Tuesday, February 22, 2011

SAM (4)

BAB 4



WAJAH Abusono dalam foto close up itu sudah didepan Jun Maher yang duduk diam menatap wajah tuanya. Wajah yang berkeriput dan air muka tua yang menyimpan banyak beban rahasia. Sinar matanya menyisakan harapan ingin hidup lebih lama.
Benarkah laki-laki ini Sam?
Kenapa ia muncul?
     Jun Maher membangun karir intelijennya dengan mempertaruhkan dirinya sendiri. Diatas usia kepala empat, ia belum juga beristri. Bukan karena begitu banyak kasus yang harus dikerjakannya tapi ia ingin total. Barangkali teman-temannya bisa bekerja sambil mendengar rengekan anak dan istrinya, ia tidak bisa. Hidup di dunia intelijen adalah hidup di dunia yang gelap, penuh prasangka buruk dan  penuh dengan beban rahasia yang seringkali busuk. Sesuatu yang harus selalu di pegangannya adalah ”jangan percaya pada siapa pun”.
     Sam adalah sebuah sejarah gelap masa lalu. Selama lebih dari empat puluh tahun, Gerakan 30 September 1965 tetap menjadi misteri bagi banyak sejarawan, justru karena sumber-sumber primernya sangat tidak bisa diandalkan. Sejarawan yang menulis tentang peristiwa gelap itu masih saling berdebat sendiri dengan banyak teori. Diluar sejarawan, banyak ilmuwan, wartawan, penulis lepas, bahkan ahli filsafat menuliskan peristiwa itu dalam tulisan di surat kabar dan bentuk buku. Lebih dari duapuluh judul buku sudah Jun Maher baca dan semua berkesimpulan dengan teori lebih dari satu. Tidak ada yang pasti dan semuanya saling berdebat sengit mempertahankan keyakinan teorinya. 
     Barangkali semua teori yang beredar benar. Terlalu banyak yang bermain pada saat terjadinya peristiwa Gerakan 30 September. Negeri ini terlalu sayang hanya diurus oleh orang-orang lokal yang tidak tahu bagaimana mengurus negeri dengan benar. Indonesia adalah kue raksasa yang setiap orang ingin mencicipi kelezatan rasanya sejak negeri ini belum menemukan namanya sendiri. Bahkan remah-remahnya banyak yang menginginkannya.
Suatu tim cerdas-cermat yang tangguh barangkali mampu menyingkap tabir gelap Gerakan 30 September tanpa dibebani pesan sponsor manapun. Karena menulis sejarah adalah urusan para professional, bukan urusan amatir. Di zaman apapun selalu bisa ditemukan hal-hal baik, lumayan, biasa, buruk ataupun biadab. Dan selalu ada pihak yang menarik keuntungan, berpesta di atas penderitaan orang. Di setiap penggalan sejarah selalu ada pengkhianat, pahlawan, oportunis dan penonton. Dalam setiap zaman berbagai sifat itu ada dalam semua sisi yang bertengkar. Sejarah tidak kenal ampun dan catatan sejarah tidak mungkin dihapus oleh siapapun dan oleh apapun.
     Jun Maher tidak peduli dengan teori sejarah manapun. Sekarang ia hanya menginginkan Sam. Orang itu sudah terlalu lama bersembunyi. Lelaki itu harus bicara, batinnya dengan berapi-api. Ia bukan untuk hendak membuat teori sendiri tapi untuk sebuah nilai yang barangkali masih berguna untuk bangsanya. Tiba-tiba Jun Maher merasa menjadi seseorang yang sok idealis, tapi ia sedang bekerja di tempat yang mempunyai tanggung jawab meluruskan sesuatu yang bengkok.  
     Telponnya berdering dan dengan cara seperti biasa, ia mengangkatnya, “Ya…”
     “Aku tunggu sekarang di kantor,” terdengar suara Umar Yusuf di seberang sana.
     “Baik, Pak.”
     Empat puluh menit kemudian, Jun Maher sudah disebuah ruangan khusus di kantornya. Ada enam orang laki-laki lain termasuk Umar Yusuf. Ia tahu mereka semua adalah agent seperti dirinya. Tidak satu orangpun yang dikenalnya.
     “Bapak-bapak, kenalkan Jun Maher, yang akan memimpin tim ini,” kata Umar Yusuf memperkenalkan. “Jun, yang duduk di sudut itu adalah Beny Reza, ahli navigasi.”
     Jun Maher mengangguk tanpa senyum kepada lelaki berumur tigapuluha lima tahun berkulit gelap itu. Badannya gempal dan raut mukanya persis orang Ambon. Beny Reza seperti sudah tahu pertanyaan di kepala Jun Maher saat menatapnya tajam.
     “Ayah saya Jawa dan Ibu saya Padang, tapi kakek asli Maluku,” Beny Reza berkata dengan nada tinggi. “Saya kira itu yang anda pikirkan.”
     Jun Maher terpaksa tersenyum.       
     “Itu Tigor Naipospos,” tunjuk Umar Yusuf ke arah lelaki Batak berbadan besar dengan wajah keras dan mata yang liar. 
     “Nama macam apa itu Jun Maher?” Tanya Tigor Naipospos tiba-tiba.
     “Yang jelas bukan nama orang Batak,” jawab Jun Maher.
     “Yang duduk pendiam itu Pak Parwata. Kebutuhan lapangan macam apa, dia sanggup menyediakannya dengan sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari broker rumah di Jakarta kalau kita membutuhkan base camp.”
     “Apa keahlianmu?” Tanya Jun Maher kepada Tigor Naipospos.
     “Apa saja yang kau minta,” jawabnya enteng. “Bahkan tengah malam kau butuh pentil pesawat, aku bisa bawakan sebelum matahari muncul.”
     Umar Yusuf tertawa terpingkal-pingkal.
     Seorang lelaki seumuran dirinya berdiri dan menyodorkan tangan minta bersalaman dengan Jun Maher sambil berkata, “Saya Warsito Abdul Khamid, lahir di Selo, Purwodadi, Jawa Tengah.”
     “Tempat asal Ki Ageng Selo?”
     “Beliau di namakan Ki Selo bukan karena lahir di Selo tapi bertempat tinggal di Selo sampai meninggalnya. Saya mengidolakan beliau yang lebih suka bertani daripada menerima tawaran Sultan Demak menjadi Panglima Perang. Bayangkan, jabatan sepenting itu ditolak. ”
     “Bah, seperti sedang belajar pelajaran sejarah saja,” sela Tigor Naipospos.
     “Kita berkumpul disini juga karena ada sejarah yang gelap,” Beny Reza berkata sengit.
     “Seperti muka kau itu.”
     Beny Reza malah tertawa.
     Umar Yusuf meraih remote dan sesaat kemudian muncul gambar wajah Abusono di layar. Kemudian dia berkata lantang, “Ini adalah Abusono. Tapi kita meyakini dia adalah Sam, kepala Biro Khusus Partai Komunis Indonesia yang menghilang setelah peristiwa Gerakan 30 September…”
     Semua menyimak dengan serius, tapi Tigor Naipospos menyela dengan cepat, “Sam Kamaruzzaman?”
     “Kita hanya menyebutnya Sam.”
     “Kenapa hanya Sam?” Beny Reza juga bertanya. “Kenapa tidak Samsul atau Samsir. Yang jelas tidak hanya Sam.” 
     “Karena hanya Sam.” Umar Yusuf lalu membcakan kertas yang dibawanya. “Sam alias Abusono lahir di Tuban, Jawa Timur. Tahun 1957 dia menjadi pembantu pribadi Dipa Nusantara Aidit dan tahun 1960 dia ditetapkan sebagai anggota Departemen Organisasi PKI. Empat tahun kemudian dia memperkenalkan bentuk pengoraganiasian yang berasal dari ABRI. Lahirlah kemudian yang disebut Biro Khusus Sentral.”
     Semua mendengarkan dengan serius.
     “Sam ibarat hantu yang menyusup kemana saja dia mau. Sehingga diyakini bahwa dia adalah agen ganda untuk PKI, CIA, MI6, KGB dan ABRI.”
     “Saya kira dia adalah spionase nomer satu di dunia.” Tigor Naipospos berkata dengan serius. “Bahkan saya yakin, Zulkifli Lubis yang dikatakan sebagai bapak intelijen kita saja sampai kalah.”
     “Sam ditangkap tanggal 9 Maret 1967 dan di adili di Mahmakah Militer Luar Biasa di Bandung setahun kemudian. Sam di vonis mati, tapi eksekusinya diragukan. Karena informasi yang diyakini, Sam dilepaskan dan berganti identitas. Meskipun pernah ada yang meyakini dia hidup di Perancis dan Belanda, tapi  kenyataan sekarang kita mendapatkan Sam berada di Banjarnegara, sebuah kota Kabupaten di wilayah Jawa Tengah.“
     Semua masih mendengarkan. 
“Dalam waktu Sembilanpuluh enam jam kalian akan menjemput orang ini dan di bawa ke Jakarta. Operasi ini dinamakan operasi Serayu.”
     “Maaf Bapak Direktur,” Tigor Naipospos memotong lagi. “Siapa yang meyakini kalau orang ini Sam?”
     “Dia memang diyakini Sam.”
     “Tidak mungkin selama ini tidak ada ada agent lapangan disana yang mengetahuinya,” sela Parwata yang dari tadi diam.
     “Dia dikenali oleh teman lama kita yang telah pensiun.” Umar Yusuf menoleh ke Tigor Naispospos. “Kenapa Tigor, kau takut?”
     “Tentu saja. Kalau benar orang ini Sam, CIA pasti juga menginginkannya,” kata Tigor sengit. “Mungkin KGB, MI6 juga akan turun.”
     “Saya tidak yakin CIA akan tertarik.” Kata Parwata. “Kasus ini sudah basi buat mereka dan kalaupun ada akibat yang akan ditimbulkan oleh munculnya Sam, mereka tidak bakal ambil pusing.”
     “Apa yang tidak diurusi CIA di dunia ini.”
     “Saya kira tidak perlu jadi paranoid.” Beny Reza berpendapat.
     “Kita taruhan saja kalau begitu,” tantang Tigor Naipospos.
     “Ini tugas negara Bung, bukan main lotere,” kata Warsito Abdul Khamid.
     “Sama saja bagiku. Negeri kita selama ini juga sedang dijadikan lotere oleh negara-negara yang merasa kaya dan kuat di seberang sana itu,” jawab Tigor sewot.  
     “Cukup, bapak-bapak,” Umar Yusuf berkata lagi, dengan nada yang sama. “Pukul duapuluhtiga nanti malam, kalian berangkat dari Halim.”
     “Memangnya Banjarnegara itu mempunyai lapangan udara?” Tanya Tigor lagi dengan nada mengejek.
     “Ada pangkalan udara bernama Wirasaba, tigapuluh kilometer barat kota Banjarnegara dan dua kilometer dari lokasi target,” jawab Jun Maher.
     “Kenapa tidak mendarat di Tunggul Wulung Cilacap, Pak?” Beny Reza menyela, “Saya kira itu jauh tidak menyita perhatian.”
     “Terlalu jauh dari lokasi target. Lagipula sebelum fajar, kalian sudah sampai. Semoga Tuhan melindungi kita semua. Selamat siang.” Umar Yusuf segera keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.
     Jun Maher berdiri dan berkata setelah melihat jam tangannya, “Kita masih punya waktu tujuh jam untuk persiapan. Beny Reza, kau sudah boleh ke Halim mempersiapkan diri.”
     “Baik, Bos.”
     Lalu mereka bubar.
 (bersambung)

No comments: