Thursday, November 29, 2012

MAS KAREBET 1

Pengantar 
Mulai hari ini saya akan menghadirkan cerita silat berjudul Mas Karebet. Cerita ini berdasarkan skenario sinetron serial Jaka Tingkir yang pernah di tayangkan televisi RCTI selama beberapa tahun. Tentu saja ini ditulis berdasarkan buku sejarah seperti Babad Tanah Jawa, selebihnya adalah hasil khayalan sendiri. Jaka Tingkir atau Mas Karebet adalah sejarah. Menafsirkan sebuah sejarah masa lalu dengan data yang terbatas dan masih bisa di perdebatkan kebenaranya, menjadi subyektif sekali. Jadi kalau ada pihak yang tidak berkenan atas tafsiran saya, mohon di beri maaf. Terimakasih.

 
Thole, kamu jangan suka ke gunung.
Ketahuilah, orang yang bertapa di gunung itu kafir,
tidak mengikuti agama kanjeng Nabi.
Lebih baik kamu berguru kepada orang mukmin.

- Nyai Ageng Tingkir
 
 
 
BAB 1


HANTAMAN udara dingin mendera bukit Telomoyo, menyelimuti pepohonan yang lebat dan diam seperti batu purba. Hembusan angin pagi yang lembut menggoyangkan  pucuk-pucuk pepohonan, menjatuhkan embun sisa dini hari menuju bumi. Beberapa burung beterbangan kesana kemari seperti ingin mengusir dinginnya udara pagi. Sudah sejak subuh Karebet bangun dari tidurnya dan terus terjaga sampai matahari muncul di timur jauh sana.
     Ia bermimpi.
     Ia yakin semua orang penah bermimpi dalam tidurnya. Orang bermimpi dalam tidur bukan sesuatu yang aneh, karena bisa terjadi setiap hari dan terjadi pada siapa saja. Ia juga sering bermimpi. Tapi mimpinya kali ini berbeda. Ia sudah tiga kali bermimpi dan mimpinya sama. Ia tidak bisa menebak apa arti mimpinya. Diluar mimpi sebagai bunga tidur, mimpi mempunyai arti buat ahli tafsir. Sayangnya ia tidak kenal dengan seseorang yang pekerjaannya sebagai ahli tafsir mimpi.
     Mimpi itu melekat di kepalanya.
     Sudah lebih dari empat puluh malam ia menyepi dan bertapa di bukit Telomoyo. Ini waktu yang cukup lama ia bisa berada di satu tempat untuk bertapa. Biasanya tidak lebih dari duapuluh lima hari ia berada di suatu tempat untuk menyepi. Kadang tergantung tempatnya untuk menyepi. Ada tempat dimana ia bisa merasakan ketenangan batin luar biasa. Itu akan membuatnya lama bertapa di tempat itu. Tapi pernah baru tiga hari berada di suatu tempat, ia memutuskan pergi karena di dalam hatinya tidak cocok, meskipun tempat itu banyak orang bertapa dan dianggap keramat.
Kebiasaannya bertapa dan menyepi sudah dijalaninya sejak ia berumur limabelas tahun. Itu saja ia merasa terlambat karena Ibunya sudah tidak bisa mencegah keinginannya untuk menyepi dan bertapa. Ia tidak tahu kenapa ia lebih suka menyepi dan bertapa daripada berada di rumah dan ikut mengurus perdagangan Ibunya. Ia hanya mengikuti panggilan hatinya. Barangkali aneh karena ia hidup dengan lebih berkecukupan. Ibunya adalah orang terkaya di desa Tingkir dan itu membuatnya bisa mewujudkan keinginannya dalam bentuk apapun. Menjadi anak seorang saudagar jauh lebih terkenal daripada menjadi anak seorang Lurah. Bahkan dengan kebesaran nama Ibunya, nama desa Tingkir telah disandangnya. Nama yang juga akhirnya dipakainya sejak ia tiba di desa itu. Ia tidak pernah tahu persisnya, tapi nama aslinya telah disembunyikan dan digantikan dengan nama Jaka Tingkir.
Karebet tidak pernah mempersoalkan namanya. Hanya Ibunya yang memanggilnya dengan nama aslinya, meskipun Ibunya sendiri yang memberikan nama Jaka Tingkir kepadanya. Ia tidak tahu kenapa dan ia tidak peduli benar sebabnya. Dengan kegiatan dagang Ibunya yang sibuk, ia sama sekali tidak tertarik. Ia jauh lebih tertarik pergi ke sawah dan duduk di dalam gubuk ditengah sawah. Melihat hamparan padi seperti melihat hamparan nyawa manusia yang bergantung pada padi-padi itu.
Diantara itu semua ia jauh lebih suka mengembara dan mencari tempat sepi untuk bertapa dan memperdalam ilmu batinnya. 
     Pada malam ke empat puluh itu, Karebet bermimpi untuk ketiga kalinya. Sebuah rembulan jatuh ke atas dirinya diikuti bunyi halilintar bersahut-sahutan dan memenuhi bukit Telomoyo. Beberapa saat ia harus berdiam diri untuk menenangkan dirinya dari kejadian yang baru saja dialaminya. Ia tahu persis itu sebuah mimpi. Tapi ia  merasakannya sebagai kejadian nyata.
     Berpuluh bahkan mungkin ratusan tempat sudah pernah ia datangi untuk menyepi dan bertapa. Tapi hanya di bukit Telomoyo ini ia mengalami kejadian luar biasa. Karena terus menerus mimpi itu melekat di kepalanya, ia tidak bisa lagi tidur. Akhirnya ia putuskan tidak bisa bertahan lebih lama lagi di tempat itu.
     Ia harus pulang.
     Ia ingin mencari jawab atas pertanyaan mimpinya itu. Kalaupun Ibunya tidak mengerti akan arti mimpinya, pasti akan dicarikan seorang pintar ahli tafsir mimpi untuk mengutarakannya. Disamping itu rasa kangen dengan ibunya yang sangat ia hormati dan sayangi. Meskipun ia tahu Nyai Ageng Tingkir hanyalah Ibu angkatnya.
     Ia hanya ingat Nyai Ageng Tingkir adalah ibunya yang memberikan kasih sayang penuh. Meskipun di hari kemudian ia mengetahui bahwa Nyai Ageng Tingkir hanya seorang Ibu angkat, tapi rasa hormat dan sayangnya tidak berubah. Ia merasa menjadi anak paling beruntung karena mendapatkan kasih sayang dari orang yang tepat. Lebih dari itu, ia mendapat kelimpahan materi, meskipun ia tidak pernah menggunakannya untuk kesenangan pribadinya. Ia merasa dunianya adalah dunia mengembara untuk mencari ilmu kanuragan dan ilmu kesaktian. Dan ibunya tidak pernah memaksanya untuk mengikuti kemauannya dalam hal berdagang. Karebet merasa begitu bahagia karena diberi kebebasan memilih. 
     Sampai di kaki bukit Telomoyo, Karebet berhenti. Menoleh kembali ke puncak bukit yang sepi itu. Sering ia tidak mengerti bisa betah di tempat sepi dan jauh dari keramaian seperti ini. Tapi panggilan hatinya membuatnya harus selalu berjalan mencari tempat dimana ia bisa menyepi dan menemukan dirinya yang sebenarnya. Dalam keheningan, ia menemukan kedamaian. 
(Bersambung)

No comments: