Wednesday, March 23, 2011

SAM (6)

BAB 6


 

Tigor Naipospos  duduk diatas motor yang diparkirnya di halaman kantor pos sambil merokok. Matanya terus menerus tertuju ke seberang jalan, dimana tampak deretan rumah kolonial dipinggiran lapangan. Kantor pos itu juga menempati bangunan kolonial persis dipinggir jalan propinsi. Rumah tinggal Abusono alias Sam terlihat jelas dari tempatnya berada. Tempat yang sangat terbuka, pikir Tigor. Bagaimana mungkin lelaki tua itu bisa hidup di tempat ini sejak empat puluh tahun terakhir tanpa ketahuan jati dirinya yang sebenarnya. Kalau di luar Pulau Jawa hal itu barangkali tidak menjadi aneh.
     Warsito Abdul Kahmid keluar dari dalam kantor pos dan begitu saja berkata, “Abusono bertempat tinggal disini belum genap dua tahun.”
     “Aku pikir sudah empat puluh tahun.”
     “Anak lelakinya dipindahkan tugasnya ke daerah ini dan Abusono menginginkan tempat nyaman untuk pensiun.”
     “Siapa yang mengatakannya pada kau?”
     “Seorang lelaki limapuluhlima tahun yang sedang mengambil uang wesel dari anaknya di Malaysia.” Warsito menyalakan rokoknya dengan santai dan dia berkata lagi, “Katanya mereka berasal dari Semarang.”
     “Apalagi?”
     “Apa yang kau dapat?”
     “Tidak ada.”
     Warsito menatap Tigor Naipospos yang sikapnya begitu cuek dan seenaknya. “Bagaimana kau bisa masuk DIK?”
     “Pertanyaan macam apa pula itu.”
     “Aku hanya ingin lebih akrab denganmu.”
     “Bah. Aku tidak mau tidur sekamar denganmu kalau begitu.” 
     “Kita kembali sekarang.” Warsito menahan diri dan dia membanting rokoknya yang masih panjang.
     “Aku lapar.” Tigor Naipospos juga membanting rokoknya.
     “Ada rumah makan pinggir sawah tiga kilometer lagi, setelah pasar Mandiraja” jawab Warsito naik ke boncengan.
     “Aku ingin makan tempe mendoan di pasar Mandiraja saja,” kata Tigor Naipospos menyebutkan tempat ramai sekitar tiga kilometer lagi dari tempat mereka berada.
     “Yeah, lebih baik kita memang membaur.”
     Motor mereka melaju dengan kecepatan sedang. Mereka tahu mereka melawati mobil yang dibawa Parwata yang sedang parkir di pinggir jalan, di depan sebuah rumah bergaya kolonial.
     Parwata sudah bersama seorang lelaki berkacamata berumur enampuluh lima tahun bernama Purnomo. Lelaki itu hendak menjual rumah kolonial yang telah lama dimilikinya karena jarang ditempatinya. Purnomo mempunyai rumah pribadinya di perkampungan padat tidak jauh dari tempat itu. Rumah kolonial itu dibeli anak lelakinya yang bekerja di Payakumbuh, Sumatra Barat. Tetapi karena sudah dipastikan tidak bisa bertugas di Banjarnegara, anak lelakinya menyuruh Purnomo menjualnya saja.
     “Boleh tahu untuk apa Pak Parwata membeli rumah ini?”
     “Kantor cabang, Pak.”
     “Bergerak di bidang apa?”
     “Pertambangan.”
     “Yeah, Banjarnegara memang perlu digali potensi tambangnya. Saya yakin tidak kalah dengan daerah lain.” Purnomo nampak antusias sekali. “Dan rumah ini memang sangat cocok untuk di jadikan kantor daripada untuk bertempat tinggal. Seperti kantor pos yang tidak jauh dari sini. Tapi kalau untuk showroom kerajinan keramik, kurang lapang rumah ini. Siapa tahu nanti perusahaan bapak juga tertarik untuk berbisnis keramik.”
     Cerewet sekali lelaki ini, batin Parwata.
     “Jadi berapa pasnya harga rumah ini, Pak?”
     “Sudahlah, balik modal saja, seratus limabelas juta.”
     Murah sekali, pikir Parwata sambil mengeluarkan buku cek. “Bapak menerima cek?”
     “Cek?”
     “Oh lebih baik uang cash saja ya.” Parwata menyadari kesalahannya. “Sebentar, saya ambilkan di dalam mobil.”
     “Sebentar, Pak Parwata.”
     “Ya.”
     “Tapi benar rumah ini untuk dijadikan kantor kan?”
     “Maksud Bapak?”
     “Maaf sebelumnya, bukan bermaksud buruk sangka. Tapi akhir-akhir ini kita disarankan pihak berwenang untuk hati-hati menerima kedatangan orang asing. Takutnya mereka teroris yang sedang dicari Polisi, seperti yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Tengah.”
     Lelaki yang sangat behati-hati, pikir Parwata. “Saya pastikan, bukan untuk sarang teroris Pak.”
     Purnomo tertawa dan kembali berkata, “Kalau begitu, bagaimana kalau pembayarannya dilakukan dirumah saya saja, dibelakang rumah ini kok, hanya memutar saja. Sekalian Pak Parwata mencicipi masakan khas Banjarnegara.”
     “Apakah masakan khas Banjarnegara?”
     “Sayur lodeh.”
     Di Jakarta juga ada.
      
JAM duabelas lewat duapuluh menit, mereka sudah berkumpul dan sedang menikmati makan siang di sebuah rumah makan di sebelah selatan alun-alun kota. Yang paling rakus makan Tigor Naipospos. Tidak ada yang peduli dengan cara makan Tigor kecuali Warsito.
     “Apakah hawa sejuk kota ini membuat perutmu selalu kelaparan, Tigor?”
     “Lagi tidak enak badan aku.”
     “Buset, tidak enak badan saja rakus begitu, bagaimana kalau sehat,” kata Beny Reza menimpali. “Satu kuali kali habis.”
     “Kalian kalau masih kurang, tinggal panggil pelayan. Tidak usah usillah dengan cara makan orang lain.”
     Jun Maher tertawa.
     “Minuman ini yang disebut dawet ayu?” Tanya Parwata menoleh kepada Mustajab sambil memegang gelasnya dan meminumnya.
     “Dawet ayu adalah minuman khas Banjarnegara.”
     “Kenapa di gerobaknya gambarnya Semar, bukan seorang gadis ayu?” Saat mengeja Semar, lidah Batak Tigor sangat medok lafal e-nya, sehingga terdengar lucu.
     “Se-mar, Tigor. Bukan Semar,” ujar Warsito berusaha memberitahu tanpa merasa berdosa.
     “Lama-lama aku gantung kau di alun-alun sana, Warsito.”
     Semua tertawa. 
     “Siang ini kita lakukan latihan pengambilan target,” kata Jun Maher. “Nanti malam kita pindah di base camp. Mustajab, tugasmu memesan isi rumah.”
     “Sebelum jam delapanbelas, base camp sudah siap, Pak,” kata Mustajab yakin
     “Dimana kita akan melakukan latihan, Bos?” Tanya Warsito.
     “Di daerah PLTA Mrica. Berharap saja semoga turun hujan,” kata Jun Maher berharap sambil menoleh keluar.
     “Langit saja tidak ada tanda-tanda mendung.” Tigor Naipospos melihat juga ke arah luar. “Kalau hujan tidak turun, buat saja sesajen, Bos?”
“Kau terlalu sering nonton sinetron rupanya,” kata Beny Reza.
     “Tapi usul kau bagus juga,” sahut Jun Maher dan melihat jam tangannya. “Pak Parwata, tugasmu membayar tagihan.”
     Jun Maher langsung berdiri dan meninggalkan tempat itu diikuti yang lain.
     Saat mereka bergerak pindah dari hotel menuju base camp, hujan benar-benar turun. Di dalam mobil menuju lokasi latihan, Tigor Naipospos menatap Jun Maher dengan pandangan lain.
     “Kenapa kau menatapku begitu?” Jun Maher tahu yang dilakukan Tigor tanpa menoleh.
     “Darimana bos tahu akan turun hujan?”
     “Aku tidak tahu.”
     Dalam limabelas menit, mereka sudah melakukan simulasi latihan penyergapan di sebuah tanah lapang yang dijadikan tempat parkir oleh pengelola wisata dermaga PLTA Mrica. Selain sebagai pembangikit listrik, Bendungan  Panglima Besar Sudirman atau PLTA Mrica, di jadikan sebagai tempat rekreasi danau yang disukai pengunjung. Ada sebuah jalan aspal yang dijadikan jalan pintas oleh beberapa orang. Tapi saat hujan, tidak banyak yang memperhatikan apa yang mereka lakukan.
     Parwata yang usianya hampir sama dengan Abusono atau Sam, dijadikan peran pengganti. Sementara yang melakukan penyergapan adalah Tigor dibantu Warsito. Jun Maher didalam mobil menghitung waktu. Beny Reza dibelakang setirnya. Saat Tigor menyergap Parwata dengan membekap mulutnya dari belakang dan diseret ke arah mobil, kelihatan tidak lancar. Begitu sampai masuk ke dalam mobil, Jun Maher melihat penghitungan waktunya.
     “Masih terlalu lama. Kita harus melakukannya dalam duapuluh detik,” kata Jun Maher.
     “Saat tidak hujan, limabelas detik mudah sekali, Pak.”
     “Lakukan sekali lagi.”
     Ketiga lelaki itu kembali ke tengah lapangan.
       (bersambung)

No comments: