Sunday, December 16, 2012

MAS KAREBET 9

BAB 9




DI tengah jalan desa yang gelap, lima orang perampok sedang bertarung melawan Senopati Ringkin. Lima perampok itu semuanya bertopeng hitam. Tapi baju mereka bisa dikenali dengan mudah kalau mereka adalah murid pesantren Aryabajageni. Beberapa penduduk desa sudah berada di sekeliling jalan. Mereka terus berdatangan membawa obor dan senjata tajam ditangan. Jagabaya kelihatan sudah mengatur beberapa pemuda terlatih di sekitar arena pertarungan. Dadung Awuk datang dengan tergesa-gesa.
     “Apa yang mereka curi, Ki Jagabaya?” tanya Dadung Awuk.
     “Bahan makanan di lumbung padi.”
     “Lho, mereka memakai seragam merah-merah.”
     “Mereka memang murid pesantren Aryabajageni.”
     “Edan, ada murid pesantren di suruh jadi maling.”
     Senopati Ringkin mudah sekali mengalahkan kelima maling berseragam merah itu. Bukan tandingan Seorang senopati kerajaan. Saat ia hendak meringkus mereka, salah satu dari mereka melemparkan senjata rahasia ke arah Senopati Ringkin. Senjata rahasia itu meledak menimbulkan asap putih tebal. Tapi sebelum kelima maling itu melarikan diri, Senopati Ringkin bergerak cepat meraih salah satu tangan dari kelima orang itu. Secepat itu  dibantingnya lelaki berbaju merah itu dan diinjak dadanya.
     “Kanjeng Senopati,” teriak Jagabaya mencegah, “Sebaiknya orang ini dihadapkan kepada Ki Buyut.”
     “Aku ingin bertanya dulu!” Senopati Ringkin tidak peduli. “Hei, kau murid pesantren Aryabajageni?”
     Maling itu tidak menjawab.
     “Jawab atau dibakar hidup-hidup kamu.” Dadung Awuk mengancam.
     Maling itu tetap tidak menjawab.
     “Baiklah, aku tidak peduli lagi kau murid pesantren sesat itu atau bukan. Aku ingin kau bilang kepada Aryabajageni, aku Senopati Ringkin, besok siang akan datang ke pesantren kalian!” Senopati Ringkin mencabut kerisnya. “Karena kau telah mencuri, maka hukumannya tangan harus dipotong.”
     Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Tidak ada yang menduganya. Tahu-tahu tangan kanan maling itu putus sebatas bahu. Darah segar menyembur. Maling itu teriak melolong, lantas berlari kesetanan ke arah kegelapan. Semua mata penduduk masih melotot dengan kejadian yang bagi mereka sadis itu. Jagabaya yang tinggi besar tidak bisa juga menyembunyikan kengeriannya. Dadung Awuk seperti mau muntah.
     “Sinting,” bisik Dadung Awuk di telinga Jagabaya.
     Senopati Ringkin sudah berjalan santai meninggalkan tempat itu. Ia memang sengaja melakukannya. Sejak kedatangan Karebet, ia hampir dianggap sebagai orang kedua. Padahal saat ia datang pertama kali, ia disambut seperti seorang pahlawan. Pemuda itu sanggup merebut perhatian penduduk desa dengan aksinya melawan dirinya. Ia akui Karebet hebat, tapi ia tidak bisa membiarkan anak kampung itu merebut perhatian penduduk.
     Orang kampung segan dengan orang kalau sudah melihat bukti kehebatannya. Dan ia perlu mempertahankan kepopulerannya dimata penduduk. Maling itu menjadi sasaran empuk. Bukan hanya bukti ia hebat tetap juga ia orang yang tidak pernah main-main didepan musuh. Sementara Karebet tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
     Senopati Ringkin tertawa dalam hati.
Dadung Awuk langsung tidak menyukai Senopati Ringkin. Ia barangkali orang yang pertama kali kagum menyambutnya ketika datang. Ia bisa dekat dan ngobrol akrab. Tapi melihat kesadisannya yang baru saja ia lihat, kekagumamnya hilang. Baginya jabatan tinggi bukan berarti lantas bisa berbuat melampuai batas, meskipun kepada musuhnya. Apalagi kepada musuh yang sudah tidak berdaya.
Dadung Awuk sudah mengetok pintu kamar Karebet tapi terus saja menerobos masuk.  Ia tidak bisa menahan diri untuk segera mengatakan apa yang baru saja dilakukan Senopati Ringkin. Ia mencari Karebet diantara kerumunan penduduk dan ia menduga Karebet ketiduran. Tapi kamar itu kosong. Belum sempat ia teriak memanggil, dari jendela masuk Karebet. Enak saja Karebet masuk dan kembali menutup jendela.
     “Raden darimana?”
     “Kencing.”
     “Kenapa lewat jendela?”
     “Lebih cepat saja.”
     “Kan ada pintu?”
     “Kalau lewat pintu masih harus belok sana sini, keburu kencing di celana.” Karebet rebahan di atas dipan bambu. “Kenapa ada di kamarku? Mau tidur denganku?”
     “Bukan,” jawab Dadung Awuk buru-buru. “Saya hanya mau memberitahu, Senopati Ringkin baru saja memotong tangan maling itu.”
     “Terus?”
     “Raden benar tadi tidak menyusul ya?”
     “Tidak.”
     “Saya hanya kaget, ternyata seorang Senopati begitu kejam.”
     “Beliau kan mengemban tugas khusus. Apapun dilakukannya agar tugasnya berhasil.”
     “Termasuk memotong tangan? Meskipun orangnya sudah menyerah?”
     “Kalau perlu memotong lehernya.”
     “Ah, raden malah lebih gila.” Dadung memegang lehernya sendiri.
     “Masih mau tidur disini?”
     “Tidak, tidak mungkin. Saya masih sayang leher saya.” Dadung Awuk kabur keluar.
     Karebet tertawa. Ia sebenarnya kaget juga mendengar cara Senopati Ringkin menyelesaikan masalahnya. Soal kekerasan sudah sering ia melihatnya, bahkan sering terlibat didalamnya. Untuk ukuran dirinya ia bisa memahaminya. Tapi yang dilakukan Senopati Ringkin ditengah penduduk yang merupakan orang-orang desa yang tidak akrab dengan kekerasan, bisa menjadi hal yang mengerikan. Meskipun ia yakin Senopati Demak itu mempunyai alasan sendiri melakukan tindakan itu.
     Lawan yang sedang dihadapinya masih misterius.
Karebet sudah membuktikan sendiri. Sewaktu sebagian penduduk mengurusi maling itu, ia naik ke kaki bukit Siaul. Saat sampai di kaki bukit, ia terpaksa berhenti. Ia sudah merasakan kekuatan gaib yang mengelilingi bukit itu. Ia bisa saja memaksa naik ke pesantren itu. Tapi tiba-tiba ia disergap rasa takut.
Sudah banyak tempat angker ia datangi. Banyak tempat sepi ia singgahi untuk bertapa. Tapi di kaki bukit Siaul, ia merasakan ketakutan. Entah kekuatan apa yang ada di atas bukit sana. Orang itu pasti memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sekali. Apa yang diinginkan orang itu di daerah ini? Segenap pertanyaan terus menyerbu kepalanya. Sebelum  benar-benar dihinggapi berbagai pertanyaan yang lebih aneh, ia segera kembali ke desa.
     Besok paginya, Senopati Ringkin benar-benar pamit untuk menuju pesantren di bukit Siaul itu. Semua mengantarnya di halaman kelurahan. Termasuk Karebet.
     “Pertimbangkanlah untuk membawa bala bantuan, Kanjeng Senopati,” pinta Ki Buyut Jayadi dengan sungguh-sungguh.
     “Saya tidak mau ada korban lagi, Ki Buyut,” jawab Senopati Ringkin tegas. “Doakan saya bisa menyelesaikan masalah ini.”
     “Saya yakin Kanjeng Senopati  mampu melenyapkan durjana ini,” kata Jagabaya berharap.
     Senopati Ringkin menatap Karebet. Seperti ada yang hendak dikatakannya. Tapi Karebet yang lebih dahulu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dengan sikap yang sangat hormat.
     “Saya minta maaf karena saya lancang berani melawan Kanjeng Senopati ketika pertama kali datang disini.” Karebet berkata dengan sungguh-sungguh. “Semoga berhasil, Kanjeng Senopati.”
     Senopati Ringkin tersenyum. Genggaman tangannya cukup memberikan jawaban lebih dari sekedar kalimat. Melihat ketulusan Karebet, ia merasa telah salah menjadikan pemuda itu saingannya merebut perhatian banyak orang. Ia punya kedudukan, punya jabatan tinggi. Dibanding Karebet, ia jauh lebih beruntung. Tapi betapa ia melihat Karebet  sangat tulus menghormatinya.
     “Berjanjilah jangan pergi dari desa ini sebelum saya kembali.”
     “Saya berjanji, Kanjeng Senopati,” jawab Karebet mantap.
     Ki Buyut Jayadi terharu.
     Bukit Siaul masih diselimuti keheningan yang panjang. Para penduduk sering mencari kayu bakar dan berburu disana. Disana juga digunakan untuk bercocok tanam singkong dan palawija. Bukit itu telah memberikan mereka kehidupan yang lebih baik buat penduduk desa Pingit. Tapi setelah berdirinya pesantren pimpinan Aryabajageni, semuanya menjadi berubah.
     Pada mulanya penduduk senang. Pesantren adalah tempat menimba ilmu agama. Tempat orang-orang yang dekat dengan Allah. Tapi pesantren di bukit Siaul itu lain. Mereka tidak suka guru ngaji di desa. Mereka sengaja membuat permusuhan. Mereka berusaha menyebarkan ajaran yang berbeda dengan ajaran islam yang diterima penduduk. Sampai pembunuhan guru ngaji terus berulangkali, akhirnya penduduk membuat garis batas bahwa mereka harus memerangi orang-orang di pesantren bukit Siaul itu.
     Senopati Ringkin sampai di kaki bukit. Langkahnya terhenti dengan munculnya beberapa lelaki berseragam merah. Mereka mengepungnya.
“Aku tidak berurusan dengan kalian,” bentak Senopati Ringkin. “Aku menginginkan guru kalian. Suruh keluar menemui utusan khusus Sultan Trenggono dari Demak!”
     Tapi mereka tidak peduli. Salah satu dari mereka bersiul dan bermunculan lagi lelaki berseragam mereh. Jumlah mereka sekitar duapuluh orang sekarang. Mengepung rapat dengan membuat pertahanan berlapis. Mereka tahu yang dihadapi kekuatannya tidak bisa dianggap enteng.
     Senopati Ringkin merapal ilmunya. Saat belum selesai, ia telah diserang duapuluh lelaki berseragam merah itu. Kekuatan mereka hebat tapi ia sudah pernah bertarung dengan mereka sebelumnya. Ia bisa tahu tata gerak mereka masih lemah. Kelihatan belum lama belajar ilmu kanuragan. Meskipun begitu, pertahanan duapuluh orang ini kuat. Tapi tetap tidak sekuat pertahanan prajuritnya.
     Ia biasa berlatih ilmu kanuragan dengan para prajuritnya. Dikeroyok lebih dari duapuluh orang sudah sangat biasa. Jadi menghadapi duapuluh lelaki berseragam merah dengan ilmu kanuragan biasa, menjadi mudah baginya. Tapi aneh. Meskipun ia mudah menjatuhkan mereka, tapi kekuatan mereka luar biasa. Seperti orang yang tidak bisa terluka. Itu akan menguras tenaganya. Sebelum ia dipaksa terus menerus bertarung, ia mencabut kerisnya.
     Keris itu ia tancapkan di tanah. Kejadian berikutnya tidak bisa diikuti dengan mata biasa. Duapuluh lelaki berseragam merah itu terlempar ke segala arah seperti daun kering yang ditiup angin. Keris itu mengeluarkan kekuatan yang mengerikan. Duapuluh lelaki berseragam merah itu tidak bangun lagi. Ia segera memasukkan lagi kerisnya ke dalam sarungnya.
Tapi sebelum benar-benar beranjak, sebuah tiupan angin besar datang dari arah atas bukit, disusul sebuah suara yang berat.
     “Jangan membusungkan dada dulu, Senopati Demak!!!”
     Suara itu berat dan seolah berada dekat sekali. Tapi nyatanya tidak ada siapapun di depan Senopati Ringkin. Kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat. Sebelum sadar benar apa yang akan terjadi, dari atas bukit meluncur sebuah bongkahan batu yang sangat besar. Benar-benar sebuah batu yang sepertinya baru diangkat dari dasar bumi.
     Secepat luncuran batu besar itu ke arahnya, Senopati Ringkin mengerahkan kekuatannya dan mengumpulan di tangannya. Begitu batu besar itu berjarak hanya sepuluh langkah didepannya, ia keluarkan kekuatannya lewat tangannya. Seperti ada angin besar yang keluar dari tangannya, meluncur menyambut batu besar itu. Ledakan besar terjadi. Senopati Ringkin menutup mukanya menghindari pecahan batu besar itu.
     “Turun dan hadapilah aku sebagai laki-laki!!!” teriak Senopati Ringkin menantang.
     “Rajamu terlalu menyepelakan aku dengan mengirim orang bodoh sepertimu!”
     “Kau terlalu penting untuk diurusi Rajaku, durjana!” Senopati Ringkin mencabut kerisnya lagi. “Hadapi aku saja kau tidak punya nyali.”
     Keris itu kembali ditancapkan ke dalam tanah. Tidak ada sesuatu yang terjadi. Tapi Senopati Ringkin menunggu kekuatan keris itu memaksa musuhnya untuk memunculkan diri didepannya.  Sebuah bayangan merah meluncur dari atas bukit, tapi hanya sesaat. Lalu lenyap. Yang tidak diduga adalah tiba-tiba bayangan merah itu sudah didepan Senopati Ringkin.
Berdiri seorang lelaki berjubah merah dengan muka tirus bercambang. Matanya tajam menikam. Wajahnya menyimpan beban rahasia yang busuk. Kalau orang desa bertemu dengannya, bisa langsung pingsan.
     Senopati Ringkin mundur beberapa langkah terdorong angin yang datang bersamaan munculnya lelaki bernama Aryabajageni itu. Sesaat ia gemetar. Lelaki tinggi kurus itu benar-benar membuat nyalinya ciut. Bukan hanya karena orangnya memang menakutkan, tapi kekuatan ilmunya sudah bisa dirasakan kehebatannya. Tapi ia adalah seorang Senopati kerajaan Demak. Menghadapi musuh adalah makanannya sejak masih jadi prajurit.
     “Aku diberi wewenang untuk membawamu ke Demak dengan baik-baik. Tapi kalau kau menolak, aku diberi kekuasaan untuk memaksamu.”
     “Kenapa orang kecil seperti aku masih harus diurusi?”
     “Kau mengajarkan ajaran sesat seperti gurumu Syekh Siti Jenar.”
     “Akulah Syekh Siti Jenar.!”
     “Dasar orang keblinger!”
     “Kau dan seluruh orang di Istana Demak tidak punya hak melarangku menyebarkan ajaranku. Ini bumi bukan kepunyaan Rajamu. Sebaiknya kau pulang sebelum aku tiup jadi debu!”
     Ubun-ubun Senopati Ringkin menguap. Belum pernah ada orang yang menghina Rajanya dengan begitu rendahnya. Ia menerjang lelaki itu. Tapi pukulannya seperti membentur ruang kosong. Yang tidak ia duga lagi, ia langsung melayang terlempar dan menghantam sebuah pohon. Ia tidak punya kesiapan untuk dilawan sedemikian cepatnya. Dari sudut mulutnya mengalir darah segar. Buru-buru ia berdiri lagi.
     Aryabajageni menyunggingkan senyum pahit di sudut bibirnya. “Kau sudah membuatku turun, jadi aku harus membunuhmu sebagai pelampiasanku.”
     Bersamaan selesai kalimatnya, tangan Aryabajageni bergerak membuat gerakan membuka di dada. Itu yang jadi perhatian Senopati Ringkin. Tapi gerakan selanjutnya tak bisa ia antisipasi. Kedua tangan Aryabajageni terjulur, seperti memanjang dan menghajar dada Senopati Ringkin. Seharusnya tubuh Senopati Ringkin terlempar karena terkena dorongan. Apalagi dari kekuatan ilmu kanuragan yang tinggi.
     Tapi tubuh Senopati Ringkin tetap berdiri tegak.
     Aryabajageni tersenyum sinis sambil menjejakkan kakinya ditanah sekali dan tubuhnya lenyap begitu saja. Bersamaan lenyapnya Aryabajageni, tubuh Senopati Ringkin tersedot ke atas, seperti batu yang dilemparkan ke udara.
(bersambung)



No comments: