Sunday, February 20, 2011

SAM (3)

BAB 3

“NANTI malam aku menghadap Presiden,” kata Umar Yusuf sambil berjalan dengan Jun Maher ditengah keramaian Pasar Baru. Kebisingan dan keramaian adalah tempat paling aman mereka membicarakan sesuatu yang sangat penting tanpa perlu takut ada yang mencuri dengar. Hidup dan nyawa mereka berada di mulut mereka sendiri. 
“Kabar ditemukannya Sam sebentar lagi akan menjadi komoditi yang laris di Istana,” kata Jun Maher sinis. “Lebih baik ditunda, Pak.”
     “Ini masalah serius, Jun.”
     “Kita selalu menangani kasus yang tidak pernah tidak serius. Tapi ini kasus khusus.”
“Kamu tidak percaya kepada Presiden?”
“Aku tidak percaya kepada All The Presdient Man.”
“Paling tidak aku berharap Presiden lebih bijaksana untuk lebih menutupi persoalan yang satu ini.”
     “Di negeri ini, dimana kita bisa menyembunyikan sebuah rahasia? Dinding kantor kita terlalu tipis, lebih tipis dari baju yang kita pakai. Apalagi kalau berita ini sampai di Senayan, urusannya bisa jadi lain.”
     “Jangan menyinggung perasaan orang banyak.”
     Jun Maher terbahak.
     Umar Yusuf mengambil botol air mineralnya dan meminumnya.
     “Apakah bisa dipastikan teman-teman yang lain akan keluar?”
     “Pasti. Bahkan mungkin saat ini CIA, MI6, KGB, Mossad, sudah memilih agent-agent terbaiknya untuk turun,” jawab Umar Yusuf tegas.
     “Siapa orang ini sebenarnya?” Jun Maher jadi keheranan sendiri, padahal ia sudah paham diluar kepala tentang orang ini sejak masih duduk di sekolah menengah atas. Tapi apa yang dikatakan atasannya menjadi sangat menegangkan.
     “Sam dikenal sebagai pimpinan Biro Khusus Partai Komunis Indonesia. Tapi sebenarnya dia adalah double agent, bahkan dia seorang triple agent.” Umar Yusuf seperti sedang membacakan buku pelajaran sejarah. “Peristiwa yang dikenal gerakan 30 september 1965 adalah hasil kecemerlangan otak Sam, sehingga sampai sekarang menjadi teka-teki.”   
“Menurutku dia terlalu pintar untuk merancang gerakan yang mengguncang dunia itu seorang diri.” Jun Maher berkata sinis.
     “Tentu saja dia tidak sendirian. Dokumen Gilchrist contoh paling nyata yang dibuat agent MI6 yang menyatakan adanya Dewan Jendral.”
     “Tapi penghilangan jejak pada lini-lini penting adalah khas operasi intelijen, dan itu metode klasik CIA.”
     “Itu memperkuat dugaan bahwa Sam triple agent.”
“Menurut bapak, Sam sengaja menghilang atau dihilangkan?”
“Menurutku dia sengaja disimpan.”
“Atau jangan-jangan Sam itu sebenarnya orang yang pemalu dan rendah hati.”
     Mereka tertawa.
     Suara tawa penuh kelucuan.
     “Tapi kenapa sekarang bisa ditemukan?” Jun Maher mengernyitkan dahi. “Apakah dia sengaja menampakkan diri? Lebih gila lagi dia muncul di Banjarnegara. Kenapa tidak di Perancis seperti tokoh PKI yang lain? Atau Belanda? Atau Amerika Serikat, sehingga dia layak dipanggil Paman Sam.”
     “Ada yang pernah mengatakan Sam hidup di Belanda dan Perancis. Tapi alasan kenapa dia bisa berada di Banjarnegara, kau yang harus cari tahu.”   
     “Ini pasti informasi ngawur.”
     “Foto-foto yang sampai di mejaku, sudah diteliti di lab. Semuanya menunjukkan kesamaan antara foto lama dan foto terbaru yang dikirim agen lapangan.”
     “Saat kita seharusnya mengurusi hal yang lebih penting, kita malah mengurusi orang tidak waras ini.” Jun Maher terus berkata. “Aidit dan Untung menjadi terkenal karena berita eksekusi mereka dimasukkan dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Tapi Sam? Orang ini merasa terlalu berharga untuk menjadi komoditas berita di selembar kertas pembungkus tempe.”
     Jun Maher lalu diam.
     Umar Yusuf kelihatan berpikir.
“Dalam tiga hari ini aku sudah harus mendapatkan tim untuk kau pimpin.”
     “Ada teman kita yang aktif di kota kecil itu?”
     “Aku sudah mengirimkan agent kita sejak berita ini sampai. Dan kita terus berhubungan.” Umar Yusuf meminum kembali air mineral yang dibawanya, sepertinya butuh banyak ketenangan, lalu diam sebentar dan kemudian berkata, “Aku ingin Sam dibawa secepatnya ke Jakarta. Aku tidak mau pihak lain mendapatkannya terlebih dahulu.”
     “Aku ingin ikut memilih anggota tim yang berangkat.”
     “Nanti malam data agent-agent yang harus dipilih sudah di mejaku.”
Umar Yusuf lantas berbelok masuk ke dalam sebuah Barber Shop. Jun Maher membeli sebuah rokok di penjual keliling, setelah itu ia masuk menyusul atasannya.
***
TAMAN Rekreasi dan Margasatwa Serungling Mas Banjarnegara adalah sebuah taman rekreasi dan kebun binatang yang letaknya satu kilometer dari pusat kota Banjarnegara. Taman rekreasi ini berdampingan dengan sifon atau saluran bawah tanah di bawah sungai Banjarcahyana yang dibangun Belanda tahun 1938. Dari tempat itu, pengunjung dapat menyaksikan pertemuan tiga sungai, yaitu sungai Serayu, sungai Merawu dan sungai Palet. Presiden Soekarno pernah mengunjungi bangunan itu pada tahun 1952 dan sangat mengaguminya.
Sebelumnya taman rekreasi itu merupakan hutan kota dan saat hari libur selalu ramai dikunjungi dan akan lebih banyak lagi saat liburan akhir semester anak sekolah dan saat lebaran. Sinar matahari yang terik tidak terasakan lagi saat berada di taman rekreasi ini. Rimbunnya pohon telah membuat teduh dan orang-orang menjadi nyaman berada disana.
     Mustajab membawa kamera tustelnya dengan cara dikalungkan di lehernya. Penampilannya seperti tukang foto keliling yang menawarkan jasanya kepada pengunjung taman rekreasi untuk difoto. Dengan memakai topi butut dan rompi lusuh, Mustajab meyakinkan seperti tukang foto keliling lainnya. Tidak seperti tukang foto keliling lain yang benar-benar menawarkan diri kepada pengunjung, Mustajab lebih suka kesana kemari mencari gambar yang nantinya bisa menjadi koleksi fotonya dan bisa dikirimkan ke majalah Ibukota.
     Bagi keluarga besarnya, Mustajab bekerja sebagai karyawan di Departemen Pertahanan sesuai dengan jurusan yang diambilnya saat kuliah. Saat mendapatkan perintah untuk ke Banjarnegara ia mengira sedang menghadapi lelucon. Sampai kemudian Umar Yusuf sendiri yang memberinya perintah, baru ia percaya dan langsung menuju kota kelahirannya. Seperti pulang kampung saja dan yang paling senang adalah istrinya. Kepada istri dan anaknya dan kepada kedua orangtuanya serta kepada mertuanya, dia mengatakan mendapatkan cuti dari kantornya.
Kesukaan yang diketahui keluarganya adalah ia suka memotret. Maka ketika ia pergi membawa kamera dan mengatakan ingin mencari gambar foto koleksi, tidak ada yang mencurigainya. Keluarga besarnya, bahkan istrinya tidak pernah mengetahui pekerjaan sebenarnya Mustajab adalah seorang telik sandi, seorang mata-mata yang bekerja untuk negara. Di mata keluarganya, Mustajab adalah sosok pendiam yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku sejak kecil.
     Ayahnya adalah pensiunan guru agama. Sejak sekolah dasar, ia di sekolahkan di sekolah agama sampai dengan sekolah menengah atas. Hal yang selalu membanggakan kedua orangtuanya adalah ia selalu mendapakan peringkat di tiga besar di kelasnya. Saat lulus sekolah menengah atas, kedua orangtuanya menginginkannya masuk di perguruan tinggi agama seperti kakak sulungnya yang mengambil bidang pendidikan agama. Tapi Mustajab memilih bidang Sosial Politik. Nilainya selalu tinggi di kelas dan saat baru selesai di wisuda, seseorang menghampirinya dan mengatakan ia di terima bekerja di Departemen Pertahanan. Tentu saja ia terkejut karena tidak pernah mengajukan lamaran, apalagi bukan Departemen Luar Negeri seperti keinginannya. Esok harinya ia tetap datang dan dua tahun kemudian, ia direkrut Dinas Intelijen Khusus.
     Mustajab sengaja ke tempat rekreasi Serunglingmas karena Abusono dan keluarganya sedang berada disana. Abusono membawa istrinya dan dua anaknya. Anaknya yang paling besar bernama Dodo dan adiknya seorang gadis kira-kira berumur 16 tahun. Istrinya tampak lebih tua dari umurnya yang sebenarnya, dengan rambut memutih semua. Abusono kelihatan sangat menikmati rekreasinya dengan keluarganya. Bahkan ia ikut naik gajah yang disewakan di kebun binatang itu.
     Semua kegembiraan Abusono dan keluarganya diabadikan dalam foto Mustajab. Sampai setengah hari Abusono berada di tempat rekreasi itu. Setelah itu mereka pulang. Mustajab meyakinkan terlebih dahulu mereka tidak mampir ke tempat lainnya dengan mengikuti bis yang mengangkut mereka. Saat sampai di sebuah daerah bernama Mandiraja, mereka juga tidak kelihatan turun, Mustajab segera melarikan motornya terlebih dahulu. Mandiraja adalah sebuah kota Kecataman berjarak tiga kilometer dari tempat tinggal Abusono di daerah bernama Purworejo Klampok yang berjarak hampir 30 kilometer dari pusat kota Banjarnegara.
     Rumah yang yang ditempati Abusono merupakan rumah kolonial. Di sekitarnya banyak rumah sejenis dan bukan merupakan perkampungan padat penduduk. Hanya ada beberapa rumah kolonial itu. Didepan rumahnya ada sebuah tanah lapang yang digunakan untuk keperluan tertentu selain untuk berolahraga warga sekitar. Diseberang lapangan itu juga berderet rumah kolonial yang sudah padat penduduknya. Mustajab teringat sewaktu SMP ia pernah mengikuti perkemahan di lapangan itu. Saat itu ia tidak pernah mempunyai bayangan masa depan, suatu saat harus berada di tempat yang sama untuk keperluan yang berbeda.
     Daerah Purworejo Klampok merupakan daerah yang terkenal dengan kerajinan keramik berupa guci dan souvenir lainnya. Produknya mampu bersaing dengan produk dari daerah Plered di Purwakarta atau Kasongan di Kota Gede Yogyakarta. Hanya saja industri keramik di biarkan berjalan sendiri dengan kemampuan pengrajin. Tidak diarahkan untuk menjadi sebuah industri masa depan untuk kepentingan komoditi. Hal itu bisa dilihat masih banyaknya warga sekitar yang lebih memilih pergi ke Jakarta daripada menjadi pengrajin keramik.
     Mustajab memarkir motornya di seberang jalan masuk ke arah rumah Abusono. Ia sudah mencopot atribut yang dipakai di tempat rekeasi. Rompi lusuh dan topi butut dan kamera di leher. Kamera masih ada disampingnya. Ia membongkar busi motornya. Saat itu bis yang menganggkut Abusono datang dan berhenti di tempat yang sudah diperkirakannya. Dari balik motornya, dengan posisi jongkok, Mustajab mengambil gambar Abusono menuju rumahnya. Wajah terakhir yang diambilnya dalah wajah close up Abusono saat masuk ke dalam rumahnya.  
(bersambung)

No comments: