Monday, February 28, 2011

BARET HITAM (2)



BAB DUA
    
Sesaat dipandangnya lelaki tua berumur limapuluh tahun itu dengan ketidakpercayaan. Ia sama sekali tidak mengharapkan kehadiran lelaki yang sangat dihormatinya itu saat ia tidak sedang senang. Terutama setelah adanya berita-berita tentang Timor Timur. Tidurnya selalu terganggu jadwalnya dan menaikkan tekanan darahnya.
     “Kau kelihatan gemuk, Tarik.” Suara Wenang Pati bergetar, lalu memeluknya.
“Apa kabar, Jenderal.” 
Halaman rumah itu lalu sepi, seperti semula ketika belum ada siapa-siapa. Tidak ada suara apapun kecuali desisan angin gunung.  Tarik menjadi canggung dan seolah itu halaman rumah seseorang yang tidak dikenalnya. Sejenak ia mengira ada seseorang memanggil, tapi kemudian ia sadar bahwa suara itu adalah degup jantungnya sendiri.
     “Susah sekali mencarimu.”
     Masih suka becanda seperti dulu, pikirnya. Mencari seseorang yang diinginkannya adalah semudah membalik telapak tangan, walaupun orang itu sembunyi dalam lobang semut sekalipun. Keberadaannya di desa terpencil ini ia yakin sudah diketahui bekas atasannya itu dengan baik. Dimana ia tinggal dan apa yang dikerjakannya, bahkan kebiasaannya pergi diketahui dengan sangat jelas. Apa jadwal kesehariannya dan lebih dari itu, apa yang dimakannya tiap hari telah dicatat dengan baik.
     Kegilaan seperti itulah yang sangat disukainya. Ia menyebutnya gila karena nyaris mustahil jenis pekerjaan itu, kalau bukan malaikat yang melakukannya. Tapi itulah dunia intelijen militer. Rumit, menegangkan tapi menyenangkan. Tidak seperti dunia bisnis yang hanya mengandalkan intuisi tajam dan selebihnya bisa apasaja, termasuk membeli orang dengan uanganya.
     “Ada misi yang harus kamu selesaikan di Timor Timur.”
     "Jenderal adalah orang pertama di bumi ini yang saya tunggu kedatangannya hari ini. Tapi tidak termasuk yang terakhir itu."
     "Itulah maksud kedatanganku kemari."  
     “Saya tidak punya karir lagi, Pak.”
     “Tidak bagiku. Dalam tiga jam terakhir kau sudah harus terbang bersamaku ke Jakarta. Berkemaslah.”
     “Terlalu mendadak, saya tidak bisa memutuskan sekarang."
     "Sayang sekali kau tidak punya waktu lagi."
     Tarik diam saja.
     Wenang Pati melihat bekas anak buahnya dengan sangat serius. “Kamu berubah.”
     “Semua hal berubah. Saya juga harus berubah.”
     “Tapi kau jadi dingin.”
     “Desa ini di kaki gunung, mungkin itu yang membuat saya begitu.”
     “Kau terlalu berharga disini.”
     “Tapi saya dihargai sebagai manusia disini.”
     “Begini,” Wenang Pati berdiri, berusaha menghindari kepedihan hati bekas anak buahnya itu. “Lima jam sebelum interfet mendarat di Timor Timur, wakil panglima darurat militer, Kolonel Alfonso, hilang dalam patroli.”
     “Cepat sekali anak Timor Timur itu naik pangkat.”
     “Dugaan kita, dia diculik kelompok radikal Fretilin, Brigade Negra. Lokasinya sudah kita pastikan di Viqueque, sarang Falintil.”
     Tarik mendengus, terdiam agak lama. Pandangan matanya redup.
     “Kamu pernah mengobrak-abrik sarang Falintil dan membuatnya kocar-kacir. Operasi yang pernah kamu pimpin, adalah operasi yang paling berhasil yang pernah dilakukan disana.”
     Tarik telah begitu kecewa dengan vonis yang dijatuhkan markas besar buatnya. Keinginan terakhirnya di dunia sudah pupus. Tidak ada lagi kebanggaan yang dimilikinya. Bahkan istrinya yang ia harapkan mengerti, tidak juga memberinya perlindungan. Karir militernya selesai, istrinya minta bercerai. Sebuah kejadian yang baginya merupakan malapetaka terburuk dalam hidupnya.
     Apa yang telah dilakukannya bersama beberapa anak buahnya hanya melaksanakan tugas. Situasi pemerintahan mulai tidak stabil setelah diterpa badai krisis ekonomi tahun 1997. Dari pertama ia menolak tugas itu karena bukan wewenang pasukan khusus. Tapi adanya perintah  yang tidak bisa dibantah oleh siapapun, termasuk Wenang Pati, membuatnya tidak bisa tidak melakukan operasi itu. Ia dan beberapa anak buahnya dengan mudah membekuk Gembong gerakan bawah tanah yang dicurigai akan melakukan operasi klandestein, melakukan gerakan bawah tanah untuk melawan pemerintah. Beberapa hari kemudian koran ramai memberitakan hilangnya gembong itu yang oleh media dikatakan sebagai pembela demokrasi yang sedang memperjuangkan demokrasi.
Mulanya ia yakin tidak bakal bisa dilacak peristiwa sebenarnya oleh LSM dan lembaga hukum yang mengatasnamakan hak asasi manusia. Tapi rupanya jaman sedang bergerak, semuanya minta bergerak. Mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran. Dengan mudah kasus itu terlacak dan masuk pengadilan. Gembong itu nyanyi-nyanyi tentang prosedur penangkapannya. Gembong itu tahu bukan polisi yang menangkapnya. Dan penyelidikan yang kemudian berlangsung, menyeret anak buah Tarik sebagai tersangka. Ia sendiri bisa lolos karena Wenang Pati tidak mau melepasnya.
     Tarik tidak bisa melupakannya, walaupun ia telah berada jauh dari Jakarta. 
     “Saya tahu kamu sangat kecewa, tapi berilah kesempatan kedua untuk karirmu.”
     “Saya sudah tidak punya karir, Pak.”
     Wenang Pati terdiam. Ia tahu bekas anak buahnya itu keras kepala. Satu-satunya sifat yang masih ada pada bekas anak buahnya itu. Sekali lagi dipandanginya wajah Tarik. Wajah yang tampan tapi mengesankan rasa duka oleh sebuah luka yang dalam, terus menerus serius dengan kedua matanya yang menikam. Dia memang telah berubah, pikir Wenang Pati. 
        (bersambung)

Tema Penyakit dalam Film, Fakta atau Hiperbolik?


Kisah kepedihan, perjuangan, bahkan kematian dalam melawan penyakit menjadi salah satu tema yang banyak diangkat ke layar lebar. Sebut saja Tom Hanks dalam film Philadelphia yang melawan HIV/AIDS, Jack Nicholson's yang menderita obsessive-compulsive dalam As Good as It Gets, atau cerita tentang obesitas dalam Super Size Me. Akan tetapi, meski cerita tersebut berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya, bukan berarti film tersebut akurat, dari sisi medis. Itu sebabnya berkaitan dengan pemberian piala Oscar, kami sajikan uraian dari pakar kesehatan mengenai film-film yang bercerita tentang penyakit.

Diabetes tipe 1

Judul film: Steel Magnolias (1989) Film ini bercerita mengenai penderita diabetes tipe 1 yang diperankan Julia Roberts, yang hamil di luar rencana. Meski tim dokter menyarankan untuk mengakhiri kehamilannya, ia kekeuh mempertahankan bayinya dan harus membayarnya dengan nyawa karena ginjalnya gagal berfungsi.

Dari sisi medis, film ini dinilai "sangat, sangat jauh dari kenyataan," kata Richard Hellman, MD, ahli endokrin. "Banyak wanita yang menderita diabetes jadi takut untuk hamil setelah menyaksikan film ini karena mereka takut mati. Kenyataannya, meski perlu pengawasan ketat dari dokter, tapi penderita diabetes tetap boleh hamil dan melahirkan.

Serangan jantung

Judul film: Something's Gotta Give (2003) Seorang pria paruh baya yang punya selusin pacar, Harry Saborn (Jack Nicholson) diceritakan terkena serangan jantung saat sedang melakukan foreplay dengan pacarnya yang berusia 20-an. Di rumah sakit, dokter (Keanu Reeves) memberikan ia obat IV nitroglycerin. Si dokter lalu mengatakan bahwa obat tersebut akan berakibat fatal jika pasien sedang mengonsumsi viagra.

"Ada sedikit kebenaran dalam cerita tersebut. Kebanyakan kasus serangan jantung terjadi karena aktivitas fisik yang berat, termasuk hubungan seks," kata Matthew Sorrentino, ahli kardiologis dari University of Chicago Medical Center.

Gangguan tidur

Judul film: Insomnia (2002) Al Pacino berperan sebagai seorang detektif yang datang ke Alaska untuk menyelidiki kasus pembunuhan. Perasaan bersalah yang menderanya dan cuaca yang aneh, matahari bersinar terang di tengah malam, menghasilkan insomnia parah. "Cara Pacino menggambarkan penderitaan seorang penderita insomnia berat hampir mendekati akurat," kata David M.Rapoport, direktur program gangguan tidur dari NYU School of Medicine. Kombinasi antara tekanan di tempat kerja dengan lingkungan yang bisa mengganggu tidur disebutkan memang menyebabkan gejala-gejala seperti yang dialami Al Pacino.

Kanker

Judul film: Terms of Endearment Pada tahun 1983 film ini membawa pulang lima Piala Oscar, termasuk untuk kategori film terbaik, aktris terbaik dan aktor pendukung terbaik. Film yang menguras air mata ini berkisah tentang hubungan ibu dan anak perempuannya yang menderita kanker. Film ini dinilai mendekati kenyataan, terutama ketika menggambarkan pentingnya manajemen rasa sakit untuk pasien kanker di stadium akhir.

Diabetes

Judul film: Chocolat (2000) Di sebuah perkampungan di Perancis, hadir sebuah toko kecil yang menjual cokelat yang memiliki rasa ajaib. Hal yang menggiurkan namun berbahaya bagi penderita diabetes karena Judi Dench yang memerankan diabetesi meninggal setelah mengonsumsi terlalu banyak cokelat.

Menurut dr.Hellman, film ini memberi pesan bagi para diabetesi untuk tidak sembarangan mengonsumsi makanan seperti halnya orang sehat. "Tapi dampaknya sebenarnya berbeda dari kenyataan. Menderita diabetes bukan berarti Anda harus jadi pertapa yang pantang semua hal. Yang penting adalah menjaga asupan makanan agar gula darah terkendali," katanya.

Kelebihan berat badan

Judul film: Super Size Me (2004) Bila adegan penambahan berat badan di dalam film ini tampak begitu nyata, itu karena memang demikianlah faktanya. Menggunakan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan, pembuat film dokumenter Morgan Spurlock mencoba mengetahui apa yang terjadi jika seseorang makan di restoran cepat saji tiga kali sehari selama sebulan penuh. Perubahan fisik yang dialaminya sangat dramatis. Asupan kalori, karbohidrat dan lemak jenuh telah menaikkan kadar kolesterol dari 160 menjadi 230, dan berat badannya naik 11 kg dalam kurun waktu sebulan. Ia juga menderita gangguan liver dan gangguan mood.


Sumber :  KOMPAS

SAM (5)


BAB 5

PANGKALAN udara Wirasaba adalah sebuah pangkalan kecil. Terletak di Kabupaten Purbalingga, persis berbatasan dengan Banjarnegara di sebelah barat. Tidak banyak aktifitas di pangkalan udara itu karena jarang sekali di gunakan.  Pada sekitar tahun 1988 Presiden Soeharto menggunakan lapangan udara itu saat meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Air Mrica yang dinamakan Bendungan Panglima Besar Soedirman. Setelah itu, tidak banyak pendaratan yang menyita perhatian masyarakat.
     Mustajab sudah melakukan standar operasi yang biasa ia lakukan. Dua mobil telah ia sewa dan telah di siapkan di pangkalan udara Wirasaba sejak sore hari. Ia juga sudah menyiapkan kamar hotel di pusat kota. Ia sengaja menyewa hotel di pusat kota untuk menghindari kecurigaan dari siapapun. Di daerah Abusono bertempat tinggal adalah daerah perkampungan, tidak ada penginapan, apalagi sebuah hotel. 
     Entah kenapa ia merasa kali ini tegang. Mungkin karena ia melakukan operasi di tanah kelahirannya. Bukan soal takut akan ada orang yang mengenalinya, tapi ia harus melakukan pekerjaannya sekarang dengan sempurna. Ia sedang menghadapi orang yang paling dicari dalam sejarah negeri ini. Kalau boleh memilih, ia lebih suka melakukan operasi menghadapi teroris seperti kelompok Jamaah Islamiyah. Mustajab tersentak ketika radio-nya berbunyi.
     “Serayu masuk-Serayu masuk, disini  Ciliwung.” terdengar suara Jun Maher di seberang sana dengan suara setengah berteriak karena berebut dengan kebisingan suara helkopter.
     “Disini Serayu-disini Serayu,” jawab Mustajab.
     “Apakah fajar siap muncul di ufuk dalam sepuluh menit?
     “Serayu siap menjemput, Pak,” jawab Mustajab singkat dan langsung menutup radio-nya.    
     Mustajab sudah didalam mobil di pangkalan udara Wirasaba sejak enam jam terakhir dan ia tidak pernah keluar dari sana. Ia terus membuka saluran radio agar mengetahui lalu lintas pembicaraan dari manapun. Setiap percakapan didengarnya dan ia ia akan mengetahui informasi apapun yang disekitar wilayahnya meskipun ada yang menggunakan kata sandi. Sejak siang hari ia juga sudah melakukan pembersihan di wilayah di sekitar pangkalan udara Wirasaba. Ia harus memastikan wilayah pangkalan udara itu terbebas dari unsur sabotase.
     Sepuluh menit kemudian sebuah helicopter Dinas Intelijen Khusus mendarat. Lima menit kemudian terbang kembali dan menghilang di kegelapan pagi yang menjelang. Lima lelaki berbadan besar dan masing-masing menggendong ransel menuju dua mobil yang sudah di parkir. Mustajab menatap Jun Maher dan memberi kode tertentu bahwa semuanya sudah disiapkannya. Tanpa bicara sepatah katapun, mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Mustajab membawa satu mobil yang dinaiki Parwata dan Warsito Abdul Khamid. Beny Reza membawa satu mobil lagi dengan Jun Maher dan Tigor Naipospos. Tidak sampai lima menit, kedua mobil itu menginggalkan pangkalan udara Wirasaba.
     Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Banjarnegara, Mustajab juga tidak membuka suara. Parwata langsung memejamkan matanya. Warsito Abdul Khamid menghitung jarak perjalanan yang ditempuhnya. Beny Reza membawa mobilnya sesantai mungkin dan merekam semua rambu lalu lintas didepannya. Jun Maher mempelajari jalur yang mereka lalui, menghitung setiap jalan simpang, jembatan dan belokan, serta menghafal setiap letak rumah, warung rokok, warung makan, pos polisi. Sementara Tigor Naipospos menikmati suasana.
     “Tempat sembunyi yang menyenangkan,” cetus Tigor Naipospos.
     Tak ada yang menimpali.
     Sunyi.
     Memasuki pusat kota Banjarnegara, Tigor Naipospos berseru kembali, “Aku hanya butuh limabelas menit sampai disini.”
     “Aku sanggup sepuluh menit dengan kecepatan seratus lima puluh kilometer perjam,” jawab Beny santai. 
     “Memangnya kita sedang mengikuti rally Paris Dakar,” kata Jun Maher menatap kedua orang itu tersenyum. Lalu turun dari mobil.
     Tanpa suara mereka juga langsung masuk ke dalam kamar hotel yang sudah disiapkan. Hanya Mustajab yang melakukan pembicaraan dengan pegawai hotel. Pegawai hotel mengantarkan sampai didepan kamar dan Mustajab memberikan uang tip supaya lekas pergi. Mustajab menyewakan tiga kamar. Seperti pengaturan masuk mobil, mereka masuk kamar hotel begitu saja. Jun Maher satu kamar dengan Mustajab. Lima menit kemudian, Beny Reza, Tigor Naipospos, Parwata dan Warsito Abdul Khamid menuju kamar Jun Maher tanpa menimbulkan suara langkah kaki.
     Mustajab sudah membentangkan kertas blue print lokasi rumah Abusono alias Sam. Catatan jarak yang ditempuh dan waktu yang dibutuhkan. Jun Maher sudah mempelajarinya begitu masuk kamar. Begitu semua agent berkumpul didepannya, ia segera melakukan tugasnya.
     “Target kita bertempat tinggal di sebuah desa bernama Purworejo Klampok. Kita sudah melewatinya tadi.” Jun Maher mulai sangat serius. “Daerah sekitar target tinggal adalah daerah terbuka. Jadi kita butuh base camp disekitar tempat tinggal target untuk memudahkan kita bergerak. Pak Parwata, jam duabelas siang sudah harus mendapatkan base camp berupa rumah kolonial di daerah sekitar target.”
     “Sebelum jam sebelas sudah saya dapatkan.” Parwata yakin sekali.
      “Warsito dan Tigor, lakukan pengintaian target dan sudah harus mendapatkan detail lingkungan tempat tinggal target.” Jun Maher lalu menoleh kepada Mustajab. “Selanjutnya, kita akan mendengarkan paparan Mustajab.”
     “Target kita tidak pernah keluar rumah. Tetangga pasif dan kondisi lingkungan aman diatas jam duapuluh satu. Dua hari lagi target pergi ke Purwokerto dan di jadwalkan pulang dengan bis jurusan Semarang jam duapuluh  dan sampai di pinggir jalan sekitar jam duapuluh satu lewat sepuluh menit Waktu Indonesia bagian Barat. Jarak pinggir jalan raya ke rumah target lima menit lebih lima detik.” Mustajab menjelaskan dengan lancar. “Saat kepulangan target, saat paling baik buat kita bergerak dan mengambilnya.”
     “Kita matangkan rencana hari ini. Target kita ambil seperti petunjuk Mustajab.” Jun Maher melihat ke semua anak buahnya.  “Ada pertanyaan?”
     “Bagaimana dengan keluarganya?” Tanya Warsito
     “Kita ambil target tanpa diketahui mereka.”
     “Mereka akan lapor polisi.” Beny Reza berpendapat.
     “Kalau benar itu Sam, tidak mungkin mereka berani lapor Polisi,” sahut Tigor Naipospos.
     “Semua kemungkinan itu kita singkirkan,” kata Jun Maher. “Kita fokuskan kepada pengambilan target. Ada pertanyaan lagi?”
     Tidak ada pertanyaan lagi.
     “Motor sudah siap?”  Jun Maher menoleh kepada Mustajab.
     “Sudah siap, Pak,” jawab Mustajab memberikan kunci motor.
     “Tigor dan Warsito, ini waktunya kalian jalan-jalan.” Jun Maher memberi perintah dan menyodorkan kunci motor kepada Tigor Naipospos.
     Tanpa menjawab kedua lelaki itu keluar ruangan tanpa menimbulkan keributan.
     “Pak Parwata, silahkan ambil kunci mobil Mustajab untuk mengunjungi tetangga.”
     Tanpa menjawab, Parwata menerima kunci mobil dari Mustajab dan keluar ruangan juga.
     “Kita lihat keadaan kota, apa yang bisa kita lakukan.” kata Jun Maher kepada Mustajab dan Beny Reza sambil keluar kamar.
Keadaan kamar kembali sepi.    
     (bersambung)