantor?"
     "Aku masih dibutuhkan." Ia membetulkan letak kerah jaketnya sebelum melangkah pergi tanpa pamit lagi. Menuju arah dimana ia datang, menyeberangi jalan.
     "Siapa dia? Temanmu?" tanya Pak Ong penasaran.
     "Kau tidak ingat dia?"
     "Mungkin sudah tidak ingat, tapi apa dia bekerja untuk agen rahasia Amerika?"
     "Dulunya."
     "Sekarang tidak lagi?"
     "Entahlah."
     "Siapa namanya?"
     "Aku sendiri tidak yakin benar nama dia sebenarnya. Aku hanya pernah dengar dia menyebut dirinya Sam."
     "Sam?"
     "Sam."
     "Hanya Sam?"
     "Hanya Sam."
     "Masa hanya Sam. Mungkin Sam Sarumpaet atau Sam Su, begitu?"
     "Bisa apasaja. Aku hanya hafal cara merokoknya. Aku  menyebutnya si doyan rokok."
     "Antik juga namanya."
     "Antik? Barang kuno antik."                
***
     Hadi Jayadi, telah berumur tujuhpuluhlima tahun, tapi badannya masih tegap sehat dengan kulit wajahnya yang masih kencang meski keriput tidak bisa disembunyikan lagi. Sepasang matanya tajam dengan rambut telah memutih semua. Ia barangkali termasuk orang beruntung diberi umur panjang dan bisa melewati tiga jaman. Kehidupan jaman revolusi dilewatinya dengan ikut berperang melawan penjajah sebelum akhirnya merdeka. Ia merasa tidak cocok menjadi tentara dan itu membuatnya menekuni dunia jurnalistik. Ternyata menjadi wartawan lebih banyak memberinya keuntungan dengan mengenal banyak orang dari berbagai macam pekerjaan. Bisa mempunyai teman di luar negeri dan itu sangat membantu dirinya untuk maju.
     Pada tahun 1961, ia berkenalan dengan  Ong We Hok. Ketika itu umur Ong duapuluhtiga tahun dan termasuk seorang aktivis yang masuk dalam jaringan anti Presiden Sukarno.  Ong termasuk dalam salah seorang aktivis yang tergabung dalam Gerakan Pembaharuan Indonesia yang di pimpin Soemitro. Ong masuk dalam unit organisasi yang disebut Case Officer (CO) dan ia melibatkan dirinya dalam infiltrasi dan penetrasi ke dalam kaum pemuda, terutama bidang kesehatan. Setelah pemerintah berganti, Ong tidak lagi terlibat dalam urusan politik. Ia kemudian menjadi pedagang elektronik di Glodok, disamping membuka praktek menjadi sinshe.
     Kesibukan utama Hadi sekarang adalah menulis. Hanya itu yang selalu di lakukannya seperti yang ia lakukan sejak menjadi wartawan. Walaupun tulisannya tidak lagi ia publikasikan ke media massa, kecuali kalau ada permintaan dari surat kabar yang masih mengingat dirinya, ia simpan semua dengan rapi dan ia tidak peduli orang lain tidak membacanya. Cukup banyak tulisannya yang tidak ia keluarkan karena bagi teman-temannya terlalu pedas dan menyinggung pemerintah dan itu sangat membahayakan jiwanya. Ia pernah di penjara lebih dari dua tahun tanpa pengadilan yang jujur hanya karena ia memuat berita yang menurut aparat keamanan telah menyebarkan berita yang tidak menyenangkan dan di takutkan menimbulkan kerawanan.
     Tapi ia tidak pernah jera, apalagi kapok menulis. Menulis adalah pekerjaan paling menyenangkan yang bisa dilakukan orang sehat.
***
     Umurnya sudah lebih dari tujuhpuluh tahun, tapi cara jalannya masih kelihatan sehat. Wajahnya yang tirus dan dingin. Wajah yang sarat dengan beban rahasia yang busuk. Garis-garis di kulit mukanya menunjukkan kekejamannya. Dengan rambut tipis lurus dan beruban, kelihatan seperti seorang pemikir sejati. Ia sudah sampai didepan stasiun gambir. Kemudian masuk ke box telpon umum dan segera memencet nomer.
     "Ini Sam. Saluran ini aman?"
     "Selalu aman. "
     "Beberapa aktivis mulai mengadakan demonstrasi. Segera atur pertemuan untuk semua cabang."
     "Kau yakin?"
     "Teruskan saja berita ini."
     Ia langsung menutup telponnya dan mengganti rokoknya, kemudian menyeberangi jalan dan masuk jalan Pejambon.
 

(bersambung)