Wednesday, February 9, 2011

SAM (2)


BAB 2


KABAR Abusono berada di Banjarnegara, sudah sampai di meja Umar Yusuf, kepala Dinas Intelijen Khusus (DIK). Gedung DIK terletak agak jauh dan menyendiri dari pusat kegiatan pemerintahan Ibukota Jakarta . Sebuah gedung yang diselimuti oleh kesan misterius dan penuh rahasia. Dikelilingi tembok tinggi dengan kawat berduri yang dialiri listrik berkekuatan tinggi, kamera rahasia dan jenis peralatan canggih lainnya yang mampu mematikan arus komunikasi di sekitarnya. Dari luar, gedung itu kelihatan tenang. Selalu tenang. Tapi didalam ruangan gedung itu, berbagai aktifitas sedang berlangsung terus menerus. Tiada waktu berhenti. Semua harus bergerak dan selalu bergerak.
     Penjagaan di setiap pintu masuk dilakukan selama duapuluhempat jam penuh oleh polisi militer berseragam sipil. Setiap orang yang masuk, harus diperiksa dengan sangat ketat melalui ruangan khusus yang telah dipasang sinar infra merah. Pada setiap sudut terdapat kamera rahasia dan alat deteksi. Tidak ada satu penyusup yang akan berhasil masuk. Bahkan untuk seekor tikus.
Umar Yusuf, Kepala DIK, masih berada didalam ruang kerjanya. Berusia enampuluh sembilan tahun, seorang laki-laki yang dingin dengan wajah penuh kerut ketuaan dan sorot mata menikam serta sarat dengan beban rahasia yang busuk. Ia seorang purnawirawan Angkatan Laut berbintang tiga. Masih nampak gagah dan menampakkan diri sebagai laki-laki yang mempunyai kharisma. Pekerjaannya membuatnya harus selalu berada dalam suatu keadaan segar bugar, penuh selidik dan mencurigai siapapun, termasuk keluarganya. Ia hanya percaya kepada dirinya sendiri. Bahkan tidak termasuk kepada Jun Maher, anak buahnya yang paling ia andalkan, yang tengah duduk didepannya.
Ia sudah memegang sebuah foto ukuran 10R dengan gambar berwarna dan disodorkan kepada Jun Maher untuk melihatnya.
     “Siapa ini?” Tanya Jun Maher manatap foto lelaki tua berkacamata tebal dengan kepala hampir botak dan bentuk wajah yang keras.
     “Kau tidak tahu dia?” Umar Yusuf mengambil foto-foto yang lain dan menyodorkannya. “Coba lihat foto-foto yang ini.”
     Jun Maher melihat satu persatu foto hitam putih itu. Gambar lain dari Abusono sewaktu masih muda dan satu foto saat berdiri di depan sidang Mahmilub di Bandung. Meskipun belum jelas benar baginya, tapi ia tahu wajah dingin dalam foto itu. Dan ia begitu saja berkata,
“Sam?”
     “Ya.”
     “Maksudnya?”
     “Dia sudah ditemukan.”
     “Sudah ditemukan?”
     “Di sebuah kota bernama Banjarnegara.”
     “Orang ini?”
     “Ya, Sam, Kepala Biro Khusus Sentral Partai Komunis Indonesia tahun 1965.” Umar Yusuf dengan lancar berkata. “Orang yang sampai detik ini tidak ada yang tahu keberadaannya sejak tanggal 30 sepetember 1986.”
“Bukankah tanggal itu dia dieksekusi di salah satu pulau di Kepualauan Seribu?”
“Ya. Tapi saat terjadi pergantian kekuasaan tahun 1998, sumber intelijen mengatakan Sam masih hidup.”  
     Jun Maher masih tidak percaya melihat foto Abusono tua, yang di foto beberapa hari sebelumnya oleh agen yang sudah berada di lapangan.
“Ini hanya kebetulan mirip, Pak.”
     “Memang butuh kepastian untuk meyakinkan bahwa lelaki tua ini adalah Sam. Tapi tim kita di laboratorium sudah meyakinkan bahwa foto terbaru itu adalah foto Sam.”
     “Siapa sumber kita?”
     “Teman lama yang telah pensiun.”
     Jun Maher tertawa. 
     “Kau tidak percaya?”
     “Tentu saja tidak,” Jawab Jun Maher mantap. “Sam itu hanya Tuhan yang tahu berada dimana sekarang setelah eksekusi yang kita tidak pernah tahu dilakukan atau tidak.”
     “Untuk itu kau harus turun sendiri meyakinkan berita penemuan ini,” kata Umar Yusuf yakin. Ia sudah mengalami banyak bahaya bersama Jun Maher dan sudah berkali-kali mempercayakan nyawa kepadanya. Jika Umar Yusuf punya anak asuh, Jun Maher-lah anak asuhnya. Tapi sedekat apa hubungannya dengan Jun Maher, Umar Yusur tak bisa sepenuhnya mengenal lelaki itu. Seperti semua agen yang baik, Jun Maher tidak membagi hidupnya dengan orang lain, hanya memperlihatkan apa yang diperlukan pada saat dibutuhkan. Persis seperti Umar Yusuf.
     “Jadi Bapak percaya orang ini sudah ditemukan?”
     “Demi Tuhan, Jun, ini penemuan paling menakjubkan setelah orang bisa mendarat di bulan,” kata Umar Yusuf berapi-api. “Kau tahu, ini juga berita pertama setelah empatpuluh tahun lebih kita tidak pernah bisa mengendus keberadaannya. Lagipula sangat sedikit yang tahu wajah orang ini sebenarnya. “
     “Menurut saya ini omong kosong.”
     “Setiap informasi sekecil apapun, sangat berharga buat kita. Apalagi untuk orang yang paling dicari keberadannya seperti Sam.”
     “Kalau pun benar, ini akan menjadi bola api liar.”
     “Dan akan memancing keluar ikan yang besar.”
     “Tetap saja saya belum percaya,” kata Jun Maher lagi.
     “Untuk itu aku akan siapkan tim untuk kau pimpin ke Banjarnegara,” katanya tegas tanpa menghiraukan ketidakpercayaan Jun Maher. Ia mengambil telpon. “Kita bicara lagi setelah ini.”
     Jun Maher tidak bisa berkata lagi. Atasannya itu sudah berbicara di telpon. Artinya ia tidak bisa membantah atau mengemukakan pendapatnya. Makanya kemudian ia memilih keluar ruangan.  Tapi saat ia hendak keluar, atasannya itu memanggil lagi.
     “Jun, kita bicara sekarang, tapi diluar.”
     Karir Jun Maher dimulai di Departemen Luar Negeri sebagai wakil Kepala Intelijen urusan Dalam Negeri. Dengan umur empatpuluh dua tahun, sebenarnya ia terlalu muda untuk menempati posisi strategis sebagai salah seorang ahli intelijen yang diperhitungkan di Dinas Intelijen Khusus, sebuah instansi baru yang sangat dirahasiakan keberadannya. Penampilannya selalu rapi dan bersih, dengan potongan rambut pendek agar bentuk wajahnya terlihat jelas. Agaknya ia orang yang mempunyai cukup waktu untuk bersolek. Tapi satu-satunya alasan ia melakukan hal itu karena belum beristri. Kebutuhan hidupnya telah tercukupi dengan sangat layak. Sebuah rumah bagus di salah satu kawasan real estat yang banyak di huni kalangan eksekutif muda, sebuah mobil jip warna hitam, dan setiap ada waktu libur ia menonton film di Planet Hollywood yang dilanjutkan dengan nongkrong di Hard Rock Cafe. Hampir semua kenikmatan bisa didapatnya dengan mudah dan ia kelihatan menikmati sekali statusnya sebagai bujangan. 
Gelar sarjana ia peroleh dari Institut Teknologi Bandung, gelar master di Universitas Indonesia, mendapatkan pelatihan dari BIN, pelatihan Kopassus,  Pelatihan pasukan khusus polisi, pelatihan bahasa dan elektronik canggih. Ia merasa bangga karena dari beberapa teman kantornya, hampir semua lulusan luar negeri. Ia bukan jenis orang yang ngotot mempertentangkan sekolah luar negeri dan dalam negeri, sepanjang apa yang dilakukannya tidak dipandang dengan perbedaan. Seperti Umar Yusuf atasannya yang sedang berjalan di sampingnya.
Umar Yusuf, purnawirawan Angkatan Laut berpangkat terakhir Letnan Jenderal Marinir, pernah memegang jabatan strategis pada masa setelah pemberontakan Partai Komunis Indonesia tahun 1965. Dengan karir cemerlang pada masanya, ia menjadi tokoh yang banyak dibicarakan dan mempunyai pengaruh cukup besar di kalangan purnawirawan, saat dominasi Angkatan Darat sangat besar pada waktu itu.
Dibalik sifatnya yang tanpa tedeng aling-aling, ia adalah seorang pemberani. Sebagai seorang anak nelayan, ia telah menikmati kehidupan yang berat di masa-masa kecilnya di Labuhan, Banten, karena penjajahan Jepang. Ia sebenarnya bisa menikmati pendidikan yang layak karena ayahnya adalah salah satu saudagar kapal. Tapi ketika ia berusia duabelas tahun, ia melihat kakak tertuanya yang suka melaut melawan serdadu Jepang tanpa memikirkan dirinya sendiri di pantai. Semenjak saat itu, ia tahu apa yang diinginkannya: menjadi pejuang dan bergabung dengan tentara yang melawan serdadu Jepang di laut. Pada usia tujuh belas tahun, ia telah pergi jauh dari tanah kelahirannya dan berjuang di Jakarta. Dari salah satu komandannya, ia disarankan bersekolah di Semarang. Ia kemudian pulang menemui ayahnya dan meminta uang untuk masuk Sekolah Tinggi Pelayaran. Dari sanalah ia akhirnya berhasil mewujudkan impiannya untuk menjadi anggota  Korps Marinir.
Dalam perjalanan karirnya sebagai serdadu, ia banyak terlibat dalam berbagai operasi. Salah satunya adalah operasi pembebasan Irian Barat dan penumpasan pemberontakan PRRI dan PERMESTA, sampai kemudian karena prestasinya, ia dikirim ke Amerika untuk mengikuti pendidikan Advance Course For Officer of Marines Corps School. Setelah pulang, ia segera menduduki jabatan-jabatan yang menurutnya bagus tapi tidak menguntungkan untuk karir militernya. Sejak saat itu, ia merasa karirnya telah selesai, tapi sebagai prajurit ia tetap harus melaksanakan kewajibannya sebaik yang bisa dilakukannya. Ia termasuk orang yang beruntung karena di didik dengan latar belakang agama yang kuat, lingkungan baik yang selalu membuatnya harus jujur dan menjunjung kebenaran.
Setelah rezim Orde Lama berakhir dan digantikan rezim Orde Baru, ia berharap segala sesuatunya akan lebih baik. Tetapi harapannya tidak terpenuhi, ia melihat banyak sekali kejadian yang bertentangan dengan hati nuraninya, akibat dari kekuasaan yang dijalankan dengan kekerasan. Jabatannya tidak mampu ia gunakan untuk merubah keadaan menjadi lebih damai buat orang banyak. Setelah ia pensiun, ia memilih tidak melibatkan diri dalam dunia politik.
Tapi saat Presiden Abdurahman Wahid berkuasa, ia diangkat menjadi Kepala Dinas Intelijen Khusus. Sebuah lembaga yang dibentuk untuk menangani kasus-kasus khusus yang sulit terpecahkan oleh dinas keamanan lainnya, terutama intelijen negara.  Secara teknis, DIK berada di bawah Departemen Pertahanan, tapi Presiden menginginkan DIK menjadi lembaga intelijen yang mandiri dan terpisah dari urusan birokrasi dan langsung berada di bawah kekuasaannya. DIK diberi kewenangan untuk mengakses semua informasi dari Departemen manapun untuk kepentingan penyelidikan. Untuk menghindari kepentingan yang saling berbenturan, juga menghindari ketidaksenangan lembaga keamanan lain, DIK dirahasiakan keberadaannya. Tidak pernah disebutkan dan tidak akan pernah diakui keberadaannya, seandainya suatu saat ada pihak yang ingin membongkarnya.
Umar Yusuf nyaris tidak percaya ketika ditunjuk untuk memimpin DIK. Rupanya perjalanan karirnya dilihat serius oleh Presiden saat itu. Saat pertamakali dipangil ke Istana oleh Presiden saat ditawari jabatan itu, Presiden berkata, “Saya butuh orang-orang yang tidak terikat dengan sejarah masa lalu yang penuh kepalsuan. Saya ingin sejarah negeri ini diluruskan.”
“Maaf Bapak Presiden, kenapa Bapak mendirikan DIK?”
“Allen Dulles, pendiri CIA, pernah mengatakan, negara pasti kuat jika memiliki intelijen yang kuat. Pak Umar juga pasti lebih tahu dari saya bahwa Orde Baru kuat karena intelijennya juga kuat.”
“Tapi sudah ada BIN.”
“DIK beda. DIK mempunyai tugas khusus, yaitu meluruskan yang bengkok-bengkok supaya tidak terjadi sejarah yang bengkok di kemudian hari.”        
     “Bapak Presiden yakin saya orang yang tepat dengan jabatan ini?”
     “Tunjukkan bahwa Pak Umar Yusuf bekerja untuk kepentingan negara, bukan untuk saya. ”
     Setelah diberi waktu satu hari, Umar Yusuf menerima jabatan itu. 
(bersambung)

No comments: