Minggu, 11 September 2011

Lima Film Terbaik Karya Steven Soderbergh


Nama Steven Soderbergh saat ini sedang menjadi perbincangan hangat di AS, berkenaan dengan rilis film terkininya berjudul Contagion yang langsung mendapat sambutan hangat di sana. Apa yang istimewa dari salah satu dari sedikit sutradara brilian Hollywood itu? Sebagaimana diwartakan AP, Jumat (9/9), Soderbergh cenderung senantiasa menghasilkan karya-karya yang bermutu, karena mempunyai daya imajinasi yang selalu berbeda dalam setiap filmnya.

Dari berbagai genre film yang telah dibesutnya, seperti genre komedi satir dan gelap, hingga drama yang mencekam, sampai film eksperimen dengan bujet yang sangat minim, hingga yang berkelas extravagansa, sudah pernah dilaluinya. Meski demikian, dia dikenal senantiasa ingin mencoba sesuatu yang baru dalam segala hal. Hal itulah yang dalam bahasa AP membuat Soderbergh menjadi sangat, "vital and exciting", dalam perfilman Hollywood, dan dunia.

Film terkininya berjudul Contagion, yang bernarasi tentang virus mematikan yang menyebar ke seluruh dunia, dan memakan jutaam jiwa, sedang menjadi perbincangan hangat, yang belum usai hingga kini. Yang membuatnya namanya setika dibangkitkan lagi beserta karya-karya brilian yang pernah dibuatnya.

Kreatif
Berikut adalah lima film Steven Soderbergh, yang dinilai memberikan kredit positif atas kerja kreatifnya di dunia film. Pertama adalah film Traffic (2000), yang mengantarkannya meraih Academy Award sebagai best director, meski dia juga berkompetisi dengan filmnya yang lain yang juga dia sutradarai, yaitu film Erin Brockovich (yang berkisah tentang perdagangan obat-obatan terlarang di dunia).

Di film ini, sejumlah aktor, dan aktris papan atas, dengan senang hati bekerja di bawah arahan tangan dinginnya. Sehingga membuat Michael Douglas, Catherine Zeta-Jones, Don Cheadle dan pemenang Oscar Benicio Del juga memberikan yang terbaik, via akting mereka.

Selantunya adalah film Out of Sight (1998), film yang berangkat dari novel karya Elmore Leonard itu, bernarasi tentang hubungan yang terbentuk antara perampok bank (George Clooney) dan agen federal marshal yang terus mengejarnya (Jennifer Lopez). Film yang melaraskan antara komedi, suspen, serta drama gelap dalam balutan satir itu, membuat nama Clooney dan Lopez menghasilkan hubungan kimiawi yang banyak mendapat pujian. Apalagi sejumlah pendukung lainnya seperti Ving Rhames, Albert Brooks, Cheadle , Steve Zahn dan Catherine Keener makin menguatkan peran mereka.

Sedangkan film The Limey (1999) menempatkan nama Terence Stamp sebagai bandit Inggris yang mantan narapidana, dan melakukan perjalanan ke Los Angeles, untuk melakukan investigasi atas kematian anak perempuannya, menyuguhkan ketegangan yang lain. Stamp yang total dan tumpah berakting, membuat lawan mainnya, yaitu Peter Fonda -aktor pupoler para era 60-an- bergidik dibuatnya.

Berikutnya adalah film Erin Brockovich (2000), yang berkisah tentang kisah nyata tokoh Erin, melawan polusi industri yang mengotori air rumah tangganya, di kota tempat ia tinggal. Yang akhirnya menimbulkan sebuah perjuangan yang hangat dari seorang ibu rumah tangga, menginspirasi, lucu, sekaligus seksi. Julia Roberts yang berlakon sebagai Erin, berhasil mengejawantahkan peran itu dengan sangat baik sekali. Sehingga mengantarkannya mendapatkan best-actress dari Oscar.

Yang kelima adalah film Ocean's 11 (2001), sebuah remake dari film tahun 1960, yang memusat pada kisah para bandit yang mahir lari dari sebuah aksi kejahatan, dengan sangat rapi, manis, sekaligus menghibur, tanpa harus kehilangan unsur ketegangannya. Film ini, mengumpulkan banyak pemian kelas wahid. Sebuah kerja kreatif, yang nyaris mustahil untuk diulang.

Lihatlah sejumlah pendukung lakonnya seperti, George Clooney, Julia Roberts, Matt Damon dan Brad Pitt yang tercatat sebagai aktor dan aktris berbayaran tertinggi di Hollywood. Yang semua film yang mereka bintangi, nyaris selalu mendatangkan penonton secara masif ke gedung bioskop. Serta didukung sejumlah aktor mapan lainnya seperti Al Pacino, Andy Garcia, dan masih banyak lagi.
(Benny Benke/CN15) SUARA MERDEKA.

Senin, 22 Agustus 2011

Naskah 'Rambo V: The Savage Hunt' Telah Rampung


Penulis naskah "Conan the Barbarian", Sean Hood, kabarnya telah menyerahkan naskah film "Rambo V: The Savage Hunt". Hal ini ia sampaikan dalam sebuah wawancara untuk film yang dibintangi Jason Momoa itu.

"Saya bertemu dengan Sylvester Stallone dua kali tahun lalu," ungkap Sean. "Ia memberi saya sebuah buku, sebuah naskah tua dan sekitar dua puluh halaman naskah yang ia tulis sendiri untuk digunakan sebagai inspirasi terakhir kisah Rambo."

Saat ditanya buku apa yang diberikan Sylvester kepadanya, Sean tak mau memberitahu. Ia hanya mengatakan bahwa film Rambo kelima ini tidak didasarkan pada salah satu ide yang ada di masa lalu.

Bukan kisah tentang Rambo yang menyelamatkan gadis muda dari obat mematikan. Bukan pula tentang perburuan yang buas. Namun lebih seperti novelnya, "First Blood".

Meski naskah telah diserahkan, namun kesepakatan belum dilakukan. Sylverter juga sedang terlibat film "The Expendables II".

"Sampai sekarang, saya tidak tahu apakah Mr Stallone benar-benar akan membuatnya. Sekarang, seperti yang saya mengerti, ia telah berkomitmen untuk 'Bullet to the Head' dan 'The Expendables II'," kata Sean. "Tapi studio film Millenium meminta saya untuk menyelesaikan naskah dan menyadari kisahnya dan harapan saya adalah bahwa ia akhirnya akan terinspirasi untuk melakukan satu lagi film Rambo, dengan gaya 'Unforgiven' (1992) arahan Clint Eastwood."

Sebelumnya, Sylvester pernah menyatakan keraguannya tentang proyek film ini. Selain itu, ia juga tak ingin dianggap mata duitan.

"Ini cukup baik. Saya yakin 99 persen bahwa tidak akan ada lagi (film Rambo)," kata aktor berusia 65 tahun ini. "Saya sangat senang dengan film terakhir dan film lain mungkin disalahartikan sebagai sikap yang tidak perlu dan mata duitan. Saya tidak ingin itu terjadi."

5 Film Perampokan Bank Terbaik


Banyak kisah kehidupan manusia yang menjadi inspirasi dalam pembuatan film. Tak terkecuali kisah kriminal seperti perampokan bank. Kantor berita Associated Press (AP) memilih lima film yang khusus menceritakan secara spesifik perampokan bank. Bukan film yang hanya adegan perampokan sebagai fitur tambahan.

Berikut adalah lima film perampokan bank terbaik:

1. 'Dog Day Afternoon' (1975)

Film 'Dog Day Afternoon' merupakan salah satu karya terbaik sutradara Sidney Lumet. Film ini sudah tidak diragukan lagi pasti masuk dalam daftar film perampokan bank terbaik. Di film 'Dog Day Afternoon', aktor watak Al Pacino berhasil memerankan seorang perampok bank bernama Sonny yang memerlukan uang untuk membiayai operasi trans gender kekasihnya. Dalam film tersebut, Sonny sukses memberikan kejutan, terutama saat ia berinteraksi dengan penjaga bank dan teller. Meski seorang perampok, Sonny justru terlihat peduli dengan mereka. Akting Al Pacino di film ini dianggap sebagai yang terbaik sepanjang kariernya.

2. 'Bonnie and Clyde' (1967)

Film klasik garapan sutradara Arthur Penn ini sukses membawa nama Bonnie dan Clyde identik dengan kejahatan yang yang diselingi nuansa romantis. Film ini dinilai sangat hidup, lucu sekaligus menegangkan. Akting Faye Dunaway dan Warren Beatty sebagai perampok bank sangat menarik untuk disimak. Film ini sukses meraih 10 nominasi Academy Awards dan memenangkan dua penghargaan untuk kategori aktris pembantu terbaik (Estelle Parsons sebagai saudari ipar Clyde) dan sinematografi.

3. 'Heat' (1995)

Film berdurasi hampir tiga jam ini menampilkan karya terbaik sutradara Michael Mann, mulai dari visual hingga aksi kekerasan. Film ini mengeksplorasi area abu-abu dimana pria jahat dan pria baik sulit dibedakan. Film bertema perampokan bank ini lagi-lagi dibintangi Al Pacino. Berbeda denganperannya di film 'Dog Day Afternoon', dalam film ini, Al Pacino justru memerankan seorang polisi detektif Los Angeles. Sementara karakter antagonis atau perampok bank diperankan Robert De Niro. Film ini juga dinilai menampilkan adegan baku tembak yang epik.

4. 'Inside Man' (2006)

Film yang dirilis pada 2006 silam ini benar-benar menunjukkan karakter sang sutradara, Spike Lee. Film ini berkisah tentang perampokan yang direncanakan dengan sangat cermat oleh sekelompok bandit. Sedikit humor membuat film ini menjadi lebih santai dan sedap ditonton. Denzel Washington memerankan detektif NYPD yang bernegosiasi dengan para perampok bank. Sementara Clive Owen sukses memerankan pimpinan perampok yang berkarakter tenang dan sombong. Film ini juga didukung aktor dan aktris bertalenta seperti Jodie Foster, Christopher Plummer, Chiwetel Ejiofor, serta Willem Dafoe.

5. 'Point Break' (1991)

Jauh sebelum sutradara Kathryn Bigelow memenangkan Piala Oscar untuk film 'The Hurt Locker', ia adalah salah seorang wanita yang gemar membuat film aksi. Film 'Point Break' menjadi salah satu karya Kathryn Bigelow yang patut ditonton. Dalam film ini, aktor Keanu Reeves berperan sebagai agen FBI bernama Johnny Utah. Ia melakukan penyamaran dalam rangka menangkap sekelompok perampok bank yang selalu mengenakan topeng Presiden AS dalam setiap aksinya. Adapun pimpinan perampok diperankan Patrick Swayze dengan apik. (Rudy Bun) (adi)
• VIVAnews

Senin, 15 Agustus 2011

Mengapa Film Horor Disukai?


Di Amerika Serikat (AS), jutaan orang rela menghabiskan banyak uang demi kesenangan menakutkan seperti Halloween. Berikut penjelasan mengapa orang menyukai sensasi ketakutan.

Mulai dari rumah berhantu hingga film horor, remaja hingga dewasa nampaknya menyukai ketakutan yang ‘menyenangkan’. “Orang menonton film horor karena ingin takut,” ungkap editor ‘Why We Watch: The Attractions of Violent Entertainment’ Jeffrey Goldstein.

Profesor sosial dan psikologi organisasi di University of Utrecht, Belanda, ini mengatakan, orang memilih hiburan yang bisa mempengaruhinya. “Itulah alasan orang memilih produk hiburan seperti film horor,” ujarnya.

Sensasi Sinister

Menurut dekan College of Social and Behavioral Science David Rudd di University of Utah, orang-orang menikmati perasaan takut dan mencari-cari perasaan itu karena, jauh di lubuk hati, mereka tahu mereka tak sedang dalam bahaya nyata.

Orang-orang ini memahami risiko nyata kegiatan tersebut. Yakni, marjinal, dan karena kesadaran mendasarinya, orang-orang ini mengalami kegembiraan bukan ketakutan yang sebenarnya, jelas Rudd.

Inilah sebabnya orang menikmati saat pergi ke wahana taman hiburan yang mengerikan dan menyurusi rumah hantu bertema Halloween. Kebanyakan orang dewasa dan remaja mampu mengukur secara realistis tingkat aktual ancaman yang mampu merangsang ketakutan mereka dan mengaitkannya dengan tingkat keselamatan mereka.

Misalnya, menonton film horor tak menimbulkan ancaman fisik. Karena hanya ada ancaman psikologis kecil, mereka hanya akan mendapat mimpi buruk sebagai akibat menonton film itu. Karenanya, sebagian besar penonton merasa aman menonton film seperti itu, dan bersemangat karenanya, bukan takut.

Skala toleransi terror

Beberapa orang dewasa dan kebanyakan anak kecil tak bisa mengukur hal tersebut dengan benar dan mereka pun merasakan ancaman yang lebih tinggi daripada itu. “Pengalaman ketakutan ‘nyata’ terjadi saat penilaian ancaman lebih besar dari keselamatan,” ujar Rudd.

Orang-orang yang takut terbang menilai ancaman kecelakaan dalam mode yang tak realistis dan tak proporsional karena itu sebenarnya lebih aman dari menyetir, lanjutnya. “Sebagai hasil penilaian yang salah, mereka mengalami ketakutan”.

Inilah mengapa anak-anak bisa dengan mudah menjadi ketakutan dibanding orang dewasa. Hal ini dikarenakan pengalaman yang kurang saat mengukur keselamatan dari hal-hal seram yang mereka lihat, mulai dari kostum raksasa mengerikan hingga kerangka berbicara.

Anak kecil bisa melihat Halloween yang menyenangkan sebagai ancaman serius pada keselamatannya, dan menjadi benar-benar ketakutan. Orang dewasa sudah terbiasa dari waktu ke waktu dan jauh lebih baik dalam menilai, ujar Rudd.

“Semuanya hanyalah terkait penilaian risiko, orang dewasa jauh lebih baik dari anak-anak. Hal ini merupakan sesuatu yang kita pelajari dari waktu ke waktu, hal ini merupakan bagian kematangan”.

Jumat, 29 Juli 2011

Film Hollywood Diputar Lagi


Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, mulai 29 Juli 2011, berbagai film Hollywood akan diputar di beberapa gedung bioskop di Indonesia."Mulai 29 Juli 2011, film-film Hollywood mulai diputar di beberapa gedung bioskop," katanya di Jakarta, Kamis (28/7/2011).

Ia mengatakan, dua film yang paling ditunggu, yaitu Harry Potter and the Deathly Hallows Part-2 dan Transformers: Dark of the Moon, mulai diputar dalam pekan ini. Setelah dua film itu, beberapa film Hollywood lain sudah mengantre dan akan dilanjutkan dengan film-film lain."Imbauan saya, meski film Hollywood sudah mulai masuk, tetaplah tonton film Indonesia yang sudah mulai meningkat kualitasnya," katanya.

Pihaknya terus mencari cara agar film impor bisa masuk ke Indonesia meskipun saat ini masih terjadi tarik ulur tunggakan pajak film sebesar Rp 25 miliar dan denda 1.000 persen.Ia berpendapat, industri film nasional, termasuk bioskop di Indonesia yang kini jumlahnya 676 layar, perlu mendapatkan dukungan dengan lebih banyaknya film yang diputar di dalamnya.

Kapasitas film nasional saat ini masih berkisar 100 judul sehingga masih memerlukan lebih banyak judul film untuk mengisi kekosongan layar-layar tersebut."Film impor harus masuk agar bioskop di Indonesia tetap hidup," katanya.

Ia menyatakan prihatin jika potensi penonton film Hollywood di Indonesia yang mencapai satu juta orang akan "lari" ke negara tetangga seperti Singapura untuk bisa memuaskan hobinya menonton film dan berpotensi pada hilangnya devisa dari sisi pariwisata. Pihaknya tidak memiliki wewenang dalam kaitan perpajakan yang saat ini masih menimpa para pengimpor film.

"Itu bukan kewenangan saya. Kewenangan saya adalah menghidupkan industri film nasional," katanya.Namun, ia menegaskan bahwa proses hukum tetap berjalan dan bukan berarti para penunggak pajak dibebaskan dari kewajibannya.

Setelah hampir lima bulan pihak major studio Hollywood yang tergabung dalam Motion Picture Association (MPA) melakukan commercial hold, terhitung sejak 15 Juli 2011, mereka telah kembali mengimpor produk film blockbuster ke Indonesia.

Pencabutan commercial hold oleh MPA dilakukan menyusul diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 90/PMK.011/2011 yang mengatur perubahan mendasar dalam sistem penghitungan bea masuk film impor dari sistem metrik menjadi durasi, dan dari sistem tarif ad valerum menjadi tarif spesifik.

Sementara itu, PMK Nomor 102/PMK.011/2011 semakin memperkuat keyakinan major studio Hollywood untuk mengekspor filmnya ke Indonesia.PMK tersebut mengatur tentang dasar nilai lain dalam pengenaan pajak pertambahan nilai dan pajak penghasilan atas pemanfaatan film impor di dalam daerah kepabeanan.

Sebagai pelaku usaha impor film, PT Omega Film telah mendapatkan kepercayaan sebagai mitra major studio Hollywood yang tergabung dalam MPA untuk mengimpor empat film blockbuster, antara lain Transformer: Dark of the Moon dan Harry Potter and the Deathly Hallows Part-2.

Film-film yang telah lulus sensor itu diharapkan dapat mulai dipertunjukkan di bioskop-bioskop pada akhir Juli 2011.Ia mengatakan, selama periode Januari-Juli 2011, jumlah film impor mencapai 75 judul.Film-film tersebut diimpor oleh sembilan perusahaan pengimpor film yang aktif dari 65 perusahaan pengimpor film yang terdaftar.

Sumber :ANT

Sabtu, 18 Juni 2011

Film Impor Kembali ke Bioskop Kita


Penggemar film impor bermutu bisa tersenyum lebar lagi. Dalam waktu dekat, film impor kembali diputar di bioskop-bioskop di Indonesia. Bukan hanya mereka yang tersenyum lebar lagi, pekerja-pekerja di jaringan bioskop Indonesia yang tergabung dalam kelompok 21, XXI, atau Blitz pun tersenyum lebar.

Sebab, dengan masuknya kembali film impor ke Indonesia, penggemar film kembali dapat menonton film bermutu keluaran terbaru Hollywood pada saat yang sama dengan film itu diputar di kota-kota besar di Amerika Serikat. Dengan demikian, mereka akan berbondong-bondong kembali ke bioskop.

Sejak Motion Picture Association of America (MPAA), asosiasi produsen film Hollywood, memutuskan menghentikan pendistribusian film Amerika Serikat per 17 Februari lalu karena keberatan atas bea masuk film impor, jumlah pengunjung bioskop menurun drastis. Mereka enggan pergi ke bioskop karena tidak ada lagi film bermutu baru yang ingin mereka tonton.

Film-film baru, seperti Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides, Thor, Green Lantern, X-Men: First Class, dan Kung Fu Panda 2, tidak masuk ke sini sehingga penggemar film impor terpaksa memburu digital video disc (DVD)-nya. Dengan enggannya penggemar film impor pergi ke bioskop, dengan sendirinya pemasukan bioskop berkurang. Jika keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin pebisnis bioskop merugi, yang tahap selanjutnya diikuti pengurangan pekerja.

Seorang pekerja di XXI Pondok Indah Mall II sempat mengungkapkan kekhawatirannya akan kehilangan pekerjaan jika jumlah penonton terus menurun. Ia mengungkapkan, ia sudah mulai sibuk mencari lowongan kerja baru. Padahal, ia sudah senang bekerja di sana.

Produser film Mira Lesmana di jejaring sosial Twitter, 19 Februari lalu, menulis, ”Yang rugi penonton: kehilangan film bermutu. Bioskop: kehilangan penonton dan akhirnya tutup. Lalu film Indonesia: kehilangan bioskop.”

Urusan pajak sudah selesai

Untunglah sebelum hal tersebut terjadi, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik memberikan kabar gembira. Seusai mendengar ceramah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Indonesian Young Leaders Forum 2011 yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), 9 Juni lalu, Jero Wacik mengatakan, ”Urusan pajak film asing sudah selesai. Minggu depan barangkali sudah keluar SK (surat keputusan) menteri keuangan. Kami akan umumkan. Setelah itu, film asing akan mengalir dan melengkapi film Indonesia.”

Menurut Jero Wacik, kehadiran film asing tetap diperlukan guna melengkapi film Indonesia yang belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan suguhan film bermutu. Dengan demikian, penonton tidak lagi jenuh dengan suguhan film seputar pocong, hantu, kuntilanak, dan setan.

”Masuknya film impor, terutama film box office Hollywood, dapat meningkatkan mutu film nasional.”

Sesuai dengan ucapan Jero Wacik, jika tidak ada aral melintang, SK menteri keuangan tentang pajak film asing akan keluar pada minggu ini atau paling lambat minggu depan. Sebab, pekan lalu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, besarnya pajak atas film impor masih dibahas.

Namun, dengan keluarnya SK menteri keuangan tentang pajak film asing itu, tidak berarti film impor bermutu langsung hadir. Paling tidak perlu waktu satu atau dua bulan.

Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Eddy Putra Irawady mengatakan, pemerintah telah menetapkan satu importir yang mendapatkan izin mengimpor film. Dan, importir itu perlu waktu untuk mendatangkan film impor tersebut. Ia menambahkan, masih ada dua importir lain yang hingga saat ini belum bisa beroperasi karena belum membayar utang pajak dan denda.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Agung Kuswandono mengatakan, tagihan pokok dan denda mereka mencapai Rp 9 miliar yang terdiri dari pembayaran bea masuk impor film selama dua tahun terakhir dengan nominal tagihan pokok Rp 30 miliar untuk 1.759 judul film.

Mengenai regulasi baru soal impor film saat ini, Eddy mengatakan, hal itu sudah selesai dibahas Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan dan tinggal menunggu keputusan menteri keuangan.

Ia menambahkan, intinya ada biaya yang naik dan ada biaya yang turun. Tujuannya untuk memberikan kepastian kepada importir film dan memberi perlindungan pada industri film dalam negeri.

Penyelesaian kasus yang berkaitan dengan pajak film impor itu perlu disambut baik, mengingat kepentingan banyak pihak terakomodasi dalam penyelesaian tersebut. Keinginan penggemar film impor bermutu terpenuhi, demikian juga keinginan pekerja-pekerja bioskop untuk tetap bekerja. Masuknya film-film impor bermutu akan membawa para penggemarnya berbondong-bondong kembali ke bioskop.

Industri film nasional pun terbantu melalui aturan pajak yang baru. Kualitas film nasional pun diharapkan akan meningkat dengan hadirnya film-film impor bermutu.

Dan, jika ada film-film nasional bermutu yang dihasilkan, tersedia gedung bioskop yang nyaman untuk menontonnya. Pemasukan pemerintah dari pajak film pun meningkat. Kini, tinggal menunggu SK menteri keuangan ditandatangani.
James luhulima
Sumber :Kompas Ceta

Kamis, 16 Juni 2011

Trilogi Film Konflik Indonesia


Erasmus Huis, Jakarta, akan mengadakan pemutaran film karya sutradara Leonard Retel Helmrich pada 30 Juni hingga 2 Juli nanti. Ia adalah sineas pertama yang telah menerima penghargaan dari International Documentary Festival Amsterdam (IDFA), dan satu- satunya orang Belanda yang pernah memenangkan hadiah utama pada festival film Sundance.

Helmrich membuat trilogi film tentang keluarga yang berusaha tetap hidup pada saat konflik politik dan agama di Indonesia. Trilogi film tersebut berjudul The eye of the day (2001), Shape of the moon (2004), dan Position Among the Stars (2010).

Helmrich mulai mengikuti kehidupan keluarga Syamsuddin yang tinggal di daerah kumuh Jakarta. Tak tanggung-tanggung selama 12 tahun. Ia mengambil periode reformasi dimana saat itu kondisi masyarakat bergejolak setelah Presiden Soeharto mundur dari jabatannya. Gerakan reformasi ini membawa kemiskinan, pemberontakan dan ketidakstabilan bagi Indonesia, termasuk dialami keluarga Syamsuddin.

Sekuel pertama, The eye of the day (2001), bercerita tentang bagaimana keluarga Syamsuddin mengalami masa transisi ini. Tiap empat kali setahun, nenek Rumidjah pulang kampung untuk membantu keluarganya dengan hasil panen.Bagi putra-putranya, kota ini merupakan dunia mereka. Si bungsu Bakti menghabiskan waktunya dengan berjudi, memelihara burung dara dan bergabung dengan protes mahasiswa terhadap rezim militer. Bakti harus mencari pekerjaan dan melibatkan diri dalam politik dengan cara yang “normal” lewat pemilu demokratis. Retel Helmrich menunjukkan semua aspek kehidupan sehari-hari keluarga ini tanpa wawancara, narasi atau cara lainnya.

Dalam Shape of the moon (2004), sebagai film kedua dari trilogi ini, Helmrich menunjukkan perubahan baru di Indonesia melalui mata keluarga Syamsuddin. Nenek Rumidjah adalah seorang wanita Kristen di ibukota Jakarta dengan mayoritas Islam. Ia ingin meninggalkan kota yang penuh hiruk pikuk ini dan kembali ke desanya untuk menikmati masa tuanya. Namun itu berarti ia harus meninggalkan cucunya Tari di kota. Kehidupan Rumidjah itu tidak menjadi lebih mudah ketika anaknya Bakti masuk Islam karena ingin menikah.

Sekuel terakhir dari trilogi ini bercerita tentang pola-pola kehidupan masyarakat Indonesia setelah 12 tahun masa transisi politik itu. Sehingga dengan bidikan kameranya, penonton akan mampu menangkap permasalahan penting dalam masyarakat yang dengan cepat berubah : korupsi, konflik antar agama,kecanduan berjudi, kesenjangan generasi, dan perbedaan antara miskin dan kaya yang semakin besar.

Meski tiga film jelas saling berhubungan, setiap film sama kuat sebagai sebuah film lepas. Kita tidak perlu melihat film Helmrich sebelumnya untuk menikmati sekuel terakhir ini.

Berikut jadwal pemutaran trilogi film tersebut, Kamis (30 Juni 2011) pukul 19.30 WIB akan diputar film Eye of the Day (2001). Kemudian Jumat (1 Juli 2011) pukul 19.30 WIB akan diputar film Shape of the moon (2004). Sedangkan Position Among the Stars (2010) akan diputar pada hari Sabtu (2 Juli 2011) pukul 15.00 WIB. Pemutaran film tersebut akan dihadiri oleh sang sutradara, Helmrich.

ISMI WAHID/TEMPOINTERAKTIF