Tuesday, December 18, 2012

MAS KAREBET 11

BAB 11  

    

KI Buyut Jayadi menghela nafas berat, menatap Karebet yang duduk didepannya, lalu berkata, “Berat rasanya saya harus mengatakan kalau penduduk desa Pingit sekarang sangat membutuhkan bantuan, Raden.”
     “Saya paham, Paman.”
“Tapi kalau raden tidak bersedia membantu kami, terpaksa kami akan mengirim utusan lagi ke Demak, untuk meminta bantuan yang lebih besar.”
     Dadung Awuk menjawab lebih dahulu, “Berapapun prajurit yang dikirimkan, sia-sia saja, Ki Buyut,” katanya berapi-api. “Yang dibutuhkan adalah orang yang mampu mengalahkan Aryabajageni alias Syekh Siti Jenar palsu itu.” Dadung Awuk menoleh ke Karebet. “Bukan begitu, Raden?”
     “Ini memang urusan kerajaan Demak,” sahut Karebet menatap Ki Buyut Jayadi. “Tapi saya akan tetap berusaha membantu.”
     “Alhamduillah.” Suara Ki Buyut Jayadi gemetar.
     “Tapi tidak ada jaminan, saya mampu melawannya.”
     “Jaminan itu ada ditangan Allah, Raden.”
     “Raden pasti sanggup.” Dadung Awuk memberikan dukungan
     “Aku mau kau ikut.”
     Dadung Awuk melotot. “Ikut kemana?”
     “Ke bukit Siaul.”
     “Saya belum mau mati.”
     “Kalau belum waktunya mati, kau pasti hidup.”
     “Apa salahnya Dadung Awuk,” kata Jagabaya yang dari tadi diam. “Katanya kau ingin jadi prajurit Demak.”
     “Ini setor nyawa namanya, Jagabaya,” sahut Dadung Awuk panik. “Lagipula saya kan belum kawin.”
     “Tapi aku tetap ingin kamu ikut,” kata Karebet lagi.
     “Oalah Gusti, mimpi apa aku semalam.”
     Ruangan tertawa melihat Dadung Awuk seperti mau menangis.
     Beberapa saat kemudian, Karebet dan Dadung Awuk sudah berjalan menyusuri jalan setapak diantara rimbunan pohon menuju bukit Siaul. Karebet lebih banyak diam. Tapi rupanya Dadung Awuk orang yang tidak betah keadaannya kaku.
     “Maaf raden, boleh bertanya?”
     “Mulai kapan bertanya dilarang.”
     “Jadi benar kabar para pedagang kalau raden benar-benar mengalahkan buaya raksasa di sungai padukuhan Karangsaga?”
     “Kalau kamu percaya.”
     “Tentu saja percaya, Raden.”
     “Itu perbuatan bodoh.”
     “Tapi kan jadi terkenal.”
     “Kalau hanya mau terkenal, banyak cara yang lebih enak.”
     “Misalnya?”
     “Rampok saja pejabat kerajaan kalau lewat.”
     “Itu namanya cari mati dengan cara cepet.”
     Jalan setapak di hutan itu mulai menanjak. Dadung Awuk mulai kepayahan. Beban perutnya yang besar membuatnya  lambat. Karebet seperti tidak merasakan beban apapun. Jangankan melambat, keringatnya pun belum ada yang keluar. Dadung Awuk berhenti.
     “Berhenti sebentar, Raden.”
     “Baru juga separuh jalan.”
     “Perasaan jalannya bukan ini.”
     “Ini jalan pintas. Kita bisa lebih cepat sampai ke atas.”
     “Darimana Raden tahu?”
     “Aku pernah lewat jalan ini.”
     “Kapan Raden pergi dari rumah Ki Buyut?”
     “Malam sewaktu Senopati Ringkin memotong tangan maling murid pesantren Aryabajageni.”
     “Jadi Raden tidak pergi kencing kan?”
     “Tidak.”
     “Sialan.”
     Dadung Awuk harus akui, Karebet lain dari pemuda yang pernah di jumpainya. Apalagi dibandingkan pemuda desa Pingit, Karebet jauh diatasnya. Diam-diam ia bangga bisa akrab dengan Karebet. Bahkan lebih dari itu, ia ingin mengenal pemuda itu lebih jauh. Ia ingin mempunyai kehebatan ilmu kanuragan seperti Karebet. Lebih dari itu lagi, ia ingin terkenal. Tapi ia bingung darimana harus mulai. Ia hanya anak desa yang tidak juga mempunyai ilmu kanuragan yang cukup.
     Karebet berhenti. Memberi isyarat diam. Ia mendengar gerakan halus di sekelilingnya. Dadung Awuk tak sempat berkomentar ketika tiba-tiba beberapa panah mengarah kepada mereka. Panah-panah itu datang cepat sekali dari pepohonan. Karebet sudah bisa mengetahuinya lebih dahulu. Ia bergerak ke samping dan menyapu semua panah-panah yang datang kepadanya itu. Dadung Awuk berlindung di belakang tubuh Karebet sambil melotot.
     Dadung Awuk jelas takut tapi ia sedang tidak percaya bagaimana Karebet dengan mudahnya menghindari panah-panah yang meluncur kencang ke arahnya itu. Seperti menghalau burung layaknya. Bagi dirinya itu mustahil. Melihat kecepatan panahnya saja ia panik, selebihnya pasrah karena pasti ia habis terkena panah itu kalau kena di badannya. Tapi betapa Karebet menyambut panah-panah itu dengan semangatnya.
     “Berlindung ke balik pohon, Dadung!” bentak Karebet.
     Dadung Awuk  lari ke sebuah pohon dan sebuah panah meluncur lurus ke arahnya. Begitu Dadung Awuk tiba di sebuah pohon dan belum sempat bersembunyi, panah itu terus mengincarnya seperti punya mata. Begitu berbalik, panah itu nyaris menembus mukanya. Hanya beberapa jari jaraknya sebelum panah itu menembus pipinya yang tembem. Tangan Karebet sudah menangkap panah itu.
     Benar-benar ditangkap seolah panah itu barang tidak bergerak.
     Dadung Awuk tak bernafas sejenak.
     Karebet tidak punya waktu lagi untuk bernafas lega karena beberapa lelaki berseragam merah sudah turun dari pohon dan keluar dari semak. Mereka mengepung rapat tempat yang sempit itu. Mereka bersenjata tajam lengkap. Karebet jalan ke tengah tanah datar dan membiarkan Dadung Awuk. Ia melihat beberapa lelaki berseragam itu siap untuk membunuhnya. Dengan cara apapun. Rupanya  mereka dilatih untuk patuh kepada perintah pimpinannya.
     “Rupanya kalian tidak belajar agama di pesantren, tapi belajar jadi pembunuh.”
     Mereka menjawab dengan tatapan tajam. Karebet tahu tidak butuh jawaban mereka karena mereka hanya tahu membunuh. Gerakan mereka rapi saat menyerang Karebet. Jurus-jurusnya lumayan bagus. Mereka memang dipersiapkan untuk jadi mesin pembunuh. Dari semua serangan mereka, Karebet bisa mengimbanginya. Bahkan bisa menebak serangan-serangan mereka selanjutnya.
     Sebelum Karebet mengerahkan semua kemampuannya, beberapa lelaki berseragam merah itu mulai lemah pertahanannya. Dan sebelum mereka benar-benar jatuh oleh serangan Karebet, mereka mundur dengan rapi dan membuat barisan layaknya menyambut tamu.
     Karebet tegang.
     Dadung Awuk menahan nafas.
     Beberapa lelaki berseragam merah itu membungkuk ke arah Karebet. Memberi hormat.
     “Raden sudah ditunggu guru kami.” Salah satu lelaki itu berkata.
     Dadung Awuk memanjangkan kepala dan berteriak, “Awas jebakan, Raden!”
     “Raden memang sudah ditunggu guru kami, Kanjeng Pangeran Aryabajageni.” Lelaki itu berbalik dan memberi kode ke teman-temannya dan kemudian mereka pergi begitu saja. Lari ke dalam semak dan menuju atas bukit.
     Dadung Awuk keluar dari balik pohon. Ia tidak percaya yang baru saja dilihatnya. “Aneh sekali mereka, Raden.”
     “Sepertinya kedatanganku memang sudah ditunggu.”
     “Kalau jebakan bagaimana?”
     “Kalau ini jebakan, kita mungkin sudah diserbu mereka habis-habisan. Bukan hanya dengan beberapa orang.”
     Karebet mulai jalan.
     “Jadi Raden mau ke pesantren itu?”
     “Bukankah tujuan kita kesana?”
     “Bukan kita, tapi Raden sendiri. Saya kepingin pulang saja.”
     “Kalau kamu pulang sendiri, malah bisa di bunuh mereka.”
     Dadung Awuk ketakutan dan jalan lebih cepat dari Karebet. “Edan. Saya bisa gila beneran ini.”
     Karebet ingin sekali cepat sampai diatas bukit. Rasa penasarannya makin menjadi. Ia sudah ditunggu. Berarti semua gerak geriknya telah diketahui. Aryabajageni sudah mengetahui kalau ia hendak mendatanginya. Betapa hebatnya. Ia sudah kalah satu langkah di depan orang yang belum pernah di jumpainya ini. 
      Lebih cepat bertemu lebih baik.
     Ia memang menginginkannya.
(bersambung)
         

No comments: