Sunday, December 5, 2010

SAM (1)


Pengantar
Cerita panjang yang akan hadir ini mengambil latar belakang seorang tokoh misterius dan tokoh penting pada peristiwa yang di sebut dengan G30S/PKI. Lelaki itu bernama Syam Kamaruzzaman. Banyak sekali rahasia yang menyelimuti hidupnya sampai kepada kematiannya, bahkan ada yang meyakininya masih hidup. Jadi cerita yang akan di sajikan ini bermain di wilayah teka teki ini. Tentang sosok lelaki misterius itu.

Ini jelas fiksi, jelas khayalan. Bahkan sebuah khayalan ngawur. Tapi di dalamnya ada data2 bagian dari catatan sejarah yang tersedia di berbagai arsip dan berita. Benar tidaknya sebuah data tetaplah akan menjadi perdebatan. Jadi benar dan tidaknya cerita dalam kisah ini, tetap menjadi kebenaran fiksi, tidak pernah menjadi kebenaran fakta. Jadi nikmati saja sebagai sebuah bacaan ringan. (Lihat posting sebelumnya untuk membaca riwayat Syam Kamaruzzaman)




BAB 1
 


WARUNG Dawet Ayu ‘Mbah Dolah’ terletak di sudut alun-alun kota. Warung itu terbuka dan kebanyakan meja dan kursi di letakkan di halaman. Pemiliknya seorang lelaki berumur tujuhpulah dua tahun yang dipanggil dengan sebutan Mbah Dolah. Dawet ayu adalah sebuah minuman khas kota Banjarnegara yang terbuat dari   Cendol tepung beras, gula aren, gula kelapa dan santan, yang kadang di kombinasi dengan rasa nangka atau durian . Keadaan cuaca sedang cukup panas sehingga akan menyegarkan menikmati segelas es dawet. Apalagi hari minggu seperti ini. Beberapa keluarga sedang menikmati liburan dan hidangan es dawet adalah hal paling menyenangkan. Banjarnegara adalah sebuah kota kabupaten dengan penduduk sekitar 890 ribu jiwa. Secara geografis, Kabupaten seluas 1.064,52 kilometer persegi ini adalah daerah peruntukan untuk pertanian. Sebagian besar daerahnya berupa pegunungan dan perbukitan. Itu sebabnya dinamakan Banjarnegara yang berarti kota sawah.
     Fatimah mengajak ayahnya yang bernama Ahmad Najib Burhani jalan-jalan menikmati hari libur. Ia sendiri sibuk mengajar pada hari kerja. Maka waktu luang itu ia gunakan untuk menyenangkan ayahnya untuk sekadar menikmati segelas es dawet kesukaan Ayahnya. Hanya dirinya yang masih berusaha membahagiakan ayahnya. Dua saudaranya bekerja di Jakarta dan jarang sekali pulang. Ia dan ayahnya yang telah lama pensiun tinggal berdua. Ibunya telah lama meninggal karena sakit. Membahagiakan ayahnya adalah hal terakhir yang selalu  ingin dilakukannya. Bukan karena ayahnya sekarang sudah tua dan membutuhkan teman setelah Ibunya meninggal, tapi lebih kepada pengabdiannya kepada orangtua.
     Ayahnya dulu bekerja di Jakarta. Ia tidak pernah tahu Ayahnya bekerja di bidang apa. Ayahnya hanya mengatakan bekerja di Departemen Luar Negeri. Setelah peristiwa kerusahan di Jakarta tahun 1998 dan pergantian Presiden, Ayahnya meminta pensiun. Dengan pesangon yang cukup lumayan, apalagi untuk seorang pegawai negeri dan ia sempat heran ketika itu, Ayahnya memboyong keluarga pindah ke tanah kelahirannya di Banjarnegara. Ketika didesak kenapa harus pindah, sedangkan mereka merasa tidak bermasalah dengan Jakarta, Ayahnya menjawab, “Ayah ingin tenang.”
      Seseorang ingin ketenangan biasanya karena sakit. Ia tahu persis ayahnya sangat sehat, bahkan sakit flu atau masuk angin sangat jarang dideritanya. Ayahnya disiplin berolahraga dan makan dengan teratur. Kalau hanya karena semakin bertambahnya umur menjadi alasan, banyak orang yang tetap bertahan di Jakarta.  Ayahnya adalah orang yang tegar dalam menghadapi setiap masalah yang menimpa dirinya. Pembawaan dirinya sangat tenang dan selalu menyelesaikan masalah dengan penuh perhitungan. Jadi buat Fatimah, kepindahan mereka sekeluarga ke tanah kelahiran Ayahnya masih merupakan teka-teki sampai sekarang.
     Kedua kakaknya tetap berada di Jakarta untuk bekerja karena mereka merasa di Ibukotalah tanah kelahiran mereka. Tapi ia tidak memaksakan diri seperti mereka karena menyadari hanya dirinyalah yang menjadi teman terakhir ayahnya saat Ibunya telah meninggal. Fatimah merasa bahwa ia melakukan hal yang benar. Dan ia bahagia.
     “Sudah lama aku tidak menikmati dawet ayu,” kata Ahmad Najib Burhani sambil duduk, “Entah seperti apa rasanya sekarang.”
     “Masih sama seperti terakhir ayah meminumnya,” jawab Fatimah sambil menoleh ke arah pelayan yang datang kepadanya, lalu berkata, “Minta dua es dawetnya, Mbak.”
     “Mau pesen makanan juga, Bu?”
     “Ayah mau makan juga?”
     “Ayah hanya ingin menikmati es dawet. Tidak yang lain.”
     Pelayan lantas pergi.
     Fatimah melihat Ayahnya tersenyum. “Kenapa Ayah tersenyum?”
     “Kau dengar tadi pelayan itu menyebut apa sama kamu?”
     “Tampang saya sudah seperti Ibu-ibu rupanya.”
     “Makanya cepatlah mencari jodohmu.”
     “Jodoh ditangan Tuhan.”
     “Bukan Tuhan yang mencarikanmu suami, tapi kamu sendiri.”
     Dari meja disamping Fatimah, seseorang memanggil namanya. Fatimah menoleh. Di meja sebelah duduk seorang pemuda yang sedang berdua dengan Ayahnya menikmati makanan. Fatimah mengenalnya.
     “Hai Dodo? Maaf ya, tidak tahu kamu duduk disitu.” Fatimah berdiri dan mengajak Ayahnya berdiri. “Ayah, kenalkan Dodo Sudirjo teman Fatimah.”
     Ahmad Najib Burhani menyodorkan tangannya sambil tersenyum. Teman Fatimah bernama Dodo itu menyalami dan menyebut namanya. Lalu dia juga meminta Ayahnya berdiri, “Oya, kenalkan juga Ayahku. Ayah ini Fatimah teman saya dan Ayahnya.”
     Fatimah menyalami Ayah Dodo sambil menyebutkan nama dan memberi jalan Ayahnya untuk berkenalan dan bersalaman dengan Ayah Dodo. Ayah Dodo senyum dan menyodorkan tangannya ke Ayah Fatimah.
     “Abusono….” Kata lelaki berkacamata tebal itu singkat.
     “Ahmad Najib Burhani. Tinggal dimana?” Tanya Ahmad Najib Burhani dengan tangan masih salaman, seperti sedang memahami orang yang sedang dikenalkannya. Karena ia merasa tiba-tiba mengenal wajah Abusono meski memakai kacamata tebal. Ingatan tuanya seperti memutar rekaman di kepalanya tentang wajah Abusono di masa lalunya. Dan ia meyakini apa yang dilihatnya tidak berbeda dengan ingatannya. Mengenal wajah seseorang adalah pekerjaannya, maka melihat wajah Abusono menjadi sangat mudah, meskipun wajah itu sudah berkeriput, berkacamata tebal dan kepala sedikit botak.        
     “Di Klampok….”
     “Purworejo Klampok?”
     “Ya...”
“Asli dari Banjarnegara?” Ahmad Najib Burhani berusaha terus meyakinkan dirinya agar tidak salah dengan terus bertanya untuk mendukung keyakinannya siapa orang yang berada didepannya.
     “Tidak. Saya dari Randublatung.” Jawab Abusono mulai tidak nyaman dengan cara menatap Ahmad Najib Burhani.
     “Randublatung? Pemalang?”
     “Bukan. Tuban.”
     “Oh Tuban ya? Tentu saja Randublatung di Tuban.” Ahmad Najib Burhani berusaha menutupi kekagetannya yang besar.  “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
     “Saya yakin tidak.” Abusono menjawab cepat dengan senyum ramah.
     “Saya dulu punya banyak teman dari Jawa Timur, termasuk dari Tuban, sewaktu masih di Pejambon.” Kata Ahmad Najib Burhani seperti membuka diri lebih jauh.
     “Pejambon?” Abusono mengernyitkan dahinya. “Oh Jakarta…,” lalu mukanya berubah menjadi kaget sendiri seperti tersadar dari sesuatu, dan tiba-tiba ia berkata gugup, “Ehm maaf, kami masih ada keperluan lain. Kami permisi dulu.” Wajah Abusono sangat cepat berubah menjadi tegang dan tangannya menggaet lengan anak lelakinya untuk segera pergi dari tempat itu.
     “Sampai ketemu Fatimah,” kata Dodo buru-buru berpamitan.
     Bagi Fatimah tidak ada yang aneh dan ganjil. Tapi tidak bagi Ahmad Najib Burhani. Tangannya kemudian meraba mangkok bakso di meja Abusono dan ia langsung mendapatkan kesimpulan.
“Temanmu pergi buru-buru, Fatimah.”
     “Maksud Ayah?”
     “Makanan mereka masih panas.”
     Fatimah melihat bakso dalam mangkok itu memang masih penuh dan panas. Mungkin baru dua tiga suap dimakan Abusono.
     “Kau sudah lama kenal temanmu itu?” Ahmad Najib Burhani terus melihat kepergian mereka. Rasa penasarannya semakin tinggi dan keyakinannya akan siapa Abusono semakin mantap.
     “Baru sekitar enam bulan. Dodo bekerja di Dinas Kesehatan.”
     “Dia juga bilang bukan berasal dari daerah sini?”
     “Saya tidak pernah bertanya soal itu. Jarang saya bertemu dengan dia, apalagi ngobrol sama dia. “ Fatimah merasa ada yang aneh dengan sikap Ayahnya. “Memangnya kenapa? Ayah mengenal Ayahnya Dodo?”
     “Mungkin.” Ahmad Najib mencium tangannya. “Wajahnya mengingatkan kepada seseorang yang dulu sangat aku kenal. Dulu sekali, sekitar empat puluh tahun yang lalu.”
     “Saat masih di Jakarta?”
     “Saat masih di Jakarta.”
     “Rasanya mustahil, Ayah.”
     “Menurutmu begitu?”
     “Dodo bilang, sebelum dia pindah tugas kemari, mereka tinggal di Aceh.”
     “Di Aceh? Bisa jadi begitu, tapi bisa jadi sebelum mereka berada di Aceh, mereka tinggal di Jakarta. “ Ahmad Najib Burhani terus membuat teori sendiri. “Tapi kau lihat tadi, saat Ayah menyebut Pejambon, dia langsung tahu bahwa itu nama tempat di Jakarta. Apakah itu  suatu kebetulan?”
     “Mungkin Pak Abusono dulu pernah tinggal atau bekerja di sekitar daerah Pejambon.”
     “Itu maksudku. Lelaki itu pernah tinggal di Jakarta. Empat puluh tahun yang lalu dia memang ada di Jakarta. Dan namanya juga mungkin bukan Abusono.”
     Fatimah semakin tidak mengerti pembicaraan Ayahnya. Ia sudah mulai menikmati hidangan didepannya. Tidak peduli dengan ketegangan yang menyergap Ayahnya tiba-tiba.
“Suaranya sangat aku hafal. Masih sama seperti dulu.” Ahmad Najib Burhani masih berkata lagi untuk meyakinkan dirinya. “Bau badannya bahkan sepertinya tidak aneh bagiku. Juga parfum yang dia pakai. Masih sama.”
     “Saya semakin tidak mengerti dengan maksud Ayah.”
     “Ayo habiskan minumanmu. Setelah ini Ayah harus menelpon ke Jakarta.” Ahmad Najib Burhani lantas duduk kembali untuk menghabiskan es dawet ayu. Ia tidak akan bisa lagi menikmati segarnya es dawet ayu yang sudah lama tidak dinikmatinya. Tapi seseorang yang baru saja ditemuinya, membuatnya harus segera melakukan hubungan rahasia dengan Jakarta. Meskipun ia tidak seratus persen yakin bahwa lelaki itu adalah orang yang sangat penting, yang keberadaannya sangat misterius. Bukan hanya buat dirinya sendiri. Tapi buat teman-temannya di Jakarta.
(bersambung) 

No comments: