Friday, April 8, 2011

LIMITLESS: JIKA SEORANG PENULIS KEHABISAN IDE


Eddie Morra (Bradley Cooper) seorang penulis yang sedang kehabisan ide, baru putus dari pacarnya. Meski ia sudah tak lagi jadi pecandu kokain namun masa depannya bisa dibilang tak jauh dari kata suram. Sampai ketika Eddie bertemu dengan teman lamanya yang memberinya sebuah obat yang tidak biasa; obat yang mampu mengaktifkan seluruh sel dan kemampuan otak manusia. masa depan Eddie tiba-tiba saja berubah total.Obat itu bernama MTD-48, obat yang konon bisa memacu kerja otak sehingga kita bisa memanfaatkan 100% dari kemampuan otak kita. Ternyata, janji itu bukan sekedar omong kosong. Eddie memang berubah. Ia bisa menulis buku hanya dalam waktu satu hari saja. Ia bisa belajar bahasa asing dalam waktu sangat singkat dan tak ada hal yang tak bisa ia pelajari dalam waktu cepat.

Eddie lantas memanfaatkan kemampuan supernya ini untuk mendapatkan uang dengan cara cepat. Sayangnya, ada orang yang cukup peka untuk melihat kemampuan Eddie ini. Orang itu adalah Carl Van Loon (Robert De Niro) yang kemudian mencoba untuk memanfaatkan kemampuan Eddie untuk keuntungan pribadinya. Celakanya itu bukan satu-satunya masalah Eddie. Masih ada polisi dan sekelompok penjahat yang ternyata juga mengincar Eddie untuk tujuan yang sama.

ide yang baru.

Monday, April 4, 2011

Bunuh Diri Kebudayaan


Ada ungkapan penyair Jerman, Heinrich Heine, ”Di mana mereka membakar buku, ujung-ujungnya mereka akan membakar manusia”. Memang demikian. Memusnahkan teks-teks historikal dan kultural bukan sekadar membakar kertas; untuk mengatakannya dengan mengerikan, ini adalah upaya satu pihak menghapus total pihak-pihak yang dibencinya. Rezim revolusioner Maximilien Robespierre (1793-1794), yang memenggal 16.000 kepala, tercatat menghancurkan dua pertiga dari satu miliar dokumen sejarah Perancis. Menyingkirkan feodalisme Louis XVI diidentikkan menghabisi segala catatan masa lalu.

Contoh serupa, di antara para akademisi Irak, tersebar pandangan pemerintahan George Bush sengaja tak menugaskan tentara menjaga situs-situs bersejarah saat pasukan AS masuk—perlakuan beda terhadap Kementerian Perminyakan.Tank Amerika melabrak masuk Akademi Ilmu Pengetahuan Irak. Penjarah mengikutinya. Sebanyak 170.000 koleksi Museum Nasional Irak, termasuk artefak tulisan-tulisan pertama peradaban manusia, rusak. Lenyap.

PDS Jassin

Donald Rumsfeld, Menteri Pertahanan kabinet Bush, menganggap media melebih-lebihkan kekacauan dan luput mengangkat kebebasan serta demokrasi yang dibawa ke jalanan Irak pascatumbangnya patung- patung diktator Saddam Hussein. ”Keberhasilan militer paling mencengangkan dalam sejarah manusia”—menyitir istilah penyiar berita stasiun FOX yang mendukung invasi itu. Bagi para cendekiawan Irak, itu kekerasan dan penghinaan amat brutal.

Paling jelas, jejak-jejak sejarah bangsa Irak—berbagai peninggalan tak ternilai kunci pembuka episode kehidupan manusia yang masih kabur—takkan pernah kembali. Alasan mengutuk biblioklasme, genosida kebudayaan, perusakan artefak historis amat jelas—apakah misi demokrasi AS yang disokong artileri baja membenarkan pelibasan habis-habisan jejak orang- orang Irak menjadi dirinya? Apa yang lebih sadis dari satu tindakan yang membuat sekian juta pendahulu bangsa itu seakan tak pernah ada atau dilahirkan?

Ada lagi kesadisan serupa yang berpilin keteledoran luar biasa. Tentang dokumen-dokumen historis di Indonesia yang merana di hadapan rencana konstruksi gedung DPR yang spektakuler; tentang artefak-artefak, yang menceritakan apa yang mengonstitusi siapa diri kita kini, yang diabaikan dan terancam punah di hadapan kemewahan elite politik.PDS HB Jassin yang tiba-tiba mencuri perhatian para elite politik adalah puncak gunung es situasi miris pusat-pusat dokumentasi di Indonesia. Liputan Kompas (27/3) memberi nama sejumlah gudang sejarah yang terancam dan mati.

Dicuri negeri asing

Masih banyak halaman gelap sejarah Indonesia. Pertengahan 1960-an salah satunya, yang usai reformasi diembus angin segar penerbitan teks-teks memoar maupun penelusuran historis.Juga periode kerajaan di Kepulauan Nusantara yang memperlihatkan kehidupan maritim yang kosmopolit, terbuka, disangga mekanisme check and balance kekuasaan—di masa jauh sebelum demokrasi. Itu kini gelap dan jauh karena ulah kolonial dan Orde Baru yang memperlakukan Indonesia semata daratan untuk dikuasai terpusat, satu, utuh, melingkar di Jakarta.

Penulisan sejarah pun mengeksklusikan kelompok Tionghoa-Indonesia, menempatkannya semata ancaman perekonomian pribumi atau kesatuan negara. Telaah Claudine Salmon, Pramoedya Ananta Toer, Leo Suryadinata, sebaliknya, mencatat peran signifikan kelompok ini membentuk gagasan keindonesiaan awal abad ke-20, lewat perdebatan di media cetak maupun karya-karya sastra.

Bagaimana jika kilau historis yang tak dapat tempat sepantasnya dalam imajinasi keindonesiaan kita itu hilang karena jamur kertas atau genteng gudang sejarah yang bocor?Tak heran, pada harinya nanti, diri kita tak lagi punya kita. Milik negeri asing, entah Amerika, Eropa, China, atau Arab. Mereka yang mencuri dan menyimpan data terbaik kita. Sementara kita berproses yang tak lebih dari bunuh diri sosiohistoris. Membiarkan sejarah kita hancur bersama waktu.

GEGER RIYANTO Penulis Esai-esai Humaniora; Alumnus Sosiologi FISIP UI; Aktivis Bale Sastra Kecapi

KOMPAS Senin 4 April 2011

Friday, April 1, 2011

SAM (7)

BAB 7



JUN Maher berada dalam sebuah kamar di rumah base camp. Kamar yang akan dipersiapkan untuk menempatkan Abusono atau Sam. Ia menata sendiri letak ranjang, bantal, jenis kasurnya dan seprei serta satu bantal. Ia bahkan memilih sendiri jenis ranjangnya. Sengaja dipilihnya dari jenis besi dan ukurannya single atau hanya untuk satu orang. Di ujung ranjang pada kedua sisinya ia memasang dua buah borgol kaki. Ia juga mengukur letak nakas dan jaraknya dari tempat tidur saat tangan menjangkau sesuatu dari tempat tidur. Jendela adalah kelemahan utama kamar itu untuk meloloskan diri. Makanya ia mematikan kunci jendela kaca itu dan menutupnya dengan kain tebal mirip korden. Ia menjauhkan ranjang dari jendela menghindari jangkauan tangan dan kepala kalau tiba-tiba terjadi tindakan nekat seperti menjebol kaca jendela dengan tangan dan kepalanya. 
     Beny Reza sudah berdiri di pintu kamar itu dan menatap Jun Maher.
     “Ada yang harus saya lakukan?”
     “Oya. Jam duapuluhempat, kau jemput Pak Umar Yusuf ke Pangkalan Udara Wirasaba. Mustajab, kau bawa mobil kedua.”
     “Baik, Pak,” jawab Mustajab.
     “Ada yang sangat penting rupanya.” Beny Reza nampak heran.
     “Hanya mengantarkan seorang dokter buat kita.” Jun Maher menoleh ke Mustajab lagi. “Besok aku butuh satu mobil lagi. Carikan yang bisa lebih lari dari dua mobil yang sudah ada.”
     “Besok saya dapatkan.”
     Kedua lelaki itu pergi begitu saja.
     Lalu masuk Tigor dan melihat apa yang sudah dilakukan Jun Maher dengan kamar itu.
     “Kenapa Tigor?”
     “Bagaimana kalau kita jalan-jalan, Bos?”
     Jun Maher menatap Tigor . “Oke.”
     “Jalan kaki sepertinya menyenangkan.”
     “Ide bagus.”
     Limabelas menit kemudian, Jun Maher dan Tigor sudah berjalan kaki menyusuri pinggir jalan provinsi. Ada rel kereta api peninggalan Belanda di pinggir jalan itu. Lalu lintas sudah mulai sepi. Hanya motor yang mengisi jalan itu dengan jadwal yang tidak padat. Tidak seperti kota besar, jam duapuluh satu sudah sangat sepi. Hampir tidak ada aktifitas orang lagi di jalan. Jadwal hidup orang-orang sudah sangat disiplin. Tenaga mereka bekerja saat siang hari, di istirahatkan total saat malam hari. Kebutuhan delapan jam maksimal tidur terpenuhi.
     Mereka melihat lapangan di seberang jalan dimana nampak rumah Abusono alias Sam juga terlihat sepi dan tidak ada tanda-tanda orang di sekitarnya. Mereka menyeberang jalan dan kemudian duduk di jembatan kecil di sudut lapangan, persis di jalan masuk ke arah rumah Abusono alias Sam. Tigor terus menerus merokok. Jun Maher terus menerus melihat ke jalan raya.
     “Ini terlalu mudah, Bos.”
     “Maksudmu?”
     “Untuk target sebesar ini, sepertinya kita tidak punya perlawanan dan tidak punya lawan.”
     “Aku lebih suka begitu.”
     “Tapi tidak mungkin.”
     “Tinggal sehari semalam. Aku tidak mau ada kesalahan.”
     “Bos percaya target kita sedang tidur didalam rumahnya itu?”
     “Bisa jadi dia sedang mempesiapkan pelariannya berikutnya.”
     “Jadi orang itu benar-benar selalu lari?”
     “Aku yakin begitu.”
     “Tapi kali ini arah larinya tidak masuk akal.”
     “Dia sangat sayang dengan anak lelakinya yang menjadi dokter.” Jun Maher menjelaskan. “Dia mungkin khawatir anak kebanggaannya menjadi dokter di desa kecil di daerah yang jauh.”
     “Jauh dari mana? Perancis?”
     “Bisa jadi.”
     “Tapi kelihatannya orang ini tidak mau kembali.”
     “Mungkin dia betah. Atau bisa jadi dia merasa bahwa dia tidak akan lari lagi karena sudah capek. Lebih dari itu, bisa jadi dia berpikir tidak ada lagi orang yang akan mengenalinya.”
     “Bodoh sekali kalau dia punya pikiran begitu.”
     “Semua itu akan jelas besok malam.” Jun Maher melihat jam tangannya. “Kondisi seperti ini bagus sekali untuk mengambil target.”
     “Kenapa tidak sekarang saja?”
     “Kau pikir kita melakukan pekerjaan amatiran. Ada apa denganmu Tigor, kenapa tiba-tiba otakmu jadi tidak karuan begitu?”
     “Entalah, Bos. Aku merasa tugas kita ini jadi terlalu menegangkan.”
     “Anggaplah kita sedang bersilaturahim dengan saudara disini.”
     Lalu mereka diam.
     Tidak lama mereka meninggalkan tempat itu.
     Saat jam menunjukkan pukul satu dinihari, Umar Yusuf datang bersama seorang lelaki berumur limapuluhlima tahun. Berwajah klimis dan tenang. Rambutnya rapi disisir ke belakang dan matanya tajam. Semua menyambut kedatangan Umar Yusuf dan berkumpul di ruangan dalam yang lebih luas dan lebih tenang. Beny Reza dan Mustajab masuk ke dalam rumah dengan menenteng tas cukup besar. Tas perbekalan berisi senjata.
     “Ini dokter Syahrial Anwar,” kata Umar Yusuf memperkenalkan lelaki yang dibawanya. “Waktu kita semakin sempit. Saya ingin target langsung dibawa ke Jakarta begitu diambil.”
     “Saya ingin target berada disini menunggu situasi,” kata Jun Maher membantah. “Saya tidak ingin membawa bangkai ke Jakarta, Pak.”
     “Aku baru dapat kepastian, CIA dan MI6 turun. Mungkin sekarang mereka sudah disini.”
     “Benar-benar gila ini. Huh.” Tigor Naipospos berseru.
     “Aku bawakan kalian perbekalan untuk persiapan.” Umar Yusuf menunjuk dua tas cukup besar yang dibawa masuk Beny Reza dan Mustajab. “Tapi saya tetap inginkan tidak ada satupun peluru yang keluar. Lingkungan disini kelihatan nyaman dan diam, tapi saat kalian melakukan kesalahan, kalian bisa jadi tidak akan sanggup keluar dari wilayah ini.”
     Tigor mengambil salah satu tas itu dan membukanya. Sebuah senjata otomatis diambilnya dan diperlihatkannya.
     “Dengan senjata macam begini, apakah mereka juga akan tetap berdiri ditengah jalan, Bos?” tantang Tigor menatap Umar Yusuf.
     “Berharap saja kita lebih beruntung kali ini. Ada pertanyaan?”
     Tidak ada pertanyaan.
     “Saya datang hanya ingin memberi kalian keyakinan, bahwa yang akan kalian tangkap adalah sebuah sejarah. Lakukan dengan benar tanpa ada kesalahan. Selamat malam.”
     Umar Yusuf langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
     Jun Maher mengikutinya.
     Sampai diluar rumah, seorang lelaki berbadan tinggi besar menunggu disamping mobil. Pengawal Umar Yusuf.
     “Kapan kau ambil dia, Jun?”
     “Besok malam.”
     “Lakukan dengan benar. Ini bisa jadi taruhan karir kita.”
     “Maksud Bapak?”
     “Setelah kasus ini selesai, aku mau pensiun, Jun.” Umar Yusuf memandang Jun Maher serius. “Sudah terlalu lama aku memegang DIK. Dan kau yang aku harapkan menggantikan posisiku.”
     “Saya yakin Presiden akan mengambil dari angkatan.”
     “Mungkin iya, mungkin tidak…..tergantung kekuatan siapa yang mampu mempengaruhi keputusan Presiden, dan itu jelas bukan aku.”
     “Hati-hati, Pak.”         
     Umar Yusuf tersenyum dan kemudian masuk ke dalam mobil. Beny Reza sudah masuk ke belakang setir. Pengawal Umar Yusuf masuk kedalam mobil sebelah kiri depan. Jun Maher masuk ke dalam rumah.
     Lalu sepi.
     Malam itu berlalu tanpa ada kejadian yang berarti.  
(bersambung)