Sunday, December 2, 2012

MAS KAREBET 5

BAB 5

 
Padukuhan Pingit tenggelam dalam kegelapan yang sunyi. Rembulan nyaris tidak menampakan diri. Seorang lelaki yang baru turun dari mushola di sergap ketakutan. Di depannya berdiri sosok yang membuatnya harus berlari dan sambil berteriak minta tolong. Tapi mushola itu jauh dari rumah penduduk. Ia terus berlari dengan ketakutan. Makhluk itu mungkin sejenis siluman. Tapi ia tidak yakin juga karena ia tidak pernah tahu wujud siluman sebenarnya. Ia tidak lagi sempat berpikir banyak karena kemudian kakinya tersandung. Saat ia berbalik ke belakang, sebuah sosok besar bulat mirip cacing, yang baru pernah dilihatnya seumur hidupnya menerkamnya. Di malam sunyi itu, hanya terdengar lolongan laki-laki itu meregang nyawa.
Besok paginya di pendopo pedukuhan Pingit, sudah berkumpul semua tetua pedukuhan dan seorang tamu agung dari kerajaan Demak bernama Senopati Ringkin. Pemimpin pedukuhan Pingit itu adalah seorang lelaki tua yang biasa dipanggil Ki Buyut Jayadi. Saat berlangsung pertemuan, datang Jagabaya dan seorang pemuda berbadan gempal bernama Dadung Awuk.
“Lukanya persis dengan yang sudah-sudah, Ki Buyut,” Jagabaya melaporkan. “Ini korban ke tujuh.”
“Apakah korbannya masih penduduk pedukuhan Pingit ini?” Senopati Ringkin bertanya.
“Betul, kanjeng Senopati. Namanya Amrozi, guru ngaji,” sahut Dadung Awuk sambil menyambar sadak yang ada di didepannya. Sadak adalah kinang yang sudah digulung dengan tali. “Kenapa tidak langsung kanjeng senopati datangi saja sarang Syekh Arya Bajageni yang mengaku penjelmaan Syekh Siti Jenar. Katanya sudah mendapat wewenang dari kanjeng Sultan Demak.”
“Jaga sopan santumu, Dadung Awuk!” Ki Buyut Jayadi membentak keras.
“Tidak apa, Ki Buyut,” Senopati Ringkin menyahut dan melihat Dadung Awuk. “Dadung Awuk, kau yakin yang melakukan pembunuhan itu Syekh Arya Bajageni yang mengaku sebagai penjelmaan Syekh Siti Jenar?”
“Dari luka dan matinya korban, semuanya sama. Tidak ada lagi selain dia , Kanjeng Senopati.”
“Kau tahu siapa Syekh Siti Jenar?”
“Memangnya dia orang terkenal?”
Ki Buyut dan beberapa orang tua menggelengkan kepala sebagai tanda kekesalan atas kebodohan Dadung Awuk. Bagi ki Buyut Jayadi dan orang-orang tua seusianya, nama Syekh Siti Jenar sangat dikenal. Sama terkenalnya dengan nama Sunan Kalijaga dan beberapa nama Wali Agung keraton Demak Bintoro. Sedangkan Dadung Awuk hanya seorang pemuda pedukuhan yang berbadan gempal, yang mempunyai kesukaan memakan sadak dan  nyaris tidak pernah pergi kemana-mana. Pengetahuannya terbatas dan dunianya sempit.
“Bukan hanya terkenal,” jawab Senopati Ringkin, “Syekh Siti Jenar yang asli adalah seorang wali.”
“Jadi yang ini palsu?”
“Pasti palsu karena yang asli sudah meninggal.”
Dadung Awuk melotot. “Buset. Bangkit dari kubur?”
“Artinya ini pasti orang lain dan hanya mengaku-aku sebagai jelmaan Syekh Siti Jenar.”
Saat itu masuklah seorang pemuda desa dengan tergesa. “Ki Buyut, ada seorang pemuda mencurigakan masuk desa!” teriaknya.
     “Kalian sudah tahan dia di pos jaga?” Jagabaya bertanya.
     “Pemuda ini melawan, Ki Jagabaya.”
     “Oh hebat betul. Biar ini urusan Dadung Awuk.” Dadung Awuk berdiri sok jago. “Ki Jagabaya, biar Dadung yang urus. Duduk saja tenang disini.”
Dadung Awuk pergi dengan membusungkan dadanya. Seolah ia orang yang paling bertanggun jawab akan keamanan pedukuhan. Ki buyut Jayadi dan tetua pedukuhan sudah paham tingkah laku Dadung Awuk itu. Tapi tidak dengan Senopati Ringkin.
“Siapa pemuda itu, Ki Buyut?”
     “Namanya Dadung Awuk. Dia itu punya angan-angan tinggi. Ingin menjadi prajurit Demak, kanjeng Senopati.”
     “Saya suka semangatnya….”
     Di pos jaga pedukuhan, beberapa pemuda pedukuhan akhirnya bertarung melawan Karebet yang tidak mau ditangkap dan dibawa ke pendopo pedukuhan. Karebet merasa ia hanya numpang lewat sambil cari warung makan karena perutnya belum juga diisi sejak pagi meninggalkan tepi hutan tempatnya menginap. Sejak meninggalkan pedukuhan Karangsaga, ia memilih jalan hutan karena tidak mau di ketahui penduduk penduduk karangsaga yang ia yakin akan mencari dan mengejarnya untuk di ajak ke menghadap lurahnya. Ia juga tidak memilih bermalam di keramaian supaya bisa lebih tenang tidur mengistirahatkan badannya yang capek luar biasa setelah bertarung melawan buaya sungai. Sejak meninggalkan hutan tempatnya tidur, pedukuhan pertama yang ia jumpai adalah pedukuhan Pingit.
     Para pemuda pedukuhan itu mendapatkan lawan yang tangguh. Karebet memperlihatkan kegesitannya yang luar biasa. Kecepatan gerakannya dan pukulannya. Para pemuda pedukuhan tidak ada yang berhasil menyentuhnya sekalipun. Bahkan sudah banyak yang menyerah dan mundur.  Saat itulah datang Dadung Awuk  yang langsung kaget melihat teman-temannya bergeletakan seperti habis dilempar angin puyuh.
     “Buset, kalian pada kenapa? Habis mabuk ya?” Dadung Awuk lalu melihat Karebet. “Sampeyan yang mengalahkan mereka ya?”
“Maaf, saya cuma numpang lewat disini.”
     Dadung Awuk nyengir dan cengengesan. “Sampeyan hebat. Belajar dimana ilmu silatnya?”
     “Kang Dadung, lawan dia kalau berani.” Seorang pemuda berteriak.
     “Diam. Kalau mau lawan orang pakai otak dong. Lihat baik-baik.” Dadung Awuk masih nyengir ke Karebet. “Maaf ya mereka, biasa darah muda. Ngomong-ngomong darimana mau kemana?”
     “Saya cuma mau pulang.”
     “Memangnya rumah sampeyan dimana?”
     “Tingkir.”
     “Ooo desa Tingkir…”
     “Kang Dadung, kenapa malah ngobrol. Ringkus dia,” teriak salah satu pemuda kesal.
     “Memangnya maling di ringkus,” Dadung Awuk balas teriak. “Sekali lagi maaf ya, mereka tidak tahu sopan santun.”
     Dadung Awuk jadi kagum melihat Karebet yang begitu tenang. Ia tahu teman-temannya adalah orang yang hampir tiap malam berlatih jurus-jurus silat. Bahkan ada beberapa diantaranya sudah memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi untuk ukuran di pedukuhan Pingit. Tapi menghadapi Karebet, mereka sepertinya tidak memiliki ilmu apapun. Dadung Awuk jelas jadi penasaran. Meskipun ia lebih banyak cengengesan, ia bisa bertindak tegas.
     “Tapi maaf lagi ya, aku harus tahu seberapa hebat sebenarnya kamu. Semua teman-temanku kau bikin kayak layangan. Tersinggung aku.”
     “Maju saja kalau kau berani.”
     Dadung Awuk naik juga darahnya. “Belum tahu Dadung Awuk. Jagoan dari Pingit. ” Lalu ia memperagakan jurus-jurus.
     Karebet masih melihat pemuda bertubuh gempal itu. Ia tahu pemuda itu tidak mau kehilangan muka didepan teman-temannya. Tapi ia kaget begitu Dadung Awuk menyerangnya. Tenaganya kuat sekali. Jurusnya aneh. Seruduk sana-sini persis kerbau. Karebet membiarkan Dadung Awuk untuk memperlihatkan kehebatannya. Bahkan sampai pemuda itu habis jurus-jurus yang dimilikinya. Dan sejauh itu tidak satupun pukulan yang mengenai Karebet.
     Dadung Awuk ngos-ngosan berdiri menatap Karebet. “Sampeyan berguru dimana sih?”
     “Hanya itu kemampuanmu?”
     “Jangan ngeledek. Aku belum makan tahu.”
     Karebet mengulum senyum. Tapi senyumnya lenyap ketika mendadak muncul melayang, seperti terbang Senopati Ringkin dan berdiri didepan Karebet.
     “Jangan sok jago, anak muda.”
     Begitu perkataannya berhenti, Senopati Ringkin langsung menyerang Karebet. Gerakannya cepat dan berisi. Pukulannya mengandung angin yang kuat untuk merobohkan lawannya. Karebet harus terus menghindar untuk mengetahui kemampuan lawannya. Ia tahu gerakan lelaki berbaju bagus itu bukan jurus yang biasa digunakan di dunia persilatan atau yang diajarkan di perguruan silat. Tata geraknya halus dan indah, seperti menari, tapi berisi. Ia menduga ilmu tata gerak itu adalah dari orang-orang yang belajar dibalik tembok istana kerajaan.
     Senopati Ringkin bukan tidak tahu Karebet sedang mengukur kemampuannya. Sebagai orang yang mempunyai derajat dan kedudukan tinggi, ia merasa bukan tandingan anak pedukuhan seperti anak muda didepannya itu. Ia ingin menunjukkan kelasnya sebagai  orang yang lebih tinggi dibanding anak pedukuhan biasa. Makanya ia mempercepat serangannya. Tidak perlu mengeluarkan ilmu kanuragan yang lebih tinggi lagi.
Tapi ia lagi-lagi kecewa.
     Karebet bisa mengimbangi gerakannya meskipun telah dipercepat. Bahkan Karebet mempercepat serangannya juga. Tahu-tahu kemudian Senopati Ringkin mundur, sepertinya kena pukulan Karebet. Muka Senopati Ringkin memerah dan menjadi marah. Ia akui Karebet kuat dan bisa mengimbangi ilmunya. Tapi ia adalah orang berpendidikan tinggi dan mempunyai kedudukan tinggi. Ia terhina kalau kalah. Ia langsung mencabut kerisnya.
     Tapi di ujung jalan muncul Ki Buyut Jayadi dan berteriak, “Tunggu , Kanjeng Senopati!”
     Semua orang menoleh ke arah datangnya Ki Buyut Jayadi yang di dampingi Jagayaba. Tapi sebelum Ki Buyut Jayadi benar-benar sampai di dekat keramaian itu, Senopati Ringkin sudah melanjutkan kemarahannya yang ditujukan kepada Ki Buyut.
     “Apa hak Ki Buyut melarang saya menghajar pengacau pedukuhan ini. Jangan-jangan pemuda ini anak buah Syekh Siti Jenar palsu itu.”
     “Ijinkan saya bertanya lebih dulu, Kanjeng Senopati,” Ki Buyut Jayadi nampak tenang, lalu menatap dalam ke arah Karebet. Ingatan tuanya kembali ke beberapa tahun sebelumnya. “Anakmas ini berasal darimana?”
     “Saya dari desa Tingkir.”
     “Apa anakmas ada hubungannya dengan Nyai Ageng Tingkir?”
     “Beliau Ibu saya.”
     “Ya Allah….” Ki Buyut Jayadi hampir berteriak dan semua orang menatap Ki Buyut dengan heran. “Anakmas yang bernama Jaka Tingkir?”
     “Betul, Ki Buyut.”
     “Jaka Tingkir?” Dadung Awuk berteriak.
     Semua orang dilanda kekagetan. Ki Buyut Jayadi hampir berteriak karena mengenal baik pemuda itu pada masa beberapa tahu yang lalu, saat ia belum berada di desa Pingit ini. Sementara Dadung Awuk berteriak dan orang-orang kaget karena nama Jaka Tingkir sedang terkenal, setelah tersebar kabar pemuda itu mengalahkan buaya sungai di desa Karangsaga sehari sebelumnya.
Dadung Awuk yang paling bersemangat dan menerobos ke depan.
“Kenapa tidak bilang dari tadi kalau sampeyan ini Jaka Tingkir?”
     Karebet menjadi bingung.
     “Sampeyan benar mengalahkan buaya raksasa di sungai Karangsaga?”
     Karebet jadi paham.
     “Maaf Kanjeng Senopati,” Ki Buyut Jayadi berkata dengan cepat. “Anakmas Jaka Tingkir ini saya kenal dengan baik.”
     Senopati Ringkin tidak bereaksi sedikitpun.
     “Jangan sok kenal, Ki Buyut.” Dadung Awuk tidak terima Ki Buyut mengaku-aku.
     “Silahkan anakmas ke pendopo.” Ki Buyut Jayadi memberi jalan kepada Karebet.
     Karebet berjalan lebih dulu karena semua mata menatapnya dengan terus menerus. Lama kelamaan ia merasa tidak nyaman. Tapi ternyata para pemuda pedukuhan itu ikut berjalan di belakang Ki Buyut Jayadi.
     “Lho kalian ini pada mau kemana?” Dadung Awuk menghardik. “Ini sudah urusan tingkat atas. Kalian tetap pada jaga disini.”
     Para pemuda itu langsung menyoraki Dadung Awuk.
     (bersambung)
    

No comments: