Friday, March 18, 2011

BARET HITAM (3)


BAB TIGA


Tarik duduk didepan layar televisi. Tidak ada kegiatan yang lebih membuatnya bergairah kecuali menonton berita perkembangan di Timor timur. Seperti layaknya menonton film western. Hanya tidak ada tokoh Protagonisnya disana. Tapi semuanya nampak sebagai serdadu-serdadu yang menyebalkan. Senjata siap menyalak dengan amunisi satu tas di punggung bercampur pakaian dalamnya. Berjalan dibawah terik matahari dengan memakai kacamata hitam dan mulut mengunyah permen karet. Layaknya hendak bersantai di pantai Kuta Bali.
     Yang membuatnya mencibir tak lebih dari persiapan perang yang dipersiapkan di Darwin. Seolah-olah mereka siap melakukan apasaja secara militer di Timor Timur. Dengan personel yang begitu banyak dan peralatan perang yang begitu besar, Timor Timur seolah akan menjadi medan perang dunia ketiga. Bahkan Amerika Serikat mengirimkan armada ketujuh-nya. Luar biasa kalau tidak mau disebut berlebihan. Kesiapan seperti itu adalah kesiagaan untuk menghadapi angkatan perang negara lain. Padahal mereka tidak akan menghadapi siapapun kecuali apa yang mereka dengar dari media soal milisi yang masih menginginkan bergabung dengan Indonesia.  
Ia telah banyak makan garam operasi-operasi militer yang digelar di Timor Timur, diantaranya Operasi Persatuan, sebuah operasi militer terbesar kedua setelah Operasi Seroja. Ia mendapatkan kepercayaan menjadi salah satu Komandan operasi untuk menyapu bersih gerombolan Fretilin dengan kekuatan utama Falintil yang terus melakukan perlawanan. Untuk beberapa tahun ia malang melintang keluar masuk hutan, turun naik gunung untuk memburu dan menangkap, kalau perlu melenyapkan, gerombolan yang terus menerus membuat panik Jakarta. Sampai ia tertangkap gerombolan itu dan langsung berhadapan dengan pimpinannya.
     Ia yakin akan dibunuh oleh gerombolan itu karena kebencian mereka kepada tentara melebihi kebencian mereka kepada iblis. Tapi pimpinannya mencegah keinginan anak buahnya untuk menggorok lehernya. Pimpinannya yang bernama Ximenes itu memberinya kenang-kenangnya yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Dengan pisau komandonya sendiri, Ximenes mengiris daging di pipi kanan dan kirinya. Sebagai manusia ia berteriak kesakitan, tapi sebagai serdadu yang sangat terlatih, ia harus menyembunyikan rasa sakit, walaupun sampai ubun-ubun kepalanya menguap. Hanya kemurahan Tuhan yang telah membuatnya bisa bertahan hidup sampai Wenang Pati datang membebaskannya.
     Ia berjanji setelah lukanya sembuh, ia akan kembali ke sarang gerombolan itu untuk membuat perhitungan sendiri. Tapi ia tidak pernah bisa melaksanakan niat itu, karena tugas baru telah menunggunya di Jakarta. Diketahui kemudian, Wenang Pati yang menghendakinya. Luka di kedua belah pipinya oleh atasannya itu harus dioperasi untuk menghilangkan bekas lukanya, walaupun ia mempertahankannya. Baginya, itu adalah oleh-olehnya yang paling berharga, selain nyawanya yang masih utuh. Ia tahu betapa Wenang Pati merasa bahwa itu adalah tamparan keras bagi kesatuannya.
     Di pesawat televisi, sang Presiden sedang berpidato didepan anggota wakil rakyat, “….bangsa Indonesia mencatat, bahwa sikap dan tindakan Australia mengenai masalah Timor Timur, sangat berlebihan dan tidak membantu upaya-upaya untuk memelihara hubungan bilateral dengan Indonesia atas dasar saling menghormati kedaulatan nasional, integritas wilayah dan kesamaan derajat serta prinsip-prinsip untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing….”
     Mereka merasa menjadi bangsa paling beradab didunia, pikir Tarik sinis.
     “…Pemerintah Indonesia juga memperhatikan perkembangan pandangan masyarakat luas Indonesia, terhadap sikap dan perilaku Australia akhir-akhir ini, mengenai masalah Timor Timur. Mempertimbangkan perkembangan itu, pemerintah sangat menyayangkan sikap Australia yang telah merusak hubungan bilateral dengan Indonesia…”
     Mereka telah dikontrak menjadi deputy sherif di Asia dan sedang bermimpi menjadi polisi dunia kedua,  pikir Tarik sambil mengemasi barang-barangnya. Presiden masih memberikan pidatonya, “…Opsi kedua yang ditawarkan pemerintah, bukanlah melepaskan Timor Timur, apalagi memerdekannya, karena Indonesia tidak pernah menjajah Timor Timur…”
     Tarik membuka lemari khusus dan mengeluarkan tas militernya, memasukkan baju dan sepatu lars dan semua keperluan militernya, kecuali senjata karena ia tidak menyimpannya kecuali pisau komando, satu-satunya senjata yang paling dibanggakannya, melebihi kesukaannya pada senapan mesin. Ia kemudian mencari Mustari, pemuda yang menemaninya di bengkel.
     "Saya akan pergi. Saya tidak tahu kapan kembali, atau mungkin tidak akan kembali. Tapi kalau memang saya tidak kembali, teruskan bengkel ini buatmu."
     Mustari kelihatan tidak bisa menyembunyikan keheranannya. "Katanya bapak tidak akan kembali ke Jakarta."
     "Siapa bilang saya akan ke Jakarta."
     "Memangnya mau kemana selain ke Jakarta?"
     "Percayalah, meski saya ke Jakarta, tapi saya tidak akan tinggal disana."
     Ia lahir dan dibesarkan di Ibukota, tapi sekarang ia sangat membenci kota itu. Banyak sekali kenangan yang menyenangkan tapi akhirnya menjadi mimpi buruk buatnya. Kalau pun ia harus ke kota kelahirannya itu, semata-mata karena disana ia masih mempunyai sahabat-sahabat yang selalu membelanya dan terutama ayah dan Ibu serta saudara-saudaranya. Anak kandung satu-satunya memang berada juga di kota itu, tapi sekarang telah bersama bekas istrinya. Dan ia tidak ingin bertemu mereka karena lebih kepada pertimbangan bekas mertuanya yang telah memandangnya dengan sebelah mata.
     Tarik kemudian menemui Wenang Pati. Ia langsung menyapa,  “Jendral, saya siap berangkat.”
     Dua jam kemudian, mereka sudah berada dalam pesawat helikopter khusus menuju Jakarta. Tak ada lagi yang dipikirkan Tarik kecuali tugas yang akan dilakukannya. Tidak juga peduli dengan pesawat khusus yang sedang mereka tumpangi. Dalam keadaan biasa, perjalanan khusus seperti ini tidak bisa dilakukan. Wenang Pati juga nampaknya tidak peduli benar soal itu. Ia meraih berkas-berkas yang telah disediakannya. Satu diberikan kepada Tarik dan satu dibacanya sendiri.
     “Pada 9 Juni 1999, militer kita menangkap adanya indikasi suplai senjata terhadap kelompok Falintil. Tanggal 14 April sebelumnya, diyakini ada dua helikopter jenis Puma tanpa identitas mendarat di salah satu desa di Viqueque. Dari hasil pantauan radar, ada lima kali penerbangan gelap masuk Timor Timur. Penerbangan itu dilakukan sebelum kedatangan Tim UNAMET.” 
     Tarik mengatupkan kedua rahangnya. “Karena alasan pendidikan dan alamnya, orang-orang barat, dan sekarang Australia, hanya memahami logika kekuatan.”
     “Apa yang telah dilakukan Canberra bisa menyudutkan kita di dunia internasional. Dan mereka sekarang mendompleng PBB dengan pasukannya masuk ke Timor Timur.”
     Wenang Pati menyalakan pesawat televisi. Sebuah pesawat angkut C-130 Hercules tampak mendarat di ujung landas pacu Bandara Komoro, Dili. Sesaat kemudian, pesawat loreng milik Angkatan Udara Australia itu memuntahkan tujuhpuluhlima tentara Australia berseragam tempur sambil menenteng senapan jenis M-16 dan Steyer. Mereka bergerak menyebar dan langsung bersiaga tempur, seolah Bandara sedang dikepung musuh yang sedang menyambut kedatangan mereka.
     Tarik tersenyum kecut. “Mereka pikir sedang main film Amerika.”
     "Kekuatan pendukung tempur Interfet adalah limabelas Helikopter Black Hawk, empat Helikopter Bell 206 Jet Ranger, Duapuluh enam tank APC, satu Tank Amphibi, Duapuluhdua Truk, Limpuluhsembilan Land Rover, Sebelas Trailer, Dua Ambulan dan empat motor roda empat."
     "Mereka sengaja menantang kita."
     "Mereka terlalu takut dengan milisi."      
     Di layar televisi itu muncul Komandan pasukan multinasional yang berasal dari Australia, berpangkat Mayor Jenderal yang memakai topi lebar. Kelihatan juga disampingnya Kepala Unamet, seorang laki-laki bermata menikam yang kelihatan bangga sekali telah melaksanakan jajak pendapat yang dimenangkan oleh kelompok pro kemerdekaan, seperti yang diduganya jauh-jauh hari.
     Tarik menegakkan kepalanya. “Berapa yang dikirim.”
     “Hanya timmu.”
     “Kalau saya sendiri?”
     “Kita tidak sedang membuat film seperti Rambo.”
     “Yeah, lagipula itu hanya film.” Tarik tersenyum kecut. "Tapi saya butuh waktu untuk mengumpulkan kembali teman-teman saya."
     "Jangan khawatir, aku sudah tahu dimana mereka. Kau tinggal jemput mereka."
     Tarik sudah menduga hal itu dan semakin meyakinkannya bahwa tugas yang diberikannya sekarang sangat serius.
(bersambung)

No comments: