Wednesday, December 31, 2008

IDE YANG TIDAK HABIS-HABIS


Beberapa tahun lalu di sebuah Koran dituliskan bawah seorang penonton film di Taiwan melontarkan lelucon yang bernada sinis begini (setelah menonton film Born on the Fourth of July): Tidak habis mengerti mengapa orang Amerika Serikat sedemikian tertarik pada perang Vietnam! (padahal sudah jelas bahwa Amerika kalah perang di sana tapi lucunya setiap film yang dibuat tokohnya selalu menang). Setelah ide perang Vietnam ‘habis’, lalu perang Irak (plus orang islamnya dijadikan musuh baru setelah Uni Sovyet runtuh) dijadikan ‘ide’ baru.

Bisa jadi jawaban para pembuat film di Hollywood sana menyodorkan sebuah rumus sederhana: bahwa dalam membuat film cerita tak usah berbelit-belit. Yang penting make it simple and keep it moving. Intinya jangan membuat film yang serba sukar yang akhirnya penonton tidak mengerti. Buatlah yang sederhana termasuk kisahnya.

Apakah sebuah ide harus sejalan dengan kondisi masyarakatnya? Untuk urusan sebuah industri film, kebebasan ide adalah sesuatu yang mutlak. Rumus industri film adalah seberapa banyak karcis laku dijual. Selama ide film yang akan dibuat ‘kira-kira’ akan membuat banyak penonton dating ke bioskop, produser akan membuatnya. Hollywood membuat berulang-ulang ‘mitos’ perang Vietnam karena masih laku. Seperti juga pembuat film kita yang masih belum beranjak dari tema horror dan mistik –meskipun tema yang lain banyak dan pasti laku.

Soal ide, Indonesia tidak akan pernah kehabisan untuk diangkat sebagai bahan film. Sayangnya kita masih sering memakai aji mumpung. Saat ide film horror dan mistik laku di pasaran, yang lain ‘latah’ membuatnya. Sepanjang kelatahan itu diikuti dengan kualitas pembuatannya – pertama-tama dari segi scenario tentu saja- maka hal itu tidak pernah menjadi masalah. Seperti juga Hollywood membuat ide Perang Vietnam, Hollywood tidak lantas membuat film Perang Vietnam asal-asalan. Ide boleh saja sama, tapi isi kepala pembuatnya pastilah berbeda-beda. Supaya yang berbeda itu sama kualitasnya, lagi-lagi yang pertama dibutuhkan adalah penulis scenario yang mengerti betul masalah yang ditulisnya dan mempunyai referensi yang serius.
Menulis skenario memang harus serius. Supaya bisa serius, idenya harus kuat. Tidak harus ide itu dari cerminan masyarakat secara factual. Isi kehidupan ini terlalu beragam untuk dijadikan bahan ide. Bagaimana cara kita mengolah ide itu menjadi menarik dan nantinya bagus di tonton saat menjadi film, itulah tugas penulis scenario. Syukur-syukur ide filmnya nanti bisa dijadikan bahan diskusi dan kajian. Dianggap berhasil saja sudah bagus. Minimal banyak yang nontonlah.

Mencari ide kadang memaksa kita mejadi seorang pengkhayal –pemimpi. Saat kita anak-anak, kita mengkhayal menjadi pendekar tanpa tanding setelah membaca komik silat. Seorang pendekar gampang saja tenang dikepung musuh berjumlah puluhan. Logika itu pelan-pelan bergeser saat kita pernah berkelahi beneran. Segalanya berubah saat musuh sudah didepan mata. Saat itu yang dibutuhkan bukan lagi khayalan tapi naluri yang terlatih, butuh gerak reflek yang dilatih bertahun-tahun.

Begitu juga ide. Supaya kita mempunyai banyak ide, kita harus berlatih terus menerus untuk mempunyai naluri yang terlatih. Karena kalau tidak, meski kita banyak ide malah bisa jadi bahaya buat kita. Bahaya orang banyak ide kadang terletak pada kesadaran realitasnya. Saya tak pernah takut berkelahi, karena pasti gampang sekali menangkis serangan musuh. Ini fantasi anak-anak pembaca komik silat diatas. Yang terjadi adalah saat benar-benar berkelahi, muka kita sudah bonyok duluan sebelum kita melakukan apa-apa. Maka berlatihlah.

No comments: