Friday, December 14, 2012

MAS KAREBET 8

BAB 8



MALAM yang sepi. Seperti malam-malam sebelumnya. Suara-suara binatang malam nyaris tidak terdengar, seolah mereka juga dilanda ketakutan. Langkah kaki pun pasti mudah sekali dikenali. Seperti juga di dalam pendopo kelurahan. Senopati Ringkin, Ki Buyut Jayadi dan Jagabaya duduk seperti menunggu sesuatu. Padahal pikiran mereka berkecamuk. Suara dengus nafas merekapun terdengar dengan jelas.
     “Saya sudah putuskan akan mendatangi pesantren Aryabajageni besok,” kata Senopati Ringkin membuka percakapan.
     “Saya ada usul, ini juga kalau kanjeng Senopati tidak keberatan,” kata Ki Buyut Jayadi dengan hati-hati.
     “Katakan saja, Ki Buyut.”
     “Bagaimana kalau Jaka Tingkir membantu Kanjeng Senopati?”
     Jagabaya nampak senang.
     Tapi Senopati Ringkin tidak suka sama sekali.
“Ini urusan resmi kerajaan, bukan urusan orang luar, Ki Buyut,” jawabnya ketus. “Lagipula saya tidak tahu siapa anak muda itu. Saya malah mencurigainya sebagai mata-mata Aryabajageni.”
     “Itu tidak mungkin,” sahut Ki Buyut Jayadi cepat. “Saya tahu sekali Jaka Tingkir. Saya dulu pernah mengabdi kepada ayahandanya.”
     “Memangnya siapa dia?”
     Ki Buyut Jayadi baru sadar perkataannya mengundang penasaran. “Jaka Tingkir hanya anak seorang saudagar di desa Tingkir.”
     Ki Buyut Jayadi termasuk orang yang harus memegang rahasia bahwa Jaka Tingkir adalah Mas Karebet, anak Ki Ageng Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging. Bagi Sultan Demak, Ki Ageng Kebo Kenongo telah mbalelo. Tidak mau sowan ke Demak lagi sebagaimana yang dilakukan para adipati lain di tlatah Jawa. Pengging juga tidak pernah lagi memberikan upeti ke Demak.
Tapi hal itu terjadi setelah Ki Ageng Kebo Kenongo berguru agama kepada Syekh Siti Jenar yang dianggap mengajarkan ajaran sesat oleh para para Wali. Setelah diberi waktu tiga tahun untuk menentukan pilihan, Ki Ageng Kenongo tetap tidak bersedia datang ke Demak. Maka kemudian Sunan Kudus selaku Panglima Perang diberi tugas untuk menghukum Ki Ageng Kenongo yang sudah diputuskan membangkang kepada pemerintahan yang sah. Hukuman itu membuahkan kematian terhadap Ki Ageng Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging.      
     “Maaf Ki Buyut, di Demak sana, banyak pemuda seperti Jaka Tingkir. Baik kehebatan ilmu kanuragannya, maupun ketampanan wajahnya. Dia hanya anak kampung.” Nada Senopati Ringkin tinggi. Menyiratkan kebencian yang dalam.
     “Maaf, Kanjeng Senopati, saya hanya memberikan usulan.” Ki Buyut Jayadi berkata lirih. “Semua terserah Kanjeng Senopati.”
     “Tidak usah Ki Buyut ragukan kehebatan Senopati Demak.”
     Ki Buyut Jayadi tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Ia berharap Karebet tidak mendengar pembicaraan ini. Ia sangat menghormati anak bekas majikannya itu. Ia tidak mau hati anak muda itu terluka dengan jawaban Senopati Ringkin yang sangat merendahkan.
Karebet memang tidak mendengar pembicaraan itu karena ia sedang berada di kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus terganggu dengan pesantren di bukit Siaul itu. Baginya aneh sebuah pesantren tidak menyukai guru ngaji. Apalagi guru ngaji kampung. Apakah ini hanya sebuah saingan mencari murid?   
     Udara terasa panas didalam kamar. Di bukanya jendela, tapi terdengar suara benturan diluar kamar disusul suara mengaduh. Dilihatnya Dadung Awuk mengelus-elus batok kepalanya.
     “Aduh biyung, kepalaku bocor.” Dadung Awuk mengelus batok kepalanya yang terkena daun jendela.
     “Kalau mau jaga malam, bilang-bilang.”
     “Sialan, buat apa orang sehebat raden dijaga segala.” Dadung Awuk duduk di jendela. “Raden tidak ikut pertemuan di pendopo?”
     “Memangnya ada apa?”
     “Katanya, besok Kanjeng Senopati Ringkin mau ke bukit Siaul.”
     “Baguslah.”
     “Lho kok bagus?”
     “Bukankah beliau datang untuk membuat aman desa ini? Lebih cepat aman lebih baik kan?”
     “Tapi saya tidak yakin.”
     “Seorang Senopati pasti seorang yang sangat hebat ilmunya. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya”
     “Saya malah yakin raden yang bisa membuat aman desa ini.”
     “Jangan meledek.”
     “Sumpah mati, saya bicara jujur….”
     Lalu terdengar suara kentongan bertalu-talu di kejauhan. Makin lama makin banyak suara kentongannya.
     “Ada perampokan.” Dadung Awuk berdiri. “Buset, ada-ada saja kejadian. Ayo raden, kita kesana.”
     “Kamu saja. Aku ngantuk.”
     “Siapa tahu malingnya sakti.”
     “Masih ada Senopati Ringkin.”
     “Sama Raden saja kalah.”
     “Kamu duluan saja.”
     “Tapi menyusul ya, Raden.” Dadung Awuk lantas pergi.
Karebet ke arah tempat tidur yang terbuat dari bambu. Ia merebahkan dirinya. Ia tidak bisa menduga kejadian apa yang melanda desa ini. Saat sedang berlangsung pembunuhan guru ngaji, ada kejadian perampokan. Bisa jadi  saling berhubungan kalau yang melakukan pembunuhan dan perampokan orang yang sama.
Karebet bergegas keluar dari kamar itu. Ia yakin Senopati Ringkin akan mampu mengatasi perampokan. Ia ingin menuju bukit Siaul. Ia ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mulai menumpuk di kepalanya.(bersambung)

No comments: